Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Long Distance Marriage Survival Kits

 

Rasanya, Long Distance Marriage (LDM) kali ini harus ‘dirayakan’ dan diabadikan dalam tulisan. Biasanya, LDM antar kota, antar propinsi dan paling jauh antar pulau. Saya menganggap kali ini istimewa karena LDM antar negara, alhamdulillah masih satu benua Asia. Perbedaan waktu pun hanya 2 jam, berasa WIB dan WIT gitu aja meski sudah beda musim. Saya tak pernah menyangka bahwa prosesnya akan secepat ini. Tidak menyangka juga jika tahun ini akan memulai LDM lagi.

 

Kedai Kimbab dalam Drama Extraordinary Attorney Woo ^^

 

Long story short, akhir Juli lalu suami mendapat rejeki berupa lolos beasiswa Pemerintah Korea Selatan untuk melanjutkan S2. Semua proses seakan berjalan sangat cepat termasuk packing pindahan dari Kota Palu, Sulawesi Tengah menuju Kota Ngawi, Jawa Timur. Selain urusan pindahan, segala urusan administrasi cuti, tugas belajar, perijinan ini itu dan segala administrasi dari pihak Pemerintah Korea Selatan pun juga sangat ‘palli palli’ seperti budaya di sana. Semua berjalan cepat.

 

Baca juga: Suka Duka Menjalin Hubungan Dengan Alumni STAN 

 

Akhirnya kami memutuskan untuk LDM sementara waktu karena beberapa hal penting termasuk urusan sekolah anak. Ya bisa sekolah di Korea Selatan tapi memang ada alasan khusus untuk menunda ikut pindah ke sana. Rasanya LDM antar negara gimana, sih? 😀

Yaaaaa, ternyata begini rasanya hahaha, tetap berat atau malah lebih berat. Ada saat bisa berdiri dengan waras, ada kalanya oleng-oleng dikit aja, ada kalanya ya nangis guling-guling, khusus terakhir ini bercanda 😀

 

Di sisi lain, sekali pun ada rasa sedih misal lihat ada teman yang bisa pergi bersama suami atau istri mereka, saya tetap bersyukur dengan keadaan saat ini. Saya bersyukur bisa ‘mengantar’ suami hingga bisa melanjutkan pendidikan di jenjang magister. Termasuk bisa meluaskan definisi tentang saling mendukung meski berjauhan. Hal ini pun juga nggak effortless, tetap butuh dukungan agar kami tetap bisa bertahan dengan jarak dan menjaga kesetiaan. Ciieeee…

 

Lalu, apa saja  survival kits untuk LDM yang istimewa kali ini?

 

  • Gawai

Beberapa survival kits yang kami usahakan untuk mendukung LDM kali ini adalah kami akhirnya menyamakan smartphone plus dengan menggunakan satu akun. Tujuannya agar kami bisa langsung mengakses galeri foto secara otomatis tanpa harus saling mengirim foto melalui Whatsapp atau Telegram.

 

  • Internet

Setelah menyamakan gawai, saya pun nambah router dan upgrade internet. Selain wifi, tentu saja harus siap punya jatah paket data. Keberadaan internet ini tidak hanya untuk komunikasi dengan suami tetapi untuk tetap produktif menghasilkan cuan atau nulis di blog. Iya, punya kegiatan selain bersama anak, pelaku LDM macam saya harus punya kegiatan untuk diri sendiri. Terlebih kalau itu bisa memberi kepuasaan dan makin lebih lebih lagi bisa menghasilkan cuan. Iya, nggak sih? 😀

Kan lumayan juga kalau dipakai traveling bareng anak untuk refreshing hehehe…

 

  • Buku

 

Nah, buku juga jadi salah satu survival kits untuk saya. Saat mengawasi anak yang sedang main mandiri, nyuci baju atau sebelum tidur, saya biasanya menikmati momen-momen seperti itu dengan membaca buku. Saya lebih suka buku fisik daripda ebook. Kalau bentuk fisik ada aroma kertas yang menenangkan. Membaca buku juga bisa mengurangi kecemasan atau kegalauan yang seringnya tanpa alasan.

 

  • Aplikasi Nonton Streaming

 

Selain aplikasi untuk mendukung kegiatan membaca, saya pun juga langganan beberapa aplikasi nonton streaming. Saya paling suka nonton KDrama kemudian mini series semacam Lupin, Sherlock Holmes, Blacklist, Working Mom, Kungfu Panda atau film-film Hollywood. Selama ini saya langganan di antaranya Netflix, VIU, Disney Hotstar, dan Vidio.

 

Itu dia empat LDM survival kits ala saya 😀😀

Jikalau teman-teman ada ide atau saran survival kits yang bisa ditambahkan agar tetap waras selama LDM ini. Boleh banget tinggalkan saran di kolom komentar 😀😀

Yuuk yuukkk yuukkk 😀😀

Kerja Dari Mana Saja #3: Glory Coffeenery

 

Dalam hidup, ada kalanya bertemu momen yang tidak mudah tapi ada saat di mana segala terasa mudah. Sama halnya dengan bekerja. Ada kalanya susah, ada kalanya mudah dan menyenangkan. Apalagi sekarang di era new normal setelah ada work from home. Semua pekerjaan diselesaikan di rumah atau di mana saja yang penting terhubung dengan internet dan semua kewajiban harus diselesaikan dengan baik. Kali ini Kerja Dari Mana Saja the series kembali lagi setelah lama hiatus. 🙂

 

Kisah Kerja Dari Mana Saja #3 kali ini datang dari Glory Coffeenery. Salah satu coffee café yang berada di jantung Kota Ngawi. Kota paling barat dari Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Kota Sragen, Jawa Tengah. Kalau teman-teman pernah dengar lagu “Kartonyono Medot Janji”, nah itu di Kota Ngawi. Glory Coffeenery ini terletak di lantai dua Indomaret Jalan Trunojoyo. Di sini bisa memilih tempat di dalam ruangan atau di luar ruangan. Kalau saya, lebih suka bekerja dengan duduk di teras (outdoor), langsung bisa menatap langit. Apalagi kalau ke sini saat sore menjemput senja gitu. Aduhai sekali melankolisnya 😀

 

Kafe yang mengusung semangat life with glory ini menurut saya nyaman untuk dijadikan tempat kerja sekaligus bikin semangat ngeruk recehan hahaha… 😀 Selain itu, teamwork-nya memang masih muda-muda, jadi terasa semangatnya juga. Ngaruh kan ya?

 

 

Di Glory Coffeenery ini, saya suka dengan hot coffee latte terlebih cara menyajiannya si gula dibuat terpisah tanpa request sebelumnya. Untuk yang saya yang pengen defisit kalori tapi angin-anginan alias sering khilaf, jadi merasa diberi pilihan di depan meja ‘oke, tanpa campur gula’ gitu kira-kira. 😀 Selain minuman based on coffee, saya tetap suka teh-tehan yaitu Lychee Tea. Nah, enaknya lagi, biasanya setelah kerja di mana otak diperas biasanya perut harus terima asupan kan ya? Di Glory Coffeenery juga menyediakan menu makan berat dan camilan dengan pilihan yang beragam. Beberapa waktu lalu, saya sempat memesan Rice Bowl Beef Blackpaper. Bayangan saya, ya namanya rice bowl ya disajikan dalam porsi kecil ternyata oh ternyata porsinya cukup besar untuk saya dengan rasa yang enak plus telur mata sapi dan harga terjangkau. Terlebih waktu saya memesannya saat ada promo diskon 17 belasan. Gimana nggak makin worth to eat. 😀 Sedangkan untuk camilan, saya pernah memesan mix dimsum. Satu porsi berisi empat dimsum beragam rasa seperti namanya mix dimsum. Ada dimsum ranjau (pedas), seafood, ayam, dan satu lagi mirip choipan. Kalau saya sih udah bisa kenyang dengan empat dimsum itu plus segelas Lychee Tea.

 

 

Ngomong-ngomong tentang fasilitas, kenapa nyaman bekerja dari Glory Coffeenery ini tidak lepas dari ketersediaan jaringan wifi. Aksesnya cepat, tempat nyaman dan bersih. Akses wastafel mudah dijangkau dan toilet pun juga tersedia. Kalau ke sini malam hari, suasananya mendadak romantis karena setting lampu-lampunya. Selain untuk kerja, bisa juga dijadikan untuk tempat reuni atau ketemuan dengan teman lama atau sama mantan juga boleh hahaha, becanda boleh ya? 😀

 

Lebih lengkap, boleh banget berkunjung dulu ke Instagram Glory Coffeenery, informasinya lengkap termasuk menu beserta info harganya. Selain itu, ada info live music juga. Setelah dari sini, jika teman-teman penasaran dengan seri ‘Kerja Dari Mana saja’ bisa langsung klik di sini 🙂 Bocorannya, seri kedua berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah. ^^

Jadi, mau seberat apa pun pekerjaannya, jangan lupa ngopi dan menikmatinya. Sampai jumpa di seri berikutnya…

Lima Rekomendasi Tempat Menikmati Landscape Kota Palu

Saya masih ingat, ketika saya tiba di Kota Palu pada Januari 2021. Beberapa saat sebelum pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Sis Al Jufri, saya terpana dengan pemandangan di luar jendela pesawat. Kota Palu paket kombo di mana laut dan pegunungan bertemu dalam satu titik. Indah sekali. Sesuatu di luar prasangka saya sebelum saya tiba yang dipenuhi dengan rasa khawatir apakah nanti akan betah tinggal di Kota Palu.

 

Keindahan Kota Palu ini juga terbingkai dalam sebuah lagu berjudul Palu Ngataku dalam Bahasa Kaili yang berarti Palu Tempat Tinggalku. Dalam lagu itu digambarkan sama seperti apa yang lihat, paket kombo.

 

“Ngataku nasugi, Ngataku nagaya, karona ritatangana.”

[Tempat kelahiranku subur, tempat kelahiranku indah, letaknya di tengah-tengah (di antara gunung dan teluk)]

 

Dan, ada hal yang membuat saya girang saat beberapa hari tinggal di Kota Palu adalah saat melewati kantor Walikota Palu ada foto Pasha Ungu pakai baju Korpri…hahaha meski saat saya datang adalah saat-saat akhir jabatannya sebagai Wakil Walikota Kota. Receh sekali yaa…

 

Long story short, setelah melewati beberapa bulan dan diajak explore Kota Palu, justru saya betah dan jatuh hati. Saya nggak perlu jauh-jauh kalau untuk menikmati daily refreshing. Ya, karena Kota Palu ini seperti kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Dalam satu kota, semua itu bisa dinikmati.

 

Nah, ada nih 5 rekomendasi tempat untuk menikmati landscape Kota Palu yang bisa ngena banget di hati.

 

  1. Monumen Nosarara Nosabatutu

 

Monumen Nosarara Nosabatutu diambil dari lantai 2 dekat Gong Perdamaian.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu dikenal pula dengan sebutan Gong Perdamaian Nusantara. Nosarara Nosabatutu dalam Bahasa Kaili (suku asli di Sulawesi Tengah) memiliki arti bersaudara dan bersatu. Sekilas tentang monument ini dibangun karena keprihatinan atas terjadinya konflik di Poso, Sigi, dan wilayah lainnya yang tentu saja meninggalkan duka yang mendalam.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu terletak di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Keberadaannya di atas bukit yang berjarak cukup dekat belakang Mako Polda Sulawesi Tengah. Tempat ini bisa dicapai kurang dari 15 m3nit dari tempat tinggal saya. Karena letaknya di atas bukit maka bisa menikmati keindahan Kota Palu dengan dengan hamparan Teluk Palu dan Gunung Nokilalaki rasa puas. Tidak hanya itu, saat membalik posisi badan 180 derajat maka mata saya pun dimanjakan dengan view pemandangan pegunungan yang hijau. Di area monumen juga dilengkapi dengan taman-taman bunga yang indah.

 

  1. Bukit Indah Doda

 

Bukit Indah Doda atau Bukit Doda terletak di Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi. Oh ya, Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Palu. Menikmati panorama Kota Palu dari sini sungguh tak kalah memanjakan mata, terlebih jika menikmatinya di Villa Bukit Indah Doda. Nah, saya pernah nih bikin cerita jalan-jalan ke Villa Bukit Indah Doda secara detail.

 

  1. Puncak Paralayang Salena

 

Dokumentasi Pribadi oleh Nugie

 

Puncak Paralayang Salena bagi saya adalah salah satu spot yang mampu menyajikan keindahan alam khas pegunungan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Puncak Paralayang Salena ini terletak di sebelah barat Kota Palu, tepatnya di Dusun Salena Kecamatan Ulujadi, masih berada di dalam Kota Palu.

Dokumentasi Pribadi, Karya Nugie.

 

Akses menuju puncak Paralayang Salena sangat bagus, jalan aspal yang mulus, tanpa lubang-lubang dan didominasi dengan warna hijau yang menyejukkan. Saat berada di puncak, kita akan puas menikmati hamparan Teluk Palu dan landscape Kota Palu. Saat saya ke sana tidak ada tiket masuk dan sudah memiliki toilet karena Puncak Salena ini juga digunakan untuk camping. Hal yang terpenting lagi adalah di sini benar-benar bersih.

 

Puncak Salena ini juga dalam tahap pengembangan menjadi Ecotourism of Salena. Selain digunakan untuk festival paralayang juga dimanfaatkan untuk wisata sepeda gunung, motor trail, dan outbound. Camping di sini pun juga perfecto.

 

  1. Puncak Matantimali

 

Talent: Nugie [Dokumentasi Pribadi]

Naahh, tempat keempat ini berada di luar Kota Palu tepatnya di Kecamatan Banawa, Kabupaten Sigi. Matantimali diambil dari nama desa yang berada di Kawasan Gunung Gawalise, karena inilah Matantimali memiliki ketinggian kurang lebih 1.500 mdpl yang secara otomatis mampu menghadirkan panorama Kota Palu yang indah dari ketinggian. Saya juga pernah membaca bahwa Puncak Matantimali ini menjadi salah satu lokasi paralayang terbaik di se-Asia. Selain itu, di sini juga bisa digunakan untuk camping apalagi saat akhir pekan.

 

Pemandangan Kota Palu dari Matantimali Saat Malam. [Dokumentasi Pribadi]

Camping di Matantimali akan memberi kepuasan karena bisa menikmati sunset, sunrise, panorama Kota Palu saat malam dengan kerlip lampu-lampu kota, menikmati suasana Kota Palu saat siang dan juga menikmati alam sekitarnya yang hijau serta udara yang sejuk.

 

  1. Bukit Satu Pohon
Pemandangan sisi Kota Palu dari Bukit Satu Pohon [Dokumentasi Pribadi, Cindi]

Pertama kali dengar dari suami saat akan ke sini, saya tidak percaya kalau bukit ini benar-benar hanya satu pohon. Ternyata oh ternyata, beneran ada satu pohon yang terletak tepat di puncak bukit ini. Panas dong kalau nggak ada pepohonan? Menurut saya nggak terlalu panas, tetap sejuk dan tetap bisa menikmati hamparan hijau perbukitan khas alam pegunungan.

 

Saat saya ke bukit satu pohon ini, saya hanya mampu sampai di tiga perempat saja, tidak sampai puncak berfoto dengan pohon satu-satunya itu. Jalan setapaknya seperti 180 derajat tegak lurus gitu…haha. Namun, meski hanya di tiga perempat saja, dari sini bisa menikmati landscape Kota Palu yang masyaAllah indah sekali. Di bukit yang terletak di Desa Sibedi, Kabupaten Sigi ini juga terdapat fasilitas umum seperti toilet dan musola. Selain itu, juga ada beberapa warung-warung makan yang menyediakan camilan seperti pisang goreng dengan sambal terasi hingga menu berat berupa nasi atau mie serta aneka minuman dingin.

 

Yuhuuu, inilah lima tempat rekomendasi favorit saya untuk menikmati landscape Kota Palu. Jika teman-teman sedang berada di Kota Palu, jangan lupa menikmati Kota Palu dari ketinggian. Vibe-nya itu lho akan sungguh berkesan. ^^

 

 

Kerja Dari Mana Saja #2: Kopitaro Manual Brew

 

Katanya, secangkir kopi dapat membuat kita belajar bahwa rasa pahit juga dapat dinikmati. Iya kah? Saya pikir memang iya dan menikmati secangkir hangat atau segelas dingin kopi itu sangatlah menyenangkan.

 

Dokumentasi Pribadi

 

Setelah beberapa bulan vakum dari seri perjalanan Kerja Dari Mana Saja dengan sangat gembira dan riang hati saya umumkan the series is back! Kali ini saya kembali dengan seri cerita perjalanan ini di Kopitaro Manual Brew. Kali pertama mengunjungi kedai ini di Bulan Februari lalu, saya langsung jatuh cinta. Vibe-nya terasa filosofis gitu dan tentu kedai ini memiliki ciri khas dari kedai-kedai yang pernah saya kunjungi di Kota Palu.

 

Dokumentasi Pribadi

 

“Di sini kami masih menyeduh kopi secara manual, Kak”, begitu percakapan saya dengan seorang barista yang pada waktu itu saya tebak adalah pemilik Kopitaro. Bagi saya, cara menyajikan kopi di Kopitaro ini terasa otentik. Masih manual, menyeduh secara manual tanpa mesin. Selagi menunggu pesanan, saya bisa melihat proses pembuatan kopi yang saya pesan sambil sesekali berbincang dengan kakak baristanya. Ada interaksi bukan sekadar menikmati kopi. Ini asik menurut saya. Ya meski tak bisa dipungkiri bahwa proses manual ini memang memakan waktu lebih lama. Bagi saya tak masalah karena sepanjang proses pembuatan pesanan, obrolan hangat antara penikmat kopi dan barista bisa tercipta.

 

Proses Manual Brew

 

Manual Brew yang masih dipertahankan oleh Kopitaro ini akhirnya menjadi identitas. Identitas yang bagi saya sulit lho diciptakan terlebih jadi icon. Salah satu menu yang unik di Kopitaro ini adalah Red Wine. Bukan, bukan wine yang itu 😀 Red Wine ala Kopitaro ini adalah kopi yang ditambah dengan sari mulberry diproses secara manual dan terpenting halal. Saya belum pernah mencobanya sih karena menu favorit saya di sini adalah caramel latte yang saat dinikmati itu saat di ujung ada rasa pahit kopi setelah sebelumnya ada rasa manis dan gurih. Gimana ya? Gitu pokoknya…hahaha

 

Caramel Latte Manual Brew, Favorit!

 

Kedai yang terletak di Jalan Swadaya ini menyediakan buku-buku yang bisa dibaca sambil menikmati kopi jika sendirian. Selain itu, Kopitaro juga menyediakan ruang yang nyaman untuk chit-chat bersama kawan. Tak hanya itu, ruang di kedai ini cukup luas dan bisa memfasilitasi komunitas untuk sebuah pertemuan. Desain ruangnya pun juga instagramable industrial gitu, menurut saya. Karena tempatnya yang nyaman ini, untuk kerja pun mendukung, capek lihat layar, bisa ambil jeda keliling lihat-lihat koleksi buku atau alat-alat perkopian di bar.

 

[Dokumentasi Pribadi]

Saya suka mengambil tempat di bagian belakang karena outdoor. Bisa menikmati angin sepoi-sepoi sambil menikmati caramel latte dan tentu saja, kerja. Kopitaro juga menyediakan varian kopi asli Sulawesi Tengah lhoo, Arabika Gawalise Lewara. Lewara adalah nama sebuah desa di Kabupaten Sigi dan terletak di Pegunungan Gawalise. Tak hanya menyeduh kopi tetapi juga memiliki idealisme untuk mengenalkan kopi asli Sulawesi Tengah. Hal seperti ini bagi pendatang macam saya seperti harta karun untuk belajar dan menambah informasi tentang Sulawesi Tengah dari sebutir kopi.

 

Fasilitas ruang nyaman dan aneka pilihan menu kopi bisa menghadirkan suasana homey. Jika tak terbiasa menikmati kopi, Kopitaro juga menyediakan menu non kopi seperti Green Matcha, Chocolatier Ice, Mawar Merah, dan Sakura Girl. Menu makanan yang tersedia ada aneka mie tapi saya belum pernah pesan makanan sih..hehe. Jadi spesial lagi, Kopitaro ini dekat rumah. 😀

 

Yuuk, mampir ke Kopitaro jika teman-teman sedang di Kota Palu. ^^

 

 

Kopitaro Manual Brew

Titik seduh #ngopisampaipintar: Jalan Swadaya, Lr. Sawerigading 1 no. 18, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Halo Tentena, Cerita Mudik ke Kampung Orang

Benar kata Cak Lontong, hal yang paling penting sebelum pulang kampung adalah memastikan punya kampung halaman. Iya benar ya! Hal ini saya sadari saat momen lebaran kemarin. Saya yang merayakan lebaran kali kedua di Kota Palu dan memutuskan tidak mudik, akhirnya ikut merayakan dan merasakan gegap gempita permudikan ini. Nggak mudik ke Jawa bukan berarti harus nangis di pojokan juga ya 😀

Lebaran kali ini, saya, suami, dan Bilgi memutuskan mudik ke Tentena. Anggaplah perjalanan ke Tentena ini adalah pulang ke kampung halaman. Iya kampung halaman orang lain. 😀

 

Pesona Tentena

Menurut hasil pencarian di Google, Tentena berasal dari Bahasa Pamona. Tentena adalah sebuah desa di Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tentena disebut sebagai salah satu kelurahan atau desa tetapi saat berada di Tentena, saya merasa Tentena itu sudah seperti kota. Bukan kota yang identik dengan kemacetan atau keramaian ya, melainkan saya merasa Tentena itu besar seperti kota. Tentena berada di sekitar Danau Poso, danau terdalam nomor tiga di Indonesia yang namanya sering saya jumpai di buku sewaktu saya sekolah dasar. Ternyata Danau Poso dan Tentena ini sungguh cantik. Perjalanan 8 jam dari Kota Palu rasanya terbayar saat sampai Tentena. Oh iya, dari Kota Poso ke Tentena membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam dengan jalan yang berkelok-kelok dan pemandangan yang serba hijau-hijau.

Bagi saya, udara di Tentena itu termasuk kategori sejuk dengan pemandangan alam yang menarik. Ada Danau Poso yang punya beach vibe gitu. Iya danau tapi seperti pantai yang punya gulungan ombak yang tenang. Selain Danau Poso, Tentena juga memiliki deretan pegunungan yang asri, hijau di mana-mana. Ada air terjun Saluopa (baca: Salopa) yang berundak dan bebatuannya itu tidaklah licin saat dipijak dan tentu saja cantik. Saat saya ke Air Terjun Saluopa ini cukup ramai karena musim libur lebaran di mana orang-orang menikmatinya dengan pulang kampung. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya 15.000 dengan rincian dua tiket dewasa dan tiket parkir mobil.

Di Kawasan Air Terjun Saluopa ini fasilitasnya sudah bagus. Kamar mandi tersedia dengan jumlah yang banyak dan sangat bersih. Itu pun tarifnya hanya dua ribu entah BAK, BAB atau mandi. Warung makan juga tersedia dengan pilihan menu beragam dan tidak lupa ada kudapan pisang goreng yang dinikmati dengan sambal atau duo ditambah dengan menikmati kelapa muda Saluopa yang kata para mama penjualnya jika minum kelapa muda Saluopa bikin awet muda. ^^

 

Staycation di Tentena

Lho, katanya mudik, kok staycation? Ya Namanya mudik ke kampung halaman orang lain kan ya, tentu saja saya butuh tempat menginap. Hahaha… Ada dua penginapan yang akan saya rekomendasikan dengan view Danau Poso yang memanjakan mata, yaitu Danau Poso Resort dan Torau Cottage Resort. Kedua penginapan ini memberi view secara langsung pada Danau Poso. Fasilitas keduanya pun memuaskan, memiliki pilihan kamar, dan tenang (review kedua akan tayang di blogpost terpisah ya..).

Jika suatu saat Teman-Teman berkunjung ke Tentena, jangan khawatir soal penginapan. Di Tentena sudah banyak penginapan dengan fasilitas yang bagus. Tinggal pilih aja sesuai keinginan atau sesuai budget travelling kalian. Selain merasakan sensasi staycation dengan view Danau Poso, di Tentena juga ada taman anggrek yang bisa dikunjungi.

Pelajaran dari sebuah cerita perjalanan mudik ke kampung orang lain ini adalah menjaga adab semacam jangan buang sampah sembarangan. Wajib banget sih ini layaknya taat prokes. Selain itu, saat kita berkunjung ke daerah yang mungkin sangat berbeda dengan asal kita, itu bukan momen untuk membandingkan satu sama lain, ngorek kekurangan dan mengunggulkan daerah kita, bukan ya, tapi untuk melihat betapa Indonesia ini kaya, kaya alamnya, kaya budayanya. Serta jangan lupa untuk menikmati perjalanan kita ^^ Ah, nulis ini jadi kangen Tentena.
Yuukk, kapan ke Tentena?

 

 

Suka Duka Menjalin Hubungan Dengan Alumni STAN

 

Suatu siang, di tengah antrian beli sayur lauk matang, saya nggak sengaja mendengar obrolan dua ibu yang bikin saya senyum tapi agak geli juga. Kurang lebih seperti ini obrolannya seperti ini.

 

A: saya sudah masukkan Titi (tentu nama samaran) kursus biar bisa masuk STAN tapi gagal.

B: eh, sama, saya juga.

A: alhamdulillah masih ketrima di kampus negeri (lalu nyebut salah satu kampus terkenal di Malang) lalu saya pesan ke anak saya “kamu nggak bisa masuk STAN tapi Mama masih punya kesempatan punya mantu alumni STAN, jadi korang jangan macam-macam pacaran dulu”.

B: eh sama juga, Mimi (nama samaran juga) ketrima di kampus negeri (nyebut salah satu kampus negeri di Solo) itu alhamdulillah. Itu ide punya mantu alumni STAN boleh juga, nanti saya juga pesan begitu.

Lalu kedua tertawa bersama-sama.

 

Saya yang mendengarnya di tengah antrian beli sayur itu jadi dapat hiburan. Ya ada senangnya, ada gelinya bahkan ada sedihnya juga. Ini yang terlihat di mata para mama mungkin seperti ini; keren karena lulusan salah satu sekolah kedinasan yang tentu saja orangnya memiliki gen kecerdasan yang terjamin dan yang nggak bisa dipungkiri adalah finansial yang stabil. Iya nggak?

Saya juga akan jujur bahwa yang terlihat dari permukaan memang indah seperti apa yang orang-orang pikirkan. Saya pun nggak memungkiri bahwa yang masuk STAN adalah mereka yang otaknya encer-encer meskipun kalau kalimat itu dilontarkan di depan mahasiswa STAN secara langsung mereka akan menjawab ‘ini tuh keberuntungan aja kok’. Terlebih kata orang ada jaminan masa depan. Kata orang yaa, semoga jadi doa beneran. 🙂

Dua mama yang ngobrol tentang menantu idaman dari salah satu sekolah kedinasan itu bisa jadi belum sampai kepikiran tentang nggak enaknya. Iya kan ya? Siapa sih yang pertama kali akan kepikiran tentang hal nggak enak kalau lihat sesuatu yang indah? Eh, kata ‘duka’ di judul seharusnya saya ganti dengan kata ‘tantangan’ kali ya karena ya kalau sedih bisa dibilang nggak sedih-sedih amat, masih bisa diakali agar tetap enak dijalani.

Perkenalkan, saya adalah salah satu istri dari salah satu alumni STAN yang sekarang berprofesi sebagai auditor di salah satu instansi pengawasan keuangan dan pembangunan. Seperti kata dan penglihatan orang, alhamdulillah secara finansial dianggap mapan dan aman (meskipun akan ada banyak faktor yang memengaruhi rasa cukup yaa). Di sisi lain, tetap ada tantangannya yang sungguh menggemaskan jiwa raga…hahaha

Saya pikir secara umum setiap pasangan juga akan seperti ini. Setiap pasangan hidup yang inginnya selalu dinomorsatukan maka aturan terpenting mendampingi salah satu alumni STAN adalah siap ‘dinomorduakan’. Poligami? Bukan, bukan. Siap dinomorduakan dengan tugas pengabdian ke negara. Siap lihat kenyataan kalau suami udah seperti customer service yang 24 jam menerima telpon atau harus telponan di tengah sesi audit. Siap juga ditinggal dinas luar kota bahkan luar negeri di situasi apa pun termasuk dua hari setelah lahiran ditinggal dinas ke Seoul, saat itu bagi saya ya nggak mudah tapi kan juga nggak bisa saya tantrum biar suami batal berangkat kan?

Situasi lain yang bisa memecah persatuan rumah tangga adalah malam minggu kalau ditinggal nggarap laporan ya jangan baper dan coba-coba ngambek. Kemungkinan besar, doi akan lebih milih nggarap laporan daripada kencan. 😀 Saya, sebagai pasangannya pun juga harus tahu diri. Nah, untuk bisa tahu diri ini juga butuh proses kok. Iya, proses atau perjalanan saling memahami. Nggak bisa egois ‘pilih kerjaan atau aku sebagai pasanganmu?’ Tidak, tidak seperti itu. Menurut saya, hal ini pun juga berlaku nggak hanya yang punya pasangan alumni STAN saja.

Selanjutnya, selama hamil anak pertama, suami saya total menemani saya periksa itu dua kali. Pertama saat dinyatakan beneran hamil dan kedua saat harus mengambil keputusan saya melahirkan normal dengan resiko berat atau sesar untuk meminimalkan resiko kematian ibu dan bayi. Selebihnya ya saya berangkat sendiri. Pernah juga dong baper lihat ibu hamil yang diantar suaminya, saya nggak memungkiri itu. Bisa juga sih waktu itu saya ngambek aja dan bilang ke suami ‘kalau nggak diantar aku batal periksa aja’ tapi bagi saya hal semacam itu bukan sebuah solusi, justru akan menambah masalah lain. Iya kan ya? Perjalanan hamil itu pun membuat saya meluaskan definisi tentang suami siaga tentu versi saya.

Lalu, apa hal menyenangkan bagi saya selama menjalin hubungan dengan salah satu alumni STAN? Salah satunya bisa keliling Indonesia :-D. Meskipun hidup berpindah-pindah tetap ada nggak enaknya. Kalau fokus ke nggak enaknya, nggak akan bisa menikmatinya. Hidup berpindah-pindah memberi saya kesempatan melihat hal-hal unik dan indah tentang Indonesia. Ya kalau niat traveling berangkat dari Jawa ke Sulawesi Tengah, misalnya, pasti butuh biaya yang nggak murah, belum termasuk jika destinasinya butuh tambahan penerbangan perintis. Iya kan ya? Iyain aja deh 😀

Gambaran lainnya, memiliki pasangan alumni STAN yang harus mutasi pindah propinsi adalah melatih saya jadi nggak baperan. Susah sekali ini, beneran, nggak tipu-tipu. Misal ketika musim liburan lihat orang-orang bepergian dengan anak dan pasangan sedangkan saya hanya berdua dengan anak tanpa suami. Ternyata nggak apa-apa, akan ada momen liburan bersama. Atau tentang LDR, saya yang juga pernah menjalani dan ada kemungkinan akan menjalani LDR lagi (mungkin ya) dengan alasan dan pertimbangan yang tentu saja sudah dimusyawarahkan bersama membuat saya bisa lebih berhati-hati melontarkan pertanyaan atau pernyataan pada pasangan lain yang sedang menjalaninya. Apapun alasannya, saya nggak akan mengorek atau lancang membuat pernyataan yang tak nyaman. Menjalaninya saya sudah berat jadi nggak perlu nambah-nambah beban orang lain yang menjalani LDR. Bukan LDR-nya yang dosa, yang dosa adalah lisan atau prasangka kita yang menghakimi keputusan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan kita yang seakan paling ideal dan sempurna.

Uneg-uneg ini murni dari pengalaman pribadi. Saya menyadari setiap pasangan pasti mengalami yang tentu saja dalam wujud yang beragam. Semoga ini bukan bagian dari kesombongan dan tentu saja harapannya masih ada yang bisa diambil sebagai pelajaran. Maafkan jika ada salah-salah ketikan. Semangat saling memberi rasa nyaman pada pasangan halal yaaaa….