Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Tur Istimewa di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Charlie and The Chocolate Factory. Yap, novel karya Roald Dahl tahun 1964 sekaligus film yang tayang di tahun 2005 ini adalah kesan pertama saya saat tiba di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo. Saya teringat ketika Charlie membawa Kakek Joe untuk menemaninya dalam tur Pabrik Cokelat Wonka bersama empat pemenang sayembara yang diadakan oleh Willy Wonka. Scene itu bagi saya sangat asik dan terbayang tur saya di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo kala itu akan seasik perjalanan Charlie dan Kakek Joe. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja

Sebenarnya, kedatangan saya ke Museum dan Pabrik Cokelat Monggo tanpa rencana dan memang baru tahu saat melewatinya. Kala itu, di pertengahan tahun 2019 perjalanan saya bersama suami ke Jogja bukan untuk piknik meski tetap ada senang-senangnya. Apapun tujuannya, ke Jogja tetaplah menyenangkan. Perjalanan kami saat itu memiliki tujuan utama untuk mengurus pecah sertifikat dan balik nama properti yang kami beli dari pemilik sebelumnya. Ternyata oh ternyata, posisi properti dan Museum Cokelat Monggo ini tetanggaan, satu desa. Apakah senang? Alhamdulillah senang banget. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum dan Pabrik Cokelat Monggo ini terletak di Jalan Tugu Gentong RT. 03 Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Museum bergaya arsitektur Jawa ini memang terletak cukup jauh dari pusat kota. Perjalanan menuju museum dari pusat kota sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 12 KM. Meskipun jauh dari pusat kota, museum ini tetap memiliki daya tarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana baru menikmati kuliner Jogja selain bakpia. Museum dan Pabrik Cokelat Monggo buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB dengan tiket masuk museum yang murah meriah mulai Rp 10.000,00/orang tergantung aktifitas tur di lokasi.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu sudut di dalam showroom Cokelat Monggo.

Pengelola Museum dan Pabrik Cokelat Monggo menawarkan empat aktifitas tur, yaitu mandiri (seperti yang saya ambil), chocolate making experience, chocolate tasting experience, dan gabungan chocolate making and tasting experience. Dari ketiga aktifitas tur tersebut didampingi oleh seorang pemandu. Saya pikir sangat cocok untuk anak-anak jika berkunjung ke Museum dan Pabrik Cokelat Monggo.

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum dan Pabrik Cokelat Monggo terdiri atas empat bangunan. Pertama, museum sebagai gedung inti. Di dalam museum terdapat gambar dan infografik tentang semua informasi seputar cokelat yang ditata dan dipajang rapi di dinding museum. Terdapat display beragam biji cokelat yang bisa dilihat secara langsung. Selain biji cokelat, terdapat koleksi alat-alat tradisional pembuat cokelat.

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Museum Cokelat Monggo Jogja

Di dalam museum, pengunjung disuguhi semacam diorama sejarah cokelat pertama kali oleh Suku Meso Amerika Kuno yang menjadi ahli sekaligus penikmat cokelat. Bagian tengah museum pengunjung akan dimanjakan diorama tentang perkebunan cokelat dan sejarah cokelat Monggo mulai dari berdiri hingga desain kemasan dari masa ke masa. Jadi di dinding akan terlihat berbagai macam desain kemasan Cokelat Monggo dan menurut say aini hal yang unik. Di salah satu ruangan di dalam museum, saya juga menjumpai sebuah vespa klasik di sudut ruangan. Kesan klasik dari masa lalu jadi semakin terasa. 😀

Museum Cokelat Monggo Jogja
Desain kemasan Cokelat Monggo dari masa ke masa.

Kedua, adalah bangunan yang berada tepat berhadapan dengan pintu museum yaitu showroom berbagai produk cokelat siap makan dengan harga yang beragam. Di showroom ini tempat pengunjung membeli tiket masuk museum. Ketiga, bangunan berikutnya adalah sebuah kedai yang berada di samping showroom cokelat. Di kedai ini menyediakan minuman dari cokelat, gelato, maupun minuman non-cokelat. Keempat, bagian terakhir yang terletak di bagian belakang adalah pabrik cokelat di mana para pengunjung bisa melihat proses pembuatan cokelat secara langsung.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Di showroom Cokelat Monggo juga menyediakan packing cokelat dalam bentuk parcel.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu sudut di showroom Cokelat Monggo.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Area pabrik di bagian belakang.

Secara menyeluruh, tur di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo ini bagi saya terasa istimewa ditambah dengan fasilitasnya yang mendukung. Ada musala untuk melaksanakan salat, area parkir yang luas dan toilet yang bersih serta suasana yang nyaman dan tenang.

Museum Cokelat Monggo Jogja
Bagian dalam showroom Cokelat Monggo.
Museum Cokelat Monggo Jogja
Kedai di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo.

Mengingat tur saya ke Museum dan Pabrik Monggo saat itu sebelum pandemi tentu akan ada sedikit perubahan aturan terutama dalam hal menjaga prokes. Jika teman-teman berkunjung ke sana, tetap kenakan masker ya ^^ Selain itu, hal yang sangat penting juga adalah teman-teman harus memastikan daya baterai handphone dan kamera yang dibawa terisi penuh karena setiap sudut Museum dan Pabrik Cokelat Monggo sangat estetik dan instagramable.

Selamat berkunjung di Museum dan Pabrik Cokelat Monggo, teman-teman 🙂

Museum Cokelat Monggo Jogja
Salah satu produk Cokelat Monggo berbentuk candi/stupa.

Museum Cokelat Monggo Jogja

 

Selain Museum dan Pabrik Cokelat Monggo, teman-teman juga bisa lanjut berkunjung ke Buku Akik dan Mam’s Well Cafe, lho ^^

 

Mam’s Well Café, Ngopi Nuansa Hutan di Tengah Kota Jogja

Mams Well Cafe Jogja

Mams Well Cafe Jogja

Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu….

Rasanya memang benar potongan lirik lagu KLA PROJECT ini, sekali ke Jogja maka akan rindu untuk ke Jogja lagi. Lebih-lebih, macam saya yang sempat kuliah di Jogja dan tinggal selama 7 tahun lamanya. Tiap ada alasan ke Jogja, rasanya seperti pulang. Teman-teman apakah merasakan hal seperti itu ketika di Jogja?

Jogja, saat saya kuliah dulu di tahun 2008 tentu sudah sangat berbeda dari tahun ke tahun. Pertumbuhan kian cepat meski ada juga tempat-tempat yang masih ada dan bertahan. Ada yang tumbuh, ada yang hilang, dan ada yang bertahan. Alamiah ya..

Begitu juga, tempat-tempat ngopi yang makin menggemaskan dan uwu sekali. Banyak bermunculan kafe atau tempat ngopi dengan ciri khas yang makin unik. Tentu saja sebagai identitas agar berkesan di benak pengunjung. Fasilitasnya pun juga beragam dan tak ketinggalan adalah menu-menunya serta harga yang bersaing.

Mams Well Cafe Jogja
Mam’s Well Cafe di Jogja dengan nuansa mini forest.

Nah, Senin kemarin saya menemukan salah satu tempat ngopi yang menurut saya asik dengan nuansa hutan nan asri di tengah Kota Jogja. Iya, di tengah kota dengan nuansa mini forest, teman-teman. Mam’s Well Café namanya. Lokasinya nggak nyangka aja akan ada kafe di situ bahkan driver ojol yang antar jemput saya juga mengatakan hal serupa, “Nggak nyangka di situ ada kafe, Mba.” Lalu, bapak driver yang jemput saya juga bilang, “Saya kira ini Mba titiknya salah, soalnya hutan-hutan gini sih Mba.” 😀 Untuk open hour Mam’s Well Café, teman-teman bisa berkunjung mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB.

Mams Well Cafe Jogja
Coffee Bar, Mam’s Well Cafe Jogja.

Saya ke Mam’s Well Café di jam istirahat siang sekitar pukul 13.00, saya tiba di sana memang ramai dan meja-meja di bangunan utama dan teras depan dalam keadaan penuh. Mayoritas pengunjung saat itu memang para mahasiswa. Saya memesan coffee latte dan menikmatinya di area no-smoking yang berada di belakang. Tata ruang Mam’s Well Café ini semi-outdoor di tengah nuansa hutan, ya semacam mini forest. Ada suara kicauan burung, desir angin yang mengenai pohon-pohon.

Mams Well Cafe Jogja
Akses dari jalan raya menuju halaman Mam’s Well Cafe.

Berbeda jika menikmati Mam’s Well Café ini di area no-smoking, di area belakang. Fix, bahagia banget saya waktu itu memilih area belakang. Di area ini pandangan saya disuguhi pemandangan kolam besar dengan ikan koi, pohon-pohon besar yang hijau, dan suara sungai yang alirannya cukup deras. Jadi sangat cocok untuk untuk melepas penat, belajar, mengerjakan tugas atau bengong seperti yang saya lakukan kemarin. Iya, bengong sambil menikmati kopi sesekali sambil nulis, sayang aja nggak bawa laptop. 😀 Fasilitasnya pun juga oke, ada musala, toilet, area parkir yang luas, dan tentu saja wifi.

Mams Well Cafe Jogja
Area parkir Mams Well Cafe.

Coffee latte yang saya pesan pun juga mengesankan. Perpaduan espresso dan susu menurut saya pas. Selain coffee latte ada juga cappuccino, americano, dan non-coffee seperti lychee tea, lemon tea, matcha, dan lainnya. Selain itu, juga tersedia aneka camilan dan main course. Tempat ngopi yang berlokasi di Seturan ini juga menyediakan menu es krim dengan berbagai varian rasa. Sayangnya, saya belum coba menu lain selain coffee latte karena sebelum ke Mam’s Well Café saya sudah makan bersama para dosen dan setelah dari Mam’s Well Café saya lanjut ke Kopi Klothok. Menyenangkan untuk kembali lagi ke Mam’s Well Café.

Mam's Well Cafe Jogja
Coffee Latte dengan nuansa alam di Mam’s Well Cafe, Jogja.

Baga juga: Berkunjung ke Buku Akik di Jogja. ^^

Mams Well Cafe Jogja
No-Smoking Area. Area ini berada di belakang.

Buku Akik, Indie Vintage Book Shop di Jogja

Buku Akik Jogja

Buku Akik Jogja

“Home is wherever I am with books.” Kalimat itu saya temukan di salah satu sudut di Buku Akik yang menurut saya menjadi salam hangat bagi setiap pembaca yang baru saja masuk ke dalamnya. Senang rasanya, Senin lalu bisa berkunjung ke Buku Akik selepas mengisi kuliah umum di Jurusan Sastra Arab FIB UGM. Di sisa waktu sebelum jadwal keberangkatan kereta menuju Ngawi benar-benar harus dimanfaatkan dengan baik, ya kan teman-teman?

Buku Akik Jogja
Bagian depan Buku Akik.
Buku Akik Jogja
Bagian teras depan Buku Akik.

Saya tahu Buku Akik dulu adalah sebuah toko buku daring, kemudian di akhir 2018 membuka toko buku luring di Jalan Kaliurang KM. 12, tepatnya di Jalan Gang Besi Raja no. 60D Candi Karang, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Seperti teman-teman ketahui, kalau sudah Jakal (Jalan Kaliurang) KM. 12 itu berarti sudah jauh dari pusat kota. Namun, letak Buku Akik yang jauh dari pusat kota tidak menghalangi para pembaca untuk berkunjung termasuk saya.^^ Menurut saya, pemilihan tempat yang ‘menepi’ ini justru menjadi nilai tambah tersendiri, yaitu kenyamanan dan ketenangan bagi para pembaca.

Buku Akik Jogja
Sayap utara Buku Akik adalah area koleksi buku-buku yang dijual.

Buku Akik adalah sebuah Independent Book Shop bergaya vintage sekaligus sebuah perpustakaan. Selain bergaya vintage, Buku Akik juga unik. Hal ini terlihat dari setting buku yang berada di rak-rak buku di dalam toko. Penataan buku tidak mengikuti pakem toko-toko buku (besar) pada umumnya. Jika biasanya buku best seller diletakkan di rak paling depan agar langsung menarik perhatian pembaca, maka di Buku Akik kebalikannya. Buku yang dipajang di rak paling depan tidak mengikuti selera pasar dan saya menebaknya penataan buku-buku ‘bestseller’ di rak paling depan ini menurut selera owner. Yap, buku bestseller di mata owner Buku Akik semisal karya Leo Tolstoy, Alen Ginsberg, Jack Keronac yang mungkin kurang familiar.

Buku Akik Jogja
Sayap utara, bagian buku-buku yang dijual di Buku Akik.

Menurut saya, langkah yang dipilih owner Buku Akik itu asik juga, sih karena agar pembaca tahu buku-buku bestseller ala Buku Akik. Selain itu, di bagian paling depan di dekat rak-rak buku juga terdapat rak untuk pernak-pernik yang berhubungan dengan buku. Pernak-pernik yang tersedia di Buku Akik di antaranya aneka pin, gantungan kunci, pembatas buku hingga totebag. Harganya pun juga cukup terjangkau.

Buku Akik Jogja
Aneka pin yang ada di Buku Akik.

Hal yang menarik dan tentu saya mengasyikkan di Buku Akik adalah pengunjung sekaligus pembaca seperti saya yang datang tidak hanya menikmati buku-buku yang dijual tetapi juga bisa berlama-lama membaca buku di bagian perpustakaan Buku Akik di sayap selatan. Perpustakaan di sayap selatan ini terdiri atas dua sisi, timur dan barat yang letaknya berdampingan. Perpustakaan terdapat beragam genre koleksi buku seperti musik, politik, seni, dan sastra. Buku-buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Di sayap utara, terdapat jajaran rak-rak buku yang dijual dan rak pernak-pernik. Kemudian, di sisi belakang digunakan untuk menunjang kegiatan penjualan secara daring.

Buku Akik Jogja
Sayap selatan bagian barat, area perpustakaan.
Buku Akik Jogja
Perpustakaan Buku Akik.

Tempatnya nyaman, penataan ruangnya unik, lalu apa saja fasilitasnya? Tenang, teman-teman, Buku Akik menyediakan parkir yang luas dan tentu saja gratis. Ada toilet yang bersih dan musala terbuka untuk melaksanakan salat. Tidak hanya itu, di sisi utara bagian depan Buku Akik terdapat jajaran meja kursi untuk bersantai menikmati suasana dan udara sejuk khas Jakal atas. Teman-teman bisa berkunjung dan menikmati aroma buku-buku di Buku Akik mulai pukul 10.30 hingga 17.00 WIB. Bagaimana teman-teman, tertarik berkunjung ke Buku Akik? 🙂

Buku Akik Jogja
Meja-kursi di bagian luar sisi utara dari Buku Akik.
Buku Akik Jogja
Sambutan manis tepat di samping pintu masuk Buku Akik.

Baca juga: Book Shop Tour di Madiun.

Buku Akik Jogja
Hasil ‘buruan’ di Buku Akik, Jogja.

Menikmati Pantai Taipa di Kota Palu

Pantai Taipa Palu

Pantai Taipa Palu

Masih dalam rangka mengabadikan memori manis di Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, kali ini saya akan menceritakan tentang pantai (lagi). Yap, salah satu pantai yang tentunya cantik di Kota Palu. Memang, Sulawesi Tengah itu memiliki banyak pantai. Ada pantai yang telah dikelola maupun pantai yang masih alami. Tapi tentu saja, baik itu pantai yang sudah dikelola maupun yang belum dikelola, sama-sama indahnya. Pantai Taipa adalah salah satu pantai di pinggiran Kota Palu yang telah dikelola secara professional. Kenapa bisa disebut professional? Ya, karena Pantai Taipa telah dilengkapi dengan fasilitas lengkap, yaitu telah tersedia restoran, penginapan, kolam renang, dan cottage. Semua fasilitas ini dibangun secara rapi dan terawat.

Pantai Taipa Palu
Area kolam renang di Pantai Taipa yang langsung menghadap laut. Sisi kolam untuk orang dewasa.
Pantai Taipa Palu
Sisi kolam renang untuk anak-anak di Pantai Taipa, Kota Palu.
Pantai Taipa Palu
Terlihat deretan cottage di Pantai Taipa, Kota Palu.

Pantai Taipa berjarak kurang lebih 17 KM dari Kota Palu dan dapat ditempuh kira-kira 30 menit. Pantai Taipa memiliki pasir putih di sepanjang pantai dan air laut yang jernih. Begitu dekatnya sehingga bisa menjadi salah satu alternatif liburan bagi warga Kota Palu di akhir pekan yang bisa dijangkau dengan mudah. Pantai ini terletak di Teluk Palu sehingga di kejauhan terlihat Gunung Gawalise yang tentu menambah keindahan pantai ini. Pantai Taipa terletak di teluk Palu, oleh karena itu airnya cukup tenang dengan sedikit ombak-ombak kecil. Namun, di waktu-waktu tertentu terutama di sore hari, angin dan ombak cukup kencang bertiup atau ketika sedang pasang. Tiap ke pantai dan menjumpai air laut sedang pasang jadi teringat potongan lagu ini, “ketika tiba-tiba ombak di laut surut cinta kita berdua tetap pasang, sayang.” Adakah yang familiar dengan lagu itu? 😀

Pantai Taipa Palu
Pemandangan dari salah satu tempat makan yang ada di Pantai Taipa.
Pantai Taipa Palu
Menjelang senja di Pantai Taipa.

Yak, kembali lagi ke Pantai Taipa, banyaknya fasilitas yang tersedia, pengunjung tidak perlu merasa bingung mau ngapain. Bagi yang suka berenang bisa memilih mau berenang di kolam renang air tawar atau sekalian berenang di laut sambil melihat indahnya terumbu karang dan ikan-ikan. Bagi yang ingin bersantai bisa menyewa gazebo yang tersedia atau hanya sekadar duduk-duduk di pinggir pantai. Restoran juga tersedia, sehingga saya ketika berkunjung ke sana tidak perlu repot-repot membawa bekal dari rumah. Ada taman kecil juga yang bisa saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Taman ini dilengkapi dengan jembatan di atas kolam yang dicat warna-warni, dan anak-anak bisa diajak memberi makan ikan.

Pantai Taipa Palu
Kolam yang cukup luas di area Pantai Taipa, terdapat jembatan dan di kolam tersebut terdapat ikan-ikan.

Selain melepas penat, saat berkunjung ke Pantai Taipa saya memanfaatkan juga untuk praktikum materi sekolah Bilgi di Al Kindi Online Preschool tentang benda yang bisa melayang dan mengapung di atas laut. Percobaan sederhana untuk anak preschool yaitu meletakkan telur di dalam gelas yang telah diisi air dan dicampur garam. Namun, karena langsung berada di pantai, saya langsung bisa mengambil air laut dan memasukkan telur ke dalam gelas berisi air laut. Hasilnya, telur pun melayang dan si anak pun juga senang. Ternyata belajar pun bisa dilakukan dengan sangat menyenangkan. 🙂

Pantai Taipa Palu
Melakukan praktikum sederhana di Pantai Taipa, Kota Palu.

Jika teman-teman merencanakan untuk menginap, di Pantai Taipa telah tersedia pula penginapan yang bisa disewa dengan harga yang lumayan oke dengan mempertimbangkan lokasi dan fasilitasnya. Per malam sekitar Rp500.000, 00. Namun nampaknya perlu dipastikan kembali apakah harga ini mengalami kenaikan harga atau tidak. Dengan segala fasilitas lengkap yang disebutkan di atas, untuk bisa menikmati keindahan Pantai Taipa para pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar 20 ribu rupiah, termasuk untuk berenang di kolam renang. Sementara untuk parkir kendaraan roda dua akan dikenakan tarif Rp 5.000,00 dan Rp 10.000,00 untuk roda empat. Tidak hanya itu, di Pantai Taipa ini juga sudah ada masjid yang sangat nyaman untuk melaksanakan salat.

Pantai Taipa Palu
Saat ke sana, ombak sedang besar dan laut sedang pasang.

Jika teman-teman sedang singgah di Kota Palu dan ingin menikmati suasana pantai selain Pantai Talise, Pantai Taipa bisa menjadi pilihan yang bisa dicoba. Jika teman-teman ingin menikmati pantai di luar Kota Palu tetapi ingin perjalanan yang singkat dengan view laut yang indah, teman-teman bisa mengunjungi pantai-pantai yang ada di Kota Donggala terutama Pantai Bonebula. ^^

 

Menikmati Indahnya Sunset Khas Pantai Bonebula

Pantai Bonebula Donggala

Pantai Bonebula Donggala

Pulau Sulawesi dan juga wilayah timur Indonesia lainnya memang terkenal dengan keindahan pantainya. Dulu, ketika melihat pantai di Jawa yang menurut saya sudah tampak bagus, menjadi tidak ada apa-apanya ketika sudah melihat pantai dan laut Sulawesi. Kali ini, satu lagi pantai di Sulawesi Tengah yang ingin saya ceritakan. Namanya Pantai Bonebula, tidak jauh dari Kota Palu, kira-kira dua jam perjalanan ke arah Donggala. Memang pantai Bonebula ini terletak di Kota Donggala. Kota Donggala adalah kota kecil, padahal jaman dahulu kala sebelum ada Kota Palu, Donggala merupakan pusat keramaian di Sulawesi Tengah. Bisa dibilang Donggala ini semacam kota tua. Perjalanan dari Palu ke Donggala memiliki pemandangan laut yang indah karena menyusuri garis pantai di sepanjang perjalanan.

Pantai Bonebula Donggala
Senja di Pantai Bonebula, Donggala.

Perjalanan ke pantai ini tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum, karena memang tidak ada. Saya berkendara ke Pantai Bonebula menggunakan kendaraan pribadi. Saat saya ke sana dua tahun lalu, Pantai Bonebula masih sangat alami. Karena itu, jika Teman-Teman tidak membawa bekal dan sudah memasuki waktu makan, saya menyarankan untuk singgah sebentar di Donggala Kota untuk mengisi perut dan istirahat sejenak karena tidak ada rumah makan di sekitar pantai. Hanya ada beberapa penjual cemilan seperti cilok dan somay. Restoran favorit saya di Donggala adalah Rumah Makan Terminal Indah. Restoran ini berada di atas laut, seperti bentuk panggung, dan menu utamanya adalah ikan bakar dan aneka seafood lainnya. Saya akan membahas tentang rumah makan ini di lain kesempatan, hehe… 😀

Setelah makan siang, saya sekalian mampir ke masjid terdekat untuk sekalian salat dzuhur sebelum melanjutkan perjalanan. Tiba di Pantai Bonebula pada pukul 14.30, dan saya rasa ini adalah waktu yang tepat karena kita bisa bermain-main sebentar menikmati keindahan pantai sebelum akhirnya duduk santai menyaksikan matahari terbenan yang indah khas Pulau Sulawesi. Kenapa saya sebut khas, karena beberapa kali saya menikmati senja di Sulawesi Tengah selalu disuguhkan pemandangan yang serupa: langit kemerahan di ufuk barat (terkadang merah kebiruan tergantung cuaca) dan semburat awan yang membuat langit senja tidak terlalu “flat”.

Pantai Bonebula Donggala
Pantai Bonebula berpasir putih.

Seperti layaknya cuaca di kebanyakan daerah di pesisir Sulawesi Tengah, Pantai Bonebula hari itu cukup panas dan cerah tetapi berangin. Pantai ini tidak terlalu ramai. Banyak orang namun tidak membuat suasana terasa sumpek. Masih banyak ruang untuk main air, berenang, lari-larian di pinggir pantai, atau pun menikmati ayunan di bawah pohon pinggir pantai.

Pantai Bonebula Donggala
Ada ayunan di sebuah pohon di Pantai Bonebula, Donggala.

Selepas badan basah dan kotor terkena pasir putih, disediakan kamar bilas untuk mandi dan ganti baju. Sayangnya karena air tawar susah diperoleh, pada waktu itu saya harus membayar lebih untuk air bilas. Satu jerigen kira-kira 10-15 ribu, tergantung ukuran. Barulah setelah badan bersih dan segar, silakan siapkan minuman hangat dan cemilan lalu duduk santai menikmati pantai. Chill and relax. Sore kala itu, saya sempat menikmatinya juga dengan duduk di atas pasir putih Pantai Bonebula sambil membaca buku dan melihat tawa bahagia seorang anak yang sedang menikmati waktu di pantai bersama sang ayah. Indah. 🙂

Selepas matahari terbenan, sebelum pulang kami menyempatkan dulu sholat magrib di tepi pantai. Nuansanya berbeda dibanding biasanya salat di ruangan tertutup di masjid atau ruang salat di rumah. Malam beranjak, sebenarnya saya bisa memilih utnuk sekalian menginap atau pulang. Kalau menginap silakan membawa tenda sendiri, namun ada biaya tambahan untuk ijin menginap kepada pengelola. Kalau memutuskan untuk pulang saya sarankan jangan terlalu malam, karena jalan dari Pantai Bonebula ke jalan utama poros Donggala-Mamuju belum ada penerangan yang memadai dan cukup gelap dan kontur jalannya naik turun ditambah banyak tikungan tajam. Tapi sangat layak untuk dicoba. Worth it.

Pantai Bonebula Donggala

Namun, geliat tumbuh di Pantai Bonebula terlihat. Tahun lalu, 2022, dari akun Instagram Soal Palu mengunggah berita yang membuat saya senang sekaligus bergumam ‘wah, sayang sekali belum bisa ke sana lagi’ karena di sekitar Pantai Bonebula sudah ada penginapan bernama Sunset Rumah 40 dengan view yang langsung menghadap laut. Di dekat Pantai Bonebula ini juga ada Pantai Boneoge yang tak kalah cantik dan Pusat Laut. Saya pun sangat ingin kembali lagi ke sana suatu hari nanti.

Pantai Bonebula Donggala
Sunset Pantai Bonebula, Donggala.

Oh ya, teman-teman juga bisa menikmati senja dari Kota Ampana yang juga tak kalah indah dengan senja khas Sulawesi ^^

Saben Ayu, Menikmati Vibe Bali di Ngawi

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi

Saben Ayu namanya. Salah satu tempat favorit saya untuk WFA alias kerja dari mana saja. Rasanya saya harus mengabadikan Saben Ayu dalam bentuk tulisan karena tempatnya memang sungguh menenangkan, setidaknya menurut saya. Selain tujuan untuk WFA, saya juga biasanya ke sini bersama Bilgi, putra semata wayang saya, yang biasanya jika dia penat maka dia mengajak minum teh di sawah-sawah. Tempat yang dia maksud itu y aini, Saben Ayu.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Bagian depan dari Saben Ayu, Ngawi. | Dok. Pribadi

Baru di parkiran saja rasanya sudah menyenangkan setiap kali bertandang ke sini. Jalan masuk menuju ruang utama, pandangan saya sudah disuguhi hijau-hijau dan dua kolam ikan di kanan kiri. Terdapat iyup-iyup dengan tiang dan atap yang ditutup dengan kain putih khas suasana rumah-rumah di Bali pada umumnya. Semakin masuk, rasanya makin senang karena di sini disediakan buku-buku yang bisa dibaca di tempat. Bookworm macam saya tentu bahagia meskipun lebih sering sudah bawa buku atau Kindle sendiri. Senang aja kalau lihat tempat makan yang ada buku-bukunya gitu.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Bagian Depan dari Saben Ayu. | Dok. Pribadi

Saben Ayu terdiri atas tiga bagian. Pertama, halaman depan dengan dua kolam ikan dan di sisi kanan terdapat bale dengan meja dan tikar untuk lesehan. Dari sisi ini, pengunjung bisa menikmati gemercik air dan kecipak-kecipuk ikan serta hamparan sawah.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Teras depan bangunan utama Saben Ayu. | Dok. Pribadi
Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Ruang utama Saben Ayu. | Dok. Pribadi
Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Ruang utama Saben Ayu. | Dok. Pribadi

Kedua, bagian tengah. Ini adalah bagian bangunan utama yang memadukan indoor-outdoor. Bangunan berupa rumah tanpa dinding dan jendela. Terakhir, bagian belakang. Bagian ini juga memadukan indoor-outdoor. Bedanya dengan bagian utama adalah di bagian belakang ini adalah lesehan sedangkan ruang utama atau tengah disediakan meja kursi berbagai bentuk. Iya, kursinya nggak monoton. Ada kursi rotan, ada kursi meja makan memanjang, ada kursi yang berbentuk batang kayu jati panjang. Oh ya, dari ruang utama ke bagian lesehan belakang dihubungkan dengan jembatan kecil di atas kolam ikan. Di mana pun pilihan duduk, hamparan sawah dan Gunung Lawu yang akan menghiasi pandangan mata.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Ini salah satu sudut bagian belakang dari Saben Ayu. | Dok. Pribadi

Lokasi

Tadi saya sudah menyebutkan kalau Saben Ayu ini menenangkan. Yap, menenangkan dalam artian yang sebenarnya. Jadi lokasi Saben Ayu bisa dibilang memang jauh dari jalan raya bahkan admin instagramnya pun pernah menuliskan rasa terimakasih atas kedatangan para tamu ke Saben Ayu meskipun butuh effort lebih. Terletak di Jambe Kulon, RT. 09/RW.06, Gemarang, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

Rumah makan yang mulai buka pukul 10.00 ini terletak di ujung pemukiman dan sekolah, sisi depan, belakang, dan sebelah kiri adalah hamparan sawah yang luas. Salah satu jalan menuju Saben Ayu berupa hamparan persawahan yang luas dengan jalan masih tanah bebatuan tapi cukup lebar jika dilewati mobil. Pilihan lain, bisa melewati arah Ngale atau lewat Paron menuju Gelung karena pilihan arah jalan ini sudah paving.

Menu di Saben Ayu

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Wedang uwuh, Saben Ayu. | Dok. Pribadi

Tempatnya sungguh nyaman, pemandangannya bikin senyum-senyum sendiri. Bagaimana dengan menunya? Tenang, Teman-Teman 🙂 Menurut saya, menu yang dihadirkan di Saben Ayu bervariasi. Banyak pilihannya terutama bagian minumannya, di sini menyediakan beraneka macam wedang. Mulai dari wedang jahe yang simpel hingga wedang racikan khas Saben Ayu ada dan bisa custom juga misal tanpa gula atau ingin pakai pemanis gula batu juga bisa. Aneka minuman dingin mulai dari es teh, es jeruk peras, es jeruk nipis, hingga es blewah ada. Minuman favorit saya adalah wedang uwuh dan wedang tape ketan.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Wedang tape ketan hitam, Saben Ayu dengan pemandangan Gunung Lawu. | Dok. Pribadi.

Tidak hanya minuman yang banyak pilihan, kudapannya juga mulai dari sosis-nugget, singkong goreng, pisang goreng, mendoan, dan tahu gejrot ada. Menu utama ada nasi ayam betutu. Pilihan lainnya ada ayam geprek, nasi ayam suwir, dan nasi ikan bandeng. Sebenarnya masih ada lagi tapi saya hanya ingat menu yang sering saya pesan 😀 Semua masakan dari menu yang saya pesan, saya suka terutama ayam suwir dan ayam betutu termasuk juga sambalnya.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Wedang uwuh dan nasi ayam suwir Saben Ayu. | Dok. Pribadi.

Harganya bagaimana? Soal harga menurut saya itu relatif ya. Menu nasi mulai dari harga Rp 13.000 hingga Rp 18.000 seingat saya. Minumannya pun juga masih relatif murah, lagi-lagi menurut saya. 😀 Dari semua menu, ada kudapan yang membekas bagi saya, saat itu entah kunjungan saya yang keberapa ke Saben Ayu dan saya disuguhi uwi kukus kesukaan saya. Gratis. Udah, bahagia banget. 😀

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Uwi kukus, Saben Ayu, Ngawi. | Dok. Pribadi

Fasilitas

Kalau mengunjungi sebuah rumah makan, selain menu dan lokasi, fasilitas juga bagian dari pertimbangan ingin tidaknya berkunjung, iya kan ya? Nah, di Saben Ayu ini juga menyediakan fasilitas berupa wifi yang aksesnya cepat menurut saya. Fasilitas lain seperti toilet juga tersedia dan tentu terjaga kebersihan serta kenyamanannya. Ada juga musola dengan mukena, sarung, dan sajadah tersedia lengkap. Tempat cuci tangan juga tersedia. Ada juga untuk tempat bersantai seperti ayunan yang bisa untuk spot foto. Tak lupa, fasilitas yang tak kalah penting adalah tempat parkir. Parkiran di Saben Ayu berada tepat di depan Saben Ayu, bisa untuk parkir motor dan mobil.

Saben Ayu Vibe Bali di Ngawi
Salah satu momen cantik, senja di Saben Ayu dengan latar Gunung Lawu, Ngawi. | Dok. Pribadi.

Bagi teman-teman yang sedang berada di Kota Ngawi dan ingin suasana desa yang tenang, bisa banget sejenak menepi ke Saben Ayu. Bisa juga, jika teman-teman punya keluarga di Ngawi, Saben Ayu bisa dijadikan tempat pilihan untuk ber-quality time bersama keluarga atau bertemu dan berkumpul dengan teman ^^

Mampir juga di Gubuk Reneo Ngawi. ^^