Categorized | Life's Stories

Recall: Personal Taste

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Image

Di setiap cerita akan akan sisipan curhat colongan, begitu kata seorang teman 😀

Ya, kali ini saya mau curhat “Recall: Personal Taste”.

Hmm, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai suka menonton KDrama, sepertinya sejak 2006. Ada 2 KDrama yang berkesan dalam hidup saya. Masing-masing memiliki cerita dan kenangan. “Princess Hour” yang saya tonton dengan diam-diam kabur dari acara asrama di hari minggu. Kedua, Kdrama ini yang saya tahu dari ibu saya yang juga gemar mengikuti setiap KDrama. Bahkan saya ingat, saat saya pulang dari kantor LPPM untuk mengurus administrasi KKN yang bermasalah, saya tiba di kos dengan menangis, pipi saya basah dan mata yang memerah. Malu? ya, saat itu saya tidak malu lagi menangis dari Balairung hingga kos, tepatnya sampai kamar saya. Saat itu terjadi, ibu saya sedang menonton Kdrama “Playfull Kiss” dan melihat saya yang “hancur” saat itu, ia memeluk dan berkata “Kuatlah, seperti Oh Hani”. Itulah alasan kenapa saya menyukai “Playfull Kiss”. Kuat seperti Oh Hani. Stay cool seperti Baek Seung Jo (yang ini saya gagal :-D) dan berharap saya menjadi nerd. 😀

KDrama yang ketiga yang berkesan adalah ini, “Personal Taste”. Ini saya nonton berdasarkan rekomendasi dari kakak saya karena tidak semua drama atau film saya nonton. Saya cenderung suka mengulang-ulang film yang sama bahkan hingga saya hafal percakapannya. Saya tonton berdua, tapi lebih sering sendiri. Drama ini terdiri dari 16 episode. Saya diminta untuk menontonnya dengan serius, bukan sekedar untuk membuang jenuh atau sekedar hiburan. Bukan. Saya menemukan jauh lebih besar dari sekedar hiburan. Drama ini mengingatkan saya pada banyak hal. Sebelumnya, Kamsahamnida 🙂

Overall, saya menyukainya. Bicara tentang kehidupan pasti tak akan ada habisnya. Kita akan dihadapkan pada bermacam-macam hal bahkan masalah. Tergantung bagaimana kita mengubah sudut pandang dalam melihat karena itu akan mempengaruhi gerak dan setiap keputusan yang akan kita ambil. Ada banyak tokoh dalam drama ini, hanya saya terfokus pada sepasang tokoh “Jeon Jin Ho” dan “Park Gae In”.

“Jeon Jin Ho”

Seorang arsitek yang sedang mempertahankan perusahaannya. Seorang yang cool. Seorang yang memperjuangkan mimpi-mimpinya demi orang-orang di sekitarnya. Seorang yang berani mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya. Di cerita itu, ia berusaha keras membuat original design untuk sebuah proyek yang awalnya ia ingin meniru design seorang professor. Yang tak kalah berkesan, bahkan sangat berkesan bagi saya adalah saat ia berani mengakui perasaannya 🙂

Segala sesuatu, apa pun itu harus diperjuangkan!

“Park Gae In”

Seorang perempuan yang ceria dan bersemangat. Seorang desainer interior. Putri seorang professor terkenal. Mudah memaafkan. Mudah mempercayai orang. Pekerja keras. Polos. Sederhana. Perempuan yang beruntung mendapat perhatian khusus dari si arsitek, menurut saya.

Im just going to choose to trust. Im just going to trust you.

Hmm, sebenarnya drama ini seharusnya ditonton oleh mereka yang sudah menikah :-D. Karena ada beberapa adegan yang memang itu adegan dewasa. Setelah menontonnya memberi banyak dampak. Dampak positif tentunya. Saya bisa belajar ketika kita memutuskan untuk saling mencintai maka kita harus bisa peduli satu sama lain, saling memahami dalam banyak hal, saling menerima, saling melengkapi, saling menjaga, saling memercayai, dan saling, saling, saling yang lain. Saya bisa belajar memahami jenis laki-laki yang memang dia sedikit bicara dan cool. Tipe seperti ini memang lebih banyak mendengar dan menyatakan perasaannya dengan sikap bukan kata-kata manis yang berlimpah. Seorang yang spesial ini tidak akan bisa kita memaksanya untuk banyak bercerita, ia akan bercerita secukupnya, sangat secukupnya. Sikapnya yang menginginkan sesuatu tidak akan secara langsung menyatakan keinginannya tetapi dengan sikap, dengan kode yang memang kita harus peka dan pintar menerjemahkannya. Lalu, apakah saya mengalaminya? Ya 😀

Saat melihat sosok “Jeon Jin Ho”, justru mengingatkan saya pada lelaki langit yang di seberang sana. Lelaki langit yang di suatu kesempatan berkata, “Wujudkan mimpimu. Aku sebagai lelaki berkewajiban untuk mendukung wanitaku.” Di depannya saya biasa saja saat itu. Tapi akhir-akhir ini justru kata-katanya membuat saya cengeng bukan berarti saya down justru membuat saya kuat. Bertahan dan berjuang. Saya egois? Mungkin, justru itu tertepis dengan “Buat aku bangga”, kata-kata sederhana tapi wah untuk saya.

Tiba di episode 16 di mana “Jeon Jin Ho” sakit. Setelah “Park gae In” menemuinya, ia segera sembuh. Ya, tiba di cerita itu saya teringat beberapa hari lalu, lelaki langit saya bilang kalau sedang tidak enak badan. Mungkin kecapekan, tapi lebih mungkin lagi karena rindu. Kata kakak saya yang menemani nonton di episode 16 mengatakan seperti itu. Rindu. Ketika ia bilang tidak enak badan, saya tidak menanyai apakah sebabnya karena rindu. Itu pertanyaan retoris, kita sama-sama tahu jawabannya. Doa yang lebih banyak dan lebih sering saya panjatkan adalah cara saya memeluknya dari jauh.

Saya di sini berharap akan semakin lebih baik, lebih keras lagi berjuang menjemput takdir saya. Semoga langkah kami diridlai. Semoga pundak kami dikuatkan. Semoga rindu kami dipertemukan sesegera mungkin meski nanti akan menuai rindu lagi, lagi, dan lagi. Semoga dengan ‘perjanjian suci’ yang terucap dan disaksikan ribuan malaikat akan membuat kami saling menjaga, membuka banyak pintu kemudahan, pintu kesempatan, pintu keberkahan, dan pintu-pintu kebaikan yang lain. Semoga semua ini mendewasakan. Segala puji bagi-Mu yang telah menakdirkan ia sebagai lelaki langit untuk saya.

Akhirnya, kerinduan ini terucap mengalir. Thanks for your patience. This distance is too difficult but i’ll run in your way, into your arms. Stay over there. Dont go anywhere. I’ll stay by your side.

Ayo kita hidup ‘bebas’ dengan saling mengikat hati 🙂

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

3 Responses to “Recall: Personal Taste”

  1. Reen says:

    Aku jadi “Cengeng” membaca sepenggal kisah-mu ini..

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING