Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

The Sacrifice of Abraham’s Son memiliki beberapa versi bahkan menjadi perdebatan tersendiri. Beberapa klaim muncul dengan argumen yang masing-masing dipercaya kebenarannya. Dalam sesi ini, The Sacrifice of Abraham’s Son ditinjau dari dua sumber yaitu, al-Quran dan Torah/Bibel.

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut al-Quran

  1. As-Saffaat 99-113 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan seorang putra atau anak yang santun setelah Ibrahim meminta kepada Allah. Ibrahim melihat dalam tidurnya bahwa beliau menyembelih putranya yang pada saat itu Ibrahim menyampaikan secara langsung. Putra Ibrahim (yang diklaim sebagai Ismail) menanggapi agar Ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Setelah keduanya berserah diri untuk melaksakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kemudian Allah menjadikan apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya sebagai bentuk totalitas dalam ketaatan menerima perintah. Allah mengabadikan kisah Ibrahim sebagai seorang yang mulia yang menjadi teladan bagi penganutnya. Tak hanya itu, Allah menganugerahkan lagi seorang putra pada Ibrahim yang bernama Ishak. Ishak adalah seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh dan Allah melimpahkan keberkahan atas Ishak yaitu keturunan yang di antaranya berbuat baik dan di antaranya terang-terangan berbuat zalim pada dirinya sendiri. Keturunan Ishak ini adalah bibit keturunan orang-orang Yahudi atas Israel. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan Ismail memahami tujuan atas penyembelihan bahwa itu sebuah perintah Tuhan untuk sebuah ketaatan. Tergambar jelas bahwa Ismail seorang yang sabar, berani, dan cerdas.

Di sisi lain, dalam ayat tersebut tidak disebutkan nama Ismail secara jelas. Menurut tafsir awal yang ditulis oleh Muqotil bin Sulaiman dan tafsir Tobari menyebutkan putra yang dikurbankan oleh Ibrahim adalah Ishak, namun kemudian dilarang oleh pemerintah Mesir yang kemudian direvisi kembali pada tafsir generasi baru disebutkan bahwa putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail. Jika dilihat dari sejarah, putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail karena Siti Hajar dan putranya hijrah menuju Mekkah sedangkan Ishak tidak pernah hijrah ke Mekkah.

 

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut Torah/Bibel

Genesis 22: 1-13 mengisahkan saat Abraham mengajak Ishak dan dua orang lelaki yang dianggap sebagai abdinya melakukan perjalanan ke sebuah gunung Moria yang itu sebenarnya adalah sebuah bukit atau dataran tinggi. Saat tiba di suatu tempat, Abraham mengajak Ishak berjalan dan meminta dua abdinya untuk menunggu. Dalam ayat ini tidak menjelaskan bahwa Abraham memberikan pemaparan alasan mengajak Ishak melakukan perjalanan. Saat keduanya sampai di sebuah altar persembahan, Ishak yang diikat tangan dan kakinya tidak kunjung mengetahui apa yang akan dilakukan oleh ayahnya, Abraham hingga menjelang dirinya dikurbankan. Namun, Tuhan menggantikan posisi Ishak dengan seekor domba. Ayat ini menggambarkan betapa Ishak adalah seorang anak yang polos (The Innocent Man) dan hanya Abraham yang mengetahui tujuan perjalanan tersebut.

Genesis 21 menjelaskan tentang Ismail dan Pengusirannya. Saat Sarah dianugerahi untuk mengandung di usia tua dan pada saat itu Abraham berusia 100 tahun. Nama Ishak diartikan sebagai lelucon karena Sarah khawatir ditertawakan orang-orang ketika hamil dalam usia tua dan Abraham juga sudah sangat tua. Pada saat Ishak lahir, Ismail sudah berusia 14 tahun. Sarah merasa khawatir atas Ishak yang kemudian meminta Abraham agar mengusir Ismail dan Hajar dengan alasan bahwa Ismail bermain-main menyembah kepala belalang di usia muda dan Sarah khawatir ketika Ismail besar akan menyembah berhala. Abraham dengan berat hati mengusir Ismail dan Hajar dengan membekali air dan ditinggalkan di Beer-Sheba, sebuah tempat di Israel.

Ismail dalam Bibel memiliki arti orang yang taat, namun memercayai bahwa putra yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Seorang anak yang diberikan keberkahan dan kemuliaan serta seorang anak yang disebut-sebut sebagai anak satu-satunya dari Abraham. Namun, dalam Genesis 17 disebutkan bahwa Ishak bukanlah satu-satunya putra Abraham. Ada Ismail yang telah berusia 13 tahun yang saat itu telah disunat bersamaan dengan Abraham yang juga disunat di usia tua. Dalam Genesis 21:5 menyebutkan bahwa ketika Abraham berusia 100 tahun, Ishak terlahir ke dunia. Hal itu berarti bahwa Abraham berusia 99 tahun, Ishak belum lahir ketika Ismail berusia 13 tahun dan sudah disunat bersama Abraham yang berusia 99 tahun. Kata Yakhitkha yang diulang-ulang dalam Genesis seperti sebuah ‘pemaksaan” untuk melawan hukum alam.

Ismail dan Ishak dalam Genesis juga diakui sebagai anak biologis Abraham seperti dalam Genesis 25:9 yang menyebutkan bahwa Ishak dan Ismail adalah putra Abraham. Selain itu, Genesis 21:5, Genesis 17:23, Genesis 17:25, dan Genesis 21:13.

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #2

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah tulisan untuk tugas responsi setiap minggu salah satu mata kuliah favorit saya yaitu Religion and Ideology in The Middle East. Topik kuliah ini adalah The Abrahamic Religion: A Dialogue Between the Qur’an and the Rabbinic Midrash. Saya unggah ke blog dengan tujuan dan harapan agar menjadi pemantik bagi saya untuk menulis tentang Kajian Timur Tengah dan Islam. ^^

Agama Ibrahimiyyah (The Abrahamic Religion) dikenal juga sebagai agama samawi yaitu, agama yang muncul dari suatu tradisi semit kuno yang bersumber kepada Abraham atau Ibrahim yang berarti Bapak atau Pemimpin banyak orang, dalam Bahasa Ibrani disebut Avraham. Sekarang agama samawi ini dianggap sebagai agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Agama-agama Abrahamik ini memiliki pemeluk dalam jumalah yang besar. Namun, banyak dari pemeluk agama-agama tersebut tidak menginginkan pengelompokkan agama atau kepercayaan mereka.

Pembahasan atas Agama Ibrahimiyyah tentu saja tidak akan terlepas saat menilik sejarah Palestina-Israel  yang panjang. Keduanya memiliki titik temu dalam Agama Ibrahimiyyah dilihat dari jejak leluhur di garis keturunan Ibrahim atau Abraham. Menurut Yahudi, Abraham adalah orang pertama dari pasca gelombang penolakkan besar-besaran atas penyembahan berhala melalui pemikiran yang rasional pada saat itu. Sekaligus dianggap secara simbolik sebagai tokoh fundamental untuk agama monotheistik. Dalam Islam, Ibrahim atau Abraham disebut sebagai Bapak Bangsa Arab melalui keturunannya Ismail yang berada dalam rangkaian nabi-nabi Islam mulai dari Nabi Adam.

Dalam Torah dan al-Quran, Ibrahim atau Abraham digambarkan sebagai seorang leluhur yang diberkati oleh Allah serta dijanjikan banyak hal yang besar dan kemuliaan. Abraham juga dianggap sebagai Bapak Bangsa Israel  oleh Yahudi melalui anaknya, Ishaaq dan dianggap sebagai Bapak Bangsa Arab melalui anaknya, Ismail pleh para Muslim. Dalam keyakinan Kristen, Abraham adalah teladan bagi iman dan ketaatan pada Allah dalam mempersembahkan Ishaaq yang dipandang sebagai teladan dari persembahan oleh Allah sendiri atas anaknya, Yesus.

Dalam Islam dikisahkan bahwa yang dijadikan qurban atau persembahan dalam rangka ketaatan kepada Allah adalah Ismail bukan Ishaaq, meskipun dalam al-Quran surat As-Shaffat 100-111 tidak disebutkan secara langsung bahwa itu adalah Ismail. Islam mengisahkan bahwa itu Ismail melalui tinjauan sejarah yang saat itu Siti Hajar dan Ismail diusir kemudian hijrah ke Mekkah. Ketaatan Ibrahim atau Abraham yang mengurbankan Ismail adalah sebuah gambaran mulia betapa taat Ibrahim dan dianggap sebagai salah satu nabi terpenting yang diutus Allah. Dalam al-Quran juga disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham bukanlah Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi memiliki kepercayaan terhadap Allah yang disebut Millah Ibrahim (Agama Hanif). Sedangkan dalam Torah disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham disebut mengurbankan Ishaaq yang dianggap yakhitkha (the only son of Abraham) sebagai bukti ketaatan pada Allah. Ishaaq dipercaya sebagai anak yang dikurbankan karena terlahir dari wanita yang mulia yaitu, Sarah. Abraham dan Ishaaq dianggap sebagai orang mulia yang telah dijanjikan banyak hal termasuk sebuah tanah yang sekarang disebut sebagai the promised land bagi bangsa Israel.

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Firstly, I feel very impressive to join this class because I get knowledge deeper than before I understand about Arab-Israel conflict. I think, the reason Arab-Israel conflict is only religion, no more. In this case, on my point of view, The Muslims in Arab chiefly Palestine have been oppressioned by Jewish. But, I got wrong about this point of view and how superficial I am. I understand that Arab-Israel conflict is complicated and sensitive issue. Therefore, how the important understanding it properly.

In the second class, I found one of interesting materials such as The Balfour Declaration. The British foreign secretary, Arthur Balfour wrote letter to Lord Rothschild (a prominent figure in British Zionist circle) to inform him that the British cabinet had approved the following declaration of sympathy for Jewish Zionist. The Balfour Declaration was born by some factors such as the chance to secure British strategic interest to produce a British declaration support of Zionist objective in Palestine. The Balfour Declaration was fateful  but it was a brief document filled with such ambiguities and contradictions that it made confused all the parties.

Talking Arab-Israel conflict, it can not be detached from immigration. Jewish immigration and land acquisition the heart of the communal tension in Palestine. On the same time, I know that Jewish and Zionist are different. In this case of immigration, the Zionist objective was to build up the Jewish population of the mandate through unrestricted immigration as to have a credible claim to the existence of national home in Palestine land. In order to settle and feed the immigrants. It was necessary to discover as much planted land as possible. Jewish immigration to Palestine land occurred in a connecting structure of waves called aliyah. The first aliyah began in 1904. The first and the second aliyah were happened before World War I and the third wave was happened from 1919 to 1923, it was composed of about 30.000 immigrants mainly from Eastern Europe. The immigration influx then slowed considerably until 1933 when the rise of Hittler and the Nazi Party precipitated the moving of Jews thousands from Germany and central Euorope.

Biografi Ghada as Samman

Sumber Gambar: alchetron(dot)com

Pendidikan dan Karir Ghada as Samman

Ghada as-Samman adalah seorang penulis dan novelis yang lahir di as-Shamiya, Damaskus, Suriah pada tahun 1942. Ayahnya bernama Dr. Ahmed as-Samman, Ph.D., seorang profesor, dekan di Universitas Damaskus, dan anggota kabinet. Ibunya seorang penulis lepas yang meninggal ketika  Ghada as-Samman masih kecil. Ia kemudian diasuh oleh ayahnya (Vinson, 2002).

Karmi menuliskan bahwa Ghada as-Samman menyelesaikan studi di kota kelahirannya hingga memperoleh ijazah di bidang Bahasa Inggris dari Universitas Damaskus. Pada tahun 1964 ia pindah ke Beirut dan mengambil program magisternya di Universitas Amerika yang berada di Beirut dan mendapat gelar doktor dari Universitas Kairo. Ayahnya menghendaki Ghada as-Samman untuk belajar ilmu kedokteran akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan sarjana muda ia beralih fokus belajar Sastra Inggris. Ghada as-Samman belajar menikmati kemandirian finansial dengan menjadi pengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah di Damaskus, menjadi pegawai perpustakaan di sebuah perguruan tinggi, bekerja sebagai guru di Sekolah Saad Charles di Choueifat, Damaskus, sebagai penulis untuk majalah berita al-Usbu al-‘Arabi dan menghabiskan waktu yang singkat sebagai penyiar radio Kuwait dan mendirikan penerbitan bernama “Ghada as-Samman”.

Cowling (2011) menulis bahwa pada tahun 1966, Ghada as-Samman dijatuhi hukuman penjara selama tiga bulan karena mengekspresikan anti-otoriter dan meninggalkan Suriah tanpa izin negara lalu menetap di Beirut, Lebanon.Bertahun-tahun Ghada as-Samman menghabiskan waktunya sebagai wanita lajang, tinggal dan bekerja di beberapa negara Arab dan Eropa.Akhirnya Ghada as-Samman memutuskan menetap di Beirut karena Beirut baginya melambangkan sebuah oase kemerdekaan orang Arab dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Damaskus.

Albany (2005:4) menjelaskan bahwa tulisan-tulisan Ghada as-Samman fokus pada isu-isu tentang perempuan Arab, nasionalisme Arab, dan tentang kebebasan yang dinikmati oleh kelas atas. Lebih lanjut, Vinson (2002) menjelaskan bahwa Ghada as-Samman selalu mengemukakan pendapatnya secara jujur dan apa adanya. Salah satu karyanya adalah Beirut 75 yang menceritakan tentang keadaan masyarakat Lebanon. Dalam novel tersebut, Ghada as-Samman menceritakan keadaan sosial, ekonomi, kondisi politik, dan bentuk kejahatan dari sistem dominasi feodalisme serta menyoroti tentang proses dari faktor-faktor penyebab terjadinya perang penduduk Lebanon pada tahun 1975. Ghada as-Samman mengungkapkannya secara jujur dan apa adanya. Di Beirut, Ghada as-Samman mendirikan sebuahperusahaan penerbitan yang bertujuan untuk menerbitkan karya-karyanya tanpa sensor atau tanpa suntingan. Ghada as-Samman adalah salah satu anggota Jamiyyah al-Qisshah wa ar-Riwayah dan ia telah menerbitkan beberapa kumpulan cerita pendek, esai, puisi, novel, dan wawancara.

Ghada as-Samman adalah salah satu dari penulis-penulis wanita di Beirut yang menyuarakan feminis secara jujur yang dijatuhi hukuman penjara. Cooke (dalam Badawi, 1997: 454)  memaparkan bahwa pada pertengahan tahun 1970 telah menjadi periode penting dalam sejarah kritik feminis internasional dan kesusasteraan. Teori sastra feminis tidak lebih sekedar sebuah pandangan yang keliru.Teori sastra feminis menjadi kebutuhan penting untuk penelitian sastra sebagai pendekatan material.Karya fiksi feminis pada saat itu menjadi lebih radikal dalam masyarakat.

Menurut Cowling (2011) Ghada as-Samman adalah seorang penulis yang telah menghasilkan banyak karya.Ia telah menulis lebih dari dua puluh lima karya dalam berbagai genre termasuk jurnalistik, puisi, cerpen, dan novel. Ia menulis secara terang-terangan, jujur, inovatif, dan provokatif. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai penulis kontroversial di dunia Arab dan namanya semakin dikenal di dunia internasional. Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing di antaranya, bahasa Inggris, bahasa Perancis,  bahasa Italia, bahasa Spanyol, bahasa Rusia, bahasa Polandia, bahasa Jerman, bahasa Jepang, dan bahasa Persia.

Karya-Karya Ghada as Samman

goodreads(dot)com

Karya Ghada as-Samman yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris di antaranya adalah Beirut 75 (Beirut 75, 1975) dan Beirut Nightmares (Kawabisu Bairut, 1976), keduanya diterjemah oleh Nancy Robert.The Square Moon (al-Qamaru al-Murabba‘u, 1996) diterjemahkan oleh Issa J. Boullata yang menjadi pemenang dalam perhargaan penerjemahan karya sastra Arab terbaik di Universitas Arkansas (Vinson, 2002).

Sfeir (1997: 34) memaparkan dalam tulisannya bahwa Ghada as-Samman telah menghasilkan banyak karya, di antaranya Ainaaka Qadriy(1962), Laa Bahr fii Bairut (1963), Lailu al-Guraba’i (1966), Hubbun (1973), Rahiilu al- Marafi’i al-Qadiimati (1973), Bairut 75 (1975), A‘lantu ‘alaika al-Hubbi (1976), Kawabisu Bairut (1976), Zamanual- Hubbi al-Akhari (1978), I‘tiqaal Lahdzah Haaribah (1978), al-Jasad Haqiibah Safar (1979), as-Sibaahatu fii Buhairati asy-Syaitaani (1979), Khatmu az-Dzaakirati bi as-Syam‘i al-Ahmari (1979), Muwatinatun Mutalabbisatun bi al-Qiraa’ati (1979), ar-Raghiibu Yanbudu ka al-Qalbi (1980), Syafaaratu Indzaar Daakhila Ra’siy(1980), Kitaabaat Ghairu Multazimah (1980), al- Hubbu min al-Waridi ila al-Wariidi (1980), al-Qabiilatu Tastajwibu al-Qatiilata (1981), Lailatu al-Milyaari (1986), al-Bahru Yuhaakimu Samakah (1986), Ghurbatun Tahta as-Shifri (1986), Asyhadu‘Aksa ar-Riihi (1987), al-A‘maaq al-Muhtallah (1987), Tasakku‘u Daakhil Jurhi (1988), at-Taryaaqu (1991), Asiqatu fii Mihbarati (1995), Syahwatu al-Ajnihati (1995), al-Qamaru al-Murabba‘u (1996), Rasaailu al-Haniini ila al-Yaasamiin (1996), dan ar-Riwaayatu al-Mustakhiilatu (1997).

Sumber Bacaan

Rampai Bahasa: (Tak) Ingin Dipanggil Ummi-Abii

Sebelum akhirnya saya memutuskan menulis catatan ini saya benar-benar berpikir apakah perlu menuliskannya. Iya nggak, iya nggak, iya nggak. Akhirnya, saya menyerah pada kegalauan saya, menyerah pada kerancauan di sistem memori kebahasaan saya. Saat memutuskan untuk menuliskannya pun saya mengalami kebingungan bagaimana cara saya berkata. Saya galau, teman-teman 😀

Mungkin, bagi sebagian besar pasangan di belahan bumi ini, “Abi/Ummi” adalah panggilan sayang yang luar biasa hebat. Bahkan kita sendiri tidak akan kesusahan untuk mendapati sapaan tersebut. Bicara tentang sapaan sayang ini adalah pilihan setiap pasangan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Walaupun membuat galau, saya pun tidak ingin naif untuk tidak ingin benar-benar dipanggil “Abi/Ummi”, saya ingin, dan teman hidup saya juga ingin. Tetapi saya membuat aturan khusus untuk panggilan yang spesial ini.

Sapaan Sayang “Abi/Ummi”

Setiap pasangan pasti memiliki sapaan sayang. Apa pun sapaannya, tentunya memiliki nilai sejarah sendiri-sendiri. Sekarang pun saya juga memiliki sapaan sayang yang mungkin berbeda dari yang lain. Prinsipnya, romantis adalah ketidak-romantisan itu sendiri 😀 Banyak cara mengekspresikan rasa cinta pada pasangan. Salah satunya adalah dengan menetapkan sapaan sayang.

Baiklah, begini, awalnya saya selalu rancu memahami sapaan “Abi/Ummi” saat saya mendengar dan saat saya membaca kiriman tulisan status di lini masa. Kerancuan itu muncul ketika, misal, ada seorang ibu yang bilang ‘Ummi kangen kamu, Nak’, ‘Asiiik, Abi libur. Bisa berkumpul bersama di rumah.’ dan banyak contoh yang lainnya. Sisi kebahasaan saya seketika itu akan langsung merujuk pada si kakek atau nenek si anak yang dimaksud. Dalam hati pun saya benar-benar bangga, “Wah, kakek neneknya sebegitu rindu sama si cucu.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika bercakap-cakap langsung lalu ada yang bilang ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” rasanya makin rancu pikiran saya. Saya gagal paham di banyak percakapan. Bahkan perlu beberapa detik untuk memahami apa maksud si penutur. Ini bukan lebay, ini hal serius yang memang perlu diseriusi, menurut saya.

Mungkin akan banyak yang akan menilai saya “ribet banget sih, cuma panggilan.” Ya, mungkin saya ribet tapi saya hanya ingin mengaplikasikan teori yang saya pelajari. Itu saja. saat itu yang membuat saya rancu dan galau tingkat akhir adalah sepengetahuan saya “Abi/Ummi” artinya adalah Ayahku/Ibuku ada lekatan kepemilikan aku yang membuatnya bertambah spesial bukan kata yang general lagi “Ayah/Ibu”. Apalagi kalau sudah mendengar ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” saya akan lebih sangat rancu lagi.

Panggilan sayang “Abi/Ummi” saya pikir tidak melanggar syariat hanya saja bagi saya ini adalah prinsip ilmu. Ilmu bahasa: Bahasa Arab. Salah satu cara menghargai salah satu dari sekian banyak ilmu; bahasa adalah dengan menggunakan secara benar. Prinsip boleh beda. Saya akan memasang toleransi setinggi-tingginya. Tetapi kalau saya pribadi, saya tidak ingin serta merta menggunakan istilah bahasa asing tanpa ada landasan teorinya yang mungkin untuk mengikuti ‘gaya hidup islami’. Jadilah saya memiliki mimpi sepuluh besar. Untuk ini saya menuliskan mimpi saya bahwa kelak ketika saya dan teman hidup saya dipanggil “Abi/Ummi” oleh putra putri kami, mereka sudah tahu dan paham pada ilmu, dasar teorinya dan bagaimana menggunakan secara benar. Semoga terwujud ^^

Bahasa Arab: Identitas(ku)

Take 1

Di ruang tamu pondokan KKN, Nabin. Ceritanya ada dua orang teman yang mengunjungi kami di pondokan. Keduanya berjilbab lebar menyapa saya.

Wiwid: Assalaamu’alaikum Ukhti Nika  *diiringi dengan senyum paling manis

Saya: Wa’alaikumsalam Wiwid. Eh, ada Lulu, juga *nggak kalah mengiringinya dengan senyum termanis 😀

Wiwid: Ukh, lagi ngapain? sibuk banget

Saya: ah, nggak kok.

Lalu keluarlah sahabat saya, sebut saja namanya Erlin. Secara penampilan bukan seorang yang berjilbab besar, tapi dia berjilbab. Cantik dengan style-nya.

Erlin: hai Wiwid, hai Lulu. Hei Niko, kenapa yang dipanggil dengan sebutan ukhti hanya kamu? Memangnya aku nggak masuk kriteria dipanggil ukhti ya?

Saya: hei Ukhti Erlin *sambil buru-buru masuk ambil buku catatan

***

Take 2

Dulu saat aktif-aktifnya ikut kegiatan kampus dan rajin ikut rapat. Biasanya disebut dengan syuro.

Senior: ayo-ayo segera dimulai syuro-nya!

Saya: Kak, si A belum datang.

Senior: Dia kan bukan akhwat.

Padahal teman saya ini adalah perempuan tunggal. Barulah saya mengerti seiring berjalannya waktu.

***

Take 3

Suatu hari saat saya baru saja log-in di salah satu akun media sosial saya, saya mendapati di beranda ada sebuah catatan yang dibuat oleh seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Saya baca catatan itu berharap mendapatkan ilmu. Ohya, semoga sang (calon) ibu dan (calon0 anaknya selalu sehat.

Disana saya melihat banyak komentar yang berdatangan dan dibalas dengan ucapan “jazakillahu khairan katsiron, ammah” atau “jazakumullah atas doanya, ammah, ammi” tetapi ada yang menarik perhatian saya ketika ada seorang teman perempuannya yang berkomentar (entah di kolom komentar yang ke berapa) mengucapkan selamat dan mendoakannya lalu dibalas dengan ucapan “terimakasih, tante I”, begitu jawabnya. Karena mendapati ada yang berbeda maka saya kepo deh pada teman-teman yang mendapat ucapan Ammah atau Ammi dengan yang mendapat ucapan Tante atau Om. Ternyata si pemberi ucapan datang dari ‘kalangan’ yang berbeda. saat itu saya langsung ambil buku catatan.

***

Take 4

Seorang cewek duduk di serambi sebuah Masjid Kampus disapa oleh seorang mbak-mbak berjilbab besar yang pada akhirnya saya tahu disebut sebagai ‘akhwat’.
A: bisakah anaa duduk di samping anti?
C: bisa, silakan.
*sambil sedikit bergeser
A: Jazaa
C: *mlongo, muka bodoh

Sebenarnya kata jazaa, jika biasanya ‘terimakasih’ diucapakan dengan kata jazakumullah/jazakillah/jazakallah, maka otak saya ini masih bisa menerima maksud penutur bahwa ia mengucapakan terimakasih yang diselipkan dalam sebuah doa akan tetapi jika itu hanya diucapkan ‘jazaa’ maka otak saya menerima ucapan itu yang berarti ‘membalas/balasan’. Dalam benak saya ketika ada yang mengucapkan jazaa, saya pun bertanya ‘nih orang bilang ‘membalas’ untuk apa? untuk siapa?’ Lalu, apakah susah menyebutkan dalam bentuk sempurna jazakallah/jazakillah/jazakumullah ahsanal jazaa atau mungkin cukup jazakallah/jazakillah/jazakumullah dan tolong jangan didiskon lagi.

***

lalu masih banyak lagi kejadian-kejadian ajaib yang saya abadikan

***

Saya teringat saat masa-masa awal kuliah tentang kebudayaan yang di sana membahas tujuh unsur kebudayaan. salah satunya adalah bahasa. Bahwa bahasa bersifat dinamis, ‘bergerak’, dan mengikuti perkembangan. Selain itu memang eksistensi bahasa sebagai alat komunikasi yang saling bisa dipahami oleh kedua belah pihak. Bukankah seperti itu?

Tidak hanya berlaku dalam bahasa Indonesia saja, semua bahasa tanpa pengecualian termasuk bahasa Arab. Bahasa seharusnya bisa dimengerti oleh semua kalangan bukan terbatas pada yang datang dari ‘kalangan’ atau ‘komunitas’ kita. Justru yang terjadi sekarang adalah munculnya campur bahasa dalam seni berkomunikasi terutama penggunaan istilah bahasa Arab.

Menurut sebuah thesis yang saya baca tentang terminologi bahasa Arab pada istilah ikhwan dan akhwat memang telah menyempit. Objek penelitiannya adalah dari salah satu partai islam cabang Jogjakarta. Sebuah gelar yang disematkan pada mereka yang datang dari ‘kalangan’ yang sama.

Sapaan Ukhti dan Akhi juga berlaku pada mereka yang satu ‘kalangan’ padahal dalam bahasa Arab semua orang berhak mendapat sebutan Akhi dan Ukhti tanpa memandang dari ‘kalangan’ mana ia datang. Ya, saya sering gerah, telinga merah (untung nggak kelihatan) jika mendapati semua kejadian-kejadian ajaib itu dan saya bertekad untuk anti-mainstream, memperlakukan semua sama. Semua berhak mendapat panggilan Akhi, Ukhti, Ammi, Ammah dst.

Katanya, cinta adalah wujud kata kerja. harus diusahakan. harus diupayakan. Kalau memang mengaku cinta bahasa Arab, ya upayakan untuk mempelajarinya, memahami, dan menelaahnya. Jangan sepotong-potong. Jika memang bahasa arab hanya menjadi identitas sebuah ‘kalangan’ kasihan kan dengan mereka yang ingin disapa dengan istilah-istilah bahasa Arab. Tidak perlu ngarab agar terlihat islami. Kata seorang teman, “Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Islam. Kalau Islam sama dengan Arab, mending saya berbangsa Islam daripada berbangsa Arab.

Ya, bahasa Arab: identitasku, bahasa apa identitasmu? Semoga bisa sama ya ^^