Tag Archive | "tot"

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

The Sacrifice of Abraham’s Son memiliki beberapa versi bahkan menjadi perdebatan tersendiri. Beberapa klaim muncul dengan argumen yang masing-masing dipercaya kebenarannya. Dalam sesi ini, The Sacrifice of Abraham’s Son ditinjau dari dua sumber yaitu, al-Quran dan Torah/Bibel.

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut al-Quran

  1. As-Saffaat 99-113 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan seorang putra atau anak yang santun setelah Ibrahim meminta kepada Allah. Ibrahim melihat dalam tidurnya bahwa beliau menyembelih putranya yang pada saat itu Ibrahim menyampaikan secara langsung. Putra Ibrahim (yang diklaim sebagai Ismail) menanggapi agar Ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Setelah keduanya berserah diri untuk melaksakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kemudian Allah menjadikan apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya sebagai bentuk totalitas dalam ketaatan menerima perintah. Allah mengabadikan kisah Ibrahim sebagai seorang yang mulia yang menjadi teladan bagi penganutnya. Tak hanya itu, Allah menganugerahkan lagi seorang putra pada Ibrahim yang bernama Ishak. Ishak adalah seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh dan Allah melimpahkan keberkahan atas Ishak yaitu keturunan yang di antaranya berbuat baik dan di antaranya terang-terangan berbuat zalim pada dirinya sendiri. Keturunan Ishak ini adalah bibit keturunan orang-orang Yahudi atas Israel. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan Ismail memahami tujuan atas penyembelihan bahwa itu sebuah perintah Tuhan untuk sebuah ketaatan. Tergambar jelas bahwa Ismail seorang yang sabar, berani, dan cerdas.

Di sisi lain, dalam ayat tersebut tidak disebutkan nama Ismail secara jelas. Menurut tafsir awal yang ditulis oleh Muqotil bin Sulaiman dan tafsir Tobari menyebutkan putra yang dikurbankan oleh Ibrahim adalah Ishak, namun kemudian dilarang oleh pemerintah Mesir yang kemudian direvisi kembali pada tafsir generasi baru disebutkan bahwa putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail. Jika dilihat dari sejarah, putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail karena Siti Hajar dan putranya hijrah menuju Mekkah sedangkan Ishak tidak pernah hijrah ke Mekkah.

 

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut Torah/Bibel

Genesis 22: 1-13 mengisahkan saat Abraham mengajak Ishak dan dua orang lelaki yang dianggap sebagai abdinya melakukan perjalanan ke sebuah gunung Moria yang itu sebenarnya adalah sebuah bukit atau dataran tinggi. Saat tiba di suatu tempat, Abraham mengajak Ishak berjalan dan meminta dua abdinya untuk menunggu. Dalam ayat ini tidak menjelaskan bahwa Abraham memberikan pemaparan alasan mengajak Ishak melakukan perjalanan. Saat keduanya sampai di sebuah altar persembahan, Ishak yang diikat tangan dan kakinya tidak kunjung mengetahui apa yang akan dilakukan oleh ayahnya, Abraham hingga menjelang dirinya dikurbankan. Namun, Tuhan menggantikan posisi Ishak dengan seekor domba. Ayat ini menggambarkan betapa Ishak adalah seorang anak yang polos (The Innocent Man) dan hanya Abraham yang mengetahui tujuan perjalanan tersebut.

Genesis 21 menjelaskan tentang Ismail dan Pengusirannya. Saat Sarah dianugerahi untuk mengandung di usia tua dan pada saat itu Abraham berusia 100 tahun. Nama Ishak diartikan sebagai lelucon karena Sarah khawatir ditertawakan orang-orang ketika hamil dalam usia tua dan Abraham juga sudah sangat tua. Pada saat Ishak lahir, Ismail sudah berusia 14 tahun. Sarah merasa khawatir atas Ishak yang kemudian meminta Abraham agar mengusir Ismail dan Hajar dengan alasan bahwa Ismail bermain-main menyembah kepala belalang di usia muda dan Sarah khawatir ketika Ismail besar akan menyembah berhala. Abraham dengan berat hati mengusir Ismail dan Hajar dengan membekali air dan ditinggalkan di Beer-Sheba, sebuah tempat di Israel.

Ismail dalam Bibel memiliki arti orang yang taat, namun memercayai bahwa putra yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Seorang anak yang diberikan keberkahan dan kemuliaan serta seorang anak yang disebut-sebut sebagai anak satu-satunya dari Abraham. Namun, dalam Genesis 17 disebutkan bahwa Ishak bukanlah satu-satunya putra Abraham. Ada Ismail yang telah berusia 13 tahun yang saat itu telah disunat bersamaan dengan Abraham yang juga disunat di usia tua. Dalam Genesis 21:5 menyebutkan bahwa ketika Abraham berusia 100 tahun, Ishak terlahir ke dunia. Hal itu berarti bahwa Abraham berusia 99 tahun, Ishak belum lahir ketika Ismail berusia 13 tahun dan sudah disunat bersama Abraham yang berusia 99 tahun. Kata Yakhitkha yang diulang-ulang dalam Genesis seperti sebuah ‘pemaksaan” untuk melawan hukum alam.

Ismail dan Ishak dalam Genesis juga diakui sebagai anak biologis Abraham seperti dalam Genesis 25:9 yang menyebutkan bahwa Ishak dan Ismail adalah putra Abraham. Selain itu, Genesis 21:5, Genesis 17:23, Genesis 17:25, dan Genesis 21:13.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in ArabicComments (0)

Wonderful Life Movie: Bukankah Setiap Anak Itu Istimewa?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

poster-wonderful-life

Harus pintar. Harus berprestasi. Harus ‘jadi orang’.

Hal-hal di atas mau tidak mau telah menjadi bagian nilai prestigious bagi setiap orangtua karena adanya tuntutan sosial di lingkungannya. Prinsip-prinsip di atas juga dipegang oleh Amalia, seorang perempuan perfeksionis dan cerdas selama menjalani kehidupannya. Prinsip itupun ia coba terapkan pada anak semata wayangnya, Aqil. Namun, hidup berkata lain, Aqil divonis mengalami disleksia. Sebuah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dalam kondisi ini, berprestasi secara akademis tentulah menjadi sebuah hal yang tidak mungkin.

Dalam penyangkalannya, Amalia berupaya melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan Aqil. Siapa sangka, perjalanan penyembuhan ini ternyata membawa pada petualangan yang menghadapkan Amalia pada kemungkinan terburuk dalam hidupnya: kehilangan Aqil. Pada titik inilah Amalia menyadari, ada yang lebih penting daripada sekadar mementingkan prinsip dan konflik batinnya, yaitu jalan hidup dan kebahagiaan sang anak.

Tak sekadar cerita tentang disleksia

Cerita di atas adalah potongan singkat film Wonderful Life yang dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan aktor muda berbakat, Sinyo. Film ini disutradrai oleh Agus Makkie merupakan adaptasi dari kisah nyata yang juga dituangkan dalam sebuah novel oleh Amalia Prabowo sendiri. Sekilas, film Wonderful Life adalah film keluarga tentang disleksia. Namun sesungguhnya ada begitu banyak nilai dan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini, khususnya tentang bagaimana orangtua harus bisa melihat lebih dekat dan merasakan lebih dalam setiap tantangan yang dihadapi dengan anaknya. Film ini juga mengajak para orangtua, para perempuan khususnya untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki road map-nya masing-masing dan orangtua bertugas memfasilitasi bakat dan kelebihan anak, daripada sekadar fokus pada kekurangan mereka.

Awal sebuah gerakan perubahan

dsc_9825

Film Wonderful Life yang dipersembahkan oleh Sariayu bersama Visimedia, Creative & Co, dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Hal ini menjadi pembuka gerakan perubahan yang diinisiasi oleh Sariayu Martha Tilaar yaitu, Be Wonderful Movement. Gerakan ini akan menjadi gerakan berkesinambungan yang mengajak para perempuan Indonesia untuk membuat perubahan dalam hidupnya. Harapannya, Be Wonderful Movement menjadi gerakan pemberdayaan perempuan Indonesia yang menginspirasi lahirnya sosok perempuan-perempuan yang berwawasan luas, mandiri, kuat, dan memiliki kepedulian yang tinggi. Para perempuan ini diharapkan dapat menjadi agent of change yang akan memotivasi dan menjadi cahaya penerang bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Selain mengangkat Empowering Women yang menjadi salah satu dari pilar Martha Tilaar Group. Ke depannya  Be Wonderful Movement juga akan mengangkat isu-isu terkait Beauty Green, Beauty Education, dan Beauty Culture dengan merangkul sosok-sosok perempuan inspiratif di tanah air. Mari rayakan hidup dengan membuat perubahan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.

dsc_9798

Film Wonderful Life ini dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Sinyo, Lidya Kandou, Alex Abbad, Putri Ayudya, Arthur Tobing, Abdul Arif, Totos Rasiti, dan Didi Nini Thowok. Jadi jangan lewatkan film ini dan saksikan film Wonderful Life yang tayang perdana pada hari ini, Kamis, 13 Oktober 2016 di seluruh XXI Indonesia. Jangan lupa yaa karena setiap anak itu istimewa…. 🙂

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-Style, RenunganComments (4)

Cerita Ramadhan Hingga Mudik Lebaran Bersama Sahabat Vermint

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Ramadhan tahun ini benar-benar berkesan untuk saya. Bagaimana tidak, segala lika-liku, tantangan, hingga cerita manisnya bak legitnya madumongso berpadu nastar dengan selai nanas *hahaha*

Akhir Mei lalu menjelang Ramadhan, saya sempat sakit demam plus-plus lalu berakhir dengan radang tenggorokan yang cukup menyita perhatian orang-orang di sekitar saya, karena perubahan suara yang membuat saya juga lumayan takjub 😀 Mulai dari serak-serak basah kemudian suara timbul tenggelam yang puncaknya suara tidak muncul sama sekali hingga kembali ke serak-serak basah yang jika saya bersuara di ruang ber-AC atau tempat yang tenang maka suara saya akan sangat menyita perhatian.

Radang tenggorokan yang tetap bertahan hingga Ramadhan datang dan bagi saya bukanlah hal yang mudah menjalani puasa dengan kondisi yang tidak fit sempurna.  Dalam kondisi seperti itu biasanya ketahanan tubuh juga naik turun. Apalagi saya memiliki alergi, salah satunya  jika terkena debu, hidung saya akan mbeler-mbeler dan jadi anak ingusan *hahaha 😀

Efek lain yang timbul dari radang tenggorokan yaitu, batuk yang membuat perut terasa kencang, kadang juga hingga kram perut. Badan yang rasanya selalu meriang. Duh, rasanya sedap. Semoga bisa jadi penggugur dosa apalagi bisa tetap menjalankan puasa bagi saya sudah nikmat luar biasa. Kedatangan bulan Ramadhan nikmatnya jauh lebih besar dan jauh lebih membahagiakan daripada rasa sakit yang (mungkin) tak seberapa.

Ramadhan tahun ini, dengan adanya sakit yang berlapis membuat saya melakukan persiapan yang lebih matang daripada sebelum-sebelumnya. Tak hanya persiapan ruhiyah, tetapi juga persiapan lahiriyah. Mas partner yang benar-benar totalitas menyiapkan stok buah-buahan, kurma, madu, dan cemilan 😀 Sedangkan saya tinggal santai-santai aja sambal mengingat instruksi Mas Partner. Nggak ding, Alhamdulillah, saya juga menyediakan stok Vermint untuk menjaga daya tahan tubuh. Terasa manfaatnya menjadi Sahabat Vermint untuk saya. Karena Vermint adalah supplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, Alhamdulillah membantu dan menemani saya menjalani puasa di bulan Ramadhan dengan bahagia, lancar, tenang, dan jauh dari loyo-loyo meski dengan batuk-batuk yang sering datang dan pergi, badan panas-dingin, perut kram, dan mual-mual.

Ngomong-ngomong tentang Vermint, saya punya pengalaman yang menyenangkan. Saya memiliki beberapa alergi dan sistem pencernaan yang kurang bagus khususnya siklus BAB *hehehe ^^v Nah, setelah resmi menjadi Sahabat Vermint saya akhirnya menyadari saya bisa BAB tiap hari lalu saya sempurnakan dengan FC juga. Bagi orang lain bisa saja itu biasa aja, tapi bukan bagi saya. Bagi saya itu luar biasa. Bahkan saya selalu berkabar soal itu pada sahabat saya, Aulia. *hahaha…ups*

Ramadhan dan lebaran pastilah tidak bisa dipisahkan lagi hingga sebagian besar warga ibukota seperti saya yang pastinya akan menjalani mudik lebaran. Mudik lebaran ini hukumnya wajib bagi saya dan Mas Partner. Apalagi mudik yang akan saya dan Mas Partner jalani itu tak hanya mudik ke Ngawi (rumah orangtua kami) tetapi juga ke Tulungagung, rumah Embah dari Ayah Ibuk saya. Yap, double mudik. Awalnya saya merasa berat untuk mudik karena komdisi tubuh yang naik turun, lalu memantapkan niat dan hati untuk mudik ditemani oleh Vermint, sahabat setia yang membantu menjaga daya tahan tubuh tetap dalam kondisi baik. Alhamdulillah mudik ke Ngawi lancar dan saya pun tetap dalam keadaan sehat.

IMG-20160625-WA0010

Mudik lanjutan setelah Jakarta-Solo, ini di tengah perjalanan mudik Solo-Ngawi dengan motor dan sista cantik kesayangan 😀

Ketika sampai di rumah, tantangan justru bertambah. Jika di Jakarta masih lumayan hujan tercurah, tetapi di Ngawi benar-benar kering, panas, dan membuat debu leluasa terbang kemana-mana. Jadilah saya semakin harus bertanggungjawab menjaga daya tahan tubuh agar di sepuluh hari terakhir bisa mencapai titik maksimal untuk tamu special yang kemuliaannya tak ada tandingannya. Selain sayur, buah, kurma, dan madu, Vermint masih menjadi sahabat saya mempersembahkan yang terbaik. Nah, akhirnya, Vermint tak hanya menjadi sahabat saya saja, tetapi juga menjadi sahabat ibuk dan ayah saya. Setelah mengonsumsi Vermint beberapa hari, Ibuk merasa tidak cepat lelah seperti biasa, panas-panas di telapak kaki juga banyak berkurang dan kolesterol setelah dicek juga dalam keadaan normal. Kata Ibuk, badan bisa jadi lebih segar. Beda lagi cerita dari Ayah, beliau memiliki alergi yang hampir sama dengan saya, setelah beberapa hari menjadi sahabat Vermint, Ayah saya jarang mbeler-mbeler lagi jika kena debu. Jadi, bersemangatlah keduanya menjadi sahabat Vermint.

DSC_0002_1468139014

Mudik ke-3, Ngawi-Tulungagung bersama keluarga

Ada satu lagi cerita menyenangkan tentang Vermint. Tadi pagi, ada seorang sahabat yang berkunjung ke rumah. Sahabat saya ketika SMP sekaligus sahabat bahkan belahan jiwa Mas Partner dari SMA hingga sekarang. Dia bercerita bahwa pernah berkunjung ke pabrik pembuatan Vermint dan menceritakan betapa bersih pabrik hingga proses pembuatannya. Ah, makin antusias menjadi sahabat Vermint untuk berbagi manfatnya.

Menjadi sahabat Vermint itu bagi saya adalah sebuah usaha untuk menjaga nikmat sehat tetapi juga tidak melupakan dengan selalu memohon anugerah sehat yang titipkan Allah. Karena anugerah sehat itu datang dengan beragam cara dan berbagai perantara. Kewajiban kita adalah berusaha, iya kan? Iya kan? 🙂

Selain itu, kita juga harus memiliki hati yang bahagia, tentram, dan tetap optimis. Karena pernah ada yang mengatakan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, jadi tetaplah berprasangka baik bagaimanapun keadaannya agar Allah titipkan bahagia di hati dan pikiran hingga sehatnya badan yang menunjang segala aktifitas kebaikan sebagai salah satu wujud syukur pada anugerah Allah. 🙂

imej vermint

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-StyleComments (2)

AIA Sakinah Assurance: Tenang, Optimal, dan Bahagia

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

 

AiA

Adakah yang memiliki pengalaman berasuransi? Nah, kali ini saya ingin sedikit cerita tentang pengalaman berasuransi, bukan saya secara langsung sih, tapi pengalaman orangtua…hehe

Sekitar akhir tahun 2014, ayah dan ibu saya (sedikit) direpotkan oleh pihak asuransi. Uang yang seharusnya diterima di akhir tahun 2014 hilang melayang tanpa kabar. Kantor asuransi yang berada di kota orangtua saya tinggal, di Ngawi, sudah tutup. Tinggal papan nama saja. Lalu, orangtua saya ikhtiyar mencari alamat kantor asuransi yang bersangkutan di Madiun. Hasilnya, kantor yang di Madiun juga sudah tutup. Tidak sampai di situ saja usaha yang dilakukan, saya juga mencoba mencari kantor asuransi tersebut di Jogja. Saya cari alamatnya melalui bantuan Google yang semua orang mengakui keserbatahuannya. Ada beberapa alamat yang saya dapat waktu itu. Kantor pertama yang saya tuju adalah kantor di daerah Jalan Kusumanegara, bahkan sampai bolak-balik 4 kali untuk benar-benar memastikan pun kantor asuransi tersebut sudah tidak ada. Alamat kantor yang saya dapatkan itu sudah berubah menjadi toko mainan. Hingga akhirnya, ayah saya mengatakan kalau kantornya memang benar sudah tutup. Setelah segala usaha telah dilakukan, akhirnya memang harus pasrah dan menerima kalau memang belum rejeki.

Nah, sejak saat itu ayah dan ibu saya tidak pernah mengambil jasa asuransi lagi karena takut berakhir dengan nasib yang sama, meskipun sebenarnya juga masih membutuhkan. Beberapa bulan belakangan ini, saya pun juga berfikir tentang asuransi. Jadilah saya cari-cari informasi, tanya sana tanya sini, bahkan ikut beberapa sosialisasi dari penyedia jasa.

Seperti halnya jodoh, menentukan pilihan akan menggunakan jasa asuransi juga membutuhkan kemantapan hati dan kecocokan lhoo… *hahaha* 😀 Caranya dengan menggali info sedetail mungkin, profil penyedia jasa hingga testimoni pengguna jasanya. Ya, hampir sama kan ketika akan memantapkan hati melangkah untuk meminang? 😀

Saya pun demikian, ada usaha yang saya keluarkan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya misal saya ikut sosialisasi yang diadakan oleh AIA dan semakin saya tahu lebih dalam maka pilihan hati saya condong ke Asuransi AIA Sakinah Assurance. Semakin saya kepo semakin lagunya Mas Anang terngiang berdendang “Jodohku, maunya ku dirimu”. 😀

DSC_0002 (1).jpg

Acara Blogging & Beyond bersama Blogger Perempuan, Valuklik, dan AIA di Institute Coffee, Jakarta Selatan.

Saya menemukan hal yang berbeda lebih tepatnya konsep yang diusung oleh Asuransi AIA Sakinah Assurance yaitu mengangkat tentang filosofi persahabatan sejati. Terlihat sederhana bukan? Namun, bagi saya filosofinya yang dimiliki begitu besar. Sahabat sejati itu akan berusaha ada di kala sedih maupun senang. Nggak ilang-ilangan. Bisa menghadirkan kenyamanan dan menjaga kepercayaan. Memiliki sahabat sejati itu anugerah lhoo. Siapa yang nggak kepengen? Saya yakin semua menginginkannya. Nah, penjelasan tentang konsep persahabatan sejati yang dimiliki Asuransi AIA Sakinah Assurance saya buat di gambar agar lebih mudah dibaca dan dinikmati.

Untitled-1

Selain memiliki filosofi yang nggak main-main, penyedia asuransi yang satu ini memiliki alamat kantor yang jelas di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan serta memiliki customer service yang selalu on dan siap melayani dan tentu saja dengan pelayanan yang ramah dong ya… 🙂

AiA Sakinah

Sumber gambar di sini.

Asuransi AIA Sakinah Assurance juga memberikan manfaat berupa manfaat proteksi dan investasi. Manfaat proteksi yaitu, 100% santunan meninggal, +100% santunan meninggal kecelakaan, +100% santunan meninggal kecelakaan saat menjalankan ibafah haji ataupun umrah. Serta manfaat investasi berupa 100% nilai dana investasi yang terbentuk dari kontribusi yang diinvestasikan. Selain itu masih ada manfaat tambahan lainnya, berupa asuransi kesehatan, asuransi perlindungan terhadap penyakit, dan asuransi perlindungan terhadap cacat tetap total.

Nah, penasaran? Coba deh main-main ke ‘rumah’ AIA Sakinah Assurance agar kebingungan-kebingungan untuk menentukan pilihan bisa (sedikit) tercerahkan. ^^

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-StyleComments (25)

2016 & 'One' Projects

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Anggaplah bulan Februari ini rasa Januari di mana banyak orang menulis semua target-targetnya di tahun 2016. Bukan ngeles yaaa…*haha. Nah, tahun ini pun saya juga ingin menuliskan apa target saya atau biasanya yang disebut resolusi, karena tahun-tahun sebelumnya saya sangat malas dan (sedikit) menyepelekan mengapa target harus ditulis. Cukup diingat-ingat saja, sok-sokan kalau memori otak penuh dengan keterbatasan.

Target tahun 2016 ini, saya ingin memulainya dengan ‘One’ sebagai awal nama proyek-proyek pribadi atau sesuatu yang ingin saya capai.

One Day One Juz

Sebenarnya saya bergabung dalam komunitas ini sudah sangat lama, bisa dibilang ketika awal-awal group ini mulai diperkenalkan kepada khalayak. Parahnya, hanya bertahan satu saja karena member  group yang jarang konsisten lapor disebabkan banyak alasan hingga akhirnya saya ganti no WA dan ganti HP, totalitas sekali bukan?*hehe

Lalu, saya move on ke One Day One Page bersama teman-teman relawan rumah tahfidz PPPA Daqu Jogja. Takdir group ODOP juga tidak bertahan lama, kenapa? Alasannya tetap alasan klasik. Ya sudah, saya pasrah.

Ikhtiyar saya selanjutnya adalah tetap menjaga kekonsistenan tilawah dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa itu adalah sebuah kebutuhan bukan sekedar kewajiban lapor bahwa sudah selesai tilawah. Keberadaan group tilawah hanyalah sebagai penyemangat di luar diri sendiri. Ditambah doa semoga bisa berada dalam group tilawah yang anggotanya punya semangat luar biasa. Daaaaaaan, pada November 2015, saya ditawari kakak, sebut saja Mbak Lan begitu saya memanggilnya, menawari saya untuk masuk ke groupnya. Tanpa pikir-pikir dan jual mahal, saya iyakan.

Seperti dalam lagunya Opick, berkumpul dengan orang-orang saleh. Cieeeeeee…. Selain masuk group, saya juga membuat tabel ‘Absensi Pribadi’ dengan dua tabel: Mas Partner dan Dek Partner. Tujuannya, sebagai pengingat kebutuhan akan tilawah dan sebagai evaluasi bulanan seperti apa grafik tilawah masing-masing. Agar kebiasaan baik terbentuk, maka juga harus dibiasakan tiap hari dari sekarang. Karena surga bukan sekedar angan, tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Iya kan? Iya kan? 🙂

One Day One Post

Ini bagian dari proyek idealisme. (Masih) terlihat susah, tapi tetap akan diusahakan seserius mungkin. Selama ini alasan yang membuat blog ini sering kosong adalah rasa malas ‘ah, nanti aja.’ lalu tak terasa hari berganti dan ide pun pergi. It is not a big deal! Maka dari itu, saya pun bertekad untuk terus mengatur waktu agar bisa mewujudkan target yang satu ini. Semoga banjir ide daaaaaan nggak malas. Aamiin.

Menulis bersifat mengikat dan menebar manfaat. Ya, daripada gosip sana sini lebih baik nulis aja di blog. Iya kan? Kalau menulis adalah jalan menjemput rejeki ya itu bonus. Tulisan besar lahir dari tulisan-tulisan sederhana, serpihan-serpihan gitu. Menulis bagian dari skill yang butuh dilatih tiap hari. Perlu belajar tanpa henti.

One Week One Review

Nah, proyek yang satu ini sudah lamaaaaa sekali dalam angan. Lagi-lagi alasannya belum sempat *hiks. Semoga bulan ini, di minggu ini meski udah weekend, bisa dimulai dan benar-benar perpampang nyata. Punya blog review buku seperti punya Mbak Ziyy di sini yang udah jadi inspirasi dari dulu kala.

Proyek ini juga berarti bahwa setidaknya, dalam satu minggu harus baca minimal satu buku, ya novel gitu deh. Karena tidak mungkin ada review (punya sendiri) tanpa baca lebih dulu. Iqra! Iqra! Iqra!

One Month One Museum

Tahun lalu, saya punya ide untuk punya blog khusus tentang museum yang saya kunjungi sekaligus sebagai promosi atau ajakan bagi orang-orang khususnya kawula muda agar berminat dan semakin tertarik untuk mengenal dan berkunjung ke museum. Yah setidaknya, agar museum makin ramai pengunjung. Proyek ini saya namai Dolan Museum. Sementara ini masih sekedar foto-foto saja di akun pribadi instagram saya. Rasanya gatel ingin segera menuliskannya di blog, tetapi saya masih memiliki kebingungan dan masih krisis rasa percaya diri. Semoga bisa segera launching blog ‘Dolan Museum’.

One Year One Loving Cup

12654653_949522088463112_2766261436437902179_n

Tahun 2015 kemarin, saya tutup dengan satu piala, meskipun piala dan piagam penghargaannya diserahkan baru tanggal 1 Februari 2016. Desember 2015, keberuntungan dari Allah, nama saya masuk di barisan pemenang (hanya) Juara Harapan 1 Lomba Menulis Karya Tulis Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh KOWANI yang bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Piala, piagam, dan hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Menteri, Yohana Yembise.

Proyek ini saya adakan karena saya ingin menantang diri saya sendiri untuk mengalahkan bisikan-bisikan negatif dan ingin memberi yang terbaik untuk diri saya. Ingin lebih produktif lagi, lagi, dan lagi. Piala yang terkumpul nantinya ingin saya tunjukkan pada anak saya dan semoga bisa menjadi inspirasi sekaligus semangat bagi anak-anak. Hingga di titik ini, hal yang membuat saya semangat belajar dan mengumpulkan pengalaman adalah karena kalimat: kecerdasan seorang anak diturunkan langsung dari ibunya. *maap kalau gak nyambung…haha

Jadilah kalimat itu sebagai penyemangat saya dalam menjemput ilmu (berijazah maupun tak berijazah), menjadi ibu cekatan dan produktif.

 

Yap, itulah empat proyek besar saya (secara umum). Semoga bisa konsisten dan memenuhi komitmen pribadi. Semoga bisa jadi ide yang bermanfaat untuk ditiru dengan senang hati silakan. Semoga bermanfaat ^^

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (6)

Commuter Marriage, Siapa Takut?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Beberapa kali bahkan mendekati level sering, saya mendapat pertanyaan ‘Bagaimana menjalani LDR agar bisa tetap heppi?’, ‘Bagi tips menjalani LDR dong, Cind’, atau ‘Gimana biar LDR-ku semanis LDR-mu?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang berujung pada pertanyaan yang intinya sama, Commuter Marriage atau lebih sering dikenal sebagai Long Distance Relationship atau Long Distance Marriage bagi sebagian besar pasangan yang telah menikah adalah hal tidak mudah dijalani termasuk bagi saya sendiri. Terlebih lagi, saya heran ketika (ternyata) banyak dari teman-teman yang melihat saya tetap happy dengan commuter marriage yang saya jalani sekarang. Alhamdulillah.

Commuter marriage itu mudah diucapkan tapi susah dijalani (haha…iklan). Ya, memang tidak mudah. Bayangkan saja, baru saja menikah yang seharusnya hidup berdampingan, bahu membahu mengerjakan tugas rumah tangga, pacaran tiap malam minggu, makan bersama, pergi belanja berdua dan sederet rutinitas biasa berubah menjadi manis dan spesial (pakai telor), tiba-tiba menjalani rutinitas seperti biasa saat masih menjadi single fighter bahkan (mungkin) ada yang dibarengi dengan berandai-andai jika sang kekasih berada di sisinya. Karena tidak mudah menjalaninya, biasanya akan terlampiaskan di FB atau jejaring sosial lainnya. Ya, itu bentuk ekspresi.

Saya yakin, semua pasangan di dunia ini akan memilih hidup berdampingan tanpa berjauhan. Hidup bersama selayaknya suami istri, membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah dalam satu atap. Memelihara cinta kasih tanpa sejengkal jarak. Menanti buah hati dan menjalani tahap demi tahap kehidupan berumahtangga.

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya pun demikian, benar-benar menginginkan kehidupan yang ‘normal’, ingin mencecap manis pernikahan tanpa sejengkal jarak. ‘Jarak’ ini bukan tanpa alasan. ‘Jarak’ ini adalah pilihan dan saya salut pada kebesaran hati serta dukungan yang tak terbilang life-partner saya, kedua (pasang) orangtua saya sekaligus rasa syukur tak terhingga kepada Sang Maha. Alhamdulillah.

Hidup itu pilihan dan semua resiko dari sebuah keputusan harus tetap dihadapi bukan diratapi. Susah atau senang dalam menjalani commuter marriage itu berbeda-beda bagi setiap orang dan cara mengekspresikannya. Ada yang mengekspresikannya dengan update status ‘Kangen Abang yang di sana. Baru dua hari pisah serasa udah dua tahun lamanya’ dst. Ada yang lebih memilih memendamnya, menyendiri, atau mencatatnya dalam diary. Itu pilihan.

Saya menyikapi commuter marriage sebagai resiko dari sebuah pilihan. Saya yang diawal-awal juga sedih, tumbuh rasa iri kenapa memilih ‘jalan’ ini, dan rasa putus asa apakah bisa. Waktu mengantarkan saya belajar dan waktu membuat saya mengubah cara pandang dengan melihat commuter marriage dari sisi yang lain.

Pernikahan adalah dermaga tempat kita berhenti sejenak menjemput kawan seperjalanan. Kawan untuk saling mendukung dan menyemangati. Meski harus menyemai cinta kasih dalam jarak. Bahwa tak ada yang sia-sia dalam sebuah pilihan dan keputusan. Bahagia dan tidak bahagia tergantung pada seberapa besar rasa syukur yang hadir dan usaha nyata mensyukurinya. Bersyukur atas jarak yang membentang. Bersyukur atas waktu dan kesempatan yang menumbuhkan harapan-harapan. Saya bersyukur atas ‘bonus’ karena bisa memperpanjang kontrak tinggal di Jogja. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu-waktu dimana saya masih bisa belajar. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu untuk terus bertatap dengan sahabat-sahabat saya. Saya bersyukur atas waktu dan kesempatan untuk saya terus fokus menjemput takdir di kota ini. Saya bersyukur atas apa yang saya jalani. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka bersyukurlah dan engkau akan bahagia.

Commuter marriage ini tak menyisakan ruang kosong yang tak terisi dengan rindu. Setiap detiknya rindu itu tumbuh dan saya hanya bisa menjaganya, menitipkan pada dekapan Tuhan karena Dia adalah sebaik-baik penjaga dan pemberi. Jika rindu sudah overload dan butuh tempat untuk mengekspresikannya saya lebih memilih untuk sendiri, mendekap cinta saya dengan doa-doa. Memeluknya dalam sujud panjang bukan status di jejaring sosial. Sebanyak apapun saya ‘nyampah’ berkata ‘aku merindukanmu’ itu tidak akan memampatkan jarak yang jauh menjadi dekat. Sebanyak apapun kata rindu terucap tidak akan menjadi pintu doraemon yang mengantarkan saya datang di hadapan cinta saya di seberang sana. Rindu-rindu itu teruntai dalam doa yang berulang-ulang. Jika harus menangis masih ada lantai yang akan dengan lapang menerima bulir-bulir hangat. Mendekap cinta dengan doa. Pada saatnya nanti, akan ada buah yang teramat manis, sebuah hikmah yang luar biasa manis. Saya hanya perlu percaya dengan sebaik-baik keyakinan. Berharap, mungkin jarak ini adalah ‘warming up’ untuk jarak-jarak yang tak disangka di depan sana. Semoga Alloh menjaga kami. Menjaga diri dan hati kami. Semoga selalu ada bahagia dan sakinah dalam jarak. Semoga saya dan life-partner diberi kesabaran hingga nanti kami disatukan tanpa jarak. Semoga ini adalah kesempatan dalam rangka mempersiapkan kedatangan kakak kecil dan adik-adiknya ^^
Tetap optimis dan selalu berprasangka baik kepada Sang Maha, Ia tak akan menetapkan kesia-siaan pada hamba-Nya termasuk dalam menjalani commuter marriage.

Yap, itu sikap saya. Bagaimana sikapmu yang sedang menjalani commuter marriage seperti saya?

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-StyleComments (2)

Sensasi [Pasca] OD

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

OD, bukan over dosis lho melainkan itu adalah istilah yang digunakan oleh dokter gigi saya di detik-detik menjelang operasi pengangkatan gigi bungsu saya yang melintang. Sayangnya, setelah ‘ritual’ itu selesai, saya lupa untuk bertanya apa OD itu dalam dunia kedokteran gigi karena saya telah teralihkan oleh rasa takut apa yang akan saya rasakan jika bius itu telah habis.

Flashback: aku dan ‘bungsu’

Saya masih teringat saat tengah malam saya menangis dalam keadaan tidur, bahkan setelah bangun saya justru merasakan sakit yang luar biasa di bagian gigi geraham paling belakang sebelah kanan hampir berdekatan dengan telinga. Saat itu saya menangis di depan teman-teman kos lantai tiga yang ada di depan saya, bisa dibilang saat itu saya lupa dengan umur saya (hahaha…). Karena ‘ulah bungsu’ saat tengah malam itu, saya bisa merasakan The Amazing of Cengtri seperti dalam film 3idiots menuju kediaman sekaligus tempat praktek my fairy tooth di Kawasan Malioboro dekat Hotel Melia Purosani. Ya, malam itu saya diaba-aba untuk segera menjalani OD karena jika ‘bungsu’ tak segera diangkat maka saya harus rela merasakan sakit jika ‘bungsu’ ‘berulah’ lagi. Rasa sakit itu tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang lagi. Jika sudah menyerang, saya akan susah membuka mulut dan merasakan sakit kepala yang amat sangat. Meskipun ada obatnya tetapi jika terus-terusan mengandalkan obat dampaknya juga akan kurang sehat. Apalagi jika ditunda terlalu lama dan mendapati ‘bungsu’ telah berlubang, rasanya akan semakin sulit saja nantinya. Tak perlu menunggu lama, siangnya, saya pun dianjurkan untuk rontgent merekam jejak ‘bungsu’ yang ternyata posisinya melintang alias tertidur.

Saat OD: seperti melahirkan

Jujur saja, saya sebenarnya belum tahu bagaimana proses dan rasanya melahirkan tetapi pasca OD hari Senin (28/3) rasanya plong seperti seorang ibu yang selesai melahirkan melalui operasi cesar. Betapa tidak, saat itu hanya menggunakan bius blok untuk mematikan rasa untuk sementara. Semua proses dapat dilihat dan dinikmati, mulai dari pisau yang membedah gusi, proses pengangkatan hingga penjahitan. Saat ‘bungsu’ diangkat saya pun melihatnya, saat ia dikeluarkan dari persembunyiannya lalu dikeluarkan dari mulut saya dan diletakkan di selembar tissu putih. Melihat bahwa saya telah berpisah dengan ‘bungsu’ sebenarnya ada rasa sedih dalam benak saya tetapi di sisi lain saya merasa lega sesaat setelah OD.

Pasca OD: terasa sensasinya

Tak seperti cabut gigi biasa, setelah ‘bungsu’ diangkat dampaknya baru terlihat: bengkak, demam, susah buka mulut, susah makan dan susah bicara, tentunya sakit dan nyeri karena luka dan jahitan. Dari semua dampak yang bermunculan saya susah sekali menahan sakit dan keinginan untuk makan bahkan saya memanfaatkan buku ide redaksi Mini Magz untuk menulis makanan-makanan yang ingin saya makan (bersama teman-teman redaksi Mini Magz…hehehe…) dan di hari kelima pasca OD alhamdulillah saya bisa membuka mulut, bicara, sedikit lancar mengunyah meskipun belum say goodbye pada rasa sakit dan nyeri. Pasca OD juga memberi saya kesempatan ekstra untuk istirahat sejenak di rumah walaupun harus benar-benar rela meninggalan banyak tugas dan kewajiban. Saya harus senang karena hati yang senang adalah obat ^^ serta perhatian dari sahabat-sahabat saya atas saran-sarannya, terimakasih ^^

Saya hanya bisa berharap semoga setelah dilepas jahitannya akan sembuh total dan rasa sakit pasca OD selama beberapa hari ini akan terganti dengan sehat seterusnya. Bisa tersenyum, beraktivitas dan menikmati romansa diantara tumpukan tugas dan kewajiban-kewajiban yang lain ^^
Ya, inilah romantisme saya bersama ‘bungsu’ dan hal-hal konyol yang telah terjadi di antara kami. Meskipun sakit, saya menikmatinya.

*Sedikit saran dari saya, rutinlah memeriksakan gigi kalian ke dokter gigi. Itu sangat bermanfaat sekali. Sejak saya memutuskan untuk ‘berpagar ayu’ saya berkewajiban mengunjungi dokter gigi setiap dua minggu sekali dan itu sangat bermanfaat karena saya bisa bertanya tentang banyak hal seputar kesehatan gigi.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (0)

Para Tersangka Paling Kompak

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar
Empat anak perempuan keluar kamar berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang sama “mau diapakan kita?” Terus berjalan melintasi koridor dan masih sempat-sempatnya bersay hello dengan yang lain. Ghurfah addluyub kosong tak ada konferensi kecil disana karena malam telah cukup larut. Mereka terus berjalan hingga melewati teras depan asrama.
“Huuhhh, aina na’li??” “Mafii kulluh!!!” seorang dari mereka yang teridentifikasi bernama zeinth memulai membuka percakapan.
An’ass jiddan….” ryan pun tak kalah dengan gerutuannya.
“Kholas yaa akhwati… Hayya bisur’ah!!!” Arrozi pun juga tak mau kalah untuk ikut berkomentar, hanya Fath alias si Bontot yang tak berkomentar karena dia satu-satunya anak dari mereka berempat yang sedang mengumpulkan nyawa untuk hidup. Akhirnya tak satupun sandal mereka temukan.
“Payah banget!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat aku gak pake bahasa”, ryan terus saja berceloteh ria dan tak sadar bahwa mereka berada dalam zona bahasa.
Tanpa alas kaki alias nyeker, tibalah mereka di ruang sidang–kamar ustadzah–
Setelah berucap salam, mereka berempat memasuki ruang sidang. Setelah bercakap-cakap tibalah pada inti permasalahan kenapa mereka dipanggil. Ustadzah hanya tersenyum dan berkata, “Kenapa kalian berempat sangat kompak, satu kamar tak ada yang tahfidz hari ini??”
dan mereka berempat menjawab serempak tanpa ada komando, “Kami ketiduran, Ustadzah dan kamar kami kunci dari dalam.”
“Besok jangan terulang lagi yaa…” kata ustadzah.
“Memang kita tukang tidur semua…”

Keesokan hari…
Jam dinding penjara suci berdentang menunjukkan pukul 21.00 ritual akan segera dimulai–mahkamah bahasa– setelah terdengar kata-kata yang tak asing lagi “nahnu min qismu lughoh….bla…bla….”. Faith berseru, “Show time ryan, kakak tuaku kali ini kau tak kan lolos dari mahmakah hehe….”
Hingga akhirnya disebutlah nama mereka berempat tentu saja seantero penjara suci mendengarnya.
Mereka keluar dari kamar melewati koridor–uiiih…serasa jadi artis haha…– teman-teman dari kamar lain berseru pelan ” Chayo… Cah Firdaus dari kemarin kok kompak banget…”
Tibalah mereka di ruang sidang alias di teras depan yang langsung menghadap makam.
Tanpa basa-basi langsung hakim membacakan kesalahan masingt-masing tersangka.
Hakim: “ukhti ryan, antum bilang Payah banget!!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat!! Aku gak pake bahasa…”
Hakim: “ukhti Faith,Aku suka yang panjang…. Hey… buka aja pelan-pelan”
Hakim: ” ukhti Zeinth, dia tuch terlalu gede, pa gak da yang lain”
Hakim: ” ukhti arrozi, huuuhhh kalo habis makan diberesin donk!!!”
Hakim: Great!!! Your punishment…..
Make a story….dan selamat atas kekompakan kalian.

*Salam kompak untuk kalian…
Semua itu tak kan terulang…
Tapi kita akan tetap ingat apa yang pernah kita lakukan… It’s amazing…!!!
Untuk adek-adek jangan ditiru…
Maaf untuk semua…

Ket:
Ghurfah addluyub : ruang tamu
Aina na’li : dimana sandalku?
Mafii kulluh : Gak ada semuanya
An’ass jiddan : aku ngantuk banget
Kholas yaa akhwati, Hayya bisur’ah : Sudahlah… Ayo cepat!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (3)

Never Endingt Spirit

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Masih ingatkah kalian dengan drama korea “One Litre of Tears” ? Disana diceritakan perjuangan seorang gadis yang terkena penyakit kelumpuhan total yang mempunyai semangat untuk terus membantu orang lain. Ketika seluruh tubuhnya lumpuh, dia kehilangan semangat. Namun, sang ibu memberi semangat bahwa semangat yang ditunjukkannya memberikan inspirasi bagi orang lain yang berada dalam kondisi terpuruk dan yang lebih penting, buku harian yang dituliskannya memberikan dorongan nyata tentang “Hidup harus diteruskan apa pun kondisinya.”

Jangan pernah beranggapan bahwa sudah terlambat mengarahkan kembali minat kita. Boleh jadi memang sudah terlambat tetapi selalu akan ada kesempatan selagi udara masih terhirup. Setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali atau terlibat dengan apa yang menjadi impian. Tidak ada kata “Tidak” untuk tetap bertahan dalam keterpurukan. Teruslah melangkah dengan penuh keyakinan. Raih apa yang menjadi impian kita walaupun jalan yang kita tempuh berbeda. Tetap semangat…..!!!

Terimakasih untuk “Never Ending Spirit”nya….

“Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai”


Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (0)


BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME