Categorized | Life-Style

Sastra di Jogjakarta

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather
–Masa Pemerintahan Sultan HB V–
Seni sastra mulai berkembang. Situasi tersebut didukung hadirnya sastra Pura Pakualaman dengan nominasi karya Serat Darmowijarat karya KGPAA Paku Alam III.

–1969-dekade awal 1990–
Bersama beberapa seniman seperti Ragil Suwarno Pragolapati, Umbu Landung Paranggi mendirikan Persada Studi Klub [PSK] yang bermarkas di mingguan “Pelopor Yogya”. Sementara itu, Suwarno Pragolapati melalui Sanggar Yogya Sastra Pers [SYS] aktif membina generasi muda yang berminat menulis sastra.

–Paruh dekade 1990–
Setelah PSK mengakhiri aktivitasnya, Asa Jatmiko dan sejumlah seniman membentuk Himpunan Sastrawan Muda Indonesia [Hismi], yang mendapatkan dukungan dari Taman Budaya Yogyakarta [TBY]

–2000-sekarang–
Persoalan regenerasi sastrawan muncul di permukaan. Puncaknya, sastra tersingkir dari ajang Festival Kesenian Yogyakarta 2008.

–sumber: Litbang Kompas/BIM, disarikan dari berita Kompas, Publikasi Sri Wintala Ahmad “Tanggapan tentang Sastra Yogya: Sastra Yogya Tidak Pernah Mati!” [2006] dan berbagai sumber.– Kompas, 13 Januari 2009.


Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING