Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Saya dan teman-teman semua pasti menginginkan nikmat sehat bukan? Sehat jasmani dan sehat rohani tentu saja. Apalagi sekarang ini, kita tengah berjuang hidup sehat di antara virus corona yang sedang merajalela yang mau tidak mau memaksa kita memasuki era normal yang baru. Benar-benar harus ekstra jaga kesehatan badan, istirahat cukup, dan nggak mengalami stress. Namun, sering kali ketika beban pekerjaan sudah terasa berat, waktu lembur menyita waktu makan bahkan menghilangkan selera makan, atau asal makan tanpa peduli soal kebersihannya, hal itu juga akan memengaruhi kesehatan kita dari asupan yang masuk ke tubuh. Tidak hanya sakit ringan seperti flu bahkan penyakit serius seperti tipes juga rentan bisa menyapa tubuh.
Ketika mempunyai gejala tipes yang ditandai dengan menderita demam, mual, muntah, hingga diare maka sebaiknya segera periksakan ke dokter. Jangan menunggu hingga kondisi lebih parah karena dapat mengalami gejala yang menjadi parah seperti pembengkakan pada liver dan juga mengalami tanda merah yang ada di dada. Dengan segera berkonsultasi dan ditangani dokter Anda akan lebih cepat sembuh dengan bantuan perawatan sesuai kondisi tipes yang dipunyai dan juga obat tipesyang tepat.
Selain ke dokter, sebenarnya kita dapat mengatasi dan meringankan gejala tipes yang dialami dengan beberapa cara yang dapat dilakukan. Misalnya saja dengan menggunakan obat tipes dari bahan alami yang mudah ditemukan sehingga dapat meringankan gejala tipes. Adapun untuk beberapa bahan alami tersebut adalah sebagai berikut ini:
Pisang merupakan bahan pertama yang dapat ditemukan dengan mudah dan dikonsumsi untuk membantu mengurangi gejala tipes. Pisang merupakan bahan alami yang mempunyai kandungan kalium yang dapat menjadi pengganti elektrolit.
Oralit merupakan obat alami selanjutnya yang dapat dibuat di rumah. Oralit juga mempunyai manfaat untuk tetap menjaga kadar air dalam tubuh sehingga mencegah terjadinya dehidrasi yang bisa dirasakan ketika kehilangan cairan cukup banyak.
Bawang putih merupakan bahan alami terakhir yang dapat dikonsumsi karena mempunyai sifat antimikroba.
“Setiap rasa sakit, akan ada obat yang akan menyembuhkannya”, begitu kata ibu tiap kali saya sakit dulu dan harus minum obat. Apalagi jika saya sakit dan hasil pemeriksaan menyatakan saya terkena gejala tipes saat masih kecil dulu. Kebayangkan berapa butir obat yang harus diminum? Lebih drama lagi, kalau sudah kena gejala sakit tipes, saya akan dapat paket ‘cinta’ dari mbah sri tetangga samping rumah. Paket ‘cinta’ berupa racikan obat alami untuk tipes yang belum sampai meminumnya saya sudah mual lebih dulu…hahaha, racikan dari bahan apa itu? Hahahaha, racikan itu terbuat dari cacing tanah yang disangrai. Nggak usah dibayangkan! 😀
Yap! Selain dengan menggunakan obat alami tersebut, kita juga bisa mengkonsumsi obat yang mempunyai kandungan terbaik dan bermanfaat untuk mengobati gejala tipes. Apapun usahanya tetap bisa dicoba kan? Beda dulu dan sekarang, sekarang teknologi sudah berkembang termasuk dunia kesehatan bahkan untuk sakit tipes ada pilihan ragam pengobatan yang bisa dipilih tanpa paksaan.
Misalnya saja salah satu obat yang dipilih adalah Pien Tze Huang yang merupakan obat gejala tipes. Obat ini merupakan obat dengan ramuan terbaik dari bahan alami yang bermutu tinggi. Di sisi lain, untuk mendapatkan obat ini kita perlu berhati-hati sehingga akan mendapatkan obat yang asli. Ingat ya, teliti saat membeli obat juga bagian dari usaha lho, teman-teman.
Dimana beberapa cara yang bisa digunakan agar mendapatkan obat Pien Tze Huang yang asli adalah:
Pertama adalah memastikan nomer seri keaslian yang ada di balik hologram.
Memeriksa hologram dari PT Saras Subur Abadi yang merupakan importir obat ini di Indonesia.
Terakhir adalah belilah obat ini di toko online yang terpercaya yaitu di toko official dari SSABADI.
Jangan ragu untuk menempuh berbagai cara untuk sembuh dari tipes. Jangan membangun blok bahwa ini atau itu akan gagal. Jangan putus asa dan tetap semangat!!
Noam Chomsky said, “A language is not just words. It’s a culture, a tradition, a unification of a community, a whole history that creates what a community is. It’s all embodied in a language.” Pernyataan Chomsky tersebut saya pakai untuk mengawali personal statement yang menjadi salah satu syarat administrasi mengikuti seleksi TLC Fall 2020 di Yunus Emre Institute. Pernyataan Chomsky tersebut, bagi saya adalah sebuah semangat besar bahwasanya bahasa adalah sebuah pintu gerbang menuju sebuah pengetahuan yang luas. Seperti halnya ketika saya menyelesaikan tesis dengan rujukan primernya menggunakan Bahasa Arab dan belum ada terjemahannya dalam Bahasa Inggris. Momen seperti itu terasa sangat mewah sekali, iya nggak sich?
Begitu juga keinginan saya untuk bisa memahami Bahasa Turki, baik secara verbal atau non-verbal. Lagi-lagi alasannya, salah satunya adalah Turki memiliki peradaban yang megah, terutama bagi saya tentang peradaban Islamnya serta kepemimpinan (Islam) yang bisa diajarkan kepada anak-anak. Tentu saja, sumber yang ada tidak semua sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris tetapi tetap ada sumber pengetahuan yang ditulis dalam Bahasa Turki. Serta alasan berupa keinginan-keinginan (yang tinggi…hahaha) tentang Turki.
TLC Fall 2020, apa itu?
Di blogpost kali ini, saya ingin berbagi tentang TLC Fall 2020 ini dengan harapan, jika teman-teman ada yang membutuhkan info atau tertarik belajar Bahasa Turki, bisa banget dicoba.
TLC Fall 2020 adalah kepanjangan dari Turkish Language Course atau kursus Bahasa Turki di semester musim gugur tahun ini, 2020. Kursus ini diadakan secara online. Yap, bisa diikuti di mana saja, kapan saja. Meskipun online, saya pikir tidak bisa diremehkan juga ya karena kursus ini menggunakan bahasa pengantar berupa Bahasa Inggris, ada ujiannya juga, dan ada sertifikat setiap levelnya mulai dari level A1 hingga C1. Justru yang seperti ini menguji komitmen, kesetiaan, dan seberapa besar diri ini bisa tahan banting. 😀
Turkish Language Course is free, no charge alias gratis. Gratis biaya kursusnya dan gratis buku-buku untuk belajar Bahasa Turki. Tinggal nyiapin kuota atau memastikan wifi stabil dan semangat yang membara karena saya ikut kelas TLC Yunus Emre Institute cabang Washington DC. 😀
Apalagi perbedaan waktu antara Indonesia (WIB) dan Washington DC, USA, yang selisihnya ada kurang lebih 11 jam. Jadi, jadwal kelas perdana level pemula akan dimulai di Hari Senin, 14 September pukul 18.00 waktu Washington (EST) maka saya akan online(live) kelas Hari Selasa pukul 05.00 WIB. Begitu juga pertemuan hari Rabu, pukul 18.00 EST maka di Indonesia WIB pukul 05.00. Nggak masalah, itu waktu di mana otak sedang fresh di level tinggi. Iya kan? Tolong iyain aja…haha
Yunus Emre Institute, siapa gerangan?
Turkish Language Course (TLC) ini diakan oleh Yunus Emre Institute, biasa dikenal dengan singkatan YEE, yang dalam Bahasa Turki disebut dengan Yunus EmreEnstitüsü adalah organisasi nirlaba yang berada di berbagai negara, didirikan oleh Pemerintah Turki pada tahun 2007. Nama YEE diadobsi dari nama penyair terkenal abad ke-14 yaitu Yunus Emre. YEE sendiri memiliki misi untuk mempromosikan bahasa dan buadaya Turki di seluruh dunia. YEE ini dianggap sebagai institusi berdasarkan soft-power Turki dan dibuat berdasarkan keputusan presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. YEE ini memiliki banyak cabang di seluruh dunia diantaranya di Tokyo, London, Astana, Paris, Lahore, Doha, Beirut dan masih banyak lagi. Kalau yang paling dekat dengan Indonesia itu YEE Cabang Kuala Lumpur dan Melbourne. Sebenarnya akan klob waktunya kalau bisa berjodoh dengan kelas Bahasa Turki di YEE di dua cabang tersebut.
Sebagai institusi yang bergerak di bidang bahasa dan budaya Turki, YEE memiliki beberapa program yang ditawarkan kepada khalayak umum, mulai dari Turkish Language Course (TLC) yang dilakukan secara online maupun kegiatan secara offline seperti Summer Course. Selengkapnya bisa kepo-kepo langsung ke web Yunus Emre Instituteya teman-teman ^^
Seleksi Turkish Language Course, bagaimana prosesnya?
Untuk proses seleksi sendiri, ternyata di tiap cabang itu beda-beda. Ada seorang sahabat yang mengikuti Turkish Language Course di cabang YEE Melbourne, pada saat pendaftaran dan seleksi cukup simpel melalui google form. Namun, ketika saya mendaftar di YEE cabang Washington DC, saya diminta melengkapi berkas yang berisikan tentang informasi pribadi, informasi level keahlian Bahasa Inggris dan jika ada bahasa lain bisa disertakan ditambah dengan menulis sebuah personal statement. Menurut saya, bagian personal statement ini memiliki peranan penting saat seleksi, yaaaa meskipun ini kursusnya ‘hanya’ secara daring yaa…
Saat saya mendaftar dan deadline submit berkas sekitar satu minggu, di Hari Senin, 7 September. Saya butuh waktu sekitar 5 hari untuk menulis personal statement sekitar 250 kata. Lama ya? 😀 Tahapan yang membuat lama itu bagi saya seperti benar-benar cek ke diri sendiri, iya kah seperti itu? Semacam memberi ‘feel’ atau ruh gitu. Belum termasuk koreksi koherensi antar kalimat dan grammar-nya. Ya memang, apa-apa nggak bisa disiapkan secara mendadak kecuali tahu bulat yaa 😀
Nah, teman-teman yang tertarik ingin mengikuti seleksi Turkish Language Course di cabang lain di mana proses seleksinya memakai personal statement juga, boleh nanti kita diskusi via email atau saya dengan senang hati akan berbagi personal statement saya sebagai contoh. I will send my personal statement by email personally.
Ini cerita saya selama di rumah aja di masa pandemi ini. Semoga pandemi ini segera berlalu. Stay positive, stay healthy, and stay productive! ^^
Tiga tahun lalu saat pertama mengunjungi air terjun Srambang dengan berkunjung di tengah tahun 2018 sungguh jauh berbeda. Dulu saat pertama kali ke Srambang bersama Pak Nug, jalan menuju air terjun masih terjal, masih alami, dan not friendly anymore jika dibandingkan dengan sekarang. Dulu akses menuju air terjun masih ‘menantang’, lompat dari batu ini menuju batu itu, mlipir sini mlipir sana biar nggak basah karena ada anak-anak sungai yang airnya luar biasa jernih, sejernih memandang mata kekasih…wkwkwk.
Ternyata, ketika saya berkunjung lagi ke air terjun Srambang, kondisinya sudah sangat berbeda. Dari pintu masuk hingga air terjunnya semua tertata rapi dan sangat bersih. Fasilitas tersedia mulai dari toilet, tempat sampah, saung-saung kecil untuk istirahat, spot foto instagramable, ada kolam renang yang airnya langsung dari sumbernya, kedai-kedai makanan yang jual gorengan murah meriah, masih hangat dan ukurannya nggak tanggung-tanggung juga serta musolla yang bagi saya super nyaman. Ada juga charger stations alias colokan, jadi jangan khawatir. Akses jalannya juga sangat ramah untuk semua usia bahkan berat badan :D. Dari parkiran mobil hingga depan pintu masuk dan loket ada jasa ojek pengantaran, sekali naik ongkosnya hanya 5000 rupiah dan ini benar-benar pemberdayaan masyarakat sekitar air terjun Srambang.
Air terjun Srambang merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Ngawi yang berupa air terjun. Berlokasi di kaki gunung Lawu, Kecamatan Jogorogo, sekitar 5 km ke selatan dari pasar Jogorogo. Ketinggian air terjun ini hampir mencapai 25 m. Dulu pertama kali ke sana diajak suami, tepatnya saya beribik agar diajak ke sana karena Ibu (mertua) sering menceritakan tentang air terjun Srambang dan lokasi air terjun Srambang sangat dekat dengan penempatan Ibu (mertua) diawal-awal masa kerjanya sekaligus di sanalah Pak Nug, suami saya bertumbuh. Dari cerita-cerita Ibu itu saya semakin termotivasi dalam merayu Pak Nug agar mengajak saya ke sana.
Juli kemarin akhirnya saya ke sana lagi, bersama keluarga, bersama Bilgi, putra saya. Niatan awal memang ngajak Bilgi dalam rangka outing class, berkenalan dengan alam. Sampai di sana pun ia menikmatinya dengan udara yang sejuk cenderung dingin, antusias dengan air yang mengalir, bebatuan, pohon-pohon, payung warna-warni yang digantung di sepanjang jalan menuju air terjun dan tentu saja, bisa bertemu dengan banyak wajah baru.
Oh iya, tiket masuk lokasi air terjun Srambang ini sangat terjangkau yaitu Rp 15.000,00 dan jika menggunakan jasa ojek dari parkiran menuju pintu masuk Rp 5.000,00. Jadi total yang dikeuarkan Rp 20.000,00 per orang. Harga es teh manis juga masih normal Rp 3.000,00/cup, gorengan anget-anget fresh from wajan hanya Rp 500,00 itu pun dengan irisan yang besar. Masih ada menu-menu lain yang dari sisi harga juga masih sangat wajar. Masuk area air terjun Srambang juga diperbolehkan bawa bekal dan keramahan pun masih terasa sangat kental.
Setelah menikmati air terjun Srambang dengan wajah barunya, besar harapan saya maupun masyarakat pada umumnya semoga para penanggung jawab dan para pengunjung bisa saling mendukung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam serta menjaga fasilitas yang ada. Nyaman kan kalau berwisata di tempat yang bersih? Gimana? Jadi kapan kalian ke Ngawi?
Diskusi Perempuan dan Pendidikan Tinggi Bersama Neng Koala
Keluarlah dari zona nyaman. Sembilu yang dulu. Biarlah membiru. Berkarya bersama hati. Bergeraklah dari zona nyaman. ~Fourtwnty~
Saat pagi di tanggal merah kemarin, saya dan suami menjemur pakaian bersama dengan sebelumnya suami memutar lagu dari iTunes-nya. Sayup-sayup saya dengar kalimat di lirik lagu “keluarlah dari zona nyaman” yang dinyanyikan Fourtwnty. Bagi saya saat ini bukanlah masa yang bisa dianggap santai dengan ritme kehidupan yang dianggap wajar oleh orang pada umumnya. Sebagai istri sekaligus ibu tentu saja konstruksi pemikiran di masyarakat (dan teori pengasuhan) idealnya adalah fokus pada anak, suami dan urusan rumah tangga, sedangkan saya berada dalam fase di mana harus membagi fokus pada suami dan anak dengan segala macam tugas dan jurnal. Iya, saya berada di zona yang tidak nyaman, setidaknya begitu anggapan orang.
Dulu sekali, saya memiliki angan-angan ingin terus melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah dan memiliki anak. “Pasti akan menyenangkan”, begitu pikir saya waktu itu. Ketika suatu ketika saya mengungkapkan khayalan saya itu, hampir sebagian besar akan menjawab bahwa itu tidak mungkin atau sekadar ditanggapi ‘untuk apa sekolah lagi?’. Kemudian banyak yang menyarankan untuk sekolah dulu baru menikah dan punya anak.
Kemudian, takdir membawa saya berdiri di pelaminan terlebih dahulu dan suasana kehidupan pernikahan membuat saya (sedikit) terlena pada cita-cita. Memasuki tahun ke empat pernikahan sekaligus menanti buah hati yang ternyata belum mengisi rahim, akhirnya saya kembali memutuskan untuk belajar, melanjutkan sekolah lagi dengan harapan perjalanan belajar kali ini bisa menjadi jalan spiritual lebih dekat dengan-Nya dan dianugerahi buah hati. Akhirnya, proposal saya pada Tuhan yang sedikit memaksa itu dikabulkan. Mulailah saya memainkan peran ganda di fase baru kehidupan.
Januari 2017 adalah awal saya memiliki status baru sebagai mahasiswi di Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia. Satu bulan berselang, saya menyadari ada yang sedikit berbeda dari diri saya, sekitar bulan Maret saya memutuskan ke dokter kandungan. Ternyata saya sudah hamil dengan usia kandungan delapan minggu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan bagi orang-orang di sekitar saya, itu terlihat mudah bagi saya…haha.
Hamil muda dan kuliah lagi ditambah dengan perjalanan Bintaro-Salemba menggunakan commuter line sungguh menjadi hal luar biasa. Kehidupan yang drastis saya jalani, sebelumnya ritme kehidupan yang berjalan santai berubah menjadi ritme yang begitu cepat. Waktu terasa amat sangat berharga dan akhirnya benar kata kawan bahwa kehidupan Jakarta itu keras. Tantangan pada waktu itu adalah saya menyadari sering kontraksi saat di trimester pertama dan kedua. “Pegangan yang kuat ya Kak”, “Maaf ya Kak, ibuk belum bisa ngajak Kakak santai-santai, tiduran, atau tidur yang cukup”, “Kita sekolah ya Kak, semoga Allah menitipkan ilmu yang berkah untuk kita.” Hanya kalimat-kalimat itu yang terus menerus saya sounding pada bayi yang masih di rahim. Betapa bahagianya saya ketika saya mendapati tidak pernah absen di semester pertama dalam kondisi hamil muda.
Memasuki semester kedua perkuliahan dan saya sudah berada di akhir trimester ketiga bahkan H-2 sebelum melahirkan saya masih hadir di kelas. Selama masa kehamilan dengan ritme menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dalam angan meskipun tetap membahagiakan hingga datang waktu melahirkan yang saya jalani melalui operasi sesar. Saya tidak mengambil cuti perkuliahan, hanya memanfaatkan ijin tidak masuk kepada dosen dan administrasi di bagian akademik. Hari ketujuh pasca melahirkan sesar, ujian tengah semester dua datang menyapa dan saya tempuh jarak Bintaro-Salemba dengan commuter line demi ujian. Bisa? Alhamdulillah bisa dengan sangat menyakitkan…hahaha.
Kuliah bersama kelas besar atau antar peminatan
Hingga di sini, saya bersyukur bisa sekolah lagi dengan sebuah peran ganda menjadi mama dan mahasiswi. Allah Maha Tahu, jika saya sekolah terlebih dahulu di jenjang magister sebelum menikah dan punya anak, bisa jadi ritme kehidupan saya sama seperti ritme kehidupan di Jogja yang serba santai dan damai. Namun, kali ini saya bersyukur dan beruntung bisa mencicipi dua peran dengan perasaan macam naik roller coaster.
Ya, roller coaster kehidupan sebagai studentmom atau mamasiswa ternyata tidak semudah dalam khayalan. Tidak mudah menata waktu dan ego, bernego dan menjalin komunikasi, berdamai dengan diri, mengatur naik turun emosi, hingga menyeleksi komentar orang atas pilihan kita. “Ngapain sekolah lagi?”, “Fokus aja di rumah dan anak-anak, ngapain repot sekolah lagi, kapan senang-senangnya?”, “Udah nikah dan punya anak udah bukan waktunya sekolah lagi. Sekolah itu dulu sebelum menikah”, “Masa golden age anak itu sekali seumur hidupnya, kalau sekolah kamu ketinggalan dong ya?”, “Iya sih bisa sekolah lagi tapi kasihan banget sih anakmu.” Daaaan masih banyak yang lainnya. 😀
Bagaimana rasanya menghadapi komentar orang yang mengungkapkan fakta? Saya semacam menjadi perempuan yang nestapa dan dibanjiri rasa bersalah terutama pada anak dan suami. 😀 Di sisi lain, saya bahagia bahwa ternyata saya memiliki support system yang solid, good vibes dan positive people yang ternyata jauh lebih banyak. Salah satunya, saya menjadi bagian kecil bahkan seperti butiran deterjen dari sebuah komunitas bloger yaitu, BloggerCrony dengan prinsipnya adalah positive people dengan positive attitude yang memberi saya kesempatan hadir di launching buku Neng Koala yang berisi kisah-kisah mahasiswi Indonesia di Australia sekaligus diskusi bertemakan perempuan dan pendidikan tinggi di Aula Univeritas Binus tepat seminggu lalu (25/4). Dalam diskusi tersebut ada lima narasumber sekaligus penulis buku Neng Koala yang berbagi pengalamannya selama belajar di Australia dengan kondisi yang berbeda. Sharing pengalaman yang paling berkesan adalah ternyata saya tidak sendiri menjalani peran ganda sebagai mama dan mahasiswi yang pada waktu itu disampaikan oleh Mbak Adhityani “Dhitri” Putri, Alumnus Australian National University. Saya menyadari ternyata apa yang saya jalani masih tergolong ringan karena saya masih menjalaninya di Indonesia. *hoho*
Dalam tulisannya di buku Neng Koala, Mbak Dhitri menceritakan ada dua tantangan besar ketika melanjutkan kuliah di Australia sekaligus memiliki bayi dalam waktu yang bersamaan yaitu, mendapatkan tempat penitipan anak yang bagus dengan harga terjangkau dan membagi waktu dan perhatian antara kebutuhan si kecil, kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi dan suami. Yap, saya bisa saja memberi jawaban yang mudah dengan “planning” atau “direncanakan dong!” Eitttsss, tahan dulu memberi jawaban yang super mudah itu karena bagi yang sudah punya anak pasti tahu bahwa rencana sematang apa pun itu bisa kandas seketika. Anak bayi dan balita mana bisa disuruh mengikuti jadwal deadine tugas ibunya? Daaaaaan, saya sudah mengalami itu…wkwkwk rela ngerjain tugas dengan menggadai waktu tidur malam demi tugas kelar, masalah besok berangkat ke kampus sambil melek merem urusan besok, syukur-syukur kalau dapat tempat duduk di commuter line untuk sekedar merem sebentar. It is heaven in the earth,Moms! 😀
Selain tulisan Mbak Dhitri di buku Neng Koala, saya juga memiliki kesan khusus kepada Mbak Cucu Saidah yang memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasannya di mana segala aktivitasnya dilakukan di atas kursi roda, ternyata tidak menghalanginya untuk melanjutkan sekolah di jenjang master bersama suaminya yang sama-sama memiliki keterbatasan. Dari Mbak Cucu lagi-lagi saya diingatkan lagi bahwa bagaimanapun kondisi kita bukan menjadi penghalang untuk banyak kebaikan termasuk menjemput ilmu. Hal yang membedakan adalah adanya niat dan tekad yang kuat dan berani merealisasikannya.
Saat saya membaca lembar demi lembar kisah Neng Koala, saya juga menemukan tulisan berjudul “Merajut Mimpi Bersama: Kuliah Bareng Suami” yang ditulis oleh Mbak Melati, founder Neng Koala. Tulisan itu lagi-lagi menyemangati saya dari sisi yang lain tentang keinginan saya dan suami untuk kuliah bareng, bareng secara waktu dan universitasnya bersama anak kami tentu saja. Mimpi besar yang tinggi itu tentu saja tidak bisa diwujudkan dengan mudah. Namun, Mbak Melati berpesan dalam tulisannya bahwa niat kuat bahkan nekat dan optimisme adalah kunci terwujudnya mimpi serta selalu bersyukur atas pilihan yang telah diambil bersama. Yaa, saya pun sepakat.
Banyak kisah berharga untuk mengisi semangat dari buku Neng Koala dan ini berharga sekali untuk saya yang sedang menjalani peran ganda sebagai mamasiswa. Kisah-kisah Neng Koala sangat beragam, bisa dibaca oleh semua kalangan, tidak harus jadi mamasiswa dulu baru membaca Neng Koala kok! Bagi perempuan Indonesia yang enerjik, penuh semangat dan cita-cita tinggi pada pendidikan, buku Neng Koala ini bisa jadi daftar bacaan dan teman slonjoran…hehe. Saya tidak memungkiri bahwa setelah menjadi ibu kewajiban bertambah seolah waktu selalu kurang dan tidak memungkinkan untuk sekolah lagi. Bukan tidak mungkin, mungkin kok asal berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusan, semua itu tidak ada yang tidak mungkin tergantung kita berani atau tidak mengambil kesempatan untuk keluar dari zona nyaman. Ohya, selain para perempuan, buku Neng Koala juga bisa dibaca oleh para laki-laki agar bisa memiliki gambaran tentang dunia perempuan dan pendidikan tinggi.
Selesai membaca Neng Koala secara paripurna, saya memilih untuk tetap bersyukur dan bahagia menikmati roller coaster kehidupan sebagai mamasiswa.
Waaaah, ternyata sudah sangat lama saya nggak post-post di blog ini yaaa… 😀 Kenapa? Ya, saya usahakan untuk nulis pembenaran-pembenaran kenapa absen begitu lama di dunia per-blog-ingan. InsyaAllah, next post ya… ^^
Well, kali ini saya akan berbagi kesan di akhir pekan yang dingin-dingin manja karena selepas hujan di luar sana. Malam akhir pekan kali ini saya berkunjung ke Salihara. Kesempatan yang membahagiakanlah ya untuk saya, setelah kemarin selama tiga hari ngentheng-ngenthengi (biasanya ini terjadi pada bayi yang mulai aktif dan bertambah pintar kalau kata orang Jawa). Saya terus-menerus pooping itu berarti tempat saya beraktifitas nggak bisa jauh-jauh dari kamar mandi, saya tidak sedang diare maupun sakit perut. Entah kenapa saya ngentheng-ngenthengi, bisa jadi saya akan bertambah pintar. *hahaha*
Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.
Untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Salihara dan untuk pertama kalinya juga saya menyaksikan pertunjukkan harpa. Pak Nug mengahadiahi saya saturday dating dengan menonton pertunjukkan harpa oleh Irina Pejoska dari Serbia, kurang romantis bagaimana lagi, iya nggak? Irina Pejoska, ia masih sangat muda, berusia lima belas tahun dan sudah sangat piawai memainkan alat musik harpa yang ukurannya nggak main-main, yang jelas harpa itu lebih tinggi dari saya 😀 Dalam pertunjukkan tersebut, Irena menyajikan sembilan lagu dan bonus satu lagu di akhir pertunjukkannya. Sedikit informasi tentang Irina Pejoska, ia menekuni biola di sekolah musik Mokranjac, Serbia kemudian beralih ke bidang harpa di sekolah musik Stanković di negara yang sama. Ia pernah memenangkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, serta tampil di beberapa acara yang diadakan di Kolarčeva Zadužbina (Serbia), di ballroom Matica Iseljenika i Srba u Regionu (Serbia) dan di galeri Cultural Centre Pančevo (Serbia). Selain itu, ia pernah dibimbing langsung oleh pemain harpa unggulan dunia.
Pertunjukkan dimulai tepat waktu, pukul 20.00 WIB dan ini sangat-sangat keren bagi saya atas nama penghargaan terhadap waktu. Semua kursi Hall Salihara pun terisi penuh. Namun, kami sebagai penonton tidak diperkenan untuk merekam atau memotret selama acara berlangsung karena suara atau cahaya akan mengganggu jalannya acara. Biar kita-kita pada fokus! Yaah, gak bisa eksis di media sosial dong? Tenang, panitia memberi solusi bahwa diperkenankan untuk mengambil gambar di akun media sosial Salihara. Sebelum dan selepas acara tetap diperbolehkan untuk cekrak-cekrek kok… ^^
Ohya, di Salihara banyak menawarkan acara-acara bagus, menurut saya ya… Jadi bisa jadi pertimbangan untuk mengisi akhir pekan atau bingung mau ke mana selain nge-mall… 😀
Dok. Pribadi
Saya sebenarnya nggak paham betul dengan permainan alat musik harpa, saya hanya sebatas penikmat saja dan yang paling penting adalah dengan siapa kita menikmatinya, iya kan? iya kan? 😀
Ini cerita akhir pekan saya, apa cerita akhir pekan kalian? dan dengan siapa kalian menikmatinya?
Sabtu (4/3) yang lalu saya memiliki kesempatan untuk belajar quilting bersama Kriya Indonesia di Museum Tekstil. Workshop tersebut memiliki tajuk Let’s Learn How to Make Pillow Cover yang diikuti oleh beberapa blogger. Bagi saya, Quilt Workshop adalah kegiatan pertama kali bagi saya setelah tiga belas tahun tidak saya lakukan. Benang, jarum, dan kain terakhir kali saya belajar menjahit saat sekolah menengah pertama. Jadi, saat saya mendapat email bahwa saya menjadi salah satu peserta, saya girang dan berangkat dengan langkah ringan. ^^
Apa itu Quilting?
Ini salah langkah…hehe (dok. pribadi)
Nah, sebelum saya berkisah proses saya menjahit sarung bantal yang ternyata tidak mudah bagi saya, sebaiknya saya kenalkan lebih dulu tentang quilting. Menurut saya, quilting bagian dari jahit-menjahit namun menggunakan sense of art untuk menggabung-gabungkan potongan kain dengan dua atau lebih pola yang berbeda agar tercipta motif baru yang lebih unik. Tiap potongan kain ini digabungkan dengan menggunakan tusuk jelujur agar semua sisinya terlihat sama dan rapi.
unyu kan? ^^ (dok. pribadi)
Sebelum memulai quilting membuat sarung bantal, langkah pertama adalah mengumpulkan niat dan tekad *haha ^^v, becanda dikit ya. Langkah pertama adalah menyiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Bahan yang dibutuhkan adalah kain yang berbeda motif, bisa polos kombinasi motif atau motif kombinasi motif yang berbeda. Alat-alat yang digunakan juga mudah didapatkan di antaranya ada jarum pentul, gunting, setrika, dan mesin jahit. Waah, ribet ya…! Eitts, tunggu sebentar, ini yang paling menyenangkan, saya sama sekali tidak menyiapkan bahan atau alat-alatnya apalagi sampai nenteng-nenteng mesin jahit punya ibu saya yang di rumah. Jelas nggak! Kain-kain yang diperlukan beserta alat-alat sudah disiapkan oleh panitia dari Kriya Indonesia. Kain yang digunakan dari textilezy, sebuah ‘istana’ bagi penyuka kain dengan motif yang lucu-lucu dan berkualitas, kalau kata Mbak Dewi “Dee” Lestari ‘malaikat juga tahu siapa yang jadi pemenangnya’. Textilezy merupakan situs ecommerse textile pertama yang memudahkan pembelian secara online dan menjadi pioner textile online pertama di Indonesia, berbasis teknologi modern, bersistem, dan berintegritas. Tak hanya itu, Kriya Indonesia juga memanjakan para peserta workshop dengan menyediakan alat-alatnya termasuk Mesin Jahit Brother GS 2500 dengan penampilannya yang asik pinky-pinky manja, bagi saya yang baru pertama kali memakai mesin jahit elektrik Brother GS 2500 ramah di telinga dan cukup mudah digunakan, cara memasang benang atas dan bawah juga mudah.
Itu tuh sepatunya, untuk menjepit kain. Biar kainnya gak lari-lari kaya kamu 😀 (dok. pribadi)
Ohya, tentang Mesin Jahit Brother GS 2500 ini bagi saya berkesan, di samping membuat quilting sarung bantal, saya juga sempat mencoba beberapa jenis jahitan yang ada di mesin jahit ini yang jumlahnya 25 jahitan, seperti jahitan variasi seperti jahitan gelombang yang bisa mempercantik tampilan baju atau kreasi serta jahitan khusus untuk lubang kancing. Jadi jahitan yang dihasilkan tidak hanya jahitan lurus saja. Pengaturan kerapian pun juga cukup terjamin karena Mesin Jahit Brother GS 2500 memiliki sepatu dengan jenis sepatu yang tersedia dengan fungsi masing masing yang berbeda. Ada sepatu standar untuk menjahit lurus dan variasi, ada sepatu untuk memasang resleting juga sepatu untuk membuat lubang kancing. Nah, untuk menganti ganti sepatu ini kita hanya tinggal menekan bagian atas sepatu untuk melepas dan menempelkan sepatu yang akan dipasang. Gampang banget kan, gak perlu pakai obeng segala. Sepatu ini apa sih? Sepatu yang saya maksud ini bukan sepatu alas kaki ya, tetapi alat yang digunakan untuk menjepit agar kain tidak lari saat proses menjahit. Alasan disebut sepatu karena bagi saya bentuknya memang mirip sepatu.
Ini karya tangan saya, pola yang terbentuk seharusnya seperti kincir. Saya salah langkah tapi anggap aja itu hasil imajinasi bukan plagiasi #eh 😀 (dok, pribadi)
Overall, bagi saya quilting itu menyenangkan termasuk bagi saya yang bukan termasuk golongan perempuan yang telaten *haha. Usai ikut workshop quilting, saya berharap agar saya punya tekad kuat dan ada hidayah yang turun dari langit agar bisa melakukan quilting lagi di rumah. Quilting juga bisa dilakukan tanpa mesin jahit kok, yap, pakai jahit tangan tetap bisa. Namun, kalau ada rejeki boleh bangetlah punya Mesin Jahit Brother GS 2500 di rumah. Nggak nolak! 😀
Selain bisa belajar quilting ada dua hal yang tak boleh ketinggalan untuk diceritakan yaitu, saya bisa makan lontong pecel yang rasanya sama dengan pecel Madiun dan kunjungan ke Museum Tekstil yang benar-benar terwujud karena sebelumnya hanya menjadi rencana dan wacana bagi saya.