Tag Archive | "Pernikahan"

Perahu Kertas: Tentang Pertemuan Radar Neptunus Teman Masa Kecil

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Hello, setelah beberapa hari tidak berotasi di dunia blogging. Hari ini saya memantapkan diri menulis tentang buku terbaik yang pernah dibaca sebagai tugas tema yang harus ditulis di One Day One Post (ODOP) minggu lalu.

Bicara tentang menulis pastilah tidak akan lepas dari aktifitas membaca, iya kan? iya kan? Emang iya. Menulis dan membaca adalah pasangan terbaik sepanjang masa 😀

Bagi saya, salah dua kebahagiaan adalah membaca dan buku. Dibandingkan dengan belanja baju yang notabene saldo di rekening akan jauh lebih aman, maka tidak akan berlaku ketika saya pergi ke pameran buku dan toko buku, entah offline ataupun online. Saldo jaraaaaaaaaang sekali aman. Tidak hanya saya, Mas Partner juga. 😀
Apalagi Mas Partner pernah bilang, “Lebih baik disimpan dan nggak tau bacanya kapan, daripada pengen baca tapi nggak ada bukunya.” Sedangkan saya punya prinsip, “Lebih baik nyesel beli daripada nggak beli.”

Nah, jika diminta untuk memutuskan buku apa yang berkesan adalah hal paling sulit untuk diputuskan. Semua buku yang pernah saya baca memiliki kesan yang mendalam sedalam lautan dan kebanyakan adalah karya non-fiksi atau novel. Salah satunya adalah Perahu Kertas. Cerita dalam Perahu Kertas seakan mewakili cerita menuju pernikahan antara saya dan Mas Partner. Kami sudah kenal sejak kelas kelas 5 SD tetapi tidak pernah 1 sekolah dan sangat jarang bahkan tidak pernah bertemu, saya pun lupa pernah mengenalnya. Bukan jahat ya :D. Cerita selengkapnya mungkin bisa di postingan berikutnya. Ya, seperti halnya Keenan dan Kugy dalam kisah tersebut yang bertemu lalu berpisah tidak bertemu untuk sekian lama, namun akhirnya takdir melalui radar neptunus membawa mereka bertemu kembali.

IMG_5773*dokumentasi pribadi

‘Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh’ ― Dee Lestari, Perahu Kertas

Kisah saya tidak hanya berhenti sekedar cerita yang sama. Quote yang ada di beberapa bagian pun juga nancep di salah satu kisah dalam sejarah hidup saya.

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.”
Dee Lestari, Perahu Kertas

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”
-Nasihat Poyan pada Keenan suatu hari”
Dee Lestari, Perahu Kertas

Ketika saya dan pihak keluarga Mas Partner menemukan dan menyepakati tanggal pernikahan lalu kami sibuk mencari desain undangan akhirnya Mas Partner membuat desain sendiri dan menambahkan lirik lagu Perahu Kertas dalam undangan kami yang sebelumnya meminta izin pada Mbak Dee dan beliau meresponnya dengan sangat baik dan memberi izin selagi tidak dikomersilkan.

 

12422337_1563924530308026_1585078419_o*kiriman dari teman

Nah, setelah desain jadi kami dibantu teman-teman ayoknikah dalam penyempurnaan undangan yang sudah disesain sebelumnya oleh Mas Partner. Bagi teman-teman yang sedang membutuhkan referensi undangan pernikahan silakan klik ayoknikah. Bukan promosi ya, hanya berbagi info. ^^

Selain kisah cintanya, saya menyukai tokoh Kugy yang bagi saya seperti ada kesamaan seperti suka menulis dan jurusan kuliah. *nggaknyambungsih. Overall, novel Perahu Kertas bagi saya adalah salah satu bahagia dalam hidup, ketika saya membacanya saya seakan diajak kembali bernostalgia akan sisi unexpected dalam hidup yaitu nasib jodoh saya. Di kesempatan lain, saya juga akan menulis novel yang berkesan dalam sisi kisah kehidupan saya yang lain. ^^

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (26)

Bandung Story

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Alhamdulillah, Bandung time! 😀

Kupikir, bagi sebagian orang pergi ke Bandung adalah hal mungkin direncanakan dengan (sangat) mudah. Apalagi jika ditempuh dari Jogja. Bagiku, Bandung time kali ini adalah sepaket mimpi yang terkabul secara bersamaan. Tentang bagaimana ‘jalan-jalan’ kali ini terealisasi dan kenapa memilih Bandung sebagai destinasi. Semua tertata, semua indah dan Allah yang mengaturnya sedemikian cantik.

Gerbong Eksekutif dan Kepuasan

Berawal dari adanya ‘sesuatu’ yang harus diselesaikan di Bandung, mau nggak mau memang harus memaksaku memesan tiket perjalanan dan mendapat tempat yang nyaman. Di salah satu kursi di gerbong bisnis untuk berangkat dan satu kursi di gerbong eksekutif untuk pulang. Satu kursi di gerbong eksekutif, bagiku sesuatu banget…hahaha, salah satu mimpi yang sudah lama sekali dalam angan-angan dan taraaaaaa, terwujud dalam perjalanan kali ini dengan rejeki yang tak diduga plus naik kereta yang memuaskan, on time! Terus saja ingat, dulu selalu mengulang-ngulang berkata pada ayah dan ibu “aku ingin naik kereta eksekutif dari aku nabung salary-ku.”

Mengunjungi Braga

10351384_725522324196424_7614818896108057718_n

Keinginan mengunjungi Braga memang sudah lama, sejak menonton film Madre dan Garasi. Braga seperti jantung di Bandung kota. It is fascinating landscape. But, unfortunately, when I am staying here, Braga is not as beautifull as I thought before. Ada perbaikan saluran air yang membuat trotoar terlihat tidak cantik. Never mind, it is not perfect but it makes me happy. I am in Braga right now and spending my time with my life-partner. Mengunjungi Braga adalah mimpi yang terkabul. Kupikir hanya mengunjungi yang sifatnya sebentar saja, tetapi Allah memberi lebih lewat teman-hidupku yang memesan hotel untuk menginap 5 hari 4 malam, di Braga. Berdua! Ditambah dengan kabar bahwa Abangku ini mendapat kesempatan diklat di Bandung selama 6 hari. Ya meskipun nanti aku lebih dulu yang akan meninggalkan Bandung dan Abang. Tapi, Alhamdulillah… 🙂

Mengunjungi Asia Afrika

IMG_3392 (FILEminimizer)

Ini juga bagian dari keinginan jalan-jalan ketika suatu saat di Bandung. Jalan Asia Afika.

IMG_3384 (FILEminimizer)

Museum Konferensi Asia Afrika

IMG_3385 (FILEminimizer)

Gedung Merdeka di kawasan jalan Asia Afrika
Dan mimpi-mimpi lain yang terealisasi dalam satu paket dan satu waktu.  To be continued…

Kalau sudah seperti ini, siapa yang tak percaya pada mimpi? Tetapi mimpi itu sendiri perlu diperjuangkan dengan ikhtiyar maksimal dan doa optimal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu ragukan? 🙂

Braga, 10 November 2014

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (2)

Sawang Sinawang Dalam Hidup

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Sebelum menulis lebih lanjut, saya ucapkan alhamdulillah karena koneksi internet yang membaik 😀

Saya yang dilahirkan dan tumbuh di Jawa (bukan sara ya…) tentu sudah sangat lama mendengar ungkapan “sawang sinawang”. Ya ya, “sawang sinawang” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai “lihat melihat” atau “saling melihat”. Aktifitas melihat yang sering kali melenakan pandangan bahkan mungkin akan timbul rasa-rasa iri, sedih, cemburu bahkan memudarkan rasa syukur. Mungkin lho ya, silakan merenung beberapa saat.
Aktifitas sawang sinawang ini biasanya akan melihat pemandangan-pemandangan yang serba membahagiakan dari kehidupan orang lain, teman atau orang-orang di sekitar kita lalu kita akan membandingkannya dengan keadaan kehidupan yang kita punya. Kita akan sering melihat sisi-sisi bahagia dari orang lain tanpa kita berpikir sedikit panjang tentang proses yang dijalani orang lain hingga hasil yang dicapainya sampai pada pandangan kita begitu membahagiakan. Terasa manusiawi dan wajar.

Sama halnya ketika saya memandang teman-teman saya yang dengan suka cita menyambut malam minggu dengan pacar/suaminya. Menikmati malam, lalu tiba-tiba Jogja berubah menjadi semakin spesial (haha.. :D), menikmati makan malam di angkringan, jalan-jalan di malioboro, atau hanya sekedar duduk santai menikmati secangkir kopi di pinggiran kali code. Bahagia rasanya. Lalu saya akan membandingkan dengan diri saya yang ‘pacaran’ dengan HP itu pun jika HP saya bunyi atau sengaja saya pancing agar berbunyi :D. Saya yang hanya mampu menggandeng buku dan akan nongkrong saja di kamar atau perpustakaan kota. Atau saya akan pergi ke toko buku dan pulang dengan kirim sms “aku mboyong buku lagi”. Contoh lain, saat menghadiri kondangan, semua teman-teman akan datang bersama pacar, tunangan atau suami/istri dan saya sangat bersyukur tidak datang sendirian tetapi ada teman atau barengan. Dalam kondisi seperti itu saya sangat bersyukur meski tak jarang kondangan sendiri. Mungkin ada orang yang kasihan sama saya, tapi saya baik-baik saja. *sambil nahan 😀

Saya pernah seperti itu. Jujur. Pernah. Tetapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya harus iri dengan orang lain? Tanya kenapa? Saya mensyukuri, saya memiliki partner hidup yang luar biasa oke bagi saya. Saya masih bisa mengantongi ijin untuk melanjutkan belajar di bidang yang saya sukai dan melanjutkan menyelesaikan kewajiban saya tahun ini. Saya diberi kesempatan menyelesaikan belajar Bahasa Jerman yang dari tahun 2009 belum kunjung usai, insyaAllah tahun ini selesai. Saya masih diberi kepercayaan untuk belajar Bahasa Belanda dan mendapat fasilitas “private”. Saya diberi kebebasan bekerja di bidang yang saya sukai yang tak jauh-jauh dari bahasa dan menulis sebagai English Content Writer yang tak harus duduk di kantor, cukup setor wajah ke kantor sekali dalam seminggu. Saya masih bisa merasakan pergi berkegiatan tatap muka, reuni, dan sejenisnya dengan teman-teman saya. Saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman komunitas fotografi di nol kilometer. Saya (berusaha) bahagia dan mensyukurinya. Menikmati ritme-ritmenya. Mendalami syahdu merdu alunan yang biasa disebut rindu. (Cieeee…. :D) Karena dengan ini semua setiap sudut kota Jogja benar-benar menyimpan cinta saya termasuk stasiun dan bandara. Menjalani dan memandang semua yang terjadi dalam hidup kita dari ‘kutub’ positif. Itu akan jauh lebih baik 🙂

Karena tidak ada kesulitan yang ‘dititipkan’ pada kita jauh melebihi batas kemampuan kita sebagai hamba-Nya. Tidak, Allah tidak akan memberikan ‘ujian’ di luar kemampuan hamba-Nya. Ketika kita ‘diuji’ pun Allah menguatkan pundak kita dan berjanji dalam firman-Nya “Bersama kesulitan ada kemudahan” yang diulang dua kali. Masihkah kita meragukannya? Kalau saya, saya amat yakin. 🙂

Wajar dan boleh kita memandang bahagia orang lain tetapi jangan samapi membuat kita lalai, merutuk, cemburu, iri, apalagi jika sampai memudarkan rasa syukur. Melihat bahagia orang lain, kesuksesan orang lain sebagai semangat untuk terus berlomba-lomba pada kebaikan itulah yang dianjurkan agar kita tetap ingat pada setiap nikmat yang dianugerahkan pada kita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ^^
#Ntms

Perpustakaan Pusat Kampus, disela-sela terjemahan, lembar-lembar ms. Word, dan A Glossary of Literary Terms.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in RenunganComments (1)

Commuter Marriage, Siapa Takut?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Beberapa kali bahkan mendekati level sering, saya mendapat pertanyaan ‘Bagaimana menjalani LDR agar bisa tetap heppi?’, ‘Bagi tips menjalani LDR dong, Cind’, atau ‘Gimana biar LDR-ku semanis LDR-mu?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang berujung pada pertanyaan yang intinya sama, Commuter Marriage atau lebih sering dikenal sebagai Long Distance Relationship atau Long Distance Marriage bagi sebagian besar pasangan yang telah menikah adalah hal tidak mudah dijalani termasuk bagi saya sendiri. Terlebih lagi, saya heran ketika (ternyata) banyak dari teman-teman yang melihat saya tetap happy dengan commuter marriage yang saya jalani sekarang. Alhamdulillah.

Commuter marriage itu mudah diucapkan tapi susah dijalani (haha…iklan). Ya, memang tidak mudah. Bayangkan saja, baru saja menikah yang seharusnya hidup berdampingan, bahu membahu mengerjakan tugas rumah tangga, pacaran tiap malam minggu, makan bersama, pergi belanja berdua dan sederet rutinitas biasa berubah menjadi manis dan spesial (pakai telor), tiba-tiba menjalani rutinitas seperti biasa saat masih menjadi single fighter bahkan (mungkin) ada yang dibarengi dengan berandai-andai jika sang kekasih berada di sisinya. Karena tidak mudah menjalaninya, biasanya akan terlampiaskan di FB atau jejaring sosial lainnya. Ya, itu bentuk ekspresi.

Saya yakin, semua pasangan di dunia ini akan memilih hidup berdampingan tanpa berjauhan. Hidup bersama selayaknya suami istri, membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah dalam satu atap. Memelihara cinta kasih tanpa sejengkal jarak. Menanti buah hati dan menjalani tahap demi tahap kehidupan berumahtangga.

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya pun demikian, benar-benar menginginkan kehidupan yang ‘normal’, ingin mencecap manis pernikahan tanpa sejengkal jarak. ‘Jarak’ ini bukan tanpa alasan. ‘Jarak’ ini adalah pilihan dan saya salut pada kebesaran hati serta dukungan yang tak terbilang life-partner saya, kedua (pasang) orangtua saya sekaligus rasa syukur tak terhingga kepada Sang Maha. Alhamdulillah.

Hidup itu pilihan dan semua resiko dari sebuah keputusan harus tetap dihadapi bukan diratapi. Susah atau senang dalam menjalani commuter marriage itu berbeda-beda bagi setiap orang dan cara mengekspresikannya. Ada yang mengekspresikannya dengan update status ‘Kangen Abang yang di sana. Baru dua hari pisah serasa udah dua tahun lamanya’ dst. Ada yang lebih memilih memendamnya, menyendiri, atau mencatatnya dalam diary. Itu pilihan.

Saya menyikapi commuter marriage sebagai resiko dari sebuah pilihan. Saya yang diawal-awal juga sedih, tumbuh rasa iri kenapa memilih ‘jalan’ ini, dan rasa putus asa apakah bisa. Waktu mengantarkan saya belajar dan waktu membuat saya mengubah cara pandang dengan melihat commuter marriage dari sisi yang lain.

Pernikahan adalah dermaga tempat kita berhenti sejenak menjemput kawan seperjalanan. Kawan untuk saling mendukung dan menyemangati. Meski harus menyemai cinta kasih dalam jarak. Bahwa tak ada yang sia-sia dalam sebuah pilihan dan keputusan. Bahagia dan tidak bahagia tergantung pada seberapa besar rasa syukur yang hadir dan usaha nyata mensyukurinya. Bersyukur atas jarak yang membentang. Bersyukur atas waktu dan kesempatan yang menumbuhkan harapan-harapan. Saya bersyukur atas ‘bonus’ karena bisa memperpanjang kontrak tinggal di Jogja. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu-waktu dimana saya masih bisa belajar. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu untuk terus bertatap dengan sahabat-sahabat saya. Saya bersyukur atas waktu dan kesempatan untuk saya terus fokus menjemput takdir di kota ini. Saya bersyukur atas apa yang saya jalani. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka bersyukurlah dan engkau akan bahagia.

Commuter marriage ini tak menyisakan ruang kosong yang tak terisi dengan rindu. Setiap detiknya rindu itu tumbuh dan saya hanya bisa menjaganya, menitipkan pada dekapan Tuhan karena Dia adalah sebaik-baik penjaga dan pemberi. Jika rindu sudah overload dan butuh tempat untuk mengekspresikannya saya lebih memilih untuk sendiri, mendekap cinta saya dengan doa-doa. Memeluknya dalam sujud panjang bukan status di jejaring sosial. Sebanyak apapun saya ‘nyampah’ berkata ‘aku merindukanmu’ itu tidak akan memampatkan jarak yang jauh menjadi dekat. Sebanyak apapun kata rindu terucap tidak akan menjadi pintu doraemon yang mengantarkan saya datang di hadapan cinta saya di seberang sana. Rindu-rindu itu teruntai dalam doa yang berulang-ulang. Jika harus menangis masih ada lantai yang akan dengan lapang menerima bulir-bulir hangat. Mendekap cinta dengan doa. Pada saatnya nanti, akan ada buah yang teramat manis, sebuah hikmah yang luar biasa manis. Saya hanya perlu percaya dengan sebaik-baik keyakinan. Berharap, mungkin jarak ini adalah ‘warming up’ untuk jarak-jarak yang tak disangka di depan sana. Semoga Alloh menjaga kami. Menjaga diri dan hati kami. Semoga selalu ada bahagia dan sakinah dalam jarak. Semoga saya dan life-partner diberi kesabaran hingga nanti kami disatukan tanpa jarak. Semoga ini adalah kesempatan dalam rangka mempersiapkan kedatangan kakak kecil dan adik-adiknya ^^
Tetap optimis dan selalu berprasangka baik kepada Sang Maha, Ia tak akan menetapkan kesia-siaan pada hamba-Nya termasuk dalam menjalani commuter marriage.

Yap, itu sikap saya. Bagaimana sikapmu yang sedang menjalani commuter marriage seperti saya?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-StyleComments (2)

Dimana Toleransi Untuk si Lajang?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Sebelum saya menuliskan apa yang ada dalam benak saya selama ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini adalah hasil beberapa waktu dan beberapa kali bincang-bincang saya bersama life-partner saya dan sahabat saya dengan pengamatannya dan pengamatan saya.

Saya lupa tepatnya kapan, saya hanya ingat sebulan sebelum saya menggenapkan separuh agama, saya diwelingi oleh sahabat saya, beberapa sahabat saya agar tidak terlena pada euforia pasca pernikahan. Agar saya tidak mengumbar kemesraan di status akun lini masa yang saya punya, mengunggah foto berdua secara close-up dempet-dempetan dan kawan-kawannya. Saat itu, saya iyakan. Saya berusaha pegang dan jalankan. Ternyata setelah pasca pernikahan, harapan dari sahabat-sahabat saya pun diuji. Ternyata tidak mudah. Ya, bayangkan saja seperti anak kecil yang punya mainan baru. Dia akan berusaha agar semua teman-temannya tahu kalau dia punya mainan baru. Alhamdulillah, lelaki yang menjadikan saya tulang rusuknya memiliki tekad seperti amanah yang dititipkan sahabat saya. Akhirnya, pilihan kami ambil dan lahirlah kesepakatan yang hanya memasang relationship with di akun ruang publik yang kami miliki tanpa foto, tanpa kata mesra, tanpa kiriman apapun yang sifatnya hanya kami berdua yang tahu.

Saya dirundung rasa penasaran, saya mulai mengamati, bertanya untuk sekedar konfirmasi, berbincang dengan sahabat maupun life-partner saya tentang euforia pasca pernikahan. Saya pun menemukan fenomena itu.

Hidup itu pilihan. Seperti halnya pilihan untuk jadi high quality single sebelum pernikahan. Sangat begitu menjaga bahkan untuk urusan foto profil dan status di lini masa. Foto profil animasi, bunga, tokoh kartun, buku favorit, foto keponakan, dan kawan-kawannya, yang jelas bukan foto dirinya. Statusnya pun berisi kata-kata penuh hikmah, inspirasi, motivasi, ayat-ayat al quran, maupun hadits. Sangat menginspirasi dan sangat menjaga.

Lalu fenomena yang saya sebut euforia cinta pasca pernikahan pun saya dapati. Dimana yang dulunya begitu menjaga foto profil dan statusnya berubah setelah pernikahan. Berkata sayang, foto berdua, dan banyak hal ajaib lainnya. Hingga suatu ketika sahabat saya bilang bahwa ada metamorfosis untuk hal-hal itu. Ketika masih lajang: fotonya memakai tokoh kartun, bunga, dkk–setelah menikah: foto berdua atau foto pasangan–setelah ada anak: foto anak, foto anak bersama ayah atau ibunya. Begitu juga dengan statusnya, meskipun nggak selalu tetapi status berbau mesra yang mendominasi. Saya katakan, yaitu lagi-lagi adalah pilihan. Kita bebas menentukan pilihan dan keputusan.

Katanya, hidup ini pilihan. Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Entah itu keputusan, pemikiran, keyakinan, semua didominasi dengan pilihan. Termasuk pilihan untuk sikap. Dalam setiap pilihan ada sebuah konsekuensi besar dimana kita memang harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Benar kan? Begitu juga pilihan untuk tetap istiqomah menjaga atau norak pasca pernikahan. Itu pilihan.

Saya hanya berfikir ketika mendapati fenomena itu bahwa pernikahan adalah sebuah keputusan besar dimana keputusan itu tidak bisa kita mengambilnya sepihak saja. Pasti akan melibatkan orangtua dan keluarga. Tidak semua saudara-saudara kita yang memilih untuk menjadi high quality single sebelum adanya perjanjian agung bisa seperti kita yang diberi anugerah untuk segera menggenapkan agama. Mereka dihadapkan pada banyak pertimbangan. Ada yang sudah benar-benar ingin tetapi ada kakak (perempuan) yang belum menikah dan akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang kakak. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan study karena ingin mewujudkan keinginan orangtua. Ada yang sudah ingin tetapi belum berkemampuan untuk menafkahi secara materi. Ada yang harus membiayai atau membantu meringankan beban orangtua untuk menyekolahkan adik-adiknya. Lalu banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada, yang membuat mereka menentukan prioritas pilihan.

Jikalau memang belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sebagai benteng. Jikalau sudah berusaha untuk berpuasa akan tetapi kita yang sudah menikah mengumbar mesra di ruang publik meskipun di dunia maya, bukankah itu juga bisa menjadi godaan? Meski secuil pasti ada rasa ingin dan membayangkan ‘wah, enak ya kalau udah nikah.’
Waahh, pengalaman 😀

Bagi saya, di sanalah ada sesuatu yang saya sebut toleransi. Toleransi untuk menjaga diri sendiri ataupun ikut berpartisipasi membantu menjaga ‘benteng pertahanan’ saudara atau sahabat-sahabat kita. Katakan saja, misal kita ingin jadi ‘kompor’ untuk mereka tetapi ada hal yang harus kita ingat bahwa posisi kita tidak selama sama dengan orang lain dan lagi-lagi tentang pilihan serta keputusan. Jikalau memang itu adalah sebuah pemberitahuan pada khalayak secukupnya saja, bisa dengan cukup menyampaikannya dengan married with atau relationship with atau status yang mengabarkan ‘alhamdulillah saya sudah menikah mohon doanya bla…bla…bla.’ bagi saya itu cukup. Karena di sana ada sebuah toleransi antara kita (yang sudah dan belum menikah). Lagi-lagi, ini masalah keputusan dan pilihan. Ini bukan ghibah atau membicarakan orang. Ini tentang fakta. Tentang fenomena yang mana menurut saya ada sebuah toleransi yang harus dijaga meskipun ada yang bilang bahwa mengunggah ‘kemanisan’ rumah tangga di dunia maya adalah salah satu cara mewujudkan sakinah.
Lalu, jika sudah seperti itu dimana toleransi untuk si lajang?

nb: karena belum menemukan gambar yang pas, jadi untuk sementara tanpa gambar dulu ya 😀

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's Stories, RenunganComments (24)

Recall: Personal Taste

Recall: Personal Taste

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Image

Di setiap cerita akan akan sisipan curhat colongan, begitu kata seorang teman 😀

Ya, kali ini saya mau curhat “Recall: Personal Taste”.

Hmm, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai suka menonton KDrama, sepertinya sejak 2006. Ada 2 KDrama yang berkesan dalam hidup saya. Masing-masing memiliki cerita dan kenangan. “Princess Hour” yang saya tonton dengan diam-diam kabur dari acara asrama di hari minggu. Kedua, Kdrama ini yang saya tahu dari ibu saya yang juga gemar mengikuti setiap KDrama. Bahkan saya ingat, saat saya pulang dari kantor LPPM untuk mengurus administrasi KKN yang bermasalah, saya tiba di kos dengan menangis, pipi saya basah dan mata yang memerah. Malu? ya, saat itu saya tidak malu lagi menangis dari Balairung hingga kos, tepatnya sampai kamar saya. Saat itu terjadi, ibu saya sedang menonton Kdrama “Playfull Kiss” dan melihat saya yang “hancur” saat itu, ia memeluk dan berkata “Kuatlah, seperti Oh Hani”. Itulah alasan kenapa saya menyukai “Playfull Kiss”. Kuat seperti Oh Hani. Stay cool seperti Baek Seung Jo (yang ini saya gagal :-D) dan berharap saya menjadi nerd. 😀

KDrama yang ketiga yang berkesan adalah ini, “Personal Taste”. Ini saya nonton berdasarkan rekomendasi dari kakak saya karena tidak semua drama atau film saya nonton. Saya cenderung suka mengulang-ulang film yang sama bahkan hingga saya hafal percakapannya. Saya tonton berdua, tapi lebih sering sendiri. Drama ini terdiri dari 16 episode. Saya diminta untuk menontonnya dengan serius, bukan sekedar untuk membuang jenuh atau sekedar hiburan. Bukan. Saya menemukan jauh lebih besar dari sekedar hiburan. Drama ini mengingatkan saya pada banyak hal. Sebelumnya, Kamsahamnida 🙂

Overall, saya menyukainya. Bicara tentang kehidupan pasti tak akan ada habisnya. Kita akan dihadapkan pada bermacam-macam hal bahkan masalah. Tergantung bagaimana kita mengubah sudut pandang dalam melihat karena itu akan mempengaruhi gerak dan setiap keputusan yang akan kita ambil. Ada banyak tokoh dalam drama ini, hanya saya terfokus pada sepasang tokoh “Jeon Jin Ho” dan “Park Gae In”.

“Jeon Jin Ho”

Seorang arsitek yang sedang mempertahankan perusahaannya. Seorang yang cool. Seorang yang memperjuangkan mimpi-mimpinya demi orang-orang di sekitarnya. Seorang yang berani mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya. Di cerita itu, ia berusaha keras membuat original design untuk sebuah proyek yang awalnya ia ingin meniru design seorang professor. Yang tak kalah berkesan, bahkan sangat berkesan bagi saya adalah saat ia berani mengakui perasaannya 🙂

Segala sesuatu, apa pun itu harus diperjuangkan!

“Park Gae In”

Seorang perempuan yang ceria dan bersemangat. Seorang desainer interior. Putri seorang professor terkenal. Mudah memaafkan. Mudah mempercayai orang. Pekerja keras. Polos. Sederhana. Perempuan yang beruntung mendapat perhatian khusus dari si arsitek, menurut saya.

Im just going to choose to trust. Im just going to trust you.

Hmm, sebenarnya drama ini seharusnya ditonton oleh mereka yang sudah menikah :-D. Karena ada beberapa adegan yang memang itu adegan dewasa. Setelah menontonnya memberi banyak dampak. Dampak positif tentunya. Saya bisa belajar ketika kita memutuskan untuk saling mencintai maka kita harus bisa peduli satu sama lain, saling memahami dalam banyak hal, saling menerima, saling melengkapi, saling menjaga, saling memercayai, dan saling, saling, saling yang lain. Saya bisa belajar memahami jenis laki-laki yang memang dia sedikit bicara dan cool. Tipe seperti ini memang lebih banyak mendengar dan menyatakan perasaannya dengan sikap bukan kata-kata manis yang berlimpah. Seorang yang spesial ini tidak akan bisa kita memaksanya untuk banyak bercerita, ia akan bercerita secukupnya, sangat secukupnya. Sikapnya yang menginginkan sesuatu tidak akan secara langsung menyatakan keinginannya tetapi dengan sikap, dengan kode yang memang kita harus peka dan pintar menerjemahkannya. Lalu, apakah saya mengalaminya? Ya 😀

Saat melihat sosok “Jeon Jin Ho”, justru mengingatkan saya pada lelaki langit yang di seberang sana. Lelaki langit yang di suatu kesempatan berkata, “Wujudkan mimpimu. Aku sebagai lelaki berkewajiban untuk mendukung wanitaku.” Di depannya saya biasa saja saat itu. Tapi akhir-akhir ini justru kata-katanya membuat saya cengeng bukan berarti saya down justru membuat saya kuat. Bertahan dan berjuang. Saya egois? Mungkin, justru itu tertepis dengan “Buat aku bangga”, kata-kata sederhana tapi wah untuk saya.

Tiba di episode 16 di mana “Jeon Jin Ho” sakit. Setelah “Park gae In” menemuinya, ia segera sembuh. Ya, tiba di cerita itu saya teringat beberapa hari lalu, lelaki langit saya bilang kalau sedang tidak enak badan. Mungkin kecapekan, tapi lebih mungkin lagi karena rindu. Kata kakak saya yang menemani nonton di episode 16 mengatakan seperti itu. Rindu. Ketika ia bilang tidak enak badan, saya tidak menanyai apakah sebabnya karena rindu. Itu pertanyaan retoris, kita sama-sama tahu jawabannya. Doa yang lebih banyak dan lebih sering saya panjatkan adalah cara saya memeluknya dari jauh.

Saya di sini berharap akan semakin lebih baik, lebih keras lagi berjuang menjemput takdir saya. Semoga langkah kami diridlai. Semoga pundak kami dikuatkan. Semoga rindu kami dipertemukan sesegera mungkin meski nanti akan menuai rindu lagi, lagi, dan lagi. Semoga dengan ‘perjanjian suci’ yang terucap dan disaksikan ribuan malaikat akan membuat kami saling menjaga, membuka banyak pintu kemudahan, pintu kesempatan, pintu keberkahan, dan pintu-pintu kebaikan yang lain. Semoga semua ini mendewasakan. Segala puji bagi-Mu yang telah menakdirkan ia sebagai lelaki langit untuk saya.

Akhirnya, kerinduan ini terucap mengalir. Thanks for your patience. This distance is too difficult but i’ll run in your way, into your arms. Stay over there. Dont go anywhere. I’ll stay by your side.

Ayo kita hidup ‘bebas’ dengan saling mengikat hati 🙂

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (3)


BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING