
“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi…tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara a-a..”
Teman-teman tentu masih ingat dengan potongan lirik lagu itu bukan? Saya menyenandungkannya sepanjang perjalanan di mana pemandangan di depan mata ada gunung dengan nuansa hijau yang menenangkan. Dari rumah, suami hanya berpesan agar saya memakai sandal yang mudah dilepas dan nyaman. Ketika saya sadar, perjalanan kami telah keluar dari Kota Palu, saya pun makin penasaran akan dibawa ke mana.

“Ke air terjun itu”, katanya sambil menunjuk ke arah air terjun yang terlihat masih begitu jauh. Bayangan saya selama sisa perjalanan, air terjun tujuan kami ini layaknya air terjun Tawangmangu di mana aksesnya mudah dan tetap bisa ‘jalan-jalan cantik’ atau ‘foto-foto cantik ala model’ 😀

Perjalanan sekitar 30 menit dari Kota Palu berakhir, kami parkir dan memulai perjalanan menuju air terjun yang bernama Air Terjun Wera. Tak perlu waktu lama, akhirnya saya buru-buru membuang segala ekspektasi tadi karena saat memasuki wilayah Air Terjun Wera ini masih sangat alami. Dari parkiran masuk ke area awal melalui jalan kecil dan turun melalui tangga alami dari akar pohon yang dibuat undak-undakan. Melewati jembatan, sungguh pemandangannya sangat bagus. Ada jalan paving dari batu alam yang dibuat rapi memudahkan untuk berjalan. Sepanjang jalan, ada sungai berbatu di sisi kiri dengan deru suaranya yang riuh. Sungai ini membelah hutan yang akan jadi teman perjalanan menuju Air Terjun Wera.


Saya berjalan sebentar dengan jalan paving halus dan di bagian yang mulai menanjak, di sisi kiri terdapat semacam pagar untuk pegangan. Saya pikir, oke, termasuk ramah kalau aksesnya seperti ini, batin saya waktu. Hingga akhirnya, saya tiba di ujung di mana ada batu besar dan di baliknya adalah jalan terjal yang harus ditempuh untuk sampai Air Terjun Wera 😀


Saya harus melepas sandal karena harus masuk sungai untuk menyebrang, lalu naik, naik, naik lagi, terus sambil tetap waspada dan memilah mana pijakan yang kuat untuk saya pijak selanjutnya, memastikan pijakan berikutnya aman. Perjalanan di area yang masih sangat alami ini ternyata lebih panjang daripada jalan paving sebelumnya 😀 Jadilah saya tracking-hiking untuk mencapai air terjun. Kegiatan tracking-hiking di bagian ini menantang wisatan karena terdapat bebatuan terjal dan membuat beberapa titik jalur menyempit.

Selama perjalanan saya sudah tidak berpikir untuk bisa foto-foto cantik ala model tapi lebih kepada gimana nanti turunnya :-D, semoga pemandangan di depan sana sepadan dengan perjalanannya. Meski harus tracking-hiking, naik-naik, ternyata anak kami yang usia 3 tahun jauh lebih menikmatinya meski sekali dua kali dia minta gendong. Selama perjalanan naik ini kami hanya dua kali berpapasan dengan kelompok pemuda-pemudi yang baru saja turun dari air terjun.

Sampai Puncak, Melihat Pesona Air Terjun Wera
Sungguh, segala peluh terbayar saat melihat air terjun yang indah, yang dikelilingi pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan lain dengan warna hijau menawan. Air terjun yang terletak di Desa Balumpewa, Dolo Barat, Kabupaten Sigi ini dapat dinikmati keindahannya dari dua tempat atau dua sudut pandang, bagian atas dan bagian bawah air terjun yang lebih landai. Saat itu, saya menikmatinya di bagian atas, sudah tak sanggup lagi jalan ke bawah 😀

Bagi pengunjung, selain menikmati keindahan alam dan setelah uji adrenalin, kurang rasanya jika tak berfoto ria atau setidaknya mengabadikan momen indah Air Terjun Wera. Selain keindahan air terjun, kawasan yang akhirnya saya tahu bahwa ini adalah kawasan hutan lindung makanya keadaannya sangat alami termasuk aksesnya. Suara-suara burung dan serangga terdengar jelas, karena itu memang setiap sudutnya harus diabadikan. Apalagi Air Terjun Wera ini berada di kawasan hutan lindung di mana pepohonan tua berukuran besar yang bagi saya sendiri jarang saya jumpai.
Fasilitas di Kawasan Air Terjun Wera
Saat saya ke sana, sekitar awal Maret 2021, ternyata sudah dua tahun (dan baru saya tulis di tahun 2023, sungguh terlalu :-D), tidak ada fasilitas berupa toilet atau kamar ganti. Tidak ada musola atau warung makan. Saat itu tarif parkirnya pun sangat murah, Rp 5.000,00 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Masih sangat terjangkau kan? Di area parkir ini ada dua kedai kecil yang dikelola perorangan.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
Waktu yang disarankan saat ke Air Terjun Wera adalah saat musim kemarau karena saat musim penghujan dikhawatirkan debit air meningkat mengingat untuk sampai ke air terjun harus menyebrangi sungai secara langsung (masuk ke dalam sungai). Memakai alas kaki yang nyaman dan simpel yang mudah dilepas jika tidak nyaman menggunakan alas kaki basah. Membawa makanan dan minuman secukupnya agar perjalanan tracking-hiking lebih ringan. Selain itu, harus tetap memperhatikan keamanan diri dan bawaan seperti kamera atau telepon genggam. Tak lupa yang juga sangat penting, jika pergi ke Air Terjun Wera bersama anak usia di bawah 5 tahun harus diawasi dengan maksimal dan sebaik mungkin. Tak hanya waspada kepada diri sendiri dan barang bawaan, tentu saja kita harus tetap menjaga kebersihan, sisa bungkus jajan harus kita bawa turun dan buang di tempat sampah karena alam yang cantik ini harus benar-benar kita jaga. Setelah puas treking di Air Terjun Wera, Teman-Teman bisa langsung makan siang sembari istirahat di La Toratima, Sigi.
Gimana teman-teman, siap uji adrenalin di Air Terjun Wera? 🙂
