Categorized | Life-Style

Islam Memandang Euforia Cinta

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather
Bulan Februari, bulan yang akan dipenuhi nuansa merah jambu sebagai tanda perayaan hari kasih sayang atau lebih akrab kita kenal sebagai hari valentine. Maka akan kita temui jargon-jargon tidak islami hanya untuk mempromosikan “hari kasih sayang” ini. Lihatlah, di setiap pusat perbelanjaan telah dipenuhi parce-parcel untuk merayakan “hari kasih sayang” bernuansa merah jambu. Tidak hanya di pusat perbelanjaan, media massa pun turut mengambil peran dalam berlomba-lomba menawarkan acara untuk merayakan “hari kasih sayang” dan sebagian besar orang islam juga turut dicekoki dengan iklan “Valentine Day”.

Apa itu Valentine Day?

Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan pada pesta jamuan “supercalis” bangsa Romawi Kuno dimana mereka masuk agama Kristen, maka berubah menjadi “acara keagamaan” yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.

Secara ringkas, sejarah Valentine dan hubungannya dengan peradaban Barat saat ini bahwa valentine merupakan:

* Ritual yang bersumber dari Kristen yang dikukuhkan oleh Paus Galasius untuk mengenang orang suci Kristen yaitu St. Valentino dan St. Marius. * Ritual orang-orang Romawi Kuno yang pagan (menyembah berhala) untuk memperingati dewi Juno yaitu ratu dari segala dewa-dewi bagi perempuan dan dewi perkawinan.
* Ritual bangsa Eropa pada abad pertengahan untuk mencari jodoh.
* Media barat untuk mengokohkan cengkraman peradaban barat.

Jelaslah dari pernyataan di atas, tidak satu pun yang tidak bertentangan dengan ajaran islam. Mari kita renungkan ayat ini:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al Isra: 36)

Dalam islam kata “tahu” berarti mampu mengindra (mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekedar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan, bagaimana dan dimana, akan tetapi lebih dari itu.

Tujuan menciptakan dan mengungkapkan rasa kasih sayang di bumi persada adalah suatu kebaikan. Tetapi bukan semenit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula berarti kita harus berkiblat kepada Valentine yang seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas ajaran islam. Bukankah Islam menyerukan kepada umatnya untuk saling mengasihi dan menjalin ukhuwwah yang abadi dalam naungan Illahi?
Bahkan Rasulullah bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri.”

Pada umumnya acara Valentine diadakan dala bentuk pesta pora dan hura-hura. Sedangkan Alloh tidak menyukai hal-hal yang melampaui batas.

“Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra:27)

“Dan Dia (Alloh) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman) walaupun kamu menginfakkan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Alloh telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha perkasa lagi Maha bijaksana.”

Sudah seberapa jauh kita mengayunkan langkah memuja dan merayakan Valentine Day? Sudah semestinya kita menyadari agar sebisa mungkin jangan terperosok lebih dalam lagi. Tak perlu iri hati dan cemburu dengan ritual dan bentuk ungkapan kasih sayang agama lain. Bukankah Alloh itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang dalam islam lebih luas dari semua itu.

Semoga Alloh memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan islam sehingga hati kita dapat menerima kebenaran untuk menjalankan syari’atnya…

Amiin….


Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

One Response to “Islam Memandang Euforia Cinta”

  1. nugroho says:

    dah oke!tinggal dipercantik aja…

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING