Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Hello (Commuter Line) Jakarta

“Itu…itu, naik Kopaja yang itu, arah Sudirman.” Begitu kata Mbak Desy sesaat setelah aku bertanya aku naik apa ke arah Sudirman sambil menunjuk Kopaja yang yang hampir tiba tepat di depanku. Aku dengan cepat berpamitan dengan Mbak Desy dan Mbak Tinah di depan kantor Jedar sembari berharap bertemu lagi dengan keduanya. Bis sudah berhenti tepat di depanku, aku naik lalu memilih tempat duduk dekat jendela, posisi favoritku. Sepanjang perjalanan dari kantor Jedar yang berada di kawasan Tanah Abang menuju Sudirman, aku sangat menikmati pemandangan gedung-gedung yang tinggi nan gagah. Oh, inilah Jakarta dan aku ada di dalamnya. Menikmati kemacetannya. Merasakan tiap hiruk pikuknya seakan kota ini tak pernah sepi, tak pernah sunyi.

***

“Makasih Mbak, udah dianterin sampai Tugu.”
“Hati-hati, Ka.”

Tak ada kata-kata lagi yang meluncur dengan riang malam ini. Suatu malam di penghujung Oktober, saat yang berat ketika benar-benar menerima kenyataan bahwa harus angkat koper menuju ibukota. Prasangkaku pada Jakarta benar-benar mendahului apa yang akan digariskan Tuhan untukku. Rasa khawatirku sungguh melebihi batas. Rasanya hanya akan membosankan seperti dalam angan, hanya di rumah dan tak punya teman. Setelah beres dengan pekerjaan rumah, aku hanya akan membaca buku, menonton televisi, bahkan tidur sepanjang hari.

“Udah di stasiun?” Tanya Abang di seberang sana. Aku hanya nanar menatap pesan Abang di layar ponsel. Tak seperti biasanya, setiap perjalanan menuju ibukota bertemu Abang, aku akan sangat antusias memberi kabar sebelum Abang bertanya. Lalu pesan itu, kubiarkan sejenak.

“Aku sedih. Suatu saat aku ingin berkarya dan menua di Jogja.”, begitu balasanku pada pesan yang Abang kirim.

“He em.”, hanya itu jawabannya.

“Kereta sudah datang, sebentar lagi berangkat.”, tulisku dalam sebuah pesan untuk Abang.

Setelah duduk di kursi yang jadi hakku, menyandarkan punggung dan meletakkan kaki di sandaran bagian bawah, lalu membuka korden yang menutupi jendela kereta dan semua kenangan akan Jogja berdatangan dan hadir tanpa permisi. Tentang semua cerita di kota ini, teman-teman, tempat jalan, dan makanannya yang akan sangat kurindukan. Setiap hari esok yang akan terlewati mungkin akan ada rasa iri pada siapa pun yang sedang menghabiskan waktu-waktunya di Jogja.

Tugu-Jatinegara biasanya akan kuhabiskan dengan tidur. Selain karena mengantuk, melewatkan perjalanan dengan tidur membuat perjalanan yang panjang semakin tak terasa, rasa-rasanya baru naik sudah tiba di tempat tujuan. Namun perjalanan kali ini, tidur pun tak nyenyak. Aku pun lupa mematikan alarm ponsel yang berbunyi tiap pukul dua atau tiga dini hari. Saat aku bisa tertidur setelah puas terisak pelan di kursiku dengan sembunyi-sembunyi. Jadwal kereta yang kunaiki sengaja kupilih dengan jadwal keberangkatan malam, agar tidak terlalu lama menikmati keramaian di dalam gerbong di mana jatah kursiku berada.

Tepat pukul dua alarm kedua ponselku berbunyi dengan nyaring dalam waktu bersamaan. Masih belum benar-benar sadar, aku meraba salah satu kantong tas yang kuletakkan di bawah antara kursiku dan kursi di depanku. Kali ini aku bersyukur karena kursi disampingku kosong, tak ada yang mendudukinya. Setelah kedua ponsel mampu aku raih, aku mematikan alarm dan kembali mengusap sisa-sisa air mata yang sebelumnya menganak sungai. Aku alihkan pandangan dari ponsel ke jam tanganku, benar saja, ini pukul dua di mana waktu mustajab melangitkan doa-doa.

Aku melempar pandangan sejauh aku mampu, tapi gelap menghalangi pandangan. Aku seakan tersadar, bagaimana aku mempersepsikan waktu-waktu esok yang akan kujalani di Jakarta. Gelap malam yang menghalangi pandanganku bukanlah tak menghadirkan terang, bukan tak mungkin kesempatan datang. Aku hanya perlu mengajukan proposal pada Tuhan melalui doa-doa yang optimal lalu kurealisasikan melalui ikhtiyar yang maksimal. Ya, seharusnya memang seperti itu. Namun, beberapa waktu lalu, aku hanya fokus dengan betapa gelapnya malam hingga tak berpikir bahwa esok akan ada mentari yang datang membawa sinar terang yang akan menunjukkan arah letak kesempatan. Aku tersenyum dan dari hati terdalam, doa-doa melangit dengan deras penuh harap.

***

 

Jatinegara tak pernah sepi. Aku membayangkan bahwa di sini kehidupan selalu berputar. Kereta datang silih berganti. Kereta jarak jauh maupun commuter line yang beroperasi mulai pukul lima pagi hingga malam. Aku menyukai stasiun ini. Stasiun jika aku berangkat dari Jogja pukul enam sore, maka aku akan menunggu subuh yang seringnya tertidur di kursi bagian dalam stasiun. Jika aku berangkat dari Jogja sudah malam, maka aku akan tiba di Jatinegara menjelang subuh dan aku tak perlu tertidur untuk menunggu commuter line pertama diberangkatkan.

Aku cukup menikmati saat naik commuter line Jabodetabek ini. Apalagi jika harus transit untuk ganti kereta. Bagiku itu ritual yang mengasyikkan meski mungkin bagi sebagian orang sangat melelahkan. Aku dan Abang tinggal di pinggiran Jakarta, tapi bukan pinggiran yang benar-benar sepi. Pinggiran yang menurutku hanya sebatas istilah karena tempat di mana aku dan Abang tinggal berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan dan menurut letaknya strategis, dekat dengan pusat kota pemerintahan.

“Abang, jemput aku di stasiun Pondok Ranji aja. Aku berani sendiri dari Jatinegara ke Pondok Ranji.”

“Ingat di mana transitnya?”

“Ingat, di Tanah Abang lalu ganti kereta ke arah Serpong, Parung Panjang, atau Maja kan?”
“He em. Hati-hati ya.”

Perjalanan stasiun Jatinegara-Pondok Ranji terlalu sayang dilewatkan untuk sekedar tidur. Di perjalanan inilah, diam-diam aku merangkai tekad dan menderaskan doa-doa. Membiarkan keinginan-keinginan terucap dan telunjuk menunjuk ke setiap gedung yang tinggi.

***

Satu bulan yang teramat cepat berlalu dan aku belum berbuat apapun untuk melihat Jakarta yang kuucap dalam barisan doa-doaku. Benar saja, aku melewati satu bulan seperti dalam imajinasiku sebelumnya. Ini membuatku bosan hingga akhirnya aku menemukan sebuah info kompetisi menulis. Awalnya hanya sekedar melihat dan sekedar mengumpulkan niat. Lalu teringat pesan seorang dosen, “kau tak kan bisa mencapai garis finish sebelum kau benar-benar memutuskan untuk memulai mengakhiri apa yang kau niatkan.”

Berhari-hari kuhabiskan untuk berselancar di dunia maya. Membulatkan tekad mengumpulkan bahan-bahan untuk menulis sebuah karya tulis dan yang tak kalah penting menemukan ide dan objek yang akan dibahas.

“Abang, aku bosan. Sangat bosan”

“Itu kan ada wifi, dimanfaatkan dong!”

Oh iya, Abang memfasilitasiku wifi yang belum kumaksimalkan keberadaannya. Keberadaan wifi yang akhirnya memberiku sedikit pekerjaan dan aktifitas.

“Sedang apa?”

“Sedang usaha untuk melihat Jakarta melalui passion, Bang.”

“Oke, bagus.”

“Boleh kan Bang? Jadi selain jatah jalan-jalan dari Abang, aku ingin melihat Jakarta.”

“Boleh.” Jawaban yang singkat, jauh dari romantisme tapi di sana ada sebuah dukungan yang besar serta bagaimana tetap bisa memastikan bahwa tanpanya aku akan tetap aman melihat Jakarta.

***

“Abaaaaaaaang, aku dapat kesempatan melihat Jakarta melalui passionku.” Pesan singkat yang kukirim ke Abang di tengah-tengah jadwal perkuliahannya.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata pesanku mendapat balasan, “Apa?”

“Aku menang lomba karya tulis, nih. Nanti kalau ambil hadiah temenin ya?”

“Iya.”

***

Berawal mengambil piala di sebuah kantor yang terletak di Jalan Imam Bonjol dekat Bundaran HI yang merupakan jantung kota ini, aku memulai merajut harapan dengan optimis. Ingin melihat Jakarta dengan cara lain, dengan caraku melalui passionku. Aku ingin belajar hal-hal baru seperti harapan kebanyakan orang ketika hijrah ke kota yang baru didatanginya. Ingin bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman.

“Abang, aku terpilih ikut workshop di kantor Tempo di kawasan Palmerah Barat. Selanjutnya, aku terpilih lagi untuk Blogger Gathering di kantor SCTV di lantai 14 dan aku terpilih ikut Blogger Hang Out di kantor Jedar di daerah Tanah Abang.”

“Ohya? Udah ngecek letak lokasi?”

“Udah dong. Aku ngecek di Google Map seperti yang biasa Abang lakukan.”, kujawab sambil nyengir. Kalau sudah seperti ini rasanya bisa sedikit membusungkan dada di depan Abang karena Abang selalu menggodaku ketika aku ketahuan gagap teknologi.

“Ohya, aku juga lolos sebagai successful aplicant di Smart Living Challenge yang diadakan oleh Kedutaan Swedia. Di acara itu akan membahas tentang How we look into foodwaste. Sebelumnya, aku juga dapat kesempatan ikut workshop di daerah Margonda Depok.”

“He em, pastikan akses ke sana gampang terutama dari stasiun.”

“Siiip.”

***

Salah satu moment yang seru adalah saat menikmati es krim bersama Abang. Meskipun aku yang lebih banyak bicara, tapi momen menikmati es krim benar-benar terasa hangat setelah aku dan Abang terpisahkan oleh jadwal kuliah Abang yang padat dan aku yang mencoba untuk sibuk.

“Abang, terimakasih ya atas semuanya. Aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Aku bertemu banyak orang yang baik-baik dan menyenangkan. Aku punya jadwal rutin belajar tahsin dengan ibu-ibu tetangga ditambah kumpul-kumpul arisan tiap Jumat. Aku punya forum halaqah Quran tiap Minggu bersama Ustadzah Asiyah. Aku punya forum kajian kitab Tarbiyatul Aulaad. Bisa ke karawang kunjungan ke pabrik kertas. Aku jadi kenal lebih dekat para senior blogger plus kopi darat. Aku banyak belajar pokoknya.”

“Abang tahu apa yang paling spesial?”

“Apa?”

“Aku jadi hafal rute commuter line, jadi tahu rasanya berdiri tanpa pegangan tangan di pulang jam kantor, tahu rasanya mandi keringat demi bisa selip sana selip sini. Bener-bener jadi roker Jakarta” Kusampaikan itu dengan tertawa puas.

“He em. Perpindahan itu hanya butuh waktu. Saat bertemu teman baru, saat memiliki komunitas dan forum-forum yang baru, otomatis hiburan akan datang dengan sendirinya. Tidak akan ada kata bosan dengan sebuah perpindahan.” Tetap dengan gaya tanpa ekspresi seperti biasanya dan ya, romantisme bukan melulu soal kata-kata kok, ada banyak jalan. Aku hanya perlu memahami dan menangkap bahwa setiap kata dan sikap adalah sebuah bentuk romantisme dengan cara yang berbeda. Seperti halnya bagaimana kita memandang akan banyak hal dalam kehidupan.

 

***

Ah, dulu aku salah. Prasangkaku telah mendahului kejutan-Mu. Kekhawatiranku telah menenggelamkan apa itu harapan. Pun saat itu aku lupa bahwa Abang hadir dengan kelegaan perijinannya. Hadir dengan dukungan yang besar. Aku lupa, bahwa aku memiliki passion beserta doa dari Abang. Bukankah itu sebenarnya cukup untuk mengantarkanku melihat Jakarta? Bukankah tugasku sebagai hamba hanyalah memanjatkan doa dan menguntai harapan melalui rayuan pada Tuhan?

Kini, aku melihat Jakarta dengan passion dan kelegaan perijininan dari Abang. Aku menemukan sebuah kepercayaan diri melalui berbagai kesempatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Terimakasih ya Allah untuk setiap doa dan keinginan yang terwujud dengan cara begitu indah. Bahwa doa dan ikhtiyar adalah sejoli yang tak pernah bisa dipisahkan, bisa terwujudkan melalui setiap tetes keringat kerja nyata. Tak kalah penting, tetaplah menanam prasangka terbaik pada Tuhan. “Antarkan aku melihat Jakarta melalui pintu yang paling spesial, ya Allah.” Pintaku saat itu.

“Neng, sudah sampai stasiun Sudirman.” Teguran si Abang kernet Kopaja membuyarkan lamunanku menikmati suasana menjelang sore Jakarta sepulang dari Blogger Hang Out bersama teman-teman BloggerCrony dan Jessica Iskandar.

 

Merdeka!

“Pakne, sudah tho jangan ngrokok lagi.”

“Bune, Bune, rokok lagi, rokok lagi. Apa nggak ada yang lain untuk nyambut kedatangan Bapak? Bapak ini capek, Bune.”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok saja. Lihat anak-anak kita. Udah harus siap-siap untuk biaya sekolah mereka. Belum lagi, kita nggak pernah ngajak anak-anak untuk makan di luar atau jalan-jalan. Bisa makan sehari 3x aja udah syukur.”

“Makan di luar atau jalan-jalan emang nggak butuh duit, Bune? Duit dari mana?”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok.”

Wanita yang kunikahi hampir empat belas tahun yang lalu itu selalu saja menyudutkanku soal aktivitas merokokku. Merokok tak sekedar menghirup dan mengeluarkan setiap hisapan tembakau yang terbakar. Namun, aku benar-benar telah seperti lelaki sejati nan gagah setiap kali aku menikmatinya, lebih-lebih ditemani dengan secangkir kopi sambil duduk di lincak menikmati malam dan melepas penat setelah seharian kerja serabutan. Saat merokok itulah aku pikiranku menjadi segar, lebih bersemangat, dan yang terpenting besok aku harus menyiapkan tenaga untuk kerja sampingan. Yah, hidup di ibukota memang keras dan harus kreatif untuk mendapatkan uang. Memulung sampah, jadi tukang parkir dan jadi tukang panggilan untuk memperbaiki atap rumah yang bocor tidaklah seberapa. Jadi, aku harus pintar ubet.

Aku menggeser lincak yang sebelumnya berada di teras rumah ke depan rumah, ke sebuah halaman yang jauh dari kata luas. Aku bisa memandang langit malam, menikmati kopi dan rokok sambil kipas-kipas. Kali ini, pandanganku bertambah satu. Rumahku. Iya rumah yang tak mewah. Rumah yang ketika hujan akan bocor di mana-mana meski sudah ditambal. Rumah di mana ada anak-anak yang sangat menerima keadaan orangtuanya. Rumah di mana anak-anakku adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Rumah di depan pandanganku ini bahkan jauh dari kata sederhana.

“Ternyata rumahku ini papan bagian depan sudah mulai rapuh karena waktu dan dimakan rayap.” Gumamku sambil terus menghisap rokok.

Aku terus memandangi rumahku, rumah yang kata orang-orang adalah surga. Tempat menyenangkan untuk semua anggota keluarga, surgaku seperti sudah tak layak huni. Kasihan istri dan anak-anakku, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya orang dengan pekerjaan serabutan. Aku tak berani bermimpi terlalu tinggi untuk punya surga yang lebih baik lagi.

“Hmm, begini saja aku bahagia. Bisa ngrokok, ngopi, dan duduk di lincak.” Bisikku dalam hati.

***

Hari ini setelah keliling untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Biasanya dari sektor satu aku akan melewati perumahan caping menuju perempatan bonjol. Namun, petang ini aku mengambil rute melewati perempatan sektor tiga, nanti tinggal ambil kanan. Rute ini jauh lebih ramai daripada ketika melewati komplek perumahan. Lepas pukul tujuh malam, memang sepertinya puncak keramaian. Orang-orang punya alasan untuk keluar rumah bahkan ada yang menuju ke rumah dari kantor masing-masing.

Lepas Isya, jalanan semakin ramai. Tak hanya jalanan yang dipadati kendaraan, tetapi warung-warung makan pun tak kalah ramai dikerubuti para pelanggan. Mulai dari warung lesehan, warteg, warung makan sederhana hingga warung makan modern seperti kafe-kafe, tempat nongkrong orang-orang muda. Terlihat nikmat ketika melintas di depan kafe, aroma kopinya benar-benar memikat selera. Bayanganku, betapa bahagianya menikmati rokok-rokokku dan secangkir kopi berkualitas.

“Kapan aku bisa seperti itu?” Batinku mulai cemburu.

Aku terus berjalan sambil menarik gerobakku, menikmati malam ini dengan rute pulang yang berbeda meski perutku sudah sangat lapar. Aku hampir tak tahu kenapa aku memilih jalan yang memutar. Seakan ada yang menarikku melewati jalan ini. Melewati banyak warung makan yang berjejer menawarkan menu-menu andalannya. Melihatnya saja aku sudah sangat cemburu, tapi aku tak bisa apa-apa. Meskipun aku tak bisa makan di sana dan sesampainya di rumah selalu dapat ceramah dari istriku, yang penting aku bisa beli rokok. Udah, itu saja aku bahagia.

Perjalananku sejenak terhenti di sebuah warung makan bercat kuning hitam karena ada sebuah mobil yang sibuk mencari posisi yang pas untuk parkir. Sedikit memakan waktu beberapa saat. Setelah berjuang, akhirnya mobil mewah itu mendapat posisi yang pas di tempat parkir tanpa mengganggu jalan kendaraan yang sedang melintas. Aku terus mengamatinya. Setelah mobil berhenti, orang-orang yang di dalam mobil mewah itu keluar satu per satu. Pertama, aku melihat dua anak perempuan yang lincah keluar dari pintu belakang disusul dengan seorang anak laki-laki yang sudah pasti itu kakak dari anak perempuan yang lincah. Selanjutanya, ada seorang wanita yang keluar dari pintu depan sebelah kiri, memakai baju panjang berjilbab yang dipanggil mama oleh salah seorang dari anak perempuan yang lincah itu. Terakhir, seorang laki-laki bersih keluar dari pintu depan sebelah kanan, yang aku dengar dipanggil papa oleh seorang anak laki-laki. Mereka memasuki rumah makan yang ada di depanku “WAROENG STEAK AND SHAKE”, kuamati mereka memasukinya dengan wajah bahagia dari anak-anaknya.

“Mas, Mas, warung makan ini tempat makan untuk keluarga ya?”

“Nggak hanya keluarga, Pak. Anak muda juga ada yang makan di sini. Harga terjangkau dan ramah di kantong, dijamin halal dan enak.” Sambil mengangkat jempol tangannya, si mas tukang parkir menjawab dengan ramah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti sedang perang batin. Semua ingatan tumpah setelah sebelumnya berdesak-desakan di otakku. Bagaimana tidak? Aku teringat kata-kata istriku bahwa kami belum sekalipun mengajak anak-anak jalan-jalan atau makan di luar. Dia menyuruhku berhenti merokok agar jatah uang rokok bisa ditabung. Tapi, tapi, aku mencintai rokokku, bagaimana mungkin aku berhenti merokok? Jika berhenti merokok, aku akan sakit, lemas dan lidahku pahit. Aku tidak akan bersemangat lagi. Aku tidak akan tahu rasanya menikmati bahagia yang sederhana.

“Itu namanya egois, Pak. Anak-anak juga berhak bahagia.” Tiba-tiba suara nyaring istriku tempo hari terngiang-ngiang di telingaku.

“Ngajak makan di luar anak-anak juga gak harus tiap hari, Pak. Ambil kesempatan misal anak-anak habis terima rapor, mereka kan berprestasi, bikin kita bahagia. Udah jadi hak mereka kalau kita ngajak mereka makan.” Kata-kata istriku semakin membombardirku, semakin mengacak-acak batinku. Mengacaukan pikiranku. Memang benar kata istriku, tapi aku masih tidak bisa melepaskan rokokku.

Pikiranku semakin kacau, batinku semakin memberontak antara keinginan pribadiku dan keinginan membahagiakan anak-anak serta istriku. Sambil menarik gerobak yang setia menemaniku, di setiap sisa langkah menuju rumah, aku mulai menghitung pengeluaranku untuk membeli rokok. Aku mengalikannya, menjumlahkannya hingga aku dapati kenyataan bahwa ternyata pengeluaran untuk membeli rokok ternyata sangat besar. Namun, apa dayaku, rokok seakan sudah jadi kebutuhanku.

“Apa Bapak nggak sadar kalau bertahun-tahun Bapak itu hanya sedang mbakar duit? Udah ngrasa kaya?” Lagi-lagi kata-kata istriku menyerangku secara bertubi-tubi. Saat-saat seperti itu, aku teringat betapa istriku yang sabar berubah menjadi sangat garang.

Aku semakin terdesak dengan pikiran, perasaan, dan logikaku sendiri. Meskipun istriku berulang kali mengingatkan bahwa merokok hanya akan merenggut kesehatanku tapi selama ini aku merasa baik-baik saja. Pun tetangga kami yang lebih tua yang sudah merokok lebih lama dariku masih terlihat bugar hingga sekarang. Jadi aku tak termakan ancaman-ancaman seperti itu. Aku hanya ingin menikmati hidup lewat sebatang rokok.

***

“Bapak, Bapak, kenapa Bapak melamun?”

Aku tersentak saat anakku sedikit berteriak kegirangan memegang tanganku. Aku mengingat kembali dua bulan lalu, saat aku berada di depan “WAROENG STEAK AND SHAKE” sambil memandangi ketika sekeluarga masuk ke dalamnya. Betapa riang polah langkah anak-anaknya. Terlihat hangat dan bahagia, jauh dari keegoisan semata. Oh, ternyata begini rasanya, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyum bahagia anak-anak yang tak biasa dan istriku yang semakin berkurang marah-marahnya.

Aku tahu, aku sampai bisa duduk di “WAROENG STEAK AND SHAKE” bersama keluargaku memang tidak mudah aku memperjuangkannya. Aku tak sekedar berjuang untuk berhenti merokok, tapi aku berjuang berdamai untuk tidak egois demi kebahagiaanku sendiri. Ya, karena kebahagian dalam sebuah keluarga itu adalah sama-sama merasa. Aku menyadari betapa benar kata-kata istriku bahwa aku seperti membakar uangku selama ini. Buktinya, selama dua bulan aku berjuang berhenti merokok, aku bisa mengajak istri dan anak-anakku makan enak di luar. Aku seakan baru menyadari bahwa rokok tak hanya mengancam kesehatan badan, tapi juga mengancam kesehatan kantong perekonomian keluarga. Semoga tak terlambat aku menyadarinya.

Meninggalkan rokok bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Ternyata aku hanya butuh tekad bulat. Ya, man jadda wa jadda. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Ada kemudahan yang Allah berikan. Apalagi ini aku lakukan untuk keluargaku. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai teladan bagi anak-anakku maka aku akan selalu berharap keinginan dan tekadku ini semakin kuat. Tidak akan tergoda lagi pada rokok.

“Bapak ingin makan apa? Kami udah pilih makanan yang ingin kami makan.” Kata si sulung dengan polah cerianya.

“Iya, Bapak pilih sekarang.”

“Bapak, terimakasih atas usaha Bapak untuk merdeka dari rokok. Ibu sayang Bapak.” Bisik istriku di antara keriangan anak-anak.

Ya, aku merdeka. Badanku merdeka. Kantongku pun merdeka. Merdeka!

Rahasia Dongeng Kopi

Aku tak pernah lagi mengharapkan hal-hal yang megah dalam hidupku. Aku hanya menginginkan sebuah senyum sumringah tatkala aku menyatakan cinta lalu aku diterima, berlanjut pada sebuah langkah ringan dan kau digenggaman. Berteriak pada dunia bahwa aku cukup punya nyali dan mampu menaklukkanmu, setidaknya sekali saja atau mungkin kau dengan senang hati berkali-kali jatuh hati padaku.

“Kau, mau tidur lagi? Bahkan setelah minum kopi?”

“Lalu aku bisa apa selain tidur setelah aku berkali-kali dapat penolakan?”

“Apa dunia akan berakhir hanya karena penolakan?” Kalimat itu selalu saja ia ucapkan dengan posisi dan gaya yang sama. Duduk di atas kursi kesayangannya dengan kaki kiri di atas kaki kanannya sambal menikmati segelas susu dan ekspresi yang sangat menyebalkan.

“Oh, Ka, kamu sebaiknya lari aja. Lari dari kenyataan.” Teman baikku itu selalu mengaku bahwa gurauannya semata-mata untuk menghiburku yang telah tak terhitung lagi mendapat penolakan. Saat ia tertawa dengan penuh kepuasan, aku hanya bisa berbalik badan sambil melambaikan tangan kananku dan bersegera meninggalkannya.

Tidur setelah mendapat penolakan bagiku adalah ide yang bagus karena sejatinya tidur adalah sebuah kesempatan untuk melepas penat dan mengabaikan segala kenyataan dengan menggantikannya dengan khayalan. Membangun khayalan sepuas-puasnya meskipun setelh terbangun akan teringat kembali dan menerima kenyataan bahwa aku sudah meninggalkan dunia khayalan. Tak apa, setidaknya aku sudah cukup lega untuk melepas kekecewaan beberapa saat yang lalu.

***

“Ka, kau hanya akan menghabiskn malam minggumu hanya dengan duduk di kursi, menghadapi komputer dan kalender yang penuh dengan coretan ini?”

“Iya, kenapa?” Sambil melanjutkan corat-coret di kalender dan sticky note.

“Dengarkan aku! Ganti piyamamu ini dengan baju yang rapi dan paling nyaman. Lalu ganti sandal boneka Winnie The Pooh yang udah buluk itu dengan sepatu kets atau wedges-mu.” Dia melempar sandal kesayanganku hingga depan pintu kamarku. Dulu aku selalu berteriak jika Ruf melakukannya, tapi sekarang aku benar-benar sudah kebal.

“Pergilah keluar! Jalan-jalan sana!”

“Kenapa aku harus jalan-jalan? Aku sedang semangat untuk di rumah, menulis dan menikmati kopiku. Kau mengkhawatirkanku? Dengan penuh curiga aku menatapnya yang masih saja berdiri di sampingku.

“Iya, aku mengkhawatirkanmu.”

“Waaaaaaah, habis makan apa tadi? Aku terharu, Ruf.”

“Aku mengkhawatirkanmu, mengkhawatirkan kesehatan jiwamu.” Ruf mengucapkannya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan dengan tawa yang memperlihatkan deretan giginya rapi.

Tawanya terhenti ketika ponselku berbunyi sebagai tanda bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Pesan yang membuatku berbinar-binar untuk sesaat tapi membuat nyala api semangat padam sesaat setelah pesan aku buka dan selesai kubaca.

“Aku ditolak lagi.” Kuletakkan ponsel di atas meja dengan kasar dan kepala yang mendarat di atas meja yang cukup keras. “Kenapa aku ditolak lagi?”

Tak perlu waktu lama untuk berganti pakaian dan sandal seperti yang disarankan Ruf untukku. Aku seharusnya memang memiliki pelampiasan selain tidur setelah ditolak. Malam terlalu terang, purnama di langit terlalu sempurna untuk dilewatkan dan romantisme Jogja yang tiada pernah berhenti untuk dilewatkan dengan sembunyi di dunia mimpi dan khayalan.

Aku bagai butiran debu dalam lagu yang tak tahu arah tujuanku malam minggu ini. Aku hanya berkeliling dengan motor kesayangan menelusuri Selokan Mataram ke arah Outlet Biru yang tiada pernah sepi. Hingga tiba di perempatan, aku memutuskan untuk belok kiri dan terus kunikmati jalan yang kulewati. Membuang pandangan di luar seperti ini memang lebih sehat dibanding harus menangis di pojokan.

Di ujung jalan terlihat ringroad utara yang hamper menyapa yang itu artinya aku harus menikirkan rute berikutnya aku harus ke mana tapi sebelum purna jalan yang kulewati, ada sebuah papan nama dengan sebuah bangunan serta suasana yang unik. Seperti memiliki daya magis yang mampu membuatku memutuskan untuk berhenti dan masuk ke dalam.

DSC_0002_132
Dokumentasi Pribadi

Aku menarik sebuah kursi kayu yang tinggi di depan meja panjang seperti bar sambil mengedarkan pandangan ke depan dan sekelilingku. Di depanku banyak berjajar toples kopi dari berbagai jenis yang bisa ditebak dari mana semua biji kopi itu berasal.

“Selamat malam, Kak. Ingin pesan apa?” sapa seorang mas-mas yang masih muda dengan senyum yang ramah.

“Espresso dengan satu jenis kopi aja.”

Aku menikmati ritme suara mesin di depanku yang sedang dimainkan oleh mas-mas yang tadi menyapaku. Syahdu seperti rintik hujan dan akan menjadi paduan yang sempurna dengan aroma kopi diseduhan pertama. Romantis sekali bukan? Ditambah lagi, jika usahaku selama ini diterima meskipun hanya sekali saja.

Espresso pesananku tersaji di hadapan dengan sempurna. Cangkir yang tak sendiri, ia ditemani dengan sebuah biscuit manis dan gula. “Ah, malam ini hanya aku yang benar-benar sendiri, baru aja ditolak lagi pula.”

“Udah biasa ngopi ya Kak?”

“Iya.” Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sambal terus melempar pandangan kosong pada secangkir espresso yang terus saja kuaduk lalu sedikit demi sedikit aku nikmati dalam sruputan kecil.

“Kenapa memilih espresso untuk mala mini, Kak?”

“Entahlah, aku hanya menyempurnakan pahitnya hari ini setelah ditolak.” Aku hanya bergumam dan tak peduli apakah mas-mas yang ada di seberang meja itu benar-benar mendengarnya. Aku melihat mas-mas yang membuatkan secangkir espresso untukku menyapa orang-orang yang keluar dan masuk tempat ini, tetap dengan semangat dan senyum sumringah. Mas-mas yang akhirnya aku sadari setelah kesadaranku benar-benar pulih bahwa laki-laki yang ada di depanku ini adalah seorang barista dari kedai kopi bernama Dongeng Kopi.

***

Aku seperti memiliki rindu dan candu pada Dongeng Kopi. Di kesempatan ini aku berniat ke mengunjunginya dengan suasana hati yang berbeda, dengan suasana yang hati menerjemahkannya sebagai rasa bahagia. Rasa bahagia bahwa aku telah mengirimkan kesungguhan cintaku dan rasa lega bahwa aku masih produktif untuk bisa terus menciptakan cinta dalam karya. Ya, meskipun aku tahu kabar buruk lagi yang mungkin akan menghampiriku. “Ah, hadapi saja nanti” gumamku sambal bersiap-siap berangkat ke Dongeng Kopi.

Sebelum melewati pintu, di tempat parkir ada sebuah pesan untuk semua pelanggan yang memarkir motornya “Motor jangan dikunci stang, kunci saja hatimua ^^.” Betapa sambutannya sangatlah hangat, ramah, dan tak kaku.

Aku menarik kursi kayu tinggi di depan meja panjang seperti bar tepat di pintu masuk. Posisi ini menjadi favorit karena aku tak hanya menikmati setiap seduhan kopi tetapi juga menikmati sebuah tangan yang cakap meracik dan meramu berbagai olahan kopi yang siap dinikmati oleh setiap orang yang datang memesannya. Aku juga bisa menikmati berbagai macam kopi dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.

“Semua kopi di dalam toples ini hanya sebagai display atau juga dijual?” tanyaku.

“Dua-duanya, Kak. Kali ini, mau pesan espresso lagi?” tetap dengan senyum ramah dan penuh semangat.

DSC_0001_190
Dokumentasi Pribadi

“Nggak, aku mau hot cappuccino. Apa bisa pakai kopi Kawah Ijen?” sambal menunjuk pada toples kopi bertuliskan “Kawah Ijen.”

“Bisa, Kak. Mohon ditunggu ya.”

“Hmmm, kenapa memilih jadi barista?” Pertanyaan yang tiba-tiba saja meluncur tapi aku pun mengakui bahwa aku selalu penasaran dengan hal-hal yang mungkin bagi sebagian besar orang adalah sebuah basa-basi belaka.

Passion, Kak. Jadi barista adalah passion. Bukan lagi sekedar hobi. Kalau hobi kan masih aka nada rasa bosan yang hinggap tapi kalua sudah passion nggak akan ada kata bosan karena dorongan terbesar dari sebuah passion adalah rasa cinta.”

Sang barista pun melanjutkan, “Dengan passion kita akan bisa meniupkan ruh dalam karya yang kita hasilkan. Bukan sebuah karya yang tanpa nyawa. Menjadi barista, saya belajar bagaimana bertahan dari putus asa. Belajar dari biji kopi yang sebelum ia menjadi biji, pohon kopi pun harus tahan tempa dari hama dan cuaca hingga menghasilkan biji kopi terbaik. Proses pengolahan kopi hingga proses menghidangkannya pun harus tahan tempa dari putus asa, menikmati proses belajar dengan tak sedikit kegagalan. Kenapa memilih cappuccino?”

“Cappuccino menggambarkan keseimbangan hidup. Terdiri atas sepertiga espresso, sepertiga susu dan sepertiga foam. Iya kan?

“Benar sekali.”

“Hanya ingin menikmati ritme hidup. Berusaha, membuktikan, lalu penolakan sebagai hasilnya. Sedih tapi akan tak sehat jika terus menerus menangis di pojokan atau tidur sepanjang hari demi sebuah khayalan yang indah. Ada kalanya memang harus berusaha menghadirkan bahagia di saat-saat kecewa karena ditolak.”

“Kakak ini benar-benar berani ya? Berani mengungkapkannya cinta. Biasanya kan cowok duluan.” Sambal dihiasi tertawa kecil yang renyah.

Ponselku berbunyi lagi. Aku seperti sudah kehilangan rasa takut kalau ini adalah kabar yang tak diinginkan. Benar saja. “Aku ditolak lagi, maksudku naskahku” sambil kusodorkan ponselku pada barista ramah yang berdiri di depanku. “Pahit sekali bukan?”

“Kakak hanya perlu menikmatinya sepertinya Kakak menikmati kopi yang ada di genggaman sekarang. Segala sesuatu ada tantangannya, Kak. Hanya perlu memahami bagaimana cara menikmatinya, ya seperti minum kopi. Bisa dinikmati dengan rasa pahit, dengan segigit biskuit atau menambahkan gula. Perlu sedikit memahami tantangan, mengubah sudut pandang, dan keberanian.”

“Mungkin aku melahirkan setiap kata itu belum ada ruh dan rasa cinta yang sebenarnya. Hanya sebuah rasa ingin menarik perhatian editor yang aku sukai bahwa aku bisa menulis. Mungkin menulis hanyalah hobi dan aku belum mendapatinya sebagai passion. Sebagai kebutuhan yang ketika aku tak melakukannya, aku merasa seperti sangat hampa. Rahasia dongeng kopi yang indah.” Ucapku pada barista yang baik hati yang berbagi rahasia dongeng pada kopi. Rasanya kali ini terasa lebih ringan dan bahagia telah menemukan sebuah pemantik untuk mengubah secuil niat dan definisi tentang rasa.

“Semangat, Kak. Besok ketika Kakak menikmati kopi pesanan Kakak. Kakak tak lagi dapat penolakan. Naskahnya.” Tetap dengan senyum penuh semangat dan optimis.

Argo Dwipangga-Bintaro-Ngawi, 21 Agustus 2016

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

13879231_1215683565130072_788867301975035194_n

Entschuldigung

“Ingatkah kau, drama di bulan ini?”

Sebenarnya tak ada maksud untuk membuka luka lama. Sebenarnya aku pun tak ingin mengingatnya tapi aku harus tunduk pada permainan perasaan dan pikiran yang kemudian memainkan slide show dua tahun yang lalu. Bulan ini, Mei—entah hanya aku yang ingat atau kau dan mereka pun juga mengingatnya—genap dua tahun (tepatnya tanggal berapa aku lupa, yang kuingat itu terjadi di bulan Mei) perdamaian kita tanpa tahu apa masalahnya secara jelas. Kekanak-kanakkankah? Keegoisankah? Kesalahpahamankah? Entahlah. . . Kutahu kita saling menyakiti atau hanya aku yang menyiksa diri. Kau selalu sembunyi di balik senar gitar dan temaram malam. Aku tak tahu apakah kau merasa aku melukaimu hingga kau tak merasa tersakiti karena aku telah sering menanam luka itu dalam hatimu. Ya, kau telah terbiasa. Orang bilang padaku, kau bisa merajut senyum untuk mereka tapi mahalkah senyum itu untukku? Orang selalu memujimu tapi aku mengenalmu dengan versi yang kumau. Itulah masalahku.

***

Mei 2006

Malam memuram. Kita terdiam. Diamku, diammu, diam kita telah menyakiti udara membuat alam enggan bersuara. Kuyakin malam ini kau sedang bercumbu dengan sepotong kue kuning di angkasa sambil kau susutkan airmatamu. Aku tak pernah tahu bagaimana sakitmu karena kau tak pernah brontak padaku. Diammu adalah sangkar bagi peraasaanku karena aku tak pernah tahu apa yang kau rasa. Aku hanya bisa menebaknya. Inginku dalam diammu kudengar banyak suara karena kuyakin diammu adalah kata-kata. Namun lagi-lagi aku tak bisa. Malam ini aku tak melihatmu tapi tangisanmu yang tak terlihat telah merobek waktuku dan menghampiriku dengan caranya sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kata terlahir dari huruf yang berpasangan. Kita juga sama-sama tahu seindah apa pun kata terukir ia tak kan bermakna jika tanpa jeda. Kita pun sama-sama mengerti akan hal itu dan kita pun menyadari jeda di antara kita kian melebar. Kuputuskan datang menjengukmu ke tempat yang kau agung-agungkan sebagai singgasanamu. Kedatanganku ke singgasanamu kali ini bukan tanpa misi. Aku ingin kita sepakat menghapus beberapa jeda yang kita punya lalu menciptakan spasi secukupnya agar kita bisa bergerak untuk saling memahami dan menghargai. Itulah misiku.

Dalam raga kita ada hati, dalam hati masih ada satu ruang tak bernama. Ruang itu kecil, isinya sangat halus, lebih halus daripada serat sutera. Berkata dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh nurani. Harapanku, apa yang ada dalam genggamanku saat ini adalah kunci untuk membuka ruang tak bernama itu agar kutemukan serbuk-serbuk pengampunan darimu. Kunci itu adalah misiku yang kuat yang bisa menguatkanku hingga aku ada di hadapanmu. Seperti sekarang ini. Kita tak sendiri. Kita berdelapan. Ada enam belas bola mata yang menyaksikan termasuk mata kita yang sibuk mencari jawaban, sibuk mengumpulkan daya untuk sebuah pengakuan atas kejujuran. Kita tertunduk. Sibuk.

“Mulailah agar semua ini cepat berakhir”, batinku. Semua terdiam seolah biarlah kita bicara dengan hati. Bicaralah maka akan kita dengar tanpa kita perlu alat, tak perlu hadir hanya untuk bercakap.

“Ayolah…!!!”, seruku tapi tidak ada gelombang untuk menyuarakannya. Hening.

Aku masih diam sambil menunggu seseorang yang telah berjanji menemaniku untuk perdamaian ini. Dia teman seperjuangan dalam menyelesaikan kontrak kerja yang telah mengikat kami dalam satu tim.

“Maaf…maaf…aku terlambat”, teriaknya. Kutatap dia dan dalam tatapanku, kuingin dia melihat kelegaan dalam diriku.

“Akhirnya kau datang, kawan.”, seruku tapi masih tetap dalam kebisuanku.

“Kedatanganku kemari …”, itulah awal kata yang meluncur dari bibirku.

“Jangan katakan apa pun!”, perintahnya. “Sebelum kau terima tisu ini, aku tak ingin airmatamu keluar sia-sia. Aku terlambat karena membeli ini.”, lanjutnya dengan gaya slengekannya. Itu sangat menghiburku di saat seperti ini.

“Terimakasih…” Aku jawab dengan sebuah anggukan.

“Di saat kritis seperti ini kau masih sempat bercanda?”, pikirku. Kubalas slengekannya, “Apa kau cuci dulu tisu ini sebelum kau memberikannya padaku? Baunya seperti deterjen. Bau Rinso.” Dia tertawa dan aku semakin lega akan kehadirannya. “Terimakasih kawan, ini sangat harum.”

Ku mulai merajut kata. Semua diam. Semua menunggu mutiara yang akan terlahir dalam perdamaian ini. Akhirnya selesai juga rajutan itu. Aku memulai negoisasi itu.

“Kedatanganku kali ini, yang pertama untuk menyambung persaudaraan di antara kita. Kita tahu apa yang terjadi tanpa perlu ditutupi lagi. Aku ingin meminta kerelaanmu untuk memaafkanku atas semua sikap dan keegoisanku. Jika boleh, ijinkan aku memintamu agar kau tak pergi dari kontrak yang telah kita sepakati bersama. Kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Maukah kau menerima permintaanku?”

“Tak pantas kau meminta itu padaku. Aku tak pantas menerimanya. Justru aku yang harus meminta maaf atas semua ini. Aku hanyalah sehelai benang yang cacat yang hadir dalam selembar kain yang kau sulam sangat sempurna. Maka buanglah benang cacat itu agar kainmu tetap indah. Aku rela jika…”

“Dalam sulamanku tak ada benang yang cacat karena aku telah memilihnya dengan teliti. Aku mohon, kembalilah bekerja dan sempurnakan keberadaan kami. Cobalah…!!!”

Kulihat kau tak menolak dan kau pun juga tak mengiyakannya. Biarlah, kali ini kubiarkan kau berfikir. Kubiarkan kau berdiskusi dengan pikiran dan nuranimu sendiri tanpa perlu aku menerobos masuk ke dalam untuk mengetahui proses yang sedang kau jalani. Berakhir sudah negoisasi perdamaian ini walau terkesan menggantung. Masih saja, aku membiarkan nuraniku berharap padamu agar pintu untuk memasuki ruang itu terbuka lebar. Agar spasi yang telah hadir terhapus hingga tercipta jeda yang wajar. Bukalah dirimu karena membuka diri berbeda dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Tak lelah aku berharap agar aku menjadi tamu dan duduk di teras itu sebagai sahabatmu. Salah satu sahabat dari sekian banyak sahabat yang kau miliki. Sulit sekali mengatakannya. Akhirnya terkatakan juga, “Entschuldigung”.

***

Lamunanku pun selesai bersama bulir-bulir peluh langit yang jatuh karena lelah berarak . Teater singkat yang menjebak pada masa lalu itu telah menutup layarnya tanda drama singkat itu usai. Andai kutahu kemana peluh-peluh langit itu bermuara maka akan kutitipkan pesan singkat itu untukmu. Andai pesan itu sampai maka akan kau dapati aku berucap, “Entschuldigung…Entschuldigung…Entschuldigung…!!!”

Teater yang kuciptakan terasa amat sempurna karena sayup-sayup terdengar sebuah lagu merdu dan kubiarkan lagu itu melintas hingga tertangkap oleh pendengaranku.

Pertengkaran Kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu

Membuat jarak antara kita

Resah tiada menentu

Hilang canda tawamu

Tak ingin aku begini

Tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang telah terlewat

Buat batinku menangis

Mungkin karena egoku

Mungkin karena egomu

Maaf aku buat begini

Maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita

Tak kan mau berpisah karena ini

Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah

Karena aku ingin tetap sahabatmu

By: Edcoustic

Dengarkanlah…Rasakanlah…!!! Kisah ini teramat indah untuk disia-siakan…

Kota Berhati Nyaman, Mei 2009

 

“Terimakasih telah mengajariku berkisah”

“Senyum dan airmata akan terasa indah bila tepat pada waktunya”

Note: “Entschuldigung” di ambil dari bahasa jerman yang berarti “Maafkan aku.”

Abang, Romantis Itu Apa?

Perempuan muda itu nampak sedikit lebih sibuk di akhir pekan ini yang kata orang-orang adalah long weekend. Ya, perempuan muda itu akan sibuk memilih dan memilah baju yang akan ia kenakan untuk menyambut seorang laki-laki yang hampir enam bulan ini ia panggil Abang. Tak hanya itu, perempuan muda itu akan tambah sibuk memakai topeng seperti tepung di wajahnya selama beberapa menit. Berharap penyambutan yang sempurna.

Tiba di hari yang di nanti maka perempuan muda itu tak mudah untuk move on dari HP ungu mungilnya. Berkali-kali mengirim pesan pada Abang, untuk bertanya jam berapa berangkat, posisi di mana, bla..bla..bla… sampai pertanyaan sampai Jogja jam berapa.

“Aku sampai Jogja jam 3 pagi.” begitu pesan Abang yang mampir di HP-nya.

Pesan itu memiliki kekuatan ajaib yang membuat perempuan muda itu kian sibuk dan bungah. Membayangkan senyum Abang di awal harinya. Seakan semua penjuru kota mendengar teriakannya “I am coming Abaaaaaaaaang.” Pukul menunjukkan 05.30, dia bergegas menuju stasiun kota Jogja. Menunggu di depan pintu utara sambil sibuk memainkan HP-nya.
“Abang, aku udah di stasiun. Abang di mana?” sambil tengok kanan kiri mencari laki-laki yang menjadi life partner-nya.

“Masih ngopi di cafe shop, udah terlanjur pesen.”

Abaaaaaaaaaaang -_-

***

Mungkin, bagi sebagian besar orang yang telah menikah kemudian menjalani commuter marriage bukanlah hal yang mudah termasuk untukku yang menjalaninya demi menjemput takdir yang lain. Abang menitipkan mimpi-mimpi yang besar padaku dan mimpiku selama ini adalah mimpi Abang juga. Banyak yang tak percaya. Banyak juga yang tak menyangka bagaimana bisa kami memutuskan menjalaninya. Kenapa aku tak langsung ikut Abang, mendampinginya, menjalankan tugasku sebagai full wife, lalu bersiap menyambut kakak kecil, lalu jadi ibu seperti orang-orang? Kata Abang, yang namanya investasi pasti susah di awal, begitu juga dengan investasi ilmu. Itu kata-kata ajaib yang membuatku kuat.

Aku selalu iri melihat orang bergegas malam mingguan dengan pacar-pacarnya apa lagi di kos tiap malam minggu selalu sepi. Jika sudah bosan baca buku, corat-coret kertas, nempel pernak-pernik di dinding, bosan belajar menyulam maka sms dan berharap ngobrol dengan Abang adalah hal yang mengasyikkan.

“Abang ngapain?”

1 menit berlalu. 3 menit berlalu. 5 menit berlalu, dan…

“Abaaaaaaaaaaaaaaang….”

“Nge-game”

Weekend selanjutnya, kali spesial karena Abang lebih dulu mengirim pesan.

“Udah baca The Jacatra Secret?”

“Belum” jawabku. “Ceritanya gimana Bang?”

“Besok baca sendiri”

“Abang, aku tanya gitu biar ada obrolan. Kalau kaya gini, habislah sudah bahan obrolan.”

Weekend selanjutnya,

“Abang kapan terakhir menelponku?”

“Lupa”

“Mbak kosku aja, tiap hari ketemu masih sempat ditelpon pacarnya tuh. Masa kita udah nikah, udah sah pacaran, Abang nggak nelpon-nelpon sih…”

“Lebay”

“Besok telpon aku ya…” kirim pesan berharap dengan sangat.

Keesokan paginya, pukul 5 berlalu, pukul 6 berlalu, pukul 7 berlalu, pukul 8 berlalu, pukul 9 berlalu.

“Berharap HP-ku bunyi, akhirnya harus move on dr HP. Abang jaga hati, jaga diri, dan jaga kesehatan ya… “

***

Suatu malam saat berkumpul dengan penghuni kos, ada pesan masuk di HP Mbak kos dengan pesan panggilan sayang dari pacarnya. Aku pun ke kamar, mengambil HP dan mengirim pesan.

“Abang, Mbak kosku manggil pake sayang-sayang sama pacarnya. Kita gitu ya…”

“:-p”

“Nggak romantis”

Hari-hari berikutnya dengan obrolan via WA ataupun sms,

“Abang, kalau bilang apa-apa dikasih buntut “Yang” atau “Dek” gt loh. Biar romantis.”

Tanpa respon dan pesan terkirim begitu saja hingga kami menjalani commuter marriage hampir 6 bulan.

***

“Abaaaaaang” perempuan muda itu sedikit berteriak sambil melambaikan tangan. Berharap Abang melakukan hal yang serupa tapi yang terjadi justru Abang tetap diam dan bersikap cool menghampirinya.

“Gandeng tanganku” pintanya

Lalu keduanya bergegas menuju tempat makan yang menjual Gudeg dan menikmatinya di depan rektorat kampus biru, di sebuah kursi yang menghadap hutan mini yang dihiasi pohon-pohon tinggi berhias sarang burung di setiap ujung dahannya. Menikmati sarapan di antara hangat matahari yang mulai meninggi. Di sela-sela kunyahannya, perempuan muda itu bertanya,

“Abang, romantis itu apa?”

“Romantis adalah ketidakromantisan itu sendiri.”

Sambil menguyah, perempuan muda itu terus berfikir dan mengingat lalu tersenyum, “Iya ya, tidak romantis adalah romantis itu sendiri. Abang banget.” 😀

Entschuldigung

“Ingatkah kau, drama di bulan ini?”
Sebenarnya tak ada maksud untuk membuka luka lama. Sebenarnya aku pun tak ingin mengingatnya tapi aku harus tunduk pada permainan perasaan dan pikiran yang kemudian memainkan slide show dua tahun yang lalu. Bulan ini, Mei–entah hanya aku yang ingat atau kau dan mereka pun juga mengingatnya– genap dua tahun (tepatnya tanggal berapa, aku lupa. Yang kuingat itu terjadi di bulan Mei) perdamaian kita tanpa tahu apa masalahnya secara jelas. Kekanak-kanakkankah? Keegoisankah? Kesalahpahamankah? Entahlah. . . Kutahu kita saling menyakiti atau hanya aku yang menyiksa diri. Kau selalu sembunyi di balik senar gitar dan temaram malam. Aku tak tahu, apakah kau merasa aku melukaimu hingga kau tak merasa tersakiti karena aku telah sering menanam luka itu dalam hatimu. Ya, kau telah terbiasa. Orang bilang padaku, kau bisa merajut senyum untuk mereka tapi mahalkah senyum itu untukku? Orang selalu memujimu tapi aku mengenalmu dengan versi yang kumau. Itulah masalahku.


***

Mei 2007

Malam memuram. Kita terdiam. Diamku, diammu, diam kita telah melukai udara membuat alam enggan bersuara. Aku yakin malam ini kau sedang bercumbu dengan sepotong kue kuning di angkasa sambil kau susutkan airmatamu. Aku tak pernah tahu bagaimana sakitmu karena kau tak pernah brontak padaku. Diammu adalah sangkar bagi perasaanku karena aku tak pernah tahu apa yang kau rasa. Aku hanya bisa menebaknya. Inginku dalam diammu kudengar banyak suara karena aku yakin diammu adalah kata-kata. Namun, lagi-lagi aku tak bisa. Malam ini, aku tak melihatmu tapi tangisanmu yang tak terlihat telah merobek waktuku dan menghampiriku dengan caranya sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kata terlahir dari huruf yang berpasangan. Kita juga sama-sama tahu seindah apa pun kata terukir ia tak kan bermakna jika tanpa jeda. Kita pun sama-sama mengerti akan hal itu dan kita pun menyadari jeda di antara kita kian melebar. Kuputuskan datang menjengukmu ke tempat yang kau agung-agungkan sebagai singgasanamu. Kedatanganku ke singgasanamu kali ini bukan tanpa misi. Aku ingin kita sepakat menghapus beberapa jengkal jeda yang kita punya lalu kita ciptakan spasi secukupnya agar kita bisa bergerak untuk saling mengerti dan menghargai. Itulah misiku.

Dalam raga kita ada hati, dalam hati masih ada satu ruang tak bernama. Ruang itu kecil, isinya sangat halus, lebih halus daripada serat sutera. Berkata dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh nurani. Harapanku, apa yang ada dalam genggamanku saat ini adalah kunci untuk membuka ruang tak bernama itu agar kutemukan serbuk-serbuk pengampunan darimu. Kunci itu adalah misiku yang kuat yang bisa menguatkanku hingga aku ada di hadapanmu. Seperti sekarang ini. Kita tak sendiri. Kita berdelapan. Ada enam belas bola mata yang menyaksikan termasuk mata kita yang sibuk mencari jawaban, sibuk mengumpulkan daya untuk sebuah pengakuan atas nama kejujuran. Kita tertunduk. Sibuk. Diam tanpa kata.

“Mulailah agar semua ini cepat berakhir”, batinku. Semua terdiam seolah biarlah kita bicara dengan hati. Bicaralah maka akan kita dengar tanpa kita perlu alat, tak perlu hadir hanya untuk bercakap.
“Ayolah…!!!”, seruku tapi tidak ada gelombang untuk menyuarakan. Hening. Aku masih diam sambil menunggu seseorang yang telah berjanji menemaniku untuk perdamaian ini. Dia teman seperjuangan dalam menyelesaikan kontrak kerja yang telah mengikat kami dalam satu tim.
“Maaf. . . Maaf. . . Aku terlambat”, teriaknya. Kutatap dia dan dalam tatapanku kuingin dia melihat kelegaan dalam diriku.
“Akhirnya kau datang kawan”, seruku tapi masih tetap dalam kebisuanku.
“Kedatanganku kemari. . .” Itulah awal kata yang meluncur dari bibirku.
” Jangan katakan apa pun!”, perintahnya. “Sebelum kau terima tisu ini. Aku tak ingin melihat airmatamu keluar sia-sia. Aku terlambat karena membeli ini.” lanjutnya dengan gaya slengekkannya. Itu sangat menghiburku di saat seperti ini.
“Terimakasih. . .” Aku jawab dengan sebuah anggukan.
“Di saat kritis seperti ini kau masih sempat bercanda?”, pikirku. Kubalas slengekkannya, “Apa kau cuci dulu tisu ini sebelum kau berikan padaku? Baunya seperti deterjen. Bau Rinso.” Dia tertawa dan aku semakin lega akan kehadirannya. Suasana mulai mencair. “Terimakasih kawan, ini sangat harum.”

Kumulai merajut kata. Semua diam. Semua masih menunggu mutiara yang akan terlahir dalam perdamaian ini. Tak perlu menyita banyak waktu. Akhirnya selesai juga rajutan kata itu. Aku memulai negoisasi itu.
“Kedatanganku kali ini yang pertama untuk menyambung persaudaraan di antara kita. Kita tahu apa yang terjadi tanpa perlu ditutupi lagi. Aku ingin meminta kerelaanmu untuk memaafkanku atas semua sikap dan keegoisanku. Jika boleh, ijinkan aku memintamu agar kau tak pergi dari kontrak yang telah kita sepakati bersama. Kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Maukah kau menerima permintaanku?”

“Tak pantas rasanya jika kau meminta itu padaku. Aku tak pantas menerimanya. Justru aku yang harus meminta maaf atas semua ini. Aku hanyalah sehelai benang cacat yang hadir dalam selembar kain yang kau sulam sangat sempurna. Maka buanglah benang cacat itu agar kainmu tetap indah. Aku rela jika. . .”

“Dalam sulamanku tak ada benang cacat karena aku telah memilihnya dengan teliti. Aku mohon, kembalilah bekerja dan sempurnakan keberadaan kami. Cobalah. . .!!!”

Kulihat kau tak menolak dan kau pun juga tak mengiyakannya. Biarlah, kali ini kubiarkan kau berfikir. Kubiarkan kau berdiskusi dengan pikiran dan nuranimu sendiri tanpa perlu aku menerobos masuk untuk mengetahui proses yang sedang kau jalani. Berakhir sudah negoisasi perdamaian ini walau terkesan menggantung. Masih saja aku membiarkan nuraniku berharap padamu agar pintu untuk memasuki ruang itu terbuka lebar. Agar spasi yang telah hadir terhapus hingga tercipta jeda yang wajar. Bukalah dirimu karena membuka diri berbeda dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu ada teras untuk tamu. Tak lelah aku berharap agar aku bisa menjadi tamu dan duduk di teras itu sebagai sahabatmu. Salah satu sahabat dari sekian banyak sahabat yang kau miliki. Sulit sekali aku mengatakannya. Akhirnya terkatakn juga, “Entschuldigung.”


***

Lamunanku pun selesai bersama bulir-bulir peluh langit yang gugur karena lelah berarak. Teater singkat yang menjebakku pada m
asa lalu itu telah menutup layarnya tanda pementasan singkat itu telah usai. Andai aku tahu kemana peluh-peluh langit itu bermuara maka akan kutitipkan pesan singkat itu untukmu. Andai pesan itu sampai maka akan kau dapati aku berucap, “Entschuldigung. . . Entschuldigung. . . Entschuldigung. . . !!!”

Teater yang kuciptakan terasa amat sempurna karena sayup-sayup terdengar sebuah lagu merdu dan kubiarkan lagu itu melintas hingga tertangkap oleh pendengaranku.

Pertengkaran Kecil


Sedih bila kuingat pertengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang telah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

By : Edcoustic

Dengarkanlah. . . !!! Rasakanlah. . . !!! Kisah ini teramat indah untuk disia-siakan. . .

Kota Berhati Nyaman, Mei 2009

“Senyum dan airmata akan terasa indah jika tepat pada waktunya”
“Terimaksih kawan-kawan karena kalian telah mengajariku berkisah”

Note: “Entschuldigung” diambil dari bahasa jerman yang berarti “Maafkan aku…”