Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Di mana (Seharusnya) Meletakkan Mimpi dan Hati?

blogpost

Saya pikir, setiap orang pastilah memiliki mimpi yang ingin mereka raih untuk benar-benar mewujudkan agar menjadi nyata. Saat kita sedang berproses membuatnya nyata, mimpi-mimpi itu akan kita simpan di sebuah tempat yang hanya kita tahu. Saya pun demikian, saya memiliki tempat untuk menyimpannya.

Menempuh perjalanan udara adalah hal istimewa, bagi saya. Udik? Ah, biarlah. *hahaha. Berada di ketinggian 29.000 kaki di atas permukaan laut, menikmati awan-awan putih seperti kapas terkoyak oleh si burung besi. Menikmati lapis demi lapis arakan awan yang akhirnya menyadarkan saya pada sebuah kata bijak, “Di atas langit masih ada langit.” Biasanya kata bijak itu digunakan ibu sebagai pengingat untuk saya bahwa di dunia ini masih akan ada yang lebih di atas saya. Sekaligus mengingatkan saya, karena akan ada langit di atas langit maka menundukkan hati akan jauh lebih baik.

Saya menyukai ketika pesawat menuju titik tertinggi. Ketika bumi terlihat menjauh namun tetap memesona seperti maket para arsitek. Seriously, momen ini saya ingat drama korea “Personal Taste”, ingat Jo Ji Hoon seorang arsitek muda yang akrab dengan desain dan maket. *hahaha. Oke, back to the main topic, pesawat yang perlahan naik yang mampu menawan mata atas keindahan bumi yang lama-lama akan sejenak menghilang tertutup arakan awan.

Langit. Di antara arak-arakan awan itulah, saya menyimpan setiap harap dan mimpi-mimpi. Meletakkannya di antara arak-arakan awan di tiap lapisan langit. Membumbung tinggi yang akan dijangkau dengan semangat dan rasa optimis. Jarak yang sangat jauh akan terasa dekat dengan untaian doa-doa yang menguatkan dan tangan Tuhan yang bekerja memberi jalan dalam kemas kemudahan. Di antara mimpi dan saya ada ruang yang penuh dengan kejutan, di dalamnya ada ikhtiyar dan tawakkal, ada kisah tentang lelah bahkan sesenggukan yang terkadang tanpa alasan, begitu saya menyebutnya.

Saat segala kerja dan tenaga dikeluarkan untuk mencapai mimpi-mimpi yang ada di langit, saat itu juga saya akan merasa di titik bahagia. Titik bahagia di mana sering melenakan, yang tanpa sadar membuat saya jumawa. Jumawa pada diri, jumawa pada usaha yang seakan segalanya ada di tangan saya. Jumawa pada buket-buket pujian yang menghampiri. Saat itu akan ada masa saya lupa.

Mengertikah kalian siapa yang tiba-tiba membuat saya terlena pada pencapaian? Ada makhluk kecil yang bersemayam dalam diri saya. Ia seperti ruang dengan serat-serat yang halus. Segala suara yang terdengar darinya, sejatinya adalah kejujuran. Namun, tak jarang saya pun mengabaikannya. Ia, makhluk kecil yang rapuh, mudah terbolak-balik, mudah goyah, mudah lemah. Ia, makhluk kecil yang senantiasa digenggam oleh Tuhan yang karenanya saya selalu meminta untuk ketetapannya.

Ia adalah hati (nurani). Ia adalah makhluk kecil pengendali rasa yang bahkan logika tak mampu berdebat dengannya. Kejujurannya yang bahkan otak akan menolaknya hingga saya sebagai pemilik makhluk kecil itu menjadi tak waras dalam bimbang. Makhluk sekecil itu, mampu mengambil alih segala apa yang ada pada diri. Ia mampu mengendalikan kata, sikap, pola pikir, sudut pandang, segalanya ada di tangannya. Ia, makhluk kecil itu selalu mudah goyah hingga saya selalu ingin mengajukan proposal pada Tuhan agar selalu menjaganya dalam keadaan baik, memiliki prasangka yang baik, sikap yang baik, hingga kata yang menenangkan bagi hati-hati yang lain.

blogpost2
hati memandang mimpi

Karakternya yang seperti itu membuat saya mencari tempat yang nyaman untuk menyimpannya. Tempat di mana ia akan terjaga dari jumawa dan sia. Akhirnya, biarlah si kecil ini berada di bumi. Biarlah tetap bisa rendah hati namun bukan rendah diri. Biarlah ia selalu menengadah pada langit sekadar menengok mimpi yang akan menunggu giliran untuk menjadi kenyataan. Biar si kecil ini menjadi prasangka baik di tiap ikhtiyar, doa, dan rasa lelah saat harus memangkas jarak antara ‘bumi’ dan ‘langit’. Ia, kecil namun tidak kerdil.

Di antara arakan awan yang terbelah oleh si burung besi ini, salah satu doaku membumbung menuju arsy semoga Engkau berkenan menyimpan mimpi-mimpi dan harapan-harapan hamba tetap di langit dan meletakkan hati hamba untuk tetap tinggal di bumi.

Ini ceritaku, mana ceritamu? Di mana kalian meletakkan mimpi dan hati kalian? ^^

Wonderful Life Movie: Bukankah Setiap Anak Itu Istimewa?

poster-wonderful-life

Harus pintar. Harus berprestasi. Harus ‘jadi orang’.

Hal-hal di atas mau tidak mau telah menjadi bagian nilai prestigious bagi setiap orangtua karena adanya tuntutan sosial di lingkungannya. Prinsip-prinsip di atas juga dipegang oleh Amalia, seorang perempuan perfeksionis dan cerdas selama menjalani kehidupannya. Prinsip itupun ia coba terapkan pada anak semata wayangnya, Aqil. Namun, hidup berkata lain, Aqil divonis mengalami disleksia. Sebuah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dalam kondisi ini, berprestasi secara akademis tentulah menjadi sebuah hal yang tidak mungkin.

Dalam penyangkalannya, Amalia berupaya melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan Aqil. Siapa sangka, perjalanan penyembuhan ini ternyata membawa pada petualangan yang menghadapkan Amalia pada kemungkinan terburuk dalam hidupnya: kehilangan Aqil. Pada titik inilah Amalia menyadari, ada yang lebih penting daripada sekadar mementingkan prinsip dan konflik batinnya, yaitu jalan hidup dan kebahagiaan sang anak.

Tak sekadar cerita tentang disleksia

Cerita di atas adalah potongan singkat film Wonderful Life yang dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan aktor muda berbakat, Sinyo. Film ini disutradrai oleh Agus Makkie merupakan adaptasi dari kisah nyata yang juga dituangkan dalam sebuah novel oleh Amalia Prabowo sendiri. Sekilas, film Wonderful Life adalah film keluarga tentang disleksia. Namun sesungguhnya ada begitu banyak nilai dan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini, khususnya tentang bagaimana orangtua harus bisa melihat lebih dekat dan merasakan lebih dalam setiap tantangan yang dihadapi dengan anaknya. Film ini juga mengajak para orangtua, para perempuan khususnya untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki road map-nya masing-masing dan orangtua bertugas memfasilitasi bakat dan kelebihan anak, daripada sekadar fokus pada kekurangan mereka.

Awal sebuah gerakan perubahan

dsc_9825

Film Wonderful Life yang dipersembahkan oleh Sariayu bersama Visimedia, Creative & Co, dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Hal ini menjadi pembuka gerakan perubahan yang diinisiasi oleh Sariayu Martha Tilaar yaitu, Be Wonderful Movement. Gerakan ini akan menjadi gerakan berkesinambungan yang mengajak para perempuan Indonesia untuk membuat perubahan dalam hidupnya. Harapannya, Be Wonderful Movement menjadi gerakan pemberdayaan perempuan Indonesia yang menginspirasi lahirnya sosok perempuan-perempuan yang berwawasan luas, mandiri, kuat, dan memiliki kepedulian yang tinggi. Para perempuan ini diharapkan dapat menjadi agent of change yang akan memotivasi dan menjadi cahaya penerang bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Selain mengangkat Empowering Women yang menjadi salah satu dari pilar Martha Tilaar Group. Ke depannya  Be Wonderful Movement juga akan mengangkat isu-isu terkait Beauty Green, Beauty Education, dan Beauty Culture dengan merangkul sosok-sosok perempuan inspiratif di tanah air. Mari rayakan hidup dengan membuat perubahan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.

dsc_9798

Film Wonderful Life ini dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Sinyo, Lidya Kandou, Alex Abbad, Putri Ayudya, Arthur Tobing, Abdul Arif, Totos Rasiti, dan Didi Nini Thowok. Jadi jangan lewatkan film ini dan saksikan film Wonderful Life yang tayang perdana pada hari ini, Kamis, 13 Oktober 2016 di seluruh XXI Indonesia. Jangan lupa yaa karena setiap anak itu istimewa…. 🙂

Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Sekitar kurang lebih dua minggu lalu, saya bertemu dengan adik angkatan yang luar biasa tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Sebuah pertemuan yang memang sudah saya setting dari jauh-jauh hari yang sempat batal hingga dua kali, hingga akhirnya kami dipertemukan oleh sebuah nikmat bernama kesempatan. Kami bersepakat bertemu di sebuah kedai susu, sebut saja Kalimilk *haha* di tengah derai hujan yang menghiasi suasana sore saat itu.

Saya terakhir kali bertemu dengannya sekitar bulan November 2014 di tempat yang saya pikir semua orang tak menginginkannya, yap, saya bertemu dengannya di RS Panti Rapih dan sekitar dua minggu lalu saat dia menyapa dan menyalami saya, sosoknya tidak banyak berubah. Dia tetap saja seorang yang saya kenal sebagai sosok yang penuh semangat, optimis, dan punya banyak proyek yang sedang dibangunnya. Dulu saya tidak begitu dekat dengannya, tapi semoga dengan sebuah semangat ‘kerja’ di masa sekarang hingga nanti, kami bisa sedekat segelas susu hangat dan genggaman tangan.

Pembicaraan mengalir begitu saja, hingga saat itu saya bergumam bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana rentang waktu yang lama dibasuh dengan sebuah pertemuan yang tak lama. Bahagia itu sederhana, sesederhana ketika saya sangat ingin bertemu dengan semua sahabat saya satu persatu dan mendengarkan setiap kisah mereka. Sangat sederhana bukan?

Bahagia yang terasa sederhana itu akhirnya saya sadari bahwa saat itu saya dalam sebuah keadaan yang menerima, menerima kenyataan yang sesuai dengan ekspektasi saya sekaligus berada di antara rasa syukur. Lalu bagaimana bisa bahagia itu tidak sederhana?

“Mbak, coba pegang deh tanganku!”

“Kok ada getarannya? Kaya ada mesinnya.”

Dia yang di depan saya lantas tersenyum dan berkata, “Iya Mbak, jadi pembuluh arteri dan vena disambung, di jantungku juga. Ada di tiga bagian.”

Obrolan kami berlanjut hingga di scene tertentu saya dibuat kaget dengan penyampaian cerita yang ringan namun begitu berat sampai di telinga saya.

“Ini bekas luka jarum sewaktu cuci darah, Mbak. Jarumnya kira-kira sebesar pulpen itu. Karena harus 2x dalam seminggu, luka bekas jarum sebelumnya belum sembuh udah harus ditusuk lagi. Kalau sekarang aku udah pasang selang di perut trus ada semacam kran gitu untuk cuci darah mandiri, sehari 2x.”

Di tengah rasa penasaran, saya akhirnya berani bertanya kekuatan macam apa yang membuatnya bisa sangat menerima dan tetap begitu bersemangat menjalani hari-hari dengan aktifitas yang tidak sedikit serta saya masih kagum mendapati dia berucap “Aku bersyukur, Mbak. Teman-temanku dengan kondisi HB yang rendah kaya aku mereka harus transfusi. Mereka udah gak pipis, sedangkan aku masih bisa meski sedikit gak ada segelas aqua.”

Baginya, proses menerima adalah sebuah perjalanan rasa yang panjang, menjadi kuat dengan penuh semangat adalah usaha yang tiada pernah kita tahu seberapa banyak air mata yang dikeluarkan untuk meminta pada Sang Pemilik Daya untuk dianugerahkan pundak yang kuat dan langkah yang tegap. Kita tak pernah tahu, seberapa hebat orang-orang terdekatnya menghiburnya dengan tanpa air mata yang terlihat.

“Aku juga harus meng-cut mimpi dan cita-citaku, Mbak. Tapi bukan berarti aku diam aja, harus ada mimpi lain yang menggantikan dan usaha untuk mewujudkannya, yang penting terus bersyukur kan ya?”

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azabku sangatlah pedih.” (QS. 14:7).

Sebelum kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kami, saya dihampiri pertanyaan, “Aku masih cantik kan Mbak?” Sambil ia tertawa kecil dan menunjukkan foto-foto para CKD Survivor yang secara usia masih muda tetapi terlihat (jauh) lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Cerita dalam kehidupan kita adalah sebuah takdir yang bahkan kita sendiri tak mampu menerka pun merabanya. Selagi ada kesempatan, jangan biarkan menyerah pada keadaan atau merutukinya. Untuk bersyukur pun, terkadang kita hanya ingat ketika kita mendefinisikan sesuatu itu sebagai keadaan yang bahagia, khusus ini saya pun sering berada di posisi ini. Semoga bisa semakin berbenah diri dan senantiasa mampu mengambil saripati di setiap kejadian dalam kehidupan kita maupun cerita di sekeliling kita.

Jadi, bahagia itu sederhana ataupun tidak sederhana hanyalah bagaimana kita memandang dan menerima keadaan pada saat kita mendefinisikan bahagia itu sendiri.

Terus semangat dan berkarya, kawan!

Ohya, ingin kenalan dengan sosok yang saya ceritakan? Yuk, nonton video di sini https://www.youtube.com/watch?v=6qrhNKcKPyc ya 🙂

 

Kisah Lampu Duduk di Sudut Ruangan

DSC_0004 (1)
Lokasi: Community Coffee Bintaro, Lantai 2

Jam berdentang ratusan kali. Ia, duduk terdiam. Tak peduli orang-orang yang berada di sekelilingnya, meski dalam satu ruangan. Begitu juga orang-orang itu, tak peduli akan kehadirannya walau dalam satu ruang yang sama juga. Mereka terus berbincang, berfoto, membentuk koloni, tertawa kencang, tertunduk di depan gadget atau hanya asyik menikmati hidangan.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih terlihat. Sama, di tempat itu di pojok ruangan. Ia hanya akan bertukar posisi jika sang pemilik ruang datang dan ingin pemandangan yang berbeda. Namun, tempatnya tetaplah di sudut ruangan. Orang-orang silih berganti dalam ruangan. Tetap saja tak ada yang menyapanya. Jangankan menyapa, menganggapnya ada itu suatu hal yang langka.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih di sana. Menunggu ada yang menyapanya. Menunggu ada yang memberi salam dan bertanya kabarnya. Menunggu ada seseorang saja yang menyadari kehadirannya. Ia, menyukai saat jelang senja. Saat matahari mulai turun dari singgasana. Jelang senja memberi arti untuknya. Saat jelang senja, ia akan menyala berharap menarik banyak perhatian setiap hiruk pikuk di ruangan.

***

Saya berlama-lama menatapnya, sebuah lampu duduk yang berada di sudut ruangan. Saat saya menikmatinya, saya justru didatangi banyak ingatan tentang curhatan-curhatan atau pun cerita dari beberapa orang yang berkisah tentang terasing, (merasa) diasingkan, dikucilkan, tak dianggap hingga berkurangnya rasa percaya diri. Saya mendapatkan cerita secara langsung, maupun berupa kisah, atau bahkan hanya sebuah celetukan candaan.

Ada masa di mana seseorang atau bahkan saya yang tiba-tiba merasa seperti butiran milo. Suatu saat, ketika air panas datang maka larutlah sudah. Benar-benar ada yang seperti ini. Ada yang (merasa) tak dianggap karena bisa dengan banyak alasan yang ada. Atau dengan menarik diri dengan sengaja karena sikap orang-orang di sekitarnya.

Salah satu dari sekian banyak kesukaan saya adalah saya akan banyak diam di tempat yang benar-benar baru saya kunjungi. Saya diam bukan karena saya sombong tapi saya sedang berpikir dan melakukan pengamatan. Yaah, sambil menutupi sikap norak dan ndeso saya saja sih. 😀

Saya menyadari dan saya pikir ada orang-orang yang merasa bernasib sama dengan kisah lampu duduk di sudut ruangan. Namun, saat itu benar-benar menampar saya ketika saya terlalu jumawa karena sebuah pengakuan. Apa yang sudah saya lakukan? Ah, betapa sebenarnya saya seharusnya malu pada si lampu duduk di sudut ruangan itu. Ia, banyak terabaikan dari pandangan. Ia, banyak terlewat dari perhatian. Namun, ia adalah sebenar-benar penggembira karena terangnya. Yap, bermanfaat!

Seringkali, saya ataupun kita melupakan kehadiran seseorang atau (sedikit) meremehkan seseorang dengan sangat cepat dan mudah. Namun, kita terlupa dan mungkin pandangan kita tertutup bahwa sebenarnya ia yang kita anggap di barisan terakhir itu adalah orang yang paling aktif menebarkan manfaat. Ia bergerak tanpa pujian. Ia berkarya tanpa ingin dianggap ada. Terus menerus tanpa henti dan tanpa rasa penat di hati, pun tanpa menarik diri.

Dalam sebuah diri, dalam sebuah jiwa sudah ada kelebihan yang Tuhan titipkan. Potensi dan kelebihan itu menunggu untuk terus diulang-ulang. Tak perlu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Bukan membandingkan, tapi jadikan orang lain sebagai semangat. Tak perlu menarik diri, tak perlu menenggelamkan diri di dasar lautan kenyataan, tak perlu merasa sedang berada di pojokan karena sungguh setiap diri yang berharga adalah yang paling bermanfaat dengan beragam cara, beragam jalan, dan berbagai rupa. Tak melulu menempuh dengan jalan yang sama. Ya, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=8zVlfGd5qXQ&w=560&h=315]

“Mungkin mereka bulan, tapi ingat kau MATAHARI. Cahaya mereka darimu.” -Tulus-

Jadilah dirimu dengan segudang kelebihanmu. Seperti kisah lampu duduk di sudut ruangan itu yang terus menyala meski tak banyak orang yang memedulikannya. Kita cukup berkarya dan semoga menjadi bagian dari insan yang paling banyak memberi manfaat untuk semesta. Bergembiralah dengan caramu!

 

Pandangan #2: Memandang Rumput Tetangga

Hal sawang-sinawang atau yang biasa dikenal dengan pandang-memandang ini seakan terlihat sangat remeh, tetapi tidak bisa dipungkiri hal yang remeh ini sering mengikis dan mendatangkan ujian bagi hati. Di mana hati akan diuji untuk melihat ‘ke atas’ atau melirik hal-hal yang menawarkan kenikmatan, kemudian akan datang bisikan-bisikan yang membandingkan antara keadaan diri dan kenikmatan yang hadir dalam pandangan yang (mungkin) sekejap.

Ada yang terlihat bahagia menikmati jalan-jalan ke luar negeri dengan senyum-senyum sumringah di setiap jepretan kamera. Namun, siapa yang tahu di balik senyum sumringah itu ada usaha yang berdarah-darah untuk mewujudkan sebuah perjalanan ke luar negeri. Ada yang mengunggah foto anak-anak yang lucu dan menggemaskan yang jika dipandang mengundang rasa iri atau rasa ingin memiliki, tapi siapa yang tahu, di balik senyum lucu dan manis bayi-bayi itu ada perjuangan berat para ibu, sedangkan penikmat foto bayi-bayi itu hanya tahu senyum yang terukir di wajah ceria sang bayi. Ada yang memiliki pekerjaan bagus dan mentereng, bisa memiliki apa yang diinginkan dengan gaji yang diterima tiap bulan. Di sisi lain, siapa yang tahu bahwa mereka dibebani pekerjaan yang banyak, kurang porsi tidur bahkan berkurang untuk quality time dengan orang-orang tercinta. Ada seorang single yang memandang bahwa pasangan yang menikah itu selalu bahagia karena ada partner untuk berbagi ketika foto-foto perjalanan berdua terunggah di akun-akun media sosial. Ya, itu hanya sekelumit kisah tentang memandang.

Dunia ini dipenuhi dengan tipu daya yang juga ditimpali dengan debu-debu halus yang berterbangan di mana-mana. Oleh karena itu, jika tak punya alat bantu untuk penglihatan, tidak ada yang menjamin jika nantinya akan tersesat atau terperangkap. Maka agar bisa terhindar dari itu, dibutuhkan pelindung mata agar bisa tetap melihat, berhati-hati dalam melangkah dan menghindari jebakan.

Alat bantu itu bukan sekedar kacamata biasa, kacamata biasa pun ketika ada goresan-goresan di lensa, maka lensa pun perlu diganti, perlu di-upgrade. Begitu juga alat bantu untuk memandang hal-hal yang bersifat filosofis dalam hidup. Alat bantu itu adalah iman, ilmu dan amal. Ibnul Jauzi berkata, “Aku merenungi dunia dan akhirat. Aku menyadari bahwa peristiwa-peristiwa yang menyangkut dunia sungguh nyata dan alami, sedangkan peristiwa akhirat hanya dapat dilihat dengan kacamata iman dan keyakinan. Yang nyata lebih kuat daya tariknya bagi mereka yang lemah iman.”

Peristiwa-peristiwa yang menipu pandangan akan selalu ada dengan berbagai penyebabnya. Bisa karena pergaulan, melihat hal-hal yang menarik hati yang menderung membawa pada kecintaan duniawi. Lalu bagaimana? Menyediakan sedikit waktu untuk berdzikir, merenung, berpikir, serta menambah porsi ilmu dan pengetahuan tentang agama, karena merenung dan tafakur akan menghindarkan dari pikiran-pikiran negatif sedangkan ilmu, pengetahuan yang selalu ditadabburi adalah obat yang sangat menenangkan.

Jadi, tidak hanya ponsel pintar saja yang di-upgrade tetapi alat bantu memandang yang kita miliki juga perlu diperbaiki agar dengan alat bantu yang jernih bisa membantu kita mengarungi hingar-bingar dunia serta mata yang tertutupi oleh debu-debu yang akan menyulitkan setiap langkah yang akan kita ambil dan jalani.

 

nb: related post

Penghalang Pandangan #1

IMG_20160227_172210*dokumen pribadi, diambil dari pesawat SA

Saya akan selalu mengambil beberapa saat agak lama ketika di depan kaca jendela. Di sana, saya belajar bahwa pandangan yang tertangkap mata ada yang benar-benar jelas dan ada yang buram. Objek di luar sana tidak pernah berubah, penentunya adalah kaca jendela yang ada di antara mata dan objek, penerimaan, dan keyakinan. Begitu juga tentang pandangan saya tentang hidup, tentang segala sesuatu yang terjadi. Bukan objek yang salah ketika terlihat buram atau buruk. Namun, ada penghalang antara saya (kita) dan apa yang dilihat. Perlu banyak hal untuk bisa ‘melihat’, bisa dengan wawasan, ilmu, sikap optimis bahkan tentang konsep positive thinking.