Author Archives | cindiriy

Roller Coaster Kehidupan StudentMom

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Diskusi Perempuan dan Pendidikan Tinggi Bersama Neng Koala

 

Keluarlah dari zona nyaman. Sembilu yang dulu. Biarlah membiru. Berkarya bersama hati. Bergeraklah dari zona nyaman. ~Fourtwnty~

 

Saat pagi di tanggal merah kemarin, saya dan suami menjemur pakaian bersama dengan sebelumnya suami memutar lagu dari iTunes-nya. Sayup-sayup saya dengar kalimat di lirik lagu “keluarlah dari zona nyaman” yang dinyanyikan Fourtwnty. Bagi saya saat ini bukanlah masa yang bisa dianggap santai dengan ritme kehidupan yang dianggap wajar oleh orang pada umumnya. Sebagai istri sekaligus ibu tentu saja konstruksi pemikiran di masyarakat (dan teori pengasuhan) idealnya adalah fokus pada anak,  suami dan urusan rumah tangga, sedangkan saya berada dalam fase di mana harus membagi fokus pada suami dan anak dengan segala macam tugas dan jurnal. Iya, saya berada di zona yang tidak nyaman, setidaknya begitu anggapan orang.

Dulu sekali, saya memiliki angan-angan ingin terus melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah dan memiliki anak. “Pasti akan menyenangkan”, begitu pikir saya waktu itu. Ketika suatu ketika saya mengungkapkan khayalan saya itu, hampir sebagian besar akan menjawab bahwa itu tidak mungkin atau sekadar ditanggapi ‘untuk apa sekolah lagi?’. Kemudian banyak yang menyarankan untuk sekolah dulu baru menikah dan punya anak.

Kemudian, takdir membawa saya berdiri di pelaminan terlebih dahulu dan suasana kehidupan pernikahan membuat saya (sedikit) terlena pada cita-cita. Memasuki tahun ke empat pernikahan sekaligus menanti buah hati yang ternyata belum mengisi rahim, akhirnya saya kembali memutuskan untuk belajar, melanjutkan sekolah lagi dengan harapan perjalanan belajar kali ini bisa menjadi jalan spiritual lebih dekat dengan-Nya dan dianugerahi buah hati. Akhirnya, proposal saya pada Tuhan yang sedikit memaksa itu dikabulkan. Mulailah saya memainkan peran ganda di fase baru kehidupan.

Januari 2017 adalah awal saya memiliki status baru sebagai mahasiswi di Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia. Satu bulan berselang, saya menyadari ada yang sedikit berbeda dari diri saya, sekitar bulan Maret saya memutuskan ke dokter kandungan. Ternyata saya sudah hamil dengan usia kandungan delapan minggu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan bagi orang-orang di sekitar saya, itu terlihat mudah bagi saya…haha.

Hamil muda dan kuliah lagi ditambah dengan perjalanan Bintaro-Salemba menggunakan commuter line sungguh menjadi hal luar biasa. Kehidupan yang drastis saya jalani, sebelumnya ritme kehidupan yang berjalan santai berubah menjadi ritme yang begitu cepat. Waktu terasa amat sangat berharga dan akhirnya benar kata kawan bahwa kehidupan Jakarta itu keras. Tantangan pada waktu itu adalah saya menyadari sering kontraksi saat di trimester pertama dan kedua. “Pegangan yang kuat ya Kak”, “Maaf ya Kak, ibuk belum bisa ngajak Kakak santai-santai, tiduran, atau tidur yang cukup”, “Kita sekolah ya Kak, semoga Allah menitipkan ilmu yang berkah untuk kita.” Hanya kalimat-kalimat itu yang terus menerus saya sounding pada bayi yang masih di rahim. Betapa bahagianya saya ketika saya mendapati tidak pernah absen di semester pertama dalam kondisi hamil muda.

Memasuki semester kedua perkuliahan dan saya sudah berada di akhir trimester ketiga bahkan H-2 sebelum melahirkan saya masih hadir di kelas. Selama masa kehamilan dengan ritme menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dalam angan meskipun tetap membahagiakan hingga datang waktu melahirkan yang saya jalani melalui operasi sesar. Saya tidak mengambil cuti perkuliahan, hanya memanfaatkan ijin tidak masuk kepada dosen dan administrasi di bagian akademik. Hari ketujuh pasca melahirkan sesar, ujian tengah semester dua datang menyapa dan saya tempuh jarak Bintaro-Salemba dengan commuter line demi ujian. Bisa? Alhamdulillah bisa dengan sangat menyakitkan…hahaha.

Kuliah bersama kelas besar atau antar peminatan

Hingga di sini, saya bersyukur bisa sekolah lagi dengan sebuah peran ganda menjadi mama dan mahasiswi. Allah Maha Tahu, jika saya sekolah terlebih dahulu di jenjang magister sebelum menikah dan punya anak, bisa jadi ritme kehidupan saya sama seperti ritme kehidupan di Jogja yang serba santai dan damai. Namun, kali ini saya bersyukur dan beruntung bisa mencicipi dua peran dengan perasaan macam naik roller coaster.

Ya, roller coaster kehidupan sebagai studentmom atau mamasiswa ternyata tidak semudah dalam khayalan. Tidak mudah menata waktu dan ego, bernego dan menjalin komunikasi, berdamai dengan diri, mengatur naik turun emosi, hingga menyeleksi komentar orang atas pilihan kita. “Ngapain sekolah lagi?”, “Fokus aja di rumah dan anak-anak, ngapain repot sekolah lagi, kapan senang-senangnya?”, “Udah nikah dan punya anak udah bukan waktunya sekolah lagi. Sekolah itu dulu sebelum menikah”, “Masa golden age anak itu sekali seumur hidupnya, kalau sekolah kamu ketinggalan dong ya?”, “Iya sih bisa sekolah lagi tapi kasihan banget sih anakmu.” Daaaan masih banyak yang lainnya. 😀

Bagaimana rasanya menghadapi komentar orang yang mengungkapkan fakta? Saya semacam menjadi perempuan yang nestapa dan dibanjiri rasa bersalah terutama pada anak dan suami. 😀 Di sisi lain, saya bahagia bahwa ternyata saya memiliki support system yang solid, good vibes dan positive people yang ternyata jauh lebih banyak. Salah satunya, saya menjadi bagian kecil bahkan seperti butiran deterjen dari sebuah komunitas bloger yaitu, BloggerCrony dengan prinsipnya adalah positive people dengan positive attitude yang memberi saya kesempatan hadir di launching buku Neng Koala yang berisi kisah-kisah mahasiswi Indonesia di Australia sekaligus diskusi bertemakan perempuan dan pendidikan tinggi di Aula Univeritas Binus tepat seminggu lalu (25/4). Dalam diskusi tersebut ada lima narasumber sekaligus penulis buku Neng Koala yang berbagi pengalamannya selama belajar di Australia dengan kondisi yang berbeda. Sharing pengalaman yang paling berkesan adalah ternyata saya tidak sendiri menjalani peran ganda sebagai mama dan mahasiswi yang pada waktu itu disampaikan oleh Mbak Adhityani “Dhitri” Putri, Alumnus Australian National University. Saya menyadari ternyata apa yang saya jalani masih tergolong ringan karena saya masih menjalaninya di Indonesia. *hoho*

Dalam tulisannya di buku Neng Koala, Mbak Dhitri menceritakan ada dua tantangan besar ketika melanjutkan kuliah di Australia sekaligus memiliki bayi dalam waktu yang bersamaan yaitu, mendapatkan tempat penitipan anak yang bagus dengan harga terjangkau dan membagi waktu dan perhatian antara kebutuhan si kecil, kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi dan suami. Yap, saya bisa saja memberi jawaban yang mudah dengan “planning” atau “direncanakan dong!” Eitttsss, tahan dulu memberi jawaban yang super mudah itu karena bagi yang sudah punya anak pasti tahu bahwa rencana sematang apa pun itu bisa kandas seketika. Anak bayi dan balita mana bisa disuruh mengikuti jadwal deadine tugas ibunya? Daaaaaan, saya sudah mengalami itu…wkwkwk rela ngerjain tugas dengan menggadai waktu tidur malam demi tugas kelar, masalah besok berangkat ke kampus sambil melek merem urusan besok, syukur-syukur kalau dapat tempat duduk di commuter line untuk sekedar merem sebentar. It is heaven in the earth, Moms! 😀

Selain tulisan Mbak Dhitri di buku Neng Koala, saya juga memiliki kesan khusus kepada Mbak Cucu Saidah yang memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasannya di mana segala aktivitasnya dilakukan di atas kursi roda, ternyata tidak menghalanginya untuk melanjutkan sekolah di jenjang master bersama suaminya yang sama-sama memiliki keterbatasan. Dari Mbak Cucu lagi-lagi saya diingatkan lagi bahwa bagaimanapun kondisi kita bukan menjadi penghalang untuk banyak kebaikan termasuk menjemput ilmu. Hal yang membedakan adalah adanya niat dan tekad yang kuat dan berani merealisasikannya.

Saat saya membaca lembar demi lembar kisah Neng Koala, saya juga menemukan tulisan berjudul “Merajut Mimpi Bersama: Kuliah Bareng Suami” yang ditulis oleh Mbak Melati, founder Neng Koala. Tulisan itu lagi-lagi menyemangati saya dari sisi yang lain tentang keinginan saya dan suami untuk kuliah bareng, bareng secara waktu dan universitasnya bersama anak kami tentu saja. Mimpi besar yang tinggi itu tentu saja tidak bisa diwujudkan dengan mudah. Namun, Mbak Melati berpesan dalam tulisannya bahwa niat kuat bahkan nekat dan optimisme adalah kunci terwujudnya mimpi serta selalu bersyukur atas pilihan yang telah diambil bersama. Yaa, saya pun sepakat.

Banyak kisah berharga untuk mengisi semangat dari buku Neng Koala dan ini berharga sekali untuk saya yang sedang menjalani peran ganda sebagai mamasiswa. Kisah-kisah Neng Koala sangat beragam, bisa dibaca oleh semua kalangan, tidak harus jadi mamasiswa dulu baru membaca Neng Koala kok! Bagi perempuan Indonesia yang enerjik, penuh semangat dan cita-cita tinggi pada pendidikan, buku Neng Koala ini bisa jadi daftar bacaan dan teman slonjoran…hehe. Saya tidak memungkiri bahwa setelah menjadi ibu kewajiban bertambah seolah waktu selalu kurang dan tidak memungkinkan untuk sekolah lagi. Bukan tidak mungkin, mungkin kok asal berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusan, semua itu tidak ada yang tidak mungkin tergantung kita berani atau tidak mengambil kesempatan untuk keluar dari zona nyaman. Ohya, selain para perempuan, buku Neng Koala juga bisa dibaca oleh para laki-laki agar bisa memiliki gambaran tentang dunia perempuan dan pendidikan tinggi.

Selesai membaca Neng Koala secara paripurna, saya memilih untuk tetap bersyukur dan bahagia menikmati roller coaster kehidupan sebagai mamasiswa.

Salam dari mamasiswa terenerjik di dunia Bilgi! 😀

 

 

 

 

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's Stories, Review3 Comments

Menikmati Akhir Pekan Bersama Irina Pejoska di Salihara

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Waaaah, ternyata sudah sangat lama saya nggak post-post di blog ini yaaa… 😀 Kenapa? Ya, saya usahakan untuk nulis pembenaran-pembenaran kenapa absen begitu lama di dunia per-blog-ingan. InsyaAllah, next post ya… ^^

Well, kali ini saya akan berbagi kesan di akhir pekan yang dingin-dingin manja karena selepas hujan di luar sana. Malam akhir pekan kali ini saya berkunjung ke Salihara. Kesempatan yang membahagiakanlah ya untuk saya, setelah kemarin selama tiga hari ngentheng-ngenthengi (biasanya ini terjadi pada bayi yang mulai aktif dan bertambah pintar kalau kata orang Jawa). Saya terus-menerus pooping itu berarti tempat saya beraktifitas nggak bisa jauh-jauh dari kamar mandi, saya tidak sedang diare maupun sakit perut. Entah kenapa saya ngentheng-ngenthengi, bisa jadi saya akan bertambah pintar. *hahaha*

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Salihara dan untuk pertama kalinya juga saya menyaksikan pertunjukkan harpa. Pak Nug mengahadiahi saya saturday dating dengan menonton pertunjukkan harpa oleh Irina Pejoska dari Serbia, kurang romantis bagaimana lagi, iya nggak? Irina Pejoska, ia masih sangat muda, berusia lima belas tahun dan sudah sangat piawai memainkan alat musik harpa yang ukurannya nggak main-main, yang jelas harpa itu lebih tinggi dari saya 😀 Dalam pertunjukkan tersebut, Irena menyajikan sembilan lagu dan bonus satu lagu di akhir pertunjukkannya. Sedikit informasi tentang Irina Pejoska, ia menekuni biola di sekolah musik Mokranjac, Serbia kemudian beralih ke bidang harpa di sekolah musik Stanković di negara yang sama. Ia pernah memenangkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, serta tampil di beberapa acara yang diadakan di Kolarčeva Zadužbina (Serbia), di ballroom Matica Iseljenika i Srba u Regionu (Serbia) dan di galeri Cultural Centre Pančevo (Serbia). Selain itu, ia pernah dibimbing langsung oleh pemain harpa unggulan dunia.

Pertunjukkan dimulai tepat waktu, pukul 20.00 WIB dan ini sangat-sangat keren bagi saya atas nama penghargaan terhadap waktu. Semua kursi Hall Salihara pun terisi penuh. Namun, kami sebagai penonton tidak diperkenan untuk merekam atau memotret selama acara berlangsung karena suara atau cahaya akan mengganggu jalannya acara. Biar kita-kita pada fokus! Yaah, gak bisa eksis di media sosial dong? Tenang, panitia memberi solusi bahwa diperkenankan untuk mengambil gambar di akun media sosial Salihara. Sebelum dan selepas acara tetap diperbolehkan untuk cekrak-cekrek kok… ^^

Ohya, di Salihara banyak menawarkan acara-acara bagus, menurut saya ya… Jadi bisa jadi pertimbangan untuk mengisi akhir pekan atau bingung mau ke mana selain nge-mall… 😀

Dok. Pribadi

Saya sebenarnya nggak paham betul dengan permainan alat musik harpa, saya hanya sebatas penikmat saja dan yang paling penting adalah dengan siapa kita menikmatinya, iya kan? iya kan? 😀

Ini cerita akhir pekan saya, apa cerita akhir pekan kalian? dan dengan siapa kalian menikmatinya?

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-Style, Life's Stories27 Comments

Merdeka!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

“Pakne, sudah tho jangan ngrokok lagi.”

“Bune, Bune, rokok lagi, rokok lagi. Apa nggak ada yang lain untuk nyambut kedatangan Bapak? Bapak ini capek, Bune.”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok saja. Lihat anak-anak kita. Udah harus siap-siap untuk biaya sekolah mereka. Belum lagi, kita nggak pernah ngajak anak-anak untuk makan di luar atau jalan-jalan. Bisa makan sehari 3x aja udah syukur.”

“Makan di luar atau jalan-jalan emang nggak butuh duit, Bune? Duit dari mana?”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok.”

Wanita yang kunikahi hampir empat belas tahun yang lalu itu selalu saja menyudutkanku soal aktivitas merokokku. Merokok tak sekedar menghirup dan mengeluarkan setiap hisapan tembakau yang terbakar. Namun, aku benar-benar telah seperti lelaki sejati nan gagah setiap kali aku menikmatinya, lebih-lebih ditemani dengan secangkir kopi sambil duduk di lincak menikmati malam dan melepas penat setelah seharian kerja serabutan. Saat merokok itulah aku pikiranku menjadi segar, lebih bersemangat, dan yang terpenting besok aku harus menyiapkan tenaga untuk kerja sampingan. Yah, hidup di ibukota memang keras dan harus kreatif untuk mendapatkan uang. Memulung sampah, jadi tukang parkir dan jadi tukang panggilan untuk memperbaiki atap rumah yang bocor tidaklah seberapa. Jadi, aku harus pintar ubet.

Aku menggeser lincak yang sebelumnya berada di teras rumah ke depan rumah, ke sebuah halaman yang jauh dari kata luas. Aku bisa memandang langit malam, menikmati kopi dan rokok sambil kipas-kipas. Kali ini, pandanganku bertambah satu. Rumahku. Iya rumah yang tak mewah. Rumah yang ketika hujan akan bocor di mana-mana meski sudah ditambal. Rumah di mana ada anak-anak yang sangat menerima keadaan orangtuanya. Rumah di mana anak-anakku adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Rumah di depan pandanganku ini bahkan jauh dari kata sederhana.

“Ternyata rumahku ini papan bagian depan sudah mulai rapuh karena waktu dan dimakan rayap.” Gumamku sambil terus menghisap rokok.

Aku terus memandangi rumahku, rumah yang kata orang-orang adalah surga. Tempat menyenangkan untuk semua anggota keluarga, surgaku seperti sudah tak layak huni. Kasihan istri dan anak-anakku, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya orang dengan pekerjaan serabutan. Aku tak berani bermimpi terlalu tinggi untuk punya surga yang lebih baik lagi.

“Hmm, begini saja aku bahagia. Bisa ngrokok, ngopi, dan duduk di lincak.” Bisikku dalam hati.

***

Hari ini setelah keliling untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Biasanya dari sektor satu aku akan melewati perumahan caping menuju perempatan bonjol. Namun, petang ini aku mengambil rute melewati perempatan sektor tiga, nanti tinggal ambil kanan. Rute ini jauh lebih ramai daripada ketika melewati komplek perumahan. Lepas pukul tujuh malam, memang sepertinya puncak keramaian. Orang-orang punya alasan untuk keluar rumah bahkan ada yang menuju ke rumah dari kantor masing-masing.

Lepas Isya, jalanan semakin ramai. Tak hanya jalanan yang dipadati kendaraan, tetapi warung-warung makan pun tak kalah ramai dikerubuti para pelanggan. Mulai dari warung lesehan, warteg, warung makan sederhana hingga warung makan modern seperti kafe-kafe, tempat nongkrong orang-orang muda. Terlihat nikmat ketika melintas di depan kafe, aroma kopinya benar-benar memikat selera. Bayanganku, betapa bahagianya menikmati rokok-rokokku dan secangkir kopi berkualitas.

“Kapan aku bisa seperti itu?” Batinku mulai cemburu.

Aku terus berjalan sambil menarik gerobakku, menikmati malam ini dengan rute pulang yang berbeda meski perutku sudah sangat lapar. Aku hampir tak tahu kenapa aku memilih jalan yang memutar. Seakan ada yang menarikku melewati jalan ini. Melewati banyak warung makan yang berjejer menawarkan menu-menu andalannya. Melihatnya saja aku sudah sangat cemburu, tapi aku tak bisa apa-apa. Meskipun aku tak bisa makan di sana dan sesampainya di rumah selalu dapat ceramah dari istriku, yang penting aku bisa beli rokok. Udah, itu saja aku bahagia.

Perjalananku sejenak terhenti di sebuah warung makan bercat kuning hitam karena ada sebuah mobil yang sibuk mencari posisi yang pas untuk parkir. Sedikit memakan waktu beberapa saat. Setelah berjuang, akhirnya mobil mewah itu mendapat posisi yang pas di tempat parkir tanpa mengganggu jalan kendaraan yang sedang melintas. Aku terus mengamatinya. Setelah mobil berhenti, orang-orang yang di dalam mobil mewah itu keluar satu per satu. Pertama, aku melihat dua anak perempuan yang lincah keluar dari pintu belakang disusul dengan seorang anak laki-laki yang sudah pasti itu kakak dari anak perempuan yang lincah. Selanjutanya, ada seorang wanita yang keluar dari pintu depan sebelah kiri, memakai baju panjang berjilbab yang dipanggil mama oleh salah seorang dari anak perempuan yang lincah itu. Terakhir, seorang laki-laki bersih keluar dari pintu depan sebelah kanan, yang aku dengar dipanggil papa oleh seorang anak laki-laki. Mereka memasuki rumah makan yang ada di depanku “WAROENG STEAK AND SHAKE”, kuamati mereka memasukinya dengan wajah bahagia dari anak-anaknya.

“Mas, Mas, warung makan ini tempat makan untuk keluarga ya?”

“Nggak hanya keluarga, Pak. Anak muda juga ada yang makan di sini. Harga terjangkau dan ramah di kantong, dijamin halal dan enak.” Sambil mengangkat jempol tangannya, si mas tukang parkir menjawab dengan ramah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti sedang perang batin. Semua ingatan tumpah setelah sebelumnya berdesak-desakan di otakku. Bagaimana tidak? Aku teringat kata-kata istriku bahwa kami belum sekalipun mengajak anak-anak jalan-jalan atau makan di luar. Dia menyuruhku berhenti merokok agar jatah uang rokok bisa ditabung. Tapi, tapi, aku mencintai rokokku, bagaimana mungkin aku berhenti merokok? Jika berhenti merokok, aku akan sakit, lemas dan lidahku pahit. Aku tidak akan bersemangat lagi. Aku tidak akan tahu rasanya menikmati bahagia yang sederhana.

“Itu namanya egois, Pak. Anak-anak juga berhak bahagia.” Tiba-tiba suara nyaring istriku tempo hari terngiang-ngiang di telingaku.

“Ngajak makan di luar anak-anak juga gak harus tiap hari, Pak. Ambil kesempatan misal anak-anak habis terima rapor, mereka kan berprestasi, bikin kita bahagia. Udah jadi hak mereka kalau kita ngajak mereka makan.” Kata-kata istriku semakin membombardirku, semakin mengacak-acak batinku. Mengacaukan pikiranku. Memang benar kata istriku, tapi aku masih tidak bisa melepaskan rokokku.

Pikiranku semakin kacau, batinku semakin memberontak antara keinginan pribadiku dan keinginan membahagiakan anak-anak serta istriku. Sambil menarik gerobak yang setia menemaniku, di setiap sisa langkah menuju rumah, aku mulai menghitung pengeluaranku untuk membeli rokok. Aku mengalikannya, menjumlahkannya hingga aku dapati kenyataan bahwa ternyata pengeluaran untuk membeli rokok ternyata sangat besar. Namun, apa dayaku, rokok seakan sudah jadi kebutuhanku.

“Apa Bapak nggak sadar kalau bertahun-tahun Bapak itu hanya sedang mbakar duit? Udah ngrasa kaya?” Lagi-lagi kata-kata istriku menyerangku secara bertubi-tubi. Saat-saat seperti itu, aku teringat betapa istriku yang sabar berubah menjadi sangat garang.

Aku semakin terdesak dengan pikiran, perasaan, dan logikaku sendiri. Meskipun istriku berulang kali mengingatkan bahwa merokok hanya akan merenggut kesehatanku tapi selama ini aku merasa baik-baik saja. Pun tetangga kami yang lebih tua yang sudah merokok lebih lama dariku masih terlihat bugar hingga sekarang. Jadi aku tak termakan ancaman-ancaman seperti itu. Aku hanya ingin menikmati hidup lewat sebatang rokok.

***

“Bapak, Bapak, kenapa Bapak melamun?”

Aku tersentak saat anakku sedikit berteriak kegirangan memegang tanganku. Aku mengingat kembali dua bulan lalu, saat aku berada di depan “WAROENG STEAK AND SHAKE” sambil memandangi ketika sekeluarga masuk ke dalamnya. Betapa riang polah langkah anak-anaknya. Terlihat hangat dan bahagia, jauh dari keegoisan semata. Oh, ternyata begini rasanya, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyum bahagia anak-anak yang tak biasa dan istriku yang semakin berkurang marah-marahnya.

Aku tahu, aku sampai bisa duduk di “WAROENG STEAK AND SHAKE” bersama keluargaku memang tidak mudah aku memperjuangkannya. Aku tak sekedar berjuang untuk berhenti merokok, tapi aku berjuang berdamai untuk tidak egois demi kebahagiaanku sendiri. Ya, karena kebahagian dalam sebuah keluarga itu adalah sama-sama merasa. Aku menyadari betapa benar kata-kata istriku bahwa aku seperti membakar uangku selama ini. Buktinya, selama dua bulan aku berjuang berhenti merokok, aku bisa mengajak istri dan anak-anakku makan enak di luar. Aku seakan baru menyadari bahwa rokok tak hanya mengancam kesehatan badan, tapi juga mengancam kesehatan kantong perekonomian keluarga. Semoga tak terlambat aku menyadarinya.

Meninggalkan rokok bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Ternyata aku hanya butuh tekad bulat. Ya, man jadda wa jadda. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Ada kemudahan yang Allah berikan. Apalagi ini aku lakukan untuk keluargaku. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai teladan bagi anak-anakku maka aku akan selalu berharap keinginan dan tekadku ini semakin kuat. Tidak akan tergoda lagi pada rokok.

“Bapak ingin makan apa? Kami udah pilih makanan yang ingin kami makan.” Kata si sulung dengan polah cerianya.

“Iya, Bapak pilih sekarang.”

“Bapak, terimakasih atas usaha Bapak untuk merdeka dari rokok. Ibu sayang Bapak.” Bisik istriku di antara keriangan anak-anak.

Ya, aku merdeka. Badanku merdeka. Kantongku pun merdeka. Merdeka!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Cerpen2 Comments

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

The Sacrifice of Abraham’s Son memiliki beberapa versi bahkan menjadi perdebatan tersendiri. Beberapa klaim muncul dengan argumen yang masing-masing dipercaya kebenarannya. Dalam sesi ini, The Sacrifice of Abraham’s Son ditinjau dari dua sumber yaitu, al-Quran dan Torah/Bibel.

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut al-Quran

  1. As-Saffaat 99-113 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan seorang putra atau anak yang santun setelah Ibrahim meminta kepada Allah. Ibrahim melihat dalam tidurnya bahwa beliau menyembelih putranya yang pada saat itu Ibrahim menyampaikan secara langsung. Putra Ibrahim (yang diklaim sebagai Ismail) menanggapi agar Ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Setelah keduanya berserah diri untuk melaksakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kemudian Allah menjadikan apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya sebagai bentuk totalitas dalam ketaatan menerima perintah. Allah mengabadikan kisah Ibrahim sebagai seorang yang mulia yang menjadi teladan bagi penganutnya. Tak hanya itu, Allah menganugerahkan lagi seorang putra pada Ibrahim yang bernama Ishak. Ishak adalah seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh dan Allah melimpahkan keberkahan atas Ishak yaitu keturunan yang di antaranya berbuat baik dan di antaranya terang-terangan berbuat zalim pada dirinya sendiri. Keturunan Ishak ini adalah bibit keturunan orang-orang Yahudi atas Israel. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan Ismail memahami tujuan atas penyembelihan bahwa itu sebuah perintah Tuhan untuk sebuah ketaatan. Tergambar jelas bahwa Ismail seorang yang sabar, berani, dan cerdas.

Di sisi lain, dalam ayat tersebut tidak disebutkan nama Ismail secara jelas. Menurut tafsir awal yang ditulis oleh Muqotil bin Sulaiman dan tafsir Tobari menyebutkan putra yang dikurbankan oleh Ibrahim adalah Ishak, namun kemudian dilarang oleh pemerintah Mesir yang kemudian direvisi kembali pada tafsir generasi baru disebutkan bahwa putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail. Jika dilihat dari sejarah, putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail karena Siti Hajar dan putranya hijrah menuju Mekkah sedangkan Ishak tidak pernah hijrah ke Mekkah.

 

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut Torah/Bibel

Genesis 22: 1-13 mengisahkan saat Abraham mengajak Ishak dan dua orang lelaki yang dianggap sebagai abdinya melakukan perjalanan ke sebuah gunung Moria yang itu sebenarnya adalah sebuah bukit atau dataran tinggi. Saat tiba di suatu tempat, Abraham mengajak Ishak berjalan dan meminta dua abdinya untuk menunggu. Dalam ayat ini tidak menjelaskan bahwa Abraham memberikan pemaparan alasan mengajak Ishak melakukan perjalanan. Saat keduanya sampai di sebuah altar persembahan, Ishak yang diikat tangan dan kakinya tidak kunjung mengetahui apa yang akan dilakukan oleh ayahnya, Abraham hingga menjelang dirinya dikurbankan. Namun, Tuhan menggantikan posisi Ishak dengan seekor domba. Ayat ini menggambarkan betapa Ishak adalah seorang anak yang polos (The Innocent Man) dan hanya Abraham yang mengetahui tujuan perjalanan tersebut.

Genesis 21 menjelaskan tentang Ismail dan Pengusirannya. Saat Sarah dianugerahi untuk mengandung di usia tua dan pada saat itu Abraham berusia 100 tahun. Nama Ishak diartikan sebagai lelucon karena Sarah khawatir ditertawakan orang-orang ketika hamil dalam usia tua dan Abraham juga sudah sangat tua. Pada saat Ishak lahir, Ismail sudah berusia 14 tahun. Sarah merasa khawatir atas Ishak yang kemudian meminta Abraham agar mengusir Ismail dan Hajar dengan alasan bahwa Ismail bermain-main menyembah kepala belalang di usia muda dan Sarah khawatir ketika Ismail besar akan menyembah berhala. Abraham dengan berat hati mengusir Ismail dan Hajar dengan membekali air dan ditinggalkan di Beer-Sheba, sebuah tempat di Israel.

Ismail dalam Bibel memiliki arti orang yang taat, namun memercayai bahwa putra yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Seorang anak yang diberikan keberkahan dan kemuliaan serta seorang anak yang disebut-sebut sebagai anak satu-satunya dari Abraham. Namun, dalam Genesis 17 disebutkan bahwa Ishak bukanlah satu-satunya putra Abraham. Ada Ismail yang telah berusia 13 tahun yang saat itu telah disunat bersamaan dengan Abraham yang juga disunat di usia tua. Dalam Genesis 21:5 menyebutkan bahwa ketika Abraham berusia 100 tahun, Ishak terlahir ke dunia. Hal itu berarti bahwa Abraham berusia 99 tahun, Ishak belum lahir ketika Ismail berusia 13 tahun dan sudah disunat bersama Abraham yang berusia 99 tahun. Kata Yakhitkha yang diulang-ulang dalam Genesis seperti sebuah ‘pemaksaan” untuk melawan hukum alam.

Ismail dan Ishak dalam Genesis juga diakui sebagai anak biologis Abraham seperti dalam Genesis 25:9 yang menyebutkan bahwa Ishak dan Ismail adalah putra Abraham. Selain itu, Genesis 21:5, Genesis 17:23, Genesis 17:25, dan Genesis 21:13.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Arabic0 Comments

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #2

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #2

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah tulisan untuk tugas responsi setiap minggu salah satu mata kuliah favorit saya yaitu Religion and Ideology in The Middle East. Topik kuliah ini adalah The Abrahamic Religion: A Dialogue Between the Qur’an and the Rabbinic Midrash. Saya unggah ke blog dengan tujuan dan harapan agar menjadi pemantik bagi saya untuk menulis tentang Kajian Timur Tengah dan Islam. ^^

Agama Ibrahimiyyah (The Abrahamic Religion) dikenal juga sebagai agama samawi yaitu, agama yang muncul dari suatu tradisi semit kuno yang bersumber kepada Abraham atau Ibrahim yang berarti Bapak atau Pemimpin banyak orang, dalam Bahasa Ibrani disebut Avraham. Sekarang agama samawi ini dianggap sebagai agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Agama-agama Abrahamik ini memiliki pemeluk dalam jumalah yang besar. Namun, banyak dari pemeluk agama-agama tersebut tidak menginginkan pengelompokkan agama atau kepercayaan mereka.

Pembahasan atas Agama Ibrahimiyyah tentu saja tidak akan terlepas saat menilik sejarah Palestina-Israel  yang panjang. Keduanya memiliki titik temu dalam Agama Ibrahimiyyah dilihat dari jejak leluhur di garis keturunan Ibrahim atau Abraham. Menurut Yahudi, Abraham adalah orang pertama dari pasca gelombang penolakkan besar-besaran atas penyembahan berhala melalui pemikiran yang rasional pada saat itu. Sekaligus dianggap secara simbolik sebagai tokoh fundamental untuk agama monotheistik. Dalam Islam, Ibrahim atau Abraham disebut sebagai Bapak Bangsa Arab melalui keturunannya Ismail yang berada dalam rangkaian nabi-nabi Islam mulai dari Nabi Adam.

Dalam Torah dan al-Quran, Ibrahim atau Abraham digambarkan sebagai seorang leluhur yang diberkati oleh Allah serta dijanjikan banyak hal yang besar dan kemuliaan. Abraham juga dianggap sebagai Bapak Bangsa Israel  oleh Yahudi melalui anaknya, Ishaaq dan dianggap sebagai Bapak Bangsa Arab melalui anaknya, Ismail pleh para Muslim. Dalam keyakinan Kristen, Abraham adalah teladan bagi iman dan ketaatan pada Allah dalam mempersembahkan Ishaaq yang dipandang sebagai teladan dari persembahan oleh Allah sendiri atas anaknya, Yesus.

Dalam Islam dikisahkan bahwa yang dijadikan qurban atau persembahan dalam rangka ketaatan kepada Allah adalah Ismail bukan Ishaaq, meskipun dalam al-Quran surat As-Shaffat 100-111 tidak disebutkan secara langsung bahwa itu adalah Ismail. Islam mengisahkan bahwa itu Ismail melalui tinjauan sejarah yang saat itu Siti Hajar dan Ismail diusir kemudian hijrah ke Mekkah. Ketaatan Ibrahim atau Abraham yang mengurbankan Ismail adalah sebuah gambaran mulia betapa taat Ibrahim dan dianggap sebagai salah satu nabi terpenting yang diutus Allah. Dalam al-Quran juga disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham bukanlah Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi memiliki kepercayaan terhadap Allah yang disebut Millah Ibrahim (Agama Hanif). Sedangkan dalam Torah disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham disebut mengurbankan Ishaaq yang dianggap yakhitkha (the only son of Abraham) sebagai bukti ketaatan pada Allah. Ishaaq dipercaya sebagai anak yang dikurbankan karena terlahir dari wanita yang mulia yaitu, Sarah. Abraham dan Ishaaq dianggap sebagai orang mulia yang telah dijanjikan banyak hal termasuk sebuah tanah yang sekarang disebut sebagai the promised land bagi bangsa Israel.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Arabic2 Comments

Belajar Quilting Bersama Kriya Indonesia

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

 

Sabtu (4/3) yang lalu saya memiliki kesempatan untuk belajar quilting bersama Kriya Indonesia di Museum Tekstil. Workshop tersebut memiliki tajuk Let’s Learn  How to Make Pillow Cover yang diikuti oleh beberapa blogger. Bagi saya, Quilt Workshop adalah kegiatan pertama kali bagi saya setelah tiga belas tahun tidak saya lakukan. Benang, jarum, dan kain terakhir kali saya belajar menjahit saat sekolah menengah pertama. Jadi, saat saya mendapat email bahwa saya menjadi salah satu peserta, saya girang dan berangkat dengan langkah ringan. ^^

Apa itu Quilting?

Ini salah langkah…hehe (dok. pribadi)

Nah, sebelum saya berkisah proses saya menjahit sarung bantal yang ternyata tidak mudah bagi saya, sebaiknya saya kenalkan lebih dulu tentang quilting. Menurut saya, quilting bagian dari jahit-menjahit namun menggunakan sense of art untuk menggabung-gabungkan potongan kain dengan dua atau lebih pola yang berbeda agar tercipta motif baru yang lebih unik. Tiap potongan kain ini digabungkan dengan menggunakan tusuk jelujur agar semua sisinya terlihat sama dan rapi.

unyu kan? ^^ (dok. pribadi)

Sebelum memulai quilting membuat sarung bantal, langkah pertama adalah mengumpulkan niat dan tekad *haha ^^v, becanda dikit ya. Langkah pertama adalah menyiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Bahan yang dibutuhkan adalah kain yang berbeda motif, bisa polos kombinasi motif atau motif kombinasi motif yang berbeda. Alat-alat yang digunakan juga mudah didapatkan di antaranya ada jarum pentul, gunting, setrika, dan mesin jahit. Waah, ribet ya…! Eitts, tunggu sebentar, ini yang paling menyenangkan, saya sama sekali tidak menyiapkan bahan atau alat-alatnya apalagi sampai nenteng-nenteng mesin jahit punya ibu saya yang di rumah. Jelas nggak! Kain-kain yang diperlukan beserta alat-alat sudah disiapkan oleh panitia dari Kriya Indonesia. Kain yang digunakan dari textilezy, sebuah ‘istana’ bagi penyuka kain dengan motif yang lucu-lucu dan berkualitas, kalau kata Mbak Dewi “Dee” Lestari ‘malaikat juga tahu siapa yang jadi pemenangnya’. Textilezy merupakan situs ecommerse textile pertama yang memudahkan pembelian secara online dan menjadi pioner textile online pertama di Indonesia, berbasis teknologi modern, bersistem, dan berintegritas. Tak hanya itu, Kriya Indonesia juga memanjakan para peserta workshop dengan menyediakan alat-alatnya termasuk Mesin Jahit Brother GS 2500 dengan penampilannya yang asik pinky-pinky manja, bagi saya yang baru pertama kali memakai mesin jahit elektrik Brother GS 2500 ramah di telinga dan cukup mudah digunakan, cara memasang benang atas dan bawah juga mudah.

Itu tuh sepatunya, untuk menjepit kain. Biar kainnya gak lari-lari kaya kamu 😀 (dok. pribadi)

Ohya, tentang Mesin Jahit Brother GS 2500 ini bagi saya berkesan, di samping membuat quilting sarung bantal, saya juga sempat mencoba beberapa jenis jahitan yang ada di mesin jahit ini yang jumlahnya 25 jahitan, seperti jahitan variasi seperti jahitan gelombang yang bisa mempercantik tampilan baju atau kreasi serta jahitan khusus untuk lubang kancing. Jadi jahitan yang dihasilkan tidak hanya jahitan lurus saja. Pengaturan kerapian pun juga cukup terjamin karena Mesin Jahit Brother GS 2500 memiliki sepatu dengan jenis sepatu yang tersedia dengan fungsi masing masing yang berbeda. Ada sepatu standar untuk menjahit lurus  dan variasi, ada sepatu untuk memasang resleting juga sepatu untuk membuat lubang kancing. Nah, untuk menganti ganti sepatu ini kita hanya tinggal menekan bagian atas sepatu untuk melepas dan menempelkan sepatu yang akan dipasang. Gampang banget kan, gak perlu pakai obeng segala. Sepatu ini apa sih? Sepatu yang saya maksud ini bukan sepatu alas kaki ya, tetapi alat yang digunakan untuk menjepit agar kain tidak lari saat proses menjahit. Alasan disebut sepatu karena bagi saya bentuknya memang mirip sepatu.

Ini karya tangan saya, pola yang terbentuk seharusnya seperti kincir. Saya salah langkah tapi anggap aja itu hasil imajinasi bukan plagiasi #eh 😀 (dok, pribadi)

Overall, bagi saya quilting itu menyenangkan termasuk bagi saya yang bukan termasuk golongan perempuan yang telaten *haha. Usai ikut workshop quilting, saya berharap agar saya punya tekad kuat dan ada hidayah yang turun dari langit agar bisa melakukan quilting lagi di rumah. Quilting juga bisa dilakukan tanpa mesin jahit kok, yap, pakai jahit tangan tetap bisa. Namun, kalau ada rejeki boleh bangetlah punya Mesin Jahit Brother GS 2500 di rumah. Nggak nolak! 😀

Selain bisa belajar quilting ada dua hal yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan yaitu, saya bisa makan lontong pecel yang rasanya sama dengan pecel Madiun dan kunjungan ke Museum Tekstil yang benar-benar terwujud karena sebelumnya hanya menjadi rencana dan wacana bagi saya.

Semoga bermanfaat  dan yuk, belajar quilting! ^^

 

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's Stories2 Comments

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Firstly, I feel very impressive to join this class because I get knowledge deeper than before I understand about Arab-Israel conflict. I think, the reason Arab-Israel conflict is only religion, no more. In this case, on my point of view, The Muslims in Arab chiefly Palestine have been oppressioned by Jewish. But, I got wrong about this point of view and how superficial I am. I understand that Arab-Israel conflict is complicated and sensitive issue. Therefore, how the important understanding it properly.

In the second class, I found one of interesting materials such as The Balfour Declaration. The British foreign secretary, Arthur Balfour wrote letter to Lord Rothschild (a prominent figure in British Zionist circle) to inform him that the British cabinet had approved the following declaration of sympathy for Jewish Zionist. The Balfour Declaration was born by some factors such as the chance to secure British strategic interest to produce a British declaration support of Zionist objective in Palestine. The Balfour Declaration was fateful  but it was a brief document filled with such ambiguities and contradictions that it made confused all the parties.

Talking Arab-Israel conflict, it can not be detached from immigration. Jewish immigration and land acquisition the heart of the communal tension in Palestine. On the same time, I know that Jewish and Zionist are different. In this case of immigration, the Zionist objective was to build up the Jewish population of the mandate through unrestricted immigration as to have a credible claim to the existence of national home in Palestine land. In order to settle and feed the immigrants. It was necessary to discover as much planted land as possible. Jewish immigration to Palestine land occurred in a connecting structure of waves called aliyah. The first aliyah began in 1904. The first and the second aliyah were happened before World War I and the third wave was happened from 1919 to 1923, it was composed of about 30.000 immigrants mainly from Eastern Europe. The immigration influx then slowed considerably until 1933 when the rise of Hittler and the Nazi Party precipitated the moving of Jews thousands from Germany and central Euorope.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Arabic2 Comments

Bagaimana Mendidik Anak Lewat Marah?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Judul: Marah Yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Penulis: Bunda Wening

Penerbit: Tinta Media, Tiga Serangkai

TahunTerbit: 2013

Cetakan: Kedua November 2016

Editor: Fiedha ‘L Hasiem

 

“Jika marah dianggap wujud rasa sayang maka anak pun akan belajar menyayangi dengan marah pula.” –Bunda Wening-

Bagi saya, pertama kali membaca judul buku “Marah Yang Bijak” di sebuah akun Facebook yang sedang Open Order, tanpa pikir panjang saya pun langsung memesannya karena penasaran dengan pembahasan dalam buku. Lebih-lebih saat menyadari buku ini ditulis pleh Bunda Wening. Udah deh tanpa hitung-hitungan lagi.

Marah dan Tujuan Marah

Bunda Wening memaparkan bahwa kebanyakan dari para ayah bunda sudah tahu bahwa marah tanpa terkendali terhadap anak sebagai respon atau perilaku anak, justru akan memberikan dampak buruk pada anak secara psikologis, baik saat-saat sekarang maupun kelak ketika anak mulai beranjak ABG. Biasanya setelah kemarahan terhadap anak mereda akan ada rasa tidak nyaman yang hinggap di benak kita sebagai orang tua bahkan rasa penyesalan yang mendalam. Dalam buku ini Bunda Wening menjelaskan tentang sikap dan perilaku marah secara jelas dan detail dengan bahasa yang ringan disertai kisah pengalaman yang bisa memudahkan kita mencerna dan memahami dengan baik. Jadi jangan khawatir tertinggal satu informasi karena belum memahami apa yang sudah dijelaskan dalam buku ini.

Bunda Wening berpesan bahwa emosi marah merupakan salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada setiap manusia tanpa terkecuali, termasuk para orangtua bahkan anak sekalipun. Di sisi lain, kita juga seharusnya mengerti bahwa marah memerlukan strategi agar tetap bijak dengan mengerti sepenuhnya tujuan dari marah tersebut. Nah, dalam buku “Marah Yang Bijak” ini semakin asik karena dilengkapi dengan lembar hasil assessment sebagai contoh pembahasan tentang tujuan marah.

Pemicu Marah

“Jika selalu ada alasan untuk marah, berarti juga selalu ada alasan untuk tidak marah.” –anomous-

Adapun di bab selanjutnya, dalam buku ini Bunda Wening mengajak kita untuk tahu tentang pemicu marah. Marah kan nggak datang tiba-tiba kan ya? Pasti ada pemicu, seperti kayu bakar kering tidak akan terbakar tanpa sebab bukan? Kesempatan kali ini, Bunda Wening memaparkan empat pemicu kemarahan di antaranya,

  1. Lelah fisik dan mental
  2. Don’t be panic, Mom, calm down!
  3. Tiadak siap dan terbiasa dengan perbedaan
  4. Menggunakan standar orang tua untuk anak

Dalam bab ini hal yang menarik dari pesan Bunda Wening adalah ketika marah lebih sering dilakukan oleh bunda, dibutuhkan ‘kepekaan’ para ayah  untuk mau berbagi ‘lelah’ dengan para bunda. Ingat ya para (calon) ayah! *hoho. Selain itu para bunda berhak secara rutin mendapatkan ‘Hari Tanpa Anak’ sebagai recharge mental. Misalnya, jalan-jalan, ke salon, dan sebagai.

Dampak Marah

Segala hal yang terjadi tentu saja ada sebab akibatnya, termasuk marah juga memiliki dampak. Dampak yang muncul dapat dilihat dari sisi fisiologis dan psikologis, marah dan kaitannya dengan kematangan emosi  seseorang, serta dampak marah bagi pelakunya.

Jika marah adalah anugerah dari Allah dan bisa saja terjadi kapanpun, tentu saja marah bisa dikendalikan untuk dihindari agar tidak benar-benar marah. Hal ini bisa menggunakan beberapa tehnik di antaranya tehnik relaksasi napas adalah cara ampuh atasi galau, breaking state, berlindung kepada Allah dari godaan setan dan papan refleksi diri.

Ada hal yang lebih spesial dari buku ini yaitu, di bab terakhir disajikan kasus dan penganannya. Contohnya, ketika anak tantrum di toko/warung, anak minta jajan berlebihan, kaka adik bertengkar,dan anak ‘mogok’ sekolah. Di bab ini ada 7 contoh kasus dan penanganannya.

Marah acapkali tak bisa kita dihindari dalam sebuah situasi tertentu. Marah terjadi juga bukan tanpa alasan atau bukan tanpa pemicu. Marah menghampiri diri seseorang tanpa pilih kasih, bisa seorang individu, kita sebagai seorang guru atau sebagai orang tua. Marah bisa berwujud dalam berbagai bentuk, misalnya berteriak, melotot, atau pun memukul. Ada kalanya kita berpendapat bahwa dengan marah itulah cara kita mendidik anak secara tegas agar disiplin atau sesuai yang kita targetkan. Nah, buku “Marah Yang Bijak” ini hadir sebagai salah satu solusi cerdas bagaimana kita seharusnya menerapkan marah untuk mendidik anak kita. Buku ini juga memaparkan secara detail seluk beluk tentang marah. Buku setebal 108 halaman ini sangatlah praktis, buku ilmiah yang disajikan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami dan dipraktekkan. Saya pribadi meskipun belum menjadi ibu bisa mengerti tentang bagaimana mengelola kemarahan dan harapannya suatu hari nanti bisa mempraktekkan langsung ketika sudah ada anak-anak dalam pangkuan saya.

 

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Book-review0 Comments

Bertemu Nasi Mandhi di Kul Arabian Cuisine

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Dok. Pribadi

Yee, saya mengudara lagi di blog ini. Ternyata sudah lama ya, di post selanjutnya saya akan bercerita kenapa saya tiba-tiba menghilang begini. Semoga saya nggak cari-cari alasan aja ya *hoho

Dok. Pribadi

Kemarin, Jumat (27/1) Pak Nug memberi saya kejutan, yap, saya anggap itu kejutan karena  saat saya tanya  akan mengajak saya ke mana, saya tak kunjung mendapat jawaban. Sebel sih tapi tetap saja saya suka gayanya. *haha 😀 Pak Nug suka kuliner dan selalu mencoba ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Jika bertemu dengan rasa yang cocok maka Pak Nug akan kembali ke tempat itu bersama saya. Salah satu tempat makan itu adalah Kul Arabian Cuisine.

Bagi saya, ini adalah kali pertama saya makan di Kul Arabian Cuisine yang terletak di Pasar Modern Bintaro sektor 7. Pertama kali membaca daftar menu dan aroma rempah khas masakan Timur Tengah, saya merasa sangat bahagia. Dulu saat masih di Jogja, saya pernah menjadi bagian tim hore dalam pelaksanaan Festival Timur Tengah, membantu sahabat-sahabat yang menyiapkan acara tersebut termasuk hidangan khas Timur Tengah. Yah, namanya tim hore, tugas saya tentu bukan mengolah hidangan *haha, saya hanya ngekor ikut belanja, bantu ambil ini itu dan yang paling saya suka adalah icip-icip. Bakat sekali kalau soal icip-icip.

Dok. Pribadi

Saya mencoba membaca satu persatu menu yang ada di Kul Arabian Cuisine, makanan yang sebenarnya tidak asing karena saat di kampus dulu sering disebut-sebut dan diperkenalkan juga. Siang itu, saya memutuskan memesan Nasi Briyani, namun sudah habis. Akhirnya saya memesan Nasi Mandhi dengan ayam panggang. Sebenarnya lebih enak dengan daging kambing sih, tapi memang saya sedang tidak bisa makan daging sapi atau kambing. Selain Nasi Mandhi dengan ayam panggang khas Kul, saya memesan teh hitam dengan daun mint. Sebenarnya pengen kurma smoothie tapi saat saya datang sudah habis. Semoga bisa nyoba kurma smoothie-nya nanti. Nasi Mandhi ayam panggang khas Kul bagi saya sangat enak, rasanya pas di lidah saya. Rempahnya juga pas, nggak bikin enek atau menimbulkan rasa pahit yang over jika kebanyakan rempah. Semua pas dan enak. Nasi  yang digunakan untuk nasi mandhi pun juga menggunakan jenis nasi khusus, bentuknya panjang dan lebih besar. Ayam panggangnya juga lembut dan lunak, gurihnya itu nagih. Satu hal lagi yang membuat saya semakin bahagia, yaitu porsinya. Yap, porsinya besar. Saya suka itu. 😀

Saya makan bersama Pak Nug, jadi bukan hanya saya yang memesan hidangan kan ya? Hmm, Pak Nug kemarin siang memesan Nasi Mandhi dengan kambing panggang khas Kul ditambah segelas teh hitam dengan daun mint dan teh botol. Kemarin sempat nyicip daging kambing panggang dari piring Pak Nug, nyicip sedikit dan sama lembutnya dengan daging ayam panggang yang ada di piring saya. Dilihat dari cara Pak Nug menikmatinya, daging kambing panggang khas Kul sangat lembut dan lunak, dagingnya pun tidak terlihat sangat berminyak. Kelunakan dagingnya juga sepertinya melewati proses presto. Jadi jangan khawatir kalau daging yang terhidang akan tersisa di piring.

Selain Nasi Mandhi, ada juga Nasi Briyani dan Nasi Kabsah. Toppingnya ada riyash, shish lahm, daging ayam panggang dan daging kambing panggang khas Kul. Di Kul Arabian Cuisine menyediakan camilan khas Arab di antaranya hummus with pita bread, mussaka, cheese sambosa, chicken shawarma (semacam kebab) dan sambosa.

Oh ya, Kul Arabian Cuisine ada reward gratis puding jika teman-teman yang upload foto saat makan di sana melalui Facebook, Twitter dan Instagram. Datanglah saat makan siang, kata Pak Nug jika masih siang atau menjelang sore semua menu masih lengkap. Happy makan-makan ^^

 

Kul Arabian Cuisine

Jalan Raya Bintaro Utama Bintaro Sektor 9 Pondok Aren Pondok Aren Tangerang Selatan, Pondok Jaya, Pondok Aren, South Tangerang City, Banten 15220

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-Style3 Comments

Upaya Mewujudkan Ketahanan Pangan ala Blogger

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar
pangan2

Hamparan sawah di tanah surga katanya. Lokasi: Bungur Paron Ngawi.

Bicara tentang pangan, menurut saya sudah bukan menjadi hal yang asing lagi. Seperti kita tahu, pangan adalah salah satu dari tiga elemen bahan pokok selain sandang dan papan yang pemenuhannya berada di level penting sebagai inti kehidupan secara fisik. Pangan yang terdengar simpel dan terlihat sederhana di depan mata kita ternyata menyimpan permasalahan yang rumit dan meminta jalan keluar dari berbagai pihak.

Indonesia yang dalam sebuah lagu bak kolam susu yang mampu menghidupi siapa saja yang hidup dalam naungannya ternyata masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan karena krisis pangan. Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan subur. Koes Plus menggambarkan dalam baris lagunya bahwa orang bilang tanah kita, tanah surga tongkat kayu dan bambu jadi tanaman. Ya, betapa Indonesia telah memiliki anugerah besar berupa lahan pertanian yang luas, yang secara tidak langsung seharusnya tak ada kelaparan maupun krisis pangan di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Di sisi lain, sektor pertanian yang semestinya menjadi tulang punggung untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dan kelaparan justru menurun. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2013 mencapai 28.070.000 jiwa. Dari jumlah tersebut, 17.740.000 jiwa adalah penduduk desa yang mayoritas adalah petani. Selain itu, keragaman genetika juga semakin terancam ketika benih menjadi komoditi ekonomi yang dikuasai oleh industri.

Mengenal Lebih Dekat Pertanian Berkelanjutan dan Permasalahannya

Hari Minggu lalu (30/10) saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar yang diinisiasi oleh Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) dengan tajuk “Memajukan Pertanian Berkelanjutan untuk Wujudkan Hak Atas Pangan” dengan mengangkat sejumlah isu krusial tentang pertanian berkelanjutan dan pemenuhan hak atas pangan. Dalam seminar tersebut menghadirkan narasumber berkompeten di antaranya pemerhati isu pangan, pemerintah, dan NGO diskusi publik kali ini terasa istimewa karena hadir artis Dea Ananda yang turut menjadi pembicara.

Tjuk Eko Hari Basuki dari Kementrian Pertanian mengawali presentasi tentang konsep pertanian berkelanjutan dengan kearifan lokal. “Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri,” tuturnya. Menurut Tjuk, sistem pertanian di Indonesia sebenarnya sangat dekat dengan nilai-nilai kearifan lokal setiap daerah yang dianut dan dijalankan oleh masyarakat. Misalnya pertanian di Jawa mengenal istilah pranoto mongso sebagai metode pertanian berkelanjutan dengan tetap menjaga keseimbangan jejaring pangan. Menurutnya, melalui pranoto mongso petani bisa mengetahui dan memprediksikan pola bercocok tanam yang tepat di masa-masa krisis.

Dalam sebuah sistem pertanian, selain mengenal metode pertanian berkelanjutan dengan kearifan lokal, kita juga perlu mengenal bagaimana peranan perempuan dalam praktik pertanian berkelanjutan. Menurut Direktur Keadilan Ekonomi Oxfam Indonesia Dini Widiastuti menjelaskan bahwa perempuan seharusnya terus dilibatkan dalam mekanisme produksi pangan, berperan aktif melaksanakan pertanian bekelanjutan. Misalnya, sifat perempuan yang lebih telaten bisa dimanfaatkan untuk memilah dan memilih bijih benih terbaik. Selain itu, peranan perempuan dalam hal pengolahan pangan lokal memiliki peranan yang juga tak kalah penting hingga ketercukupan gizi dari setiap aktifitas dapur rumah masing-masing setiap harinya.

Perencana Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN (Bappenas) Noor Avianto memberikan pandangan tentang kebijakan produksi lima tahun ke depan dan kondisi saat ini terhadap konsumsi pangan. Terkait pangan dan pertanian berkelanjutan, pemerintah akan meningkatkan tanaman pangan padi mencapai surplus beras. Memfokuskan jagung untuk memenuhi keragaman pangan lokal, mengamankan kecukupan kebutuhan kedelai untuk konsumsi produsen tahu dan tempe. Selain itu pemerintah akan memfokuskan pemenuhan konsumsi rumah tangga terkait gula, daging sapi dan garam. Selain itu, ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi saat ini terhadap konsumsi pangan di antaranya kemiskinan, jumlah penduduk Indonesia, keberagaman konsumsi pangan, dan gizi.

Segala sesuatu di dunia ini, saya pikir pasti memiliki trendnya sendiri-sendiri begitu juga dengan pangan yang biasanya kita kenal dengan trend pangan global yang gencar dibawa ke ranah publik. Dalam kesempatan ini, Khudori sebagai pengamat pangan dan pertanian yang merupakan anggota FAA PPMI menyebutkan sejumlah kecenderungan tentang tren pangan global. Misalnya telah terjadi reduksi keanekaragaman hayati, saat ini petani kian tergantung pada paket teknologi, benih, pupuk, pestisida, dari luar negeri.

Sebagai penutup seminar memperinagti Hari Pangan, Pelantun lagu anak-anak di era 90-an itu menyampaikan pandangan tentang pentingnya mempromosikan pangan lokal di dunia internasional seperti Korea dan Jepang yang mampu menjadikan produk pangan lokal mereka sebagai konsumsi masyarakat di negara lain. Indonesia yang kaya akan keberagaman tanaman pangan seharusnya bisa lebih baik dari Korea dan Jepang. Selain itu menurut Dea yang mengaku sedari kecil terbiasa mengkonsumsi makanan sehat, organik dan sesuai porsi yang berdampak positif bagi kelangsungan kesehatan tubuh. Sebelum mengakhirinya, Dea pun mengingatkan pada kita pada lagu Dudidam yang di era 90an dinyanyikan oleh Enno Lerian bahwa sebenarnya secara tidak langsung sedari kita kecil, kita sudah dikenalkan dengan produk makanan lokal dari kekayaan negeri kita sendiri dan dari dapur rumah kita sendiri.

Upaya Mewujudkan Ketahanan Pangan

Segala macam permasalahan saya pikir pastilah memiliki solusi melalui upaya-upaya yang terus diusahakan, termasuk upaya mewujudkan ketahanan pangan. Seperti halnya, pemerintah mengembangkan pertanian berbasis ekoregion yang menggunakan pendekatan sesuai kondisi dan kebutuhan region sekaligus menerapkan nilai-nilai kearifan lokal, bukan pendekatan komoditas. Elite daerah seharusnya menganggap isu tentang ketahanan pangan ini penting.

Dalam peningkatan hasil pertanian, sebenarnya pemerintah telah berperan dengan memberikan bantuan berupa alat pertanian. Namun, di sisi lain harga pupuk dan harga beli terhadap hasil pertanian pada para petani masih belum memadai. Hasil panen harus diputar untuk membeli pupuk serta biaya untuk pengairan yang cukup tinggi. Ke depannya, semoga harga untuk hasil panen para petani bisa lebih baik lagi.

Upaya yang baru-baru ini digalakkan untuk mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan regenerasi para petani muda melalui Petani Muda Award. Tujuannya adalah agar ada yang menjadi tonggak estafet dari para petani senior pada petani muda dalam mendukung dan mewujudkan ketahanan pangan bagi Indonesia.

pangan1

cinta buah dan sayur (pangan) lokal

Nah, sebagai blogger tentunya kita juga memiliki peran untuk mendukung program yang mulia ini dalam mewujudkan ketahanan pangan. Para blogger bisa menjadi trend setter untuk memperkenalkan aneka macam hasil (olahan) pangan lokal melalui tulisan, melakukan pendekatan melalui aktifitas di dunia maya untuk mengurangi foodwaste serta ajakan untuk bisa lebih menghargai makanan yang ada di hadapan kita. Bukan sekedar menghargai makanannya tetapi lebih pada menghargai proses lika-liku bagaimana makanan itu bisa tersaji di atas piring kita. Tak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini dengan kemajuan teknologi yang tak terbendung, kekuatan media sosial akan sangat membantu mengampanyekan upaya-upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan kekuatan media sosial, para blogger bisa berperan sebagai role model dalam pola konsumsi  aneka (olahan) pangan lokal dan menguraikan kandungan gizi yang ada di dalamnya serta menanamkan rasa cinta pada ragam hasil olahan pangan lokal yang tak kalah dengan makanan olahan  luar negeri yang dianggap kekinian.

Seperti yang telah disampaikan oleh Mas Agung Sedayu sebagai koordinator presidium PPMI bahwa program pertanian berkelanjutan merupakan tanggung jawab bersama yang harus menjadi perhatian dari semua pihak. Tentunya dengan kapasitas dan masing-masing peranan.

Jadi, mari kita upayakan usaha terbaik kita untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-Style4 Comments

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING