Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Merdeka!

“Pakne, sudah tho jangan ngrokok lagi.”

“Bune, Bune, rokok lagi, rokok lagi. Apa nggak ada yang lain untuk nyambut kedatangan Bapak? Bapak ini capek, Bune.”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok saja. Lihat anak-anak kita. Udah harus siap-siap untuk biaya sekolah mereka. Belum lagi, kita nggak pernah ngajak anak-anak untuk makan di luar atau jalan-jalan. Bisa makan sehari 3x aja udah syukur.”

“Makan di luar atau jalan-jalan emang nggak butuh duit, Bune? Duit dari mana?”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok.”

Wanita yang kunikahi hampir empat belas tahun yang lalu itu selalu saja menyudutkanku soal aktivitas merokokku. Merokok tak sekedar menghirup dan mengeluarkan setiap hisapan tembakau yang terbakar. Namun, aku benar-benar telah seperti lelaki sejati nan gagah setiap kali aku menikmatinya, lebih-lebih ditemani dengan secangkir kopi sambil duduk di lincak menikmati malam dan melepas penat setelah seharian kerja serabutan. Saat merokok itulah aku pikiranku menjadi segar, lebih bersemangat, dan yang terpenting besok aku harus menyiapkan tenaga untuk kerja sampingan. Yah, hidup di ibukota memang keras dan harus kreatif untuk mendapatkan uang. Memulung sampah, jadi tukang parkir dan jadi tukang panggilan untuk memperbaiki atap rumah yang bocor tidaklah seberapa. Jadi, aku harus pintar ubet.

Aku menggeser lincak yang sebelumnya berada di teras rumah ke depan rumah, ke sebuah halaman yang jauh dari kata luas. Aku bisa memandang langit malam, menikmati kopi dan rokok sambil kipas-kipas. Kali ini, pandanganku bertambah satu. Rumahku. Iya rumah yang tak mewah. Rumah yang ketika hujan akan bocor di mana-mana meski sudah ditambal. Rumah di mana ada anak-anak yang sangat menerima keadaan orangtuanya. Rumah di mana anak-anakku adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Rumah di depan pandanganku ini bahkan jauh dari kata sederhana.

“Ternyata rumahku ini papan bagian depan sudah mulai rapuh karena waktu dan dimakan rayap.” Gumamku sambil terus menghisap rokok.

Aku terus memandangi rumahku, rumah yang kata orang-orang adalah surga. Tempat menyenangkan untuk semua anggota keluarga, surgaku seperti sudah tak layak huni. Kasihan istri dan anak-anakku, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya orang dengan pekerjaan serabutan. Aku tak berani bermimpi terlalu tinggi untuk punya surga yang lebih baik lagi.

“Hmm, begini saja aku bahagia. Bisa ngrokok, ngopi, dan duduk di lincak.” Bisikku dalam hati.

***

Hari ini setelah keliling untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Biasanya dari sektor satu aku akan melewati perumahan caping menuju perempatan bonjol. Namun, petang ini aku mengambil rute melewati perempatan sektor tiga, nanti tinggal ambil kanan. Rute ini jauh lebih ramai daripada ketika melewati komplek perumahan. Lepas pukul tujuh malam, memang sepertinya puncak keramaian. Orang-orang punya alasan untuk keluar rumah bahkan ada yang menuju ke rumah dari kantor masing-masing.

Lepas Isya, jalanan semakin ramai. Tak hanya jalanan yang dipadati kendaraan, tetapi warung-warung makan pun tak kalah ramai dikerubuti para pelanggan. Mulai dari warung lesehan, warteg, warung makan sederhana hingga warung makan modern seperti kafe-kafe, tempat nongkrong orang-orang muda. Terlihat nikmat ketika melintas di depan kafe, aroma kopinya benar-benar memikat selera. Bayanganku, betapa bahagianya menikmati rokok-rokokku dan secangkir kopi berkualitas.

“Kapan aku bisa seperti itu?” Batinku mulai cemburu.

Aku terus berjalan sambil menarik gerobakku, menikmati malam ini dengan rute pulang yang berbeda meski perutku sudah sangat lapar. Aku hampir tak tahu kenapa aku memilih jalan yang memutar. Seakan ada yang menarikku melewati jalan ini. Melewati banyak warung makan yang berjejer menawarkan menu-menu andalannya. Melihatnya saja aku sudah sangat cemburu, tapi aku tak bisa apa-apa. Meskipun aku tak bisa makan di sana dan sesampainya di rumah selalu dapat ceramah dari istriku, yang penting aku bisa beli rokok. Udah, itu saja aku bahagia.

Perjalananku sejenak terhenti di sebuah warung makan bercat kuning hitam karena ada sebuah mobil yang sibuk mencari posisi yang pas untuk parkir. Sedikit memakan waktu beberapa saat. Setelah berjuang, akhirnya mobil mewah itu mendapat posisi yang pas di tempat parkir tanpa mengganggu jalan kendaraan yang sedang melintas. Aku terus mengamatinya. Setelah mobil berhenti, orang-orang yang di dalam mobil mewah itu keluar satu per satu. Pertama, aku melihat dua anak perempuan yang lincah keluar dari pintu belakang disusul dengan seorang anak laki-laki yang sudah pasti itu kakak dari anak perempuan yang lincah. Selanjutanya, ada seorang wanita yang keluar dari pintu depan sebelah kiri, memakai baju panjang berjilbab yang dipanggil mama oleh salah seorang dari anak perempuan yang lincah itu. Terakhir, seorang laki-laki bersih keluar dari pintu depan sebelah kanan, yang aku dengar dipanggil papa oleh seorang anak laki-laki. Mereka memasuki rumah makan yang ada di depanku “WAROENG STEAK AND SHAKE”, kuamati mereka memasukinya dengan wajah bahagia dari anak-anaknya.

“Mas, Mas, warung makan ini tempat makan untuk keluarga ya?”

“Nggak hanya keluarga, Pak. Anak muda juga ada yang makan di sini. Harga terjangkau dan ramah di kantong, dijamin halal dan enak.” Sambil mengangkat jempol tangannya, si mas tukang parkir menjawab dengan ramah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti sedang perang batin. Semua ingatan tumpah setelah sebelumnya berdesak-desakan di otakku. Bagaimana tidak? Aku teringat kata-kata istriku bahwa kami belum sekalipun mengajak anak-anak jalan-jalan atau makan di luar. Dia menyuruhku berhenti merokok agar jatah uang rokok bisa ditabung. Tapi, tapi, aku mencintai rokokku, bagaimana mungkin aku berhenti merokok? Jika berhenti merokok, aku akan sakit, lemas dan lidahku pahit. Aku tidak akan bersemangat lagi. Aku tidak akan tahu rasanya menikmati bahagia yang sederhana.

“Itu namanya egois, Pak. Anak-anak juga berhak bahagia.” Tiba-tiba suara nyaring istriku tempo hari terngiang-ngiang di telingaku.

“Ngajak makan di luar anak-anak juga gak harus tiap hari, Pak. Ambil kesempatan misal anak-anak habis terima rapor, mereka kan berprestasi, bikin kita bahagia. Udah jadi hak mereka kalau kita ngajak mereka makan.” Kata-kata istriku semakin membombardirku, semakin mengacak-acak batinku. Mengacaukan pikiranku. Memang benar kata istriku, tapi aku masih tidak bisa melepaskan rokokku.

Pikiranku semakin kacau, batinku semakin memberontak antara keinginan pribadiku dan keinginan membahagiakan anak-anak serta istriku. Sambil menarik gerobak yang setia menemaniku, di setiap sisa langkah menuju rumah, aku mulai menghitung pengeluaranku untuk membeli rokok. Aku mengalikannya, menjumlahkannya hingga aku dapati kenyataan bahwa ternyata pengeluaran untuk membeli rokok ternyata sangat besar. Namun, apa dayaku, rokok seakan sudah jadi kebutuhanku.

“Apa Bapak nggak sadar kalau bertahun-tahun Bapak itu hanya sedang mbakar duit? Udah ngrasa kaya?” Lagi-lagi kata-kata istriku menyerangku secara bertubi-tubi. Saat-saat seperti itu, aku teringat betapa istriku yang sabar berubah menjadi sangat garang.

Aku semakin terdesak dengan pikiran, perasaan, dan logikaku sendiri. Meskipun istriku berulang kali mengingatkan bahwa merokok hanya akan merenggut kesehatanku tapi selama ini aku merasa baik-baik saja. Pun tetangga kami yang lebih tua yang sudah merokok lebih lama dariku masih terlihat bugar hingga sekarang. Jadi aku tak termakan ancaman-ancaman seperti itu. Aku hanya ingin menikmati hidup lewat sebatang rokok.

***

“Bapak, Bapak, kenapa Bapak melamun?”

Aku tersentak saat anakku sedikit berteriak kegirangan memegang tanganku. Aku mengingat kembali dua bulan lalu, saat aku berada di depan “WAROENG STEAK AND SHAKE” sambil memandangi ketika sekeluarga masuk ke dalamnya. Betapa riang polah langkah anak-anaknya. Terlihat hangat dan bahagia, jauh dari keegoisan semata. Oh, ternyata begini rasanya, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyum bahagia anak-anak yang tak biasa dan istriku yang semakin berkurang marah-marahnya.

Aku tahu, aku sampai bisa duduk di “WAROENG STEAK AND SHAKE” bersama keluargaku memang tidak mudah aku memperjuangkannya. Aku tak sekedar berjuang untuk berhenti merokok, tapi aku berjuang berdamai untuk tidak egois demi kebahagiaanku sendiri. Ya, karena kebahagian dalam sebuah keluarga itu adalah sama-sama merasa. Aku menyadari betapa benar kata-kata istriku bahwa aku seperti membakar uangku selama ini. Buktinya, selama dua bulan aku berjuang berhenti merokok, aku bisa mengajak istri dan anak-anakku makan enak di luar. Aku seakan baru menyadari bahwa rokok tak hanya mengancam kesehatan badan, tapi juga mengancam kesehatan kantong perekonomian keluarga. Semoga tak terlambat aku menyadarinya.

Meninggalkan rokok bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Ternyata aku hanya butuh tekad bulat. Ya, man jadda wa jadda. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Ada kemudahan yang Allah berikan. Apalagi ini aku lakukan untuk keluargaku. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai teladan bagi anak-anakku maka aku akan selalu berharap keinginan dan tekadku ini semakin kuat. Tidak akan tergoda lagi pada rokok.

“Bapak ingin makan apa? Kami udah pilih makanan yang ingin kami makan.” Kata si sulung dengan polah cerianya.

“Iya, Bapak pilih sekarang.”

“Bapak, terimakasih atas usaha Bapak untuk merdeka dari rokok. Ibu sayang Bapak.” Bisik istriku di antara keriangan anak-anak.

Ya, aku merdeka. Badanku merdeka. Kantongku pun merdeka. Merdeka!

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #3

The Sacrifice of Abraham’s Son memiliki beberapa versi bahkan menjadi perdebatan tersendiri. Beberapa klaim muncul dengan argumen yang masing-masing dipercaya kebenarannya. Dalam sesi ini, The Sacrifice of Abraham’s Son ditinjau dari dua sumber yaitu, al-Quran dan Torah/Bibel.

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut al-Quran

  1. As-Saffaat 99-113 menjelaskan bahwa Allah menganugerahkan seorang putra atau anak yang santun setelah Ibrahim meminta kepada Allah. Ibrahim melihat dalam tidurnya bahwa beliau menyembelih putranya yang pada saat itu Ibrahim menyampaikan secara langsung. Putra Ibrahim (yang diklaim sebagai Ismail) menanggapi agar Ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bentuk ketaatan pada Allah. Setelah keduanya berserah diri untuk melaksakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kemudian Allah menjadikan apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya sebagai bentuk totalitas dalam ketaatan menerima perintah. Allah mengabadikan kisah Ibrahim sebagai seorang yang mulia yang menjadi teladan bagi penganutnya. Tak hanya itu, Allah menganugerahkan lagi seorang putra pada Ibrahim yang bernama Ishak. Ishak adalah seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh dan Allah melimpahkan keberkahan atas Ishak yaitu keturunan yang di antaranya berbuat baik dan di antaranya terang-terangan berbuat zalim pada dirinya sendiri. Keturunan Ishak ini adalah bibit keturunan orang-orang Yahudi atas Israel. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Ibrahim dan Ismail memahami tujuan atas penyembelihan bahwa itu sebuah perintah Tuhan untuk sebuah ketaatan. Tergambar jelas bahwa Ismail seorang yang sabar, berani, dan cerdas.

Di sisi lain, dalam ayat tersebut tidak disebutkan nama Ismail secara jelas. Menurut tafsir awal yang ditulis oleh Muqotil bin Sulaiman dan tafsir Tobari menyebutkan putra yang dikurbankan oleh Ibrahim adalah Ishak, namun kemudian dilarang oleh pemerintah Mesir yang kemudian direvisi kembali pada tafsir generasi baru disebutkan bahwa putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail. Jika dilihat dari sejarah, putra Ibrahim yang dikurbankan adalah Ismail karena Siti Hajar dan putranya hijrah menuju Mekkah sedangkan Ishak tidak pernah hijrah ke Mekkah.

 

The Sacrifice of Abraham’s Son menurut Torah/Bibel

Genesis 22: 1-13 mengisahkan saat Abraham mengajak Ishak dan dua orang lelaki yang dianggap sebagai abdinya melakukan perjalanan ke sebuah gunung Moria yang itu sebenarnya adalah sebuah bukit atau dataran tinggi. Saat tiba di suatu tempat, Abraham mengajak Ishak berjalan dan meminta dua abdinya untuk menunggu. Dalam ayat ini tidak menjelaskan bahwa Abraham memberikan pemaparan alasan mengajak Ishak melakukan perjalanan. Saat keduanya sampai di sebuah altar persembahan, Ishak yang diikat tangan dan kakinya tidak kunjung mengetahui apa yang akan dilakukan oleh ayahnya, Abraham hingga menjelang dirinya dikurbankan. Namun, Tuhan menggantikan posisi Ishak dengan seekor domba. Ayat ini menggambarkan betapa Ishak adalah seorang anak yang polos (The Innocent Man) dan hanya Abraham yang mengetahui tujuan perjalanan tersebut.

Genesis 21 menjelaskan tentang Ismail dan Pengusirannya. Saat Sarah dianugerahi untuk mengandung di usia tua dan pada saat itu Abraham berusia 100 tahun. Nama Ishak diartikan sebagai lelucon karena Sarah khawatir ditertawakan orang-orang ketika hamil dalam usia tua dan Abraham juga sudah sangat tua. Pada saat Ishak lahir, Ismail sudah berusia 14 tahun. Sarah merasa khawatir atas Ishak yang kemudian meminta Abraham agar mengusir Ismail dan Hajar dengan alasan bahwa Ismail bermain-main menyembah kepala belalang di usia muda dan Sarah khawatir ketika Ismail besar akan menyembah berhala. Abraham dengan berat hati mengusir Ismail dan Hajar dengan membekali air dan ditinggalkan di Beer-Sheba, sebuah tempat di Israel.

Ismail dalam Bibel memiliki arti orang yang taat, namun memercayai bahwa putra yang dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak. Seorang anak yang diberikan keberkahan dan kemuliaan serta seorang anak yang disebut-sebut sebagai anak satu-satunya dari Abraham. Namun, dalam Genesis 17 disebutkan bahwa Ishak bukanlah satu-satunya putra Abraham. Ada Ismail yang telah berusia 13 tahun yang saat itu telah disunat bersamaan dengan Abraham yang juga disunat di usia tua. Dalam Genesis 21:5 menyebutkan bahwa ketika Abraham berusia 100 tahun, Ishak terlahir ke dunia. Hal itu berarti bahwa Abraham berusia 99 tahun, Ishak belum lahir ketika Ismail berusia 13 tahun dan sudah disunat bersama Abraham yang berusia 99 tahun. Kata Yakhitkha yang diulang-ulang dalam Genesis seperti sebuah ‘pemaksaan” untuk melawan hukum alam.

Ismail dan Ishak dalam Genesis juga diakui sebagai anak biologis Abraham seperti dalam Genesis 25:9 yang menyebutkan bahwa Ishak dan Ismail adalah putra Abraham. Selain itu, Genesis 21:5, Genesis 17:23, Genesis 17:25, dan Genesis 21:13.

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class #2

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah tulisan untuk tugas responsi setiap minggu salah satu mata kuliah favorit saya yaitu Religion and Ideology in The Middle East. Topik kuliah ini adalah The Abrahamic Religion: A Dialogue Between the Qur’an and the Rabbinic Midrash. Saya unggah ke blog dengan tujuan dan harapan agar menjadi pemantik bagi saya untuk menulis tentang Kajian Timur Tengah dan Islam. ^^

Agama Ibrahimiyyah (The Abrahamic Religion) dikenal juga sebagai agama samawi yaitu, agama yang muncul dari suatu tradisi semit kuno yang bersumber kepada Abraham atau Ibrahim yang berarti Bapak atau Pemimpin banyak orang, dalam Bahasa Ibrani disebut Avraham. Sekarang agama samawi ini dianggap sebagai agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Agama-agama Abrahamik ini memiliki pemeluk dalam jumalah yang besar. Namun, banyak dari pemeluk agama-agama tersebut tidak menginginkan pengelompokkan agama atau kepercayaan mereka.

Pembahasan atas Agama Ibrahimiyyah tentu saja tidak akan terlepas saat menilik sejarah Palestina-Israel  yang panjang. Keduanya memiliki titik temu dalam Agama Ibrahimiyyah dilihat dari jejak leluhur di garis keturunan Ibrahim atau Abraham. Menurut Yahudi, Abraham adalah orang pertama dari pasca gelombang penolakkan besar-besaran atas penyembahan berhala melalui pemikiran yang rasional pada saat itu. Sekaligus dianggap secara simbolik sebagai tokoh fundamental untuk agama monotheistik. Dalam Islam, Ibrahim atau Abraham disebut sebagai Bapak Bangsa Arab melalui keturunannya Ismail yang berada dalam rangkaian nabi-nabi Islam mulai dari Nabi Adam.

Dalam Torah dan al-Quran, Ibrahim atau Abraham digambarkan sebagai seorang leluhur yang diberkati oleh Allah serta dijanjikan banyak hal yang besar dan kemuliaan. Abraham juga dianggap sebagai Bapak Bangsa Israel  oleh Yahudi melalui anaknya, Ishaaq dan dianggap sebagai Bapak Bangsa Arab melalui anaknya, Ismail pleh para Muslim. Dalam keyakinan Kristen, Abraham adalah teladan bagi iman dan ketaatan pada Allah dalam mempersembahkan Ishaaq yang dipandang sebagai teladan dari persembahan oleh Allah sendiri atas anaknya, Yesus.

Dalam Islam dikisahkan bahwa yang dijadikan qurban atau persembahan dalam rangka ketaatan kepada Allah adalah Ismail bukan Ishaaq, meskipun dalam al-Quran surat As-Shaffat 100-111 tidak disebutkan secara langsung bahwa itu adalah Ismail. Islam mengisahkan bahwa itu Ismail melalui tinjauan sejarah yang saat itu Siti Hajar dan Ismail diusir kemudian hijrah ke Mekkah. Ketaatan Ibrahim atau Abraham yang mengurbankan Ismail adalah sebuah gambaran mulia betapa taat Ibrahim dan dianggap sebagai salah satu nabi terpenting yang diutus Allah. Dalam al-Quran juga disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham bukanlah Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi memiliki kepercayaan terhadap Allah yang disebut Millah Ibrahim (Agama Hanif). Sedangkan dalam Torah disebutkan bahwa Ibrahim atau Abraham disebut mengurbankan Ishaaq yang dianggap yakhitkha (the only son of Abraham) sebagai bukti ketaatan pada Allah. Ishaaq dipercaya sebagai anak yang dikurbankan karena terlahir dari wanita yang mulia yaitu, Sarah. Abraham dan Ishaaq dianggap sebagai orang mulia yang telah dijanjikan banyak hal termasuk sebuah tanah yang sekarang disebut sebagai the promised land bagi bangsa Israel.

Belajar Quilting Bersama Kriya Indonesia

 

Sabtu (4/3) yang lalu saya memiliki kesempatan untuk belajar quilting bersama Kriya Indonesia di Museum Tekstil. Workshop tersebut memiliki tajuk Let’s Learn  How to Make Pillow Cover yang diikuti oleh beberapa blogger. Bagi saya, Quilt Workshop adalah kegiatan pertama kali bagi saya setelah tiga belas tahun tidak saya lakukan. Benang, jarum, dan kain terakhir kali saya belajar menjahit saat sekolah menengah pertama. Jadi, saat saya mendapat email bahwa saya menjadi salah satu peserta, saya girang dan berangkat dengan langkah ringan. ^^

Apa itu Quilting?

Ini salah langkah…hehe (dok. pribadi)

Nah, sebelum saya berkisah proses saya menjahit sarung bantal yang ternyata tidak mudah bagi saya, sebaiknya saya kenalkan lebih dulu tentang quilting. Menurut saya, quilting bagian dari jahit-menjahit namun menggunakan sense of art untuk menggabung-gabungkan potongan kain dengan dua atau lebih pola yang berbeda agar tercipta motif baru yang lebih unik. Tiap potongan kain ini digabungkan dengan menggunakan tusuk jelujur agar semua sisinya terlihat sama dan rapi.

unyu kan? ^^ (dok. pribadi)

Sebelum memulai quilting membuat sarung bantal, langkah pertama adalah mengumpulkan niat dan tekad *haha ^^v, becanda dikit ya. Langkah pertama adalah menyiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Bahan yang dibutuhkan adalah kain yang berbeda motif, bisa polos kombinasi motif atau motif kombinasi motif yang berbeda. Alat-alat yang digunakan juga mudah didapatkan di antaranya ada jarum pentul, gunting, setrika, dan mesin jahit. Waah, ribet ya…! Eitts, tunggu sebentar, ini yang paling menyenangkan, saya sama sekali tidak menyiapkan bahan atau alat-alatnya apalagi sampai nenteng-nenteng mesin jahit punya ibu saya yang di rumah. Jelas nggak! Kain-kain yang diperlukan beserta alat-alat sudah disiapkan oleh panitia dari Kriya Indonesia. Kain yang digunakan dari textilezy, sebuah ‘istana’ bagi penyuka kain dengan motif yang lucu-lucu dan berkualitas, kalau kata Mbak Dewi “Dee” Lestari ‘malaikat juga tahu siapa yang jadi pemenangnya’. Textilezy merupakan situs ecommerse textile pertama yang memudahkan pembelian secara online dan menjadi pioner textile online pertama di Indonesia, berbasis teknologi modern, bersistem, dan berintegritas. Tak hanya itu, Kriya Indonesia juga memanjakan para peserta workshop dengan menyediakan alat-alatnya termasuk Mesin Jahit Brother GS 2500 dengan penampilannya yang asik pinky-pinky manja, bagi saya yang baru pertama kali memakai mesin jahit elektrik Brother GS 2500 ramah di telinga dan cukup mudah digunakan, cara memasang benang atas dan bawah juga mudah.

Itu tuh sepatunya, untuk menjepit kain. Biar kainnya gak lari-lari kaya kamu 😀 (dok. pribadi)

Ohya, tentang Mesin Jahit Brother GS 2500 ini bagi saya berkesan, di samping membuat quilting sarung bantal, saya juga sempat mencoba beberapa jenis jahitan yang ada di mesin jahit ini yang jumlahnya 25 jahitan, seperti jahitan variasi seperti jahitan gelombang yang bisa mempercantik tampilan baju atau kreasi serta jahitan khusus untuk lubang kancing. Jadi jahitan yang dihasilkan tidak hanya jahitan lurus saja. Pengaturan kerapian pun juga cukup terjamin karena Mesin Jahit Brother GS 2500 memiliki sepatu dengan jenis sepatu yang tersedia dengan fungsi masing masing yang berbeda. Ada sepatu standar untuk menjahit lurus  dan variasi, ada sepatu untuk memasang resleting juga sepatu untuk membuat lubang kancing. Nah, untuk menganti ganti sepatu ini kita hanya tinggal menekan bagian atas sepatu untuk melepas dan menempelkan sepatu yang akan dipasang. Gampang banget kan, gak perlu pakai obeng segala. Sepatu ini apa sih? Sepatu yang saya maksud ini bukan sepatu alas kaki ya, tetapi alat yang digunakan untuk menjepit agar kain tidak lari saat proses menjahit. Alasan disebut sepatu karena bagi saya bentuknya memang mirip sepatu.

Ini karya tangan saya, pola yang terbentuk seharusnya seperti kincir. Saya salah langkah tapi anggap aja itu hasil imajinasi bukan plagiasi #eh 😀 (dok, pribadi)

Overall, bagi saya quilting itu menyenangkan termasuk bagi saya yang bukan termasuk golongan perempuan yang telaten *haha. Usai ikut workshop quilting, saya berharap agar saya punya tekad kuat dan ada hidayah yang turun dari langit agar bisa melakukan quilting lagi di rumah. Quilting juga bisa dilakukan tanpa mesin jahit kok, yap, pakai jahit tangan tetap bisa. Namun, kalau ada rejeki boleh bangetlah punya Mesin Jahit Brother GS 2500 di rumah. Nggak nolak! 😀

Selain bisa belajar quilting ada dua hal yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan yaitu, saya bisa makan lontong pecel yang rasanya sama dengan pecel Madiun dan kunjungan ke Museum Tekstil yang benar-benar terwujud karena sebelumnya hanya menjadi rencana dan wacana bagi saya.

Semoga bermanfaat  dan yuk, belajar quilting! ^^

 

 

Story of Religion And Ideology in The Middle East Class

sumber: zahmed00(dot)wordpress(dot)com

Firstly, I feel very impressive to join this class because I get knowledge deeper than before I understand about Arab-Israel conflict. I think, the reason Arab-Israel conflict is only religion, no more. In this case, on my point of view, The Muslims in Arab chiefly Palestine have been oppressioned by Jewish. But, I got wrong about this point of view and how superficial I am. I understand that Arab-Israel conflict is complicated and sensitive issue. Therefore, how the important understanding it properly.

In the second class, I found one of interesting materials such as The Balfour Declaration. The British foreign secretary, Arthur Balfour wrote letter to Lord Rothschild (a prominent figure in British Zionist circle) to inform him that the British cabinet had approved the following declaration of sympathy for Jewish Zionist. The Balfour Declaration was born by some factors such as the chance to secure British strategic interest to produce a British declaration support of Zionist objective in Palestine. The Balfour Declaration was fateful  but it was a brief document filled with such ambiguities and contradictions that it made confused all the parties.

Talking Arab-Israel conflict, it can not be detached from immigration. Jewish immigration and land acquisition the heart of the communal tension in Palestine. On the same time, I know that Jewish and Zionist are different. In this case of immigration, the Zionist objective was to build up the Jewish population of the mandate through unrestricted immigration as to have a credible claim to the existence of national home in Palestine land. In order to settle and feed the immigrants. It was necessary to discover as much planted land as possible. Jewish immigration to Palestine land occurred in a connecting structure of waves called aliyah. The first aliyah began in 1904. The first and the second aliyah were happened before World War I and the third wave was happened from 1919 to 1923, it was composed of about 30.000 immigrants mainly from Eastern Europe. The immigration influx then slowed considerably until 1933 when the rise of Hittler and the Nazi Party precipitated the moving of Jews thousands from Germany and central Euorope.

Bagaimana Mendidik Anak Lewat Marah?

Judul: Marah Yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Penulis: Bunda Wening

Penerbit: Tinta Media, Tiga Serangkai

TahunTerbit: 2013

Cetakan: Kedua November 2016

Editor: Fiedha ‘L Hasiem

 

“Jika marah dianggap wujud rasa sayang maka anak pun akan belajar menyayangi dengan marah pula.” –Bunda Wening-

Bagi saya, pertama kali membaca judul buku “Marah Yang Bijak” di sebuah akun Facebook yang sedang Open Order, tanpa pikir panjang saya pun langsung memesannya karena penasaran dengan pembahasan dalam buku. Lebih-lebih saat menyadari buku ini ditulis pleh Bunda Wening. Udah deh tanpa hitung-hitungan lagi.

Marah dan Tujuan Marah

Bunda Wening memaparkan bahwa kebanyakan dari para ayah bunda sudah tahu bahwa marah tanpa terkendali terhadap anak sebagai respon atau perilaku anak, justru akan memberikan dampak buruk pada anak secara psikologis, baik saat-saat sekarang maupun kelak ketika anak mulai beranjak ABG. Biasanya setelah kemarahan terhadap anak mereda akan ada rasa tidak nyaman yang hinggap di benak kita sebagai orang tua bahkan rasa penyesalan yang mendalam. Dalam buku ini Bunda Wening menjelaskan tentang sikap dan perilaku marah secara jelas dan detail dengan bahasa yang ringan disertai kisah pengalaman yang bisa memudahkan kita mencerna dan memahami dengan baik. Jadi jangan khawatir tertinggal satu informasi karena belum memahami apa yang sudah dijelaskan dalam buku ini.

Bunda Wening berpesan bahwa emosi marah merupakan salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada setiap manusia tanpa terkecuali, termasuk para orangtua bahkan anak sekalipun. Di sisi lain, kita juga seharusnya mengerti bahwa marah memerlukan strategi agar tetap bijak dengan mengerti sepenuhnya tujuan dari marah tersebut. Nah, dalam buku “Marah Yang Bijak” ini semakin asik karena dilengkapi dengan lembar hasil assessment sebagai contoh pembahasan tentang tujuan marah.

Pemicu Marah

“Jika selalu ada alasan untuk marah, berarti juga selalu ada alasan untuk tidak marah.” –anomous-

Adapun di bab selanjutnya, dalam buku ini Bunda Wening mengajak kita untuk tahu tentang pemicu marah. Marah kan nggak datang tiba-tiba kan ya? Pasti ada pemicu, seperti kayu bakar kering tidak akan terbakar tanpa sebab bukan? Kesempatan kali ini, Bunda Wening memaparkan empat pemicu kemarahan di antaranya,

  1. Lelah fisik dan mental
  2. Don’t be panic, Mom, calm down!
  3. Tiadak siap dan terbiasa dengan perbedaan
  4. Menggunakan standar orang tua untuk anak

Dalam bab ini hal yang menarik dari pesan Bunda Wening adalah ketika marah lebih sering dilakukan oleh bunda, dibutuhkan ‘kepekaan’ para ayah  untuk mau berbagi ‘lelah’ dengan para bunda. Ingat ya para (calon) ayah! *hoho. Selain itu para bunda berhak secara rutin mendapatkan ‘Hari Tanpa Anak’ sebagai recharge mental. Misalnya, jalan-jalan, ke salon, dan sebagai.

Dampak Marah

Segala hal yang terjadi tentu saja ada sebab akibatnya, termasuk marah juga memiliki dampak. Dampak yang muncul dapat dilihat dari sisi fisiologis dan psikologis, marah dan kaitannya dengan kematangan emosi  seseorang, serta dampak marah bagi pelakunya.

Jika marah adalah anugerah dari Allah dan bisa saja terjadi kapanpun, tentu saja marah bisa dikendalikan untuk dihindari agar tidak benar-benar marah. Hal ini bisa menggunakan beberapa tehnik di antaranya tehnik relaksasi napas adalah cara ampuh atasi galau, breaking state, berlindung kepada Allah dari godaan setan dan papan refleksi diri.

Ada hal yang lebih spesial dari buku ini yaitu, di bab terakhir disajikan kasus dan penganannya. Contohnya, ketika anak tantrum di toko/warung, anak minta jajan berlebihan, kaka adik bertengkar,dan anak ‘mogok’ sekolah. Di bab ini ada 7 contoh kasus dan penanganannya.

Marah acapkali tak bisa kita dihindari dalam sebuah situasi tertentu. Marah terjadi juga bukan tanpa alasan atau bukan tanpa pemicu. Marah menghampiri diri seseorang tanpa pilih kasih, bisa seorang individu, kita sebagai seorang guru atau sebagai orang tua. Marah bisa berwujud dalam berbagai bentuk, misalnya berteriak, melotot, atau pun memukul. Ada kalanya kita berpendapat bahwa dengan marah itulah cara kita mendidik anak secara tegas agar disiplin atau sesuai yang kita targetkan. Nah, buku “Marah Yang Bijak” ini hadir sebagai salah satu solusi cerdas bagaimana kita seharusnya menerapkan marah untuk mendidik anak kita. Buku ini juga memaparkan secara detail seluk beluk tentang marah. Buku setebal 108 halaman ini sangatlah praktis, buku ilmiah yang disajikan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami dan dipraktekkan. Saya pribadi meskipun belum menjadi ibu bisa mengerti tentang bagaimana mengelola kemarahan dan harapannya suatu hari nanti bisa mempraktekkan langsung ketika sudah ada anak-anak dalam pangkuan saya.