Categorized | Life's Stories

Kado #1 'hanya lilin'

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather


Tak ada kue tart, hanya lilin merah berdiri di atas gletser kesendirian, kilau apinya menantang, menerangi usia yang baru saja berganti. Usai nafas yang menghukum mati api, lilin tersungkur dan berganti tempat di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu, dalam sekejap usailah sudah.

Sederet angka dan huruf bertuliskan namamu. Mengingatkanku pada hari spesialmu. Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku pada sensasi keabadian akan ingatan. Hanya fotomu yang mampu melakukannya. Rolex, Gucci dan kawan-kawannya tak mampu lakukan itu.

Aku tak mampu melewatkannya denganmu tahun ini. Kau merayakannya seorang diri. Kesendirian adalah kado yang hadir dalam setiap kesempatan, katamu. Jadi ‘Selamat Ulang Tahun’ hanya bisa terucap tanpa hadir bertatap. Hanya dengan perantara namun kau bahagia menerimanya.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu setiap hari. Meski kau bilang “aku sendiri” tapi doa-doa itu mampu jadi penghangat bagimu. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Ada kalanya kesendirian adalah kado ulang tahun yang terbaik.

Bertambah nominal usia dan berkurangnya kesempatan tak menjadi jaminan kita paham segala-galanya. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Akan kuucapkan sekali lagi Selamat Ulang Tahun…
Semoga kita rasakan indah berulang tahun setiap hari….

Ngawi, 21 Juli 2009


Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING