Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Mana Yang Lebih Berat, Naik Gunung Atau Naik Pelaminan?

MP : “Aku mau naik gunung.”
S     : “Nggak ngajak aku? Gunung mana?”
MP : “Belum tau, emang mau?”
S     : “Hmm, jangankan naik gunung, diajak naik pelaminan aja aku mau.”

Yah, itu adalah sepenggal percakapan saya dan Mas Partner sekitar akhir Juli atau awal Agustus 2015. Saat itu belum ada rencana gunung mana yang akan didaki. Masih sebatas wacana yang seringnya take it easy. 😀

Agustus menjadi bulan di mana saya nostalgia tentang momen bersejarah, momen peralihan status dari lajang menjadi istri orang, momen serah terima tanggung jawab dunia akhirat dari ayah kepada lelaki langit pilihan Allah. Sebenarnya, saya dan Mas Partner bukan tipe yang harus ada ritual apalah-apalah. Namun, Agustus 2014 di tahun pertama kami menghabiskannya dengan menginap di pantai demi memburu milky way, apalah daya, perhitungan kami meleset. Agustus 2015, di tahun kedua akhirnya terealisasi dengan nuansa gunung. Ya, naik gunung. Gunung Ungaran.

Gunung Ungaran terletak di kabupaten Semarang, daerah Ambarawa dengan ketinggian 2.050 mdpl. Tidak terlalu tinggi bagi yang sudah profesional atau terbiasa naik gunung, tapi bagi pemula seperti saya, that is unspoken, guys! Saat itu, jalur yang kami lewati dari pos mawar, letaknya di atas umbul sidomukti. Bagi yang berminat naik gunung Ungaran, bisa dicek untu jalur pendakiannya di sini, karena ada beberapa jalur pendakian.

Persiapan 

Masa persiapan ini bagi saya bisa dikategorikan sangat singkat. Bukan hanya mempersiapkan peralatan-peralatan dan bahan makanan untuk bertahan, tetapi juga mempersiapkan fisik dengan olahraga dan persiapan mental, lebih persiapan etika saat naik gunung. Yaaa, semacam memantaskan diri untuk bisa menuju puncak, meski realitanya tidak bisa sampai puncak karena kebakaran.

Masa persiapan ini penting, seperti halnya mempersiapkan peralatan yang akan dibawa. Bagi pendaki yang rutin naik gunung, memiliki tenda, kompor, matras, sleeping bag dkk adalah hal wajib. Nah, karena Mas Partner suka naik gunung tapi tidak rutin jadilah untuk tenda kami harus searching di dunia maya outlet yang menyewakan tenda dom. Alhamdulillah, sleeping bag, matras, carrier sudah siap tinggal bongkar lemari. 😀

Persiapan lainnya, yaitu persiapan fisik dengan olahraga. Jogging hampir tiap hari, push up, sit up, dan bersepeda. Paling sering sih jogging. Lanjut dengan persiapan mental. Saya memaknai persiapan mental ini lebih kepada persiapan untuk mentadabburi ciptaan Allah, mensyukuri kehadiran alam yang indah, menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan atau pura-pura lupa dengan sampah yang ditinggal begitu saja, lebih jauh lagi memaknai perjalanan naik gunung itu sendiri.

Naik-Naik Ke Puncak Gunung

Well, setelah semua persiapan mencapai 100%, ayoooo angkat carrier! Ternyata oh ternyata, naik gunung itu tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saat berangkat, medannya tentu saja menanjak. It has made me hard to breath. It really has. Saat itu pun punggung saya tidak terbebani dengan barang bawaan, semua barang-barang dalam carrier ada di punggung Mas Partner, ia yang mengambil alih. Sudah pasti jauh lebih berat daripada saya, but he always make sure that everything will be fine for me, for us. Jalan yang ditapaki pun tak selalu mulus, nggak ada jalan aspal ya 😀 ada bagian yang berbatu, berpasir, berdebu, berselimut daun-daun yang gugur, dan ada yang sedikit terjal. Ada kalanya sampai di titik di mana disuguhi pemandangan yang memanjakan dan ada kalanya ada pemandangan yang menyuguhkan sedikit rasa takut dengan pohon-pohon yang rimbun, semak, rumput-rumput yang tinggi atau bahkan suara-suara khas rimba.

Saat telah sampai di tempat camping, ada semacam pembagian tugas meski tidak terang-terangan ‘ini tugasmu dan ini tugasku’ melainkan sudah paham dengan tugas masing-masing. We are a solid team. 

IMG_5107 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi

Tidur dalam tenda di alam terbuka, walaupun sudah ada sleeping bag tapi kerasnya tanah yang kena punggung juga gak bisa menipu. Jelas beda empuknya kasur di rumah dengan saat camping. Di sisi lain, inilah kehidupan, ada masa perlu mencoba hal-hal luar biasa untuk berbagi rasa. Menjemput makna dan memaknai setiap detik yang ada.

Bagi saya, hal yang paling susah adalah keberadaan kamar mandi. Pagi hari saat matahari mulai naik dan usai sarapan, untuk bertemu kamar mandi harus berjalan selama 1,5 jam dengan kecepatan ala saya hingga desa terdekat. Itu rasanya luar biasa. Teringat sore sehari sebelumnya, Mas Partner dan satu sahabat perjalanan kami harus menempuh jarak yang jauh untuk bisa mendapatkan air.

Perjalanan Pulang

Jika saat berangkat, medan yang dilalui menanjak maka saat turun jalan yang dilalui adalah tapak-tapak menurun. Terlihat mudah tapi juga tidak kalah berat. Berat menahan beban badan. Benar-benar harus ekstra sabar. Ditambah dengan debu yang makin beterbangan tanpa bisa dikendalikan serta terik yang lumayan. Semuanya tetap menyenangkan hingga sampai pos terakhir.

Proses perjalanan pulang, bukan hanya membawa barang-barang yang dibawa saat naik, namun juga saya, Mas Partner, dan dua sahabat saya juga membawa sampah yang ditinggalkan di sekitar area camping. Bahkan beberapa papan petunjuk dan pohon tumbang dengan posisi melintang juga menjadi korban tangan-tangan jahil. Di sini, kita diuji agar bisa menahan diri agar tidak merusak tetapi kita diberi tantangan untuk menahan diri dan sekuat tekad untuk menjaga dan merawat alam kita.

Tentang Naik Pelaminan

Memang terlihat berbeda sekali antara naik gunung dan naik pelaminan. Naik pelaminan itu mudah bagi tamu undangan, bagi pengantin perempuan agak susah-susah gampang jika memakai jarik :D. Eits, bukan naik pelaminan yang itu yang saya maksud. Naik pelaminan secara semiotik yang saya pikirkan. Naik pelaminan bagi dua insan yang memutuskan untuk menggenap separuh agama bagi saya adalah sebuah keputusan yang besar. Ada masa persiapan untuk sebuah tujuan memantaskan diri atas tanggung jawab yang akan dijalani. Banyak bekal yang harus dipersiapkan yang itu tak hanya soal materi.

Pernikahan yang tidak hanya antara 2 anak manusia, tetapi tentang menyatukan dan mengkeluargakan dua keluarga besar yang (mungkin) memiliki latar belakang yang (sangat) berbeda. Ada tanggung jawab, kewajiban, hak, dan tugas. Memahami bahwa rumah tangga adalah sebuah tim, harus bisa membangun kerjasama atau hal-hal yang besar lain.

Pernikahan juga merupakan proses saling memahami karakter pasangan. Jika saya, saya dihadapkan dengan seorang yang iriiiiiiit sekali bicara, romantis dengan kata-kata pun bisa dihitung tapi memiliki cara untuk romantis yang seringnya saya lewatkan. Lama-lama pun saya menyadari memang begitu cara Mas Partner beromantis. I love you just the way you are, Mas Partner. 😀

IMG_5124 (FILEminimizer)*dokumentasi pribadi dengan caption “Point of View in Life”

Dalam sebuah obrolan, teman saya pernah bilang bahwa jika ingin mengetahui karakter orang apalagi orang yang mau hidup dengan kita, ajaklah naik gunung. Dia akan banyak mengeluh, diam, optimis atau akan bagaimana reaksinya. Jika saat naik gunung saja dia banyak mengeluh, bagaimana saat (setelah) naik pelaminan dan melanjutkan menjalani hidup bersama? Ya, masuk logika pernyataan teman saya itu. *haha.

Pesan saya sih, jangan takut naik pelaminan. Niat baik akan menemukan jalannya dan akan lebih banyak lagi pintu-pintu kemudahan yang terbuka lebar-lebar.

Nah, setiap pertanyaan butuh jawaban: mana yang lebih berat, naik gunung atau naik pelaminan?

 

 

Perahu Kertas: Tentang Pertemuan Radar Neptunus Teman Masa Kecil

Hello, setelah beberapa hari tidak berotasi di dunia blogging. Hari ini saya memantapkan diri menulis tentang buku terbaik yang pernah dibaca sebagai tugas tema yang harus ditulis di One Day One Post (ODOP) minggu lalu.

Bicara tentang menulis pastilah tidak akan lepas dari aktifitas membaca, iya kan? iya kan? Emang iya. Menulis dan membaca adalah pasangan terbaik sepanjang masa 😀

Bagi saya, salah dua kebahagiaan adalah membaca dan buku. Dibandingkan dengan belanja baju yang notabene saldo di rekening akan jauh lebih aman, maka tidak akan berlaku ketika saya pergi ke pameran buku dan toko buku, entah offline ataupun online. Saldo jaraaaaaaaaang sekali aman. Tidak hanya saya, Mas Partner juga. 😀
Apalagi Mas Partner pernah bilang, “Lebih baik disimpan dan nggak tau bacanya kapan, daripada pengen baca tapi nggak ada bukunya.” Sedangkan saya punya prinsip, “Lebih baik nyesel beli daripada nggak beli.”

Nah, jika diminta untuk memutuskan buku apa yang berkesan adalah hal paling sulit untuk diputuskan. Semua buku yang pernah saya baca memiliki kesan yang mendalam sedalam lautan dan kebanyakan adalah karya non-fiksi atau novel. Salah satunya adalah Perahu Kertas. Cerita dalam Perahu Kertas seakan mewakili cerita menuju pernikahan antara saya dan Mas Partner. Kami sudah kenal sejak kelas kelas 5 SD tetapi tidak pernah 1 sekolah dan sangat jarang bahkan tidak pernah bertemu, saya pun lupa pernah mengenalnya. Bukan jahat ya :D. Cerita selengkapnya mungkin bisa di postingan berikutnya. Ya, seperti halnya Keenan dan Kugy dalam kisah tersebut yang bertemu lalu berpisah tidak bertemu untuk sekian lama, namun akhirnya takdir melalui radar neptunus membawa mereka bertemu kembali.

IMG_5773*dokumentasi pribadi

‘Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh’ ― Dee Lestari, Perahu Kertas

Kisah saya tidak hanya berhenti sekedar cerita yang sama. Quote yang ada di beberapa bagian pun juga nancep di salah satu kisah dalam sejarah hidup saya.

“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.”
Dee Lestari, Perahu Kertas

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”
-Nasihat Poyan pada Keenan suatu hari”
Dee Lestari, Perahu Kertas

Ketika saya dan pihak keluarga Mas Partner menemukan dan menyepakati tanggal pernikahan lalu kami sibuk mencari desain undangan akhirnya Mas Partner membuat desain sendiri dan menambahkan lirik lagu Perahu Kertas dalam undangan kami yang sebelumnya meminta izin pada Mbak Dee dan beliau meresponnya dengan sangat baik dan memberi izin selagi tidak dikomersilkan.

 

12422337_1563924530308026_1585078419_o*kiriman dari teman

Nah, setelah desain jadi kami dibantu teman-teman ayoknikah dalam penyempurnaan undangan yang sudah disesain sebelumnya oleh Mas Partner. Bagi teman-teman yang sedang membutuhkan referensi undangan pernikahan silakan klik ayoknikah. Bukan promosi ya, hanya berbagi info. ^^

Selain kisah cintanya, saya menyukai tokoh Kugy yang bagi saya seperti ada kesamaan seperti suka menulis dan jurusan kuliah. *nggaknyambungsih. Overall, novel Perahu Kertas bagi saya adalah salah satu bahagia dalam hidup, ketika saya membacanya saya seakan diajak kembali bernostalgia akan sisi unexpected dalam hidup yaitu nasib jodoh saya. Di kesempatan lain, saya juga akan menulis novel yang berkesan dalam sisi kisah kehidupan saya yang lain. ^^

Hello!

Seperti yang tertulis di tagline blog ini “Si Kecil, Pemimpi Besar” itu sudah sebagian mewakili tentang saya. Saya ini kecil tapi berisi, semoga otaknya juga berisi dengan wawasan-wawasan yang semakin bertambah *aamiin* dan saya ini pemimpi besar, saya hanya memanfaatkan yang kata orang bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang, jadi saya juga berkompetesi dengan yang lain untuk membangun mimpi. 😀
Ohya, tak kenal maka mari berkenalan, agar makin paham makin sayang 😀

Alamat blog ini menggunakan nama tengah saya dan nama depan saya ada di kata kedua dari header blog ini. Yap, Cindi Riyanika itu nama saya yang belum lengkap. Saya kelahiran Tulungagung, tumbuh di Ngawi, lalu masa SMA (MAPK MAN 1) di Solo lanjut kuliah di Jogjakarta (UGM), kota Never Ending Asia. To say proudly, I love my life, Alhamdulillah.

Saya ingin sekali jadi orang baper, bawa perubahan dan suka sekali denger cerita atau curhatan-curhatan yang baper, bawa perasaan (pake banget). Saya termasuk orang yang cerewet tetapi juga good listener, karena dari banyak mendengar saya bisa belajar dan tahu pengalaman-pengalaman yang telah dilalui oleh orag lain. Setiap kejadian yang kita alami belum tentu dialami oleh orang lain kan?

Hobi mendengarkan yang saya punya beda ya sama nguping *haha, kebanyakan sih dalam bentuk curhatan ke saya, karena saya tipe pelupa dan saya hanya manusia yang banyak lupa, setelah jadi tempat curhat saya sering lupa kalau si A, B, hingga Z pernah cerita sama saya, atau lebih sering terjadi kecelakaan saat dengerin curhat, saya ketiduran. 😀 Lalu apa hubungannya dengan hobi saya yang lain yaitu menulis? Tentu saja ada, dari mendengar banyak hal itu saya bisa kedatangan ide yang tidak terduga, punya inspirasi sekaligus akan saya pilah-pilah untuk diambil saripati yang terbaik. Saya suka menulis, malah sudah bisa disebut itu cinta. Saya mulai serius belajar menulis dari SMA karena saat itu ekstra kurikuler tiap sabtu ada pelatihan menulis dari FLP Solo. Namun, faktor X yang saat itu dominan karena ada mentor yang good-looking *haha*ups, itu kisah jaman SMA.

Bukti keseriusan saya pada menulis, saya buktikan terutama pada diri saya sendiri saat memenangkan lomba menulis se-Surakarta pada tahun 2006 dan juara harapan 1 pada tahun 2007. Berlanjut diamanahi sebagai pimpinan redaksi buletin sekolah dan bendahara majalah sekolah. Saat di Jogja, saya anggap diri saya ini rajin mengikuti pelatihan kepenulisan, ikut lomba ini itu, dan akhirnya diajak bergabung dengan tim redaksi MiniMagz (sekarang bernama Inspire) sejak saat itu saya makin serius belajar dan menemukan secuil bahagia ‘it is my world’.

Menulis mengantarkan saya bertemu banyak orang dengan beragam pengalaman dan pendidikan serta mengantarkan saya jalan-jalan. Pada bulan Mei 2015, melalui seleksi essai (dalam bahasa Inggris) dan CV saya terpilih sebagai salah satu successful applicant untuk mengikuti Smart Living Challenge (SLC) 2015 yang diselenggaraan Kedutaan Swedia yang bekerjasama dengan IKEA, selama acara berlangsung didampingi Dubes Swedia dan Manager IKEA, foto ada di sini. Menulis mengantarkan saya jalan-jalan ke Semarang di acara Youth Media Festival pada bulan Oktober 2015 serta mengantarkan saya jalan-jalan ke Purwokerto dalam acara international conference dalam bidang sastra, bahasa, dan budaya di Universitas Jenderal Soedirman, saat itu saya terpilih sebagai presenter yang mempresentasikan makalah di sesi diskusi panel. Pada bulan Februari, melalui menulis seharusnya saya bisa bertemu dengan ibu menteri pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka penyerahan hadiah lomba, sayangnya saya melewatkannya karena pemberitahuan yang mendadak dan saya sedang tidak di Jakarta. Anggaplah belum rejeki. Menulis juga mempertemukan saya dengn orang-orang hebat di One Day One Post dengan semangat luar biasa dan tulisan-tulisan yang kaya. Semoga bisa makin cinta dengan menulis dengan terus mengasah kemampuan karena menulis adalah keterampilan yang harus dilatih bukan sekedar teori saja. Jadi mari semangat praktek menulis!

Semakin lama, menulis seakan menjadi kebutuhan seperti halnya membaca dan fotografi bagi saya. Eh iya, saya juga suka fotografi dan alhamdulillah, teman saya EOS telah hadir sejak tahun 2012. Fotografi, dunia publishing, blogger, dan content writer yang saya tekuni secara serius sejak 2012 hingga sekarang seakan memberi gambaran siapa saya, dunia saya, dan cinta saya. Saya juga sedang belajar menekuni dunia copy-writing. Writing is unspoken conclusion. Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata bahkan saya mengalami dilema untuk menentukan program kuliah yang akan saya ambil. Punya mimpi mendirikan komunitas online di dunia menulis khususnya museum dan mimpi bisa kuliah di program Book and Digital Media dan semoga Allah mengijabah kedua mimpi saya ini (yang berkaitan di dunia menulis).

Yap, inilah sedikit tentang saya dan I say proudly, Hello! to all of you. ^^

 

20.000 Kata Yang (Tak) Sia-Sia

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang berlalu-lalang di beranda Facebook  yang dalam artikel tersebut dikatakan bahwa wanita harus mengeluarkan 20.000 kata setiap hari untuk menjaga kestabilan emosi. Saya rasa memang iya sih, ada benarnya juga. Meski bukan pembenaran bagi saya yang nyata-nyata memang cerewet.

Nah, memanfaatkan artikel yang saya baca itu, saya selalu mengadakan ‘presentasi’ di depan Mas Partner, apa pun bisa jadi bahan, bukan ngobrol ya, tapi saya yang ‘presentasi’ kaya salesman yang lagi nawar-nawarin produk dengan semangat membara *agak lebay…haha. Tanggapan Mas Partner? Diam aja. Iya, diam aja! Bagi saya, one of precious moments adalah ketika partner saya itu bicara panjang lebar dengan banyak kata dan kalimat-kalimat. Bicaranya berbobot bikin saya terpesona dan takjub bahwa ternyata bisa bicara buanyaaaaaaaaak.

Seringnya, saya ‘presentasi’ itu justru bikin polusi suara dan meminta saya untuk membuang 20.000 kata tiap hari itu untuk speaking IELTS. Awalnya, hanya saya iyakan dan tetap pada pola lama. Namun, baiklah saya mulai mencoba membuang 20.000 kata untuk latihan speaking IELTS.  Ngomong depan tembok, cermin, TV, buku-buku atau saya rekam dengan HP, diputar, hapus, rekam lagi, dengar lagi, begitu seterusnya hingga 20.000 itu terbuang.

Saya pikir, itu jauh lebih bagus daripada membuang 20.000 kata melalui ghibah, ngomongin yang gak penting, ngoreksi orang lain, kritik sana kritik sini, apalagi untuk ngomel-ngomel. Setelah memiliki pola baru, itu akan tetap saya pertahankan, selain sebagai latihan untuk tes IELTS yang harus dilalui dan diselesaikan (karena harus memperbarui sertifikat) juga bagus untuk melatih kelancaran dalam berbicara atau menaikkan level percaya diri ketika berhadapan dengan orang.

Jadi, buanglah 20.000 ribu katamu pada tempatnya karena tidak hanya sampah yang harus dibuang pada tempatnya dan tetaplah bijaksana sangat membuangnya. ^^

2016 & ‘One’ Projects

Anggaplah bulan Februari ini rasa Januari di mana banyak orang menulis semua target-targetnya di tahun 2016. Bukan ngeles yaaa…*haha. Nah, tahun ini pun saya juga ingin menuliskan apa target saya atau biasanya yang disebut resolusi, karena tahun-tahun sebelumnya saya sangat malas dan (sedikit) menyepelekan mengapa target harus ditulis. Cukup diingat-ingat saja, sok-sokan kalau memori otak penuh dengan keterbatasan.

Target tahun 2016 ini, saya ingin memulainya dengan ‘One’ sebagai awal nama proyek-proyek pribadi atau sesuatu yang ingin saya capai.

One Day One Juz

Sebenarnya saya bergabung dalam komunitas ini sudah sangat lama, bisa dibilang ketika awal-awal group ini mulai diperkenalkan kepada khalayak. Parahnya, hanya bertahan satu saja karena member  group yang jarang konsisten lapor disebabkan banyak alasan hingga akhirnya saya ganti no WA dan ganti HP, totalitas sekali bukan?*hehe

Lalu, saya move on ke One Day One Page bersama teman-teman relawan rumah tahfidz PPPA Daqu Jogja. Takdir group ODOP juga tidak bertahan lama, kenapa? Alasannya tetap alasan klasik. Ya sudah, saya pasrah.

Ikhtiyar saya selanjutnya adalah tetap menjaga kekonsistenan tilawah dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa itu adalah sebuah kebutuhan bukan sekedar kewajiban lapor bahwa sudah selesai tilawah. Keberadaan group tilawah hanyalah sebagai penyemangat di luar diri sendiri. Ditambah doa semoga bisa berada dalam group tilawah yang anggotanya punya semangat luar biasa. Daaaaaaan, pada November 2015, saya ditawari kakak, sebut saja Mbak Lan begitu saya memanggilnya, menawari saya untuk masuk ke groupnya. Tanpa pikir-pikir dan jual mahal, saya iyakan.

Seperti dalam lagunya Opick, berkumpul dengan orang-orang saleh. Cieeeeeee…. Selain masuk group, saya juga membuat tabel ‘Absensi Pribadi’ dengan dua tabel: Mas Partner dan Dek Partner. Tujuannya, sebagai pengingat kebutuhan akan tilawah dan sebagai evaluasi bulanan seperti apa grafik tilawah masing-masing. Agar kebiasaan baik terbentuk, maka juga harus dibiasakan tiap hari dari sekarang. Karena surga bukan sekedar angan, tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Iya kan? Iya kan? 🙂

One Day One Post

Ini bagian dari proyek idealisme. (Masih) terlihat susah, tapi tetap akan diusahakan seserius mungkin. Selama ini alasan yang membuat blog ini sering kosong adalah rasa malas ‘ah, nanti aja.’ lalu tak terasa hari berganti dan ide pun pergi. It is not a big deal! Maka dari itu, saya pun bertekad untuk terus mengatur waktu agar bisa mewujudkan target yang satu ini. Semoga banjir ide daaaaaan nggak malas. Aamiin.

Menulis bersifat mengikat dan menebar manfaat. Ya, daripada gosip sana sini lebih baik nulis aja di blog. Iya kan? Kalau menulis adalah jalan menjemput rejeki ya itu bonus. Tulisan besar lahir dari tulisan-tulisan sederhana, serpihan-serpihan gitu. Menulis bagian dari skill yang butuh dilatih tiap hari. Perlu belajar tanpa henti.

One Week One Review

Nah, proyek yang satu ini sudah lamaaaaa sekali dalam angan. Lagi-lagi alasannya belum sempat *hiks. Semoga bulan ini, di minggu ini meski udah weekend, bisa dimulai dan benar-benar perpampang nyata. Punya blog review buku seperti punya Mbak Ziyy di sini yang udah jadi inspirasi dari dulu kala.

Proyek ini juga berarti bahwa setidaknya, dalam satu minggu harus baca minimal satu buku, ya novel gitu deh. Karena tidak mungkin ada review (punya sendiri) tanpa baca lebih dulu. Iqra! Iqra! Iqra!

One Month One Museum

Tahun lalu, saya punya ide untuk punya blog khusus tentang museum yang saya kunjungi sekaligus sebagai promosi atau ajakan bagi orang-orang khususnya kawula muda agar berminat dan semakin tertarik untuk mengenal dan berkunjung ke museum. Yah setidaknya, agar museum makin ramai pengunjung. Proyek ini saya namai Dolan Museum. Sementara ini masih sekedar foto-foto saja di akun pribadi instagram saya. Rasanya gatel ingin segera menuliskannya di blog, tetapi saya masih memiliki kebingungan dan masih krisis rasa percaya diri. Semoga bisa segera launching blog ‘Dolan Museum’.

One Year One Loving Cup

12654653_949522088463112_2766261436437902179_n

Tahun 2015 kemarin, saya tutup dengan satu piala, meskipun piala dan piagam penghargaannya diserahkan baru tanggal 1 Februari 2016. Desember 2015, keberuntungan dari Allah, nama saya masuk di barisan pemenang (hanya) Juara Harapan 1 Lomba Menulis Karya Tulis Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh KOWANI yang bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Piala, piagam, dan hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Menteri, Yohana Yembise.

Proyek ini saya adakan karena saya ingin menantang diri saya sendiri untuk mengalahkan bisikan-bisikan negatif dan ingin memberi yang terbaik untuk diri saya. Ingin lebih produktif lagi, lagi, dan lagi. Piala yang terkumpul nantinya ingin saya tunjukkan pada anak saya dan semoga bisa menjadi inspirasi sekaligus semangat bagi anak-anak. Hingga di titik ini, hal yang membuat saya semangat belajar dan mengumpulkan pengalaman adalah karena kalimat: kecerdasan seorang anak diturunkan langsung dari ibunya. *maap kalau gak nyambung…haha

Jadilah kalimat itu sebagai penyemangat saya dalam menjemput ilmu (berijazah maupun tak berijazah), menjadi ibu cekatan dan produktif.

 

Yap, itulah empat proyek besar saya (secara umum). Semoga bisa konsisten dan memenuhi komitmen pribadi. Semoga bisa jadi ide yang bermanfaat untuk ditiru dengan senang hati silakan. Semoga bermanfaat ^^

Bijak Menempatkan Jawaban Googling Aja

Ceracauan saya kali ini (setelah tepat satu tahun vakum) terinspirasi dari obrolan salah satu group kesayangan di WA. Saya bahkan sudah lupa tepatnya kapan tercetus “Googling aja” atau “Googling dong!” setiap ada salah satu di antara anggota group yang bertanya dan itu terbawa hingga sekarang. Adakah yang salah dengan jawaban “Googling aja”? Oh, tentu saja tidak, hanya saja sensasi dari jawaban itu yang berbeda dalam penerimaan tiap-tiap individu.

*Koleksi pribadi
*Koleksi pribadi

Oke, kemajuan teknologi sekarang ini benar-baner memberi pengaruh besar dalam kehidupan bagi sebagian besar orang-orang yang memang sudah melek pada teknologi. Banyak perangkat yang bisa dengan mudah terhubung dengan internet di mana pun dan kapan pun kita mau. Setiap tanda tanya dalam pikiran akan bisa ditemukan dalam sekali atau dua kali klik. Bertanya pada Google dengan hanya mengetik keyword  daaaan banyak pilihan yang ada di depan mata seperti memilih menu makan di rumah makan…haha..

Saya juga tidak memungkiri bahwa saya juga ‘aktifis’ apa-apa googling, dikit-dikit googling dari hal yang sangat penting hingga remeh temeh misal menentukan merk pewangi pakaian mana yang paling oke. Menurut saya, review di blog-blog benar-benar membantu. Sebagian besar tanya menemukan jawabnya di Google. Terimakasih Google 🙂

Di sisi lain, ketika ada yang bertanya lalu dijawab dengan “Googling Aja” atau “Googling dong!” akan ada rasa-rasa gemes yang hadir, itu sih pengalaman saya berdasarkan pengalaman, obrolan, curhatan, dan pengamatan saya. Saat seseorang panik, meskipun sudah googling, sudah membaca beberapa referensi tetapi ia bertanya menurut saya, ia sedang mencari jawaban sederhana atas pertanyaan dan penjelasan-penjelasan hasil googling. Ada lagi ketika dalam kondisi minim sambungan internet padahal ia butuh mendesak atas jawaban dari pertanyaan itu, siapa yang tahu kan? Kondisi lainnya, semisal seseorang itu tidak selincah kita yang dengan cepat mencari informasi di internet. Itu hanya gambaran beberapa kondisi selain kondisi kemalasan ya..

Menurut saya, sebagai pemberi task respond seharusnya benar-benar bisa membaca situasi kapan harus ditanggapi serius dengan membantu memberi jawaban atau penjelasan yang mudah dipahami dan kapan seharusnya melontarkan jawaban “Googling aja deh!” Biar sama-sama enak, nggak bikin orang lain gemes, dan setidaknya bisa jadi problem solver meskipun hanya menjawab pertanyaan teman atau siapa pun karena menjadi problem solver  nggak harus menyelesaikan masalah-masalah besar. Menyederhanakan jawaban, mampu menempatkan diri, dan nggak bikin gemes dalam situasi seseorang itu saya pikir juga bagian dari bagaimana menjadi problem solver. Jadi, ini juga bagian note to my self untuk saya dalam menempatkan jawaban “Googling Aja!”.