Categorized | Life's Stories

Surat Cintaku!!!

Catatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi BesarFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather
Beberapa waktu lalu,ketika liburan kuhabiskan waktuku di rumah., hanya di rumah.Saat itu mataku tertuju pada meja, meja penuh tumpukan buku. Kuulurkan tanganku untuk merapikannya karena aku yakin ayah tak kan sempat merapikannya. Kulihat agenda kerja ayah di tahun 2006 lalu kubuka buku itu dan kutemui goresan pena yang bagus hingga aku tak bisa membacanya. Kuangkat buku itu dan ada sesuatu yang terjatuh. Aku sangat mengenalnya karena itu adalah tulisanku.Surat cintaku.

Surakarta, 10 Maret 2006

Kepada:
Pahlawan hatiku
Di singgasana Kepemimpinan
Ngawi

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ayah, gerak-gerik awan itu menuntunku untuk merenung dalam perjalanan ini. Perjalanan yang sebenarnya setiap hari kulakukan.Semua bola mata yang memandang terkalahkan oleh gerak-gerik itu. Sejenak diriku membeku namun pikiranku mengembara dan di ujung pengembaraan singkat itu kulihat bias wajahmu.
Ayah…akhirnya kuberanikan diri merangkaikan kata-kata ini meskipun aku sendiri belum tahu apa yang mesti kuceritakan dan kutuliskan sesuatu untukmu.

Aku berenang melintasi masa lalu meskipun masa itu tidak akan pernah kembali tapi kutapaki jejak-jejak dan lintasannya yang masih berbekas.
Ayah… apa yang mesti kutuliskan kata-kata tentangmu? Aku mencoba merangkai kisahmu dengan membuka kotak berdebu itu di dalamnya ada lembaran-lembaran berisi tulisan dan coretan perasaanmu

Lagi-lagi aku mengudara menyibak sebuah ladang yang masih ada tanda-tanda kehidupan didalamnya yang diberi nama hati.
Ayah… aku mencoba menghapus ego dan bayangan-bayangan kelabu itu untuk melukismu. Kumulai dari bias wajahmu yang sampai kini tak pernah berubah. Wajah yang penuh dengan kekokohan dan menyiratkan catatan tentang asam garamnya kehidupan.

Ayah… kadang ego diri memang seperti hurricane yang liar menghancurkan apapun yang telah tersusun rapi seperti saat tonggak matahari dengan gagahnya melukis fatamorgana air di tengah gurunnya para musafir, tak ada riak mengalahkannya. Mungkin… itulah yang terjadi saat kulawan hurricane itu dengan sapuan angin yang ternyata menambah dahsyat putarannya dan lagi-lagi aku belum mengertimu…

Ayah… engkau memang laki-laki biasa, sangat biasa. Engkau bukanlah seorang sarjana yang ditempa kawah candra dimukanya pendidikan. Engkau juga bukan seorang kyai yang pandai mengajarkan syariat agama. Engkau begitu biasa, hingga terkadang aku tak dapat mengerti dengan kata-kata dan sikapmu yang luar biasa dan kadang itulah yang membuatku menyalahkanmu.

Ayah…tahukah engkau? Terkadang dalam benakku ingin kau seperti Luqman yang mengajarkan pada anaknya untuk rendah diri tapi ku terima kau apa adanya dan aku tak menuntutmu di luar batas kemampuanmu.

Ayah… bibir-bibir sederhana itu selalu mengisahkan langkahmu. Langkah kerja keras, peluh keringat dan penderitaan saat kau mencari sebuah pengakuan. Dalam panjangnya perjalanan ini kulihat kau tak pernah berubah, hanya kini tampak guratan-guratan penuaan melukis wajahmu yang begitu kokoh. Guratan-guratan yang mengisahkan perjalananmu. Langkah-langkahmu sudah mulai letih dimakan waktu, namun tetap kulihat wajah kekokohan dan ketegaran itu.

Ayah… jika dulu, di masa kecilku aku bermimpi, aku adalah bintang ,Bunda adalah bulan dan engkau adalah tonggak matahari di sebuah negeri yang bernama langit kini aku telah menemukan mimpiku itu.

Ayah… baru kutahu saat teriknya tonggak matahari menyengat bumi, saat itulah awan-awan mengumpulkan titik-titik air agar pada saatnya bisa turun menjadi hujan. Tiba-tiba aku begitu merindukanmu, senyummu, candamu yang tak pernah kutemukan di penjara suciku.

Ayah… kucoba merangkai bait-bait kata untukmu. Seperti saat aku menuliskannya untuk bunda, teman sejatimu yang mengantarkanku dan bintang-bintang ke bumi ini.

Ayah… ternyata semua langkahku teriring doamu. Dalam setiap lukaku kutemukan perlindungan di pelukan hangatmu. Kau mengajariku untuk bertaruh seperti saat bunda bertaruh nyawa demi kelahiranku.

Ayah…betapa aku sangat mencintaimu walau cintaku tak kan sebesar cintamu padaNya. Engkau memang kekasihku yang selalu menjadi alasanku untuk melangkah lagi meskipun dunia mengiringi langkahku tak kan setulus pukulanmu saat aku sekarat dan benar-benar jatuh karena aku tahu kau akan mengulurkan tanganmu untuk mengangkatku dari lubang itu.

Ayah… Maafkan aku saat meragukanmu ketika kau putuskan untuk memarahiku karena teramnya malam mengiringi barisan doa dan air mata untukku. Masihkah aku seperti harapanmu kalau selama ini aku belum mampu mewujudkan keinginanmu hanya karena kemalasan dan kecerobohanku?

Ayah… perjalanan ini tidak seperti biasanya. Begitu inginku bertemu pagi dan saat tonggak matahari muncul menyinari bumi kembali karena kau adalah tonggak matahariku.

Ayah…Ayah…Ayah…
Aku tak berharap kau mengerti rangkaian ini namun yang pasti “aku sangat menyayangimu”
Terimakasih atas segala yang kau ajarkan padaku dan maafkan aku…
Maafkan bintangmu…
Maafkan putrimu ini…

Wassalamu’alaikum

Bintang di langit hatimu
“Yang haus akan kasih dan sayangmu”

Kutulis ini di tengah ketidakberdayaanku karena belum mampu berikan cerita untuk ayah –dulu hingga sekarang– Dalam tangis berselimut harapan agar bisa mewujudkannya walaupun jalan yang kutempuh tak sama dalam inginnya…

Untuk semua putra-putri di dunia ini,

Berikan apa yang harus kita berikan–yang terbaik–

Biarkan orangtua kita menangis karena bangga dan bahagia bukan sebaliknya…


Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby featherCatatan Perjalanan si Kecil, Pemimpi Besar

This post was written by:

- who has written 118 posts on Ruang Cindi.


Contact the author

Leave a Reply

BLOGGER PEREMPUAN

Blogger Perempuan

MY ARCHIVES

FOLLOW ME

SHARING