Categorized | Renungan

Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING