Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Sensasi [Pasca] OD

OD, bukan over dosis lho melainkan itu adalah istilah yang digunakan oleh dokter gigi saya di detik-detik menjelang operasi pengangkatan gigi bungsu saya yang melintang. Sayangnya, setelah ‘ritual’ itu selesai, saya lupa untuk bertanya apa OD itu dalam dunia kedokteran gigi karena saya telah teralihkan oleh rasa takut apa yang akan saya rasakan jika bius itu telah habis.

Flashback: aku dan ‘bungsu’

Saya masih teringat saat tengah malam saya menangis dalam keadaan tidur, bahkan setelah bangun saya justru merasakan sakit yang luar biasa di bagian gigi geraham paling belakang sebelah kanan hampir berdekatan dengan telinga. Saat itu saya menangis di depan teman-teman kos lantai tiga yang ada di depan saya, bisa dibilang saat itu saya lupa dengan umur saya (hahaha…). Karena ‘ulah bungsu’ saat tengah malam itu, saya bisa merasakan The Amazing of Cengtri seperti dalam film 3idiots menuju kediaman sekaligus tempat praktek my fairy tooth di Kawasan Malioboro dekat Hotel Melia Purosani. Ya, malam itu saya diaba-aba untuk segera menjalani OD karena jika ‘bungsu’ tak segera diangkat maka saya harus rela merasakan sakit jika ‘bungsu’ ‘berulah’ lagi. Rasa sakit itu tidak bisa diprediksi kapan akan menyerang lagi. Jika sudah menyerang, saya akan susah membuka mulut dan merasakan sakit kepala yang amat sangat. Meskipun ada obatnya tetapi jika terus-terusan mengandalkan obat dampaknya juga akan kurang sehat. Apalagi jika ditunda terlalu lama dan mendapati ‘bungsu’ telah berlubang, rasanya akan semakin sulit saja nantinya. Tak perlu menunggu lama, siangnya, saya pun dianjurkan untuk rontgent merekam jejak ‘bungsu’ yang ternyata posisinya melintang alias tertidur.

Saat OD: seperti melahirkan

Jujur saja, saya sebenarnya belum tahu bagaimana proses dan rasanya melahirkan tetapi pasca OD hari Senin (28/3) rasanya plong seperti seorang ibu yang selesai melahirkan melalui operasi cesar. Betapa tidak, saat itu hanya menggunakan bius blok untuk mematikan rasa untuk sementara. Semua proses dapat dilihat dan dinikmati, mulai dari pisau yang membedah gusi, proses pengangkatan hingga penjahitan. Saat ‘bungsu’ diangkat saya pun melihatnya, saat ia dikeluarkan dari persembunyiannya lalu dikeluarkan dari mulut saya dan diletakkan di selembar tissu putih. Melihat bahwa saya telah berpisah dengan ‘bungsu’ sebenarnya ada rasa sedih dalam benak saya tetapi di sisi lain saya merasa lega sesaat setelah OD.

Pasca OD: terasa sensasinya

Tak seperti cabut gigi biasa, setelah ‘bungsu’ diangkat dampaknya baru terlihat: bengkak, demam, susah buka mulut, susah makan dan susah bicara, tentunya sakit dan nyeri karena luka dan jahitan. Dari semua dampak yang bermunculan saya susah sekali menahan sakit dan keinginan untuk makan bahkan saya memanfaatkan buku ide redaksi Mini Magz untuk menulis makanan-makanan yang ingin saya makan (bersama teman-teman redaksi Mini Magz…hehehe…) dan di hari kelima pasca OD alhamdulillah saya bisa membuka mulut, bicara, sedikit lancar mengunyah meskipun belum say goodbye pada rasa sakit dan nyeri. Pasca OD juga memberi saya kesempatan ekstra untuk istirahat sejenak di rumah walaupun harus benar-benar rela meninggalan banyak tugas dan kewajiban. Saya harus senang karena hati yang senang adalah obat ^^ serta perhatian dari sahabat-sahabat saya atas saran-sarannya, terimakasih ^^

Saya hanya bisa berharap semoga setelah dilepas jahitannya akan sembuh total dan rasa sakit pasca OD selama beberapa hari ini akan terganti dengan sehat seterusnya. Bisa tersenyum, beraktivitas dan menikmati romansa diantara tumpukan tugas dan kewajiban-kewajiban yang lain ^^
Ya, inilah romantisme saya bersama ‘bungsu’ dan hal-hal konyol yang telah terjadi di antara kami. Meskipun sakit, saya menikmatinya.

*Sedikit saran dari saya, rutinlah memeriksakan gigi kalian ke dokter gigi. Itu sangat bermanfaat sekali. Sejak saya memutuskan untuk ‘berpagar ayu’ saya berkewajiban mengunjungi dokter gigi setiap dua minggu sekali dan itu sangat bermanfaat karena saya bisa bertanya tentang banyak hal seputar kesehatan gigi.

Para Tersangka Paling Kompak

Empat anak perempuan keluar kamar berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang sama “mau diapakan kita?” Terus berjalan melintasi koridor dan masih sempat-sempatnya bersay hello dengan yang lain. Ghurfah addluyub kosong tak ada konferensi kecil disana karena malam telah cukup larut. Mereka terus berjalan hingga melewati teras depan asrama.
“Huuhhh, aina na’li??” “Mafii kulluh!!!” seorang dari mereka yang teridentifikasi bernama zeinth memulai membuka percakapan.
An’ass jiddan….” ryan pun tak kalah dengan gerutuannya.
“Kholas yaa akhwati… Hayya bisur’ah!!!” Arrozi pun juga tak mau kalah untuk ikut berkomentar, hanya Fath alias si Bontot yang tak berkomentar karena dia satu-satunya anak dari mereka berempat yang sedang mengumpulkan nyawa untuk hidup. Akhirnya tak satupun sandal mereka temukan.
“Payah banget!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat aku gak pake bahasa”, ryan terus saja berceloteh ria dan tak sadar bahwa mereka berada dalam zona bahasa.
Tanpa alas kaki alias nyeker, tibalah mereka di ruang sidang–kamar ustadzah–
Setelah berucap salam, mereka berempat memasuki ruang sidang. Setelah bercakap-cakap tibalah pada inti permasalahan kenapa mereka dipanggil. Ustadzah hanya tersenyum dan berkata, “Kenapa kalian berempat sangat kompak, satu kamar tak ada yang tahfidz hari ini??”
dan mereka berempat menjawab serempak tanpa ada komando, “Kami ketiduran, Ustadzah dan kamar kami kunci dari dalam.”
“Besok jangan terulang lagi yaa…” kata ustadzah.
“Memang kita tukang tidur semua…”

Keesokan hari…
Jam dinding penjara suci berdentang menunjukkan pukul 21.00 ritual akan segera dimulai–mahkamah bahasa– setelah terdengar kata-kata yang tak asing lagi “nahnu min qismu lughoh….bla…bla….”. Faith berseru, “Show time ryan, kakak tuaku kali ini kau tak kan lolos dari mahmakah hehe….”
Hingga akhirnya disebutlah nama mereka berempat tentu saja seantero penjara suci mendengarnya.
Mereka keluar dari kamar melewati koridor–uiiih…serasa jadi artis haha…– teman-teman dari kamar lain berseru pelan ” Chayo… Cah Firdaus dari kemarin kok kompak banget…”
Tibalah mereka di ruang sidang alias di teras depan yang langsung menghadap makam.
Tanpa basa-basi langsung hakim membacakan kesalahan masingt-masing tersangka.
Hakim: “ukhti ryan, antum bilang Payah banget!!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat!! Aku gak pake bahasa…”
Hakim: “ukhti Faith,Aku suka yang panjang…. Hey… buka aja pelan-pelan”
Hakim: ” ukhti Zeinth, dia tuch terlalu gede, pa gak da yang lain”
Hakim: ” ukhti arrozi, huuuhhh kalo habis makan diberesin donk!!!”
Hakim: Great!!! Your punishment…..
Make a story….dan selamat atas kekompakan kalian.

*Salam kompak untuk kalian…
Semua itu tak kan terulang…
Tapi kita akan tetap ingat apa yang pernah kita lakukan… It’s amazing…!!!
Untuk adek-adek jangan ditiru…
Maaf untuk semua…

Ket:
Ghurfah addluyub : ruang tamu
Aina na’li : dimana sandalku?
Mafii kulluh : Gak ada semuanya
An’ass jiddan : aku ngantuk banget
Kholas yaa akhwati, Hayya bisur’ah : Sudahlah… Ayo cepat!

Never Endingt Spirit

Masih ingatkah kalian dengan drama korea “One Litre of Tears” ? Disana diceritakan perjuangan seorang gadis yang terkena penyakit kelumpuhan total yang mempunyai semangat untuk terus membantu orang lain. Ketika seluruh tubuhnya lumpuh, dia kehilangan semangat. Namun, sang ibu memberi semangat bahwa semangat yang ditunjukkannya memberikan inspirasi bagi orang lain yang berada dalam kondisi terpuruk dan yang lebih penting, buku harian yang dituliskannya memberikan dorongan nyata tentang “Hidup harus diteruskan apa pun kondisinya.”

Jangan pernah beranggapan bahwa sudah terlambat mengarahkan kembali minat kita. Boleh jadi memang sudah terlambat tetapi selalu akan ada kesempatan selagi udara masih terhirup. Setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali atau terlibat dengan apa yang menjadi impian. Tidak ada kata “Tidak” untuk tetap bertahan dalam keterpurukan. Teruslah melangkah dengan penuh keyakinan. Raih apa yang menjadi impian kita walaupun jalan yang kita tempuh berbeda. Tetap semangat…..!!!

Terimakasih untuk “Never Ending Spirit”nya….

“Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai”