Tag Archive | "BATCH2"

The Essential of Life: K I N G #2

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

IMG_5622 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi*

Berawal dari banyaknya postingan kegiatan dari teman-teman Kelas Inspirasi atau disebut dengan KI dari seluruh penjuru negeri di dinding Facebook saya sejak bulan Januari 2016, maka khusus postingan kali ini saya ingin (sedikit) nostalgia tentang Kelas Inspirasi Ngawi yang kemudian disingkat dengan KING. Saya bergabung di KI Ngawi sebagai angkatan kedua tahun lalu (2015) di bulan September. Saya bukan orang Ngawi asli, tapi saya besar di kota yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah ini. Rasa memiliki inilah yang rasa-rasanya memanggil untuk ikut serta berbagi kebahagiaan.

Saya suka sekali menyelam di dunia maya, terlebih didukung dengan fasilitas yang oke sejak ngekos di Jogja ada wifi di kosan atau saya akan menyempatkan pergi ke luxury, warnet yang nyaman sekaligus ‘surga’, ketika pulang ke rumah (Ngawi) juga ada wifi karena toko punya ibuk jadi warnet hingga pindah ke Bintaro juga ada fasilitas wifi yang nggak nyendat kecuali saya streaming drama korea *ups ^^v
Hobi menyelam di dunia maya itulah mempertemukan saya dengan info pendaftaran Kelas Inspirasi Ngawi, kemudian saya daftar dan saat pengumuman saya diterima. Well, langkah selanjutnya pesan-pesan tiket untuk pulang ke Ngawi.

Kelas Inspirasi lahir dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa teman profesional yang ingin berkontribusi dalam bidang pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Kegiatan Kelas Inspirasi berlangsung dalam 1 hari, relawannya dibagi menjadi dua yaitu, relawan pengajar dan dokumentasi. Bagi relawan pengajar materi yang disampaikan adalah mengenai profesi masing-masing dan bercerita tentang cita-cita dengan para siswa dan relawan dokumentasi bertugas mengambil gambar kemudian membuatnya dalam video.

Kelas Inspirasi Ngawi batch 2 diselenggarakan di sekolah dasar yang sudah disurvei sebelumnya. Saat itu saya ditempatkan di SDN Gelung 5 Kecamatan Paron, dari semua SD yang dituju, SD yang saya tuju adalah SD yang paling mudah dituju dengan medan yang tidak sulit. Sehari yang tidak penuh saya melewatinya dengan anak-anak yang sangat antusias saat saya mengabadikan momen demi momen.

Lalu, apa yang didapat?

Setiap kejadian pasti ada saripati yang bisa diambil dan dijadikan cerita indah. Begitu juga dengan kegiatan Kelas Inspirasi Ngawi yang saya ikuti.  Bagi saya, mengikuti Kelas Inspirasi Ngawi ini bukan kali pertama bagi saya, sebelumnya saya telah mengikuti Berbagi Senyum yang diselenggarakan Rumah Zakat sejak Oktober 2014 serentak se-Indonesia dan saya ikut di Kota Jogja. Bertutur tentang berbagi kebahagiaan melalui kegiatan kerelawanan bagi saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa entah apa namanya yang tidak mudah dideskripsikan. Bisa jadi bahagia, terharu, sedih, termotivasi, bersemangat dan masih banyak rasa yang teraduk di dalamnya. 😀

Tentunya, ada rasa bahagia ketika bisa mengambil peran, ada rasa syukur yang semoga semakin bertambah, ada semangat yang semoga semakin beranak pinak dan doa yang selalu terus melangit agar senantiasa dianugerahi kesempatan, kelapangan, ilmu, pengalaman, kepekaan, dan ringannya langkah. Bertambah sahabat yang memiliki mimpi yang sama untuk aktif berbagi inspirasi, ilmu, dan pengalaman. Essentially, when you share everything you will find the meaning of happiness. Karena bahagia tak melulu soal materi atau harta, bisa memberi manfaat dan menginspirasi itu juga kebahagiaan. ^^

Kelas Inspirasi telah lahir di berbagai kota di Indonesia dan semakin bertambah jumlahnya. Jika di kota kalian belum ada Kelas Inspirasi bisa lho dibidani untuk lahir di kota kalian untuk info lebih lanjut di sini.

Yuk, berbagi cerita untuk menumbuhkan cita-cita anak Indonesia!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in CommunityComments (4)

Hello!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Seperti yang tertulis di tagline blog ini “Si Kecil, Pemimpi Besar” itu sudah sebagian mewakili tentang saya. Saya ini kecil tapi berisi, semoga otaknya juga berisi dengan wawasan-wawasan yang semakin bertambah *aamiin* dan saya ini pemimpi besar, saya hanya memanfaatkan yang kata orang bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang, jadi saya juga berkompetesi dengan yang lain untuk membangun mimpi. 😀
Ohya, tak kenal maka mari berkenalan, agar makin paham makin sayang 😀

Alamat blog ini menggunakan nama tengah saya dan nama depan saya ada di kata kedua dari header blog ini. Yap, Cindi Riyanika itu nama saya yang belum lengkap. Saya kelahiran Tulungagung, tumbuh di Ngawi, lalu masa SMA (MAPK MAN 1) di Solo lanjut kuliah di Jogjakarta (UGM), kota Never Ending Asia. To say proudly, I love my life, Alhamdulillah.

Saya ingin sekali jadi orang baper, bawa perubahan dan suka sekali denger cerita atau curhatan-curhatan yang baper, bawa perasaan (pake banget). Saya termasuk orang yang cerewet tetapi juga good listener, karena dari banyak mendengar saya bisa belajar dan tahu pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh orag lain. Setiap kejadian yang kita alami belum tentu dialami oleh orang lain kan?

Hobi mendengarkan yang saya punya beda ya sama nguping *haha, kebanyakan sih dalam bentuk curhatan ke saya, karena saya tipe pelupa dan saya hanya manusia yang banyak lupa, setelah jadi tempat curhat saya sering lupa kalau si A, B, hingga Z pernah cerita sama saya, atau lebih sering terjadi kecelakaan saat dengerin curhat, saya ketiduran. 😀 Lalu apa hubungannya dengan hobi saya yang lain yaitu menulis? Tentu saja ada, dari mendengar banyak hal itu saya bisa kedatangan ide yang tidak terduga, punya inspirasi sekaligus akan saya pilah-pilah untuk diambil saripati yang terbaik. Saya suka menulis, malah sudah bisa disebut itu cinta. Saya mulai serius belajar menulis dari SMA karena saat itu ekstra kurikuler tiap sabtu ada pelatihan menulis dari FLP Solo. Namun, faktor X yang saat itu dominan karena ada mentor yang good-looking *haha*ups, itu kisah jaman SMA.

Bukti keseriusan saya pada menulis, saya buktikan terutama pada diri saya sendiri saat memenangkan lomba menulis se-Surakarta pada tahun 2006 dan juara harapan 1 pada tahun 2007. Berlanjut diamanahi sebagai pimpinan redaksi buletin sekolah dan bendahara majalah sekolah. Saat di Jogja, saya anggap diri saya ini rajin mengikuti pelatihan kepenulisan, ikut lomba ini itu, dan akhirnya diajak bergabung dengan tim redaksi MiniMagz (sekarang bernama Inspire) sejak saat itu saya makin serius belajar dan menemukan secuil bahagia ‘it is my world’.

Menulis mengantarkan saya bertemu banyak orang dengan beragam pengalaman dan pendidikan serta mengantarkan saya jalan-jalan. Pada bulan Mei 2015, melalui seleksi essai (dalam bahasa Inggris) dan CV saya terpilih sebagai salah satu successful applicant untuk mengikuti Smart Living Challenge (SLC) 2015 yang diselenggaraan Kedutaan Swedia yang bekerjasama dengan IKEA, selama acara berlangsung didampingi Dubes Swedia dan Manager IKEA, foto ada di sini. Menulis mengantarkan saya jalan-jalan ke Semarang di acara Youth Media Festival pada bulan Oktober 2015 serta mengantarkan saya jalan-jalan ke Purwokerto dalam acara international conference dalam bidang sastra, bahasa, dan budaya di Universitas Jenderal Soedirman, saat itu saya terpilih sebagai presenter yang mempresentasikan makalah di sesi diskusi panel. Pada bulan Februari, melalui menulis seharusnya saya bisa bertemu dengan ibu menteri pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka penyerahan hadiah lomba, sayangnya saya melewatkannya karena pemberitahuan yang mendadak dan saya sedang tidak di Jakarta. Anggaplah belum rejeki. Menulis juga mempertemukan saya dengn orang-orang hebat di One Day One Post dengan semangat luar biasa dan tulisan-tulisan yang kaya. Semoga bisa makin cinta dengan menulis dengan terus mengasah kemampuan karena menulis adalah keterampilan yang harus dilatih bukan sekedar teori saja. Jadi mari semangat praktek menulis!

Semakin lama, menulis seakan menjadi kebutuhan seperti halnya membaca dan fotografi bagi saya. Eh iya, saya juga suka fotografi dan alhamdulillah, teman saya EOS telah hadir sejak tahun 2012. Fotografi, dunia publishing, blogger, dan content writer yang saya tekuni secara serius sejak 2012 hingga sekarang seakan memberi gambaran siapa saya, dunia saya, dan cinta saya. Saya juga sedang belajar menekuni dunia copy-writing. Writing is unspoken conclusion. Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata bahkan saya mengalami dilema untuk menentukan program kuliah yang akan saya ambil. Punya mimpi mendirikan komunitas online di dunia menulis khususnya museum dan mimpi bisa kuliah di program Book and Digital Media dan semoga Allah mengijabah kedua mimpi saya ini (yang berkaitan di dunia menulis).

Yap, inilah sedikit tentang saya dan I say proudly, Hello! to all of you. ^^

 

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life's StoriesComments (4)

The Sense of Taking A Walk

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

12802816_966673783414609_5333696642681364962_nI wear rok celana  😀

When I lived in Jogja, taking a walk was my main mode of travel. Every day during the week, I would walk to my campus for attending some classes and back again to dorm. While on the weekend -if I didn’t come home, Ngawi- I would walk to bookstore for wasting time, buying some books even just for reading 😀 or I would walk around Jogja city, for examples Malioboro, Beringharjo, Jogja Palace, Tamansari, and some museums.

My favorite walks however were during the twilight when the sky was turning into orange color, were after the rain fall when the air was turning fresher than before and sending the aroma and swirling in the windy air then the air will be filled with that particular scent of rain, earthy, and fragrant. Suddenly, it was changing the atmosphere to be more romantic than before to at the one time.

Taking a walk, whether alone or with friends (I often take a walk alone, it feels free) with no particular destination, except just to be happy because the fresh air is the one of nature’s gift for me as human beings truly delight in. In other hand, at the same time, I feel that I have been living in the polluted concrete jungle and increasingly depending on machines as mode of modern transportation, taking a walk is something awkward that becomes more and more alien on daily life in this modern era. I will commit with my habit: to get up a very earlier in the morning then take a stroll on the street nearby and enjoy the air which is still fresh.

I think, taking a walk especially outside in the open air can keep me grounded, savour living in the present and training the sensitivity feeling. Although I realize that taking a walk is back breaking for me. So, the sense of taking a walk is to find unexpected meaning in life. It teaches me about the patience to face something hard and how to stay alive in every single time of mine.

*accompanied by backsong: A Head Full of Dreams

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in Life-StyleComments (0)

Pandangan #2: Memandang Rumput Tetangga

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Hal sawang-sinawang atau yang biasa dikenal dengan pandang-memandang ini seakan terlihat sangat remeh, tetapi tidak bisa dipungkiri hal yang remeh ini sering mengikis dan mendatangkan ujian bagi hati. Di mana hati akan diuji untuk melihat ‘ke atas’ atau melirik hal-hal yang menawarkan kenikmatan, kemudian akan datang bisikan-bisikan yang membandingkan antara keadaan diri dan kenikmatan yang hadir dalam pandangan yang (mungkin) sekejap.

Ada yang terlihat bahagia menikmati jalan-jalan ke luar negeri dengan senyum-senyum sumringah di setiap jepretan kamera. Namun, siapa yang tahu di balik senyum sumringah itu ada usaha yang berdarah-darah untuk mewujudkan sebuah perjalanan ke luar negeri. Ada yang mengunggah foto anak-anak yang lucu dan menggemaskan yang jika dipandang mengundang rasa iri atau rasa ingin memiliki, tapi siapa yang tahu, di balik senyum lucu dan manis bayi-bayi itu ada perjuangan berat para ibu, sedangkan penikmat foto bayi-bayi itu hanya tahu senyum yang terukir di wajah ceria sang bayi. Ada yang memiliki pekerjaan bagus dan mentereng, bisa memiliki apa yang diinginkan dengan gaji yang diterima tiap bulan. Di sisi lain, siapa yang tahu bahwa mereka dibebani pekerjaan yang banyak, kurang porsi tidur bahkan berkurang untuk quality time dengan orang-orang tercinta. Ada seorang single yang memandang bahwa pasangan yang menikah itu selalu bahagia karena ada partner untuk berbagi ketika foto-foto perjalanan berdua terunggah di akun-akun media sosial. Ya, itu hanya sekelumit kisah tentang memandang.

Dunia ini dipenuhi dengan tipu daya yang juga ditimpali dengan debu-debu halus yang berterbangan di mana-mana. Oleh karena itu, jika tak punya alat bantu untuk penglihatan, tidak ada yang menjamin jika nantinya akan tersesat atau terperangkap. Maka agar bisa terhindar dari itu, dibutuhkan pelindung mata agar bisa tetap melihat, berhati-hati dalam melangkah dan menghindari jebakan.

Alat bantu itu bukan sekedar kacamata biasa, kacamata biasa pun ketika ada goresan-goresan di lensa, maka lensa pun perlu diganti, perlu di-upgrade. Begitu juga alat bantu untuk memandang hal-hal yang bersifat filosofis dalam hidup. Alat bantu itu adalah iman, ilmu dan amal. Ibnul Jauzi berkata, “Aku merenungi dunia dan akhirat. Aku menyadari bahwa peristiwa-peristiwa yang menyangkut dunia sungguh nyata dan alami, sedangkan peristiwa akhirat hanya dapat dilihat dengan kacamata iman dan keyakinan. Yang nyata lebih kuat daya tariknya bagi mereka yang lemah iman.”

Peristiwa-peristiwa yang menipu pandangan akan selalu ada dengan berbagai penyebabnya. Bisa karena pergaulan, melihat hal-hal yang menarik hati yang menderung membawa pada kecintaan duniawi. Lalu bagaimana? Menyediakan sedikit waktu untuk berdzikir, merenung, berpikir, serta menambah porsi ilmu dan pengetahuan tentang agama, karena merenung dan tafakur akan menghindarkan dari pikiran-pikiran negatif sedangkan ilmu, pengetahuan yang selalu ditadabburi adalah obat yang sangat menenangkan.

Jadi, tidak hanya ponsel pintar saja yang di-upgrade tetapi alat bantu memandang yang kita miliki juga perlu diperbaiki agar dengan alat bantu yang jernih bisa membantu kita mengarungi hingar-bingar dunia serta mata yang tertutupi oleh debu-debu yang akan menyulitkan setiap langkah yang akan kita ambil dan jalani.

 

nb: related post

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in RenunganComments (5)

Entschuldigung

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

“Ingatkah kau, drama di bulan ini?”

Sebenarnya tak ada maksud untuk membuka luka lama. Sebenarnya aku pun tak ingin mengingatnya tapi aku harus tunduk pada permainan perasaan dan pikiran yang kemudian memainkan slide show dua tahun yang lalu. Bulan ini, Mei—entah hanya aku yang ingat atau kau dan mereka pun juga mengingatnya—genap dua tahun (tepatnya tanggal berapa aku lupa, yang kuingat itu terjadi di bulan Mei) perdamaian kita tanpa tahu apa masalahnya secara jelas. Kekanak-kanakkankah? Keegoisankah? Kesalahpahamankah? Entahlah. . . Kutahu kita saling menyakiti atau hanya aku yang menyiksa diri. Kau selalu sembunyi di balik senar gitar dan temaram malam. Aku tak tahu apakah kau merasa aku melukaimu hingga kau tak merasa tersakiti karena aku telah sering menanam luka itu dalam hatimu. Ya, kau telah terbiasa. Orang bilang padaku, kau bisa merajut senyum untuk mereka tapi mahalkah senyum itu untukku? Orang selalu memujimu tapi aku mengenalmu dengan versi yang kumau. Itulah masalahku.

***

Mei 2006

Malam memuram. Kita terdiam. Diamku, diammu, diam kita telah menyakiti udara membuat alam enggan bersuara. Kuyakin malam ini kau sedang bercumbu dengan sepotong kue kuning di angkasa sambil kau susutkan airmatamu. Aku tak pernah tahu bagaimana sakitmu karena kau tak pernah brontak padaku. Diammu adalah sangkar bagi peraasaanku karena aku tak pernah tahu apa yang kau rasa. Aku hanya bisa menebaknya. Inginku dalam diammu kudengar banyak suara karena kuyakin diammu adalah kata-kata. Namun lagi-lagi aku tak bisa. Malam ini aku tak melihatmu tapi tangisanmu yang tak terlihat telah merobek waktuku dan menghampiriku dengan caranya sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kata terlahir dari huruf yang berpasangan. Kita juga sama-sama tahu seindah apa pun kata terukir ia tak kan bermakna jika tanpa jeda. Kita pun sama-sama mengerti akan hal itu dan kita pun menyadari jeda di antara kita kian melebar. Kuputuskan datang menjengukmu ke tempat yang kau agung-agungkan sebagai singgasanamu. Kedatanganku ke singgasanamu kali ini bukan tanpa misi. Aku ingin kita sepakat menghapus beberapa jeda yang kita punya lalu menciptakan spasi secukupnya agar kita bisa bergerak untuk saling memahami dan menghargai. Itulah misiku.

Dalam raga kita ada hati, dalam hati masih ada satu ruang tak bernama. Ruang itu kecil, isinya sangat halus, lebih halus daripada serat sutera. Berkata dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh nurani. Harapanku, apa yang ada dalam genggamanku saat ini adalah kunci untuk membuka ruang tak bernama itu agar kutemukan serbuk-serbuk pengampunan darimu. Kunci itu adalah misiku yang kuat yang bisa menguatkanku hingga aku ada di hadapanmu. Seperti sekarang ini. Kita tak sendiri. Kita berdelapan. Ada enam belas bola mata yang menyaksikan termasuk mata kita yang sibuk mencari jawaban, sibuk mengumpulkan daya untuk sebuah pengakuan atas kejujuran. Kita tertunduk. Sibuk.

“Mulailah agar semua ini cepat berakhir”, batinku. Semua terdiam seolah biarlah kita bicara dengan hati. Bicaralah maka akan kita dengar tanpa kita perlu alat, tak perlu hadir hanya untuk bercakap.

“Ayolah…!!!”, seruku tapi tidak ada gelombang untuk menyuarakannya. Hening.

Aku masih diam sambil menunggu seseorang yang telah berjanji menemaniku untuk perdamaian ini. Dia teman seperjuangan dalam menyelesaikan kontrak kerja yang telah mengikat kami dalam satu tim.

“Maaf…maaf…aku terlambat”, teriaknya. Kutatap dia dan dalam tatapanku, kuingin dia melihat kelegaan dalam diriku.

“Akhirnya kau datang, kawan.”, seruku tapi masih tetap dalam kebisuanku.

“Kedatanganku kemari …”, itulah awal kata yang meluncur dari bibirku.

“Jangan katakan apa pun!”, perintahnya. “Sebelum kau terima tisu ini, aku tak ingin airmatamu keluar sia-sia. Aku terlambat karena membeli ini.”, lanjutnya dengan gaya slengekannya. Itu sangat menghiburku di saat seperti ini.

“Terimakasih…” Aku jawab dengan sebuah anggukan.

“Di saat kritis seperti ini kau masih sempat bercanda?”, pikirku. Kubalas slengekannya, “Apa kau cuci dulu tisu ini sebelum kau memberikannya padaku? Baunya seperti deterjen. Bau Rinso.” Dia tertawa dan aku semakin lega akan kehadirannya. “Terimakasih kawan, ini sangat harum.”

Ku mulai merajut kata. Semua diam. Semua menunggu mutiara yang akan terlahir dalam perdamaian ini. Akhirnya selesai juga rajutan itu. Aku memulai negoisasi itu.

“Kedatanganku kali ini, yang pertama untuk menyambung persaudaraan di antara kita. Kita tahu apa yang terjadi tanpa perlu ditutupi lagi. Aku ingin meminta kerelaanmu untuk memaafkanku atas semua sikap dan keegoisanku. Jika boleh, ijinkan aku memintamu agar kau tak pergi dari kontrak yang telah kita sepakati bersama. Kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Maukah kau menerima permintaanku?”

“Tak pantas kau meminta itu padaku. Aku tak pantas menerimanya. Justru aku yang harus meminta maaf atas semua ini. Aku hanyalah sehelai benang yang cacat yang hadir dalam selembar kain yang kau sulam sangat sempurna. Maka buanglah benang cacat itu agar kainmu tetap indah. Aku rela jika…”

“Dalam sulamanku tak ada benang yang cacat karena aku telah memilihnya dengan teliti. Aku mohon, kembalilah bekerja dan sempurnakan keberadaan kami. Cobalah…!!!”

Kulihat kau tak menolak dan kau pun juga tak mengiyakannya. Biarlah, kali ini kubiarkan kau berfikir. Kubiarkan kau berdiskusi dengan pikiran dan nuranimu sendiri tanpa perlu aku menerobos masuk ke dalam untuk mengetahui proses yang sedang kau jalani. Berakhir sudah negoisasi perdamaian ini walau terkesan menggantung. Masih saja, aku membiarkan nuraniku berharap padamu agar pintu untuk memasuki ruang itu terbuka lebar. Agar spasi yang telah hadir terhapus hingga tercipta jeda yang wajar. Bukalah dirimu karena membuka diri berbeda dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Tak lelah aku berharap agar aku menjadi tamu dan duduk di teras itu sebagai sahabatmu. Salah satu sahabat dari sekian banyak sahabat yang kau miliki. Sulit sekali mengatakannya. Akhirnya terkatakan juga, “Entschuldigung”.

***

Lamunanku pun selesai bersama bulir-bulir peluh langit yang jatuh karena lelah berarak . Teater singkat yang menjebak pada masa lalu itu telah menutup layarnya tanda drama singkat itu usai. Andai kutahu kemana peluh-peluh langit itu bermuara maka akan kutitipkan pesan singkat itu untukmu. Andai pesan itu sampai maka akan kau dapati aku berucap, “Entschuldigung…Entschuldigung…Entschuldigung…!!!”

Teater yang kuciptakan terasa amat sempurna karena sayup-sayup terdengar sebuah lagu merdu dan kubiarkan lagu itu melintas hingga tertangkap oleh pendengaranku.

Pertengkaran Kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu

Membuat jarak antara kita

Resah tiada menentu

Hilang canda tawamu

Tak ingin aku begini

Tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang telah terlewat

Buat batinku menangis

Mungkin karena egoku

Mungkin karena egomu

Maaf aku buat begini

Maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita

Tak kan mau berpisah karena ini

Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah

Karena aku ingin tetap sahabatmu

By: Edcoustic

Dengarkanlah…Rasakanlah…!!! Kisah ini teramat indah untuk disia-siakan…

Kota Berhati Nyaman, Mei 2009

 

“Terimakasih telah mengajariku berkisah”

“Senyum dan airmata akan terasa indah bila tepat pada waktunya”

Note: “Entschuldigung” di ambil dari bahasa jerman yang berarti “Maafkan aku.”

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in CerpenComments (5)

Penghalang Pandangan #1

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

IMG_20160227_172210*dokumen pribadi, diambil dari pesawat SA

Saya akan selalu mengambil beberapa saat agak lama ketika di depan kaca jendela. Di sana, saya belajar bahwa pandangan yang tertangkap mata ada yang benar-benar jelas dan ada yang buram. Objek di luar sana tidak pernah berubah, penentunya adalah kaca jendela yang ada di antara mata dan objek, penerimaan, dan keyakinan. Begitu juga tentang pandangan saya tentang hidup, tentang segala sesuatu yang terjadi. Bukan objek yang salah ketika terlihat buram atau buruk. Namun, ada penghalang antara saya (kita) dan apa yang dilihat. Perlu banyak hal untuk bisa ‘melihat’, bisa dengan wawasan, ilmu, sikap optimis bahkan tentang konsep positive thinking.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in RenunganComments (2)

Penghalang Pandangan #1

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

IMG_20160227_172210*dokumen pribadi, diambil dari pesawat SA

Saya akan selalu mengambil beberapa saat agak lama ketika di depan kaca jendela. Di sana, saya belajar bahwa pandangan yang tertangkap mata ada yang benar-benar jelas dan ada yang buram. Objek di luar sana tidak pernah berubah, penentunya adalah kaca jendela yang ada di antara mata dan objek, penerimaan, dan keyakinan. Begitu juga tentang pandangan saya tentang hidup, tentang segala sesuatu yang terjadi. Bukan objek yang salah ketika terlihat buram atau buruk. Namun, ada penghalang antara saya (kita) dan apa yang dilihat. Perlu banyak hal untuk bisa ‘melihat’, bisa dengan wawasan, ilmu, sikap optimis bahkan tentang konsep positive thinking.

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

Posted in RenunganComments (4)

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME