Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Kenali Lebih Dekat Inovasi BCA Lewat Ngobrol Blogger DIY

senja-jogja-fileminimizer

Matahari yang mulai turun di ufuk barat seakan menambah kecantikan dan pesona Kota Jogja. Bagi saya, kembali ke Jogja adalah sebuah kata pulang seperti rindu rumah dan pelukan orangtua. Jogja menjelang senja selalu indah nan memesona apa lagi saat saya tiba hari ini (5/9) di Jogja, saya akan menghabiskan bersama para blogger DIY di Roaster and Bear.

Acara dibuka oleh Band AkustikMiracle of Love yang melantunkan lagu-lagu romantis yang sukses bikin baper. Sukses menyempurnakan Jogja saat senja menjelang. Syahdu. Menemani kehangatan senyum, sapa, salam dan kehangatanobrolahantarapara blogger di Roaster and Bear sambil menikmati tiga macam hidangan, yaitu hidangan pembuka, inti, dan penutup yang lezat.

inovasi-bca-fileminimizer

Berbicara tentang inovasi pastilah tidak terlepas dengan teknologi. Kemajuan pesat bidang teknologi dapat dimanfaatkan untuk melejitkan potensi dan kreativitas serta menjadikan kemajuan teknologi ini bisa digunakan untuk mempublikasikan pada dunia yang serba tanpa batas. Sekaligus kemajuan teknologi menghadirkan tantangan-tantangan baru untuk selalu berinovasi.

Sakuku, inovasi terbaru BCA

Nah, BCA mengambil selangkah lebih maju di depan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan sebuah inovasi kekinian. Salah satu inovasi terhangat yang memanfaatkan kemajuan teknologi yang diluncurkan BCA adalah Sakuku. Sakuku ibarat dompet virtual elektronik yang memudahkan segala transaksi perbankan untuk segala acara atau hangout. Sakuku sangatlah simpel, karena segala transaksi bisa dilakukan melalui smartphone yang ada di  genggaman. Dompet ketinggalan, tak perlu risau jika kita memiliki Sakuku di smartphone. Sakuku can save your life! 😀

Sakuku, untuk apa saja?

Sakuku mengusung slogan “Sakuku bikin hang out makin all out” terlihat jelas bahwa Sakuku menawarkan kemudahan yang nyata melalui sebuah smartphone. Sakuku dapat digunakan untuk pembayaran transaksi Bayar Belanja, Isi Pulsa, dan transaksi perbankan lainnya, misal Transfer antar Sakuku, Cek Saldo, Split Bill, dan Tarik Tunai di ATM BCA.

Seiring dengan pengembangan Sakuku, nantinya diharapkan Sakuku akan semakin memudahkan untuk membayar tagihan-tagihan rumah tangga, seperti membayar tagihan air, listrik, TV kabel, modem, dan sebagainya.

Bagaimana cara memiliki Sakuku?

Lalu, bagaimana memiliki Sakuku? Caranya sangatlah mudah, kita tinggal download aplikasinya di Google Play Store atau App Store. Setelah download, isi data diri dan verifikasi maka nomor handphone yang kita punya otomatis akan menjadi nomor Sakuku di smartphone kita. Langkah selanjutnya, kita harus top up untuk mengisi saldo Sakuku. Top up bisa dilakukan melalui ATM BCA, KlikBCA, dan BCA mobile. Mudah bukan? Ngurus Sakuku jauh lebih mudah daripada ngurus e-KTP kok, percaya deh… *haha 😀

Keuntungan memakai Sakuku

Biar makin greget tertarik dengan Sakuku, saya mau pamer tentang keuntungan menggunakan Sakuku jika kita sudah install dan verifikasi di smartphoneplus top up saldonya, antara lain,

  • Mudah

Kita hanya perlu usaha untuk download aplikasinya di application store untuk membuka uang elektronik Sakuku. Saat isi data dan verifikasi pun juga sangat mudah, tanpa ribet dan menghabiskan waktu.

  • Praktis

Nomor handphone sebagai nomor kepemilikan Sakuku. Jadi akan mudah bagi kita untuk mengingatnya.

  • Gratis

Nah, inilahhal yang menyenangkan di dunia. Yap, gratis. Sakuku bebas dari biaya administrasi bulanan. Tanpa potongan, tanpa charge apa pun. Jadi, saldo di Sakuku hanya akan berkurang setiap kita melakukan transaksi saja bahkan jika kita melakukan transfer tidak akan kena charge.

Ohya, biaya transaksi dikenakan pada saat registrasi Sakuku, biayanya sama dengan biaya 1x SMS (Rp. 250 – Rp. 350,-tergantung jenis operator). Biaya SMS akan memotong pulsa (prabayar) atau masuk ke tagihan bulanan (pascabayar).

Nah, setiap aplikasi pasti memiliki fitur unggulan, begitu juga dengan fitur Sakuku BCA,

  • Info : berisi informasi saldo dan informasi mutasi transaksi
  • Bayar Belanja : dapat dilakukan di merchant fisik/toko dan merchant online/website
  • Isi Pulsa : dapat dilakukan di atau ke nomor sendiri, nomor lain, dan permintaan pulsa
  • Transfer : dapat dilakukan untuk mengirim atau permintaan
  • Split Bill : dapat digunakan untuk membagi tagihan kepada teman
  • Tarik Tunai: dapat digunakan untuk tarik tunai di ATM BCA
  • Kontak : untuk melihat sesama pengguna Sakuku
  • Inbox : sebagai tempat menerima bukti transaksi dan transaksi tertunda
  • Pengaturan : pengaturan menu berisilog out, ganti pin dan lain-lain

Siapasaja yang bisamengaksesSakuku?

Inovasi BCA melalui layanan aplikasi Sakuku ini tidak terbatas hanya untuk nasabah BCA saja, tetapi bisa diakses oleh semua orang dengan syarat memiliki smartphone Android (OS. 4.0 ke atas) atau iPhone (iOS 7.1 ke atas) dan kartu SIM GSM yang aktif. Oleh karena itu, Sakuku diharapkan bisa semakin dekat dan bermanfaat untuk memberikan pelayanan yang terbaik di tengah kemajuan teknologi yang tak bisa dibendung lagi.

Dimana Sakuku bisa digunakan?

Sakuku dapat digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran untuk pembelian barang atau makanan di berbagai merchant. Jadi, saat teman-teman hang out dan dompet ketinggalan, kalian masih bisa belanja atau makan dengan membayar transaksi kalian  menggunakan Sakuku. Merchant Sakuku sangat banyak, diantaranya Kaskus, Bhinneka, Blibli, dan CGV Blitz. Untuk lebih detail bisa dicek di gambar di bawah ini.

merchant-2-fileminimizer

Merchant khusus wilayah Yogyakarta

merchant-jogja-fileminimizer

Mudah bukan? Yuk, jadi sahabat Sakuku!

<img src=”http://tag.ripre.com/campaign?guid=on&k=cxjiSqCb05D7OfAzH963ZsKT186ka2qZ&c=4181ea78cb67d60f748539eb615672bc” width=”1″ height=”1″ />

<a href=”http://s.bblog.web.id/c/3E5w00″ rel=”nofollow” >BCA Sakuku</a>

 

Serumah Solusi Cerdas Bagi (Single) Nomad

serumah-7

Ada sebuah pepatah mengatakan, “kejarlah ilmu hingga ke negeri Cina” agaknya pepatah tersebut menjadi pembakar semangat bagi kaum muda-mudi harapan bangsa untuk merantau demi cita-cita dan memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan. Mereka berbondong-bondong dengan penuh keoptimisan menuju kota di mana diri mereka akan ditempa di kampus impian. Hal itu melahirkan sebuah kebutuhan baru akan papan atau tempat tinggal. Bahasa kekiniannya sih kost-kostan. *haha

Tidak hanya muda-muda berstatus mahasiswa, kami muda-mudi berstatus pasutri yang karena tuntutan kemandirian, pekerjaan atau tuntutan yang lainnya pun juga akhirnya harus merantau dan jauh dari kampung halaman. Akhirnya, juga ikut andil meramaikan minat akan kebutuhan rumah sewa atau kontrakan. Seperti saya yang bersuamikan seorang abdi negara yang selalu akan kena mutasi tiap empat atau lima tahun sekali. Jadi haruslah siap cari rumah sewa karena nggak mungkin saya mau nyaingi siput kan?*haha. Ya, semoga saja bisa menetap di kota pilihan sekaligus impian kami.

Di perantauan, mencari dan menemukan rumah sewa juga nggak gampang-gampang banget. Calon penyewa sudah tentu memiliki kriteria yang disesuaikan dengan kebutuhan, kenyamanan dan anggaran. Menemukan rumah sewa A harga cocok, nyaman, tapi nggak cocok dengan lingkungan. Menemukan rumah sewa Z nyaman, lingkungan oke, tapi harga nggak sesuai anggaran. Menemukan rumah sewa sesuai kriteria juga mengeluarkan tenaga, waktu, bensin, dan pulsa. Tentu saja dalam satu hari tidak langsung menemukan yang cocok dan klik di hati. Pengalaman banget ya kan? Iya kan? 😀

Nah, melihat serba-serbi dan segala hiruk-pikuk pencarian rumah sewa idaman, lahirlah serumah.com yang mencoba memberi solusi bagi para single-nomad atau double-nomads. Serumah.com adalah platform yang memfasilitasi pengguna untuk mencari roommate dan juga kamar/rumah sewa. Serumah tidak hanya memfasilitasi para perantau yang mencari roommate dan kamar/rumah sewa, tetapi juga memfasilitasi bagi landlady atau landlord untuk memasang iklan properti miliknya yang akan disewakan. Sama-sama menguntungkan bukan? Apalagi pasang iklannya masih gratis!

Fitur

Jika membicarakan sebuah platform pastilah kita akan penasaran apa saja fitur yang ditawarkan oleh platform tersebut bukan? Ditambah dengan mobilitas kita yang semakin tinggi ditunjang dengan perkembangan teknologi yang semakin melangit, tentulah kita akan memilih cara yang paling praktis namun efektif. Itu saya banget! 😀

Di website Serumah menawarkan tiga fitur, yaitu a. Pemilik properti (kost, apartemen, rumah sewa) dapat mengiklankan gratis di website serumah. Langkah pertama adalah dengan mendaftarkan diri terlebih dahulu dan mengisi biodata. b. Pencari properti (kost, apartemen, rumah sewa) dapat mencari properti yang mereka butuhkan sesuai dengan budget (Price Range) dan juga lokasi (Map Function). c. Pencari Roommate, yaitu mereka yang ingin mencari teman untuk tinggal bersama dan berbagi biaya tempat tinggal bersama dengan orang lain (anda bisa menyebutnya housemate, roommate, kostmate atau flatmate).

Keberlanjutan dan Harapan

Website Serumah dibuat smartphone friendly jadi ringan dan mudah diakses. Kita bisa mencari roommate atau rumah/kamar sewa dari mana saja sambil beraktifitas dan menyelesaikan segala tugas-tugas kita. Di balik kemudahan akses di website Serumah, tentunya ada kendala atau kekurangannya, misalnya untuk mencari ketersediaan fasilitas yang kita inginkan, kita harus klik atau mencari satu-satu. Ke depannya, semoga bisa lebih praktis lagi dalam pencariannya. Misalnya, dengan cek list fasilitas yang diinginkan lalu diakhiri dengan klik ‘cari’ lalu akan muncul rumah sewa yang kita cari dan inginkan.

Saat ini, Serumah tidak menarik charge atau uang sewa untuk pasang iklan properti yang akan kita pasarkan. Namun, seiring dengan waktu sebuah platform tentulah membutuhkan biaya untuk maintenance kecuali jika Serumah bergerak secara sukarela atau sosial. Jika nantinya masa promo gratis telah habis, sebaiknya memberikan informasi bagi para pelanggan agar tidak kecewa karena kejelasan informasi adalah salah satu hal utama yang dicari oleh para pelanggan. Semoga kehadiran Serumah bisa memberi warna dalam memfasilitasi para double-nomads atau pun single-nomad dalam menemukan kenyamanan untuk sebuah tempat tinggal.

Melebarkan Sayap Bersama Qwords.com

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” -Seno Gumira Ajidarma-

Banyak sekali quote yang beredar tentang menulis yang di dalamnya terkandung kekuatan magis betapa besar manfaat dan esensi yang didapat dari aktifitas menulis hingga menulis diibaratkan sebagai pengikat ilmu pengetahuan. Dahulu kala, orang-orang menulis dengan sarana bulu angsa yang dicolek pada tinta kemudian ditulis dalam selembar perkamen, kulit hewan, pelepah pohon bahkan batu. Hingga tiba masanya lahirlah kertas dan pena kemudian berkembang lagi dengan penuh kemudahan yaitu mesin ketik dan komputer. Sarana terutama perkembangan teknologi yang kian bertumbuh tanpa bisa dibendung itulah menjadikan aktifitas menulis semakin menjamur, mudah diakses, semakin diminati, lalu ditekuni.

Bicara tentang menulis, bagi saya adalah sebuah kebutuhan yang levelnya sudah di atas hobi. Maka, saya sebut itu passion. Seorang Barista berkata pada saya saat saya menikmati kopi buatannya, bahwa sesuatu yang disebut passion itu tidak akan pernah mendatangkan kejenuhan, justru passion menghadirkan kebahagiaan, kepuasan hingga kerinduan.

Saya suka menulis sejak masih di bangku sekolah dasar, apa pun saya tulis di luar pekerjaan rumah dari sekolah. Namun, kemampuan menulis saya benar-benar terasah dan saya coba tekuni dengan sungguh-sungguh saat masa putih abu-abu. Saat akhir masa-masa SMA itulah saya diperkenalkan pada aktifitas blogging oleh guru IT saya. Awal sekali ngeblog pada tahun 2008 dengan platform blogspot lalu pindah ke wordpress. Kurang lebih tujuh tahun sekian bulan saya habiskan untuk ‘ngekost’ di platform blogspot dan wordpress. Akhirnya tahun 2016 saya pun memberanikan diri untuk membeli ‘rumah’ bagi anak aksara yang saya punya. Akhirnya bisa pindah ke cindiriyanika.com.

Menjatuhkan Pilihan Pada Qwords

Saya akui, saya bukan orang yang benar-benar canggih soal teknologi. Bisa dibilang saya ini sering terjebak pada gagap gembita menghadapi perkembangan teknologi. Saya kenal Qwords pertama kali saat mengikuti event workshop di kampus seitar tahun 2009-2010 dan pada saat itu saya belum ‘ngeh’. Pada tahun 2015 di bulan Oktober saya dapat rejeki berupa kesempatan menjadi salah satu participant di sebuah ajang kece di bidang media “Media Youth Festival” di Semarang selama dua hari. Di sana, entah untuk berapa kalinya saya bertemu lagi dengan Qwords.com di beberapa atribut selama acara. Maka, mulailah saya kepo siapa sih Qwords?

Kepo saya dimulai dari teman-teman Qwords sendiri saat acara YMF di Semarang hingga saya kunjungi web dan ngobrol beberapa kali dengan customer service yang selalu tampil mode on 24 jam dan sangat rinci penjelasannya. Well, sampai di sini saya mendapatkan haknya saya sebagai calon customer dalam hal informasi.

Setelah berpikir dan menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan membeli domain dan paket hosting yang pelayanannya super kilat dan mudah. Bagi teman-teman, jangan khawatir karena Qwords menyertakan petunjuk yang lengkap. Tak kalah penting lagi adalah Qwords sangat sering mengadakan promo yang bikin mata silau. *haha

Lima Manfaat Memiliki ‘Rumah’ Sendiri

Setelah saya memiliki ‘rumah’ sendiri yang saya beli dari Qwords, tantangan sebenarnya barulah dimulai dan betapa kesempatan melebarkan sayap semakin terbuka lebar. Melebarkan sayap yang saya maksud bukan sekedar menjemput rejeki berupa materi saja, tetapi kesempatan melebarkan sayap menjemput pertemanan dan koneksi juga semakin besar.

  • Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Semakin Tinggi 

Nah, saya orang bergolongan darah A yang notabene katanya memiliki rasa ingin tahu yang besar akhirnya mendorong saya untuk aktif kepo pada banyak hal (semoga yang positif saja). Punya ‘rumah’ ini juga meningkatkan aktifitas kepo saya terutama hal-hal yang berkaitan dengan internet marketing, DA, PA, Google Ads, SEO dan kawan-kawannya. Selain itu, saya juga belajar menggunakan corel draw untuk edit foto atau infografis. Akhirnya, saya juga belajar dengan cari-cari info di internet, buku, tanya sana-sini. Biar totalitas gitu deh! 😀

  • Memiliki Rasa Tanggung Jawab yang Lebih Besar

‘Rumah’ yang saya punya sekarang itu berbayar, dibeli dengan uang meski dengan harga promo yang besar-besaran dan dibelikan Mas Partner. Namun, tetap saja saya harus bertanggung jawab untuk terus merawatnya dari segi  kualitas tulisan dan tampilan serta intensitas unggah blogpost yang berkualitas. Selain itu, saya menjadi lebih peduli menata koleksi foto-foto hasil jepretan sendiri untuk mempercantik tulisan yang akan tayang di blog.

  • Memiliki Banyak Teman dari Berbagai Komunitas 

Memiliki ‘rumah’ sendiri pada akhirnya mendorong saya untuk memperluas zona nyaman, memperbanyak pergaulan untuk ngangsu kaweruh (menimba pengetahuan) bisa berupa ilmu, pengetahuan, dan pengalaman. Bonus lainnya adalah bisa tertular semangat aktif menulis.

  • Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Yakinlah, punya ‘rumah’ sendiri itu asik dan beberapa langkah meningkatkan rasa percaya diri. Saya pikir ini adalah dorongan rasa bahagia yang akhirnya menimbulkan rasa PD serta kepemilikan yang mencerminkan sekilas tentang siapa saya. Bahasa kekiniannya adalah Self-Branding ^^

  • Sebagai Investasi

Hmm, bagi saya bicara soal investasi bukan melulu merujuk pada materi ya. Saya lebih suka dan bahagia memaknai ‘rumah’ saya ini sebagai investasi untuk kebaikan. Menulis untuk menebar kebaikan dan manfaat. Oleh karena itu, setiap untaian doa dan harapan saya adalah semoga Allah menitipkan manfaat dan keberkahan di ‘rumah’ saya ini. Seperti misal, saya membombardir postingan saya dari ‘rumah’ ini lalu ada yang menyampaikan pada saya bahwa akhirnya ia bahagia dan akan lebih bersemangat menjalani cerita kehidupannya bagi saya itu adalah sebuah kebahagian yang mungkin dalam definisi lain adalah sebuah kesuksesan dalam tulisan. Atau beberapa teman yang akhirnya semangat meneruskan ngeblog atau memulai ngeblog, bagi saya itu luar biasa bahagia.

  • Menjemput Materi

Satu hal ini bagi saya adalah sebuah bonus dari menulis. Beberapa waktu lalu saya beberapa kali mendapat kesempatan untuk mereview produk kesehatan sekaligus menjadi  Sahabat Vermint dan program afiliasi dari Matahari Mall serta yang akan segera tayang adalah dari Inovasi BCA dan afiliasi bersama serumah(dot)com. Semoga semakin ngalir rejeki yang satu ini agar bisa semakin banyak berbagi dan silaturrahmi 🙂

Jadi, menulis di blog atau ngeblog itu menyenangkan bahkan menenangkan karena aktifitas yang satu ini pada akhirnya menyentuh beragam aspek kemampuan, lebih-lebih keberadaan Qwords.com yang akan membantu memudahkan teman-teman memiliki ‘rumah’ idaman. Yuk, mulai menulis dan menebar kebaikan dari ‘rumah’ kita sendiri dan jangan ragu untuk melebarkan sayap kapan pun kalian siap bersama Qwords 🙂

Ini ceritaku, mana ceritamu? 😀

 

http://blog.qwords.com/2016/08/18/blog-competition-qwords11-anniversary/
11 Tahun Qwords

 

*sumber kutipan dari buku berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Biografi Ghada as Samman

Sumber Gambar: alchetron(dot)com

Pendidikan dan Karir Ghada as Samman

Ghada as-Samman adalah seorang penulis dan novelis yang lahir di as-Shamiya, Damaskus, Suriah pada tahun 1942. Ayahnya bernama Dr. Ahmed as-Samman, Ph.D., seorang profesor, dekan di Universitas Damaskus, dan anggota kabinet. Ibunya seorang penulis lepas yang meninggal ketika  Ghada as-Samman masih kecil. Ia kemudian diasuh oleh ayahnya (Vinson, 2002).

Karmi menuliskan bahwa Ghada as-Samman menyelesaikan studi di kota kelahirannya hingga memperoleh ijazah di bidang Bahasa Inggris dari Universitas Damaskus. Pada tahun 1964 ia pindah ke Beirut dan mengambil program magisternya di Universitas Amerika yang berada di Beirut dan mendapat gelar doktor dari Universitas Kairo. Ayahnya menghendaki Ghada as-Samman untuk belajar ilmu kedokteran akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan sarjana muda ia beralih fokus belajar Sastra Inggris. Ghada as-Samman belajar menikmati kemandirian finansial dengan menjadi pengajar Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah di Damaskus, menjadi pegawai perpustakaan di sebuah perguruan tinggi, bekerja sebagai guru di Sekolah Saad Charles di Choueifat, Damaskus, sebagai penulis untuk majalah berita al-Usbu al-‘Arabi dan menghabiskan waktu yang singkat sebagai penyiar radio Kuwait dan mendirikan penerbitan bernama “Ghada as-Samman”.

Cowling (2011) menulis bahwa pada tahun 1966, Ghada as-Samman dijatuhi hukuman penjara selama tiga bulan karena mengekspresikan anti-otoriter dan meninggalkan Suriah tanpa izin negara lalu menetap di Beirut, Lebanon.Bertahun-tahun Ghada as-Samman menghabiskan waktunya sebagai wanita lajang, tinggal dan bekerja di beberapa negara Arab dan Eropa.Akhirnya Ghada as-Samman memutuskan menetap di Beirut karena Beirut baginya melambangkan sebuah oase kemerdekaan orang Arab dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Damaskus.

Albany (2005:4) menjelaskan bahwa tulisan-tulisan Ghada as-Samman fokus pada isu-isu tentang perempuan Arab, nasionalisme Arab, dan tentang kebebasan yang dinikmati oleh kelas atas. Lebih lanjut, Vinson (2002) menjelaskan bahwa Ghada as-Samman selalu mengemukakan pendapatnya secara jujur dan apa adanya. Salah satu karyanya adalah Beirut 75 yang menceritakan tentang keadaan masyarakat Lebanon. Dalam novel tersebut, Ghada as-Samman menceritakan keadaan sosial, ekonomi, kondisi politik, dan bentuk kejahatan dari sistem dominasi feodalisme serta menyoroti tentang proses dari faktor-faktor penyebab terjadinya perang penduduk Lebanon pada tahun 1975. Ghada as-Samman mengungkapkannya secara jujur dan apa adanya. Di Beirut, Ghada as-Samman mendirikan sebuahperusahaan penerbitan yang bertujuan untuk menerbitkan karya-karyanya tanpa sensor atau tanpa suntingan. Ghada as-Samman adalah salah satu anggota Jamiyyah al-Qisshah wa ar-Riwayah dan ia telah menerbitkan beberapa kumpulan cerita pendek, esai, puisi, novel, dan wawancara.

Ghada as-Samman adalah salah satu dari penulis-penulis wanita di Beirut yang menyuarakan feminis secara jujur yang dijatuhi hukuman penjara. Cooke (dalam Badawi, 1997: 454)  memaparkan bahwa pada pertengahan tahun 1970 telah menjadi periode penting dalam sejarah kritik feminis internasional dan kesusasteraan. Teori sastra feminis tidak lebih sekedar sebuah pandangan yang keliru.Teori sastra feminis menjadi kebutuhan penting untuk penelitian sastra sebagai pendekatan material.Karya fiksi feminis pada saat itu menjadi lebih radikal dalam masyarakat.

Menurut Cowling (2011) Ghada as-Samman adalah seorang penulis yang telah menghasilkan banyak karya.Ia telah menulis lebih dari dua puluh lima karya dalam berbagai genre termasuk jurnalistik, puisi, cerpen, dan novel. Ia menulis secara terang-terangan, jujur, inovatif, dan provokatif. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai penulis kontroversial di dunia Arab dan namanya semakin dikenal di dunia internasional. Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing di antaranya, bahasa Inggris, bahasa Perancis,  bahasa Italia, bahasa Spanyol, bahasa Rusia, bahasa Polandia, bahasa Jerman, bahasa Jepang, dan bahasa Persia.

Karya-Karya Ghada as Samman

goodreads(dot)com

Karya Ghada as-Samman yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris di antaranya adalah Beirut 75 (Beirut 75, 1975) dan Beirut Nightmares (Kawabisu Bairut, 1976), keduanya diterjemah oleh Nancy Robert.The Square Moon (al-Qamaru al-Murabba‘u, 1996) diterjemahkan oleh Issa J. Boullata yang menjadi pemenang dalam perhargaan penerjemahan karya sastra Arab terbaik di Universitas Arkansas (Vinson, 2002).

Sfeir (1997: 34) memaparkan dalam tulisannya bahwa Ghada as-Samman telah menghasilkan banyak karya, di antaranya Ainaaka Qadriy(1962), Laa Bahr fii Bairut (1963), Lailu al-Guraba’i (1966), Hubbun (1973), Rahiilu al- Marafi’i al-Qadiimati (1973), Bairut 75 (1975), A‘lantu ‘alaika al-Hubbi (1976), Kawabisu Bairut (1976), Zamanual- Hubbi al-Akhari (1978), I‘tiqaal Lahdzah Haaribah (1978), al-Jasad Haqiibah Safar (1979), as-Sibaahatu fii Buhairati asy-Syaitaani (1979), Khatmu az-Dzaakirati bi as-Syam‘i al-Ahmari (1979), Muwatinatun Mutalabbisatun bi al-Qiraa’ati (1979), ar-Raghiibu Yanbudu ka al-Qalbi (1980), Syafaaratu Indzaar Daakhila Ra’siy(1980), Kitaabaat Ghairu Multazimah (1980), al- Hubbu min al-Waridi ila al-Wariidi (1980), al-Qabiilatu Tastajwibu al-Qatiilata (1981), Lailatu al-Milyaari (1986), al-Bahru Yuhaakimu Samakah (1986), Ghurbatun Tahta as-Shifri (1986), Asyhadu‘Aksa ar-Riihi (1987), al-A‘maaq al-Muhtallah (1987), Tasakku‘u Daakhil Jurhi (1988), at-Taryaaqu (1991), Asiqatu fii Mihbarati (1995), Syahwatu al-Ajnihati (1995), al-Qamaru al-Murabba‘u (1996), Rasaailu al-Haniini ila al-Yaasamiin (1996), dan ar-Riwaayatu al-Mustakhiilatu (1997).

Sumber Bacaan

Memanjakan Lidah ala Cita Rasa Korea di Dae Jang Geum Jogja

Dae Janggeum Jogja
Dokumentasi Pribadi

Jogja menawarkan segala keindahan dalam balut kenangan. Komposisinya begitu sempurna yang terdiri atas nostalgia, rindu, dan pulang. Jogja mampu memikat dengan beragam cara. Menyentuh indera rasa atas nama perasaan dan ingatan hingga indera rasa dalam cecap lidah beragam cita rasa yang begitu menggoda. Cita rasa masakan yang menjadi lambang Jogja mau pun cita rasa internasional yang ikut bertumbuh dengan Jogjakarta.

Dokumentasi Pribadi

Salah satu restoran dengan menu makanan yang menyajikan nuansa internasional dalam balutan cita rasa masakan Asia salah satunya adalah Dae Jang Geum Jogja. Suasana restoran satu ini ditata dan dikondisikan hampir mendekati asalnya dengan nuansa klasik ala Korea. Para pramusaji juga memakai kostum hanbok yang merupakan baju khas dari Korea Selatan.

Dokumentasi Pribadi

Tata ruang Dae Jang Geum ada dua yaitu nuansa indoor dan outdoor. Tata ruang indoor segala macam interiornya didesain seperti kerajaan-kerajaan yang digambarkan dalam drama-drama korea *ini kenyataan bukan khayalan…haha :D* sedangkan bagian outdoor terdapat taman yang bersih dan begitu terawat beserta gasebo-gasebo berkursi mau pun berleseh-lesehan untuk menikmati hidangan yang telah kita pesan sekaligus tempat yang nyaman untuk berdiskusi ataupun bercanda ria.

Dokumentasi Pribadi

Bicara tentang cita rasa, bagi saya Dae Jang Geum masih menyajikan cita rasa yang sangat mendekati rasa asli dari negara asalnya, meskipun saya belum pernah benar-benar ke Korea Selatan tapi saya sempat mendengar testimoni teman-teman dari Korea yang sedang belajar di Jogja yang saya kenal saat belajar bahasa Korea di Pusat Studi Korea maupun testimoni teman-teman yang sudah pernah berkunjung ke sana. Semoga saya suatu saat juga kecipratan bisa ke sana 😀

Dokumentasi Pribadi

Adalah Teobokki makanan khas Korea yang sangat saya suka. Terbuat dari tepung beras yang disajikan dengan saos merah, beberapa irisan daging, dan wortel sebagai tambahan. Jika dalam drama, Teobboki diceritakan sebagai street food yang dinikmati saat masih hangat. Sederhananya, Teobokki itu ciloknya orang Indonesia. *haha 😀

Selanjutnya, adalah Bibimbap. Semacam nasi campur yang disajikan dalam hot bowl. Terdiri atas nasi, daging, sayuran, saus kedelai, dan telur kuning setengah matang. Ketika akan menyantapnya, semua yang ada di hot bowl diaduk hingga rata tercampur setalah itu siap disantap selagi hangat. Aromanya seperti nasi terbakar, rasanya saya tak bisa menerjemahkannya. Pokoknya level terpujilah wahai engkau Bibimbap.

Dokumentasi Pribadi

 

 

Menu yang ditawarkan tak hanya Teobokki dan Bibimbap, ada juga Kimbap yang sangat mirip dengan Sushi dari Jepang, sup rumput laut (yang saya lupa nama Koreanya), Bulgogi, Kimchi (menu gratis), Acar (menu gratis), Ca Jang Bap (nasi dengan bumbu tauco goreng), Yuk Ge Jang (sop daging sapi yang dicampur dengan sayuran jamur tiram, tauge, daun bawang, bombay), Kim Chi Cige dan masih banyak menu yang lainnya. Range harganya mulai dari harga dua puluh ribuan hingga seratusan ribuan. Keuntungan makan di Dae Jang Geum adalah bisa nyicip pesanan teman yang makan bareng kita alias bisa joinan karena menunya disajikan dengan ukuran untuk dinikmati bersama-sama.

Untuk menikmati hidangan di Dae Jang Geum, saya lebih senang malam hari daripada siang hari karena romantismenya terasa dan tak kalah penting dengan siapa kita menikmati setiap cecapnya. 😀

Tertarik? Datang langsung ke Dae Jang Geum jika teman-teman sedang piknik ke Jogja di Jalan Palagan Tentara Pelajar KM. 8.5 Donoharjo Ngaglik Sleman DIY.

Selamat menikmati romantisme makan malam di sana yaaa ^^

 

Baca juga: Lumpia Samijaya Malioboro yang legendaris.

Rahasia Dongeng Kopi

Aku tak pernah lagi mengharapkan hal-hal yang megah dalam hidupku. Aku hanya menginginkan sebuah senyum sumringah tatkala aku menyatakan cinta lalu aku diterima, berlanjut pada sebuah langkah ringan dan kau digenggaman. Berteriak pada dunia bahwa aku cukup punya nyali dan mampu menaklukkanmu, setidaknya sekali saja atau mungkin kau dengan senang hati berkali-kali jatuh hati padaku.

“Kau, mau tidur lagi? Bahkan setelah minum kopi?”

“Lalu aku bisa apa selain tidur setelah aku berkali-kali dapat penolakan?”

“Apa dunia akan berakhir hanya karena penolakan?” Kalimat itu selalu saja ia ucapkan dengan posisi dan gaya yang sama. Duduk di atas kursi kesayangannya dengan kaki kiri di atas kaki kanannya sambal menikmati segelas susu dan ekspresi yang sangat menyebalkan.

“Oh, Ka, kamu sebaiknya lari aja. Lari dari kenyataan.” Teman baikku itu selalu mengaku bahwa gurauannya semata-mata untuk menghiburku yang telah tak terhitung lagi mendapat penolakan. Saat ia tertawa dengan penuh kepuasan, aku hanya bisa berbalik badan sambil melambaikan tangan kananku dan bersegera meninggalkannya.

Tidur setelah mendapat penolakan bagiku adalah ide yang bagus karena sejatinya tidur adalah sebuah kesempatan untuk melepas penat dan mengabaikan segala kenyataan dengan menggantikannya dengan khayalan. Membangun khayalan sepuas-puasnya meskipun setelh terbangun akan teringat kembali dan menerima kenyataan bahwa aku sudah meninggalkan dunia khayalan. Tak apa, setidaknya aku sudah cukup lega untuk melepas kekecewaan beberapa saat yang lalu.

***

“Ka, kau hanya akan menghabiskn malam minggumu hanya dengan duduk di kursi, menghadapi komputer dan kalender yang penuh dengan coretan ini?”

“Iya, kenapa?” Sambil melanjutkan corat-coret di kalender dan sticky note.

“Dengarkan aku! Ganti piyamamu ini dengan baju yang rapi dan paling nyaman. Lalu ganti sandal boneka Winnie The Pooh yang udah buluk itu dengan sepatu kets atau wedges-mu.” Dia melempar sandal kesayanganku hingga depan pintu kamarku. Dulu aku selalu berteriak jika Ruf melakukannya, tapi sekarang aku benar-benar sudah kebal.

“Pergilah keluar! Jalan-jalan sana!”

“Kenapa aku harus jalan-jalan? Aku sedang semangat untuk di rumah, menulis dan menikmati kopiku. Kau mengkhawatirkanku? Dengan penuh curiga aku menatapnya yang masih saja berdiri di sampingku.

“Iya, aku mengkhawatirkanmu.”

“Waaaaaaah, habis makan apa tadi? Aku terharu, Ruf.”

“Aku mengkhawatirkanmu, mengkhawatirkan kesehatan jiwamu.” Ruf mengucapkannya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan dengan tawa yang memperlihatkan deretan giginya rapi.

Tawanya terhenti ketika ponselku berbunyi sebagai tanda bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Pesan yang membuatku berbinar-binar untuk sesaat tapi membuat nyala api semangat padam sesaat setelah pesan aku buka dan selesai kubaca.

“Aku ditolak lagi.” Kuletakkan ponsel di atas meja dengan kasar dan kepala yang mendarat di atas meja yang cukup keras. “Kenapa aku ditolak lagi?”

Tak perlu waktu lama untuk berganti pakaian dan sandal seperti yang disarankan Ruf untukku. Aku seharusnya memang memiliki pelampiasan selain tidur setelah ditolak. Malam terlalu terang, purnama di langit terlalu sempurna untuk dilewatkan dan romantisme Jogja yang tiada pernah berhenti untuk dilewatkan dengan sembunyi di dunia mimpi dan khayalan.

Aku bagai butiran debu dalam lagu yang tak tahu arah tujuanku malam minggu ini. Aku hanya berkeliling dengan motor kesayangan menelusuri Selokan Mataram ke arah Outlet Biru yang tiada pernah sepi. Hingga tiba di perempatan, aku memutuskan untuk belok kiri dan terus kunikmati jalan yang kulewati. Membuang pandangan di luar seperti ini memang lebih sehat dibanding harus menangis di pojokan.

Di ujung jalan terlihat ringroad utara yang hamper menyapa yang itu artinya aku harus menikirkan rute berikutnya aku harus ke mana tapi sebelum purna jalan yang kulewati, ada sebuah papan nama dengan sebuah bangunan serta suasana yang unik. Seperti memiliki daya magis yang mampu membuatku memutuskan untuk berhenti dan masuk ke dalam.

DSC_0002_132
Dokumentasi Pribadi

Aku menarik sebuah kursi kayu yang tinggi di depan meja panjang seperti bar sambil mengedarkan pandangan ke depan dan sekelilingku. Di depanku banyak berjajar toples kopi dari berbagai jenis yang bisa ditebak dari mana semua biji kopi itu berasal.

“Selamat malam, Kak. Ingin pesan apa?” sapa seorang mas-mas yang masih muda dengan senyum yang ramah.

“Espresso dengan satu jenis kopi aja.”

Aku menikmati ritme suara mesin di depanku yang sedang dimainkan oleh mas-mas yang tadi menyapaku. Syahdu seperti rintik hujan dan akan menjadi paduan yang sempurna dengan aroma kopi diseduhan pertama. Romantis sekali bukan? Ditambah lagi, jika usahaku selama ini diterima meskipun hanya sekali saja.

Espresso pesananku tersaji di hadapan dengan sempurna. Cangkir yang tak sendiri, ia ditemani dengan sebuah biscuit manis dan gula. “Ah, malam ini hanya aku yang benar-benar sendiri, baru aja ditolak lagi pula.”

“Udah biasa ngopi ya Kak?”

“Iya.” Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sambal terus melempar pandangan kosong pada secangkir espresso yang terus saja kuaduk lalu sedikit demi sedikit aku nikmati dalam sruputan kecil.

“Kenapa memilih espresso untuk mala mini, Kak?”

“Entahlah, aku hanya menyempurnakan pahitnya hari ini setelah ditolak.” Aku hanya bergumam dan tak peduli apakah mas-mas yang ada di seberang meja itu benar-benar mendengarnya. Aku melihat mas-mas yang membuatkan secangkir espresso untukku menyapa orang-orang yang keluar dan masuk tempat ini, tetap dengan semangat dan senyum sumringah. Mas-mas yang akhirnya aku sadari setelah kesadaranku benar-benar pulih bahwa laki-laki yang ada di depanku ini adalah seorang barista dari kedai kopi bernama Dongeng Kopi.

***

Aku seperti memiliki rindu dan candu pada Dongeng Kopi. Di kesempatan ini aku berniat ke mengunjunginya dengan suasana hati yang berbeda, dengan suasana yang hati menerjemahkannya sebagai rasa bahagia. Rasa bahagia bahwa aku telah mengirimkan kesungguhan cintaku dan rasa lega bahwa aku masih produktif untuk bisa terus menciptakan cinta dalam karya. Ya, meskipun aku tahu kabar buruk lagi yang mungkin akan menghampiriku. “Ah, hadapi saja nanti” gumamku sambal bersiap-siap berangkat ke Dongeng Kopi.

Sebelum melewati pintu, di tempat parkir ada sebuah pesan untuk semua pelanggan yang memarkir motornya “Motor jangan dikunci stang, kunci saja hatimua ^^.” Betapa sambutannya sangatlah hangat, ramah, dan tak kaku.

Aku menarik kursi kayu tinggi di depan meja panjang seperti bar tepat di pintu masuk. Posisi ini menjadi favorit karena aku tak hanya menikmati setiap seduhan kopi tetapi juga menikmati sebuah tangan yang cakap meracik dan meramu berbagai olahan kopi yang siap dinikmati oleh setiap orang yang datang memesannya. Aku juga bisa menikmati berbagai macam kopi dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.

“Semua kopi di dalam toples ini hanya sebagai display atau juga dijual?” tanyaku.

“Dua-duanya, Kak. Kali ini, mau pesan espresso lagi?” tetap dengan senyum ramah dan penuh semangat.

DSC_0001_190
Dokumentasi Pribadi

“Nggak, aku mau hot cappuccino. Apa bisa pakai kopi Kawah Ijen?” sambal menunjuk pada toples kopi bertuliskan “Kawah Ijen.”

“Bisa, Kak. Mohon ditunggu ya.”

“Hmmm, kenapa memilih jadi barista?” Pertanyaan yang tiba-tiba saja meluncur tapi aku pun mengakui bahwa aku selalu penasaran dengan hal-hal yang mungkin bagi sebagian besar orang adalah sebuah basa-basi belaka.

Passion, Kak. Jadi barista adalah passion. Bukan lagi sekedar hobi. Kalau hobi kan masih aka nada rasa bosan yang hinggap tapi kalua sudah passion nggak akan ada kata bosan karena dorongan terbesar dari sebuah passion adalah rasa cinta.”

Sang barista pun melanjutkan, “Dengan passion kita akan bisa meniupkan ruh dalam karya yang kita hasilkan. Bukan sebuah karya yang tanpa nyawa. Menjadi barista, saya belajar bagaimana bertahan dari putus asa. Belajar dari biji kopi yang sebelum ia menjadi biji, pohon kopi pun harus tahan tempa dari hama dan cuaca hingga menghasilkan biji kopi terbaik. Proses pengolahan kopi hingga proses menghidangkannya pun harus tahan tempa dari putus asa, menikmati proses belajar dengan tak sedikit kegagalan. Kenapa memilih cappuccino?”

“Cappuccino menggambarkan keseimbangan hidup. Terdiri atas sepertiga espresso, sepertiga susu dan sepertiga foam. Iya kan?

“Benar sekali.”

“Hanya ingin menikmati ritme hidup. Berusaha, membuktikan, lalu penolakan sebagai hasilnya. Sedih tapi akan tak sehat jika terus menerus menangis di pojokan atau tidur sepanjang hari demi sebuah khayalan yang indah. Ada kalanya memang harus berusaha menghadirkan bahagia di saat-saat kecewa karena ditolak.”

“Kakak ini benar-benar berani ya? Berani mengungkapkannya cinta. Biasanya kan cowok duluan.” Sambal dihiasi tertawa kecil yang renyah.

Ponselku berbunyi lagi. Aku seperti sudah kehilangan rasa takut kalau ini adalah kabar yang tak diinginkan. Benar saja. “Aku ditolak lagi, maksudku naskahku” sambil kusodorkan ponselku pada barista ramah yang berdiri di depanku. “Pahit sekali bukan?”

“Kakak hanya perlu menikmatinya sepertinya Kakak menikmati kopi yang ada di genggaman sekarang. Segala sesuatu ada tantangannya, Kak. Hanya perlu memahami bagaimana cara menikmatinya, ya seperti minum kopi. Bisa dinikmati dengan rasa pahit, dengan segigit biskuit atau menambahkan gula. Perlu sedikit memahami tantangan, mengubah sudut pandang, dan keberanian.”

“Mungkin aku melahirkan setiap kata itu belum ada ruh dan rasa cinta yang sebenarnya. Hanya sebuah rasa ingin menarik perhatian editor yang aku sukai bahwa aku bisa menulis. Mungkin menulis hanyalah hobi dan aku belum mendapatinya sebagai passion. Sebagai kebutuhan yang ketika aku tak melakukannya, aku merasa seperti sangat hampa. Rahasia dongeng kopi yang indah.” Ucapku pada barista yang baik hati yang berbagi rahasia dongeng pada kopi. Rasanya kali ini terasa lebih ringan dan bahagia telah menemukan sebuah pemantik untuk mengubah secuil niat dan definisi tentang rasa.

“Semangat, Kak. Besok ketika Kakak menikmati kopi pesanan Kakak. Kakak tak lagi dapat penolakan. Naskahnya.” Tetap dengan senyum penuh semangat dan optimis.

Argo Dwipangga-Bintaro-Ngawi, 21 Agustus 2016

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

13879231_1215683565130072_788867301975035194_n