Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Staycation Two Days One Night di Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON

HOTEL NEO+ WARU SIDOARJO

HOTEL NEO+ WARU SIDOARJO

Staycation memang menyenangkan ya Teman-Teman? Entah dengan tujuan dalam rangka liburan atau memang ada keperluan yang mengharuskan menginap di hotel. Tak bisa dipungkiri, makin ke sini makin banyak pula pilihan hotel yang bisa menjadi tujuan staycation. Dari budget yang paling rendah atau budget paling tinggi. Semua ada. Mau pilih hotel berbintang atau tanpa bintang pun juga ada.

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON tampak depan.

Saat itu, di awal tahun 2020 sebelum pandemi, saya punya kesempatan untuk staycation di salah satu hotel bintang tiga di daerah Waru Sidoarjo yaitu di Hotel Neo+ by ASTON. Jika Januari 2023 kemarin hotel ini merayakan usia empat tahun, maka saat saya menginap saat itu, Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON baru berusia satu tahun. 😀

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Mini bar, pemanas air, mug, dan botol air.

Hotel ini sangatlah strategis, sangat dekat dengan Bandara Internasional Juanda dan Terminal Bungurasih. Tepatnya berada di Jalan Jenderal S. Parman no. 52-54 Krajan Kulon, Waru, Sidoarjo. Hotel Neo+ menawarkan harga yang menarik, dulu kisaran Rp 300.000,00 hingga Rp 500.000,00 dan sekarang kisaran Rp 500.000,00 hingga Rp 600.000,00 tergantung tipe kamar yang dipesan. Saat itu saya memesan melalui Traveloka.

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
BIsa nonton Drama Korea juga 😀

Bangunan Hotel Neo+ Waru Sidoarjo bergaya modern dan mengusung konsep green living dengan tidak menggunakan botol minum plastik di kamar. Pihak pengelola hotel menyediakan botol air dan dua gelas mug untuk minum serta air dalam dispenser yang siap konsumsi di koridor. Selain itu, juga tersedia pemanas air serta kopi, teh, dan gula.

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Mengisi botol air dari dispenser yang tersedia di koridor.
Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
‘Surat Cinta’ untuk para pengunjung tercinta 🙂
Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Penampakan koridor Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON.

Desain dalam kamar juga terasa sentuhan Surabaya-nya menurut saya. Ada sebuah lukisan yang dipajang di dinding dekat tempat tidur bergambar nuansa Surabaya tempo dulu. Penataan lampu juga menarik serta ada TV kabel yang bisa ditonton sambil istirahat. Fasilitas lain yang tersedia adalah handuk, peralatan mandi seperti shower cap, sikat gigi, pasta gigi, shampoo, dan sabun mandi. Ada lagi yang paling menyenangkan untuk saya adalah tersedia air hangat dan hairdryer.

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Penataan kamar di Hotel Neo+ Waru.
Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Detail hiasan gambar yang dipajang di dinding kamar.

Untuk pembayaran di hotel ini saat mudah. Bisa menggunakan tunai atau non-tunai seperti kartu debit atau kredit dan bisa juga pembayaran melalui platform daring seperti Traveloka. Bagaimana dengan menu sarapan? Saat menginap di sana, sayang sekali saya tidak sarapan di hotel, hehe… 😀

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON

Fasilitas lain yang ada antara lain jaringan wifi yang cepat, area parkir yang luas, layanan binatu atau laundry, ada minimarket dekat pintu masuk menuju lobi, lift, ramah disabilitas, serta ada kedai kopi kekinian yang berada di depan dalam satu area Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON.

Hotel Neo+ Waru Sidoarjo by ASTON
Bonus: mirror-selfie 😀

Jika Teman-Teman sedang berada di Surabaya khususnya daerah Waru Sidoarjo, Hotel Neo+ Waru Sidoarjo ini cocok digunakan untuk tempat menginap dan melepas penat.

Baca juga: Menikmati Danau Poso di Torau Resort Kota Poso.

Jendela Buku, Book Tour Toko Buku Favorit di Salatiga

Jendela Buku Salatiga

Jendela Buku Salatiga

Jika pergi ke suatu kota dalam rangka murni jalan-jalan atau memang ada keperluan khusus, bagi saya, selain mencari tempat menginap dan kuliner adalah mencari toko buku yang rasa-rasanya menjadi wajib dilakukan. Entah itu toko buku indie atau bukan. Entah nanti beli buku atau nggak, rasa-rasanya harus aja ke toko buku. Ya, pada akhirnya pasti belanja buku juga, sih. 😀

Jendela Buku Salatiga
Exit Toll Salatiga.

Saat di Salatiga ini misalnya. Bulan November 2022 mengawali rangkaian kelas intensif dari biro travel perjalanan umrah menjadi alasan saya ke Salatiga untuk kedua kalinya setelah 10 tahun berlalu. Pangling rasanya. Di antara agenda yang ada, saya bersama anak saya tetap curi-curi kesempatan mengunjungi salah satu toko buku yang ada di Salatiga.

Jendela Buku namanya. Toko buku ini terletak di pinggir jalan raya tepatnya di Jalan Diponegoro no. 83. Jendela Buku mulai buka pukul 08.00 hingga pukul 21.00 WIB. Toko ini terbagi menjadi 2 lantai. Lantai 1 dan lantai bawah. Lantai pertama, sebelum memasuki toko, saya, sebagai pengunjung bisa menitipkan barang bawaan atau tas yang berukuran besar di loker yang sudah disediakan. Tujuannya agar nyaman sih ya saat melihat buku-buku di dalam toko.

Di lantai pertama, terdapat display buku-buku best seller dan novel-novel yang berada di rak saling berhadapan. Selain itu juga tersedia beragam pilihan alat tulis, alat melukis, dan aksesoris lucu yang masih berhubungan dengan kegiatan membaca. Pindah ke lantai bawah, koleksi buku-buku lebih banyak lagi saya jumpai. Mulai dari buku-buku Latihan soal, buku agama, buku parenting, motivasi atau self-improvement, buku-buku pelajaran sekolah, buku kuliah, al-Quran, buku mewarnai hingga bermacam-macam puzzle menarik ada di lantai bawah ini.

Jendela Buku Salatiga
Jendela Buku Salatiga bagian lantai bawah.

Toko yang terletak tepat di depan Denpom Salatiga ini juga menyediakan fasilitas sampul buku gratis setelah transaksi selesai. Tak hanya itu, di Jendela Buku Salatiga pun ada program ‘selalu ada diskon’ untuk buku-buku yang dijual di sana. Sistem pembayarannya pun bisa tunai dan non-tunai. Jendela Buku ini ternyata tidak hanya berada di Salatiga saja. Ada juga Jendela Klaten dan Jendela Magelang, begitu mereka menyebutnya.

Jendela Buku Salatiga
Meskipun ini berada di lantai bawah tapi benar-benar nyaman berada di ruangan ini.

Jendela Buku Salatiga juga melayani pembelian secara online juga, teman-teman. Caranya bisa langsung order melalui Whatsapp atau melalui marketplace yang telah mereka sediakan. Selain itu, bisa juga bertanya ketersediaan buku yang dicari sebelum datang langsung ke toko juga sangat bisa, admin akan menjawab dengan cepat dan sangat ramah. Seperti hal yang saya lakukan kemarin. Bagaimana, menarik bukan?

Jika teman-teman sedang di Salatiga dan juga punya keinginan untuk berkunjung ke toko buku seperti saya. Maka, Jendela Buku bisa menjadi tujuan yang bisa dikunjungi. ^^

Baca juga: Book Shop Tour di Kota Madiun.

Santai Sejenak di Kayangan Café and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi

Kayangan Cafe Desa Wisata Brubuh

Kayangan Cafe Desa Wisata Brubuh

Tak bisa dipungkiri jika geliat wisata Indonesia semakin berkembang termasuk juga salah satu wisata yang ada di Kota Ngawi ini. Jogorogo adalah salah satu kecamatan di Ngawi yang memiliki keindahan alam memikat khas pegunungan karena terletak di kaki Gunung Lawu. Di sini banyak dijumpai wisata alam seperti Air Terjun Srambang, Air Terjun Pengantin, dan lainnya. Namun terdapat objek wisata yang menggabungkan antara konsep alam dan petualangan menarik yang ditawarkan oleh Desa Wisata Brubuh.

Kafe Kayangan Desa Wisata Brubuh Ngawi
Kayangan cafe and space tampak dari depan.

Desa Wisata Brubuh ini bagi saya spesial karena berbeda dari objek wisata lainnya yang biasanya dikelola pribadi atau pemerintah, tapi wisata baru di Desa Brubuh ini dibangun atas inisiatif warga Desa Brubuh Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi. Pengelolaannya juga dilakukan oleh warga setempat di bawah naungan BUMDES Duta Karya. Salah satu yang menarik di Desa Wisata Brubuh ini adalah Kayangan Café and Space.

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Ngawi
Kafe Kayangan dilihat dari depan.

Kayangan Café and Space memiliki dua macam ruang yang bisa digunakan untuk menikmati suasana alam sekitar, yaitu ada sisi indoor dan outdoor. Kafe ini memiliki pemandangan berupa hamparan sawah yang luas dengan sistem berundak atau terasiring. Suasana di sekitar kafe ini juga sangat tenang dan sesekali terdengar kicauan burung. Kafe ini mulai ‘membuka pintu’ pada pukul 08.30-17.00 WIB di Hari Senin hingga Jumat dan pukul 08.30-21.00 WIB di Hari Sabtu dan Minggu.

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Salah satu sudut bagian dalam Kayangan Cafe and Space tepat di depan pintu masuk samping area kasir.
Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Area lantai 2 di Kayangan Cafe and Space.

Di sekitar kafe ini tersedia arena flying fox tetapi saat saya ke sana sedang tidak bisa digunakan. Ada juga ayunan dan arena permainan anak-anak. Selain pemandangan dan suasana yang nyaman, menu di Kayangan Café and Space ini juga beragam dengan menyediakan aneka comfort foods menurut saya. Di antaranya kwetiau goreng dan rebus, nasi goreng, mie rebus dan goreng, gado-gado dan lainnya. Untuk pilihan minuman ada es teh, es jeruk, aneka minuman hangat bahkan minuman tradisional semacam jamu. Untuk harga menu yang ditawarkan menurut saya sangat affordable.

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Area flying fox yang berada di luar kafe.
Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Salah satu pembatas antar ruang di Kayangan Cafe and Space yang terbuat dari rak berisi cangkul.

Tempat ini sangat nyaman untuk bersantai bersama keluarga ataupun bisa digunakan untuk bekerja. Namun, di kafe ini tidak menyediakan wifi saat saya datang ke Kayangan Café and Space di Bulan Agustus 2022 lalu. Bagi saya tidak jadi masalah dengan tidak adanya wifi. Justru tidak ada wifi membuat saya bisa bersantai dan langsung menutup laptop setelah menyelesaikan pekerjaan saya. Menikmati kwetiau goreng dan es kunir asam yang saya pesan lalu duduk bengong sambil menikmati pemandangan alam yang indah.

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Daftar menu di Kayangan Cafe and Space, Desa Wisata Brubuh Ngawi beserta harga tiap menunya.
Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Selamat makan siang ^^

Kayangan Café and Space juga memberikan fasilitas yang oke punya untuk para pengunjung yang datang. Area parkir yang luas untuk mobil atau motor, toilet yang tak perlu antri serta bersih, dan musala yang nyaman dengan konsep semi outdoor. Selain itu, jika pengunjung menginginkan untuk lesehan di luar kafe, pengelola tidak hanya menyediakan tikar tetapi juga dilengkapi dengan beanbag yang nyaman.

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Ini adalah area musala di Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh, Ngawi.
Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Bagian dalam dari musala di Kayangan Cafe and Space, Desa Brubuh Ngawi.

Jika teman-teman berada di Kota Ngawi jangan lewatkan kesempatan untuk datang ke Kayangan Café and Space ini ya ^^ Meskipun ya jarak dari Ngawi Kota ke Kayangan Café and Space ini cukup lumayan tapi saat sampai tujuan, semua lelah perjalanan akan terbayar kok 🙂

Kayangan Cafe and Space Desa Wisata Brubuh Ngawi
Kerja with a view 🙂

Baca juga: Gubuk Reneo, New Hidden Gem Wisata Kuliner di Ngawi.

Tur Istimewa di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Charlie and The Chocolate Factory. Yap, novel karya Roald Dahl tahun 1964 sekaligus film yang tayang di tahun 2005 ini adalah kesan pertama saya saat tiba di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo. Saya teringat ketika Charlie membawa Kakek Joe untuk menemaninya dalam tur Pabrik Cokelat Wonka bersama empat pemenang sayembara yang diadakan oleh Willy Wonka. Scene itu bagi saya sangat asik dan terbayang tur saya di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo kala itu akan seasik perjalanan Charlie dan Kakek Joe. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja

Sebenarnya, kedatangan saya ke Museum dan Pabrik Cokelat Monggo tanpa rencana dan memang baru tahu saat melewatinya. Kala itu, di pertengahan tahun 2019 perjalanan saya bersama suami ke Jogja bukan untuk piknik meski tetap ada senang-senangnya. Apapun tujuannya, ke Jogja tetaplah menyenangkan. Perjalanan kami saat itu memiliki tujuan utama untuk mengurus pecah sertifikat dan balik nama properti yang kami beli dari pemilik sebelumnya. Ternyata oh ternyata, posisi properti dan Museum Cokelat Monggo ini tetanggaan, satu desa. Apakah senang? Alhamdulillah senang banget. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum dan Pabrik Cokelat Monggo ini terletak di Jalan Tugu Gentong RT. 03 Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Museum bergaya arsitektur Jawa ini memang terletak cukup jauh dari pusat kota. Perjalanan menuju museum dari pusat kota sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 12 KM. Meskipun jauh dari pusat kota, museum ini tetap memiliki daya tarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana baru menikmati kuliner Jogja selain bakpia. Museum dan Pabrik Cokelat Monggo buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB dengan tiket masuk museum yang murah meriah mulai Rp 10.000,00/orang tergantung aktifitas tur di lokasi.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu sudut di dalam showroom Cokelat Monggo.

Pengelola Museum dan Pabrik Cokelat Monggo menawarkan empat aktifitas tur, yaitu mandiri (seperti yang saya ambil), chocolate making experience, chocolate tasting experience, dan gabungan chocolate making and tasting experience. Dari ketiga aktifitas tur tersebut didampingi oleh seorang pemandu. Saya pikir sangat cocok untuk anak-anak jika berkunjung ke Museum dan Pabrik Cokelat Monggo.

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum dan Pabrik Cokelat Monggo terdiri atas empat bangunan. Pertama, museum sebagai gedung inti. Di dalam museum terdapat gambar dan infografik tentang semua informasi seputar cokelat yang ditata dan dipajang rapi di dinding museum. Terdapat display beragam biji cokelat yang bisa dilihat secara langsung. Selain biji cokelat, terdapat koleksi alat-alat tradisional pembuat cokelat.

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Di dalam museum, pengunjung disuguhi semacam diorama sejarah cokelat pertama kali oleh Suku Meso Amerika Kuno yang menjadi ahli sekaligus penikmat cokelat. Bagian tengah museum pengunjung akan dimanjakan diorama tentang perkebunan cokelat dan sejarah cokelat Monggo mulai dari berdiri hingga desain kemasan dari masa ke masa. Jadi di dinding akan terlihat berbagai macam desain kemasan Cokelat Monggo dan menurut say aini hal yang unik. Di salah satu ruangan di dalam museum, saya juga menjumpai sebuah vespa klasik di sudut ruangan. Kesan klasik dari masa lalu jadi semakin terasa. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja
Desain kemasan Cokelat Monggo dari masa ke masa.

Kedua, adalah bangunan yang berada tepat berhadapan dengan pintu museum yaitu showroom berbagai produk cokelat siap makan dengan harga yang beragam. Di showroom ini tempat pengunjung membeli tiket masuk museum. Ketiga, bangunan berikutnya adalah sebuah kedai yang berada di samping showroom cokelat. Di kedai ini menyediakan minuman dari cokelat, gelato, maupun minuman non-cokelat. Keempat, bagian terakhir yang terletak di bagian belakang adalah pabrik cokelat di mana para pengunjung bisa melihat proses pembuatan cokelat secara langsung.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Di showroom Cokelat Monggo juga menyediakan packing cokelat dalam bentuk parcel.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu sudut di showroom Cokelat Monggo.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Area pabrik di bagian belakang.

Secara menyeluruh, tur di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo ini bagi saya terasa istimewa ditambah dengan fasilitasnya yang mendukung. Ada musala untuk melaksanakan salat, area parkir yang luas dan toilet yang bersih serta suasana yang nyaman dan tenang.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Bagian dalam showroom Cokelat Monggo.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Kedai di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo.

Mengingat tur saya ke Museum dan Pabrik Monggo saat itu sebelum pandemi tentu akan ada sedikit perubahan aturan terutama dalam hal menjaga prokes. Jika teman-teman berkunjung ke sana, tetap kenakan masker ya ^^ Selain itu, hal yang sangat penting juga adalah teman-teman harus memastikan daya baterai handphone dan kamera yang dibawa terisi penuh karena setiap sudut Museum dan Pabrik Cokelat Monggo sangat estetik dan instagramable.

Selamat berkunjung di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo, teman-teman 🙂

Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu produk Cokelat Monggo berbentuk candi/stupa.

Museum Cokelat Monggo Jogja

 

Selain Museum dan Pabrik Cokelat Monggo, teman-teman juga bisa lanjut berkunjung ke Buku Akik dan Mam’s Well Cafe, lho ^^

 

Mam’s Well Café, Ngopi Nuansa Hutan di Tengah Kota Jogja

Mams Well Cafe Jogja

Mams Well Cafe Jogja

Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu….

Rasanya memang benar potongan lirik lagu KLA PROJECT ini, sekali ke Jogja maka akan rindu untuk ke Jogja lagi. Lebih-lebih, macam saya yang sempat kuliah di Jogja dan tinggal selama 7 tahun lamanya. Tiap ada alasan ke Jogja, rasanya seperti pulang. Teman-teman apakah merasakan hal seperti itu ketika di Jogja?

Jogja, saat saya kuliah dulu di tahun 2008 tentu sudah sangat berbeda dari tahun ke tahun. Pertumbuhan kian cepat meski ada juga tempat-tempat yang masih ada dan bertahan. Ada yang tumbuh, ada yang hilang, dan ada yang bertahan. Alamiah ya..

Begitu juga, tempat-tempat ngopi yang makin menggemaskan dan uwu sekali. Banyak bermunculan kafe atau tempat ngopi dengan ciri khas yang makin unik. Tentu saja sebagai identitas agar berkesan di benak pengunjung. Fasilitasnya pun juga beragam dan tak ketinggalan adalah menu-menunya serta harga yang bersaing.

Mams Well Cafe Jogja
Mam’s Well Cafe di Jogja dengan nuansa mini forest.

Nah, Senin kemarin saya menemukan salah satu tempat ngopi yang menurut saya asik dengan nuansa hutan nan asri di tengah Kota Jogja. Iya, di tengah kota dengan nuansa mini forest, teman-teman. Mam’s Well Café namanya. Lokasinya nggak nyangka aja akan ada kafe di situ bahkan driver ojol yang antar jemput saya juga mengatakan hal serupa, “Nggak nyangka di situ ada kafe, Mba.” Lalu, bapak driver yang jemput saya juga bilang, “Saya kira ini Mba titiknya salah, soalnya hutan-hutan gini sih Mba.” 😀 Untuk open hour Mam’s Well Café, teman-teman bisa berkunjung mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB.

Mams Well Cafe Jogja
Coffee Bar, Mam’s Well Cafe Jogja.

Saya ke Mam’s Well Café di jam istirahat siang sekitar pukul 13.00, saya tiba di sana memang ramai dan meja-meja di bangunan utama dan teras depan dalam keadaan penuh. Mayoritas pengunjung saat itu memang para mahasiswa. Saya memesan coffee latte dan menikmatinya di area no-smoking yang berada di belakang. Tata ruang Mam’s Well Café ini semi-outdoor di tengah nuansa hutan, ya semacam mini forest. Ada suara kicauan burung, desir angin yang mengenai pohon-pohon.

Mams Well Cafe Jogja
Akses dari jalan raya menuju halaman Mam’s Well Cafe.

Berbeda jika menikmati Mam’s Well Café ini di area no-smoking, di area belakang. Fix, bahagia banget saya waktu itu memilih area belakang. Di area ini pandangan saya disuguhi pemandangan kolam besar dengan ikan koi, pohon-pohon besar yang hijau, dan suara sungai yang alirannya cukup deras. Jadi sangat cocok untuk untuk melepas penat, belajar, mengerjakan tugas atau bengong seperti yang saya lakukan kemarin. Iya, bengong sambil menikmati kopi sesekali sambil nulis, sayang aja nggak bawa laptop. 😀 Fasilitasnya pun juga oke, ada musala, toilet, area parkir yang luas, dan tentu saja wifi.

Mams Well Cafe Jogja
Area parkir Mams Well Cafe.

Coffee latte yang saya pesan pun juga mengesankan. Perpaduan espresso dan susu menurut saya pas. Selain coffee latte ada juga cappuccino, americano, dan non-coffee seperti lychee tea, lemon tea, matcha, dan lainnya. Selain itu, juga tersedia aneka camilan dan main course. Tempat ngopi yang berlokasi di Seturan ini juga menyediakan menu es krim dengan berbagai varian rasa. Sayangnya, saya belum coba menu lain selain coffee latte karena sebelum ke Mam’s Well Café saya sudah makan bersama para dosen dan setelah dari Mam’s Well Café saya lanjut ke Kopi Klothok. Menyenangkan untuk kembali lagi ke Mam’s Well Café.

Mam's Well Cafe Jogja
Coffee Latte dengan nuansa alam di Mam’s Well Cafe, Jogja.

Baga juga: Berkunjung ke Buku Akik di Jogja. ^^

Mams Well Cafe Jogja
No-Smoking Area. Area ini berada di belakang.

Buku Akik, Indie Vintage Book Shop di Jogja

Buku Akik Jogja

Buku Akik Jogja

“Home is wherever I am with books.” Kalimat itu saya temukan di salah satu sudut di Buku Akik yang menurut saya menjadi salam hangat bagi setiap pembaca yang baru saja masuk ke dalamnya. Senang rasanya, Senin lalu bisa berkunjung ke Buku Akik selepas mengisi kuliah umum di Jurusan Sastra Arab FIB UGM. Di sisa waktu sebelum jadwal keberangkatan kereta menuju Ngawi benar-benar harus dimanfaatkan dengan baik, ya kan teman-teman?

Buku Akik Jogja
Bagian depan Buku Akik.
Buku Akik Jogja
Bagian teras depan Buku Akik.

Saya tahu Buku Akik dulu adalah sebuah toko buku daring, kemudian di akhir 2018 membuka toko buku luring di Jalan Kaliurang KM. 12, tepatnya di Jalan Gang Besi Raja no. 60D Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Seperti teman-teman ketahui, kalau sudah Jakal (Jalan Kaliurang) KM. 12 itu berarti sudah jauh dari pusat kota. Namun, letak Buku Akik yang jauh dari pusat kota tidak menghalangi para pembaca untuk berkunjung termasuk saya.^^ Menurut saya, pemilihan tempat yang ‘menepi’ ini justru menjadi nilai tambah tersendiri, yaitu kenyamanan dan ketenangan bagi para pembaca.

Buku Akik Jogja
Sayap utara Buku Akik adalah area koleksi buku-buku yang dijual.

Buku Akik adalah sebuah Independent Book Shop bergaya vintage sekaligus sebuah perpustakaan. Selain bergaya vintage, Buku Akik juga unik. Hal ini terlihat dari setting buku yang berada di rak-rak buku di dalam toko. Penataan buku tidak mengikuti pakem toko-toko buku (besar) pada umumnya. Jika biasanya buku best seller diletakkan di rak paling depan agar langsung menarik perhatian pembaca, maka di Buku Akik kebalikannya. Buku yang dipajang di rak paling depan tidak mengikuti selera pasar dan saya menebaknya penataan buku-buku ‘bestseller’ di rak paling depan ini menurut selera owner. Yap, buku bestseller di mata owner Buku Akik semisal karya Leo Tolstoy, Alen Ginsberg, Jack Keronac yang mungkin kurang familiar.

Buku Akik Jogja
Sayap utara, bagian buku-buku yang dijual di Buku Akik.

Menurut saya, langkah yang dipilih owner Buku Akik itu asik juga, sih karena agar pembaca tahu buku-buku bestseller ala Buku Akik. Selain itu, di bagian paling depan di dekat rak-rak buku juga terdapat rak untuk pernak-pernik yang berhubungan dengan buku. Pernak-pernik yang tersedia di Buku Akik di antaranya aneka pin, gantungan kunci, pembatas buku hingga totebag. Harganya pun juga cukup terjangkau.

Buku Akik Jogja
Aneka pin yang ada di Buku Akik.

Hal yang menarik dan tentu saya mengasyikkan di Buku Akik adalah pengunjung sekaligus pembaca seperti saya yang datang tidak hanya menikmati buku-buku yang dijual tetapi juga bisa berlama-lama membaca buku di bagian perpustakaan Buku Akik di sayap selatan. Perpustakaan di sayap selatan ini terdiri atas dua sisi, timur dan barat yang letaknya berdampingan. Perpustakaan terdapat beragam genre koleksi buku seperti musik, politik, seni, dan sastra. Buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Di sayap utara, terdapat jajaran rak-rak buku yang dijual dan rak pernak-pernik. Kemudian, di sisi belakang digunakan untuk menunjang kegiatan penjualan secara daring.

Buku Akik Jogja
Sayap selatan bagian barat, area perpustakaan.
Buku Akik Jogja
Perpustakaan Buku Akik.

Tempatnya nyaman, penataan ruangnya unik, lalu apa saja fasilitasnya? Tenang, teman-teman, Buku Akik menyediakan parkir yang luas dan tentu saja gratis. Ada toilet yang bersih dan musala terbuka untuk melaksanakan salat. Tidak hanya itu, di sisi utara bagian depan Buku Akik terdapat jajaran meja kursi untuk bersantai menikmati suasana dan udara sejuk khas Jakal atas. Teman-teman bisa berkunjung dan menikmati aroma buku-buku di Buku Akik mulai pukul 10.30 hingga 17.00 WIB. Bagaimana teman-teman, tertarik berkunjung ke Buku Akik? 🙂

Buku Akik Jogja
Meja-kursi di bagian luar sisi utara dari Buku Akik.
Buku Akik Jogja
Sambutan manis tepat di samping pintu masuk Buku Akik.

Baca juga: Book Shop Tour di Madiun.

Buku Akik Jogja
Hasil ‘buruan’ di Buku Akik, Jogja.