Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Lipstik Favorit Untuk Bibir Hitam

“If you are sad, add more lipstick and attack” –Coco Chanel

Di suatu kesempatan ketika beberapa deadline tiba pada masanya mulai dari proposal tesis, penelitian untuk jurnal, tugas harian, dan mengejar beberapa dosen untuk tanda tangan adalah hal yang sungguh menggemaskan sekaligus melelahkan. Sedih sih nggak, tapi ada benarnya kata Coco Chanel. Di saat seperti itu ternyata menyapu bibir dengan lipstik bisa memperbaiki mood yang naik turun. Bagi saya pribadi, pakai lipstik rutin bisa dibilang rutinitas baru setahun terakhir ini. Alasannya? Ya, lebih karena saya malas dan bingung karena saya adalah pemilik bibir hitam, hingga suatu saat seorang teman mengatakan bahwa sempatkan pakai lipstik, tipis saja cukup agar tidak terlihat pucat sekaligus menghargai orang yang sedang bersama kita apalagi kalau sedang bersama suami kan ya?

Oh ya, soal bibir hitam, ada beberapa faktor penyebabnya. Tidak melulu karena perokok berat lho, sebab genetik atau keturunan juga bisa. Tapi yang perlu diingat, jangan nggak PeDe karena kita berbibir hitam ya. Bibir hitam itu manis kok, macam gula aren gitu 😀

Bibir hitam ternyata juga punya kesempatan tampil cantik dengan lipstik lho 😀 Dan memang harus pintar menyiasati kata beberapa teman sih begitu dan dalam praktek saya pun mencoba hampir semua saran yang saya dapat dari teman. Salah satunya adalah bagaimana memilih warna lipstik. Saya hanya punya tiga warna lipstik, jadi ya itu-itu saja dan memang sudah punya niat ingin punya lipstik warna merah marun. Yaass, the happiness is a new lipstick! Merah pula! 😀

Bulan lalu, saya memiliki rencana pengadaan lipstik baru warna merah marun atau merah tua dan itu hanya berakhir sebagai wacana saja. Iya, wacana! Masalahnya pun sepele dari dulu belum bisa sembuh, kelamaan milih dan kebanyakan pilihan lalu bingung dan berakhir menjadi wacana. Nah, dari beberapa pencarian, salah satu lipstik untuk bibir hitam yang saya pilih adalah D’Flora dari K-BeauCareline dengan warna merah tua. Lipstik D’Flora ini adalah produk terbaru dari K-Link Indonesia. Selain bisa menyiasati untuk bibir hitam, D’Flora juga mengandung jojoba oil dan vitamin E yang melembabkan bibir. Tidak hanya itu, D’Flora juga memiliki kandungan vitamin A dan C untuk menjaga kesehatan kulit bibir. Nah, untuk varian warnanya nih, D’Flora memiliki enam pilihan warna yaitu nude, red blood, red heart, deep pink, red pink, dan peach. Lipstik D’Flora ini bisa didapatkan di stockish K-Link atau bisa didapat melalui online, bisa didapatkan dengan mudah kok ^^. Oh iya, lipstik D’Flora ini cenderung tidak tahan lama karena berasal dari bahan organik. Tetap saja tidak akan mengurangi kenyamanan saat mendarat di bibir…hehe

lipstik-bibir-hitam

Jadi jangan risau, jangan galau, jangan baper kalau kalian memiliki bibir hitam. Hal itu bisa banget disiasati dan lipstik D’Flora dari K-Link Indonesia siap sedia menemani ^^

 

Menikmati Wajah Baru Air Terjun Srambang Ngawi

Tiga tahun lalu saat pertama mengunjungi air terjun Srambang dengan berkunjung di tengah tahun 2018 sungguh jauh berbeda. Dulu saat pertama kali ke Srambang bersama Pak Nug, jalan menuju air terjun masih terjal, masih alami, dan not friendly anymore jika dibandingkan dengan sekarang. Dulu akses menuju air terjun masih ‘menantang’, lompat dari batu ini menuju batu itu, mlipir sini mlipir sana biar nggak basah karena ada anak-anak sungai yang airnya luar biasa jernih, sejernih memandang mata kekasih…wkwkwk.

Ternyata, ketika saya berkunjung lagi ke air terjun Srambang, kondisinya sudah sangat berbeda. Dari pintu masuk hingga air terjunnya semua tertata rapi dan sangat bersih. Fasilitas tersedia mulai dari toilet, tempat sampah, saung-saung kecil untuk istirahat, spot foto instagramable, ada kolam renang yang airnya langsung dari sumbernya, kedai-kedai makanan yang jual gorengan murah meriah, masih hangat dan ukurannya nggak tanggung-tanggung juga serta musolla yang bagi saya super nyaman. Ada juga charger stations alias colokan, jadi jangan khawatir. Akses jalannya juga sangat ramah untuk semua usia bahkan berat badan :D. Dari parkiran mobil hingga depan pintu masuk dan loket ada jasa ojek pengantaran, sekali naik ongkosnya hanya 5000 rupiah dan ini benar-benar pemberdayaan masyarakat sekitar air terjun Srambang.

Air terjun Srambang merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Ngawi yang berupa air terjun. Berlokasi di kaki gunung Lawu, Kecamatan Jogorogo, sekitar 5 km ke selatan dari pasar Jogorogo. Ketinggian air terjun ini hampir mencapai 25 m. Dulu pertama kali ke sana diajak suami, tepatnya saya beribik agar diajak ke sana karena Ibu (mertua) sering menceritakan tentang air terjun Srambang dan lokasi air terjun Srambang sangat dekat dengan penempatan Ibu (mertua) diawal-awal masa kerjanya sekaligus di sanalah Pak Nug, suami saya bertumbuh. Dari cerita-cerita Ibu itu saya semakin termotivasi dalam merayu Pak Nug agar mengajak saya ke sana.

Juli kemarin akhirnya saya ke sana lagi, bersama keluarga, bersama Bilgi, putra saya. Niatan awal memang ngajak Bilgi dalam rangka outing class, berkenalan dengan alam. Sampai di sana pun ia menikmatinya dengan udara yang sejuk cenderung dingin, antusias dengan air yang mengalir, bebatuan, pohon-pohon, payung warna-warni yang digantung di sepanjang jalan menuju air terjun dan tentu saja, bisa bertemu dengan banyak wajah baru.

Oh iya, tiket masuk lokasi air terjun Srambang ini sangat terjangkau yaitu Rp 15.000,00 dan jika menggunakan jasa ojek dari parkiran menuju pintu masuk Rp 5.000,00. Jadi total yang dikeuarkan Rp 20.000,00 per orang. Harga es teh manis juga masih normal Rp 3.000,00/cup, gorengan anget-anget fresh from wajan hanya Rp 500,00 itu pun dengan irisan yang besar. Masih ada menu-menu lain yang dari sisi harga juga masih sangat wajar. Masuk area air terjun Srambang juga diperbolehkan bawa bekal dan keramahan pun masih terasa sangat kental.

 srambang-ngawi

Setelah menikmati air terjun Srambang dengan wajah barunya, besar harapan saya maupun masyarakat pada umumnya semoga para penanggung jawab dan para pengunjung bisa saling mendukung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam serta menjaga fasilitas yang ada. Nyaman kan kalau berwisata di tempat yang bersih? Gimana? Jadi kapan kalian ke Ngawi?

Baca juga: Menikmati Waktu Bersama Anak di Sumber Koso dan Menepi Sejenak di Kayangan Cafe. 

Hello (Commuter Line) Jakarta

“Itu…itu, naik Kopaja yang itu, arah Sudirman.” Begitu kata Mbak Desy sesaat setelah aku bertanya aku naik apa ke arah Sudirman sambil menunjuk Kopaja yang yang hampir tiba tepat di depanku. Aku dengan cepat berpamitan dengan Mbak Desy dan Mbak Tinah di depan kantor Jedar sembari berharap bertemu lagi dengan keduanya. Bis sudah berhenti tepat di depanku, aku naik lalu memilih tempat duduk dekat jendela, posisi favoritku. Sepanjang perjalanan dari kantor Jedar yang berada di kawasan Tanah Abang menuju Sudirman, aku sangat menikmati pemandangan gedung-gedung yang tinggi nan gagah. Oh, inilah Jakarta dan aku ada di dalamnya. Menikmati kemacetannya. Merasakan tiap hiruk pikuknya seakan kota ini tak pernah sepi, tak pernah sunyi.

***

“Makasih Mbak, udah dianterin sampai Tugu.”
“Hati-hati, Ka.”

Tak ada kata-kata lagi yang meluncur dengan riang malam ini. Suatu malam di penghujung Oktober, saat yang berat ketika benar-benar menerima kenyataan bahwa harus angkat koper menuju ibukota. Prasangkaku pada Jakarta benar-benar mendahului apa yang akan digariskan Tuhan untukku. Rasa khawatirku sungguh melebihi batas. Rasanya hanya akan membosankan seperti dalam angan, hanya di rumah dan tak punya teman. Setelah beres dengan pekerjaan rumah, aku hanya akan membaca buku, menonton televisi, bahkan tidur sepanjang hari.

“Udah di stasiun?” Tanya Abang di seberang sana. Aku hanya nanar menatap pesan Abang di layar ponsel. Tak seperti biasanya, setiap perjalanan menuju ibukota bertemu Abang, aku akan sangat antusias memberi kabar sebelum Abang bertanya. Lalu pesan itu, kubiarkan sejenak.

“Aku sedih. Suatu saat aku ingin berkarya dan menua di Jogja.”, begitu balasanku pada pesan yang Abang kirim.

“He em.”, hanya itu jawabannya.

“Kereta sudah datang, sebentar lagi berangkat.”, tulisku dalam sebuah pesan untuk Abang.

Setelah duduk di kursi yang jadi hakku, menyandarkan punggung dan meletakkan kaki di sandaran bagian bawah, lalu membuka korden yang menutupi jendela kereta dan semua kenangan akan Jogja berdatangan dan hadir tanpa permisi. Tentang semua cerita di kota ini, teman-teman, tempat jalan, dan makanannya yang akan sangat kurindukan. Setiap hari esok yang akan terlewati mungkin akan ada rasa iri pada siapa pun yang sedang menghabiskan waktu-waktunya di Jogja.

Tugu-Jatinegara biasanya akan kuhabiskan dengan tidur. Selain karena mengantuk, melewatkan perjalanan dengan tidur membuat perjalanan yang panjang semakin tak terasa, rasa-rasanya baru naik sudah tiba di tempat tujuan. Namun perjalanan kali ini, tidur pun tak nyenyak. Aku pun lupa mematikan alarm ponsel yang berbunyi tiap pukul dua atau tiga dini hari. Saat aku bisa tertidur setelah puas terisak pelan di kursiku dengan sembunyi-sembunyi. Jadwal kereta yang kunaiki sengaja kupilih dengan jadwal keberangkatan malam, agar tidak terlalu lama menikmati keramaian di dalam gerbong di mana jatah kursiku berada.

Tepat pukul dua alarm kedua ponselku berbunyi dengan nyaring dalam waktu bersamaan. Masih belum benar-benar sadar, aku meraba salah satu kantong tas yang kuletakkan di bawah antara kursiku dan kursi di depanku. Kali ini aku bersyukur karena kursi disampingku kosong, tak ada yang mendudukinya. Setelah kedua ponsel mampu aku raih, aku mematikan alarm dan kembali mengusap sisa-sisa air mata yang sebelumnya menganak sungai. Aku alihkan pandangan dari ponsel ke jam tanganku, benar saja, ini pukul dua di mana waktu mustajab melangitkan doa-doa.

Aku melempar pandangan sejauh aku mampu, tapi gelap menghalangi pandangan. Aku seakan tersadar, bagaimana aku mempersepsikan waktu-waktu esok yang akan kujalani di Jakarta. Gelap malam yang menghalangi pandanganku bukanlah tak menghadirkan terang, bukan tak mungkin kesempatan datang. Aku hanya perlu mengajukan proposal pada Tuhan melalui doa-doa yang optimal lalu kurealisasikan melalui ikhtiyar yang maksimal. Ya, seharusnya memang seperti itu. Namun, beberapa waktu lalu, aku hanya fokus dengan betapa gelapnya malam hingga tak berpikir bahwa esok akan ada mentari yang datang membawa sinar terang yang akan menunjukkan arah letak kesempatan. Aku tersenyum dan dari hati terdalam, doa-doa melangit dengan deras penuh harap.

***

 

Jatinegara tak pernah sepi. Aku membayangkan bahwa di sini kehidupan selalu berputar. Kereta datang silih berganti. Kereta jarak jauh maupun commuter line yang beroperasi mulai pukul lima pagi hingga malam. Aku menyukai stasiun ini. Stasiun jika aku berangkat dari Jogja pukul enam sore, maka aku akan menunggu subuh yang seringnya tertidur di kursi bagian dalam stasiun. Jika aku berangkat dari Jogja sudah malam, maka aku akan tiba di Jatinegara menjelang subuh dan aku tak perlu tertidur untuk menunggu commuter line pertama diberangkatkan.

Aku cukup menikmati saat naik commuter line Jabodetabek ini. Apalagi jika harus transit untuk ganti kereta. Bagiku itu ritual yang mengasyikkan meski mungkin bagi sebagian orang sangat melelahkan. Aku dan Abang tinggal di pinggiran Jakarta, tapi bukan pinggiran yang benar-benar sepi. Pinggiran yang menurutku hanya sebatas istilah karena tempat di mana aku dan Abang tinggal berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan dan menurut letaknya strategis, dekat dengan pusat kota pemerintahan.

“Abang, jemput aku di stasiun Pondok Ranji aja. Aku berani sendiri dari Jatinegara ke Pondok Ranji.”

“Ingat di mana transitnya?”

“Ingat, di Tanah Abang lalu ganti kereta ke arah Serpong, Parung Panjang, atau Maja kan?”
“He em. Hati-hati ya.”

Perjalanan stasiun Jatinegara-Pondok Ranji terlalu sayang dilewatkan untuk sekedar tidur. Di perjalanan inilah, diam-diam aku merangkai tekad dan menderaskan doa-doa. Membiarkan keinginan-keinginan terucap dan telunjuk menunjuk ke setiap gedung yang tinggi.

***

Satu bulan yang teramat cepat berlalu dan aku belum berbuat apapun untuk melihat Jakarta yang kuucap dalam barisan doa-doaku. Benar saja, aku melewati satu bulan seperti dalam imajinasiku sebelumnya. Ini membuatku bosan hingga akhirnya aku menemukan sebuah info kompetisi menulis. Awalnya hanya sekedar melihat dan sekedar mengumpulkan niat. Lalu teringat pesan seorang dosen, “kau tak kan bisa mencapai garis finish sebelum kau benar-benar memutuskan untuk memulai mengakhiri apa yang kau niatkan.”

Berhari-hari kuhabiskan untuk berselancar di dunia maya. Membulatkan tekad mengumpulkan bahan-bahan untuk menulis sebuah karya tulis dan yang tak kalah penting menemukan ide dan objek yang akan dibahas.

“Abang, aku bosan. Sangat bosan”

“Itu kan ada wifi, dimanfaatkan dong!”

Oh iya, Abang memfasilitasiku wifi yang belum kumaksimalkan keberadaannya. Keberadaan wifi yang akhirnya memberiku sedikit pekerjaan dan aktifitas.

“Sedang apa?”

“Sedang usaha untuk melihat Jakarta melalui passion, Bang.”

“Oke, bagus.”

“Boleh kan Bang? Jadi selain jatah jalan-jalan dari Abang, aku ingin melihat Jakarta.”

“Boleh.” Jawaban yang singkat, jauh dari romantisme tapi di sana ada sebuah dukungan yang besar serta bagaimana tetap bisa memastikan bahwa tanpanya aku akan tetap aman melihat Jakarta.

***

“Abaaaaaaaang, aku dapat kesempatan melihat Jakarta melalui passionku.” Pesan singkat yang kukirim ke Abang di tengah-tengah jadwal perkuliahannya.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata pesanku mendapat balasan, “Apa?”

“Aku menang lomba karya tulis, nih. Nanti kalau ambil hadiah temenin ya?”

“Iya.”

***

Berawal mengambil piala di sebuah kantor yang terletak di Jalan Imam Bonjol dekat Bundaran HI yang merupakan jantung kota ini, aku memulai merajut harapan dengan optimis. Ingin melihat Jakarta dengan cara lain, dengan caraku melalui passionku. Aku ingin belajar hal-hal baru seperti harapan kebanyakan orang ketika hijrah ke kota yang baru didatanginya. Ingin bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman.

“Abang, aku terpilih ikut workshop di kantor Tempo di kawasan Palmerah Barat. Selanjutnya, aku terpilih lagi untuk Blogger Gathering di kantor SCTV di lantai 14 dan aku terpilih ikut Blogger Hang Out di kantor Jedar di daerah Tanah Abang.”

“Ohya? Udah ngecek letak lokasi?”

“Udah dong. Aku ngecek di Google Map seperti yang biasa Abang lakukan.”, kujawab sambil nyengir. Kalau sudah seperti ini rasanya bisa sedikit membusungkan dada di depan Abang karena Abang selalu menggodaku ketika aku ketahuan gagap teknologi.

“Ohya, aku juga lolos sebagai successful aplicant di Smart Living Challenge yang diadakan oleh Kedutaan Swedia. Di acara itu akan membahas tentang How we look into foodwaste. Sebelumnya, aku juga dapat kesempatan ikut workshop di daerah Margonda Depok.”

“He em, pastikan akses ke sana gampang terutama dari stasiun.”

“Siiip.”

***

Salah satu moment yang seru adalah saat menikmati es krim bersama Abang. Meskipun aku yang lebih banyak bicara, tapi momen menikmati es krim benar-benar terasa hangat setelah aku dan Abang terpisahkan oleh jadwal kuliah Abang yang padat dan aku yang mencoba untuk sibuk.

“Abang, terimakasih ya atas semuanya. Aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Aku bertemu banyak orang yang baik-baik dan menyenangkan. Aku punya jadwal rutin belajar tahsin dengan ibu-ibu tetangga ditambah kumpul-kumpul arisan tiap Jumat. Aku punya forum halaqah Quran tiap Minggu bersama Ustadzah Asiyah. Aku punya forum kajian kitab Tarbiyatul Aulaad. Bisa ke karawang kunjungan ke pabrik kertas. Aku jadi kenal lebih dekat para senior blogger plus kopi darat. Aku banyak belajar pokoknya.”

“Abang tahu apa yang paling spesial?”

“Apa?”

“Aku jadi hafal rute commuter line, jadi tahu rasanya berdiri tanpa pegangan tangan di pulang jam kantor, tahu rasanya mandi keringat demi bisa selip sana selip sini. Bener-bener jadi roker Jakarta” Kusampaikan itu dengan tertawa puas.

“He em. Perpindahan itu hanya butuh waktu. Saat bertemu teman baru, saat memiliki komunitas dan forum-forum yang baru, otomatis hiburan akan datang dengan sendirinya. Tidak akan ada kata bosan dengan sebuah perpindahan.” Tetap dengan gaya tanpa ekspresi seperti biasanya dan ya, romantisme bukan melulu soal kata-kata kok, ada banyak jalan. Aku hanya perlu memahami dan menangkap bahwa setiap kata dan sikap adalah sebuah bentuk romantisme dengan cara yang berbeda. Seperti halnya bagaimana kita memandang akan banyak hal dalam kehidupan.

 

***

Ah, dulu aku salah. Prasangkaku telah mendahului kejutan-Mu. Kekhawatiranku telah menenggelamkan apa itu harapan. Pun saat itu aku lupa bahwa Abang hadir dengan kelegaan perijinannya. Hadir dengan dukungan yang besar. Aku lupa, bahwa aku memiliki passion beserta doa dari Abang. Bukankah itu sebenarnya cukup untuk mengantarkanku melihat Jakarta? Bukankah tugasku sebagai hamba hanyalah memanjatkan doa dan menguntai harapan melalui rayuan pada Tuhan?

Kini, aku melihat Jakarta dengan passion dan kelegaan perijininan dari Abang. Aku menemukan sebuah kepercayaan diri melalui berbagai kesempatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku bisa melihat Jakarta melalui passionku. Terimakasih ya Allah untuk setiap doa dan keinginan yang terwujud dengan cara begitu indah. Bahwa doa dan ikhtiyar adalah sejoli yang tak pernah bisa dipisahkan, bisa terwujudkan melalui setiap tetes keringat kerja nyata. Tak kalah penting, tetaplah menanam prasangka terbaik pada Tuhan. “Antarkan aku melihat Jakarta melalui pintu yang paling spesial, ya Allah.” Pintaku saat itu.

“Neng, sudah sampai stasiun Sudirman.” Teguran si Abang kernet Kopaja membuyarkan lamunanku menikmati suasana menjelang sore Jakarta sepulang dari Blogger Hang Out bersama teman-teman BloggerCrony dan Jessica Iskandar.

 

Roller Coaster Kehidupan StudentMom

Neng Koala
Diskusi Perempuan dan Pendidikan Tinggi Bersama Neng Koala

 

Keluarlah dari zona nyaman. Sembilu yang dulu. Biarlah membiru. Berkarya bersama hati. Bergeraklah dari zona nyaman. ~Fourtwnty~

 

Saat pagi di tanggal merah kemarin, saya dan suami menjemur pakaian bersama dengan sebelumnya suami memutar lagu dari iTunes-nya. Sayup-sayup saya dengar kalimat di lirik lagu “keluarlah dari zona nyaman” yang dinyanyikan Fourtwnty. Bagi saya saat ini bukanlah masa yang bisa dianggap santai dengan ritme kehidupan yang dianggap wajar oleh orang pada umumnya. Sebagai istri sekaligus ibu tentu saja konstruksi pemikiran di masyarakat (dan teori pengasuhan) idealnya adalah fokus pada anak,  suami dan urusan rumah tangga, sedangkan saya berada dalam fase di mana harus membagi fokus pada suami dan anak dengan segala macam tugas dan jurnal. Iya, saya berada di zona yang tidak nyaman, setidaknya begitu anggapan orang.

Dulu sekali, saya memiliki angan-angan ingin terus melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah dan memiliki anak. “Pasti akan menyenangkan”, begitu pikir saya waktu itu. Ketika suatu ketika saya mengungkapkan khayalan saya itu, hampir sebagian besar akan menjawab bahwa itu tidak mungkin atau sekadar ditanggapi ‘untuk apa sekolah lagi?’. Kemudian banyak yang menyarankan untuk sekolah dulu baru menikah dan punya anak.

Kemudian, takdir membawa saya berdiri di pelaminan terlebih dahulu dan suasana kehidupan pernikahan membuat saya (sedikit) terlena pada cita-cita. Memasuki tahun ke empat pernikahan sekaligus menanti buah hati yang ternyata belum mengisi rahim, akhirnya saya kembali memutuskan untuk belajar, melanjutkan sekolah lagi dengan harapan perjalanan belajar kali ini bisa menjadi jalan spiritual lebih dekat dengan-Nya dan dianugerahi buah hati. Akhirnya, proposal saya pada Tuhan yang sedikit memaksa itu dikabulkan. Mulailah saya memainkan peran ganda di fase baru kehidupan.

Januari 2017 adalah awal saya memiliki status baru sebagai mahasiswi di Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia. Satu bulan berselang, saya menyadari ada yang sedikit berbeda dari diri saya, sekitar bulan Maret saya memutuskan ke dokter kandungan. Ternyata saya sudah hamil dengan usia kandungan delapan minggu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan bagi orang-orang di sekitar saya, itu terlihat mudah bagi saya…haha.

Hamil muda dan kuliah lagi ditambah dengan perjalanan Bintaro-Salemba menggunakan commuter line sungguh menjadi hal luar biasa. Kehidupan yang drastis saya jalani, sebelumnya ritme kehidupan yang berjalan santai berubah menjadi ritme yang begitu cepat. Waktu terasa amat sangat berharga dan akhirnya benar kata kawan bahwa kehidupan Jakarta itu keras. Tantangan pada waktu itu adalah saya menyadari sering kontraksi saat di trimester pertama dan kedua. “Pegangan yang kuat ya Kak”, “Maaf ya Kak, ibuk belum bisa ngajak Kakak santai-santai, tiduran, atau tidur yang cukup”, “Kita sekolah ya Kak, semoga Allah menitipkan ilmu yang berkah untuk kita.” Hanya kalimat-kalimat itu yang terus menerus saya sounding pada bayi yang masih di rahim. Betapa bahagianya saya ketika saya mendapati tidak pernah absen di semester pertama dalam kondisi hamil muda.

Memasuki semester kedua perkuliahan dan saya sudah berada di akhir trimester ketiga bahkan H-2 sebelum melahirkan saya masih hadir di kelas. Selama masa kehamilan dengan ritme menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dalam angan meskipun tetap membahagiakan hingga datang waktu melahirkan yang saya jalani melalui operasi sesar. Saya tidak mengambil cuti perkuliahan, hanya memanfaatkan ijin tidak masuk kepada dosen dan administrasi di bagian akademik. Hari ketujuh pasca melahirkan sesar, ujian tengah semester dua datang menyapa dan saya tempuh jarak Bintaro-Salemba dengan commuter line demi ujian. Bisa? Alhamdulillah bisa dengan sangat menyakitkan…hahaha.

Kuliah bersama kelas besar atau antar peminatan

Hingga di sini, saya bersyukur bisa sekolah lagi dengan sebuah peran ganda menjadi mama dan mahasiswi. Allah Maha Tahu, jika saya sekolah terlebih dahulu di jenjang magister sebelum menikah dan punya anak, bisa jadi ritme kehidupan saya sama seperti ritme kehidupan di Jogja yang serba santai dan damai. Namun, kali ini saya bersyukur dan beruntung bisa mencicipi dua peran dengan perasaan macam naik roller coaster.

Ya, roller coaster kehidupan sebagai studentmom atau mamasiswa ternyata tidak semudah dalam khayalan. Tidak mudah menata waktu dan ego, bernego dan menjalin komunikasi, berdamai dengan diri, mengatur naik turun emosi, hingga menyeleksi komentar orang atas pilihan kita. “Ngapain sekolah lagi?”, “Fokus aja di rumah dan anak-anak, ngapain repot sekolah lagi, kapan senang-senangnya?”, “Udah nikah dan punya anak udah bukan waktunya sekolah lagi. Sekolah itu dulu sebelum menikah”, “Masa golden age anak itu sekali seumur hidupnya, kalau sekolah kamu ketinggalan dong ya?”, “Iya sih bisa sekolah lagi tapi kasihan banget sih anakmu.” Daaaan masih banyak yang lainnya. 😀

Bagaimana rasanya menghadapi komentar orang yang mengungkapkan fakta? Saya semacam menjadi perempuan yang nestapa dan dibanjiri rasa bersalah terutama pada anak dan suami. 😀 Di sisi lain, saya bahagia bahwa ternyata saya memiliki support system yang solid, good vibes dan positive people yang ternyata jauh lebih banyak. Salah satunya, saya menjadi bagian kecil bahkan seperti butiran deterjen dari sebuah komunitas bloger yaitu, BloggerCrony dengan prinsipnya adalah positive people dengan positive attitude yang memberi saya kesempatan hadir di launching buku Neng Koala yang berisi kisah-kisah mahasiswi Indonesia di Australia sekaligus diskusi bertemakan perempuan dan pendidikan tinggi di Aula Univeritas Binus tepat seminggu lalu (25/4). Dalam diskusi tersebut ada lima narasumber sekaligus penulis buku Neng Koala yang berbagi pengalamannya selama belajar di Australia dengan kondisi yang berbeda. Sharing pengalaman yang paling berkesan adalah ternyata saya tidak sendiri menjalani peran ganda sebagai mama dan mahasiswi yang pada waktu itu disampaikan oleh Mbak Adhityani “Dhitri” Putri, Alumnus Australian National University. Saya menyadari ternyata apa yang saya jalani masih tergolong ringan karena saya masih menjalaninya di Indonesia. *hoho*

Dalam tulisannya di buku Neng Koala, Mbak Dhitri menceritakan ada dua tantangan besar ketika melanjutkan kuliah di Australia sekaligus memiliki bayi dalam waktu yang bersamaan yaitu, mendapatkan tempat penitipan anak yang bagus dengan harga terjangkau dan membagi waktu dan perhatian antara kebutuhan si kecil, kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi dan suami. Yap, saya bisa saja memberi jawaban yang mudah dengan “planning” atau “direncanakan dong!” Eitttsss, tahan dulu memberi jawaban yang super mudah itu karena bagi yang sudah punya anak pasti tahu bahwa rencana sematang apa pun itu bisa kandas seketika. Anak bayi dan balita mana bisa disuruh mengikuti jadwal deadine tugas ibunya? Daaaaaan, saya sudah mengalami itu…wkwkwk rela ngerjain tugas dengan menggadai waktu tidur malam demi tugas kelar, masalah besok berangkat ke kampus sambil melek merem urusan besok, syukur-syukur kalau dapat tempat duduk di commuter line untuk sekedar merem sebentar. It is heaven in the earth, Moms! 😀

Selain tulisan Mbak Dhitri di buku Neng Koala, saya juga memiliki kesan khusus kepada Mbak Cucu Saidah yang memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasannya di mana segala aktivitasnya dilakukan di atas kursi roda, ternyata tidak menghalanginya untuk melanjutkan sekolah di jenjang master bersama suaminya yang sama-sama memiliki keterbatasan. Dari Mbak Cucu lagi-lagi saya diingatkan lagi bahwa bagaimanapun kondisi kita bukan menjadi penghalang untuk banyak kebaikan termasuk menjemput ilmu. Hal yang membedakan adalah adanya niat dan tekad yang kuat dan berani merealisasikannya.

Saat saya membaca lembar demi lembar kisah Neng Koala, saya juga menemukan tulisan berjudul “Merajut Mimpi Bersama: Kuliah Bareng Suami” yang ditulis oleh Mbak Melati, founder Neng Koala. Tulisan itu lagi-lagi menyemangati saya dari sisi yang lain tentang keinginan saya dan suami untuk kuliah bareng, bareng secara waktu dan universitasnya bersama anak kami tentu saja. Mimpi besar yang tinggi itu tentu saja tidak bisa diwujudkan dengan mudah. Namun, Mbak Melati berpesan dalam tulisannya bahwa niat kuat bahkan nekat dan optimisme adalah kunci terwujudnya mimpi serta selalu bersyukur atas pilihan yang telah diambil bersama. Yaa, saya pun sepakat.

Banyak kisah berharga untuk mengisi semangat dari buku Neng Koala dan ini berharga sekali untuk saya yang sedang menjalani peran ganda sebagai mamasiswa. Kisah-kisah Neng Koala sangat beragam, bisa dibaca oleh semua kalangan, tidak harus jadi mamasiswa dulu baru membaca Neng Koala kok! Bagi perempuan Indonesia yang enerjik, penuh semangat dan cita-cita tinggi pada pendidikan, buku Neng Koala ini bisa jadi daftar bacaan dan teman slonjoran…hehe. Saya tidak memungkiri bahwa setelah menjadi ibu kewajiban bertambah seolah waktu selalu kurang dan tidak memungkinkan untuk sekolah lagi. Bukan tidak mungkin, mungkin kok asal berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menyelesaikan apa yang sudah menjadi keputusan, semua itu tidak ada yang tidak mungkin tergantung kita berani atau tidak mengambil kesempatan untuk keluar dari zona nyaman. Ohya, selain para perempuan, buku Neng Koala juga bisa dibaca oleh para laki-laki agar bisa memiliki gambaran tentang dunia perempuan dan pendidikan tinggi.

Selesai membaca Neng Koala secara paripurna, saya memilih untuk tetap bersyukur dan bahagia menikmati roller coaster kehidupan sebagai mamasiswa.

Salam dari mamasiswa terenerjik di dunia Bilgi! 😀

 

 

 

 

 

Menikmati Akhir Pekan Bersama Irina Pejoska di Salihara

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Waaaah, ternyata sudah sangat lama saya nggak post-post di blog ini yaaa… 😀 Kenapa? Ya, saya usahakan untuk nulis pembenaran-pembenaran kenapa absen begitu lama di dunia per-blog-ingan. InsyaAllah, next post ya… ^^

Well, kali ini saya akan berbagi kesan di akhir pekan yang dingin-dingin manja karena selepas hujan di luar sana. Malam akhir pekan kali ini saya berkunjung ke Salihara. Kesempatan yang membahagiakanlah ya untuk saya, setelah kemarin selama tiga hari ngentheng-ngenthengi (biasanya ini terjadi pada bayi yang mulai aktif dan bertambah pintar kalau kata orang Jawa). Saya terus-menerus pooping itu berarti tempat saya beraktifitas nggak bisa jauh-jauh dari kamar mandi, saya tidak sedang diare maupun sakit perut. Entah kenapa saya ngentheng-ngenthengi, bisa jadi saya akan bertambah pintar. *hahaha*

Dok. Pribadi, Fotografer: Pak Nug.

Untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Salihara dan untuk pertama kalinya juga saya menyaksikan pertunjukkan harpa. Pak Nug mengahadiahi saya saturday dating dengan menonton pertunjukkan harpa oleh Irina Pejoska dari Serbia, kurang romantis bagaimana lagi, iya nggak? Irina Pejoska, ia masih sangat muda, berusia lima belas tahun dan sudah sangat piawai memainkan alat musik harpa yang ukurannya nggak main-main, yang jelas harpa itu lebih tinggi dari saya 😀 Dalam pertunjukkan tersebut, Irena menyajikan sembilan lagu dan bonus satu lagu di akhir pertunjukkannya. Sedikit informasi tentang Irina Pejoska, ia menekuni biola di sekolah musik Mokranjac, Serbia kemudian beralih ke bidang harpa di sekolah musik Stanković di negara yang sama. Ia pernah memenangkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, serta tampil di beberapa acara yang diadakan di Kolarčeva Zadužbina (Serbia), di ballroom Matica Iseljenika i Srba u Regionu (Serbia) dan di galeri Cultural Centre Pančevo (Serbia). Selain itu, ia pernah dibimbing langsung oleh pemain harpa unggulan dunia.

Pertunjukkan dimulai tepat waktu, pukul 20.00 WIB dan ini sangat-sangat keren bagi saya atas nama penghargaan terhadap waktu. Semua kursi Hall Salihara pun terisi penuh. Namun, kami sebagai penonton tidak diperkenan untuk merekam atau memotret selama acara berlangsung karena suara atau cahaya akan mengganggu jalannya acara. Biar kita-kita pada fokus! Yaah, gak bisa eksis di media sosial dong? Tenang, panitia memberi solusi bahwa diperkenankan untuk mengambil gambar di akun media sosial Salihara. Sebelum dan selepas acara tetap diperbolehkan untuk cekrak-cekrek kok… ^^

Ohya, di Salihara banyak menawarkan acara-acara bagus, menurut saya ya… Jadi bisa jadi pertimbangan untuk mengisi akhir pekan atau bingung mau ke mana selain nge-mall… 😀

Dok. Pribadi

Saya sebenarnya nggak paham betul dengan permainan alat musik harpa, saya hanya sebatas penikmat saja dan yang paling penting adalah dengan siapa kita menikmatinya, iya kan? iya kan? 😀

Ini cerita akhir pekan saya, apa cerita akhir pekan kalian? dan dengan siapa kalian menikmatinya?

 

Merdeka!

“Pakne, sudah tho jangan ngrokok lagi.”

“Bune, Bune, rokok lagi, rokok lagi. Apa nggak ada yang lain untuk nyambut kedatangan Bapak? Bapak ini capek, Bune.”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok saja. Lihat anak-anak kita. Udah harus siap-siap untuk biaya sekolah mereka. Belum lagi, kita nggak pernah ngajak anak-anak untuk makan di luar atau jalan-jalan. Bisa makan sehari 3x aja udah syukur.”

“Makan di luar atau jalan-jalan emang nggak butuh duit, Bune? Duit dari mana?”

“Makanya, Bapak berhenti ngrokok.”

Wanita yang kunikahi hampir empat belas tahun yang lalu itu selalu saja menyudutkanku soal aktivitas merokokku. Merokok tak sekedar menghirup dan mengeluarkan setiap hisapan tembakau yang terbakar. Namun, aku benar-benar telah seperti lelaki sejati nan gagah setiap kali aku menikmatinya, lebih-lebih ditemani dengan secangkir kopi sambil duduk di lincak menikmati malam dan melepas penat setelah seharian kerja serabutan. Saat merokok itulah aku pikiranku menjadi segar, lebih bersemangat, dan yang terpenting besok aku harus menyiapkan tenaga untuk kerja sampingan. Yah, hidup di ibukota memang keras dan harus kreatif untuk mendapatkan uang. Memulung sampah, jadi tukang parkir dan jadi tukang panggilan untuk memperbaiki atap rumah yang bocor tidaklah seberapa. Jadi, aku harus pintar ubet.

Aku menggeser lincak yang sebelumnya berada di teras rumah ke depan rumah, ke sebuah halaman yang jauh dari kata luas. Aku bisa memandang langit malam, menikmati kopi dan rokok sambil kipas-kipas. Kali ini, pandanganku bertambah satu. Rumahku. Iya rumah yang tak mewah. Rumah yang ketika hujan akan bocor di mana-mana meski sudah ditambal. Rumah di mana ada anak-anak yang sangat menerima keadaan orangtuanya. Rumah di mana anak-anakku adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Rumah di depan pandanganku ini bahkan jauh dari kata sederhana.

“Ternyata rumahku ini papan bagian depan sudah mulai rapuh karena waktu dan dimakan rayap.” Gumamku sambil terus menghisap rokok.

Aku terus memandangi rumahku, rumah yang kata orang-orang adalah surga. Tempat menyenangkan untuk semua anggota keluarga, surgaku seperti sudah tak layak huni. Kasihan istri dan anak-anakku, tapi mau bagaimana lagi, aku hanya orang dengan pekerjaan serabutan. Aku tak berani bermimpi terlalu tinggi untuk punya surga yang lebih baik lagi.

“Hmm, begini saja aku bahagia. Bisa ngrokok, ngopi, dan duduk di lincak.” Bisikku dalam hati.

***

Hari ini setelah keliling untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas, aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Biasanya dari sektor satu aku akan melewati perumahan caping menuju perempatan bonjol. Namun, petang ini aku mengambil rute melewati perempatan sektor tiga, nanti tinggal ambil kanan. Rute ini jauh lebih ramai daripada ketika melewati komplek perumahan. Lepas pukul tujuh malam, memang sepertinya puncak keramaian. Orang-orang punya alasan untuk keluar rumah bahkan ada yang menuju ke rumah dari kantor masing-masing.

Lepas Isya, jalanan semakin ramai. Tak hanya jalanan yang dipadati kendaraan, tetapi warung-warung makan pun tak kalah ramai dikerubuti para pelanggan. Mulai dari warung lesehan, warteg, warung makan sederhana hingga warung makan modern seperti kafe-kafe, tempat nongkrong orang-orang muda. Terlihat nikmat ketika melintas di depan kafe, aroma kopinya benar-benar memikat selera. Bayanganku, betapa bahagianya menikmati rokok-rokokku dan secangkir kopi berkualitas.

“Kapan aku bisa seperti itu?” Batinku mulai cemburu.

Aku terus berjalan sambil menarik gerobakku, menikmati malam ini dengan rute pulang yang berbeda meski perutku sudah sangat lapar. Aku hampir tak tahu kenapa aku memilih jalan yang memutar. Seakan ada yang menarikku melewati jalan ini. Melewati banyak warung makan yang berjejer menawarkan menu-menu andalannya. Melihatnya saja aku sudah sangat cemburu, tapi aku tak bisa apa-apa. Meskipun aku tak bisa makan di sana dan sesampainya di rumah selalu dapat ceramah dari istriku, yang penting aku bisa beli rokok. Udah, itu saja aku bahagia.

Perjalananku sejenak terhenti di sebuah warung makan bercat kuning hitam karena ada sebuah mobil yang sibuk mencari posisi yang pas untuk parkir. Sedikit memakan waktu beberapa saat. Setelah berjuang, akhirnya mobil mewah itu mendapat posisi yang pas di tempat parkir tanpa mengganggu jalan kendaraan yang sedang melintas. Aku terus mengamatinya. Setelah mobil berhenti, orang-orang yang di dalam mobil mewah itu keluar satu per satu. Pertama, aku melihat dua anak perempuan yang lincah keluar dari pintu belakang disusul dengan seorang anak laki-laki yang sudah pasti itu kakak dari anak perempuan yang lincah. Selanjutanya, ada seorang wanita yang keluar dari pintu depan sebelah kiri, memakai baju panjang berjilbab yang dipanggil mama oleh salah seorang dari anak perempuan yang lincah itu. Terakhir, seorang laki-laki bersih keluar dari pintu depan sebelah kanan, yang aku dengar dipanggil papa oleh seorang anak laki-laki. Mereka memasuki rumah makan yang ada di depanku “WAROENG STEAK AND SHAKE”, kuamati mereka memasukinya dengan wajah bahagia dari anak-anaknya.

“Mas, Mas, warung makan ini tempat makan untuk keluarga ya?”

“Nggak hanya keluarga, Pak. Anak muda juga ada yang makan di sini. Harga terjangkau dan ramah di kantong, dijamin halal dan enak.” Sambil mengangkat jempol tangannya, si mas tukang parkir menjawab dengan ramah.

Sepanjang perjalanan pulang, aku seperti sedang perang batin. Semua ingatan tumpah setelah sebelumnya berdesak-desakan di otakku. Bagaimana tidak? Aku teringat kata-kata istriku bahwa kami belum sekalipun mengajak anak-anak jalan-jalan atau makan di luar. Dia menyuruhku berhenti merokok agar jatah uang rokok bisa ditabung. Tapi, tapi, aku mencintai rokokku, bagaimana mungkin aku berhenti merokok? Jika berhenti merokok, aku akan sakit, lemas dan lidahku pahit. Aku tidak akan bersemangat lagi. Aku tidak akan tahu rasanya menikmati bahagia yang sederhana.

“Itu namanya egois, Pak. Anak-anak juga berhak bahagia.” Tiba-tiba suara nyaring istriku tempo hari terngiang-ngiang di telingaku.

“Ngajak makan di luar anak-anak juga gak harus tiap hari, Pak. Ambil kesempatan misal anak-anak habis terima rapor, mereka kan berprestasi, bikin kita bahagia. Udah jadi hak mereka kalau kita ngajak mereka makan.” Kata-kata istriku semakin membombardirku, semakin mengacak-acak batinku. Mengacaukan pikiranku. Memang benar kata istriku, tapi aku masih tidak bisa melepaskan rokokku.

Pikiranku semakin kacau, batinku semakin memberontak antara keinginan pribadiku dan keinginan membahagiakan anak-anak serta istriku. Sambil menarik gerobak yang setia menemaniku, di setiap sisa langkah menuju rumah, aku mulai menghitung pengeluaranku untuk membeli rokok. Aku mengalikannya, menjumlahkannya hingga aku dapati kenyataan bahwa ternyata pengeluaran untuk membeli rokok ternyata sangat besar. Namun, apa dayaku, rokok seakan sudah jadi kebutuhanku.

“Apa Bapak nggak sadar kalau bertahun-tahun Bapak itu hanya sedang mbakar duit? Udah ngrasa kaya?” Lagi-lagi kata-kata istriku menyerangku secara bertubi-tubi. Saat-saat seperti itu, aku teringat betapa istriku yang sabar berubah menjadi sangat garang.

Aku semakin terdesak dengan pikiran, perasaan, dan logikaku sendiri. Meskipun istriku berulang kali mengingatkan bahwa merokok hanya akan merenggut kesehatanku tapi selama ini aku merasa baik-baik saja. Pun tetangga kami yang lebih tua yang sudah merokok lebih lama dariku masih terlihat bugar hingga sekarang. Jadi aku tak termakan ancaman-ancaman seperti itu. Aku hanya ingin menikmati hidup lewat sebatang rokok.

***

“Bapak, Bapak, kenapa Bapak melamun?”

Aku tersentak saat anakku sedikit berteriak kegirangan memegang tanganku. Aku mengingat kembali dua bulan lalu, saat aku berada di depan “WAROENG STEAK AND SHAKE” sambil memandangi ketika sekeluarga masuk ke dalamnya. Betapa riang polah langkah anak-anaknya. Terlihat hangat dan bahagia, jauh dari keegoisan semata. Oh, ternyata begini rasanya, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Senyum bahagia anak-anak yang tak biasa dan istriku yang semakin berkurang marah-marahnya.

Aku tahu, aku sampai bisa duduk di “WAROENG STEAK AND SHAKE” bersama keluargaku memang tidak mudah aku memperjuangkannya. Aku tak sekedar berjuang untuk berhenti merokok, tapi aku berjuang berdamai untuk tidak egois demi kebahagiaanku sendiri. Ya, karena kebahagian dalam sebuah keluarga itu adalah sama-sama merasa. Aku menyadari betapa benar kata-kata istriku bahwa aku seperti membakar uangku selama ini. Buktinya, selama dua bulan aku berjuang berhenti merokok, aku bisa mengajak istri dan anak-anakku makan enak di luar. Aku seakan baru menyadari bahwa rokok tak hanya mengancam kesehatan badan, tapi juga mengancam kesehatan kantong perekonomian keluarga. Semoga tak terlambat aku menyadarinya.

Meninggalkan rokok bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Ternyata aku hanya butuh tekad bulat. Ya, man jadda wa jadda. Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Ada kemudahan yang Allah berikan. Apalagi ini aku lakukan untuk keluargaku. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai teladan bagi anak-anakku maka aku akan selalu berharap keinginan dan tekadku ini semakin kuat. Tidak akan tergoda lagi pada rokok.

“Bapak ingin makan apa? Kami udah pilih makanan yang ingin kami makan.” Kata si sulung dengan polah cerianya.

“Iya, Bapak pilih sekarang.”

“Bapak, terimakasih atas usaha Bapak untuk merdeka dari rokok. Ibu sayang Bapak.” Bisik istriku di antara keriangan anak-anak.

Ya, aku merdeka. Badanku merdeka. Kantongku pun merdeka. Merdeka!