Categorized | Life's Stories

udara

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Curahan hati pada udara yang menyederhana,

Kamis, 13 Mei 2010, aku memulainya benar-benar dengan hati. Dimulai dari pagi buta, aku telah menyisir sejengkal dari Kota Berhati Nyaman, Yogyakarta. Benar-benar sepi, lengang dan tenang. Menyajikan wajah kejujuran. Berjalan di sekitar kampus sambil menghitung kendaraan yang lewat., sebuah kesia-sian [mungkin] Bahkan, portal masuk di Jalan Sosio Humaniora belum ada antrian panjang, hanya ada tiga satpam. yang berbincang. Suasana kampus yang tenang dan memang hari itu sepi karena libur nasional dan aku masih menikmatinya.

Matahari meninggi dan aku masih menikmati “wajah kejujuran” yang tersaji hari ini. Duduk di bawah pohon di trotoar sambil merasakan gerakan udara. Sendirian saja.

Minggu ini serasa aku “ditelantarkan”, ayah bunda kuhubungi tak kunjung berbalas sapa. Baru kutahu ternyata sedang menikmati liburan kecilnya. Benar-benar sendiri dan waktunya bersahabat dengan sepi. Minggu ini rasanya seperti ditinggal pergi atau tersisih dari orang terkasih karena amanah yang memang menuntut lebih. Entahlah, saat ini memang ingin memenangkan ego diri bahwa aku ingin ditemani.

Masih kunikmati gerakan lembut udara di sekitarku, sambil menyibukkan diri dengan sesuatu yang harus kuhafal. Sedikit lelah dan aku berhenti, berganti berpikir tentang udara yang kunikmati.

Udara, keberadaannya selalu ada. Dan memang dia dibutuhkan tak hanya bernafas tetapi juga sebagai teman. Teman bercerita yang hanya mampu mendengar secara abstrak, begitu aku membahasakannya.

Udara, jika dia bertelinga maka bisa kupastikan akan memerah telinganya karena lelah mendengarkanku bicara.
Udara, jika dia mempunyai mulut dan bibir serta mampu bersuara maka akan kudapati balasan sapa dan kata yang kudendangkan hari ini. Bahkan [mungkin], sesekali terdengar tawa renyah karena cerita tentang kekonyolan, kecorobohan ,ketidaktahuan bahkan tentang cerita memalukan sekalipun.
Udara, jika dia bertangan, aku ingin menggenggamnya dan bergerak bersamanya. Bukan malah stagnan karena mood yang berperan.
Ya, aku ingin didengarkan!

Aku masih mampu mendengar dan mampu menampung curahan hati siapa pun. Tetapi kali ini, hanya ingin pasif dan didengarkan. Meski ingin didengarkan bukan berarti aku berhenti untuk mendengar. Sekarang aku hanya ingin didengar!

Sederhana. Mengudara.
Berbicara pada udara bukan berarti aku gila karena aku hanya ingin menyederhana bersamanya.
Ya, udara…

nb: gambar diambil dari flickr.com “in the air”

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING