Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Natur Hair Mask Aloe Vera Perawatan Rambut Praktis Untuk Para Mama Muda

Dulu, saat masih menjadi high quality single, saya termasuk yang bermasalah dengan kesehatan rambut yaitu rambut rontok di mana akar rambut memang rapuh. Sayangnya, hal itu berlanjut hingga saya jadi macan alias mama cantik…haha. saat hamil dan pasca melahirkan rambut rontok semakin banyak meski katanya memang wajar. Hal wajar bukan berarti harus dibiarkan saja kan ya? Pasti harus tetap dirawat dengan usaha yang baik juga. Apalagi setelah melahirkan ada makhluk mungil yang menyita waktu dan perhatian. Udah deh, bakal banyak alasan, eh, pembenaran untuk melewatkan merawat rambut karena sudah terbayang keriweuhannya. Jadilah saya mulai mencari perawatan rambut praktis tapi hasilnya maksimal :D, bertemulah dengan Natur Hair Care.

 

 

Sejak jaman masih gadis, saya sudah kenal dengan produk Natur, lebih-lebih Natur memiliki ciri khas yaitu memiliki aroma rerempahan atau semacam jamu-jamuan. Namun, para generasi senior di rumah suka menggunakan produk dari Natur untuk merawat kesehatan rambut, nggak sekadar untuk keramas-keramas aja gitu sih..

Beauty Sharing & Gathering Natur X Blogger Jogja

Nah, gayung bersambut, saya menemukan produk Natur hair mask lanjutlah saya kepo-kepo dan berjodoh sekali saat ada salah satu sahabat saya mengajak untuk hadir di event Beauty Sharing & Gathering Natur Hair Care X Blogger Jogja. Gathering tersebut diadakan di Bong Kopitown daerah Sagan Jogja pada hari Sabtu (6/7). Event tersebut tidak hanya belajar tentang optimasi blog bersama ahlinya, Mbah Indah Juli tetapi juga saya dapat informasi mengenai perawatan rambut praktis dari Natur dan yang paling menyenangkan adalah perawatan ini bisa dijadikan sebagai perawatan mingguan. Seneng banget kan Mamak-Mamak macam saya ini >.<

 

Nah, gayung bersambut, saya menemukan produk Natur hair mask lanjutlah saya kepo-kepo dan berjodoh sekali saat ada salah satu sahabat saya mengajak untuk hadir di event Beauty Sharing & Gathering Natur Hair Care X Blogger Jogja. Gathering tersebut diadakan di Bong Kopitown daerah Sagan Jogja pada hari Sabtu (6/7). Event tersebut tidak hanya belajar tentang optimasi blog bersama ahlinya, Mbah Indah Juli tetapi juga saya dapat informasi mengenai perawatan rambut praktis dari Natur dan yang paling menyenangkan adalah perawatan ini bisa dijadikan sebagai perawatan mingguan. Seneng banget kan Mamak-Mamak macam saya ini >.<

Salah satu perawatan rambut yang ditawarkan oleh Natur salah satunya adalah hair mask. Nah, Natur Hair Mask menyediakan tiga varian hair mask yaitu Hair Fall Treatment Ginseng Extract, Hair Nutritive Treatment Olive Oil & Vitamin E, dan Hair Nutritive Treatment Aloe Vera. Dari ketiganya tersebut saya menggunakan Hair Nutritive Treatment Aloe Vera. Namun, sebelumnya saya menggunakan Shampoo dan Hair Tonic Ginseng Extract. Ekstrak ginseng untuk mengatasi rambut rontok dan Hair Mask Hair Nutritive Treatment Aloe Vera untuk menutrisi dan menjaga kesuburan rambut dengan harapan rambut tumbuh lebat.

Naaah, yuuk, kita kenalan! Tak kenal maka tak sayang lhooo 😀

Berawal dari pandangan mata lalu turun ke hati dan mengendap diingatan, begitulah Mamak-Mamak macam saya menggambarkan Natur Hair Mask saat berusaha mengekspresikan tentang first impression pada kemasannya ‘+50% LEBIH BANYAK 15g + 7.5g’ prinsip Mamak-Mamak muda banget kan, modal seminimal mungkin tapi dapat banyak…hahaha :D. Di sisi lain, tidak hanya isi tetapi juga dengan hijau-hijau seger aloe vera yang bikin nyes-nyes imajinasi melayang-layang saat menggunakan hair mask Aloe Vera 😀

First Impression saya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan :D. Beneran iya, isinya lebih banyak…hahaha, rasanya nyes-nyes karena aromanya wangi segar bukan jamu-jamuan. Wujudnya dalam bentuk krim yang lembut (bingung menarasikannya, pokoknya lembut gitu deh :D). Yang tak kalah penting lagi adalah prinsip kepraktisan bagi Mamak-Mamak Muda yang memiliki bayi atau toddler karena Natur Hair Mask ini bisa digunakan secara praktis. Jadi setelah keramas menggunakan Natur shampoo Ginseng Extract, usapkan Natur Hair Mask varian Aloe Vera ini secara merata pada tiap helai rambut, pijat dari pangkal hingga ujung rambut. Lalu diamkan 1-2 menit kemudian bilas hingga bersih. Nah, perawatan ini bisa digunakan sekali seminggu atau sesuai kebutuhan, enak kan bisa untuk me-time saat anak tidur siang :D.

Hair Nutritive Treatment Aloe Vera ini mengandung ekstrak Aloe Vera yang khasiatnya kita sudah familiar kan ya? Bahkan bisa jadi diantara kita menggunakan Aloe Vera dengan mengusapkannya langsung pada rambut, pernah kan? Pernah kan? Atau hanya saya aja yang seperti itu? 😀 Sudah jadi rahasia umum bahwa Aloe Vera ini dapat membantu menutrisi helai rambut kita, menjaga kesuburan rambut sehingga rambut tampak lebat, halus, lembut, lembab, serta mudah diatur, nggak mudah kusut gitu lah yaaaa… Manfaat itulah dikemas secara praktis oleh Natur Hair Care ini dalam bentuk Natur Hair Mask varian Hair Nutritive Treatment Aloe Vera ini.

Untuk lebih meyakinkan lagi, dalam kemasan varian Hair Nutritive Treatment Aloe Vera juga dicantumkan komposisi yang terkandung dalam hair mask, di antaranya water, Olive (Olea europaea) Oil, Aloe barbadeniss extract, Lanolin, dan kawan-kawannya. Karena itulah, setelah pemakaian rambut terasa lembut dan tentunya, wangi!

Jatuh cintalah pastinya kalau rambut kita sehat, eh, suami kita juga 😀

Oh iya, untuk mendapatkan produk Natur Hair Care ini mudah banget, bisa pesan dari mana saja tentunya lewat gawai kita yaaa. Salah satunya bisa didapat di Shopee lhoo… Selain itu juga bisa follow instagram Natur @backtonatur dan like Facebook FP back to natur untuk mendapat informasi tentang perawatan rambut praktis dan alami. Mudah kan? Mudah kan?

Yuuuk, pilih yang alami karena alami lebih baik!

Salam cinta dari Mamak Cantik ^^

Lipstik Favorit Untuk Bibir Hitam

“If you are sad, add more lipstick and attack” –Coco Chanel

Di suatu kesempatan ketika beberapa deadline tiba pada masanya mulai dari proposal tesis, penelitian untuk jurnal, tugas harian, dan mengejar beberapa dosen untuk tanda tangan adalah hal yang sungguh menggemaskan sekaligus melelahkan. Sedih sih nggak, tapi ada benarnya kata Coco Chanel. Di saat seperti itu ternyata menyapu bibir dengan lipstik bisa memperbaiki mood yang naik turun. Bagi saya pribadi, pakai lipstik rutin bisa dibilang rutinitas baru setahun terakhir ini. Alasannya? Ya, lebih karena saya malas dan bingung karena saya adalah pemilik bibir hitam, hingga suatu saat seorang teman mengatakan bahwa sempatkan pakai lipstik, tipis saja cukup agar tidak terlihat pucat sekaligus menghargai orang yang sedang bersama kita apalagi kalau sedang bersama suami kan ya?

Oh ya, soal bibir hitam, ada beberapa faktor penyebabnya. Tidak melulu karena perokok berat lho, sebab genetik atau keturunan juga bisa. Tapi yang perlu diingat, jangan nggak PeDe karena kita berbibir hitam ya. Bibir hitam itu manis kok, macam gula aren gitu 😀

Bibir hitam ternyata juga punya kesempatan tampil cantik dengan lipstik lho 😀 Dan memang harus pintar menyiasati kata beberapa teman sih begitu dan dalam praktek saya pun mencoba hampir semua saran yang saya dapat dari teman. Salah satunya adalah bagaimana memilih warna lipstik. Saya hanya punya tiga warna lipstik, jadi ya itu-itu saja dan memang sudah punya niat ingin punya lipstik warna merah marun. Yaass, the happiness is a new lipstick! Merah pula! 😀

Bulan lalu, saya memiliki rencana pengadaan lipstik baru warna merah marun atau merah tua dan itu hanya berakhir sebagai wacana saja. Iya, wacana! Masalahnya pun sepele dari dulu belum bisa sembuh, kelamaan milih dan kebanyakan pilihan lalu bingung dan berakhir menjadi wacana. Nah, dari beberapa pencarian, salah satu lipstik untuk bibir hitam yang saya pilih adalah D’Flora dari K-BeauCareline dengan warna merah tua. Lipstik D’Flora ini adalah produk terbaru dari K-Link Indonesia. Selain bisa menyiasati untuk bibir hitam, D’Flora juga mengandung jojoba oil dan vitamin E yang melembabkan bibir. Tidak hanya itu, D’Flora juga memiliki kandungan vitamin A dan C untuk menjaga kesehatan kulit bibir. Nah, untuk varian warnanya nih, D’Flora memiliki enam pilihan warna yaitu nude, red blood, red heart, deep pink, red pink, dan peach. Lipstik D’Flora ini bisa didapatkan di stockish K-Link atau bisa didapat melalui online, bisa didapatkan dengan mudah kok ^^. Oh iya, lipstik D’Flora ini cenderung tidak tahan lama karena berasal dari bahan organik. Tetap saja tidak akan mengurangi kenyamanan saat mendarat di bibir…hehe

lipstik-bibir-hitam

Jadi jangan risau, jangan galau, jangan baper kalau kalian memiliki bibir hitam. Hal itu bisa banget disiasati dan lipstik D’Flora dari K-Link Indonesia siap sedia menemani ^^

 

Menikmati Wajah Baru Air Terjun Srambang Ngawi

Tiga tahun lalu saat pertama mengunjungi air terjun Srambang dengan berkunjung di tengah tahun 2018 sungguh jauh berbeda. Dulu saat pertama kali ke Srambang bersama Pak Nug, jalan menuju air terjun masih terjal, masih alami, dan not friendly anymore jika dibandingkan dengan sekarang. Dulu akses menuju air terjun masih ‘menantang’, lompat dari batu ini menuju batu itu, mlipir sini mlipir sana biar nggak basah karena ada anak-anak sungai yang airnya luar biasa jernih, sejernih memandang mata kekasih…wkwkwk.

Ternyata, ketika saya berkunjung lagi ke air terjun Srambang, kondisinya sudah sangat berbeda. Dari pintu masuk hingga air terjunnya semua tertata rapi dan sangat bersih. Fasilitas tersedia mulai dari toilet, tempat sampah, saung-saung kecil untuk istirahat, spot foto instagramable, ada kolam renang yang airnya langsung dari sumbernya, kedai-kedai makanan yang jual gorengan murah meriah, masih hangat dan ukurannya nggak tanggung-tanggung juga serta musolla yang bagi saya super nyaman. Ada juga charger stations alias colokan, jadi jangan khawatir. Akses jalannya juga sangat ramah untuk semua usia bahkan berat badan :D. Dari parkiran mobil hingga depan pintu masuk dan loket ada jasa ojek pengantaran, sekali naik ongkosnya hanya 5000 rupiah dan ini benar-benar pemberdayaan masyarakat sekitar air terjun Srambang.

Air terjun Srambang merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Ngawi yang berupa air terjun. Berlokasi di kaki gunung Lawu, Kecamatan Jogorogo, sekitar 5 km ke selatan dari pasar Jogorogo. Ketinggian air terjun ini hampir mencapai 25 m. Dulu pertama kali ke sana diajak suami, tepatnya saya beribik agar diajak ke sana karena Ibu (mertua) sering menceritakan tentang air terjun Srambang dan lokasi air terjun Srambang sangat dekat dengan penempatan Ibu (mertua) diawal-awal masa kerjanya sekaligus di sanalah Pak Nug, suami saya bertumbuh. Dari cerita-cerita Ibu itu saya semakin termotivasi dalam merayu Pak Nug agar mengajak saya ke sana.

Juli kemarin akhirnya saya ke sana lagi, bersama keluarga, bersama Bilgi, putra saya. Niatan awal memang ngajak Bilgi dalam rangka outing class, berkenalan dengan alam. Sampai di sana pun ia menikmatinya dengan udara yang sejuk cenderung dingin, antusias dengan air yang mengalir, bebatuan, pohon-pohon, payung warna-warni yang digantung di sepanjang jalan menuju air terjun dan tentu saja, bisa bertemu dengan banyak wajah baru.

Oh iya, tiket masuk lokasi air terjun Srambang ini sangat terjangkau yaitu Rp 15.000,00 dan jika menggunakan jasa ojek dari parkiran menuju pintu masuk Rp 5.000,00. Jadi total yang dikeuarkan Rp 20.000,00 per orang. Harga es teh manis juga masih normal Rp 3.000,00/cup, gorengan anget-anget fresh from wajan hanya Rp 500,00 itu pun dengan irisan yang besar. Masih ada menu-menu lain yang dari sisi harga juga masih sangat wajar. Masuk area air terjun Srambang juga diperbolehkan bawa bekal dan keramahan pun masih terasa sangat kental.

 srambang-ngawi

Setelah menikmati air terjun Srambang dengan wajah barunya, besar harapan saya maupun masyarakat pada umumnya semoga para penanggung jawab dan para pengunjung bisa saling mendukung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam serta menjaga fasilitas yang ada. Nyaman kan kalau berwisata di tempat yang bersih? Gimana? Jadi kapan kalian ke Ngawi?

Baca juga: Menikmati Waktu Bersama Anak di Sumber Koso dan Menepi Sejenak di Kayangan Cafe. 

Hello (Commuter Line) Jakarta

“Itu…itu, naik Kopaja yang itu, arah Sudirman.” Begitu kata Mbak Desy sesaat setelah aku bertanya aku naik apa ke arah Sudirman sambil menunjuk Kopaja yang yang hampir tiba tepat di depanku. Aku dengan cepat berpamitan dengan Mbak Desy dan Mbak Tinah di depan kantor Jedar sembari berharap bertemu lagi dengan keduanya. Bis sudah berhenti tepat di depanku, aku naik lalu memilih tempat duduk dekat jendela, posisi favoritku. Sepanjang perjalanan dari kantor Jedar yang berada di kawasan Tanah Abang menuju Sudirman, aku sangat menikmati pemandangan gedung-gedung yang tinggi nan gagah. Oh, inilah Jakarta dan aku ada di dalamnya. Menikmati kemacetannya. Merasakan tiap hiruk pikuknya seakan kota ini tak pernah sepi, tak pernah sunyi.

***

“Makasih Mbak, udah dianterin sampai Tugu.”
“Hati-hati, Ka.”

Tak ada kata-kata lagi yang meluncur dengan riang malam ini. Suatu malam di penghujung Oktober, saat yang berat ketika benar-benar menerima kenyataan bahwa harus angkat koper menuju ibukota. Prasangkaku pada Jakarta benar-benar mendahului apa yang akan digariskan Tuhan untukku. Rasa khawatirku sungguh melebihi batas. Rasanya hanya akan membosankan seperti dalam angan, hanya di rumah dan tak punya teman. Setelah beres dengan pekerjaan rumah, aku hanya akan membaca buku, menonton televisi, bahkan tidur sepanjang hari.

“Udah di stasiun?” Tanya Abang di seberang sana. Aku hanya nanar menatap pesan Abang di layar ponsel. Tak seperti biasanya, setiap perjalanan menuju ibukota bertemu Abang, aku akan sangat antusias memberi kabar sebelum Abang bertanya. Lalu pesan itu, kubiarkan sejenak.

“Aku sedih. Suatu saat aku ingin berkarya dan menua di Jogja.”, begitu balasanku pada pesan yang Abang kirim.

“He em.”, hanya itu jawabannya.

“Kereta sudah datang, sebentar lagi berangkat.”, tulisku dalam sebuah pesan untuk Abang.

Setelah duduk di kursi yang jadi hakku, menyandarkan punggung dan meletakkan kaki di sandaran bagian bawah, lalu membuka korden yang menutupi jendela kereta dan semua kenangan akan Jogja berdatangan dan hadir tanpa permisi. Tentang semua cerita di kota ini, teman-teman, tempat jalan, dan makanannya yang akan sangat kurindukan. Setiap hari esok yang akan terlewati mungkin akan ada rasa iri pada siapa pun yang sedang menghabiskan waktu-waktunya di Jogja.

Tugu-Jatinegara biasanya akan kuhabiskan dengan tidur. Selain karena mengantuk, melewatkan perjalanan dengan tidur membuat perjalanan yang panjang semakin tak terasa, rasa-rasanya baru naik sudah tiba di tempat tujuan. Namun perjalanan kali ini, tidur pun tak nyenyak. Aku pun lupa mematikan alarm ponsel yang berbunyi tiap pukul dua atau tiga dini hari. Saat aku bisa tertidur setelah puas terisak pelan di kursiku dengan sembunyi-sembunyi. Jadwal kereta yang kunaiki sengaja kupilih dengan jadwal keberangkatan malam, agar tidak terlalu lama menikmati keramaian di dalam gerbong di mana jatah kursiku berada.

Tepat pukul dua alarm kedua ponselku berbunyi dengan nyaring dalam waktu bersamaan. Masih belum benar-benar sadar, aku meraba salah satu kantong tas yang kuletakkan di bawah antara kursiku dan kursi di depanku. Kali ini aku bersyukur karena kursi disampingku kosong, tak ada yang mendudukinya. Setelah kedua ponsel mampu aku raih, aku mematikan alarm dan kembali mengusap sisa-sisa air mata yang sebelumnya menganak sungai. Aku alihkan pandangan dari ponsel ke jam tanganku, benar saja, ini pukul dua di mana waktu mustajab melangitkan doa-doa.

Aku melempar pandangan sejauh aku mampu, tapi gelap menghalangi pandangan. Aku seakan tersadar, bagaimana aku mempersepsikan waktu-waktu esok yang akan kujalani di Jakarta. Gelap malam yang menghalangi pandanganku bukanlah tak menghadirkan terang, bukan tak mungkin kesempatan datang. Aku hanya perlu mengajukan proposal pada Tuhan melalui doa-doa yang optimal lalu kurealisasikan melalui ikhtiyar yang maksimal. Ya, seharusnya memang seperti itu. Namun, beberapa waktu lalu, aku hanya fokus dengan betapa gelapnya malam hingga tak berpikir bahwa esok akan ada mentari yang datang membawa sinar terang yang akan menunjukkan arah letak kesempatan. Aku tersenyum dan dari hati terdalam, doa-doa melangit dengan deras penuh harap.

***

 

Jatinegara tak pernah sepi. Aku membayangkan bahwa di sini kehidupan selalu berputar. Kereta datang silih berganti. Kereta jarak jauh maupun commuter line yang beroperasi mulai pukul lima pagi hingga malam. Aku menyukai stasiun ini. Stasiun jika aku berangkat dari Jogja pukul enam sore, maka aku akan menunggu subuh yang seringnya tertidur di kursi bagian dalam stasiun. Jika aku berangkat dari Jogja sudah malam, maka aku akan tiba di Jatinegara menjelang subuh dan aku tak perlu tertidur untuk menunggu commuter line pertama diberangkatkan.

Aku cukup menikmati saat naik commuter line Jabodetabek ini. Apalagi jika harus transit untuk ganti kereta. Bagiku itu ritual yang mengasyikkan meski mungkin bagi sebagian orang sangat melelahkan. Aku dan Abang tinggal di pinggiran Jakarta, tapi bukan pinggiran yang benar-benar sepi. Pinggiran yang menurutku hanya sebatas istilah karena tempat di mana aku dan Abang tinggal berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan dan menurut letaknya strategis, dekat dengan pusat kota pemerintahan.

“Abang, jemput aku di stasiun Pondok Ranji aja. Aku berani sendiri dari Jatinegara ke Pondok Ranji.”

“Ingat di mana transitnya?”

“Ingat, di Tanah Abang lalu ganti kereta ke arah Serpong, Parung Panjang, atau Maja kan?”
“He em. Hati-hati ya.”

Perjalanan stasiun Jatinegara-Pondok Ranji terlalu sayang dilewatkan untuk sekedar tidur. Di perjalanan inilah, diam-diam aku merangkai tekad dan menderaskan doa-doa. Membiarkan keinginan-keinginan terucap dan telunjuk menunjuk ke setiap gedung yang tinggi.

***

Satu bulan yang teramat cepat berlalu dan aku belum berbuat apapun untuk melihat Jakarta yang kuucap dalam barisan doa-doaku. Benar saja, aku melewati satu bulan seperti dalam imajinasiku sebelumnya. Ini membuatku bosan hingga akhirnya aku menemukan sebuah info kompetisi menulis. Awalnya hanya sekedar melihat dan sekedar mengumpulkan niat. Lalu teringat pesan seorang dosen, “kau tak kan bisa mencapai garis finish sebelum kau benar-benar memutuskan untuk memulai mengakhiri apa yang kau niatkan.”

Berhari-hari kuhabiskan untuk berselancar di dunia maya. Membulatkan tekad mengumpulkan bahan-bahan untuk menulis sebuah karya tulis dan yang tak kalah penting menemukan ide dan objek yang akan dibahas.

“Abang, aku bosan. Sangat bosan”

“Itu kan ada wifi, dimanfaatkan dong!”

Oh iya, Abang memfasilitasiku wifi yang belum kumaksimalkan keberadaannya. Keberadaan wifi yang akhirnya memberiku sedikit pekerjaan dan aktifitas.

“Sedang apa?”

“Sedang usaha untuk melihat Jakarta melalui passion, Bang.”

“Oke, bagus.”

“Boleh kan Bang? Jadi selain jatah jalan-jalan dari Abang, aku ingin melihat Jakarta.”

“Boleh.” Jawaban yang singkat, jauh dari romantisme tapi di sana ada sebuah dukungan yang besar serta bagaimana tetap bisa memastikan bahwa tanpanya aku akan tetap aman melihat Jakarta.

***

“Abaaaaaaaang, aku dapat kesempatan melihat Jakarta melalui passionku.” Pesan singkat yang kukirim ke Abang di tengah-tengah jadwal perkuliahannya.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata pesanku mendapat balasan, “Apa?”

“Aku menang lomba karya tulis, nih. Nanti kalau ambil hadiah temenin ya?”

“Iya.”

***

Berawal mengambil piala di sebuah kantor yang terletak di Jalan Imam Bonjol dekat Bundaran HI yang merupakan jantung kota ini, aku memulai merajut harapan dengan optimis. Ingin melihat Jakarta dengan cara lain, dengan caraku melalui passionku. Aku ingin belajar hal-hal baru seperti harapan kebanyakan orang ketika hijrah ke kota yang baru didatanginya. Ingin bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman.

“Abang, aku terpilih ikut workshop di kantor Tempo di kawasan Palmerah Barat. Selanjutnya, aku terpilih lagi untuk Blogger Gathering di kantor SCTV di lantai 14 dan aku terpilih ikut Blogger Hang Out di kantor Jedar di daerah Tanah Abang.”

“Ohya? Udah ngecek letak lokasi?”

“Udah dong. Aku ngecek di Google Map seperti yang biasa Abang lakukan.”, kujawab sambil nyengir. Kalau sudah seperti ini rasanya bisa sedikit membusungkan dada di depan Abang karena Abang selalu menggodaku ketika aku ketahuan gagap teknologi.

“Ohya, aku juga lolos sebagai successful aplicant di Smart Living Challenge yang diadakan oleh Kedutaan Swedia. Di acara itu akan membahas tentang How we look into foodwaste. Sebelumnya, aku juga dapat kesempatan ikut workshop di daerah Margonda Depok.”

“He em, pastikan akses ke sana gampang terutama dari stasiun.”

“Siiip.”

***

Salah satu moment yang seru adalah saat menikmati es krim bersama Abang. Meskipun aku yang lebih banyak bicara, tapi momen menikmati es krim benar-benar terasa hangat setelah aku dan Abang terpisahkan oleh jadwal kuliah Abang yang padat dan aku yang mencoba untuk sibuk.

“Abang, terimakasih ya atas semuanya. Aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Aku bertemu banyak orang yang baik-baik dan menyenangkan. Aku punya jadwal rutin belajar tahsin dengan ibu-ibu tetangga ditambah kumpul-kumpul arisan tiap Jumat. Aku punya forum halaqah Quran tiap Minggu bersama Ustadzah Asiyah. Aku punya forum kajian kitab Tarbiyatul Aulaad. Bisa ke karawang kunjungan ke pabrik kertas. Aku jadi kenal lebih dekat para senior blogger plus kopi darat. Aku banyak belajar pokoknya.”

“Abang tahu apa yang paling spesial?”

“Apa?”

“Aku jadi hafal rute commuter line, jadi tahu rasanya berdiri tanpa pegangan tangan di pulang jam kantor, tahu rasanya mandi keringat demi bisa selip sana selip sini. Bener-bener jadi roker Jakarta” Kusampaikan itu dengan tertawa puas.

“He em. Perpindahan itu hanya butuh waktu. Saat bertemu teman baru, saat memiliki komunitas dan forum-forum yang baru, otomatis hiburan akan datang dengan sendirinya. Tidak akan ada kata bosan dengan sebuah perpindahan.” Tetap dengan gaya tanpa ekspresi seperti biasanya dan ya, romantisme bukan melulu soal kata-kata kok, ada banyak jalan. Aku hanya perlu memahami dan menangkap bahwa setiap kata dan sikap adalah sebuah bentuk romantisme dengan cara yang berbeda. Seperti halnya bagaimana kita memandang akan banyak hal dalam kehidupan.

 

***

Ah, dulu aku salah. Prasangkaku telah mendahului kejutan-Mu. Kekhawatiranku telah menenggelamkan apa itu harapan. Pun saat itu aku lupa bahwa Abang hadir dengan kelegaan perijinannya. Hadir dengan dukungan yang besar. Aku lupa, bahwa aku memiliki passion beserta doa dari Abang. Bukankah itu sebenarnya cukup untuk mengantarkanku melihat Jakarta? Bukankah tugasku sebagai hamba hanyalah memanjatkan doa dan menguntai harapan melalui rayuan pada Tuhan?

Kini, aku melihat Jakarta dengan passion dan kelegaan perijininan dari Abang. Aku menemukan sebuah kepercayaan diri melalui berbagai kesempatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Terimakasih ya Allah untuk setiap doa dan keinginan yang terwujud dengan cara begitu indah. Bahwa doa dan ikhtiyar adalah sejoli yang tak pernah bisa dipisahkan, bisa terwujudkan melalui setiap tetes keringat kerja nyata. Tak kalah penting, tetaplah menanam prasangka terbaik pada Tuhan. “Antarkan aku melihat Jakarta melalui pintu yang paling spesial, ya Allah.” Pintaku saat itu.

“Neng, sudah sampai stasiun Sudirman.” Teguran si Abang kernet Kopaja membuyarkan lamunanku menikmati suasana menjelang sore Jakarta sepulang dari Blogger Hang Out bersama teman-teman BloggerCrony dan Jessica Iskandar.

 

Roller Coaster Kehidupan StudentMom

Neng Koala

Diskusi Perempuan dan Pendidikan Tinggi Bersama Neng Koala

 

Keluarlah dari zona nyaman. Sembilu yang dulu. Biarlah membiru. Berkarya bersama hati. Bergeraklah dari zona nyaman. ~Fourtwnty~

 

Saat pagi di tanggal merah kemarin, saya dan suami menjemur pakaian bersama dengan sebelumnya suami memutar lagu dari iTunes-nya. Sayup-sayup saya dengar kalimat di lirik lagu “keluarlah dari zona nyaman” yang dinyanyikan Fourtwnty. Bagi saya saat ini bukanlah masa yang bisa dianggap santai dengan ritme kehidupan yang dianggap wajar oleh orang pada umumnya. Sebagai istri sekaligus ibu tentu saja konstruksi pemikiran di masyarakat (dan teori pengasuhan) idealnya adalah fokus pada anak,  suami dan urusan rumah tangga, sedangkan saya berada dalam fase di mana harus membagi fokus pada suami dan anak dengan segala macam tugas dan jurnal. Iya, saya berada di zona yang tidak nyaman, setidaknya begitu anggapan orang.

Dulu sekali, saya memiliki angan-angan ingin terus melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah dan memiliki anak. “Pasti akan menyenangkan”, begitu pikir saya waktu itu. Ketika suatu ketika saya mengungkapkan khayalan saya itu, hampir sebagian besar akan menjawab bahwa itu tidak mungkin atau sekadar ditanggapi ‘untuk apa sekolah lagi?’. Kemudian banyak yang menyarankan untuk sekolah dulu baru menikah dan punya anak.

Kemudian, takdir membawa saya berdiri di pelaminan terlebih dahulu dan suasana kehidupan pernikahan membuat saya (sedikit) terlena pada cita-cita. Memasuki tahun ke empat pernikahan sekaligus menanti buah hati yang ternyata belum mengisi rahim, akhirnya saya kembali memutuskan untuk belajar, melanjutkan sekolah lagi dengan harapan perjalanan belajar kali ini bisa menjadi jalan spiritual lebih dekat dengan-Nya dan dianugerahi buah hati. Akhirnya, proposal saya pada Tuhan yang sedikit memaksa itu dikabulkan. Mulailah saya memainkan peran ganda di fase baru kehidupan.

Januari 2017 adalah awal saya memiliki status baru sebagai mahasiswi di Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia. Satu bulan berselang, saya menyadari ada yang sedikit berbeda dari diri saya, sekitar bulan Maret saya memutuskan ke dokter kandungan. Ternyata saya sudah hamil dengan usia kandungan delapan minggu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan bagi orang-orang di sekitar saya, itu terlihat mudah bagi saya…haha.

Hamil muda dan kuliah lagi ditambah dengan perjalanan Bintaro-Salemba menggunakan commuter line sungguh menjadi hal luar biasa. Kehidupan yang drastis saya jalani, sebelumnya ritme kehidupan yang berjalan santai berubah menjadi ritme yang begitu cepat. Waktu terasa amat sangat berharga dan akhirnya benar kata kawan bahwa kehidupan Jakarta itu keras. Tantangan pada waktu itu adalah saya menyadari sering kontraksi saat di trimester pertama dan kedua. “Pegangan yang kuat ya Kak”, “Maaf ya Kak, ibuk belum bisa ngajak Kakak santai-santai, tiduran, atau tidur yang cukup”, “Kita sekolah ya Kak, semoga Allah menitipkan ilmu yang berkah untuk kita.” Hanya kalimat-kalimat itu yang terus menerus saya sounding pada bayi yang masih di rahim. Betapa bahagianya saya ketika saya mendapati tidak pernah absen di semester pertama dalam kondisi hamil muda.

Memasuki semester kedua perkuliahan dan saya sudah berada di akhir trimester ketiga bahkan H-2 sebelum melahirkan saya masih hadir di kelas. Selama masa kehamilan dengan ritme menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dalam angan meskipun tetap membahagiakan hingga datang waktu melahirkan yang saya jalani melalui operasi sesar. Saya tidak mengambil cuti perkuliahan, hanya memanfaatkan ijin tidak masuk kepada dosen dan administrasi di bagian akademik. Hari ketujuh pasca melahirkan sesar, ujian tengah semester dua datang menyapa dan saya tempuh jarak Bintaro-Salemba dengan commuter line demi ujian. Bisa? Alhamdulillah bisa dengan sangat menyakitkan…hahaha.

Kuliah bersama kelas besar atau antar peminatan

Hingga di sini, saya bersyukur bisa sekolah lagi dengan sebuah peran ganda menjadi mama dan mahasiswi. Allah Maha Tahu, jika saya sekolah terlebih dahulu di jenjang magister sebelum menikah dan punya anak, bisa jadi ritme kehidupan saya sama seperti ritme kehidupan di Jogja yang serba santai dan damai. Namun, kali ini saya bersyukur dan beruntung bisa mencicipi dua peran dengan perasaan macam naik roller coaster.

Ya, roller coaster kehidupan sebagai studentmom atau mamasiswa ternyata tidak semudah dalam khayalan. Tidak mudah menata waktu dan ego, bernego dan menjalin komunikasi, berdamai dengan diri, mengatur naik turun emosi, hingga menyeleksi komentar orang atas pilihan kita. “Ngapain sekolah lagi?”, “Fokus aja di rumah dan anak-anak, ngapain repot sekolah lagi, kapan senang-senangnya?”, “Udah nikah dan punya anak udah bukan waktunya sekolah lagi. Sekolah itu dulu sebelum menikah”, “Masa golden age anak itu sekali seumur hidupnya, kalau sekolah kamu ketinggalan dong ya?”, “Iya sih bisa sekolah lagi tapi kasihan banget sih anakmu.” Daaaan masih banyak yang lainnya. 😀

Bagaimana rasanya menghadapi komentar orang yang mengungkapkan fakta? Saya semacam menjadi perempuan yang nestapa dan dibanjiri rasa bersalah terutama pada anak dan suami. 😀 Di sisi lain, saya bahagia bahwa ternyata saya memiliki support system yang solid, good vibes dan positive people yang ternyata jauh lebih banyak. Salah satunya, saya menjadi bagian kecil bahkan seperti butiran deterjen dari sebuah komunitas bloger yaitu, BloggerCrony dengan prinsipnya adalah positive people dengan positive attitude yang memberi saya kesempatan hadir di launching buku Neng Koala yang berisi kisah-kisah mahasiswi Indonesia di Australia sekaligus diskusi bertemakan perempuan dan pendidikan tinggi di Aula Univeritas Binus tepat seminggu lalu (25/4). Dalam diskusi tersebut ada lima narasumber sekaligus penulis buku Neng Koala yang berbagi pengalamannya selama belajar di Australia dengan kondisi yang berbeda. Sharing pengalaman yang paling berkesan adalah ternyata saya tidak sendiri menjalani peran ganda sebagai mama dan mahasiswi yang pada waktu itu disampaikan oleh Mbak Adhityani “Dhitri” Putri, Alumnus Australian National University. Saya menyadari ternyata apa yang saya jalani masih tergolong ringan karena saya masih menjalaninya di Indonesia. *hoho*

Dalam tulisannya di buku Neng Koala, Mbak Dhitri menceritakan ada dua tantangan besar ketika melanjutkan kuliah di Australia sekaligus memiliki bayi dalam waktu yang bersamaan yaitu, mendapatkan tempat penitipan anak yang bagus dengan harga terjangkau dan membagi waktu dan perhatian antara kebutuhan si kecil, kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi dan suami. Yap, saya bisa saja memberi jawaban yang mudah dengan “planning” atau “direncanakan dong!” Eitttsss, tahan dulu memberi jawaban yang super mudah itu karena bagi yang sudah punya anak pasti tahu bahwa rencana sematang apa pun itu bisa kandas seketika. Anak bayi dan balita mana bisa disuruh mengikuti jadwal deadine tugas ibunya? Daaaaaan, saya sudah mengalami itu…wkwkwk rela ngerjain tugas dengan menggadai waktu tidur malam demi tugas kelar, masalah besok berangkat ke kampus sambil melek merem urusan besok, syukur-syukur kalau dapat tempat duduk di commuter line untuk sekedar merem sebentar. It is heaven in the earth, Moms! 😀

Selain tulisan Mbak Dhitri di buku Neng Koala, saya juga memiliki kesan khusus kepada Mbak Cucu Saidah yang memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasannya di mana segala aktivitasnya dilakukan di atas kursi roda, ternyata tidak menghalanginya untuk melanjutkan sekolah di jenjang master bersama suaminya yang sama-sama memiliki keterbatasan. Dari Mbak Cucu lagi-lagi saya diingatkan lagi bahwa bagaimanapun kondisi kita bukan menjadi penghalang untuk banyak kebaikan termasuk menjemput ilmu. Hal yang membedakan adalah adanya niat dan tekad yang kuat dan berani merealisasikannya.

Saat saya membaca lembar demi lembar kisah Neng Koala, saya juga menemukan tulisan berjudul “Merajut Mimpi Bersama: Kuliah Bareng Suami” yang ditulis oleh Mbak Melati, founder Neng Koala. Tulisan itu lagi-lagi menyemangati saya dari sisi yang lain tentang keinginan saya dan suami untuk kuliah bareng, bareng secara waktu dan universitasnya bersama anak kami tentu saja. Mimpi besar yang tinggi itu tentu saja tidak bisa diwujudkan dengan mudah. Namun, Mbak Melati berpesan dalam tulisannya bahwa niat kuat bahkan nekat dan optimisme adalah kunci terwujudnya mimpi serta selalu bersyukur atas pilihan yang telah diambil bersama. Yaa, saya pun sepakat.

Banyak kisah berharga untuk mengisi semangat dari buku Neng Koala dan ini berharga sekali untuk saya yang sedang menjalani peran ganda sebagai mamasiswa. Kisah-kisah Neng Koala sangat beragam, bisa dibaca oleh semua kalangan, tidak harus jadi mamasiswa dulu baru membaca Neng Koala kok! Bagi perempuan Indonesia yang enerjik, penuh semangat dan cita-cita tinggi pada pendidikan, buku Neng Koala ini bisa jadi daftar bacaan dan teman slonjoran…hehe. Saya tidak memungkiri bahwa setelah menjadi ibu kewajiban bertambah seolah waktu selalu kurang dan tidak memungkinkan untuk sekolah lagi. Bukan tidak mungkin, mungkin kok asal berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusan, semua itu tidak ada yang tidak mungkin tergantung kita berani atau tidak mengambil kesempatan untuk keluar dari zona nyaman. Ohya, selain para perempuan, buku Neng Koala juga bisa dibaca oleh para laki-laki agar bisa memiliki gambaran tentang dunia perempuan dan pendidikan tinggi.

Selesai membaca Neng Koala secara paripurna, saya memilih untuk tetap bersyukur dan bahagia menikmati roller coaster kehidupan sebagai mamasiswa.

Salam dari mamasiswa terenerjik di dunia Bilgi! 😀

 

 

 

 

 

Menikmati Akhir Pekan Bersama Irina Pejoska di Salihara

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Waaaah, ternyata sudah sangat lama saya nggak post-post di blog ini yaaa… 😀 Kenapa? Ya, saya usahakan untuk nulis pembenaran-pembenaran kenapa absen begitu lama di dunia per-blog-ingan. InsyaAllah, next post ya… ^^

Well, kali ini saya akan berbagi kesan di akhir pekan yang dingin-dingin manja karena selepas hujan di luar sana. Malam akhir pekan kali ini saya berkunjung ke Salihara. Kesempatan yang membahagiakanlah ya untuk saya, setelah kemarin selama tiga hari ngentheng-ngenthengi (biasanya ini terjadi pada bayi yang mulai aktif dan bertambah pintar kalau kata orang Jawa). Saya terus-menerus pooping itu berarti tempat saya beraktifitas nggak bisa jauh-jauh dari kamar mandi, saya tidak sedang diare maupun sakit perut. Entah kenapa saya ngentheng-ngenthengi, bisa jadi saya akan bertambah pintar. *hahaha*

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Salihara dan untuk pertama kalinya juga saya menyaksikan pertunjukkan harpa. Pak Nug mengahadiahi saya saturday dating dengan menonton pertunjukkan harpa oleh Irina Pejoska dari Serbia, kurang romantis bagaimana lagi, iya nggak? Irina Pejoska, ia masih sangat muda, berusia lima belas tahun dan sudah sangat piawai memainkan alat musik harpa yang ukurannya nggak main-main, yang jelas harpa itu lebih tinggi dari saya 😀 Dalam pertunjukkan tersebut, Irena menyajikan sembilan lagu dan bonus satu lagu di akhir pertunjukkannya. Sedikit informasi tentang Irina Pejoska, ia menekuni biola di sekolah musik Mokranjac, Serbia kemudian beralih ke bidang harpa di sekolah musik Stanković di negara yang sama. Ia pernah memenangkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, serta tampil di beberapa acara yang diadakan di Kolarčeva Zadužbina (Serbia), di ballroom Matica Iseljenika i Srba u Regionu (Serbia) dan di galeri Cultural Centre Pančevo (Serbia). Selain itu, ia pernah dibimbing langsung oleh pemain harpa unggulan dunia.

Pertunjukkan dimulai tepat waktu, pukul 20.00 WIB dan ini sangat-sangat keren bagi saya atas nama penghargaan terhadap waktu. Semua kursi Hall Salihara pun terisi penuh. Namun, kami sebagai penonton tidak diperkenan untuk merekam atau memotret selama acara berlangsung karena suara atau cahaya akan mengganggu jalannya acara. Biar kita-kita pada fokus! Yaah, gak bisa eksis di media sosial dong? Tenang, panitia memberi solusi bahwa diperkenankan untuk mengambil gambar di akun media sosial Salihara. Sebelum dan selepas acara tetap diperbolehkan untuk cekrak-cekrek kok… ^^

Ohya, di Salihara banyak menawarkan acara-acara bagus, menurut saya ya… Jadi bisa jadi pertimbangan untuk mengisi akhir pekan atau bingung mau ke mana selain nge-mall… 😀

Dok. Pribadi

Saya sebenarnya nggak paham betul dengan permainan alat musik harpa, saya hanya sebatas penikmat saja dan yang paling penting adalah dengan siapa kita menikmatinya, iya kan? iya kan? 😀

Ini cerita akhir pekan saya, apa cerita akhir pekan kalian? dan dengan siapa kalian menikmatinya?