Tag Archive | "Cerpen"

Hello (Commuter Line) Jakarta

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

“Itu…itu, naik Kopaja yang itu, arah Sudirman.” Begitu kata Mbak Desy sesaat setelah aku bertanya aku naik apa ke arah Sudirman sambil menunjuk Kopaja yang yang hampir tiba tepat di depanku. Aku dengan cepat berpamitan dengan Mbak Desy dan Mbak Tinah di depan kantor Jedar sembari berharap bertemu lagi dengan keduanya. Bis sudah berhenti tepat di depanku, aku naik lalu memilih tempat duduk dekat jendela, posisi favoritku. Sepanjang perjalanan dari kantor Jedar yang berada di kawasan Tanah Abang menuju Sudirman, aku sangat menikmati pemandangan gedung-gedung yang tinggi nan gagah. Oh, inilah Jakarta dan aku ada di dalamnya. Menikmati kemacetannya. Merasakan tiap hiruk pikuknya seakan kota ini tak pernah sepi, tak pernah sunyi.

***

“Makasih Mbak, udah dianterin sampai Tugu.”
“Hati-hati, Ka.”

Tak ada kata-kata lagi yang meluncur dengan riang malam ini. Suatu malam di penghujung Oktober, saat yang berat ketika benar-benar menerima kenyataan bahwa harus angkat koper menuju ibukota. Prasangkaku pada Jakarta benar-benar mendahului apa yang akan digariskan Tuhan untukku. Rasa khawatirku sungguh melebihi batas. Rasanya hanya akan membosankan seperti dalam angan, hanya di rumah dan tak punya teman. Setelah beres dengan pekerjaan rumah, aku hanya akan membaca buku, menonton televisi, bahkan tidur sepanjang hari.

“Udah di stasiun?” Tanya Abang di seberang sana. Aku hanya nanar menatap pesan Abang di layar ponsel. Tak seperti biasanya, setiap perjalanan menuju ibukota bertemu Abang, aku akan sangat antusias memberi kabar sebelum Abang bertanya. Lalu pesan itu, kubiarkan sejenak.

“Aku sedih. Suatu saat aku ingin berkarya dan menua di Jogja.”, begitu balasanku pada pesan yang Abang kirim.

“He em.”, hanya itu jawabannya.

“Kereta sudah datang, sebentar lagi berangkat.”, tulisku dalam sebuah pesan untuk Abang.

Setelah duduk di kursi yang jadi hakku, menyandarkan punggung dan meletakkan kaki di sandaran bagian bawah, lalu membuka korden yang menutupi jendela kereta dan semua kenangan akan Jogja berdatangan dan hadir tanpa permisi. Tentang semua cerita di kota ini, teman-teman, tempat jalan, dan makanannya yang akan sangat kurindukan. Setiap hari esok yang akan terlewati mungkin akan ada rasa iri pada siapa pun yang sedang menghabiskan waktu-waktunya di Jogja.

Tugu-Jatinegara biasanya akan kuhabiskan dengan tidur. Selain karena mengantuk, melewatkan perjalanan dengan tidur membuat perjalanan yang panjang semakin tak terasa, rasa-rasanya baru naik sudah tiba di tempat tujuan. Namun perjalanan kali ini, tidur pun tak nyenyak. Aku pun lupa mematikan alarm ponsel yang berbunyi tiap pukul dua atau tiga dini hari. Saat aku bisa tertidur setelah puas terisak pelan di kursiku dengan sembunyi-sembunyi. Jadwal kereta yang kunaiki sengaja kupilih dengan jadwal keberangkatan malam, agar tidak terlalu lama menikmati keramaian di dalam gerbong di mana jatah kursiku berada.

Tepat pukul dua alarm kedua ponselku berbunyi dengan nyaring dalam waktu bersamaan. Masih belum benar-benar sadar, aku meraba salah satu kantong tas yang kuletakkan di bawah antara kursiku dan kursi di depanku. Kali ini aku bersyukur karena kursi disampingku kosong, tak ada yang mendudukinya. Setelah kedua ponsel mampu aku raih, aku mematikan alarm dan kembali mengusap sisa-sisa air mata yang sebelumnya menganak sungai. Aku alihkan pandangan dari ponsel ke jam tanganku, benar saja, ini pukul dua di mana waktu mustajab melangitkan doa-doa.

Aku melempar pandangan sejauh aku mampu, tapi gelap menghalangi pandangan. Aku seakan tersadar, bagaimana aku mempersepsikan waktu-waktu esok yang akan kujalani di Jakarta. Gelap malam yang menghalangi pandanganku bukanlah tak menghadirkan terang, bukan tak mungkin kesempatan datang. Aku hanya perlu mengajukan proposal pada Tuhan melalui doa-doa yang optimal lalu kurealisasikan melalui ikhtiyar yang maksimal. Ya, seharusnya memang seperti itu. Namun, beberapa waktu lalu, aku hanya fokus dengan betapa gelapnya malam hingga tak berpikir bahwa esok akan ada mentari yang datang membawa sinar terang yang akan menunjukkan arah letak kesempatan. Aku tersenyum dan dari hati terdalam, doa-doa melangit dengan deras penuh harap.

***

 

Jatinegara tak pernah sepi. Aku membayangkan bahwa di sini kehidupan selalu berputar. Kereta datang silih berganti. Kereta jarak jauh maupun commuter line yang beroperasi mulai pukul lima pagi hingga malam. Aku menyukai stasiun ini. Stasiun jika aku berangkat dari Jogja pukul enam sore, maka aku akan menunggu subuh yang seringnya tertidur di kursi bagian dalam stasiun. Jika aku berangkat dari Jogja sudah malam, maka aku akan tiba di Jatinegara menjelang subuh dan aku tak perlu tertidur untuk menunggu commuter line pertama diberangkatkan.

Aku cukup menikmati saat naik commuter line Jabodetabek ini. Apalagi jika harus transit untuk ganti kereta. Bagiku itu ritual yang mengasyikkan meski mungkin bagi sebagian orang sangat melelahkan. Aku dan Abang tinggal di pinggiran Jakarta, tapi bukan pinggiran yang benar-benar sepi. Pinggiran yang menurutku hanya sebatas istilah karena tempat di mana aku dan Abang tinggal berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan dan menurut letaknya strategis, dekat dengan pusat kota pemerintahan.

“Abang, jemput aku di stasiun Pondok Ranji aja. Aku berani sendiri dari Jatinegara ke Pondok Ranji.”

“Ingat di mana transitnya?”

“Ingat, di Tanah Abang lalu ganti kereta ke arah Serpong, Parung Panjang, atau Maja kan?”
“He em. Hati-hati ya.”

Perjalanan stasiun Jatinegara-Pondok Ranji terlalu sayang dilewatkan untuk sekedar tidur. Di perjalanan inilah, diam-diam aku merangkai tekad dan menderaskan doa-doa. Membiarkan keinginan-keinginan terucap dan telunjuk menunjuk ke setiap gedung yang tinggi.

***

Satu bulan yang teramat cepat berlalu dan aku belum berbuat apapun untuk melihat Jakarta yang kuucap dalam barisan doa-doaku. Benar saja, aku melewati satu bulan seperti dalam imajinasiku sebelumnya. Ini membuatku bosan hingga akhirnya aku menemukan sebuah info kompetisi menulis. Awalnya hanya sekedar melihat dan sekedar mengumpulkan niat. Lalu teringat pesan seorang dosen, “kau tak kan bisa mencapai garis finish sebelum kau benar-benar memutuskan untuk memulai mengakhiri apa yang kau niatkan.”

Berhari-hari kuhabiskan untuk berselancar di dunia maya. Membulatkan tekad mengumpulkan bahan-bahan untuk menulis sebuah karya tulis dan yang tak kalah penting menemukan ide dan objek yang akan dibahas.

“Abang, aku bosan. Sangat bosan”

“Itu kan ada wifi, dimanfaatkan dong!”

Oh iya, Abang memfasilitasiku wifi yang belum kumaksimalkan keberadaannya. Keberadaan wifi yang akhirnya memberiku sedikit pekerjaan dan aktifitas.

“Sedang apa?”

“Sedang usaha untuk melihat Jakarta melalui passion, Bang.”

“Oke, bagus.”

“Boleh kan Bang? Jadi selain jatah jalan-jalan dari Abang, aku ingin melihat Jakarta.”

“Boleh.” Jawaban yang singkat, jauh dari romantisme tapi di sana ada sebuah dukungan yang besar serta bagaimana tetap bisa memastikan bahwa tanpanya aku akan tetap aman melihat Jakarta.

***

“Abaaaaaaaang, aku dapat kesempatan melihat Jakarta melalui passionku.” Pesan singkat yang kukirim ke Abang di tengah-tengah jadwal perkuliahannya.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata pesanku mendapat balasan, “Apa?”

“Aku menang lomba karya tulis, nih. Nanti kalau ambil hadiah temenin ya?”

“Iya.”

***

Berawal mengambil piala di sebuah kantor yang terletak di Jalan Imam Bonjol dekat Bundaran HI yang merupakan jantung kota ini, aku memulai merajut harapan dengan optimis. Ingin melihat Jakarta dengan cara lain, dengan caraku melalui passionku. Aku ingin belajar hal-hal baru seperti harapan kebanyakan orang ketika hijrah ke kota yang baru didatanginya. Ingin bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman.

“Abang, aku terpilih ikut workshop di kantor Tempo di kawasan Palmerah Barat. Selanjutnya, aku terpilih lagi untuk Blogger Gathering di kantor SCTV di lantai 14 dan aku terpilih ikut Blogger Hang Out di kantor Jedar di daerah Tanah Abang.”

“Ohya? Udah ngecek letak lokasi?”

“Udah dong. Aku ngecek di Google Map seperti yang biasa Abang lakukan.”, kujawab sambil nyengir. Kalau sudah seperti ini rasanya bisa sedikit membusungkan dada di depan Abang karena Abang selalu menggodaku ketika aku ketahuan gagap teknologi.

“Ohya, aku juga lolos sebagai successful aplicant di Smart Living Challenge yang diadakan oleh Kedutaan Swedia. Di acara itu akan membahas tentang How we look into foodwaste. Sebelumnya, aku juga dapat kesempatan ikut workshop di daerah Margonda Depok.”

“He em, pastikan akses ke sana gampang terutama dari stasiun.”

“Siiip.”

***

Salah satu moment yang seru adalah saat menikmati es krim bersama Abang. Meskipun aku yang lebih banyak bicara, tapi momen menikmati es krim benar-benar terasa hangat setelah aku dan Abang terpisahkan oleh jadwal kuliah Abang yang padat dan aku yang mencoba untuk sibuk.

“Abang, terimakasih ya atas semuanya. Aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Aku bertemu banyak orang yang baik-baik dan menyenangkan. Aku punya jadwal rutin belajar tahsin dengan ibu-ibu tetangga ditambah kumpul-kumpul arisan tiap Jumat. Aku punya forum halaqah Quran tiap Minggu bersama Ustadzah Asiyah. Aku punya forum kajian kitab Tarbiyatul Aulaad. Bisa ke karawang kunjungan ke pabrik kertas. Aku jadi kenal lebih dekat para senior blogger plus kopi darat. Aku banyak belajar pokoknya.”

“Abang tahu apa yang paling spesial?”

“Apa?”

“Aku jadi hafal rute commuter line, jadi tahu rasanya berdiri tanpa pegangan tangan di pulang jam kantor, tahu rasanya mandi keringat demi bisa selip sana selip sini. Bener-bener jadi roker Jakarta” Kusampaikan itu dengan tertawa puas.

“He em. Perpindahan itu hanya butuh waktu. Saat bertemu teman baru, saat memiliki komunitas dan forum-forum yang baru, otomatis hiburan akan datang dengan sendirinya. Tidak akan ada kata bosan dengan sebuah perpindahan.” Tetap dengan gaya tanpa ekspresi seperti biasanya dan ya, romantisme bukan melulu soal kata-kata kok, ada banyak jalan. Aku hanya perlu memahami dan menangkap bahwa setiap kata dan sikap adalah sebuah bentuk romantisme dengan cara yang berbeda. Seperti halnya bagaimana kita memandang akan banyak hal dalam kehidupan.

 

***

Ah, dulu aku salah. Prasangkaku telah mendahului kejutan-Mu. Kekhawatiranku telah menenggelamkan apa itu harapan. Pun saat itu aku lupa bahwa Abang hadir dengan kelegaan perijinannya. Hadir dengan dukungan yang besar. Aku lupa, bahwa aku memiliki passion beserta doa dari Abang. Bukankah itu sebenarnya cukup untuk mengantarkanku melihat Jakarta? Bukankah tugasku sebagai hamba hanyalah memanjatkan doa dan menguntai harapan melalui rayuan pada Tuhan?

Kini, aku melihat Jakarta dengan passion dan kelegaan perijininan dari Abang. Aku menemukan sebuah kepercayaan diri melalui berbagai kesempatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Terimakasih ya Allah untuk setiap doa dan keinginan yang terwujud dengan cara begitu indah. Bahwa doa dan ikhtiyar adalah sejoli yang tak pernah bisa dipisahkan, bisa terwujudkan melalui setiap tetes keringat kerja nyata. Tak kalah penting, tetaplah menanam prasangka terbaik pada Tuhan. “Antarkan aku melihat Jakarta melalui pintu yang paling spesial, ya Allah.” Pintaku saat itu.

“Neng, sudah sampai stasiun Sudirman.” Teguran si Abang kernet Kopaja membuyarkan lamunanku menikmati suasana menjelang sore Jakarta sepulang dari Blogger Hang Out bersama teman-teman BloggerCrony dan Jessica Iskandar.

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in CerpenComments (7)

Merdeka!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

“Pakne, sudah tho jangan ngrokok lagi.”

“Bune, Bune, rokok lagi, rokok lagi. Apa nggak ada yang lain untuk nyambut kedatangan Bapak? Bapak ini capek, Bune.”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok saja. Lihat anak-anak kita. Udah harus siap-siap untuk biaya sekolah mereka. Belum lagi, kita nggak pernah ngajak anak-anak untuk makan di luar atau jalan-jalan. Bisa makan sehari 3x aja udah syukur.”

“Makan di luar atau jalan-jalan emang nggak butuh duit, Bune? Duit dari mana?”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok.”

Wanita yang kunikahi hampir empat belas tahun yang lalu itu selalu saja menyudutkanku soal aktivitas merokokku. Merokok tak sekedar menghirup dan mengeluarkan setiap hisapan tembakau yang terbakar. Namun, aku benar-benar telah seperti lelaki sejati nan gagah setiap kali aku menikmatinya, lebih-lebih ditemani dengan secangkir kopi sambil duduk di lincak menikmati malam dan melepas penat setelah seharian kerja serabutan. Saat merokok itulah aku pikiranku menjadi segar, lebih bersemangat, dan yang terpenting besok aku harus menyiapkan tenaga untuk kerja sampingan. Yah, hidup di ibukota memang keras dan harus kreatif untuk mendapatkan uang. Memulung sampah, jadi tukang parkir dan jadi tukang panggilan untuk memperbaiki atap rumah yang bocor tidaklah seberapa. Jadi, aku harus pintar ubet.

Aku menggeser lincak yang sebelumnya berada di teras rumah ke depan rumah, ke sebuah halaman yang jauh dari kata luas. Aku bisa memandang langit malam, menikmati kopi dan rokok sambil kipas-kipas. Kali ini, pandanganku bertambah satu. Rumahku. Iya rumah yang tak mewah. Rumah yang ketika hujan akan bocor di mana-mana meski sudah ditambal. Rumah di mana ada anak-anak yang sangat menerima keadaan orangtuanya. Rumah di mana anak-anakku adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Rumah di depan pandanganku ini bahkan jauh dari kata sederhana.

“Ternyata rumahku ini papan bagian depan sudah mulai rapuh karena waktu dan dimakan rayap.” Gumamku sambil terus menghisap rokok.

Aku terus memandangi rumahku, rumah yang kata orang-orang adalah surga. Tempat menyenangkan untuk semua anggota keluarga, surgaku seperti sudah tak layak huni. Kasihan istri dan anak-anakku, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya orang dengan pekerjaan serabutan. Aku tak berani bermimpi terlalu tinggi untuk punya surga yang lebih baik lagi.

“Hmm, begini saja aku bahagia. Bisa ngrokok, ngopi, dan duduk di lincak.” Bisikku dalam hati.

***

Hari ini setelah keliling untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Biasanya dari sektor satu aku akan melewati perumahan caping menuju perempatan bonjol. Namun, petang ini aku mengambil rute melewati perempatan sektor tiga, nanti tinggal ambil kanan. Rute ini jauh lebih ramai daripada ketika melewati komplek perumahan. Lepas pukul tujuh malam, memang sepertinya puncak keramaian. Orang-orang punya alasan untuk keluar rumah bahkan ada yang menuju ke rumah dari kantor masing-masing.

Lepas Isya, jalanan semakin ramai. Tak hanya jalanan yang dipadati kendaraan, tetapi warung-warung makan pun tak kalah ramai dikerubuti para pelanggan. Mulai dari warung lesehan, warteg, warung makan sederhana hingga warung makan modern seperti kafe-kafe, tempat nongkrong orang-orang muda. Terlihat nikmat ketika melintas di depan kafe, aroma kopinya benar-benar memikat selera. Bayanganku, betapa bahagianya menikmati rokok-rokokku dan secangkir kopi berkualitas.

“Kapan aku bisa seperti itu?” Batinku mulai cemburu.

Aku terus berjalan sambil menarik gerobakku, menikmati malam ini dengan rute pulang yang berbeda meski perutku sudah sangat lapar. Aku hampir tak tahu kenapa aku memilih jalan yang memutar. Seakan ada yang menarikku melewati jalan ini. Melewati banyak warung makan yang berjejer menawarkan menu-menu andalannya. Melihatnya saja aku sudah sangat cemburu, tapi aku tak bisa apa-apa. Meskipun aku tak bisa makan di sana dan sesampainya di rumah selalu dapat ceramah dari istriku, yang penting aku bisa beli rokok. Udah, itu saja aku bahagia.

Perjalananku sejenak terhenti di sebuah warung makan bercat kuning hitam karena ada sebuah mobil yang sibuk mencari posisi yang pas untuk parkir. Sedikit memakan waktu beberapa saat. Setelah berjuang, akhirnya mobil mewah itu mendapat posisi yang pas di tempat parkir tanpa mengganggu jalan kendaraan yang sedang melintas. Aku terus mengamatinya. Setelah mobil berhenti, orang-orang yang di dalam mobil mewah itu keluar satu per satu. Pertama, aku melihat dua anak perempuan yang lincah keluar dari pintu belakang disusul dengan seorang anak laki-laki yang sudah pasti itu kakak dari anak perempuan yang lincah. Selanjutanya, ada seorang wanita yang keluar dari pintu depan sebelah kiri, memakai baju panjang berjilbab yang dipanggil mama oleh salah seorang dari anak perempuan yang lincah itu. Terakhir, seorang laki-laki bersih keluar dari pintu depan sebelah kanan, yang aku dengar dipanggil papa oleh seorang anak laki-laki. Mereka memasuki rumah makan yang ada di depanku “WAROENG STEAK AND SHAKE”, kuamati mereka memasukinya dengan wajah bahagia dari anak-anaknya.

“Mas, Mas, warung makan ini tempat makan untuk keluarga ya?”

“Nggak hanya keluarga, Pak. Anak muda juga ada yang makan di sini. Harga terjangkau dan ramah di kantong, dijamin halal dan enak.” Sambil mengangkat jempol tangannya, si mas tukang parkir menjawab dengan ramah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti sedang perang batin. Semua ingatan tumpah setelah sebelumnya berdesak-desakan di otakku. Bagaimana tidak? Aku teringat kata-kata istriku bahwa kami belum sekalipun mengajak anak-anak jalan-jalan atau makan di luar. Dia menyuruhku berhenti merokok agar jatah uang rokok bisa ditabung. Tapi, tapi, aku mencintai rokokku, bagaimana mungkin aku berhenti merokok? Jika berhenti merokok, aku akan sakit, lemas dan lidahku pahit. Aku tidak akan bersemangat lagi. Aku tidak akan tahu rasanya menikmati bahagia yang sederhana.

“Itu namanya egois, Pak. Anak-anak juga berhak bahagia.” Tiba-tiba suara nyaring istriku tempo hari terngiang-ngiang di telingaku.

“Ngajak makan di luar anak-anak juga gak harus tiap hari, Pak. Ambil kesempatan misal anak-anak habis terima rapor, mereka kan berprestasi, bikin kita bahagia. Udah jadi hak mereka kalau kita ngajak mereka makan.” Kata-kata istriku semakin membombardirku, semakin mengacak-acak batinku. Mengacaukan pikiranku. Memang benar kata istriku, tapi aku masih tidak bisa melepaskan rokokku.

Pikiranku semakin kacau, batinku semakin memberontak antara keinginan pribadiku dan keinginan membahagiakan anak-anak serta istriku. Sambil menarik gerobak yang setia menemaniku, di setiap sisa langkah menuju rumah, aku mulai menghitung pengeluaranku untuk membeli rokok. Aku mengalikannya, menjumlahkannya hingga aku dapati kenyataan bahwa ternyata pengeluaran untuk membeli rokok ternyata sangat besar. Namun, apa dayaku, rokok seakan sudah jadi kebutuhanku.

“Apa Bapak nggak sadar kalau bertahun-tahun Bapak itu hanya sedang mbakar duit? Udah ngrasa kaya?” Lagi-lagi kata-kata istriku menyerangku secara bertubi-tubi. Saat-saat seperti itu, aku teringat betapa istriku yang sabar berubah menjadi sangat garang.

Aku semakin terdesak dengan pikiran, perasaan, dan logikaku sendiri. Meskipun istriku berulang kali mengingatkan bahwa merokok hanya akan merenggut kesehatanku tapi selama ini aku merasa baik-baik saja. Pun tetangga kami yang lebih tua yang sudah merokok lebih lama dariku masih terlihat bugar hingga sekarang. Jadi aku tak termakan ancaman-ancaman seperti itu. Aku hanya ingin menikmati hidup lewat sebatang rokok.

***

“Bapak, Bapak, kenapa Bapak melamun?”

Aku tersentak saat anakku sedikit berteriak kegirangan memegang tanganku. Aku mengingat kembali dua bulan lalu, saat aku berada di depan “WAROENG STEAK AND SHAKE” sambil memandangi ketika sekeluarga masuk ke dalamnya. Betapa riang polah langkah anak-anaknya. Terlihat hangat dan bahagia, jauh dari keegoisan semata. Oh, ternyata begini rasanya, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyum bahagia anak-anak yang tak biasa dan istriku yang semakin berkurang marah-marahnya.

Aku tahu, aku sampai bisa duduk di “WAROENG STEAK AND SHAKE” bersama keluargaku memang tidak mudah aku memperjuangkannya. Aku tak sekedar berjuang untuk berhenti merokok, tapi aku berjuang berdamai untuk tidak egois demi kebahagiaanku sendiri. Ya, karena kebahagian dalam sebuah keluarga itu adalah sama-sama merasa. Aku menyadari betapa benar kata-kata istriku bahwa aku seperti membakar uangku selama ini. Buktinya, selama dua bulan aku berjuang berhenti merokok, aku bisa mengajak istri dan anak-anakku makan enak di luar. Aku seakan baru menyadari bahwa rokok tak hanya mengancam kesehatan badan, tapi juga mengancam kesehatan kantong perekonomian keluarga. Semoga tak terlambat aku menyadarinya.

Meninggalkan rokok bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Ternyata aku hanya butuh tekad bulat. Ya, man jadda wa jadda. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Ada kemudahan yang Allah berikan. Apalagi ini aku lakukan untuk keluargaku. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai teladan bagi anak-anakku maka aku akan selalu berharap keinginan dan tekadku ini semakin kuat. Tidak akan tergoda lagi pada rokok.

“Bapak ingin makan apa? Kami udah pilih makanan yang ingin kami makan.” Kata si sulung dengan polah cerianya.

“Iya, Bapak pilih sekarang.”

“Bapak, terimakasih atas usaha Bapak untuk merdeka dari rokok. Ibu sayang Bapak.” Bisik istriku di antara keriangan anak-anak.

Ya, aku merdeka. Badanku merdeka. Kantongku pun merdeka. Merdeka!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in CerpenComments (2)


BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME