Categorized | Life's Stories

Anatomi Emosi

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Medium journey yang cukup menyenangkan sebenarnya tapi tidak untuk saya. Menentang jalanan yang lengang seakan-akan jalanan itu milik saya terasa amat biasa saja. Pukul empat pagi membelah kota ponorogo dan mata saya menyapa aktivitas belakang layar sebelum hiruk pikuk kota membuka suara. Tentang seorang anak yang membantu ibunya menyapu daun-daun yang jatuh di aspalan kota. Tentang penjual yang meramaikan pasar di pagi buta. Tentang rumah-rumah yang masih menutup pintunya. Tentang kehidupan pagi yang amat bersahaja, sedikit mengalihkan fluktuasi emosi saya seharusnya tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Kendaraan terus melaju, sesekali saya mengeluarkan kepala dan tangan saya, ingin jujur pada pagi bahwa emosi saya serba tak pasti. Cuaca hati saya tak seindah pemandangan di depan mata saya. Menarik nafas panjang lalu luh mencuri kesempatan untuk keluar. Minggu luh sedunia untuk saya.

Merasai kehilangan di saat yang tak tepat, itulah yang saya rasakan. Ketika semua file yang tersimpan dalam notebook hilang tanpa bekas layaknya ombak menghapus jejak di pantai. Di saat saya benar-benar membutuhkannya. Bagaimana saya mendapatkannya lagi? Mengusahakan bekerja 2 kali? Mengulang semua tulisan dan semua pekerjaan saya? Atau lebih memilih diam? Kehilangan, sarana yang benar-benar berkesan bagi saya untuk memaknai arti keberadaan semua yang saya miliki. Entah rasa apa yang saya punya sekarang, emosi atau kecewa?

Ucapan semangat terasa tak punya kekuatan lagi untuk membuat saya kembali ke keadaan semula. Mengharapkan kembali semua yang hilang, bukan sesuatu yang berguna justru sangat sia-sia, saya tahu itu. Tetapi sangat sulit bagi saya terutama saat ini.

Saya tahu, ‘bersama kesulitan ada kemudahan’ dan kalimat itu pun diulang 2 kali dalam Al Quran. Saya tahu, janji Allah itu pasti layaknya matahari yang mencintai titah Tuhannya. Benar-benar pasti dan saya pun benar-benar percaya dengan kebenaran janji itu. Tetapi, kenapa Ya Rabbi masih terselip rasa tidak ikhlas dalam diri saya?
Ampuni saya Rabbi atas rasa yang berlebihan dalam diri saya yang membuat saya menyakiti diri saya dan orang yang setia membersamai saya.

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING