Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Tetiba dan Gegara, Baku Atau Tidak Baku?

Tetiba Gegara

Tetiba Gegara

“Tetiba gua pusing, gegara nonton TV isinya gosip mulu, wicis gak guna juga dalam hidup gua”

Nah, mungkin kita sering menjumpai, kalau saya sih menyebutnya kata-kata “gaul” yang banyak digunakan oleh pegiat media sosial dalam postingan atau komentar-komentarnya. Contohnya seperti kalimat di atas, penggunaan kata “gaul” yang menarik perhatian saya adalah kata “tetiba” dan “gegara”, apalagi ditambahin celetukan keinggris-inggrisan, makin shahih level gaulnya, haha.

Walaupun dua kata tersebut bukan termasuk dalam kata baku, namun tentu kita semua sudah faham maksudnya adalah kependekan dari ”tiba-tiba” dan “gara-gara”. Dalam tulisan kali ini saya akan sedikit menyinggung bagaimana sebenarnya kata tersebut bisa muncul. Hal ini bermula karena masih ada rasa penasaran tentang penggunaan kata tersebut –tetiba dan gegara–.

Pembentukan kata yang dimaksud disebut dengan reduplikasi dwipurwa atau dapat juga dikatakan sebagai reduplikasi parsial. Hal ini dikenal dalam ilmu pembentukan bahasa (morfologi). Proses ini mengulang bagian depan atau suku kata awal dari sebuah kata dasar. Pengulangan ini biasanya diikuti dengan pelemahan vokal pertama. Contohnya, lelaki dari laki-laki dan beberapa dari berapa-berapa. Contoh dari reduplikasi dwipurwa yang mendapat kombinasi akhiran -an, seperti pepohonan, rerumputan, dan bebatuan. Proses ini tidak dapat mencakup semua kata ulang, misalnya tidak ditemukan bentuk rerumahan yang berasal dari kata rumah-rumahan (gegara dan tetiba termasuk yang tidak ditemukan).

Pemakaian bentuk gegara dan tetiba tidak menyalahi kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, hanya saja ia belum masuk dalam kata baku yang tercantum dalam KBBI. Salah satu fungsi pengulangan dwipurwa adalah menciptakan kata baru yang dapat mewakili konsep tertentu. Misalnya, jejaring dari jaring dan tetikus dari tikus. Atau, fungsi lainnya adalah memendekkan bentuk ulang. Misalnya, laki-laki menjadi lelaki atau pohon-pohonan menjadi pepohonan.

Kiranya, berdasarkan teori di atas kata tetiba muncul dari kata tiba-tiba dan gegara muncul dari kata gara-gara yang berfungsi untuk memendekkan bentuk ulang. Bisa jadi, ini adalah fenomena bahasa yang muncul. Bisa jadi, ikut dibakukan semacam kata gawai yang dulu belum dikenal, namun kini masuk ke dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebagai padanan kata asing: gadget.

Sampai saat ini kata-kata yang disebutkan di atas sama levelnya dengan kata-kata sebangsa bokap, nyokap, dan lainnya yang tidak atau belum diakui sebagai kata baku bahasa Indonesia, bedanya kata tetiba dan gegara lebih intelek karena ada teori bahasa yang melatarbelakanginya. Masalah kebakuan kata dalam prosesnya sebagi kata baku yang diakui oleh KBBI memang cukup debatable. Bisa jadi kata yang dianggap aneh saat ini bisa dibakukan dan masuk dalam KBBI atau mungkin akan hilang dengan sendirinya karena pamornya sudah mulai hilang dan pengguna bahasa sudah menemukan ‘mainan’ baru yang bisa digunakan sebagai fashion dalam berbahasa.

Kalau teman-teman mencoba mencari kata gegara dan tetiba di KBBI online akan muncul dua kata tersebut beserta maknanya, namun ditandai dengan “cak”, yang artinya cakapan: menandai kata yang digunakan dalam ragam tidak baku.