Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Asiknya Berkunjung ke Monumen Pers Nasional Solo

Monumen Pers Nasional

Monumen Pers Nasional

Monumen Pers Nasional merupakan bangunan monumen sekaligus museum khusus pers nasional Indonesia. Bagi saya, Monumen Pers Nasional ini sangat familiar, mengingat dulu jaman saya masih SMA di Solo sering sekali melewatinya ketika hendak ke Gramedia, Sami Luwes atau Pasar Klewer. Meski begitu, baru Rabu (18/10) lalu adalah kali pertama saya masuk ke dalam gedung Monumen Pers Nasional.

Monumen Pers Nasional

Alangkah senangnya saya ketika kunjungan saya bersama Bilgi di luar ekspektasi. Saya pikir hanya aka nada museum tentang pers Indonesia. Ternyata jauh menyenangkan saat tiba dan mendapat penjelasan dari petugas di lobi. Ada apa saja di Monumen Pers Nasional Solo?

Monumen Pers Nasional

Museum Pers Nasional

Monumen Pers Nasional

Museum ini merupakan museum khusus pers nasional Indonesia mulai dari awal lahirnya, perjalanannya hingga saat ini. Perkembangan pers khusus di wilayah Solo pun juga dijelaskan secara tuntas di museum ini melalui infografis di setiap ruang. Museum yang berada di Gedung utama dekat lobi menyajikan banyak pengetahuan tentang pers nasional disertai pameran koleksi buku-buku yang tertata rapi.

Monumen Pers Nasional

Ruang Pameran Pers Nasional

Monumen Pers Nasional

Ruang ini berada di gedung kedua, samping gedung utama. Ruang pameran ini berisi koleksi meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon, radio, kamera dan kentongan besar.

Monumen Pers Nasional

Monumen Pers Nasional

Monumen Pers Nasional

Perpustakaan

Monumen Pers Nasional
Saya masuk ruang perpustakaan umum ini hanya sebentar karena saya bersama anak saya usia 6 tahun. Demi menjaga ketenangan dan kenyamanan sih 😀

Di gedung kedua tepatnya lantai dua terdapat dua perpustakaan yaitu perpustakaan umum dan perpustakaan (khusus) anak-anak dengan ruang terpisah. Perpustakaan umum di Monumen Pers Nasional ini sangat tenang, tersedia banyak koleksi buku, meja kursi beserta colokan, wifi, dan AC yang dingin yang benar-benar mendukung untuk belajar atau bekerja jarak jauh di perpustakaan ini.

Monumen Pers Nasional

Perpustakaan (khusus) anak berada tepat di depan perpustakaan umum. Perpustakaan anak di sini menyediakan berbagai macam buku untuk anak-anak yang mayoritas adalah buku-buku ensiklopedia. Ada juga perosotan, mainan edukatif dan TV sebagai media belajar untuk anak. Saat saya ke sana dan TV dinyalakan, perpustakaan ini memutar lagu-lagu anak. Bilgi betah di ruang perpustakaan anak ini. 😀

Monumen Pers Nasional

Ruang Baca

Monumen Pers Nasional

Ruang baca di Monumen Pers Nasional Solo ini mengingatkan saya pada sebuah drama detektif yang sedang mencari informasi bertahun silam melalui surat kabar 😀 . Nah, bayangan saya, ini adalah ruang baca semacam perpustakaan. Ternyata ini adalah ruang baca untuk membaca surat kabar dalam bentuk cetak dan digital. Terdapat beberapa komputer untuk mengakses koran dalam bentuk digital atau membaca surat kabar cetak yang jumlahnya sangat banyak dan tertata di rak.

Lokasi dan Jam Operasional

Monumen Pers Nasional berada di Jalan Gajahmada No. 59, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Lokasinya sederet sangat dekat dengan RS Muhammadiyah Solo dan Tahu Kupat ‘Sido Mampir’ Gajahmada.

Jam operasional Monumen Pers Nasional mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dan buka setiap hari. Iya, Hari Minggu tetap buka. Kalau saya tinggal di Solo beneran bakal betah dan jadi tempat favorit sih ini. 😀

Fasilitas di Monumen Pers Nasional

Monumen Pers Nasional
Lobi

Sebuah tempat yang menyenangkan tentu saja harus didukung dengan fasilitas yang nyaman juga ya. Begitu juga di Monumen Pers Nasional ini juga menyediakan kenyamanan bagi pengunjung. Di antara fasilitas yang ada yaitu area parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat, ada toilet yang bersih, musola yang nyaman digunakan untuk ibadah, akses wifi yang cepat, tidak ada tiket masuk (pengunjung hanya mengisi buku tamu di komputer yang tersedia di lobi) dan juga ada tour guide yang menemani berkeliling ke museum.

Monumen Pers Nasional
Penanda arah menuju ruang perpustakaan dan ruang baca.

Main kali ini sungguh menyenangkan, berkunjung ke Monumen Pers Nasional tidak hanya menambah wawasan saya tentang perkembangan pers tetapi juga tahu bahwa di sana tersedia perpustakaan umum, perpustakaan anak dan ruang baca. Benar-benar mengasyikkan. Jika Teman-Teman sedang jalan-jalan ke Solo, wajib singgah di Monumen Pers Nasional Solo. ^^

Baca juga: Menikmati Jalan Slamet Riyadi Solo Versi Low Budget ^^

Monumen Pers Nasional

Menikmati Jalan Slamet Riyadi Solo Versi Low Budget, Ngapain Aja?

Solo Low Budget

Solo Low Budget

Jalan Slamet Riyadi merupakan jalan utama sekaligus berada di jantung Kota Solo. Salah satu sisi di jalan ini memiliki ruang untuk jalan kaki yang cukup lega. Selain itu juga masih banyak pohon-pohon besar nan rindang yang membuat suasana lebih adem saat siang hari.

Ada banyak hal yang menarik di Jalan slamet Riyadi dan saya memasukkannya dalam dua cara menikmatinya. Salah satunya adalah menikmati jalan utama ini dengan versi low budget. Trus, ngapain aja dong?

Berjalan Kaki

Slamet Riyadi Solo

Menikmati Jalan Slamet Riyadi dengan berjalan kaki adalah ide terbaik versi low budget tentu saja 😀 Selain itu, dengan berjalan kaki rasanya bisa dapat aja gitu feel-nya. Dilakukan saat siang hari dengan cuaca yang terik pun masih terasa adem dengan hembusan angin sepoi-sepoi.

Melihat Loji Gandrung dari Dekat

Loji Gandrung

Loji Gandrung merupakan rumah dinas walikota Solo dengan gaya arsitektur indis. Loji Gandrung juga menjadi ikon Kota Solo sekaligus menjadi bangunan cagar budaya. Loji Gandrung memiliki sejarah yang sangat berarti ketika sebagai markas Gatot Subroto dan Slamet Riyadi Menyusun rencana untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika ingin melihat area dalam Loji Gandrung bisa bertanya langsung pada petugas yang berjaga di bagian depan. Saat saya ke sana, saya hanya menikmati bagian depan dan melanjutkan jalan-jalan saya.

Mengenang Taman Sriwedari

Taman Sriwedari

Saya terkejut ketika Langkah kaki saya sampai di depan gerbang Taman Sriwedari. Dulu sewaktu saya kecil hingga masa-masa SMA, area ini seperti taman ria dan pusat kebudayaan. Banyak pementasan budaya yang digelar di Taman Sriwedari. Namun saat saya ke sana Agustus lalu (2023), Taman Sriwedari sudah bersih dan tersisa patung ikonnya Sriwedari. Meski demikian, ternyata masih ada pementasan rutin digelar di Taman Sriwedari ini.

Taman Sriwedari

Melihat Rusa

Rusa Sriwedari

Masuk ke area Taman Sriwedari ini ternyata ada sekawanan rusa yang cukup jinak. Pun ada petugas keamanan yang berjaga. Saat ke sana, sayang nggak bertemu dengan penjual sayur yang bisa diberikan pada rusa-rusa itu.

Berkunjung ke Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka ini juga terletak di Jalan Slamet Riyadi terletak tepat di samping Taman Sriwedari. Museum Radya Pustaka ini merupakan museum tertua di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, bangunan museum hampir tidak banyak berubah. Gedung dengan gaya arsitektur Belanda masih dipertahankan dengan perpaduan khas ala keraton yaitu putih, biru tua dan kuning emas sekaligus menjadi ciri khas dari museum ini. Museum Radya Pustaka buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB di Hari Selasa hingga Minggu dan tutup di Hari Senin. Masuk museum ini gratis.

Museum Radya Pustaka

Berfoto

Slamet Riyadi Solo

Ketika saya berjalan menyusuri Jalan Slamet Riyadi ini, ternyata ada tempat iconic yang bisa digunakan untuk mengabadikan momen di salah satu sudut Kota Solo ini. Salah satu pojok iconic itu berada di sudut Stadion R. Maladi Sriwedari. Sudut ini rindang dan terdapat tulisan I love Solo dengan tanda hati berwarna merah. Selain itu, kita bisa sejenak duduk di kursi yang tersedia untuk menikmati lalu lalang kendaraan dan jika beruntung bisa melihat Kereta Batara Khrisna melintas di Jalan Slamet Riyadi.

 

Yaahh, ini beberapa kegiatan menikmati Kota Solo khususnya Jalan Slamet Riyadi versi low budget tapi tetap menyenangkan dan ramah anak 😀 Silakan mencoba bagi Teman-Teman yang akan berkunjung ke Solo ^^

 

Baca juga: Serunya Jelajah Baluwarti Bersama Soerakarta Walking Tour.

Kenangan Jelajah Baluwarti Bersama Soerakarta Walking Tour

Baluwarti

Baluwarti

Walking Tour bagi saya adalah cara lain menikmati wisata, salah satunya wisata sejarah dengan cara berjalan kaki bersama ‘juru kunci’ atau guide. Selain merasa santai, walking tour juga memberi rasa lebih deka tantara saya dan destinasi yang saya kunjungi. Terutama lagi tidak diburu-buru dan informasi yang didapat juga lebih banyak. Tempat yang dikunjungi rasanya seperti hidden gem atau tempat tersembunyi meski bisa jadi pernah melewatinya.

Baluwarti
Ini area Alun-Alun Kidul, Solo.

Selayang Pandang Tentang Baluwarti

Baluwarti
‘cekungan’ tempat kami berkumpul ini, dulu difungsikan untuk naik dan turun kereta sekaligus tempat parkirnya.

Kali ini, saya ingin membagi kenangan berupa pengalaman walking tour yang saya lakukan di sebuah tempat bersejarah di Kota Solo bersama Soerakarta Walking Tour yang biasa akrab disapa MinSoer X Patjar Merah Solo. Tempat itu bernama Baluwarti. Saya pun baru tahu nama itu ya saat ikut MinSoer jalan-jalan setelah sekian lama dan berkali-kali ke Solo bahkan pernah melewati destinasi yang kami kunjungi saat itu.

Baluwarti

Baluwarti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti dinding tembok, benteng atau pertahanan. Baluwarti sendiri merupakan sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Di kelurahan ini terdapat Keraton Kasunanan Surakarta, sekolah-sekolah Kratonan dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Menurut saya, keluarahan Baluwarti ini istimewa karena berada di dalam lingkungan benteng Keraton Surakarta.

Baluwarti

Dulu, Baluwarti merupakan wilayah yang dihuni oleh keluarga keraton dan kerabat yang biasa disebut abdi dalem. Menurut MinSoer saat walking tour di awal Juli lalu, secara umum rumah-rumah di Kawasan Baluwarti bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Tipe pertama, tipe rumah Jawa lengkap dengan wujud joglo dilengkapi dengan pendapa, dalem ageng ditambah dengan deretan rumah di kanan kiri atau di hadapan bangunan utama. Tipe ini biasanya memiliki halaman yang luas dan dikelilingi tembok yang tinggi. Tipe kedua, tipe rumah Jawa dengan wujud limasan dan tipe ketiga berbentuk kampung atau bangunan yang lebih sederhana.

Baluwarti

Tidak semua tempat di Baluwarti ini menjadi tempat tinggal, ada beberapa tempat yang digunakan untuk mendukung kebutuhan keraton. Misalnya, terdapat rumah penjagaan atau biasa disebut Dragorder atau Dragunder. Ada Masjid Suranata dan tempat kereta raja. Di timur Kori Brajanala Lor terdapat Paseban Kadipaten, rumah penjagaan prajurit dan ada Sekolah Ksatriyan.

Baluwarti
Area Wirengan, tempat tinggal untuk para prajurit sekaligus juru tari.

Baluwarti sebagai Destinasi Eduwisata

Baluwarti
Wirengan.

Kawasan Baluwarti yang terletak di lingkungan keraton Surakarta. Di mana Baluwarti tumbuh dan berkembang dengan sangat menjaga aturan yang berlaku serta masih terus mempertahankan adat istiadat dan memegang teguh budaya yang ada. Semua masih terlihat dan bertahan meski tumbuh di tengah modernisasi.

Baluwarti

Hal ini menurut saya juga bagian dari keunikan dan kekhasan Baluwarti. Kawasan Baluwarti juga telah masuk dalam kawasan cagar budaya yang ada di Kota Solo. Tak hanya itu, Baluwarti juga merupakan peninggalan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sekarang, Kelurahan Baluwarti dijadikan tempat wisata bagi para pengunjung dari dalam atau pun luar kota. Kelurahan Baluwarti merupakan tempat eduwisata yang harus dikunjungi jika ke Kota Solo. Nah, biar makin asik jelajah Baluwarti, Teman-Teman bisa private tour bersama Soerakarta Walking Tour, lho. MinSoer bisa dihubungi via DM akun Instagram Soerakarta Walking Tour.

Baluwarti

Sampai jumpa di Baluwarti yang kaya akan nilai sejarahnya… ^^

_______________

Baca juga: Kampung Seni Kemlayan, Jejak Laku Piwulang di Kota Solo.

Baluwarti

 

Play Book Dating Bersama Patjar Merah di Kota Solo, Ngapain Aja?

Patjar Merah

Patjar Merah

Bahagianya bookworm itu seakan simpel, menemukan ‘surga’ berisi beragam buku didukung dengan diskon yang menyertainya. Iya nggak? Ya, setidaknya begitu sih bagi saya sendiri, hehehe. Berada dalam event yang berkaitan dengan buku, melihat beragam genre buku hingga rasanya bisa mencium aroma buku dalam waktu bersamaan itu seperti hujan oksitosin. Bahagia banget!

Patjar Merah

Mengenal Festival Literasi Patjar Merah

Patjar Merah

Salah satu event literasi yang membuat para bookworm bahagia adalah Patjar Merah. Nama Patjar Merah merupakan sebuah nama dari judul novel tahun 1930-an yaitu Patjar Merah Indonesia. Dalam novel tersebut ada seorang tokoh Bernama Patjar Merah. Dia adalah sosok yang cerdik, pandai, gemar membaca, dan seorang tokoh pahlawan. Yap, dia adalah Tan Malaka.

Patjar Merah

Menjadikan sosok Tan Malaka sebagai nama event literasi tentu memiliki tujuan harapannya semangat Tan Malaka yang pandai dan gemar membaca menginspirasi acara ini dan semua para pengunjungnya. Selain itu, bagi saya ada hal menarik lain di festival literasi Patjar Merah adalah tempat pameran yang digunakan. Adakah Teman-Teman bisa menebaknya? 😀

Patjar Merah
Patjar Merah 1 atau ruang pameran utama.

Patjar Merah bagi saya selalu menarik setiap mengadakan pameran kelilingnya di beberapa kota di Jawa seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang dan sekarang di Solo. Venue yang dikonsep oleh Patjar Merah adalah bentuk apresiasi ruang-ruang lama yang tidak terpakai untuk mengaktualisasi kembali gedung-gedung tersebut. Termasuk Denyut Merah Solo ini bertempat di Ndalem Djojokoesoeman yang merupakan bangunan cagar budaya. Jika Teman-Teman mengikuti perjalanan Patjar Merah pasti ingat ya tempat-tempat yang dipakai untuk pameran di kota-kota yang pernah disambangi Patjar Merah kan ya?

Patjar Merah
Patjar Merah 2 atau ruang pameran 2.
Patjar Merah
Patjar Merah 3 atau ruang pameran 3.

Hal-Hal Menyenangkan di Patjar Merah Solo

Patjar Merah
Kado dari Patjar Merah saat Jelajah Baluwarti bersama Soerakarta Walking Tour.

Denyut Patjar Merah di Kota Solo tidak hanya sekadar pameran buku saja tetapi juga banyak workshop dan acara lain seperti beberapa heritage walking tour dan pertunjukan paper moon puppet. Seperti halnya kemarin, di Hari Minggu ada agenda dari Patjar Merah dan Soerakarta Walking Tour dalam ‘Jelajah Baluwarti’. Bagi saya acara itu sangat mengasyikkan, kapan lagi kan ya? Jalan-jalan sambil diceritakan tentang sejarah tempat-tempat yang mungkin saat kita lewati biasa saja ternyata menyimpan sejarah. Ada juga nanti di Hari Minggu ada jelajah rasa di pojok Pasar Gede, Solo. Untuk workshop di Patjar Merah juga diisi oleh tokoh-tokoh terkenal serta ada beberapa seniman dari Solo.

Patjar Merah
Buku karya dari salah satu penulis Kota Solo.

Selain kegiatan-kegiatan yang menyenangkan itu, Denyut Patjar Merah Solo juga menyediakan buku-buku yang beragam genre dari banyak penerbit, penerbit mayor dan penerbit indie. Soal harga jangan khawatir, didukung dengan diskon hingga 80%. Ada buku-buku non-fiksi, buku fiksi, buku anak-anak hingga buku mewarnai pun juga ada.

Patjar Merah
Ketemu Mba Reda Gaudiamo ^^
Patjar Merah
Salah satu karya Mba Reda, udah pernah baca?

Fasilitas di Festival Patjar Merah Solo

Fasilitas yang disiapkan menyambut Denyut Patjar Merah Solo ini sangat ‘mewah’ lho. Area parkir yang luas untuk roda dua dan kendaraan roda empat. Toilet yang bersih di beberapa sudut dalam venue. Ada musola untuk melaksanakan salat bagi pengunjung muslim. Area Ndalem Djojokoesoeman yang sejuk dan asri serta tidak ada tiket masuk ke venue Patjar Merah. Denyut Patjar Merah Solo ini ada tiga ruang pameran buku karena memang banyak sekali judul buku yang disediakan.

Patjar Merah
Suasana Patjar Merah, Minggu (2/7).

Tips Berkunjung ke Patjar Merah Solo

Patjar Merah

  • Tetap terapkan protokol kesehatan ya Teman-Teman, kenakan masker dan siapkan Bisa juga mencuci tangan di tempat yang telah disiapkan.
  • Sebaiknya bawa totebag atau paperbag (jika pakai tas kecil) karena Patjar Merah tidak menyediakan kantong sekali pakai jika berbelanja buku.
  • Patjar Merah menyediakan totebag untuk pembelian buku minimal Rp 200.000,00.
  • Karena bertempat di bangunan cagar budaya, sebagai pengunjung kita harus tetap menjaga kebersihan, jauhi kegiatan merusak fasilitas di Ndalem Djojokoesoeman.

Yuk berkunjung ke Denyut Patjar Merah Solo yang masih berlangsung hingga Hari Minggu, 9 Juli 2023 nanti di Ndalem Djojokoesoeman, Solo ^^

 

Baca juga: Jalan-Jalan ke Kampung Seni Kemlayan, Solo.

Kampung Seni Kemlayan: Jejak Laku Piwulang Dunia Seni di Kota Solo

Kemlayan Solo

Kemlayan Solo

Salah satu point dalam kegiatan Heritage Walking Tour bersama Soerakarta Walking Tour adalah Kampung Seni Kemlayan. Salah satu tujuan dari tema Jejak Laku Piwulang atau Jejak Pendidikan non formal di Kota Solo bidang seni. Perjalanan kali ini bagi saya sangatlah menarik karena ini kali pertama bagi saya dan baru saya dengar juga namanya.

Kemlayan Solo
Main stage.

Selayang Pandang Kampung Seni Kemlayan

Kemlayan Solo

Kemlayan Solo
Jalan sepanjang Kampung Seni Kemlayan.

Kemlayan merupakan nama sebuah kelurahan di Kota Solo. Berada di pusat kota layaknya daerah Kauman yang terkenal dengan batik. Tapi, saya benar-benar baru tahu tentang Kampung Seni Kemlayan ini padahal dulu saya menghabiskan 3 tahun SMA di Kota Solo. Kemlayan pun memiliki sejarah perkembangan seni tari dan seni musik dalam menjaga dan melestarikannya.

Kemlayan Solo
Karya lukis dari workshop di galeri.
Kemlayan Solo
Salah satu karya lukisan di galeri.

Dari penjelasan guide kami dari Soerakarta Walking Tour dan penjaga pusat seni Kemlayan, awal mula Kampung Kemlayan bernama ‘Mlaya’ yang ditinggali para seniman pemain gamelan Keraton Kasunanan Surakarta. Nama-nama seniman yang terkenal pada saat itu adalah S. Ngaliman, Mlayawidada, Hardiman Sindhuatmaja, Sutidja Tedjapangrawit, Yosopradangga dan K.R.T Warsodiningrat. Setiap tokoh tersebut merupakan maestro di bidangnya masing-masing misalnya S. Ngaliman adalah seorang maestro seni tari dan Mlayawidada adalah maestro seni karawitan. Sayangnya, itu saja yang saya ingat, hiks. Dari Kemlayan ini lahirlah tiga sekolah seni di Surakarta.

Kemlayan Solo
Lantai 2 yang biasa dipakai acara untuk sastra.

Sepanjang jalan di Kampung Seni Kemlayan ini dipenuhi dengan mural atau lukisan-lukisan yang cantik serta jalanannya pun bersih. Saat saya dan teman-teman tiba di galeri yang menurut saya adalah jantung dari Kampung Seni Kemlayan, justru semakin penasaran. Di galeri seni ini terdapat ruang khusus untuk Latihan vokal yang kedap suara dan luarnya rimbun dengan tanaman-tanaman liar. Ada juga main stage yang digunakan untuk pertunjukkan seni tari, gamelan atau karawitan, teater dan kegiatan seni lainnya. Kemudian, di lantai dua digunakan untuk pameran sastra dan terdapat flyer biografi para sastrawan Indonesia dan luar negeri.

Kemlayan Solo
Belakang main stage.
Kemlayan Solo
Bagian samping dari main stage.

Saya merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan ini karena kalau jalan sendiri pun juga nggak bakal sampai lokasi dan krik-krik juga kan ya 😀 Banyak informasi yang didapatkan juga karena guide kami di kegiatan ini super unik dan ramah sekali. Jadi jalan-jalan kali ini rasanya sangat berkesan dan ingin lagi jalan bareng Soerakarta Walking Tour di rute yang lain.

Kemlayan Solo

Baca juga: Mengingat Kembali Aksara Jawa Dengan Cara Menyenangkan ala Soerakarta Walking Tour.

Mengingat Aksara Jawa Dengan Cara Menyenangkan ala Soerakarta Walking Tour

Aksara Jawa

Aksara Jawa

Aksara dalam Bahasa Jawa berarti huruf. Aksara Jawa merupakan aksara yang digunakan pada jaman dahulu sebagai sarana penulisan dalam buku-buku berbahasa Sanskerta. Aksara Jawa juga disebut Hanacaraka, yang merupakan baris pertama sekaligus lima huruf pertama. Aksara Jawa merupakan aksara tradisional Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Aksara Jawa

Aksara Jawa
Dok: Soerakarta Walking Tour.

Dulu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, aksara Jaw aini masuk dalam mata pelajaran muatan lokal atau Bahasa Jawa. Terdiri dari 20 huruf dasar yang awalnya terdapat 33 huruf. Aksara Jawa merupakan bagian dari budaya yang seharusnya tetap dijaga tapi seiring dengan perkembangan jaman, lama kelamaan seperti kita lupa akan keberadaan aksara Jawa. Terutama saya sih ya bahkan saya pun telah lupa cara menulis dengan aksara Jawa.

Aksara Jawa

Aksara Jawa

Salah satu cara menjaga dan melestarikan aksara Jaw aini selain dikenalkan di sekolah melalui muatan lokal. Selain itu, menjaga dan mengingat kembali aksara Jawa juga bisa melalui workshop yang menyenangkan. Salah satu workshop untuk nostalgia mengingat aksara Jawa seperti pekan lalu (27/5) diadakan oleh Soerakarta Walking Tour dengan media pot mini.

Aksara Jawa

Aksara Jawa

Saya dan teman-teman diberikan masing-masing satu pot mini beserta cat dan kuas untuk mewarnai pot mini. Sebelum mewarnai, Mbak Putri menjelaskan macam-macam aksara Jawa lengkap dengan sandangan beserta huruf-huruf tambahan seperti ‘f’ dan ‘z’. Setelah itu, kami diminta mewarnai pot mini dan menuliskan nama kami masing-masing menggunakan aksara Jawa.

Aksara Jawa
Dibaca: Cindi.
Aksara Jawa
Dibaca: Nugi.

Iya, rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak, kembali ke masa sekolah dulu. Betapa menyenangkan mengingatkan kembali aksara Jawa dan menuliskan nama kami di atas pot mini dengan warna yang kami pilih. Kami bebas mewarnai pot mini sesuai keinginan dan kreatifitas kami. Termasuk juga saat kami menuliskan nama kami di pot mini dengan aksara Jawa menggunakan warna cat pilihan kami.

Aksara Jawa

Aksara Jawa

Jaman boleh berubah dan berkembang dengan pesat tapi budaya yang sudah ada tetap harus kita jaga dengan berbagai cara termasuk melalui workshop dengan media pot mini dan berbagai cat warna-warni.

Aksara Jawa

Aksara Jawa

Adakah yang tertarik mengingat aksara Jawa melalui workshop seperti ini? 🙂

 

Baca juga: Ngopi Dengan Suasana Klasik Khas Jawa di Kulonuwun Kopi.