Categorized | Life's Stories

Para Tersangka Paling Kompak

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather
Empat anak perempuan keluar kamar berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang sama “mau diapakan kita?” Terus berjalan melintasi koridor dan masih sempat-sempatnya bersay hello dengan yang lain. Ghurfah addluyub kosong tak ada konferensi kecil disana karena malam telah cukup larut. Mereka terus berjalan hingga melewati teras depan asrama.
“Huuhhh, aina na’li??” “Mafii kulluh!!!” seorang dari mereka yang teridentifikasi bernama zeinth memulai membuka percakapan.
An’ass jiddan….” ryan pun tak kalah dengan gerutuannya.
“Kholas yaa akhwati… Hayya bisur’ah!!!” Arrozi pun juga tak mau kalah untuk ikut berkomentar, hanya Fath alias si Bontot yang tak berkomentar karena dia satu-satunya anak dari mereka berempat yang sedang mengumpulkan nyawa untuk hidup. Akhirnya tak satupun sandal mereka temukan.
“Payah banget!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat aku gak pake bahasa”, ryan terus saja berceloteh ria dan tak sadar bahwa mereka berada dalam zona bahasa.
Tanpa alas kaki alias nyeker, tibalah mereka di ruang sidang–kamar ustadzah–
Setelah berucap salam, mereka berempat memasuki ruang sidang. Setelah bercakap-cakap tibalah pada inti permasalahan kenapa mereka dipanggil. Ustadzah hanya tersenyum dan berkata, “Kenapa kalian berempat sangat kompak, satu kamar tak ada yang tahfidz hari ini??”
dan mereka berempat menjawab serempak tanpa ada komando, “Kami ketiduran, Ustadzah dan kamar kami kunci dari dalam.”
“Besok jangan terulang lagi yaa…” kata ustadzah.
“Memang kita tukang tidur semua…”

Keesokan hari…
Jam dinding penjara suci berdentang menunjukkan pukul 21.00 ritual akan segera dimulai–mahkamah bahasa– setelah terdengar kata-kata yang tak asing lagi “nahnu min qismu lughoh….bla…bla….”. Faith berseru, “Show time ryan, kakak tuaku kali ini kau tak kan lolos dari mahmakah hehe….”
Hingga akhirnya disebutlah nama mereka berempat tentu saja seantero penjara suci mendengarnya.
Mereka keluar dari kamar melewati koridor–uiiih…serasa jadi artis haha…– teman-teman dari kamar lain berseru pelan ” Chayo… Cah Firdaus dari kemarin kok kompak banget…”
Tibalah mereka di ruang sidang alias di teras depan yang langsung menghadap makam.
Tanpa basa-basi langsung hakim membacakan kesalahan masingt-masing tersangka.
Hakim: “ukhti ryan, antum bilang Payah banget!!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat!! Aku gak pake bahasa…”
Hakim: “ukhti Faith,Aku suka yang panjang…. Hey… buka aja pelan-pelan”
Hakim: ” ukhti Zeinth, dia tuch terlalu gede, pa gak da yang lain”
Hakim: ” ukhti arrozi, huuuhhh kalo habis makan diberesin donk!!!”
Hakim: Great!!! Your punishment…..
Make a story….dan selamat atas kekompakan kalian.

*Salam kompak untuk kalian…
Semua itu tak kan terulang…
Tapi kita akan tetap ingat apa yang pernah kita lakukan… It’s amazing…!!!
Untuk adek-adek jangan ditiru…
Maaf untuk semua…

Ket:
Ghurfah addluyub : ruang tamu
Aina na’li : dimana sandalku?
Mafii kulluh : Gak ada semuanya
An’ass jiddan : aku ngantuk banget
Kholas yaa akhwati, Hayya bisur’ah : Sudahlah… Ayo cepat!

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

3 Responses to “Para Tersangka Paling Kompak”

  1. nugroho says:

    lucu sekali…pasti mengenang banget…jadi inget waktu aku dimarahin ‘Bunda’ habis-habisan, gara-gara ‘menolak’ panggilan beliau untuk tahsin, dengan alasan mau tanding futsal…

  2. Fida says:

    AAAAAAaaaaaaaa…. Cindi…. jadi kebayang-bayang kalian… miss you…kapan ya ane gak pakek bahasa? Tapi lho… lolos terus dari qismu lughoh… ahahaha…
    alhamdulillah… barakah lho… lughoh nya…

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING