Tag Archive | "Curhat"

Bijak Menempatkan Jawaban "Googling Aja"

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Ceracauan saya kali ini (setelah tepat satu tahun vakum) terinspirasi dari obrolan salah satu group kesayangan di WA. Saya bahkan sudah lupa tepatnya kapan tercetus “Googling aja” atau “Googling dong!” setiap ada salah satu di antara anggota group yang bertanya dan itu terbawa hingga sekarang. Adakah yang salah dengan jawaban “Googling aja”? Oh, tentu saja tidak, hanya saja sensasi dari jawaban itu yang berbeda dalam penerimaan tiap-tiap individu.

*Koleksi pribadi

*Koleksi pribadi

Oke, kemajuan teknologi sekarang ini benar-baner memberi pengaruh besar dalam kehidupan bagi sebagian besar orang-orang yang memang sudah melek pada teknologi. Banyak perangkat yang bisa dengan mudah terhubung dengan internet di mana pun dan kapan pun kita mau. Setiap tanda tanya dalam pikiran akan bisa ditemukan dalam sekali atau dua kali klik. Bertanya pada Google dengan hanya mengetik keyword  daaaan banyak pilihan yang ada di depan mata seperti memilih menu makan di rumah makan…haha..

Saya juga tidak memungkiri bahwa saya juga ‘aktifis’ apa-apa googling, dikit-dikit googling dari hal yang sangat penting hingga remeh temeh misal menentukan merk pewangi pakaian mana yang paling oke. Menurut saya, review di blog-blog benar-benar membantu. Sebagian besar tanya menemukan jawabnya di Google. Terimakasih Google 🙂

Di sisi lain, ketika ada yang bertanya lalu dijawab dengan “Googling Aja” atau “Googling dong!” akan ada rasa-rasa gemes yang hadir, itu sih pengalaman saya berdasarkan pengalaman, obrolan, curhatan, dan pengamatan saya. Saat seseorang panik, meskipun sudah googling, sudah membaca beberapa referensi tetapi ia bertanya menurut saya, ia sedang mencari jawaban sederhana atas pertanyaan dan penjelasan-penjelasan hasil googling. Ada lagi ketika dalam kondisi minim sambungan internet padahal ia butuh mendesak atas jawaban dari pertanyaan itu, siapa yang tahu kan? Kondisi lainnya, semisal seseorang itu tidak selincah kita yang dengan cepat mencari informasi di internet. Itu hanya gambaran beberapa kondisi selain kondisi kemalasan ya..

Menurut saya, sebagai pemberi task respond seharusnya benar-benar bisa membaca situasi kapan harus ditanggapi serius dengan membantu memberi jawaban atau penjelasan yang mudah dipahami dan kapan seharusnya melontarkan jawaban “Googling aja deh!” Biar sama-sama enak, nggak bikin orang lain gemes, dan setidaknya bisa jadi problem solver meskipun hanya menjawab pertanyaan teman atau siapa pun karena menjadi problem solver  nggak harus menyelesaikan masalah-masalah besar. Menyederhanakan jawaban, mampu menempatkan diri, dan nggak bikin gemes dalam situasi seseorang itu saya pikir juga bagian dari bagaimana menjadi problem solver. Jadi, ini juga bagian note to my self untuk saya dalam menempatkan jawaban “Googling Aja!”.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (0)

Sawang Sinawang Dalam Hidup

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Sebelum menulis lebih lanjut, saya ucapkan alhamdulillah karena koneksi internet yang membaik 😀

Saya yang dilahirkan dan tumbuh di Jawa (bukan sara ya…) tentu sudah sangat lama mendengar ungkapan “sawang sinawang”. Ya ya, “sawang sinawang” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai “lihat melihat” atau “saling melihat”. Aktifitas melihat yang sering kali melenakan pandangan bahkan mungkin akan timbul rasa-rasa iri, sedih, cemburu bahkan memudarkan rasa syukur. Mungkin lho ya, silakan merenung beberapa saat.
Aktifitas sawang sinawang ini biasanya akan melihat pemandangan-pemandangan yang serba membahagiakan dari kehidupan orang lain, teman atau orang-orang di sekitar kita lalu kita akan membandingkannya dengan keadaan kehidupan yang kita punya. Kita akan sering melihat sisi-sisi bahagia dari orang lain tanpa kita berpikir sedikit panjang tentang proses yang dijalani orang lain hingga hasil yang dicapainya sampai pada pandangan kita begitu membahagiakan. Terasa manusiawi dan wajar.

Sama halnya ketika saya memandang teman-teman saya yang dengan suka cita menyambut malam minggu dengan pacar/suaminya. Menikmati malam, lalu tiba-tiba Jogja berubah menjadi semakin spesial (haha.. :D), menikmati makan malam di angkringan, jalan-jalan di malioboro, atau hanya sekedar duduk santai menikmati secangkir kopi di pinggiran kali code. Bahagia rasanya. Lalu saya akan membandingkan dengan diri saya yang ‘pacaran’ dengan HP itu pun jika HP saya bunyi atau sengaja saya pancing agar berbunyi :D. Saya yang hanya mampu menggandeng buku dan akan nongkrong saja di kamar atau perpustakaan kota. Atau saya akan pergi ke toko buku dan pulang dengan kirim sms “aku mboyong buku lagi”. Contoh lain, saat menghadiri kondangan, semua teman-teman akan datang bersama pacar, tunangan atau suami/istri dan saya sangat bersyukur tidak datang sendirian tetapi ada teman atau barengan. Dalam kondisi seperti itu saya sangat bersyukur meski tak jarang kondangan sendiri. Mungkin ada orang yang kasihan sama saya, tapi saya baik-baik saja. *sambil nahan 😀

Saya pernah seperti itu. Jujur. Pernah. Tetapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya harus iri dengan orang lain? Tanya kenapa? Saya mensyukuri, saya memiliki partner hidup yang luar biasa oke bagi saya. Saya masih bisa mengantongi ijin untuk melanjutkan belajar di bidang yang saya sukai dan melanjutkan menyelesaikan kewajiban saya tahun ini. Saya diberi kesempatan menyelesaikan belajar Bahasa Jerman yang dari tahun 2009 belum kunjung usai, insyaAllah tahun ini selesai. Saya masih diberi kepercayaan untuk belajar Bahasa Belanda dan mendapat fasilitas “private”. Saya diberi kebebasan bekerja di bidang yang saya sukai yang tak jauh-jauh dari bahasa dan menulis sebagai English Content Writer yang tak harus duduk di kantor, cukup setor wajah ke kantor sekali dalam seminggu. Saya masih bisa merasakan pergi berkegiatan tatap muka, reuni, dan sejenisnya dengan teman-teman saya. Saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman komunitas fotografi di nol kilometer. Saya (berusaha) bahagia dan mensyukurinya. Menikmati ritme-ritmenya. Mendalami syahdu merdu alunan yang biasa disebut rindu. (Cieeee…. :D) Karena dengan ini semua setiap sudut kota Jogja benar-benar menyimpan cinta saya termasuk stasiun dan bandara. Menjalani dan memandang semua yang terjadi dalam hidup kita dari ‘kutub’ positif. Itu akan jauh lebih baik 🙂

Karena tidak ada kesulitan yang ‘dititipkan’ pada kita jauh melebihi batas kemampuan kita sebagai hamba-Nya. Tidak, Allah tidak akan memberikan ‘ujian’ di luar kemampuan hamba-Nya. Ketika kita ‘diuji’ pun Allah menguatkan pundak kita dan berjanji dalam firman-Nya “Bersama kesulitan ada kemudahan” yang diulang dua kali. Masihkah kita meragukannya? Kalau saya, saya amat yakin. 🙂

Wajar dan boleh kita memandang bahagia orang lain tetapi jangan samapi membuat kita lalai, merutuk, cemburu, iri, apalagi jika sampai memudarkan rasa syukur. Melihat bahagia orang lain, kesuksesan orang lain sebagai semangat untuk terus berlomba-lomba pada kebaikan itulah yang dianjurkan agar kita tetap ingat pada setiap nikmat yang dianugerahkan pada kita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ^^
#Ntms

Perpustakaan Pusat Kampus, disela-sela terjemahan, lembar-lembar ms. Word, dan A Glossary of Literary Terms.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in RenunganComments (1)

Bahasa Arab: Identitas(ku)

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Take 1

Di ruang tamu pondokan KKN, Nabin. Ceritanya ada dua orang teman yang mengunjungi kami di pondokan. Keduanya berjilbab lebar menyapa saya.

Wiwid: Assalaamu’alaikum Ukhti Nika  *diiringi dengan senyum paling manis

Saya: Wa’alaikumsalam Wiwid. Eh, ada Lulu, juga *nggak kalah mengiringinya dengan senyum termanis 😀

Wiwid: Ukh, lagi ngapain? sibuk banget

Saya: ah, nggak kok.

Lalu keluarlah sahabat saya, sebut saja namanya Erlin. Secara penampilan bukan seorang yang berjilbab besar, tapi dia berjilbab. Cantik dengan style-nya.

Erlin: hai Wiwid, hai Lulu. Hei Niko, kenapa yang dipanggil dengan sebutan ukhti hanya kamu? Memangnya aku nggak masuk kriteria dipanggil ukhti ya?

Saya: hei Ukhti Erlin *sambil buru-buru masuk ambil buku catatan

***

Take 2

Dulu saat aktif-aktifnya ikut kegiatan kampus dan rajin ikut rapat. Biasanya disebut dengan syuro.

Senior: ayo-ayo segera dimulai syuro-nya!

Saya: Kak, si A belum datang.

Senior: Dia kan bukan akhwat.

Padahal teman saya ini adalah perempuan tunggal. Barulah saya mengerti seiring berjalannya waktu.

***

Take 3

Suatu hari saat saya baru saja log-in di salah satu akun media sosial saya, saya mendapati di beranda ada sebuah catatan yang dibuat oleh seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Saya baca catatan itu berharap mendapatkan ilmu. Ohya, semoga sang (calon) ibu dan (calon0 anaknya selalu sehat.

Disana saya melihat banyak komentar yang berdatangan dan dibalas dengan ucapan “jazakillahu khairan katsiron, ammah” atau “jazakumullah atas doanya, ammah, ammi” tetapi ada yang menarik perhatian saya ketika ada seorang teman perempuannya yang berkomentar (entah di kolom komentar yang ke berapa) mengucapkan selamat dan mendoakannya lalu dibalas dengan ucapan “terimakasih, tante I”, begitu jawabnya. Karena mendapati ada yang berbeda maka saya kepo deh pada teman-teman yang mendapat ucapan Ammah atau Ammi dengan yang mendapat ucapan Tante atau Om. Ternyata si pemberi ucapan datang dari ‘kalangan’ yang berbeda. saat itu saya langsung ambil buku catatan.

***

Take 4

Seorang cewek duduk di serambi sebuah Masjid Kampus disapa oleh seorang mbak-mbak berjilbab besar yang pada akhirnya saya tahu disebut sebagai ‘akhwat’.
A: bisakah anaa duduk di samping anti?
C: bisa, silakan.
*sambil sedikit bergeser
A: Jazaa
C: *mlongo, muka bodoh

Sebenarnya kata jazaa, jika biasanya ‘terimakasih’ diucapakan dengan kata jazakumullah/jazakillah/jazakallah, maka otak saya ini masih bisa menerima maksud penutur bahwa ia mengucapakan terimakasih yang diselipkan dalam sebuah doa akan tetapi jika itu hanya diucapkan ‘jazaa’ maka otak saya menerima ucapan itu yang berarti ‘membalas/balasan’. Dalam benak saya ketika ada yang mengucapkan jazaa, saya pun bertanya ‘nih orang bilang ‘membalas’ untuk apa? untuk siapa?’ Lalu, apakah susah menyebutkan dalam bentuk sempurna jazakallah/jazakillah/jazakumullah ahsanal jazaa atau mungkin cukup jazakallah/jazakillah/jazakumullah dan tolong jangan didiskon lagi.

***

lalu masih banyak lagi kejadian-kejadian ajaib yang saya abadikan

***

Saya teringat saat masa-masa awal kuliah tentang kebudayaan yang di sana membahas tujuh unsur kebudayaan. salah satunya adalah bahasa. Bahwa bahasa bersifat dinamis, ‘bergerak’, dan mengikuti perkembangan. Selain itu memang eksistensi bahasa sebagai alat komunikasi yang saling bisa dipahami oleh kedua belah pihak. Bukankah seperti itu?

Tidak hanya berlaku dalam bahasa Indonesia saja, semua bahasa tanpa pengecualian termasuk bahasa Arab. Bahasa seharusnya bisa dimengerti oleh semua kalangan bukan terbatas pada yang datang dari ‘kalangan’ atau ‘komunitas’ kita. Justru yang terjadi sekarang adalah munculnya campur bahasa dalam seni berkomunikasi terutama penggunaan istilah bahasa Arab.

Menurut sebuah thesis yang saya baca tentang terminologi bahasa Arab pada istilah ikhwan dan akhwat memang telah menyempit. Objek penelitiannya adalah dari salah satu partai islam cabang Jogjakarta. Sebuah gelar yang disematkan pada mereka yang datang dari ‘kalangan’ yang sama.

Sapaan Ukhti dan Akhi juga berlaku pada mereka yang satu ‘kalangan’ padahal dalam bahasa Arab semua orang berhak mendapat sebutan Akhi dan Ukhti tanpa memandang dari ‘kalangan’ mana ia datang. Ya, saya sering gerah, telinga merah (untung nggak kelihatan) jika mendapati semua kejadian-kejadian ajaib itu dan saya bertekad untuk anti-mainstream, memperlakukan semua sama. Semua berhak mendapat panggilan Akhi, Ukhti, Ammi, Ammah dst.

Katanya, cinta adalah wujud kata kerja. harus diusahakan. harus diupayakan. Kalau memang mengaku cinta bahasa Arab, ya upayakan untuk mempelajarinya, memahami, dan menelaahnya. Jangan sepotong-potong. Jika memang bahasa arab hanya menjadi identitas sebuah ‘kalangan’ kasihan kan dengan mereka yang ingin disapa dengan istilah-istilah bahasa Arab. Tidak perlu ngarab agar terlihat islami. Kata seorang teman, “Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Islam. Kalau Islam sama dengan Arab, mending saya berbangsa Islam daripada berbangsa Arab.

Ya, bahasa Arab: identitasku, bahasa apa identitasmu? Semoga bisa sama ya ^^

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in ArabicComments (0)


BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING