Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Memulai Kembali

Setelah berhari-hari absen dari One day one Post yang itu berarti saya menumpuk hutang tulisan, akhirnya saya memulai kembali aktifitas menulis ini. Aktifitas menulis yang saya pun belum bisa menjamin akan One Day One Post atau lagi-lagi saya kan menumpuk hutang tulisan. Saya pikir, hal yang paling susah dilakukan adalah memulai yang sebelumnya adalah mengumpulkan niat. Setelah niat terkumpul, sudah memulai, ada hal sulit lain yang ada di hadapan yaitu konsistensi.

Oke, untuk banyak hari yang sudah terlewat, saya telah memiliki niat, saya memulai kemudian saya coba konsisten yang berujung dengan kegagalan terhadap konsisten itu sendiri. Beberapa hal yang membuat saya gagal dalam konsisten yang saya upayakan adalah manajemen pikiran yang saya miliki masih kurang. Banyak hari di belakang dan banyak hari di depan di mana saya sedang sangat fokus mempersiapkan sesuatu yang menjadi tujuan penting yang ingin saya capai. Semakin fokus merayu Allah, meski (mungkin) lebih banyak memaksakan. Maafkan saya ya Allah. Di sisi lain, saya memang sedang fokus dalam ikhtiar maksimal doa optimal, agar apa yang menjadi tujuan saya itu juga Allah ridla terhadapnya. Agar nantinya tidak sia-sia. Itu saja.

Di sela-sela hari di mana saya tidak menulis di blog, sebenarnya banyak ide yang berkeliaran dan datang silih berganti. Tangan gatel pengen ketak-ketik di keyboard laptop. Namun, apa daya, saya seakan menjelma seperti emak-emak yang tak rela melewatkan diskonan atau super sale di pusat perbelanjaan. Akhirnya, saya memilih untuk berkutat pada personal statement yang tak kunjung usai, essai rencana belajar dan pasca belajar, dan pengajuan proposal calon penelitian hingga beberapa deadline yang sudah naik level jadi harga mati. Bagi saya yang hanya butiran milo ini, ada sebuah tes yang memang harus diulang karena hasil yang tidak memuaskan yang disebabkan saat tes saya diare stadium parah dan saya belum sempat makan. Bagi saya, itu kombinasi sempurna yang membuat saya benar-benar seperti butiran milo yang larut dalam sekali seduh. *tears :'(

Namanya juga hidup yang kata orang berisi perjuangan. Punya mimpi dan target. Namun, jalan untuk meraihnya tak melulu lurus, lempeng, dan mulus. Ada kejutan yang tak terduga, yang akan mengukur seberapa besar tekad atas keinginan itu. Karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil. I do believe it.

Hingga sekarang, saat ini, ketika saya memutuskan untuk kembali, saya masih berada di medan juang kok :D. Semoga tekad untuk memulai kembali bisa benar-benar terealisasi. Bisa semakin cerdas mengelola pikiran dan mood diri. Oke, ijinkan aku kembali ya teman-teman One Day One Post. ^^

Produktif Belajar Dari Rumah

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa teknologi makin berkembang serta didukung internet yang sudah ada di mana-mana atau dengan mudah kita dapatkan. Seakan-akan kehadiran internet sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar orang.

Kehidupan yang kompetitif juga tidak bisa lagi dibendung, tidak bisa dihindari dan memang harus dihadapi, dijalani dengan ilmu, wawasan, dan keterampilan. Untuk bisa meningkatkan kualitas diri kita butuh membaca buku atau artikel, hadir workshop, mengikuti seminar, bahkan sekolah lagi. Sekolah lagi? Atau kursus? Mana sempat, nggak ada waktu. Nah, sekarang kan jaman teknologi didukung internet di mana-mana dan kabar bahagianya adalah telah banyak bermunculan kursus-kursus atau kuliah (kelas) jarak jauh atau biasa kita sebut dengan kursus online, sebutan kerennya MOOC (Massive Open Online Course). Sangat cocok bagi teman-teman yang haus akan ilmu boleh nih dicoba, ada beberapa kursus online yang bisa mengobati dahaga akan ilmu dan pengetahuan. Kalau saya pribadi, sekalian memaksimalkan keberadaan wifi di rumah. 😀

  1. Sekolah TOEFL

Sekolah TOEFL ini didirikan dan diampu oleh Mr. Budi Waluyo. Di  Sekolah TOEFL ini kita akan belajar Bahasa Inggris dari dasar. Jadi jangan khawatir bagi yang belum belajar Bahasa Inggris sebelumnya. Metode pembelajarannya pun asik, handbook diberikan setiap awal minggu (hari senin) untuk dibaca dan dikerjakan soal-soal latihannya. Sangat fleksibel karena bagi teman-teman yang super sibuk bisa mengatur sendiri atau meluangkan waktu kapan akan ‘menyapa’ handbook yang sudah diunduh.

Di Sekolah TOEFL ini ada temu online setiap hari minggu pukul 20.00-22.00. Selain bisa tanya jawab di temu online, kita bisa diijinkan juga untuk bertanya langsung kepada Mr. Budi melalui private message (Line atau Inbox FB). Selain belajar materi, disediakan TOEFL Prediction Test sebagai pemanasan, tolak ukur sejauh mana perkembangan kita selama belajar. Saya adalah salah satu siswa Sekolah TOEFL angkatan 3. ^^

Tak hanya belajar TOEFL, para siswa juga diberikan bekal dalam pembuatan essai serta cerita-cerita inspiratif para awardees dari berbagai macam beasiswa. Benar-benar bisa jadi ‘kompor’ penyemangat belajar. Sekolah TOEFL ini gratis, modalnya hanya semangat dan komitmen yang tinggi. Serta kabar gembiranya, Sekolah TOEFL akan ada pembukaan angkatan ke 5. Yuk…yuk, bagi yang ingin belajar dengan happy dan fun bisa bergabung.

12809601_1145690042131482_7605140948512429861_n
*sumber gambar dari FB Mr. Budi Waluyo

2. IndonesiaX

Saya tahu tentang IndonesiaX saat mengikuti Youth Media Festival di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang. Saya mendapatkan kelas diskusi bersama Mas Riski pendiri IndonesiaX.

IndonesiaX menyediakan kursus-kursus yang diampu oleh beberapa universitas dan institusi terbaik di Indonesia. Kalau saya sedang ambil 2 kelas Pak Rhenal Kasali dari Rumah Perubahan dan dari ITB tentang sistem informasi. Materi disampaikan melalui handbook dan video serta ada ujiannya tiap minggu sesuai dengan materi. Jadi ketika lulus dari setiap kelas yang diambil akan mendapat sertifikat. Kelas-kelas yang ditawarkan pun gratis. Tiap pekan ketika ada materi baru, para siswa akan mendapat pemberitahuan melalui email.

Nah, tertarik? Langsung daftar aja yaa ^^

3. Future Learn

Untuk program yang satu ini saya sudah mengikuti sejak 2014 *haha. Belajar di Future Learn it is free dan disediakan sertifikat. Banyak program yang ditawarkan di Future Learn dari berbagai universitas di dunia. Terakhir program yang saya ambil Community Journalism: Digital and Social Media dari Universitas Bristol. Programnya banyaaaaak, bisa dipilih sesuai hati nurani. ^^

Bisa kenalan-kenalan dulu dengan berkunjung Future Learn secara langsung.

4. Bahasa Arab

Setahu saya, ada beberapa pilihan untuk belajar Bahasa Arab online. Salah satunya di Arab Academy UGM. Link webnya menyusul yah, tapi bisa tanya-tanya langsung ke Mbak Aminah di no 085647478775 atau chat melalui FB Siti Aminah. Kalau saya belum pernah ambil kursus online, tapi saya memang salah satu alumni dari Sastra Asia Barat prodi Sastra Arab UGM. Jadi, di Arab Academy UGM memang diajar oleh beliau-beliau yang ahli di bidang Bahasa Arab. Kualitas terjamin.

IMG_2005
*foto saat launching Arab Academy, sumber foto di sini.

Nah, ada empat tempat belajar jarak jauh yang bisa dicoba. Sebenarnya masih banyak platform yang menyediakan program belajar jarak jauh, seperti CourseraDuolingo, Fluentland dan lain-lain. Namun, saya baru mengikutinya empat tempat yang saya sebut di atas atau dulu saya pernah ikut kelas kepenulisan online di writing revolution dan kelas menulis kearifan Tarbawi. Pesan saya, saat mengambil keputusan untuk kelas online ini haruslah sabar, telaten, rajin, dan tanam komitmen kuat-kuat agar maksimal, amanah, dan mendatangkan berkah.

Nah, bagi teman-teman yang sudah pernah mengikuti kelas online bisa loh di share di kolom komentar, agar saya juga bisa semakin tahu kelas online yang belum pernah saya ambil…hehe 😀

Semoga bermanfaat ^^

Mana Yang Lebih Berat, Naik Gunung Atau Naik Pelaminan?

MP : “Aku mau naik gunung.”
S     : “Nggak ngajak aku? Gunung mana?”
MP : “Belum tau, emang mau?”
S     : “Hmm, jangankan naik gunung, diajak naik pelaminan aja aku mau.”

Yah, itu adalah sepenggal percakapan saya dan Mas Partner sekitar akhir Juli atau awal Agustus 2015. Saat itu belum ada rencana gunung mana yang akan didaki. Masih sebatas wacana yang seringnya take it easy. 😀

Agustus menjadi bulan di mana saya nostalgia tentang momen bersejarah, momen peralihan status dari lajang menjadi istri orang, momen serah terima tanggung jawab dunia akhirat dari ayah kepada lelaki langit pilihan Allah. Sebenarnya, saya dan Mas Partner bukan tipe yang harus ada ritual apalah-apalah. Namun, Agustus 2014 di tahun pertama kami menghabiskannya dengan menginap di pantai demi memburu milky way, apalah daya, perhitungan kami meleset. Agustus 2015, di tahun kedua akhirnya terealisasi dengan nuansa gunung. Ya, naik gunung. Gunung Ungaran.

Gunung Ungaran terletak di kabupaten Semarang, daerah Ambarawa dengan ketinggian 2.050 mdpl. Tidak terlalu tinggi bagi yang sudah profesional atau terbiasa naik gunung, tapi bagi pemula seperti saya, that is unspoken, guys! Saat itu, jalur yang kami lewati dari pos mawar, letaknya di atas umbul sidomukti. Bagi yang berminat naik gunung Ungaran, bisa dicek untu jalur pendakiannya di sini, karena ada beberapa jalur pendakian.

Persiapan 

Masa persiapan ini bagi saya bisa dikategorikan sangat singkat. Bukan hanya mempersiapkan peralatan-peralatan dan bahan makanan untuk bertahan, tetapi juga mempersiapkan fisik dengan olahraga dan persiapan mental, lebih persiapan etika saat naik gunung. Yaaa, semacam memantaskan diri untuk bisa menuju puncak, meski realitanya tidak bisa sampai puncak karena kebakaran.

Masa persiapan ini penting, seperti halnya mempersiapkan peralatan yang akan dibawa. Bagi pendaki yang rutin naik gunung, memiliki tenda, kompor, matras, sleeping bag dkk adalah hal wajib. Nah, karena Mas Partner suka naik gunung tapi tidak rutin jadilah untuk tenda kami harus searching di dunia maya outlet yang menyewakan tenda dom. Alhamdulillah, sleeping bag, matras, carrier sudah siap tinggal bongkar lemari. 😀

Persiapan lainnya, yaitu persiapan fisik dengan olahraga. Jogging hampir tiap hari, push up, sit up, dan bersepeda. Paling sering sih jogging. Lanjut dengan persiapan mental. Saya memaknai persiapan mental ini lebih kepada persiapan untuk mentadabburi ciptaan Allah, mensyukuri kehadiran alam yang indah, menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan atau pura-pura lupa dengan sampah yang ditinggal begitu saja, lebih jauh lagi memaknai perjalanan naik gunung itu sendiri.

Naik-Naik Ke Puncak Gunung

Well, setelah semua persiapan mencapai 100%, ayoooo angkat carrier! Ternyata oh ternyata, naik gunung itu tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saat berangkat, medannya tentu saja menanjak. It has made me hard to breath. It really has. Saat itu pun punggung saya tidak terbebani dengan barang bawaan, semua barang-barang dalam carrier ada di punggung Mas Partner, ia yang mengambil alih. Sudah pasti jauh lebih berat daripada saya, but he always make sure that everything will be fine for me, for us. Jalan yang ditapaki pun tak selalu mulus, nggak ada jalan aspal ya 😀 ada bagian yang berbatu, berpasir, berdebu, berselimut daun-daun yang gugur, dan ada yang sedikit terjal. Ada kalanya sampai di titik di mana disuguhi pemandangan yang memanjakan dan ada kalanya ada pemandangan yang menyuguhkan sedikit rasa takut dengan pohon-pohon yang rimbun, semak, rumput-rumput yang tinggi atau bahkan suara-suara khas rimba.

Saat telah sampai di tempat camping, ada semacam pembagian tugas meski tidak terang-terangan ‘ini tugasmu dan ini tugasku’ melainkan sudah paham dengan tugas masing-masing. We are a solid team. 

IMG_5107 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi

Tidur dalam tenda di alam terbuka, walaupun sudah ada sleeping bag tapi kerasnya tanah yang kena punggung juga gak bisa menipu. Jelas beda empuknya kasur di rumah dengan saat camping. Di sisi lain, inilah kehidupan, ada masa perlu mencoba hal-hal luar biasa untuk berbagi rasa. Menjemput makna dan memaknai setiap detik yang ada.

Bagi saya, hal yang paling susah adalah keberadaan kamar mandi. Pagi hari saat matahari mulai naik dan usai sarapan, untuk bertemu kamar mandi harus berjalan selama 1,5 jam dengan kecepatan ala saya hingga desa terdekat. Itu rasanya luar biasa. Teringat sore sehari sebelumnya, Mas Partner dan satu sahabat perjalanan kami harus menempuh jarak yang jauh untuk bisa mendapatkan air.

Perjalanan Pulang

Jika saat berangkat, medan yang dilalui menanjak maka saat turun jalan yang dilalui adalah tapak-tapak menurun. Terlihat mudah tapi juga tidak kalah berat. Berat menahan beban badan. Benar-benar harus ekstra sabar. Ditambah dengan debu yang makin beterbangan tanpa bisa dikendalikan serta terik yang lumayan. Semuanya tetap menyenangkan hingga sampai pos terakhir.

Proses perjalanan pulang, bukan hanya membawa barang-barang yang dibawa saat naik, namun juga saya, Mas Partner, dan dua sahabat saya juga membawa sampah yang ditinggalkan di sekitar area camping. Bahkan beberapa papan petunjuk dan pohon tumbang dengan posisi melintang juga menjadi korban tangan-tangan jahil. Di sini, kita diuji agar bisa menahan diri agar tidak merusak tetapi kita diberi tantangan untuk menahan diri dan sekuat tekad untuk menjaga dan merawat alam kita.

Tentang Naik Pelaminan

Memang terlihat berbeda sekali antara naik gunung dan naik pelaminan. Naik pelaminan itu mudah bagi tamu undangan, bagi pengantin perempuan agak susah-susah gampang jika memakai jarik :D. Eits, bukan naik pelaminan yang itu yang saya maksud. Naik pelaminan secara semiotik yang saya pikirkan. Naik pelaminan bagi dua insan yang memutuskan untuk menggenap separuh agama bagi saya adalah sebuah keputusan yang besar. Ada masa persiapan untuk sebuah tujuan memantaskan diri atas tanggung jawab yang akan dijalani. Banyak bekal yang harus dipersiapkan yang itu tak hanya soal materi.

Pernikahan yang tidak hanya antara 2 anak manusia, tetapi tentang menyatukan dan mengkeluargakan dua keluarga besar yang (mungkin) memiliki latar belakang yang (sangat) berbeda. Ada tanggung jawab, kewajiban, hak, dan tugas. Memahami bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, harus bisa membangun kerjasama atau hal-hal yang besar lain.

Pernikahan juga merupakan proses saling memahami karakter pasangan. Jika saya, saya dihadapkan dengan seorang yang iriiiiiiit sekali bicara, romantis dengan kata-kata pun bisa dihitung tapi memiliki cara untuk romantis yang seringnya saya lewatkan. Lama-lama pun saya menyadari memang begitu cara Mas Partner beromantis. I love you just the way you are, Mas Partner. 😀

IMG_5124 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi dengan caption “Point of View in Life”

Dalam sebuah obrolan, teman saya pernah bilang bahwa jika ingin mengetahui karakter orang apalagi orang yang mau hidup dengan kita, ajaklah naik gunung. Dia akan banyak mengeluh, diam, optimis atau akan bagaimana reaksinya. Jika saat naik gunung saja dia banyak mengeluh, bagaimana saat (setelah) naik pelaminan dan melanjutkan menjalani hidup bersama? Ya, masuk logika pernyataan teman saya itu. *haha.

Pesan saya sih, jangan takut naik pelaminan. Niat baik akan menemukan jalannya dan akan lebih banyak lagi pintu-pintu kemudahan yang terbuka lebar-lebar.

Nah, setiap pertanyaan butuh jawaban: mana yang lebih berat, naik gunung atau naik pelaminan?

 

 

Perahu Kertas: Tentang Pertemuan Radar Neptunus Teman Masa Kecil

Hello, setelah beberapa hari tidak berotasi di dunia blogging. Hari ini saya memantapkan diri menulis tentang buku terbaik yang pernah dibaca sebagai tugas tema yang harus ditulis di One Day One Post (ODOP) minggu lalu.

Bicara tentang menulis pastilah tidak akan lepas dari aktifitas membaca, iya kan? iya kan? Emang iya. Menulis dan membaca adalah pasangan terbaik sepanjang masa 😀

Bagi saya, salah dua kebahagiaan adalah membaca dan buku. Dibandingkan dengan belanja baju yang notabene saldo di rekening akan jauh lebih aman, maka tidak akan berlaku ketika saya pergi ke pameran buku dan toko buku, entah offline ataupun online. Saldo jaraaaaaaaaang sekali aman. Tidak hanya saya, Mas Partner juga. 😀
Apalagi Mas Partner pernah bilang, “Lebih baik disimpan dan nggak tau bacanya kapan, daripada pengen baca tapi nggak ada bukunya.” Sedangkan saya punya prinsip, “Lebih baik nyesel beli daripada nggak beli.”

Nah, jika diminta untuk memutuskan buku apa yang berkesan adalah hal paling sulit untuk diputuskan. Semua buku yang pernah saya baca memiliki kesan yang mendalam sedalam lautan dan kebanyakan adalah karya non-fiksi atau novel. Salah satunya adalah Perahu Kertas. Cerita dalam Perahu Kertas seakan mewakili cerita menuju pernikahan antara saya dan Mas Partner. Kami sudah kenal sejak kelas kelas 5 SD tetapi tidak pernah 1 sekolah dan sangat jarang bahkan tidak pernah bertemu, saya pun lupa pernah mengenalnya. Bukan jahat ya :D. Cerita selengkapnya mungkin bisa di postingan berikutnya. Ya, seperti halnya Keenan dan Kugy dalam kisah tersebut yang bertemu lalu berpisah tidak bertemu untuk sekian lama, namun akhirnya takdir melalui radar neptunus membawa mereka bertemu kembali.

IMG_5773*dokumentasi pribadi

‘Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh’ ― Dee Lestari, Perahu Kertas

Kisah saya tidak hanya berhenti sekedar cerita yang sama. Quote yang ada di beberapa bagian pun juga nancep di salah satu kisah dalam sejarah hidup saya.

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.”
Dee Lestari, Perahu Kertas

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”
-Nasihat Poyan pada Keenan suatu hari”
Dee Lestari, Perahu Kertas

Ketika saya dan pihak keluarga Mas Partner menemukan dan menyepakati tanggal pernikahan lalu kami sibuk mencari desain undangan akhirnya Mas Partner membuat desain sendiri dan menambahkan lirik lagu Perahu Kertas dalam undangan kami yang sebelumnya meminta izin pada Mbak Dee dan beliau meresponnya dengan sangat baik dan memberi izin selagi tidak dikomersilkan.

 

12422337_1563924530308026_1585078419_o*kiriman dari teman

Nah, setelah desain jadi kami dibantu teman-teman ayoknikah dalam penyempurnaan undangan yang sudah disesain sebelumnya oleh Mas Partner. Bagi teman-teman yang sedang membutuhkan referensi undangan pernikahan silakan klik ayoknikah. Bukan promosi ya, hanya berbagi info. ^^

Selain kisah cintanya, saya menyukai tokoh Kugy yang bagi saya seperti ada kesamaan seperti suka menulis dan jurusan kuliah. *nggaknyambungsih. Overall, novel Perahu Kertas bagi saya adalah salah satu bahagia dalam hidup, ketika saya membacanya saya seakan diajak kembali bernostalgia akan sisi unexpected dalam hidup yaitu nasib jodoh saya. Di kesempatan lain, saya juga akan menulis novel yang berkesan dalam sisi kisah kehidupan saya yang lain. ^^

[Review]: Mie Setan Jahanam Ngawi

DSC_0002

Saya akui bahwa Ngawi mengalami perkembangan yang pesat termasuk dunia kulinernya. Saya banyak menjumpai resto atau semacam kafe yang baru. Menu yang ditawarkan pun juga beragam dan penuh dengan inovasi. Jika dulu menu yang ada ‘hanya itu-itu saja’ misal nasi pecel, soto, gule, chinese food, rawon, sate ayam, sate kambing, bakso, mie ayam dkk, maka sekarang tempat makan baru yang didesain ala-ala kafe serta menawarkan menu yang segar atau menu baru, sebut saja steak, mie yang disajikan dengan suasana baru (yang belum ada di Ngawi) seperti ramen atau mie yang disajikan dengan cara lain. Salah satunya adalah Mie Setan Jahanam Ngawi.

Bagi teman-teman yang ada di Ngawi dan ingin wasting time untuk ngobrol, ketemuan, malam mingguan, atau bahkan sekedar makan, nah, ini di Ngawi ada tempat makan baru terlebih bagi penyuka mie serba pedas. Yes, Mie Setan Jahanam ini baru dibuka, menyediakan makanan pedas dengan menu andalan mie, sesuai slogannya ‘Eat Mie’. Ada mie goreng dan mie rebus tanpa kuah. Penasaran? *haha. Bagi yang tidak menyukai pedas jangan khawatir karena di sana disediakan pilihan level 0 alias tidak pedas. Makan berat selain mie juga ada yaitu, nasi goreng dengan pilihan mulai level 0. Menu mie dan nasi goreng disajikan dengan tambahan nugget dan ham (daging sapi olahan). Dari segi rasa, menurut saya rasanya berada di level terpuji ^^ enaaaaaak.

Selain menu utama, Mie Setan Jahanam juga menyediakan dessert atau makanan pencuci mulut, seperti pancake eskrim, 3in1 (sosis, kentang stik, nugget), eskrim goreng. Kalau saya nagih dengan sekrim gorengnya. Level rasa terpuji. Mungkin, karena masih baru menu dessert-nya masih sedikit, belum banyak pilihan. Kemarin sempat usul untuk menambah menu baru untuk dessert.

Selanjutnya, kelompok minuman. Di Mie Setan Jahanam ini menyediakan aneka pilihan menu minuman seperti es teh, es jeruk yang gelasnya bikin customer sukaaaaa, karena apa? Yap, karena ukurannya yang jumbo :D, ada red squash, blue squash, dan green squash (aslinya ada namanya, tapi saya lupa *haha) ketiga minuman squash ini saya sudah coba semua dan yang terakhir ada aneka milkshake (khusus milkshake belum pernah nyoba).

Mie Setan Jahanam ini terletak di Jalan Ronggowarsito no 102A, jika dari arah SMPN 1 Ngawi lurus saja hingga melewati klinik merah putih, lurus dikit sebelum pertigaan RSUD Ngawi. Buka dari jam 9 pagi hingga 9 malam. Menurut pengalaman sih, ketika pertama kali ke sana sebelum jam 8 sudah habis karena memang ramai. Untuk range harga, tenaaaaaang, cukup bahkan ramah di kantong dengan tempat yang nyaman dan bersih. Ada TV dan wifi juga.

Semoga bisa memberi rekomendasi bagi teman-teman yang butuh tempat untuk melepas kangen dengan sahabat-sahabat tercinta saat pulang ke Ngawi. ^^

The Essential of Life: K I N G #2

IMG_5622 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi*

Berawal dari banyaknya postingan kegiatan dari teman-teman Kelas Inspirasi atau disebut dengan KI dari seluruh penjuru negeri di dinding Facebook saya sejak bulan Januari 2016, maka khusus postingan kali ini saya ingin (sedikit) nostalgia tentang Kelas Inspirasi Ngawi yang kemudian disingkat dengan KING. Saya bergabung di KI Ngawi sebagai angkatan kedua tahun lalu (2015) di bulan September. Saya bukan orang Ngawi asli, tapi saya besar di kota yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini. Rasa memiliki inilah yang rasa-rasanya memanggil untuk ikut serta berbagi kebahagiaan.

Saya suka sekali menyelam di dunia maya, terlebih didukung dengan fasilitas yang oke sejak ngekos di Jogja ada wifi di kosan atau saya akan menyempatkan pergi ke luxury, warnet yang nyaman sekaligus ‘surga’, ketika pulang ke rumah (Ngawi) juga ada wifi karena toko punya ibuk jadi warnet hingga pindah ke Bintaro juga ada fasilitas wifi yang nggak nyendat kecuali saya streaming drama korea *ups ^^v
Hobi menyelam di dunia maya itulah mempertemukan saya dengan info pendaftaran Kelas Inspirasi Ngawi, kemudian saya daftar dan saat pengumuman saya diterima. Well, langkah selanjutnya pesan-pesan tiket untuk pulang ke Ngawi.

Kelas Inspirasi lahir dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa teman profesional yang ingin berkontribusi dalam bidang pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Kegiatan Kelas Inspirasi berlangsung dalam 1 hari, relawannya dibagi menjadi dua yaitu, relawan pengajar dan dokumentasi. Bagi relawan pengajar materi yang disampaikan adalah mengenai profesi masing-masing dan bercerita tentang cita-cita dengan para siswa dan relawan dokumentasi bertugas mengambil gambar kemudian membuatnya dalam video.

Kelas Inspirasi Ngawi batch 2 diselenggarakan di sekolah dasar yang sudah disurvei sebelumnya. Saat itu saya ditempatkan di SDN Gelung 5 Kecamatan Paron, dari semua SD yang dituju, SD yang saya tuju adalah SD yang paling mudah dituju dengan medan yang tidak sulit. Sehari yang tidak penuh saya melewatinya dengan anak-anak yang sangat antusias saat saya mengabadikan momen demi momen.

Lalu, apa yang didapat?

Setiap kejadian pasti ada saripati yang bisa diambil dan dijadikan cerita indah. Begitu juga dengan kegiatan Kelas Inspirasi Ngawi yang saya ikuti.  Bagi saya, mengikuti Kelas Inspirasi Ngawi ini bukan kali pertama bagi saya, sebelumnya saya telah mengikuti Berbagi Senyum yang diselenggarakan Rumah Zakat sejak Oktober 2014 serentak se-Indonesia dan saya ikut di Kota Jogja. Bertutur tentang berbagi kebahagiaan melalui kegiatan kerelawanan bagi saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa entah apa namanya yang tidak mudah dideskripsikan. Bisa jadi bahagia, terharu, sedih, termotivasi, bersemangat dan masih banyak rasa yang teraduk di dalamnya. 😀

Tentunya, ada rasa bahagia ketika bisa mengambil peran, ada rasa syukur yang semoga semakin bertambah, ada semangat yang semoga semakin beranak pinak dan doa yang selalu terus melangit agar senantiasa dianugerahi kesempatan, kelapangan, ilmu, pengalaman, kepekaan, dan ringannya langkah. Bertambah sahabat yang memiliki mimpi yang sama untuk aktif berbagi inspirasi, ilmu, dan pengalaman. Essentially, when you share everything you will find the meaning of happiness. Karena bahagia tak melulu soal materi atau harta, bisa memberi manfaat dan menginspirasi itu juga kebahagiaan. ^^

Kelas Inspirasi telah lahir di berbagai kota di Indonesia dan semakin bertambah jumlahnya. Jika di kota kalian belum ada Kelas Inspirasi bisa lho dibidani untuk lahir di kota kalian untuk info lebih lanjut di sini.

Yuk, berbagi cerita untuk menumbuhkan cita-cita anak Indonesia!