Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

bukan awan hanya senyuman


Kau bukan awan yang mampu menaungiku ketika aku kepanasan

Kau bukan awan yang mampu menghadirkan rembulan saat aku kegelapan

Kau bukan awan yang mampu melindungiku saat peluh langit berguguran

Kau bukan awan yang kuasa menaklukkan kehidupan

Karena awan terlalu rapuh,

Dia selalu ada tetapi dia lemah,

Dia mudah pecah,

Dia mudah terbelah

Tak mengharapkanmu menjadi awan

Karena cukup bagiku, kau menjadi senyuman

Tak perlu banyak alasan karena telah kumiliki segalanya jika senyuman telah tergenggam

Tabur bintang kilau senyuman

Karena Senyuman Yang Membuatku Berkecukupan

MEC, 29 Mei 2009

Dimanapun, awan akan terlihat selalu indah–MEC, perpus selasar selatan, perpustakaan, plasa lt 2, C201, G. A210, R. Dosen selasar utara, G. F301, G. F303, Learning Plaza, jembatan budaya–

Inspirasi:
Awan-
“Ayo bergerak! Saat spt ni jgn gunain filosofi awanmu, Ka!”-
“Senyumanmu”__Letto-

Membuat Crepe Manis

Crepes sangat populer di perancis. Bentuknya seperti serabi tetapi lebih ringan dan tipis. Kalau kalian mau, gak perlu menunggu lama-lama untuk mencobanya. Cukup pergi ke dapur dan siapkan bahan-bahannya.

* 3 butir telur
* 40 gram gula
* 250 gram tepung terigu
* 2 sendok teh mentega cair atau minyak
* 500 ml susu
* garam secukupnya

Ikuti langkah-langkah berikut:

Kocoklah telur lalu tambahkan gula, tepung terigu, garam dan mentega atau minyak. Pelan-pelan tambahkan susu dan aduklah adonan sampai benar-benar tercampur. Panaskan penggorengan. Tuangkan adonan ke dalam penggorengan sedikit demi sedikit. Balik atau goyangkan selama memasak sampai berwarna keemasan. Makanlah Crepe dengan isi roti sesuai selera. Lebih nikmat jika dinikmati dengan secangkir coklat panas di musim dingin di negara asal ^_^….
Selamat Mencoba…!!!

Tak Ada Yang Salah

“Mbak, ini fotomu waktu masih kecil?”
“Iya, kenapa?”
“Sangat cantik.”

Tak sengaja aku masuk ke kamar temanku, Mbak Ning saat dia merapikan kamarnya. Kulihat selembar foto di atas meja belajarnya. Foto masa kecilnya. Sangat tertutup. Dia telah berkerudung sejak kecil. Sangat cantik. “Apakah aku punya foto yang sama seperti Mbak Ning saat aku kecil?”, lirihku.

***

Selalu seperti itu. Tiap kali putriku pulang, selalu kudapati ia dalam waktu luangnya, tidur tengkurap di lantai kamarnya, mengangkat kedua kakinya dan mengadunya satu sama lain, ditemani bantal dan ‘bed cover’ kesayangannya sambil membaca, serta alunan musik yang memeriahkan suasana kamarnya, entah apa yang dibacanya. Kemudian dia akan berbicara sendiri, mengomentari apa yang dia baca. Kubiarkan saja seperti itu karena tak setiap hari aku melihatnya. Tetapi kali ini berbeda, kulihat dia tak membaca melainkan melihat album-album foto. Sangat asyik kelihatannya. Tetap kubiarkan dia bersama dunianya. Aku hanya diam tanpa kata di tempatku berdiri. Tanpa kusadari, ingatan itu hadir tanpa permisi.

“Bunda, aku ikut tari di sekolah untuk acara perpisahan kakak-kakak kelas nol besar besok.”
“Benarkah? Ikut tari?”
“Hmm…”, dengan anggukan penuh kemantapan.
“Kata Bu Qonik, suruh bawa selendang dan kipas. Bunda belikan selendang dan kipas yaa?”
“Iya, nanti kita beli.”
“Yang bagus yaa Bunda.”
“Iya..”
“Yang warnanya merah.”
“Iya, nanti kamu pilih sendiri.”

Sentuhan tangan suamiku memaksaku mengakhiri pengembaraan masa lalu.
“Ayah, lihat putri kita. Aku tak menyangka jika dia akan seperti sekarang. Ayah ingat saat dia kecil, dia ingin sekali menjadi penari atau balerina. Dia selalu menari. Dia ingin memakai gaun balerina itu. Menari di atas panggung dengan alunan musik klasik. Ayah ingat?”
“Iya, aku ingat. Dia sangat centil. Dia akan marah jika pita dan baju yang kau pilih tak sama. Iya kan?”
“He-em…”

“Ayah, Bunda temani aku…”, teriaknya.
“Apa yang kau lakukan, Yang?”
“Bunda, coba lihat, apa ini aku?”
“Iya. Memangnya apa yang sedang kau cari?”
“Aku ingin foto masa kecilku sama seperti foto masa kecil temanku di asrama, Bunda. Tapi aku tak mendapatkannya. Apa Bunda menyimpannya untukku?”
“Foto seperti apa?”, jawab kami serentak.
“Foto seperti aku yang sekarang Bunda, yang pake jilbab. Ada?”

Aku hanya diam. Suamiku hanya tersenyum padaku. Kutangkap isyarat agar aku bicara jujur padanya.

“Maafkan Bunda, Sayang. Bunda membesarkanmu jauh dari aroma surga. Bunda membesarkanmu hanya dengan dunia. Maafkan kami yang berbeda dengan orangtua yang lain dimana mereka bisa mengajari dan menemani anak-anaknya merenda waktu di atas sajadah panjang. Memulai dengan syahadatain dan mengakhirinya dengan salam. Membaca surat-surat cinta dari Izzati Rabbi di setiap waktu-waktu mereka. Kami pun juga masih belajar untuk berbenah. Maafkan kami, Sayang…”

“Bunda, tak ada yang salah jika aku tak memiliki apa yang dimiliki oleh teman-temanku. Tak kan kupinta lagi apa yang tak ada dan apa yang telah lalu. Bunda, jangan ucapkan kata maaf lagi karena tak ada yang salah. Apa pun yang Ayah dan Bunda beri padaku itu adalah ni’mat dan anugerah terindah. Aku juga punya apa-apa yang tidak mereka miliki. Aku sayang Bunda dan Ayah karena Allah. Aku bangga memiliki kalian.”

Dia mencium tanganku. Mencium pipiku dan memelukku. Hanya rasa sesal yang tertinggal.

***

Kau beruntung Mbak Ning dan aku jaga beruntung dengan apa yang kumiliki. Tak ada yang salah dengan masa laluku. Ini adalah skenario Tuhan yang harus berjalan dan dijalani. Tak ada yang salah.

El Firdaus zone, Februari 2008
Dalam suasana hangat menyambut datangnya “rememberance”





Catatan Di Akhir Dal

Bulan ini –januari– menjadi puncak atas kerinduan yang menghujam. Tetap saja sama karena aku hanya menyulam kebisuan. Lantas, kutemukan setetes air hujan pertama yang langsung menghujam pusara ladang hatiku.
Hidup tak hanya perjuangan walaupun perjuangan itu sendiri adalah puncak kenikmatan dalam kehidupan. Benar katamu kawan hidup adalah pilihan antara realita, egoisme dan idealisme.

Apa yang telah terjadi?

1 januari kulewatkan waktuku di tanah kelahiranku bersama mereka yang penuh cinta.
Berdekatan dengan alam jika aku kesana karena memang di desa.

Lalu, ku kembali di kota yang baru 5 bulan kusinggahi. Tak perlu lama-lama menghela nafas, Ujian Agak Serius alias UAS menyita perhatianku tapi jangan percaya jika aku melewatkannya dengan kencan bersama buku-bukuku. Ujian Agak Serius cukup membuat berantakan kamarku karena uluran tanganku tak sampai menjangkau mereka saat Ujian Agak Serius itu datang.

Belum selesai UAS, kuhabiskan weekend di kota budaya, sekedar jalan-jalan, memungut masa lalu yang tertinggal dan “nostalgila” dengan mereka. Galabo saat malam tempat kami ‘berkencan’ sambil memaksa menggali memory yang telah lalu dan sedikit saling “mencela”.
Ada Parade Sastra di University Club UNS dalam rangka galang dana bersama FLP Solo, KETIK dkk. Ingin sekali datang tapi sayang, bukan ke acara Parade Sastra aku datang melainkan ke acara pertunangan. Sebel-sebel mangkel sedikit seneng… Intinya Aku di dahului lagi… Lagi…dan lagi hehe…

Mendarat lagi di kota “never ending asia”, di kota ini kami melahirkan komunitas baru “Laskar Jogja Bersatu” –untuk sementara, ini dulu namanya– Tak sekedar Buangan tapi kami anak BRILLIANT.

Dalam perjalanan ini, Maafkan aku atas apa yang kulakukan yang kurang berkenan termasuk sifat lupaku. Kawan maafkan aku yang sering terlambat mengucapkan “Idul Milad” pada kalian terutama di bulan ini, terutama lagi yang milad di tanggal 7 dan 9, Afwan nasiitu jiddan…
Ini hanyalah secuil dari waktu yang terlewat. Ini hanya untuk pengingat.

Februari “Tak Tahan Lagi”

Ingatkan aku tentang satu rindu yang kurasa padamu. Satu minggu lagi kan terobati –InsyaAlloh, Rabbi…sampaikan aku di masa itu– dalam pertemuan kecil, sehari bersamamu. Sehari bersama GRAVITY.
Tak hanya bersama GRAVITY, reuni KETIK dalam rangka reorganisasi akan ambil posisi penawar hati dalam kubangan rindu tak bertepi.

Akan terus berharap, semoga lebih baik dari hari yang telah lalu….
Februari………Tak Tahan Lagi…..

Menyerah untuk Pasrah

Katakanlah: “Tidak ada satu musibah pun akan menimpa kami melainkan yang telah ditetapkan oleh Alloh (di Lauh Mahfudz) atas kami… (QS. At Taubah: 51)

Pasrah…
Bersikap pasrah memang terasa lebih berat karena pada dasarnya kita tidak mau menerima takdir. Kita punya keinginan yang terkadang melebar ke segala arah, begitu kita dipaksa menerima sesuatu yang tidak kita inginkan saat itu kesedihan muncul.

Terlalu sering kita merasa bahwa seharusnya kita bisa mengubah segala sesuatu, bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan akan membereskan apa pun yang tidak beres. Kita pasti memiliki keyakinan bahwa “jika ini tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan maka akan segera kuperbaiki”. Keyakinan bahwa kita bisa memperbaiki masalah membuat kita sulit untuk berpasrah. Lakukanlah, apabila kita bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik.

Sikap pasrah atau kemampuan untuk menerima apa pun yang diberikan Alloh baru akan terasa penting ketika kita tak punya pilihan lagi. Ketika kita mustahil kembali sehat, ketika kita tak mungkin lagi kembali ke masa kanak-kanak, ketika kita tak mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan; saat itu kepasrahan menjadi penting.

Kemampuan menerima bukanlah suatu yang datang begitu saja. Kemampuan menerima diperkuat oleh pengalaman-pengalaman. Menyatakan “OK, memang begitu adanya” sangatlah mudah, tapi tidak semudah itu. Susahnya menemukan sikap pasrah berawal dari ilusi tentang kemandirian bahwa kita bisa mengatasi diri sendiri, memilih, dan menjalaninya tanpa bantuan siapapun. Ketika berbicara tentang sikap pasrah, kita harus memikirkan bahwa kemampuan menerima akan berkembang seiring waktu. Kemapuan menerima menjadi semakin kuat dan kuat hingga akhirnya sikap pasrah akan berkembang sempurna.

Kemampuan menerima bukanlah suatu sikap yang pasif. Kita harus mengusahakannya dengan terus menerus mencoba menghadapi kenyataan. Sikap menerima tidak bisa muncul jika kita terus menerus menolak kenyataan yang ada di hadapan kita. Kemampuan menerima pun bukanlah bakat yang kita dimiliki melainkan suatu respon yang perlu dilatih.

Ketika musibah atau kegagalan menyapa kita bisa bilang, “Semua di bawah langit pasti akan berubah, yang semula ada pasti akan tidak ada, yang hilang akan kembali lagi…” dengan itu akan kita dapati, kita dalam kepasrahan dan dalam kesedihan akan tetap ada secuil senyuman kemenangan, kemenangan atas diri kita sendiri.

Menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan mungkin tidak akan mengubah keadaan tetapi kita bisa mengontrol emosi yang bisa memperburuk keadaan. “Lakukanlah yang terbaik dimana kamu berdiri sekarang itu yang paling realistis”–Ikal–



Tatapan

Tatapan seberang pandangan
Tatapan nanar
Tatapan nakal
Namun…
Terlihat dalam tatapan
Setumpuk rindu
Setetes cinta
Lebur
Sulit diterjemahkan
Tak ingin mengartikan
Karena sebatas tatapan
Tatapan seberang pandangan