Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

udara

Curahan hati pada udara yang menyederhana,

Kamis, 13 Mei 2010, aku memulainya benar-benar dengan hati. Dimulai dari pagi buta, aku telah menyisir sejengkal dari Kota Berhati Nyaman, Yogyakarta. Benar-benar sepi, lengang dan tenang. Menyajikan wajah kejujuran. Berjalan di sekitar kampus sambil menghitung kendaraan yang lewat., sebuah kesia-sian [mungkin] Bahkan, portal masuk di Jalan Sosio Humaniora belum ada antrian panjang, hanya ada tiga satpam. yang berbincang. Suasana kampus yang tenang dan memang hari itu sepi karena libur nasional dan aku masih menikmatinya.

Matahari meninggi dan aku masih menikmati “wajah kejujuran” yang tersaji hari ini. Duduk di bawah pohon di trotoar sambil merasakan gerakan udara. Sendirian saja.

Minggu ini serasa aku “ditelantarkan”, ayah bunda kuhubungi tak kunjung berbalas sapa. Baru kutahu ternyata sedang menikmati liburan kecilnya. Benar-benar sendiri dan waktunya bersahabat dengan sepi. Minggu ini rasanya seperti ditinggal pergi atau tersisih dari orang terkasih karena amanah yang memang menuntut lebih. Entahlah, saat ini memang ingin memenangkan ego diri bahwa aku ingin ditemani.

Masih kunikmati gerakan lembut udara di sekitarku, sambil menyibukkan diri dengan sesuatu yang harus kuhafal. Sedikit lelah dan aku berhenti, berganti berpikir tentang udara yang kunikmati.

Udara, keberadaannya selalu ada. Dan memang dia dibutuhkan tak hanya bernafas tetapi juga sebagai teman. Teman bercerita yang hanya mampu mendengar secara abstrak, begitu aku membahasakannya.

Udara, jika dia bertelinga maka bisa kupastikan akan memerah telinganya karena lelah mendengarkanku bicara.
Udara, jika dia mempunyai mulut dan bibir serta mampu bersuara maka akan kudapati balasan sapa dan kata yang kudendangkan hari ini. Bahkan [mungkin], sesekali terdengar tawa renyah karena cerita tentang kekonyolan, kecorobohan ,ketidaktahuan bahkan tentang cerita memalukan sekalipun.
Udara, jika dia bertangan, aku ingin menggenggamnya dan bergerak bersamanya. Bukan malah stagnan karena mood yang berperan.
Ya, aku ingin didengarkan!

Aku masih mampu mendengar dan mampu menampung curahan hati siapa pun. Tetapi kali ini, hanya ingin pasif dan didengarkan. Meski ingin didengarkan bukan berarti aku berhenti untuk mendengar. Sekarang aku hanya ingin didengar!

Sederhana. Mengudara.
Berbicara pada udara bukan berarti aku gila karena aku hanya ingin menyederhana bersamanya.
Ya, udara…

nb: gambar diambil dari flickr.com “in the air”

aku datang

Aku datang,

membawa serta rindu dalam genggaman

Aku datang,

bersama kasih yang tertuang, mengalir tenang dalam muaranya

Aku datang,

bersama untaian harapan yang masih samar-samar

Aku datang,

menyambut gelayut mimpi kota berhati nyaman

Dari sini,

dari nurani

aku memulai mendatangi mimpi

mengasihi harapanku sendiri

mencetaknya menjadi keping jejak-jejak kaki

Ya itu kaki,

yang tak lain adalah kakiku sendiri

Suatu hari nanti

Makna Hidup dari Ngebut


Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ketika seorang kawan dengan sangat ringan berkata, “naik motor aja”. Ringan sekali ketika tangan tak terkendali memacu pengendali hingga terlihat 80km/jam dan sesekali 90km/jam. Kecepatan yang standar, mungkin. Menikmati mulusnya jalan Jogja-Solo tanpa hambatan. Berempat berkompetisi di jalanan. Berhenti bersama ketika dihadang lampu merah. Menyalip satu per satu kendaraan di depan kami juga bersama-sama. Menyamakan kecepatan agar tak tertinggal. Namun, pada akhirnya satu diantara kami tertinggal karena mengurangi kecepatan dan terpaksa terhadang satu lampu merah ketika semua telah melaju. Yang lainnya terus melaju. Meski pada akhirnya karena satu pesan mampir di inbox kami “wooee, tungguin dong…!!!”, kami memilih menunggu agar bisa terus sejajar di jalanan itu atas nama rasa setia kawan.

Tiba-tiba teringat tentang satu kuliah saat seorang dosen berkata, “Belajar itu jangan menunggu yang lain belajar. Saat yang lain belajar, Anda santai. Saat yang lain santai, Anda juga ikut santai. Kapan Anda maju? Apa Anda bisa memastikan yang lainnya bersedia menunggu Anda? Anggap ini sebuah kompetisi!”

Ya, mungkin seperti itu. Hidup adalah kompetisi. Terus melaju dengan menambah kecepatan -minimal bertahan dengan kecepatan awal- agar terus sejajar atau mengurangi kecepatan lalu akan tertinggal. Ketika bertemu hambatan atau disapa ujian hanya akan ada dua pilihan, statis atau dinamis. Karena hidup adalah sebuah arena mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah kesulitan menjadi kemungkinan-kemungkinan, mengambil resiko dengan sepenuh konsekuensi dan keberanian. Tidak lemah, tidak putus asa, tidak gampang menyerah untuk hidup yang menyejarah.

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)

Ditulis,
Yogyakarta, 15 Juni 2009

Terimakasih:: Iphe, Ni’mah, Dila untuk having fun di jalanan….

Primadona

google_protectAndRun(“ads_core.google_render_ad”, google_handleError, google_render_ad);
Kutahu suatu saat akan kuhapus semuanya
Kriteria emas yang selama ini membelengguku

Kutahu suatu saat kuakan benar-benar hidup
Dengan gaya dan aturan yang sudah teramat kudambakan

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Reff:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Kutahu suatu saat akan ada sebuah era baru
Di mana saatnya kuberbalik dan menertawakan teorimu
Kutahu suatu saat kita akan bertemu lagi
Dan seakan kau tak mengenalku tapi aku sudah tak peduli

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Chorus:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Chorus

Berhenti …

by Sherina Munaf

Ich, Du und Liebe #2

Tidak selalu uang mengambil peran dalam kehidupan karena ada mutiara yang paling berharga yang tak akan tergantikan mesti uang selalu mengambil peran. Itulah kebersamaan…!!!

Ada ketulusan tanpa mengharap imbalan dan hanya dengan kata saya membungkusnya sebagai bingkisan [untuk] ‘besar’.

Terimakasih [untuk] ‘besar’,

Untuk sepasang mata yang selalu bersinar lembut penuh harap dan semangat meski tak setiap hari kulihat

Untuk waktu yang kau luangkan untuk sekedar berkata, “jaga diri baik-baik…”, “hari ini, warnai dunia lagi…”, “try to get your masterpiece!!!”, “make me proud, p**…”

Untuk curhat-curhat dan cerita-ceritamu yang membuatku merasa ‘penting’ dan dipercaya

Untuk mendukung setiap pilihan yang kuambil dan kujalani dalam hidup ini

Untuk selalu ada untukku, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun keadaanmu

Untuk petuah-petuah dan saran yang berharga yang tidak pernah menggurui

Untuk teladan yang menakjubkan dalam tindakan yang tak sekedar kata-kata belaka

Untuk menjadi ‘partner kerja’ untuk menemaniku begadang tiap malam demi “sail my hopes”

Untuk semangat tetap memilih bertahan menghadapiku ketika aku menjelma menjadi perempuan paling menyebalkan sedunia di masa-masa sukarku

Untuk setiap usaha untuk membuatku nyaman menjadi diri sendiri, dicintai dan diterima apa adanya

Untuk cukup meyakinkanku bahwa ketulusan tak hanya ada di negeri dongeng…

Untuk seikat kata-kata indah pelipur hati, peredam emosi…

Terimakasih [untuk] ‘besar’ . . .

Ketika tak ada yang menjagamu
Ketika tak ada yang mendampingimu
Semoga Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya

Never Ending Asia–The Spirit of Java–Kota Bersemangat
06 November 2009

“Bis ans Ende der Zeit”

Bis ans Ende der Zeit
Ich habe Sehnsucht nach Dir
Und wenn Sie den gleichen
Dann Zeig mir deine Liebe
Ich gebe dir alles, was Geld nicht kaufen kann
Und ich bin gleich von Ihnen versprechen Seite