
Mark Manson dalam buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck mengatakan bahwa orang-orang ingin memulai bisnis mereka sendiri tetapi mereka tidak akan menjadi pengusaha sukses kecuali menemukan cara untuk menghargai risiko, ketidakpastian, kegagalan berulang, jam-jam gila yang dicurahkan untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan apa-apa. Hal ini mengingatkan pada sosok muda inspiratif yang memiliki julukan Ratu Cimol dari Banyumas. Ya, sosok itu adalah Resika Caesaria Priyono, seorang gadis muda yang memiliki daya juang yang tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga mengubah kondisi ekonomi masyarakat ke arah yang lebih baik.
Alasan Menjadi Pengusaha Cimol
Menjadi wirausaha adalah sebuah keputusan yang berani dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk memulai sebuah usaha mandiri, terlebih dengan modal yang sangat terbatas. Kemandirian ini bukan berarti tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Di sisi lain, kemandirian ini juga tidak menjadikan beban untuk orang lain.
Resika Caesaria Priyono atau dikenal dengan nama panggilan Chika atau Resika ini adalah bungsu dari empat bersaudara yang terlahir ketika usia kedua orangtua sudah terbilang lanjut. Kondisi tersebut menjadi tamparan sekaligus semangat bagi Resika untuk melakukan sesuatu agar bisa terus melanjutkan sekolah. Keinginannya yang kuat akan Pendidikan membuatnya memutar otak untuk menambah penghasilan meskipun saat itu kakak pertamanya bersedia membantu biaya pendidikannya saat masuk SMA. Namun, Resika berkeras hati mencari sendiri untuk kebutuhan setiap bulan dari kerja kerasnya.
Pada tahun 2005, saat itu Ajibarang, Jawa Tengah, tempat di mana Resika tinggal mulai dilanda ‘demam cimol’ atau Bahasa kerennya saat ini dilanda ‘cimol wave’, Resika menagkap peluang dan melihat ada celah harapan dari cemilan yang populer di tanah Sunda ini. Meskipun, diawal kedatangan cemilan ini di Ajibarang, Resika sempat melihat fenomena ‘cimol wave’ itu sebagai tren kuliner seperti biasa. Usaha dikatakan sukses jika sudah benar-benar dimulai dengan sebuah langkah nyata sekecil apapun itu usahanya.
Peran Utama Keluarga
Saat Resika memulai usahanya, ia masih berusia 16 tahun. Seorang gadis belia yang belum memiliki pengalaman, lebih-lebih modal yang sama sekali tidak ada. Kondisi yang dijalani Resika saat itu mendorongnya untuk memulai usaha cimol di daerahnya dengan modal minim sebesar Rp 63.000,00. Resika mengungkapkan keinginannya untuk berjualan cimol kepada orangtuanya. Semesta menyambut keinginannya. Kedua orangtuanya memiliki peran sebagai tim produksi dan ia memiliki peran di bagian tim marketing. Bagi Resika, keluarga adalah support system utamanya. Keluarga adalah benteng semangat paling depan bagi seseorang sekaligus tempat untuk mengisi daya semangat juang. Peran keluarga sangatlah luar biasa bagi kesuksesan seseorang.
Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh Resika adalah memasarkan produknya yaitu cimol kepada teman-temannya serta menitipkan di kantin sekolah. Ia tak menyangka bahwa cimol buatannya disukai oleh banyak orang. Tak berhenti sampai di situ, Resika juga harus mengatur keuangannya. Uang hasil penjualan cimol tetap harus diputar untuk produksi selanjutnya, untuk biaya hidup sehari-hari bahkan Resika bisa menyelesaikan Pendidikan SMA hingga menyelesaikan kuliahnya. Selama menempuh Pendidikan di perguruan tinggi, Resika tetap menjalankan bisnisnya.
Meningkatkan Perekonomian Masyarakat dengan Cimol
Menurut Resika, cemilan sederhana seperti cimol saja bisa mengangkat perekonomian keluarga maka ia pun meyakini bahwa cimol juga memiliki peluang bisa mengangkat perekonomian keluarga lain. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi Resika. Saat ia telah menyelesaikan kuliahnya, ia mengambil langkah untuk serius membuat badan usaha formal dan mengurus merk dagang cimol miliknya.

Ketika ia melihat ekonomi keluarganya jauh lebih baik dari usaha cimol yang ia dirikan dan melihat keluarga lain di sekitarnya yang masih kesulitan secara ekonomi, maka Resika pun tak tinggal diam. Ia mengambil langkah untuk memberdayakan orang-orang di sekitar ia tinggal. Resika mengajak beberapa orang tetangganya sebagai karyawan dan mengembangkan waralaba gratis untuk masyarakat yang kurang mampu. Resika juga membuka waralaba untuk kalangan menengah dan para pekerja dengan sistem berbayar. Hasil dari pendapatan waralaba berbayar ini digunakan sebagai subsidi untuk waralaba gratis.
Tantangan lain bagi Resika adalah ketika gelombang pandemi datang yang tentu saja memberi dampak buruk bagi industri kuliner yang ia jalankan. Tentu saja Resika tak tinggal diam dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, ia menemukan perubahan pola belanja masyarakat dari yang awalnya offline menjadi online. Bagi Resika menyerah pada keadaan saat itu bukanlah pilihan.
Mendirikan usaha yang melibatkan masyarakat luas tentu saja ada ujian yang harus dihadapi. Bagi Resika, hal yang cukup menantang adalah mengubah pola pikir masyarakat yang kurang mampu di mana sudah terbiasa untuk pasrah dan cukup menunggu bantuan datang dari pemerintah. Menurut Resika, pola pikir seperti itu akan menghambat bagi masyarakat untuk lebih sejahtera dan mandiri. Sebuah usaha yang besar dan perlu pendampingan yang tidak main-main, namun minimal bagi Resika adalah bisa mengubah pola pikir itu di kalangan yang bekerja sama dengannya. Resika juga berprinsip bahwa usaha yang ditekuninya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya tetapi juga bermanfaat untuk orang lain.
Usaha Resika ini tidak hanya membuahkan hasil bagi dirinya tetapi juga mengangkat kualitas perekonomian masyarakat terlebih masyarakat di sekitar ia tinggal. Prinsipnya yang kuat juga kegigihannya berjuang mengantarkan Resika menjadi salah satu penerima apresiasi SATU INDONESIA AWARD 2014 dari ASTRA.
Semangat Terpadu ASTRA Untuk Indonesia
