Saya menyebut Book’s Kitchen ini sebagai buku fiksi K-Healing karena rasa-rasanya cerita-cerita yang disajikan dalam buku ini terasa hangat dan menghangatkan hati yang kelelahan. Kisah-kisah yang sederhana dalam perpaduan buku, kopi, alam dan makna perjalanan mencari jalan ‘pulang’.
Identitas Book’s Kitchen
Buku ini berjudul Book’s Kitchen yang ditulis oleh Kim Jee-Hye. Buku ini ditulis dalam Bahasa Korea kemudian diterjemahkan dalam versi Bahasa Inggris. Tak hanya itu, buku ini akhirnya hadir juga dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia.
Sinopsis
Seorang tokoh bernama Yu-Jin adalah seorang CEO sebuah start-up. Perusahaan yang telah ia dirikan selama puluhan tahun sekaligus membesarkan namanya. Alih-alih terus menumbuhkan perusahaannya menjadi perusahaan raksasa, Yu-Jin memilih untuk menjualnya kemudian mengambil keputusan besar berikutnya yaitu pindah ke pinggiran dengan suasana yang tenang bernama Soyang-ri. Tak hanya itu, Yu-Jin juga mendirikan sebuah coffee book shop bernama Soyang-ri Book’s Kitchen. Yu-Jin menghadirkan sesuatu yang spesial di sini, tak hanya menyediakan kopi dan buku tetapi juga penginapan. Penginapan yang bisa dipakai untuk jeda sejenak dari bisingnya dunia. Soyang-ri Book’s Kitchen ini mempertemukan Yu-Jin dengan orang-orang yang menginginkan ketenangan seperti yang ia inginkan saat memutuskan untuk pindah ke Soyang-ri.
Jeda ala Book’s Kitchen
Dunia ini semakin memang tiada memberi kepuasan, seolah semakin diteguk semakin haus. Ada sebuah titik di mana rasa lelah menjelma menjadi sebuah kekosongan lalu berakhir dengan kelelahan yang tiada habis. Book’s Kitchen ini menghadirkan alur yang berjalan lambat, tenang dan hangat. Setiap karakter yang hadir sangat alami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, relate banget begitulah kira-kira ya ^^. Buku ini juga bisa menjadi pelukan hangat bagi kita yang sedang ingin rehat dan menerima arti lelah yang kita punya.
Bagi saya, buku ini termasuk dalam buku yang easy reading dengan alur yang lambat. Ada interaksi yang hangat antar tokoh di dalamnya. Selain itu juga menghadirkan quote yang manis yang juga memberi semangat dalam diri saya sendiri. Hal besar yang menarik saya jatuh cinta pada Book’s Kitchen ini adalah keputusan Yu-Jin pindah ke desa dan mendirikan coffee bookshop. Hal besar yang ingin saya wujudkan juga suatu hari nanti.
Hal-Hal yang Hangat dalam Book’s Kitchen
Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing yang tentu beragam satu sama lain. Kita juga boleh memiliki sebuah keinginan yang sama dengan hidup orang lain. Namun, kita harus mau dan mampu menyadari apa yang kita miliki untuk mendapatkan apa yang kita impikan.
Hidup ini bukan lomba lari seratus meter bukan juga maraton. Mungkin hidup adalah proses mencari kecepatan dan arah yang sesuai denganmu untuk menetapkan jalan. [118]
Buku ini memiliki tujuh bab dan membaca bab demi bab seperti bertemu teman baru, mengobrol, bercerita, mendengarkan lalu saling menyemangati. Bab-bab di buku ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki kisah yang telah dilalui, sedih, bahagia, biasa bahkan kisah yang terasa berat. Meski kisah itu terasa biasa bisa jadi menjadi hal yang istimewa bagi orang lain, menguatkan dan menghangatkan hati bagi orang lain tanpa kita sadari.
Bagaimanapun, hati juga butuh waktu untuk memulihkan diri. [246]
Sampai di kutipan ini rasanya ‘nyesss’ dan ikut membenarkan. Hati butuh waktu untuk pulih bahkan kita yang memilikinya tak bisa mendikte atau menetapkan jatuh temponya kapan harus pulih. Dalam perjalanan inilah biasanya kita akan benar-benar bisa mendengarkan kata hati kita dengan penuh kejujuran. ^^
Adakah teman-teman tertarik membaca kisah lengkapnya?











