Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

KIK

#simply thing

Saya menyukai hal-hal sederhana dan cenderung suka menyimpannya, meskipun bagi orang lain akan terlihat tidak penting atau bisa disebut sebagai sampah, seperti tiket, karcis, daun kering pun saya simpan.

Hari ini saya mulai dari kantor polisi Bulaksumur untuk meminta surat keterangan kehilangan Kartu Identitas Kendaraan (KIK). Saya berniat memperjuangkannya untuk menghadirkan duplikat KIK, mengingat kurang dari dua bulan lagi saya harus move on dari kota ini, dari kampus tercinta ini. Dari awal saya ingin menjadikan KIK sebagai kenang-kenangan dan menempati salah satu kolom di scrapbook saya. Ternyata usaha saya gagal karena KIK sudah tidak dicetak lagi, begitu penjelasan yang saya dapat T.T

Image

Baiklah, tetap saya syukuri bahwa saya sempat memotretnya. Sebenarnya tak masalah jika tak ada KIK, masih ada karcis yang diberikan petugas jika tak ada KIK tetapi dalam pikiran saya, jika punya KIK saya bisa ikut aktif mengurangi sampah kertas karena keluar masuk kampus tak hanya sekali dalam sehari, bisa beberapa kali keluar masuk kampus, bisa-bisa saya ikut berpartisipasi menambah tumpukan sampah kertas dari karcis itu.

Simply things berikutnya adalah permintaan kepada sahabat saya yang akan segera pulang ke tanah air. Padanya saya meminta untuk dibawakan pasir pantai alexandria jika ia mengunjungi pantai alexandria sebelum pulang dan tanah dari Kota Seribu Menara, al Qaahirah. Saya hanya memesan dibawakan sedikit saja. Nantinya pasir-pasir itu akan saya simpan dalam toples dan saya letakkan di rak dengan label ‘Pasir Pantai Alexandria’, siapa tahu, Allah memberi saya tiket berupa kesempatan untuk benar-benar ke sana. ^^

Memangkas Jarak

Sudah beberapa lama saya berpikir tentang jarak. Jarak yang memang benar-benar nyata, yang bisa dikalkulasi dengan angka dan ‘jarak’ yang kasat mata. Saya memikirkan saat saya membuka kembali sebuah Schedule Book  yang telah satu tahun saya biarkan kosong dan berniat mengisinya kembali. Saya tiba di lembar kolom 21 April 2012 yang tertulis ‘Ultah Om Wasis’ sekaligus teringat saat-saat malam minggu itu. Tepatnya, tanggal itu adalah dimana saya sedang masa-masa pengabdian di masyarakat. Saya memanfaatkan perijinan menginap yang terbatas untuk kembali ke Jogja karena harus kontrol ke dokter gigi. Durasi penantian itu, saya menghabiskan quality time dengan penuh suka cita bersamanya. Ia, sosok yang hari itu berulangtahun, rela memangkas jarak Ngawi-Jogja hanya untuk bertemu dengan saya sembari menikmati makan malam sederhana di pinggir jalan lalu pulang ke Ngawi setelah makan malam dirasa usai. Ia benar-benar memangkas jarak. Tahun lalu adalah yang terakhir untuk saya menikmati momen hadiah makan bersama dari memangkas jarak yang ia lakukan.

Akhir-akhir ini, karena kerinduan padanya semua memori terpanggil tanpa saya bisa menghentikannya. Mengingatnya dan merasai candu bernama rindu. Lagi-lagi saya teringat tentang rumusan ‘memangkas jarak’ yang saya rumuskan sendiri ketika saya sedang ingin iseng untuk berpikir dan ketika itu saya sangat merindukannya.

Ia, sosok yang saya sapa dengan panggilan Om yang sebenarnya memiliki pertalian darah sepersusuan, yang memiliki jarak usia yang tak lagi dekat tetapi ia memangkas jarak bernama usia dan masa untuk menghadapi cerita dan keluh saya, sekaligus sahabat bagi saya. Ia, yang dua minggu sebelum kepergiannya, mengajak saya diskusi untuk (calon) tesisnya, lagi-lagi, ia memangkas jarak. Ia yang S2 dengan segala pengalaman di bidangnya dan saya yang hampir purna S1 yang masih bau kencur. Ia yang memutuskan masuk magister hukum dan saya mempelajari tentang budaya, sastra, dan bahasa. Ia memangkas jarak di dua bidang yang berbeda. Dari diskusi yang tidak singkat dan berlangsung beberapa hari face to face maupun telpon, ia pun mendapatkan judul dan mendapat hadiah sebuah rasa senang karena judul (calon) tesisnya diterima.

Ia yang suka memangkas jarak usia dan masa, lalu memosisikan ia sebagai yang pernah muda, yang rela saya jadian tempat dimana saya ingin ‘nyampah’ dalam bentuk apapun. Ia yang rela memangkas jarak ketika dulu sewaktu saya kecil saat makan siang berebut piring seng dengan saya, meskipun pada akhirnya ia mengalah dan merelakan piring seng itu. Kelak, piring itu adalah milik saya. Saya menyimpannya untuk mengenangnya.

Memangkas jarak, jarak yang memang dalam bentuk angka yang bisa dikalkulasi serta diperhitungkan, berapa kecepatan yang dibutuhkan agar sampai di tempat tujuan lalu kembali ke tempat semula dengan perhitungan yang detail atau mencari pilihan jalan lain untuk bisa ekstra memangkas jarak dan ‘jarak’ dalam bentuk maya, yang angka tak bisa mendeskripsikannya. Jarak yang jauh dengan waktu tempuh yang tidak sebentar pun ia memangkasnya untuk memangkas ‘jarak’ yang lain. ‘Jarak’ maya dalam bentuk berupa hubungan, hubungan kekerabatan, hubungan persahabatan.

Dalam sebuah hubungan pun ada ‘jarak’ yang ketika kita berani ‘memangkasnya’ maka hubungan itu akan semakin erat. Kekerabatan dekat sekalipun pun tanpa kita memangkas jarak juga akan terasa jauh, canggung dengan saudara sendiri. Banyak jalan untuk memangkas jarak, dengan komunikasi sekedar bertanya kabar, menemui, tersenyum, makan, dan banyak lagi kejutan-kejutan kecil untuk kita bisa hadirkan demi memangkas jarak. Lalu, saya pun tersadar, bahwa candu rindu saya padanya karena hasil kerja kerasnya memangkas jarak dengan saya. Ya, seharusnya memang seperti itu kita memperlakukannya, memangkas jarak.

Dua Fragmen

Fragmen #1

Menerjemahkan (teks Arab)
Di sebuah bangku coklat, di akhir pekan mereka memanggul ransel dan menjinjing tas berisi kamus menuju kampus. Di akhir pekan memang tidak ada perkuliahan, tetapi mereka bermaksud menyelesaikan kewajiban. Senyum sumringah terbagi membawa atmosfir semangat yang berarti dan luar biasa. Mereka mengambil posisi, duduk, lalu mengeluarkan catatan, buku sakti berjenis Morfologi, Sintaksis, dan Komposisi. satu per satu soal dikupas tuntas bersama. Aktivitasnya seputar bolak-balik buka kamus, identifikasi pola kalimat, harakat, identifikasi asal kata, jenis kata, frasa lalu menerjemahkannya. Tak jarang harus menengok ‘a dictionary arabic grammar’ atau buku-buku ‘ajaib’ lainnya untuk memastikannya dan mengurangi peluang banyaknya kesalahan penerjemahan. Ya, itulah usaha mereka untuk mempelajari salah satu bahasa-bahasa yang ada di dunia, Bahasa Arab.

Fragmen #2

Seorang perempuan bertanya pada seorang anak kecil
A: ‘Ummimu kemana Dek?’
B: ‘Ummiku di rumah.’

Seorang cewek duduk di serambi sebuah Masjid Kampus di sapa oleh seorang ‘ahwat’
A: bisakah anaa duduk di samping anti?
C: bisa, silakan.
*sambil sedikit bergeser
A: Jazaa
C: *mlongo, muka bodoh

***

Terasa kontras, saat ada beberapa dari mereka mempelajari Bahasa Arab dengan usaha yang tidak mudah. Di sisi lain, banyak kesalan-kesalahan yang sudah membudaya.
Kosakata-kosakata berbahasa Arab yang banyak bermunculan ‘ummiku, ummimu, umminya, abiku, abimu, abinya’ secara pribadi, saat saya mendengarnya benar-benar menimbulkan kontras dalam otak saya. Di otak saya memproses,  ‘abi’ yang berarti ayahku, yang telah memiliki tanda  kepemilikan -ku, mengapa harus ditambah lekatan kepemilikan -ku, -mu, -nya?  Begitu juga dengan ‘umi’. Secara otomatis, saya pun menerjemahkan (misal) ‘umminya’ yang berarti ibukunya.

Realitanya adalah, kata-kata itu bergeser menjadi kata umum, misal ‘ummi’ ya artinya sekadar ibu tanpa lekatan -ku, karena itu muncul kata ‘ummiku, ummimu, umminya’ padahal kata-kata ini belum diakui secara resmi sebagai Ejaan Yang Disempurnaan. Fenomena ‘ngarab’ ini seakan-akan hanya menjadi simbol identitas (golongan) yang menerapkannya.

Lalu kata jazaa, jika biasanya ‘terimakasih’ diucapakan dengan kata jazakumullah/jazakillah/jazakallah, maka otak saya ini masih bisa menerima maksud penutur bahwa ia mengucapakan terimakasih yang diselipkan dalam sebuah doa akan tetapi jika itu hanya diucapkan ‘jazaa’ maka otak saya menerima ucapan itu yang berarti ‘membalas/balasan’. Dalam benak saya ketika ada yang mengucapkan jazaa, saya pun bertanya ‘nih orang bilang ‘membalas’ untuk apa? untuk siapa?’
Lalu, apakah susah menyebutkan dalam bentuk sempurna jazakallah/jazakillah/jazakumullah ahsanal jazaa atau mungkin cukup jazakallah/jazakillah/jazakumullah dan tolong jangan didiskon lagi.

Ayolah, jika mengaku cinta dan suka dengan bahasa Arab, pelajari dan gunakan sesuai kaidah dan aturan main yang benar.

*ngusap pipi :'(

Cobalah Mengerti

‘Abiku, abimu, abinya’ saat saya mendengar kata-kata itu diucapkan maka saya akan benar-benar berteriak meneruskan “abi kita semua”. Sama halnya saat saya dengar, ‘umiku, umimu, uminya’ maka saya pun akan berteriak “umi kita semua”. Dan saat itu mood pun akan terjun bebas ke titik paling bawah.

Cobalah mengerti, ‘abi’ yang berarti ayahku, yang telah memiliki tanda  kepemilikan -ku, mengapa harus ditambah lekatan kepemilikan -ku, -mu, -nya?  Begitu juga dengan ‘umi’, kenapa? Saat saya bertanya kenapa, di suatu hari seorang dosen muda sekaligus teman berbincang menyarankan saya untuk membaca sebuah thesis. Jika saya bertanya lagi, maka akan saya dapati sebuah senyuman. Hmm, dan itu belum cukup karena saya masih punya banyak tanya tentang hal ini. Bahkan saya menjadikan fenomena ini sebagai judul tugas akhir mata kuliah Metode Penelitian Bahasa.

Cobalah mengerti, bisik pada diri, tentang fenomena ini.
Cobalah mengerti, mungkin ini sarana untuk lebih bersyukur karena Allah memberi kesempatan untuk saya belajar bahasa Arab selama empat tahun ini.

Cobalah mengerti, bahwa ini semua berarti sebagai pembelajaran. Kesabaran menerima sesuatu yang menjadi lazim meskipun itu tidak tepat jika dilihat dari struktur kebahasaan.

Cobalah mengerti, cobalah memahami. Dan tulisan ini hanyalah tulisan untuk menghibur diri.

Aktivitas Sore

Saya senang menyambut sore atau waktu menjelang senja, bukan sekedar karena untuk berbuka puasa. tapi waktu sore adalah waktu di mana saya bisa semaksimal mungkin mengesampingkan rasa penat dan bosan meskipun di waktu lain saya juga harus menghadirkannya lagi. Biar bisa segera lulus…hehehe

Sore waktu yang benar-benar saya harapkan kehadirannya, bahkan untuk menyambutnya saya selalu mempersiapkan dengan sebaiknya-baiknya “Mau ngapain sore ini? Kemana?” Ya, layaknya dating mungkin.

Saya baru sadar setelah sebuah pesan mampir di inbox “Mumpung masih pagi, belum lemes, fokus ke skripsi dulu, pekerjaan lain ditinggalin dulu, refreshingnya agak sore-sore aja.” Sejak menerima pesan singkat itu, saya selalu mempersiapkan menyambut sore. Saya flashback waktu-waktu sore saya selama satu semester ini ternyata menyenangkan. Bulan Februari-Maret awal-awal semester yang tidak lagi muda, sore terisi dengan keluarga di H39. April-Mei-Juni menyambut sore dengan adik-adik TPA desa Tersan Gede Mandiri Kecamatan Salam Kabupaten Magelang atau menikmati jalanan menuju Desa tersan Gede. Benar-benar suasana desa, meskipun saya juga tinggal di desa tapi suasana di tempat saya tinggal sudah bukan suasana desa. Menghabiskan sore bersama adik-adik TPA, nyanyi di depan mushalla, mendengarkan cerita dan mengaji. Tak lupa menyenyikan lagu yang dicipta sendiri melodinya oleh seorang sahabat. Pertengahan Juni-pertengahan Juli hampir setiap sore habis untuk menikmati Jogja, mengeksplore-nya. Dan sore di bulan Ramadlan ini tentunya habis untuk mengesampingkan penat. Alhamdulillah, sejak ada Eyos jadi tak sendirian lagi… ^^

Ini cerita waktu-waktu soreku, apa cerita waktu soremu?

*foto-foto menyusul ya…