Categorized | Life's Stories

Ibu..!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Kamis (23/7), pukul 08:29:40 saya menerima pesan singkat dari seorang teman tepatnya Bapak Kepala Suku alias Ketua Generasi saya. Pelan-pelan dan sangat hati-hati saya membaca pesannya karena kata awal yang terangkai adalah “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”, saya lanjutkan membaca pesan di HP saya. Ada perasaan takut saat membacanya dan akhirnya saya dapati bahwa ada teman seperjuangan saya selama 3 tahun tengah diuji Allah dengan kepergian ibunya hari itu juga tepatnya pukul 06.50WIB, di semarang. Saya jadi teringat dengan ibu di rumah dan menelponnya, sekedar basa-basi bertanya kabar walau baru satu hari berpisah. Saya teringat ketika kelas dua, saya bersama teman-teman pergi ta’ziyah ke rumah teman kami. Ketika kami datang jenazah belum diberangkatkan jadi kami pun menyaksikan pemberangkatan dan memberi penghormatan terakhir. Saat itu benar-benar berarti keberadaan seorang ibu bagi saya walaupun sebelumnya ibu sangat berarti dan setelah kejadian itu saya semakin “ngeman” dengan ibu saya. Masih ada harapan dalam benak saya untuk nikmat umur panjang yang barakah agar kawan seperjalanan ayah terus mendampingi saya. Saya jadi teringat ketika ibu bermain angka dalam usianya, berapa sisa waktunya jika jatah usianya 50 tahun, 60 tahun atau 70 tahun. Saat itu saya tidak memberi komentar tetapi dalam hati saya ada kesedihan jika waktu perpisahan itu datang. Semoga Allah memberimu kesempatan lebih untuk bisa menyertaiku, ibu..!

Kali ini ijinkan saya bertutur tentang makhluk bernama ibu dengan mengutip tulisan dari Salim Akhukum Fillah dalam buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” dan “Agar Bidadari Cemburu Padamu”.

Menjadi ibu. Bagi kita adalah mimpi-mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa.Seruak cita itu adalah fitrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan! Ibu..! Mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun memilikinya, memiliki kedudukan ini : surga di telapak kaki. Tak satu pria pun. Demi Allah, tak satu pria pun..!

Ibu..!

Panggilan yang begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam di diri setiap wanita. Selalu dan senantiasa. Ada nuansa cita, imajinasi dan gairah setiap kali kata tiga huruf plus dua titik dan tanda seru itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadiran.

Ibu..!

Ini tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka rasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.

Ibu..!

Panggilan yang meneguhkan status kemanusiaan dan kehormatan. Ibumu disebut tiga kali di depan, baru ayahmu menyusul kemudian. BegitulahRasulullah menegaskan. Ia juga panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang putra pecah.

Ibu..!

Banyak wanita yang kini enggan menjadi kata itu, maka kata itu pun enggan menjadi mereka. Betapa sulit meminta wanita bersedia punya anak, di singapura misalnya. Ketika mereka menolak janji-janji kata itu, kata Ust. Anis Matta dalam Ayah, menganggapnya sebagai gerbang menuju neraka, menganggapnya sebagai pintu penjara, kata itu justru enggan membantu mereka melepakan diri dari jeratan kesendirian, membasuh kulit mereka yang melepuh akibat sengatan matahari. Kata itu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan.

Ibu..!

Mungkin tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugerah, yang keimanan pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakan kepada kita. Persis sebagaimana ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy dan lainnya. Ya, tapi mereka kan ummahatul mukminin, ibu dari semua orang beriman, kata kita. Pada posisi ini, memang. Tetapi mengandung, melahirkan, menyusui, menimang adalah bagian dari saat yang dinanti bersama hakikat kata Ibu..! Itu, yang juga tak dirasai oleh ‘aisyah sekalipun.
Atau terkadang, penantian panjang, kegelisahan, kecemasan dan kata seterusnya jika panggilan itu tak segera hadir adalah ujian lain dari Allah. Alasan kesehatan, kerawanan melahirkan pada usia tertentu, menjadi gurita kecemasan lain yang mencoraki ujian itu. Lalu Allah menjawab di antara doa hambaNya, istri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, istri ‘Imran dengan si suci Maryam dan istri Zakariyya dengan si ‘alim Yahya. Setelah penantian panjang, doa yang mengiba dan rasa yang tersembilu.

Ibu..!

Lepas dari itu, sekali lagi, adalah menakjubkan setiap urusan orang mukmin. Persis kata Rasulullah, menakjubkan! Karena setiap halnya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika disinggahi nikmat, ia bersyukur maka kesyukuran itu baik baginya. Jika ditamui musibah ia bersabar, maka sabar itu lebih baik baginya. Jika syukur dan sabar itu dua ekor tunggangan, kata ‘umar, aku tak peduli harus mengendarai yang mana.

Menjadi ibu hakiki, yang melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiyar paling gigih, doa paling tulus dan tawakkal paling pasrah adalah kemuliaan tanpa berkurang sepeserpun. Tidak sedikit pun. Semuanya mulia.

Ibu..!

Kita akan berjumpa dan meniti kemuliaan-kemuliaan beliau, mungkin di waktu lain. Sekadar agar bidadari cemburu padamu, dengan menjadi kau takkan tersaingi olehnya selama-lamanya. Ya. Ibu, melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya…

Kepada para ibu selamat merayakan indahnya menjadi ibu dan para calon ibu semoga menjadi madrasah agung yang melahirkan generasi penerus pejuang nabi teladan.
Kepada para ibu yang telah mencium aroma surga, semoga Allah mengampuni dan melapangkan, semoga semua amanah telah dilaksanakan dengan baik dan allah menggantikannya dengan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai… Amiin…

Yogyakarta, 24 Juli 2009


Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING