Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Rahasia Dongeng Kopi

Aku tak pernah lagi mengharapkan hal-hal yang megah dalam hidupku. Aku hanya menginginkan sebuah senyum sumringah tatkala aku menyatakan cinta lalu aku diterima, berlanjut pada sebuah langkah ringan dan kau digenggaman. Berteriak pada dunia bahwa aku cukup punya nyali dan mampu menaklukkanmu, setidaknya sekali saja atau mungkin kau dengan senang hati berkali-kali jatuh hati padaku.

“Kau, mau tidur lagi? Bahkan setelah minum kopi?”

“Lalu aku bisa apa selain tidur setelah aku berkali-kali dapat penolakan?”

“Apa dunia akan berakhir hanya karena penolakan?” Kalimat itu selalu saja ia ucapkan dengan posisi dan gaya yang sama. Duduk di atas kursi kesayangannya dengan kaki kiri di atas kaki kanannya sambal menikmati segelas susu dan ekspresi yang sangat menyebalkan.

“Oh, Ka, kamu sebaiknya lari aja. Lari dari kenyataan.” Teman baikku itu selalu mengaku bahwa gurauannya semata-mata untuk menghiburku yang telah tak terhitung lagi mendapat penolakan. Saat ia tertawa dengan penuh kepuasan, aku hanya bisa berbalik badan sambil melambaikan tangan kananku dan bersegera meninggalkannya.

Tidur setelah mendapat penolakan bagiku adalah ide yang bagus karena sejatinya tidur adalah sebuah kesempatan untuk melepas penat dan mengabaikan segala kenyataan dengan menggantikannya dengan khayalan. Membangun khayalan sepuas-puasnya meskipun setelh terbangun akan teringat kembali dan menerima kenyataan bahwa aku sudah meninggalkan dunia khayalan. Tak apa, setidaknya aku sudah cukup lega untuk melepas kekecewaan beberapa saat yang lalu.

***

“Ka, kau hanya akan menghabiskn malam minggumu hanya dengan duduk di kursi, menghadapi komputer dan kalender yang penuh dengan coretan ini?”

“Iya, kenapa?” Sambil melanjutkan corat-coret di kalender dan sticky note.

“Dengarkan aku! Ganti piyamamu ini dengan baju yang rapi dan paling nyaman. Lalu ganti sandal boneka Winnie The Pooh yang udah buluk itu dengan sepatu kets atau wedges-mu.” Dia melempar sandal kesayanganku hingga depan pintu kamarku. Dulu aku selalu berteriak jika Ruf melakukannya, tapi sekarang aku benar-benar sudah kebal.

“Pergilah keluar! Jalan-jalan sana!”

“Kenapa aku harus jalan-jalan? Aku sedang semangat untuk di rumah, menulis dan menikmati kopiku. Kau mengkhawatirkanku? Dengan penuh curiga aku menatapnya yang masih saja berdiri di sampingku.

“Iya, aku mengkhawatirkanmu.”

“Waaaaaaah, habis makan apa tadi? Aku terharu, Ruf.”

“Aku mengkhawatirkanmu, mengkhawatirkan kesehatan jiwamu.” Ruf mengucapkannya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan dengan tawa yang memperlihatkan deretan giginya rapi.

Tawanya terhenti ketika ponselku berbunyi sebagai tanda bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Pesan yang membuatku berbinar-binar untuk sesaat tapi membuat nyala api semangat padam sesaat setelah pesan aku buka dan selesai kubaca.

“Aku ditolak lagi.” Kuletakkan ponsel di atas meja dengan kasar dan kepala yang mendarat di atas meja yang cukup keras. “Kenapa aku ditolak lagi?”

Tak perlu waktu lama untuk berganti pakaian dan sandal seperti yang disarankan Ruf untukku. Aku seharusnya memang memiliki pelampiasan selain tidur setelah ditolak. Malam terlalu terang, purnama di langit terlalu sempurna untuk dilewatkan dan romantisme Jogja yang tiada pernah berhenti untuk dilewatkan dengan sembunyi di dunia mimpi dan khayalan.

Aku bagai butiran debu dalam lagu yang tak tahu arah tujuanku malam minggu ini. Aku hanya berkeliling dengan motor kesayangan menelusuri Selokan Mataram ke arah Outlet Biru yang tiada pernah sepi. Hingga tiba di perempatan, aku memutuskan untuk belok kiri dan terus kunikmati jalan yang kulewati. Membuang pandangan di luar seperti ini memang lebih sehat dibanding harus menangis di pojokan.

Di ujung jalan terlihat ringroad utara yang hamper menyapa yang itu artinya aku harus menikirkan rute berikutnya aku harus ke mana tapi sebelum purna jalan yang kulewati, ada sebuah papan nama dengan sebuah bangunan serta suasana yang unik. Seperti memiliki daya magis yang mampu membuatku memutuskan untuk berhenti dan masuk ke dalam.

DSC_0002_132
Dokumentasi Pribadi

Aku menarik sebuah kursi kayu yang tinggi di depan meja panjang seperti bar sambil mengedarkan pandangan ke depan dan sekelilingku. Di depanku banyak berjajar toples kopi dari berbagai jenis yang bisa ditebak dari mana semua biji kopi itu berasal.

“Selamat malam, Kak. Ingin pesan apa?” sapa seorang mas-mas yang masih muda dengan senyum yang ramah.

“Espresso dengan satu jenis kopi aja.”

Aku menikmati ritme suara mesin di depanku yang sedang dimainkan oleh mas-mas yang tadi menyapaku. Syahdu seperti rintik hujan dan akan menjadi paduan yang sempurna dengan aroma kopi diseduhan pertama. Romantis sekali bukan? Ditambah lagi, jika usahaku selama ini diterima meskipun hanya sekali saja.

Espresso pesananku tersaji di hadapan dengan sempurna. Cangkir yang tak sendiri, ia ditemani dengan sebuah biscuit manis dan gula. “Ah, malam ini hanya aku yang benar-benar sendiri, baru aja ditolak lagi pula.”

“Udah biasa ngopi ya Kak?”

“Iya.” Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sambal terus melempar pandangan kosong pada secangkir espresso yang terus saja kuaduk lalu sedikit demi sedikit aku nikmati dalam sruputan kecil.

“Kenapa memilih espresso untuk mala mini, Kak?”

“Entahlah, aku hanya menyempurnakan pahitnya hari ini setelah ditolak.” Aku hanya bergumam dan tak peduli apakah mas-mas yang ada di seberang meja itu benar-benar mendengarnya. Aku melihat mas-mas yang membuatkan secangkir espresso untukku menyapa orang-orang yang keluar dan masuk tempat ini, tetap dengan semangat dan senyum sumringah. Mas-mas yang akhirnya aku sadari setelah kesadaranku benar-benar pulih bahwa laki-laki yang ada di depanku ini adalah seorang barista dari kedai kopi bernama Dongeng Kopi.

***

Aku seperti memiliki rindu dan candu pada Dongeng Kopi. Di kesempatan ini aku berniat ke mengunjunginya dengan suasana hati yang berbeda, dengan suasana yang hati menerjemahkannya sebagai rasa bahagia. Rasa bahagia bahwa aku telah mengirimkan kesungguhan cintaku dan rasa lega bahwa aku masih produktif untuk bisa terus menciptakan cinta dalam karya. Ya, meskipun aku tahu kabar buruk lagi yang mungkin akan menghampiriku. “Ah, hadapi saja nanti” gumamku sambal bersiap-siap berangkat ke Dongeng Kopi.

Sebelum melewati pintu, di tempat parkir ada sebuah pesan untuk semua pelanggan yang memarkir motornya “Motor jangan dikunci stang, kunci saja hatimua ^^.” Betapa sambutannya sangatlah hangat, ramah, dan tak kaku.

Aku menarik kursi kayu tinggi di depan meja panjang seperti bar tepat di pintu masuk. Posisi ini menjadi favorit karena aku tak hanya menikmati setiap seduhan kopi tetapi juga menikmati sebuah tangan yang cakap meracik dan meramu berbagai olahan kopi yang siap dinikmati oleh setiap orang yang datang memesannya. Aku juga bisa menikmati berbagai macam kopi dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.

“Semua kopi di dalam toples ini hanya sebagai display atau juga dijual?” tanyaku.

“Dua-duanya, Kak. Kali ini, mau pesan espresso lagi?” tetap dengan senyum ramah dan penuh semangat.

DSC_0001_190
Dokumentasi Pribadi

“Nggak, aku mau hot cappuccino. Apa bisa pakai kopi Kawah Ijen?” sambal menunjuk pada toples kopi bertuliskan “Kawah Ijen.”

“Bisa, Kak. Mohon ditunggu ya.”

“Hmmm, kenapa memilih jadi barista?” Pertanyaan yang tiba-tiba saja meluncur tapi aku pun mengakui bahwa aku selalu penasaran dengan hal-hal yang mungkin bagi sebagian besar orang adalah sebuah basa-basi belaka.

Passion, Kak. Jadi barista adalah passion. Bukan lagi sekedar hobi. Kalau hobi kan masih aka nada rasa bosan yang hinggap tapi kalua sudah passion nggak akan ada kata bosan karena dorongan terbesar dari sebuah passion adalah rasa cinta.”

Sang barista pun melanjutkan, “Dengan passion kita akan bisa meniupkan ruh dalam karya yang kita hasilkan. Bukan sebuah karya yang tanpa nyawa. Menjadi barista, saya belajar bagaimana bertahan dari putus asa. Belajar dari biji kopi yang sebelum ia menjadi biji, pohon kopi pun harus tahan tempa dari hama dan cuaca hingga menghasilkan biji kopi terbaik. Proses pengolahan kopi hingga proses menghidangkannya pun harus tahan tempa dari putus asa, menikmati proses belajar dengan tak sedikit kegagalan. Kenapa memilih cappuccino?”

“Cappuccino menggambarkan keseimbangan hidup. Terdiri atas sepertiga espresso, sepertiga susu dan sepertiga foam. Iya kan?

“Benar sekali.”

“Hanya ingin menikmati ritme hidup. Berusaha, membuktikan, lalu penolakan sebagai hasilnya. Sedih tapi akan tak sehat jika terus menerus menangis di pojokan atau tidur sepanjang hari demi sebuah khayalan yang indah. Ada kalanya memang harus berusaha menghadirkan bahagia di saat-saat kecewa karena ditolak.”

“Kakak ini benar-benar berani ya? Berani mengungkapkannya cinta. Biasanya kan cowok duluan.” Sambal dihiasi tertawa kecil yang renyah.

Ponselku berbunyi lagi. Aku seperti sudah kehilangan rasa takut kalau ini adalah kabar yang tak diinginkan. Benar saja. “Aku ditolak lagi, maksudku naskahku” sambil kusodorkan ponselku pada barista ramah yang berdiri di depanku. “Pahit sekali bukan?”

“Kakak hanya perlu menikmatinya sepertinya Kakak menikmati kopi yang ada di genggaman sekarang. Segala sesuatu ada tantangannya, Kak. Hanya perlu memahami bagaimana cara menikmatinya, ya seperti minum kopi. Bisa dinikmati dengan rasa pahit, dengan segigit biskuit atau menambahkan gula. Perlu sedikit memahami tantangan, mengubah sudut pandang, dan keberanian.”

“Mungkin aku melahirkan setiap kata itu belum ada ruh dan rasa cinta yang sebenarnya. Hanya sebuah rasa ingin menarik perhatian editor yang aku sukai bahwa aku bisa menulis. Mungkin menulis hanyalah hobi dan aku belum mendapatinya sebagai passion. Sebagai kebutuhan yang ketika aku tak melakukannya, aku merasa seperti sangat hampa. Rahasia dongeng kopi yang indah.” Ucapku pada barista yang baik hati yang berbagi rahasia dongeng pada kopi. Rasanya kali ini terasa lebih ringan dan bahagia telah menemukan sebuah pemantik untuk mengubah secuil niat dan definisi tentang rasa.

“Semangat, Kak. Besok ketika Kakak menikmati kopi pesanan Kakak. Kakak tak lagi dapat penolakan. Naskahnya.” Tetap dengan senyum penuh semangat dan optimis.

Argo Dwipangga-Bintaro-Ngawi, 21 Agustus 2016

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

13879231_1215683565130072_788867301975035194_n

Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Sekitar kurang lebih dua minggu lalu, saya bertemu dengan adik angkatan yang luar biasa tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Sebuah pertemuan yang memang sudah saya setting dari jauh-jauh hari yang sempat batal hingga dua kali, hingga akhirnya kami dipertemukan oleh sebuah nikmat bernama kesempatan. Kami bersepakat bertemu di sebuah kedai susu, sebut saja Kalimilk *haha* di tengah derai hujan yang menghiasi suasana sore saat itu.

Saya terakhir kali bertemu dengannya sekitar bulan November 2014 di tempat yang saya pikir semua orang tak menginginkannya, yap, saya bertemu dengannya di RS Panti Rapih dan sekitar dua minggu lalu saat dia menyapa dan menyalami saya, sosoknya tidak banyak berubah. Dia tetap saja seorang yang saya kenal sebagai sosok yang penuh semangat, optimis, dan punya banyak proyek yang sedang dibangunnya. Dulu saya tidak begitu dekat dengannya, tapi semoga dengan sebuah semangat ‘kerja’ di masa sekarang hingga nanti, kami bisa sedekat segelas susu hangat dan genggaman tangan.

Pembicaraan mengalir begitu saja, hingga saat itu saya bergumam bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana rentang waktu yang lama dibasuh dengan sebuah pertemuan yang tak lama. Bahagia itu sederhana, sesederhana ketika saya sangat ingin bertemu dengan semua sahabat saya satu persatu dan mendengarkan setiap kisah mereka. Sangat sederhana bukan?

Bahagia yang terasa sederhana itu akhirnya saya sadari bahwa saat itu saya dalam sebuah keadaan yang menerima, menerima kenyataan yang sesuai dengan ekspektasi saya sekaligus berada di antara rasa syukur. Lalu bagaimana bisa bahagia itu tidak sederhana?

“Mbak, coba pegang deh tanganku!”

“Kok ada getarannya? Kaya ada mesinnya.”

Dia yang di depan saya lantas tersenyum dan berkata, “Iya Mbak, jadi pembuluh arteri dan vena disambung, di jantungku juga. Ada di tiga bagian.”

Obrolan kami berlanjut hingga di scene tertentu saya dibuat kaget dengan penyampaian cerita yang ringan namun begitu berat sampai di telinga saya.

“Ini bekas luka jarum sewaktu cuci darah, Mbak. Jarumnya kira-kira sebesar pulpen itu. Karena harus 2x dalam seminggu, luka bekas jarum sebelumnya belum sembuh udah harus ditusuk lagi. Kalau sekarang aku udah pasang selang di perut trus ada semacam kran gitu untuk cuci darah mandiri, sehari 2x.”

Di tengah rasa penasaran, saya akhirnya berani bertanya kekuatan macam apa yang membuatnya bisa sangat menerima dan tetap begitu bersemangat menjalani hari-hari dengan aktifitas yang tidak sedikit serta saya masih kagum mendapati dia berucap “Aku bersyukur, Mbak. Teman-temanku dengan kondisi HB yang rendah kaya aku mereka harus transfusi. Mereka udah gak pipis, sedangkan aku masih bisa meski sedikit gak ada segelas aqua.”

Baginya, proses menerima adalah sebuah perjalanan rasa yang panjang, menjadi kuat dengan penuh semangat adalah usaha yang tiada pernah kita tahu seberapa banyak air mata yang dikeluarkan untuk meminta pada Sang Pemilik Daya untuk dianugerahkan pundak yang kuat dan langkah yang tegap. Kita tak pernah tahu, seberapa hebat orang-orang terdekatnya menghiburnya dengan tanpa air mata yang terlihat.

“Aku juga harus meng-cut mimpi dan cita-citaku, Mbak. Tapi bukan berarti aku diam aja, harus ada mimpi lain yang menggantikan dan usaha untuk mewujudkannya, yang penting terus bersyukur kan ya?”

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azabku sangatlah pedih.” (QS. 14:7).

Sebelum kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kami, saya dihampiri pertanyaan, “Aku masih cantik kan Mbak?” Sambil ia tertawa kecil dan menunjukkan foto-foto para CKD Survivor yang secara usia masih muda tetapi terlihat (jauh) lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Cerita dalam kehidupan kita adalah sebuah takdir yang bahkan kita sendiri tak mampu menerka pun merabanya. Selagi ada kesempatan, jangan biarkan menyerah pada keadaan atau merutukinya. Untuk bersyukur pun, terkadang kita hanya ingat ketika kita mendefinisikan sesuatu itu sebagai keadaan yang bahagia, khusus ini saya pun sering berada di posisi ini. Semoga bisa semakin berbenah diri dan senantiasa mampu mengambil saripati di setiap kejadian dalam kehidupan kita maupun cerita di sekeliling kita.

Jadi, bahagia itu sederhana ataupun tidak sederhana hanyalah bagaimana kita memandang dan menerima keadaan pada saat kita mendefinisikan bahagia itu sendiri.

Terus semangat dan berkarya, kawan!

Ohya, ingin kenalan dengan sosok yang saya ceritakan? Yuk, nonton video di sini https://www.youtube.com/watch?v=6qrhNKcKPyc ya 🙂

 

Makna Rumah Baru

Kartun Rumah-1Rumah adalah tempat nyaman untuk pulang, hingga ia diibaratkan baiti jannati (rumahku surgaku). Tempat untuk menyandarkan segala penat raga dan hati. Tempat di mana orang-orang menerima kehadiran kita tanpa syarat, apa adanya, bahkan adanya apa. Tempat di mana memperbarui segala semangat dan menyusun setiap cita yang berharga. Tak ubahnya rumah dalam artian hunian nyata, memiliki rumah baru bagi seorang blogger yang telah ‘ngekost’ selama 8 tahun di platform WordPress adalah sebuah bahagia sekaligus tantangan untuk terus produktif, menjaga semangat, dan terus menggali ide agar ‘rumah’ barunya tak dipenuhi sarang laba-laba 😀

Rumah baru adalah semangat baru serta komitmen baru untuk bisa lebih baik lagi dan lebih aktif lagi. Semoga penuh keberkahan dan terimakasih untuk hadiah ‘rumah’ baru ini ya Nugie 🙂

Cerita Ramadhan Hingga Mudik Lebaran Bersama Sahabat Vermint

Ramadhan tahun ini benar-benar berkesan untuk saya. Bagaimana tidak, segala lika-liku, tantangan, hingga cerita manisnya bak legitnya madumongso berpadu nastar dengan selai nanas *hahaha*

Akhir Mei lalu menjelang Ramadhan, saya sempat sakit demam plus-plus lalu berakhir dengan radang tenggorokan yang cukup menyita perhatian orang-orang di sekitar saya, karena perubahan suara yang membuat saya juga lumayan takjub 😀 Mulai dari serak-serak basah kemudian suara timbul tenggelam yang puncaknya suara tidak muncul sama sekali hingga kembali ke serak-serak basah yang jika saya bersuara di ruang ber-AC atau tempat yang tenang maka suara saya akan sangat menyita perhatian.

Radang tenggorokan yang tetap bertahan hingga Ramadhan datang dan bagi saya bukanlah hal yang mudah menjalani puasa dengan kondisi yang tidak fit sempurna.  Dalam kondisi seperti itu biasanya ketahanan tubuh juga naik turun. Apalagi saya memiliki alergi, salah satunya  jika terkena debu, hidung saya akan mbeler-mbeler dan jadi anak ingusan *hahaha 😀

Efek lain yang timbul dari radang tenggorokan yaitu, batuk yang membuat perut terasa kencang, kadang juga hingga kram perut. Badan yang rasanya selalu meriang. Duh, rasanya sedap. Semoga bisa jadi penggugur dosa apalagi bisa tetap menjalankan puasa bagi saya sudah nikmat luar biasa. Kedatangan bulan Ramadhan nikmatnya jauh lebih besar dan jauh lebih membahagiakan daripada rasa sakit yang (mungkin) tak seberapa.

Ramadhan tahun ini, dengan adanya sakit yang berlapis membuat saya melakukan persiapan yang lebih matang daripada sebelum-sebelumnya. Tak hanya persiapan ruhiyah, tetapi juga persiapan lahiriyah. Mas partner yang benar-benar totalitas menyiapkan stok buah-buahan, kurma, madu, dan cemilan 😀 Sedangkan saya tinggal santai-santai aja sambal mengingat instruksi Mas Partner. Nggak ding, Alhamdulillah, saya juga menyediakan stok Vermint untuk menjaga daya tahan tubuh. Terasa manfaatnya menjadi Sahabat Vermint untuk saya. Karena Vermint adalah supplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, Alhamdulillah membantu dan menemani saya menjalani puasa di bulan Ramadhan dengan bahagia, lancar, tenang, dan jauh dari loyo-loyo meski dengan batuk-batuk yang sering datang dan pergi, badan panas-dingin, perut kram, dan mual-mual.

Ngomong-ngomong tentang Vermint, saya punya pengalaman yang menyenangkan. Saya memiliki beberapa alergi dan sistem pencernaan yang kurang bagus khususnya siklus BAB *hehehe ^^v Nah, setelah resmi menjadi Sahabat Vermint saya akhirnya menyadari saya bisa BAB tiap hari lalu saya sempurnakan dengan FC juga. Bagi orang lain bisa saja itu biasa aja, tapi bukan bagi saya. Bagi saya itu luar biasa. Bahkan saya selalu berkabar soal itu pada sahabat saya, Aulia. *hahaha…ups*

Ramadhan dan lebaran pastilah tidak bisa dipisahkan lagi hingga sebagian besar warga ibukota seperti saya yang pastinya akan menjalani mudik lebaran. Mudik lebaran ini hukumnya wajib bagi saya dan Mas Partner. Apalagi mudik yang akan saya dan Mas Partner jalani itu tak hanya mudik ke Ngawi (rumah orangtua kami) tetapi juga ke Tulungagung, rumah Embah dari Ayah Ibuk saya. Yap, double mudik. Awalnya saya merasa berat untuk mudik karena komdisi tubuh yang naik turun, lalu memantapkan niat dan hati untuk mudik ditemani oleh Vermint, sahabat setia yang membantu menjaga daya tahan tubuh tetap dalam kondisi baik. Alhamdulillah mudik ke Ngawi lancar dan saya pun tetap dalam keadaan sehat.

IMG-20160625-WA0010
Mudik lanjutan setelah Jakarta-Solo, ini di tengah perjalanan mudik Solo-Ngawi dengan motor dan sista cantik kesayangan 😀

Ketika sampai di rumah, tantangan justru bertambah. Jika di Jakarta masih lumayan hujan tercurah, tetapi di Ngawi benar-benar kering, panas, dan membuat debu leluasa terbang kemana-mana. Jadilah saya semakin harus bertanggungjawab menjaga daya tahan tubuh agar di sepuluh hari terakhir bisa mencapai titik maksimal untuk tamu special yang kemuliaannya tak ada tandingannya. Selain sayur, buah, kurma, dan madu, Vermint masih menjadi sahabat saya mempersembahkan yang terbaik. Nah, akhirnya, Vermint tak hanya menjadi sahabat saya saja, tetapi juga menjadi sahabat ibuk dan ayah saya. Setelah mengonsumsi Vermint beberapa hari, Ibuk merasa tidak cepat lelah seperti biasa, panas-panas di telapak kaki juga banyak berkurang dan kolesterol setelah dicek juga dalam keadaan normal. Kata Ibuk, badan bisa jadi lebih segar. Beda lagi cerita dari Ayah, beliau memiliki alergi yang hampir sama dengan saya, setelah beberapa hari menjadi sahabat Vermint, Ayah saya jarang mbeler-mbeler lagi jika kena debu. Jadi, bersemangatlah keduanya menjadi sahabat Vermint.

DSC_0002_1468139014
Mudik ke-3, Ngawi-Tulungagung bersama keluarga

Ada satu lagi cerita menyenangkan tentang Vermint. Tadi pagi, ada seorang sahabat yang berkunjung ke rumah. Sahabat saya ketika SMP sekaligus sahabat bahkan belahan jiwa Mas Partner dari SMA hingga sekarang. Dia bercerita bahwa pernah berkunjung ke pabrik pembuatan Vermint dan menceritakan betapa bersih pabrik hingga proses pembuatannya. Ah, makin antusias menjadi sahabat Vermint untuk berbagi manfatnya.

Menjadi sahabat Vermint itu bagi saya adalah sebuah usaha untuk menjaga nikmat sehat tetapi juga tidak melupakan dengan selalu memohon anugerah sehat yang titipkan Allah. Karena anugerah sehat itu datang dengan beragam cara dan berbagai perantara. Kewajiban kita adalah berusaha, iya kan? Iya kan? 🙂

Selain itu, kita juga harus memiliki hati yang bahagia, tentram, dan tetap optimis. Karena pernah ada yang mengatakan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, jadi tetaplah berprasangka baik bagaimanapun keadaannya agar Allah titipkan bahagia di hati dan pikiran hingga sehatnya badan yang menunjang segala aktifitas kebaikan sebagai salah satu wujud syukur pada anugerah Allah. 🙂

imej vermint

 

Kisah Lampu Duduk di Sudut Ruangan

DSC_0004 (1)
Lokasi: Community Coffee Bintaro, Lantai 2

Jam berdentang ratusan kali. Ia, duduk terdiam. Tak peduli orang-orang yang berada di sekelilingnya, meski dalam satu ruangan. Begitu juga orang-orang itu, tak peduli akan kehadirannya walau dalam satu ruang yang sama juga. Mereka terus berbincang, berfoto, membentuk koloni, tertawa kencang, tertunduk di depan gadget atau hanya asyik menikmati hidangan.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih terlihat. Sama, di tempat itu di pojok ruangan. Ia hanya akan bertukar posisi jika sang pemilik ruang datang dan ingin pemandangan yang berbeda. Namun, tempatnya tetaplah di sudut ruangan. Orang-orang silih berganti dalam ruangan. Tetap saja tak ada yang menyapanya. Jangankan menyapa, menganggapnya ada itu suatu hal yang langka.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih di sana. Menunggu ada yang menyapanya. Menunggu ada yang memberi salam dan bertanya kabarnya. Menunggu ada seseorang saja yang menyadari kehadirannya. Ia, menyukai saat jelang senja. Saat matahari mulai turun dari singgasana. Jelang senja memberi arti untuknya. Saat jelang senja, ia akan menyala berharap menarik banyak perhatian setiap hiruk pikuk di ruangan.

***

Saya berlama-lama menatapnya, sebuah lampu duduk yang berada di sudut ruangan. Saat saya menikmatinya, saya justru didatangi banyak ingatan tentang curhatan-curhatan atau pun cerita dari beberapa orang yang berkisah tentang terasing, (merasa) diasingkan, dikucilkan, tak dianggap hingga berkurangnya rasa percaya diri. Saya mendapatkan cerita secara langsung, maupun berupa kisah, atau bahkan hanya sebuah celetukan candaan.

Ada masa di mana seseorang atau bahkan saya yang tiba-tiba merasa seperti butiran milo. Suatu saat, ketika air panas datang maka larutlah sudah. Benar-benar ada yang seperti ini. Ada yang (merasa) tak dianggap karena bisa dengan banyak alasan yang ada. Atau dengan menarik diri dengan sengaja karena sikap orang-orang di sekitarnya.

Salah satu dari sekian banyak kesukaan saya adalah saya akan banyak diam di tempat yang benar-benar baru saya kunjungi. Saya diam bukan karena saya sombong tapi saya sedang berpikir dan melakukan pengamatan. Yaah, sambil menutupi sikap norak dan ndeso saya saja sih. 😀

Saya menyadari dan saya pikir ada orang-orang yang merasa bernasib sama dengan kisah lampu duduk di sudut ruangan. Namun, saat itu benar-benar menampar saya ketika saya terlalu jumawa karena sebuah pengakuan. Apa yang sudah saya lakukan? Ah, betapa sebenarnya saya seharusnya malu pada si lampu duduk di sudut ruangan itu. Ia, banyak terabaikan dari pandangan. Ia, banyak terlewat dari perhatian. Namun, ia adalah sebenar-benar penggembira karena terangnya. Yap, bermanfaat!

Seringkali, saya ataupun kita melupakan kehadiran seseorang atau (sedikit) meremehkan seseorang dengan sangat cepat dan mudah. Namun, kita terlupa dan mungkin pandangan kita tertutup bahwa sebenarnya ia yang kita anggap di barisan terakhir itu adalah orang yang paling aktif menebarkan manfaat. Ia bergerak tanpa pujian. Ia berkarya tanpa ingin dianggap ada. Terus menerus tanpa henti dan tanpa rasa penat di hati, pun tanpa menarik diri.

Dalam sebuah diri, dalam sebuah jiwa sudah ada kelebihan yang Tuhan titipkan. Potensi dan kelebihan itu menunggu untuk terus diulang-ulang. Tak perlu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Bukan membandingkan, tapi jadikan orang lain sebagai semangat. Tak perlu menarik diri, tak perlu menenggelamkan diri di dasar lautan kenyataan, tak perlu merasa sedang berada di pojokan karena sungguh setiap diri yang berharga adalah yang paling bermanfaat dengan beragam cara, beragam jalan, dan berbagai rupa. Tak melulu menempuh dengan jalan yang sama. Ya, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=8zVlfGd5qXQ&w=560&h=315]

“Mungkin mereka bulan, tapi ingat kau MATAHARI. Cahaya mereka darimu.” -Tulus-

Jadilah dirimu dengan segudang kelebihanmu. Seperti kisah lampu duduk di sudut ruangan itu yang terus menyala meski tak banyak orang yang memedulikannya. Kita cukup berkarya dan semoga menjadi bagian dari insan yang paling banyak memberi manfaat untuk semesta. Bergembiralah dengan caramu!

 

Jangan Jadi Blogger Nyebelin

Well, sebenarnya tulisan ini sudah siap dari semalam (19/6) saat nunggu suami tarawih sudah saya susun sedemikian rupa sehingga (insyaAllah) enak dibaca, nggak bikin iritasi mata, dan tentunya semoga bermanfaat. Namun, baru bisa muncul di blog karena saya terkendala belum menemukan judul, semoga judulnya ‘klik’ dengan isi tulisan yang  sudah saya rapikan. 😀

13445379_998422840206334_5613665139417195702_n

Sedikit intro dulu ya 🙂
Tulisan ini saya tulis sesudah purna memenuhi undangan dari Mbak Wawa, Founder BloggerCrony Community, dalam rangka  #BloggerHangout yang merupakan acara rutin dari BloggerCrony Community. Tujuan diadakannya #BloggerHangout ini adalah untuk meningkatkan kualitas teman-teman blogger yang dinaungi oleh BloggerCrony. #BloggerHangout (19/6) kemarin adalah acara yang keempat dan pertama kali diadakan di Community Coffee Bintaro ditambah dengan konsep yang berbeda dari acara #BloggerHangout sebelumnya yang selalu diadakan di SCTV Tower dengan konsep potluck. Dari segi jumlah peserta, #BloggerHangout yang keempat pesertanya lebih banyak daripada sebelumnya. Spesial lagi, #BloggerHangout diadakan tepat di Bulan Ramadlan serta didukung oleh Toska PR dan Momeira Apparel.

Tema yang diangkat dalam acara kemarin adalah “Kepribadian Yang Mendukung Personal Branding” khususnya untuk para blogger dan seberapa penting personal branding bagi para blogger. Menarik bukan?

Karakter atau kepribadian (personality) seseorang itu layaknya sebuah ‘aura’ yang terpancar dari dalam diri. Karakter sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang dengan kadar yang berbeda. Oleh karena itu, setiap orang memiliki effort yang berbeda dalam usaha menguatkan karakter yang nantinya akan menjadi ciri khasnya atau sesuatu yang spesial maupun kesan yang akan diingat oleh orang yang pernah mengenalnya. Karakter yang sudah kita miliki adalah bagian dari brand. Menggambarkan siapa diri kita. Brand itu berupa keahlian, kemampuan, keterampilan, keunggulan yang ada pada diri kita dalam bidang yang kita tekuni.

Dari sana akan terlihat bahwa branitu harus dibangun yang artinya harus ada effort yang besar yang harus dikeluarkan, termasuk dalam membangun personal brand bagi diri kita. Modal utama dan pertama yang harus dimiliki dalam rangka membangun  personal brand adalah harus memiliki attitude yang baik serta  positive-thinking. Selanjutnya, Mbak Atiek menambahkan 3 tips cara membangun personal brand yaitu,

  1.  One Word
    Caranya adalah sejenak kita tutup mata, pikirkan, renungkan lalu putuskan satu kata sifat yang benar-benar mewakili diri kita. Misal, kalau saya kemarin ditanya kata sifat yang ada dalam benak saya adalah cerdas. Cerdas dalam segala hal, mengambil keputusan, wawasan, sikap, adab, tutur kata, emosi, dan kawan-kawannya. Setelah kita memutuskan satu kata sifat yang akan menggambarkan diri kita, saat itulah kita harus fokus membangunnya.
  2. Meningkatkan kelebihan pada diri
    Nah, ini adalah poin penting. Sebagian orang merasa tidak memiliki kelebihan kecuali kelebihan berat badan *hahaha, becanda 😀
    Setiap orang memiliki kelebihan, disadari atau belum disadari. Semoga segera menyadari kelebihan masing-masing yang Allah titipkan. Kelebihan ini banyak sekali ragamnya, misalnya jago berniaga, menulis, mendongeng, berbicara, bersyair, bernyanyi dan banyak hal lainnya. Nah, saat kita sudah menyadari apa kelebihan ditambah lagi itu bagian dari passion kita, mari fokus untuk terus berusaha meningkatkan kualitasnya.
  3. Quantity/Repitisi/Latihan
    Nah, sudah teridentifikasi apa kelebihan yang kita miliki? Langkah selanjutnya adalah latihan yang berulang-ulang dengan kuantitas yang banyak. Misalnya, service dari seorang blogger adalah melalui tulisan. Tulisan yang bagus dan berkualitas tidak terlahir begitu saja. Dibalik tulisan yang bagus ada proses yang panjang dalam banyak latihan. Kalau kata dosen matakuliah Komposisi Arab, menulis adalah sebuah keterampilan yang harus diasah dengan latihan. Sense of Writing (biasanya diucapkan dalam bahasa Arab) juga harus dihadirkan dalam sebuah tulisan agar tidak hambar. Yap, kunci utamanya adalah latihan. Tidak hanya menulis, saya pikir apapun keahlian yang kita miliki harus setiap saat dilatih, dilatih, dan terus dilatih.

Begitulah 3 tips atau cara membangun personal brand ala Mbak Atiek Moerino. Jika membicarakan personal brand saya pikir tidak akan terlepas dari keberadaan apa itu yang disebut dengan kepribadian atau personality. Iya kan? Nah, selanjutnya Mbak Ririn memberikan 10 tips bagaimana membangun kepribadian yang baik, khususnya untuk para blogger agar makin ciamik.

  1. Sopan santun itu penting
    Poin yang (sangat) penting ini bisa dilakukan dengan dimulai dengan hal-hal yang sangat sederhana. Contohnya, mudah berkata maaf, permisi, terimakasih. Jika terlambat datang ke sebuah acara, ucapkanlah maaf.
  2. Respect
    Misalnya: datang ke sebuah acara mengajak (beberapa) partner tanpa konfirmasi. Hal ini bisa membuat panitia merasa tidak maksimal dalam persiapan. Jika tidak bisa datang harus ada konfirmasi, bukan dengan tanpa kabar.
  3. Assective
    Berani berkata lugas dengan mengungkapkan pendapat atau pandangan dengan cara yang lebih baik. Misal, sebaiknya begini, sebaiknya begitu, sepertinya itu kurang pas. Pendapat atau saran yang kita susun dalam kalimat yang baik akan mendarat dengan mulus tidak hanya di pikiran tetapi juga di hati yang kita ajak bicara.
  4. Empati
    Simpati yang disertai dengan tindakan atau aksi nyata.
  5. Attentive
    Memiliki perhatian pada orang lain. Biasanya perhatian ini bisa ditunjukkan denganhal-hal yang sederhana. Saling sapa atau dengan memberi kado juga boleh banget. 😀
  6. Ketulusan
    Mengatakan apa pun atau bertindak dengan tulus, di depan mau pun di belakang sama, bukan sekedar basa-basi belaka.
  7. Optimis
    Kalau saya, optimis menjadi seorang blogger adalah optimis bisa berpartisipasi menyediakan konten bacaan yang berkualitas dan bermanfaat di tengah cibiran media ini begini, media itu begitu.
  8. Self-Confident
    Percaya diri ini penting dimiliki seorang blogger agar mudah belajar dan meningkatkan kualitas diri, menjalin dengan banyak komunitas dan bertemu dengan banyak orang/klien.
  9. Hospitality & friendly
    Dengan sebuah keramahtamahan yang kita suguhkan itu akan membuat orang lain nyaman di dekat kita.
  10. Attention to look
    Ini dia, penampilan itu penting meskipun bukan yang utama, karena hal yang utama adalah personality atau kepribadian kita. Penting karena penampilan itu seperti pintu pertama untuk menilai seseorang. Dalam berpenampilan tidak perlu memakai barang-barang mewah atau branded. Kita hanya butuh strategi kecil untuk berpenampilan yang bagus dan enak dipandang. Misalnya, menyesuaikan pakaian yang kita kenakan sesuai dengan acara atau agenda yang akan dihadiri jangan sampai salah kostum :D, padu padan warna dan motif, rapi, dan sesekali wangi bolehlah asal nggak berlebihan. Contohnya, memakai kaos kaki yang bersih, krudung dan baju yang disetrika rapi. Membuat penciuman dan pandangan orang lain nyaman itu juga ibadah lho, meski dengan berpenampilan sederhana, tidak berlebihan, apa adanya ya bukan adanya apa, itu sih masih asal-asalan. Yap, itu semua sudah lebih dari cukup.

Semoga bisa jadi bahan berbenah bagi kita semua, tulisan ini meski kemarin bertajuk untuk blogger tapi bisa banget diterapkan oleh siapa pun yang bukan blogger. Semoga kita para blogger bisa jadi blogger yang nyenengin ya, bukan blogger yang nyebelin…hehehe
Semoga membawa manfaat bagi kita semua yaaa… 🙂

Baju Momeira
Oleh-oleh dari #BloggerHangout dipersembahkan Momeira Apparel
Community Coffee 3
Bersama para blogger keren, sumber foto dari Buncha
Community Coffee 4
Sumber foto dari Buncha

nb: 1. Foto-foto kegiatan menyusul ya, karena selama kegiatan saya sibuk nyatat *bukan pencitraan…hahaha* karena sudah ada fotografer dan videografer. 2. Ulasan tentang Community Coffee Bintaro akan diposting terpisah. ^^