Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Penghalang Pandangan #1

IMG_20160227_172210*dokumen pribadi, diambil dari pesawat SA

Saya akan selalu mengambil beberapa saat agak lama ketika di depan kaca jendela. Di sana, saya belajar bahwa pandangan yang tertangkap mata ada yang benar-benar jelas dan ada yang buram. Objek di luar sana tidak pernah berubah, penentunya adalah kaca jendela yang ada di antara mata dan objek, penerimaan, dan keyakinan. Begitu juga tentang pandangan saya tentang hidup, tentang segala sesuatu yang terjadi. Bukan objek yang salah ketika terlihat buram atau buruk. Namun, ada penghalang antara saya (kita) dan apa yang dilihat. Perlu banyak hal untuk bisa ‘melihat’, bisa dengan wawasan, ilmu, sikap optimis bahkan tentang konsep positive thinking.

Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

Sawang Sinawang Dalam Hidup

Sebelum menulis lebih lanjut, saya ucapkan alhamdulillah karena koneksi internet yang membaik 😀

Saya yang dilahirkan dan tumbuh di Jawa (bukan sara ya…) tentu sudah sangat lama mendengar ungkapan “sawang sinawang”. Ya ya, “sawang sinawang” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai “lihat melihat” atau “saling melihat”. Aktifitas melihat yang sering kali melenakan pandangan bahkan mungkin akan timbul rasa-rasa iri, sedih, cemburu bahkan memudarkan rasa syukur. Mungkin lho ya, silakan merenung beberapa saat.
Aktifitas sawang sinawang ini biasanya akan melihat pemandangan-pemandangan yang serba membahagiakan dari kehidupan orang lain, teman atau orang-orang di sekitar kita lalu kita akan membandingkannya dengan keadaan kehidupan yang kita punya. Kita akan sering melihat sisi-sisi bahagia dari orang lain tanpa kita berpikir sedikit panjang tentang proses yang dijalani orang lain hingga hasil yang dicapainya sampai pada pandangan kita begitu membahagiakan. Terasa manusiawi dan wajar.

Sama halnya ketika saya memandang teman-teman saya yang dengan suka cita menyambut malam minggu dengan pacar/suaminya. Menikmati malam, lalu tiba-tiba Jogja berubah menjadi semakin spesial (haha.. :D), menikmati makan malam di angkringan, jalan-jalan di malioboro, atau hanya sekedar duduk santai menikmati secangkir kopi di pinggiran kali code. Bahagia rasanya. Lalu saya akan membandingkan dengan diri saya yang ‘pacaran’ dengan HP itu pun jika HP saya bunyi atau sengaja saya pancing agar berbunyi :D. Saya yang hanya mampu menggandeng buku dan akan nongkrong saja di kamar atau perpustakaan kota. Atau saya akan pergi ke toko buku dan pulang dengan kirim sms “aku mboyong buku lagi”. Contoh lain, saat menghadiri kondangan, semua teman-teman akan datang bersama pacar, tunangan atau suami/istri dan saya sangat bersyukur tidak datang sendirian tetapi ada teman atau barengan. Dalam kondisi seperti itu saya sangat bersyukur meski tak jarang kondangan sendiri. Mungkin ada orang yang kasihan sama saya, tapi saya baik-baik saja. *sambil nahan 😀

Saya pernah seperti itu. Jujur. Pernah. Tetapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya harus iri dengan orang lain? Tanya kenapa? Saya mensyukuri, saya memiliki partner hidup yang luar biasa oke bagi saya. Saya masih bisa mengantongi ijin untuk melanjutkan belajar di bidang yang saya sukai dan melanjutkan menyelesaikan kewajiban saya tahun ini. Saya diberi kesempatan menyelesaikan belajar Bahasa Jerman yang dari tahun 2009 belum kunjung usai, insyaAllah tahun ini selesai. Saya masih diberi kepercayaan untuk belajar Bahasa Belanda dan mendapat fasilitas “private”. Saya diberi kebebasan bekerja di bidang yang saya sukai yang tak jauh-jauh dari bahasa dan menulis sebagai English Content Writer yang tak harus duduk di kantor, cukup setor wajah ke kantor sekali dalam seminggu. Saya masih bisa merasakan pergi berkegiatan tatap muka, reuni, dan sejenisnya dengan teman-teman saya. Saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman komunitas fotografi di nol kilometer. Saya (berusaha) bahagia dan mensyukurinya. Menikmati ritme-ritmenya. Mendalami syahdu merdu alunan yang biasa disebut rindu. (Cieeee…. :D) Karena dengan ini semua setiap sudut kota Jogja benar-benar menyimpan cinta saya termasuk stasiun dan bandara. Menjalani dan memandang semua yang terjadi dalam hidup kita dari ‘kutub’ positif. Itu akan jauh lebih baik 🙂

Karena tidak ada kesulitan yang ‘dititipkan’ pada kita jauh melebihi batas kemampuan kita sebagai hamba-Nya. Tidak, Allah tidak akan memberikan ‘ujian’ di luar kemampuan hamba-Nya. Ketika kita ‘diuji’ pun Allah menguatkan pundak kita dan berjanji dalam firman-Nya “Bersama kesulitan ada kemudahan” yang diulang dua kali. Masihkah kita meragukannya? Kalau saya, saya amat yakin. 🙂

Wajar dan boleh kita memandang bahagia orang lain tetapi jangan samapi membuat kita lalai, merutuk, cemburu, iri, apalagi jika sampai memudarkan rasa syukur. Melihat bahagia orang lain, kesuksesan orang lain sebagai semangat untuk terus berlomba-lomba pada kebaikan itulah yang dianjurkan agar kita tetap ingat pada setiap nikmat yang dianugerahkan pada kita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ^^
#Ntms

Perpustakaan Pusat Kampus, disela-sela terjemahan, lembar-lembar ms. Word, dan A Glossary of Literary Terms.

Dimana Toleransi Untuk si Lajang?

Sebelum saya menuliskan apa yang ada dalam benak saya selama ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini adalah hasil beberapa waktu dan beberapa kali bincang-bincang saya bersama life-partner saya dan sahabat saya dengan pengamatannya dan pengamatan saya.

Saya lupa tepatnya kapan, saya hanya ingat sebulan sebelum saya menggenapkan separuh agama, saya diwelingi oleh sahabat saya, beberapa sahabat saya agar tidak terlena pada euforia pasca pernikahan. Agar saya tidak mengumbar kemesraan di status akun lini masa yang saya punya, mengunggah foto berdua secara close-up dempet-dempetan dan kawan-kawannya. Saat itu, saya iyakan. Saya berusaha pegang dan jalankan. Ternyata setelah pasca pernikahan, harapan dari sahabat-sahabat saya pun diuji. Ternyata tidak mudah. Ya, bayangkan saja seperti anak kecil yang punya mainan baru. Dia akan berusaha agar semua teman-temannya tahu kalau dia punya mainan baru. Alhamdulillah, lelaki yang menjadikan saya tulang rusuknya memiliki tekad seperti amanah yang dititipkan sahabat saya. Akhirnya, pilihan kami ambil dan lahirlah kesepakatan yang hanya memasang relationship with di akun ruang publik yang kami miliki tanpa foto, tanpa kata mesra, tanpa kiriman apapun yang sifatnya hanya kami berdua yang tahu.

Saya dirundung rasa penasaran, saya mulai mengamati, bertanya untuk sekedar konfirmasi, berbincang dengan sahabat maupun life-partner saya tentang euforia pasca pernikahan. Saya pun menemukan fenomena itu.

Hidup itu pilihan. Seperti halnya pilihan untuk jadi high quality single sebelum pernikahan. Sangat begitu menjaga bahkan untuk urusan foto profil dan status di lini masa. Foto profil animasi, bunga, tokoh kartun, buku favorit, foto keponakan, dan kawan-kawannya, yang jelas bukan foto dirinya. Statusnya pun berisi kata-kata penuh hikmah, inspirasi, motivasi, ayat-ayat al quran, maupun hadits. Sangat menginspirasi dan sangat menjaga.

Lalu fenomena yang saya sebut euforia cinta pasca pernikahan pun saya dapati. Dimana yang dulunya begitu menjaga foto profil dan statusnya berubah setelah pernikahan. Berkata sayang, foto berdua, dan banyak hal ajaib lainnya. Hingga suatu ketika sahabat saya bilang bahwa ada metamorfosis untuk hal-hal itu. Ketika masih lajang: fotonya memakai tokoh kartun, bunga, dkk–setelah menikah: foto berdua atau foto pasangan–setelah ada anak: foto anak, foto anak bersama ayah atau ibunya. Begitu juga dengan statusnya, meskipun nggak selalu tetapi status berbau mesra yang mendominasi. Saya katakan, yaitu lagi-lagi adalah pilihan. Kita bebas menentukan pilihan dan keputusan.

Katanya, hidup ini pilihan. Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Entah itu keputusan, pemikiran, keyakinan, semua didominasi dengan pilihan. Termasuk pilihan untuk sikap. Dalam setiap pilihan ada sebuah konsekuensi besar dimana kita memang harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Benar kan? Begitu juga pilihan untuk tetap istiqomah menjaga atau norak pasca pernikahan. Itu pilihan.

Saya hanya berfikir ketika mendapati fenomena itu bahwa pernikahan adalah sebuah keputusan besar dimana keputusan itu tidak bisa kita mengambilnya sepihak saja. Pasti akan melibatkan orangtua dan keluarga. Tidak semua saudara-saudara kita yang memilih untuk menjadi high quality single sebelum adanya perjanjian agung bisa seperti kita yang diberi anugerah untuk segera menggenapkan agama. Mereka dihadapkan pada banyak pertimbangan. Ada yang sudah benar-benar ingin tetapi ada kakak (perempuan) yang belum menikah dan akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang kakak. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan study karena ingin mewujudkan keinginan orangtua. Ada yang sudah ingin tetapi belum berkemampuan untuk menafkahi secara materi. Ada yang harus membiayai atau membantu meringankan beban orangtua untuk menyekolahkan adik-adiknya. Lalu banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada, yang membuat mereka menentukan prioritas pilihan.

Jikalau memang belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sebagai benteng. Jikalau sudah berusaha untuk berpuasa akan tetapi kita yang sudah menikah mengumbar mesra di ruang publik meskipun di dunia maya, bukankah itu juga bisa menjadi godaan? Meski secuil pasti ada rasa ingin dan membayangkan ‘wah, enak ya kalau udah nikah.’
Waahh, pengalaman 😀

Bagi saya, di sanalah ada sesuatu yang saya sebut toleransi. Toleransi untuk menjaga diri sendiri ataupun ikut berpartisipasi membantu menjaga ‘benteng pertahanan’ saudara atau sahabat-sahabat kita. Katakan saja, misal kita ingin jadi ‘kompor’ untuk mereka tetapi ada hal yang harus kita ingat bahwa posisi kita tidak selama sama dengan orang lain dan lagi-lagi tentang pilihan serta keputusan. Jikalau memang itu adalah sebuah pemberitahuan pada khalayak secukupnya saja, bisa dengan cukup menyampaikannya dengan married with atau relationship with atau status yang mengabarkan ‘alhamdulillah saya sudah menikah mohon doanya bla…bla…bla.’ bagi saya itu cukup. Karena di sana ada sebuah toleransi antara kita (yang sudah dan belum menikah). Lagi-lagi, ini masalah keputusan dan pilihan. Ini bukan ghibah atau membicarakan orang. Ini tentang fakta. Tentang fenomena yang mana menurut saya ada sebuah toleransi yang harus dijaga meskipun ada yang bilang bahwa mengunggah ‘kemanisan’ rumah tangga di dunia maya adalah salah satu cara mewujudkan sakinah.
Lalu, jika sudah seperti itu dimana toleransi untuk si lajang?

nb: karena belum menemukan gambar yang pas, jadi untuk sementara tanpa gambar dulu ya 😀

Tepi Waktu

Kuibaratkan sebuah padang lapang, tempat yang pantas untuk menepi atau lebih tepatnya ditepikan, menyingkir atau lebih tepatnya disingkirkan dan tersingkir. Menepi-ditepikan, menyingkir-disingkirkan/te

rsingkir, hanya persoalan halusnya kata pada penerimaan maknanya, tetapi esensinya tetaplah sama. Sendiri. Diacuhkan. Kesepian. Seberapaun usaha dan rangkaian kata-kata indah singgah tetap saja beberapa detik kemudian aku akan diacuhkan. Sendirian saja. Bersabarlah!!! Itu harta berharga yang kupunya.

Jika ingin ‘hidup’ di belantara ini, yang harus kumiliki adalah menebalkan esensi rasa percaya. Jika perlu, tiap mili sekon dari waktu yang ada, akan kugunakan untuk memeriksa rasa percayaku, menebal atau menipis?

Ada yang bilang jika sendiri itu sebuah keindahan dan aku takkan pernah menyangkal itu tetapi aku juga takkan mengingkari bahwa semua itu takkan berarti jika kesendirian itu datang tidak tepat pada waktunya. Saat aku ingin ditemani dan didengar, lantas aku mendapati diriku hanya sendiri, ditepikan di salah satu sudut waktu dengan berbagai alasan sebagai pembenaran. Lalu, yang kulakukan hanyalah menerima dan melogika. Merangkainya lalu merasakan dan akhirnya akan kutelan, kubunuh waktuku dengan sendirianku. Rasakanlah, betapa menyedihkan keadaan itu!!! Meski suatu saat nanti, saat aku mati, aku akan juga sendiri. Saat itu, aku tak kan meminta siapa pun untuk menemaniku. Tak seorangpun, meski itu adalah orang yang menjadikanku rusuk kanannya.

“Walau raga kita terpisah jauh, Namun hati kitaselalu dekat Bila kau rindu, pejamkan matamu dan rasakan aku Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh Terhapus ruang dan waktu Percayakan kesetiaan ini pada ketulusan aishiteru”

*Nb: Sebuah pesan cantik [menurutku] dari potongan sebuah lagu singgah di wall-ku, pesan yang dikirim oleh seorang sahabat karibku, memang tiba di saat yang [sangat] tepat, saat di mana aku harus menebalkan esensi rasa percaya diantara semakin tebalnya rasa rindu.

Malam minggu ‘terindah’,
semarak kota Never Ending Asia, 10 Juli 2010