Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Commuter Marriage, Siapa Takut?

Beberapa kali bahkan mendekati level sering, saya mendapat pertanyaan ‘Bagaimana menjalani LDR agar bisa tetap heppi?’, ‘Bagi tips menjalani LDR dong, Cind’, atau ‘Gimana biar LDR-ku semanis LDR-mu?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang berujung pada pertanyaan yang intinya sama, Commuter Marriage atau lebih sering dikenal sebagai Long Distance Relationship atau Long Distance Marriage bagi sebagian besar pasangan yang telah menikah adalah hal tidak mudah dijalani termasuk bagi saya sendiri. Terlebih lagi, saya heran ketika (ternyata) banyak dari teman-teman yang melihat saya tetap happy dengan commuter marriage yang saya jalani sekarang. Alhamdulillah.

Commuter marriage itu mudah diucapkan tapi susah dijalani (haha…iklan). Ya, memang tidak mudah. Bayangkan saja, baru saja menikah yang seharusnya hidup berdampingan, bahu membahu mengerjakan tugas rumah tangga, pacaran tiap malam minggu, makan bersama, pergi belanja berdua dan sederet rutinitas biasa berubah menjadi manis dan spesial (pakai telor), tiba-tiba menjalani rutinitas seperti biasa saat masih menjadi single fighter bahkan (mungkin) ada yang dibarengi dengan berandai-andai jika sang kekasih berada di sisinya. Karena tidak mudah menjalaninya, biasanya akan terlampiaskan di FB atau jejaring sosial lainnya. Ya, itu bentuk ekspresi.

Saya yakin, semua pasangan di dunia ini akan memilih hidup berdampingan tanpa berjauhan. Hidup bersama selayaknya suami istri, membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah dalam satu atap. Memelihara cinta kasih tanpa sejengkal jarak. Menanti buah hati dan menjalani tahap demi tahap kehidupan berumahtangga.

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya pun demikian, benar-benar menginginkan kehidupan yang ‘normal’, ingin mencecap manis pernikahan tanpa sejengkal jarak. ‘Jarak’ ini bukan tanpa alasan. ‘Jarak’ ini adalah pilihan dan saya salut pada kebesaran hati serta dukungan yang tak terbilang life-partner saya, kedua (pasang) orangtua saya sekaligus rasa syukur tak terhingga kepada Sang Maha. Alhamdulillah.

Hidup itu pilihan dan semua resiko dari sebuah keputusan harus tetap dihadapi bukan diratapi. Susah atau senang dalam menjalani commuter marriage itu berbeda-beda bagi setiap orang dan cara mengekspresikannya. Ada yang mengekspresikannya dengan update status ‘Kangen Abang yang di sana. Baru dua hari pisah serasa udah dua tahun lamanya’ dst. Ada yang lebih memilih memendamnya, menyendiri, atau mencatatnya dalam diary. Itu pilihan.

Saya menyikapi commuter marriage sebagai resiko dari sebuah pilihan. Saya yang diawal-awal juga sedih, tumbuh rasa iri kenapa memilih ‘jalan’ ini, dan rasa putus asa apakah bisa. Waktu mengantarkan saya belajar dan waktu membuat saya mengubah cara pandang dengan melihat commuter marriage dari sisi yang lain.

Pernikahan adalah dermaga tempat kita berhenti sejenak menjemput kawan seperjalanan. Kawan untuk saling mendukung dan menyemangati. Meski harus menyemai cinta kasih dalam jarak. Bahwa tak ada yang sia-sia dalam sebuah pilihan dan keputusan. Bahagia dan tidak bahagia tergantung pada seberapa besar rasa syukur yang hadir dan usaha nyata mensyukurinya. Bersyukur atas jarak yang membentang. Bersyukur atas waktu dan kesempatan yang menumbuhkan harapan-harapan. Saya bersyukur atas ‘bonus’ karena bisa memperpanjang kontrak tinggal di Jogja. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu-waktu dimana saya masih bisa belajar. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu untuk terus bertatap dengan sahabat-sahabat saya. Saya bersyukur atas waktu dan kesempatan untuk saya terus fokus menjemput takdir di kota ini. Saya bersyukur atas apa yang saya jalani. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka bersyukurlah dan engkau akan bahagia.

Commuter marriage ini tak menyisakan ruang kosong yang tak terisi dengan rindu. Setiap detiknya rindu itu tumbuh dan saya hanya bisa menjaganya, menitipkan pada dekapan Tuhan karena Dia adalah sebaik-baik penjaga dan pemberi. Jika rindu sudah overload dan butuh tempat untuk mengekspresikannya saya lebih memilih untuk sendiri, mendekap cinta saya dengan doa-doa. Memeluknya dalam sujud panjang bukan status di jejaring sosial. Sebanyak apapun saya ‘nyampah’ berkata ‘aku merindukanmu’ itu tidak akan memampatkan jarak yang jauh menjadi dekat. Sebanyak apapun kata rindu terucap tidak akan menjadi pintu doraemon yang mengantarkan saya datang di hadapan cinta saya di seberang sana. Rindu-rindu itu teruntai dalam doa yang berulang-ulang. Jika harus menangis masih ada lantai yang akan dengan lapang menerima bulir-bulir hangat. Mendekap cinta dengan doa. Pada saatnya nanti, akan ada buah yang teramat manis, sebuah hikmah yang luar biasa manis. Saya hanya perlu percaya dengan sebaik-baik keyakinan. Berharap, mungkin jarak ini adalah ‘warming up’ untuk jarak-jarak yang tak disangka di depan sana. Semoga Alloh menjaga kami. Menjaga diri dan hati kami. Semoga selalu ada bahagia dan sakinah dalam jarak. Semoga saya dan life-partner diberi kesabaran hingga nanti kami disatukan tanpa jarak. Semoga ini adalah kesempatan dalam rangka mempersiapkan kedatangan kakak kecil dan adik-adiknya ^^
Tetap optimis dan selalu berprasangka baik kepada Sang Maha, Ia tak akan menetapkan kesia-siaan pada hamba-Nya termasuk dalam menjalani commuter marriage.

Yap, itu sikap saya. Bagaimana sikapmu yang sedang menjalani commuter marriage seperti saya?

Abang, Romantis Itu Apa?

Perempuan muda itu nampak sedikit lebih sibuk di akhir pekan ini yang kata orang-orang adalah long weekend. Ya, perempuan muda itu akan sibuk memilih dan memilah baju yang akan ia kenakan untuk menyambut seorang laki-laki yang hampir enam bulan ini ia panggil Abang. Tak hanya itu, perempuan muda itu akan tambah sibuk memakai topeng seperti tepung di wajahnya selama beberapa menit. Berharap penyambutan yang sempurna.

Tiba di hari yang di nanti maka perempuan muda itu tak mudah untuk move on dari HP ungu mungilnya. Berkali-kali mengirim pesan pada Abang, untuk bertanya jam berapa berangkat, posisi di mana, bla..bla..bla… sampai pertanyaan sampai Jogja jam berapa.

“Aku sampai Jogja jam 3 pagi.” begitu pesan Abang yang mampir di HP-nya.

Pesan itu memiliki kekuatan ajaib yang membuat perempuan muda itu kian sibuk dan bungah. Membayangkan senyum Abang di awal harinya. Seakan semua penjuru kota mendengar teriakannya “I am coming Abaaaaaaaaang.” Pukul menunjukkan 05.30, dia bergegas menuju stasiun kota Jogja. Menunggu di depan pintu utara sambil sibuk memainkan HP-nya.
“Abang, aku udah di stasiun. Abang di mana?” sambil tengok kanan kiri mencari laki-laki yang menjadi life partner-nya.

“Masih ngopi di cafe shop, udah terlanjur pesen.”

Abaaaaaaaaaaang -_-

***

Mungkin, bagi sebagian besar orang yang telah menikah kemudian menjalani commuter marriage bukanlah hal yang mudah termasuk untukku yang menjalaninya demi menjemput takdir yang lain. Abang menitipkan mimpi-mimpi yang besar padaku dan mimpiku selama ini adalah mimpi Abang juga. Banyak yang tak percaya. Banyak juga yang tak menyangka bagaimana bisa kami memutuskan menjalaninya. Kenapa aku tak langsung ikut Abang, mendampinginya, menjalankan tugasku sebagai full wife, lalu bersiap menyambut kakak kecil, lalu jadi ibu seperti orang-orang? Kata Abang, yang namanya investasi pasti susah di awal, begitu juga dengan investasi ilmu. Itu kata-kata ajaib yang membuatku kuat.

Aku selalu iri melihat orang bergegas malam mingguan dengan pacar-pacarnya apa lagi di kos tiap malam minggu selalu sepi. Jika sudah bosan baca buku, corat-coret kertas, nempel pernak-pernik di dinding, bosan belajar menyulam maka sms dan berharap ngobrol dengan Abang adalah hal yang mengasyikkan.

“Abang ngapain?”

1 menit berlalu. 3 menit berlalu. 5 menit berlalu, dan…

“Abaaaaaaaaaaaaaaang….”

“Nge-game”

Weekend selanjutnya, kali spesial karena Abang lebih dulu mengirim pesan.

“Udah baca The Jacatra Secret?”

“Belum” jawabku. “Ceritanya gimana Bang?”

“Besok baca sendiri”

“Abang, aku tanya gitu biar ada obrolan. Kalau kaya gini, habislah sudah bahan obrolan.”

Weekend selanjutnya,

“Abang kapan terakhir menelponku?”

“Lupa”

“Mbak kosku aja, tiap hari ketemu masih sempat ditelpon pacarnya tuh. Masa kita udah nikah, udah sah pacaran, Abang nggak nelpon-nelpon sih…”

“Lebay”

“Besok telpon aku ya…” kirim pesan berharap dengan sangat.

Keesokan paginya, pukul 5 berlalu, pukul 6 berlalu, pukul 7 berlalu, pukul 8 berlalu, pukul 9 berlalu.

“Berharap HP-ku bunyi, akhirnya harus move on dr HP. Abang jaga hati, jaga diri, dan jaga kesehatan ya… “

***

Suatu malam saat berkumpul dengan penghuni kos, ada pesan masuk di HP Mbak kos dengan pesan panggilan sayang dari pacarnya. Aku pun ke kamar, mengambil HP dan mengirim pesan.

“Abang, Mbak kosku manggil pake sayang-sayang sama pacarnya. Kita gitu ya…”

“:-p”

“Nggak romantis”

Hari-hari berikutnya dengan obrolan via WA ataupun sms,

“Abang, kalau bilang apa-apa dikasih buntut “Yang” atau “Dek” gt loh. Biar romantis.”

Tanpa respon dan pesan terkirim begitu saja hingga kami menjalani commuter marriage hampir 6 bulan.

***

“Abaaaaaang” perempuan muda itu sedikit berteriak sambil melambaikan tangan. Berharap Abang melakukan hal yang serupa tapi yang terjadi justru Abang tetap diam dan bersikap cool menghampirinya.

“Gandeng tanganku” pintanya

Lalu keduanya bergegas menuju tempat makan yang menjual Gudeg dan menikmatinya di depan rektorat kampus biru, di sebuah kursi yang menghadap hutan mini yang dihiasi pohon-pohon tinggi berhias sarang burung di setiap ujung dahannya. Menikmati sarapan di antara hangat matahari yang mulai meninggi. Di sela-sela kunyahannya, perempuan muda itu bertanya,

“Abang, romantis itu apa?”

“Romantis adalah ketidakromantisan itu sendiri.”

Sambil menguyah, perempuan muda itu terus berfikir dan mengingat lalu tersenyum, “Iya ya, tidak romantis adalah romantis itu sendiri. Abang banget.” 😀

Dimana Toleransi Untuk si Lajang?

Sebelum saya menuliskan apa yang ada dalam benak saya selama ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini adalah hasil beberapa waktu dan beberapa kali bincang-bincang saya bersama life-partner saya dan sahabat saya dengan pengamatannya dan pengamatan saya.

Saya lupa tepatnya kapan, saya hanya ingat sebulan sebelum saya menggenapkan separuh agama, saya diwelingi oleh sahabat saya, beberapa sahabat saya agar tidak terlena pada euforia pasca pernikahan. Agar saya tidak mengumbar kemesraan di status akun lini masa yang saya punya, mengunggah foto berdua secara close-up dempet-dempetan dan kawan-kawannya. Saat itu, saya iyakan. Saya berusaha pegang dan jalankan. Ternyata setelah pasca pernikahan, harapan dari sahabat-sahabat saya pun diuji. Ternyata tidak mudah. Ya, bayangkan saja seperti anak kecil yang punya mainan baru. Dia akan berusaha agar semua teman-temannya tahu kalau dia punya mainan baru. Alhamdulillah, lelaki yang menjadikan saya tulang rusuknya memiliki tekad seperti amanah yang dititipkan sahabat saya. Akhirnya, pilihan kami ambil dan lahirlah kesepakatan yang hanya memasang relationship with di akun ruang publik yang kami miliki tanpa foto, tanpa kata mesra, tanpa kiriman apapun yang sifatnya hanya kami berdua yang tahu.

Saya dirundung rasa penasaran, saya mulai mengamati, bertanya untuk sekedar konfirmasi, berbincang dengan sahabat maupun life-partner saya tentang euforia pasca pernikahan. Saya pun menemukan fenomena itu.

Hidup itu pilihan. Seperti halnya pilihan untuk jadi high quality single sebelum pernikahan. Sangat begitu menjaga bahkan untuk urusan foto profil dan status di lini masa. Foto profil animasi, bunga, tokoh kartun, buku favorit, foto keponakan, dan kawan-kawannya, yang jelas bukan foto dirinya. Statusnya pun berisi kata-kata penuh hikmah, inspirasi, motivasi, ayat-ayat al quran, maupun hadits. Sangat menginspirasi dan sangat menjaga.

Lalu fenomena yang saya sebut euforia cinta pasca pernikahan pun saya dapati. Dimana yang dulunya begitu menjaga foto profil dan statusnya berubah setelah pernikahan. Berkata sayang, foto berdua, dan banyak hal ajaib lainnya. Hingga suatu ketika sahabat saya bilang bahwa ada metamorfosis untuk hal-hal itu. Ketika masih lajang: fotonya memakai tokoh kartun, bunga, dkk–setelah menikah: foto berdua atau foto pasangan–setelah ada anak: foto anak, foto anak bersama ayah atau ibunya. Begitu juga dengan statusnya, meskipun nggak selalu tetapi status berbau mesra yang mendominasi. Saya katakan, yaitu lagi-lagi adalah pilihan. Kita bebas menentukan pilihan dan keputusan.

Katanya, hidup ini pilihan. Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Entah itu keputusan, pemikiran, keyakinan, semua didominasi dengan pilihan. Termasuk pilihan untuk sikap. Dalam setiap pilihan ada sebuah konsekuensi besar dimana kita memang harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Benar kan? Begitu juga pilihan untuk tetap istiqomah menjaga atau norak pasca pernikahan. Itu pilihan.

Saya hanya berfikir ketika mendapati fenomena itu bahwa pernikahan adalah sebuah keputusan besar dimana keputusan itu tidak bisa kita mengambilnya sepihak saja. Pasti akan melibatkan orangtua dan keluarga. Tidak semua saudara-saudara kita yang memilih untuk menjadi high quality single sebelum adanya perjanjian agung bisa seperti kita yang diberi anugerah untuk segera menggenapkan agama. Mereka dihadapkan pada banyak pertimbangan. Ada yang sudah benar-benar ingin tetapi ada kakak (perempuan) yang belum menikah dan akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang kakak. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan study karena ingin mewujudkan keinginan orangtua. Ada yang sudah ingin tetapi belum berkemampuan untuk menafkahi secara materi. Ada yang harus membiayai atau membantu meringankan beban orangtua untuk menyekolahkan adik-adiknya. Lalu banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada, yang membuat mereka menentukan prioritas pilihan.

Jikalau memang belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sebagai benteng. Jikalau sudah berusaha untuk berpuasa akan tetapi kita yang sudah menikah mengumbar mesra di ruang publik meskipun di dunia maya, bukankah itu juga bisa menjadi godaan? Meski secuil pasti ada rasa ingin dan membayangkan ‘wah, enak ya kalau udah nikah.’
Waahh, pengalaman 😀

Bagi saya, di sanalah ada sesuatu yang saya sebut toleransi. Toleransi untuk menjaga diri sendiri ataupun ikut berpartisipasi membantu menjaga ‘benteng pertahanan’ saudara atau sahabat-sahabat kita. Katakan saja, misal kita ingin jadi ‘kompor’ untuk mereka tetapi ada hal yang harus kita ingat bahwa posisi kita tidak selama sama dengan orang lain dan lagi-lagi tentang pilihan serta keputusan. Jikalau memang itu adalah sebuah pemberitahuan pada khalayak secukupnya saja, bisa dengan cukup menyampaikannya dengan married with atau relationship with atau status yang mengabarkan ‘alhamdulillah saya sudah menikah mohon doanya bla…bla…bla.’ bagi saya itu cukup. Karena di sana ada sebuah toleransi antara kita (yang sudah dan belum menikah). Lagi-lagi, ini masalah keputusan dan pilihan. Ini bukan ghibah atau membicarakan orang. Ini tentang fakta. Tentang fenomena yang mana menurut saya ada sebuah toleransi yang harus dijaga meskipun ada yang bilang bahwa mengunggah ‘kemanisan’ rumah tangga di dunia maya adalah salah satu cara mewujudkan sakinah.
Lalu, jika sudah seperti itu dimana toleransi untuk si lajang?

nb: karena belum menemukan gambar yang pas, jadi untuk sementara tanpa gambar dulu ya 😀

Klub ‘Pertama Kali’

Dia tak pernah mendeklarasikan secara resmi keberadaan klub ini sebelumnya karena memang tak pasti kapan ia ada. Hanya saja, klub ini menyimpan semua member ‘Pertama Kali’. Jika sebuah klub yang wajar beranggotakan fisik bernyawa maka member dalam klub ini adalah kebalikannya. Para member saling bertemu. Saling menyapa. Saling berkenalan. Saling bercerita apa yang disimpannya. Memamerkan satu sama lain betapa berharganya ia untuk mendapat tempat paling depan dan paling sering diingat.

Ya, para member klub ini sangat berharga. Alur, latar, dan siapa yang sedang bersamanya. Dia tak lagi peduli karena setiap member yang datang, saat itulah dia melihat dunia. Begitu dekat di matanya. Begitu sangat nyata di hadapannya. Sejak saat itu, saat dunia lebih hangat, klub ini punya alasan untuk hadir dan ada.

Image

Pertama Kali: Darat, Laut, Udara

Image

Penerbangan: menuju cakrawala, memandang semua di atas ketinggian.

Image

Sunrise di atas kerajaan Neptunus

Image

Sunset di Istiqlal

Image

Malam yang sama dan tempat yang sama, Istiqlal

Dia pun masih sibuk menanti member klub ‘Pertama Kali’, saat ini, besok, besok, dan besok.

Recall: Personal Taste

Image

Di setiap cerita akan akan sisipan curhat colongan, begitu kata seorang teman 😀

Ya, kali ini saya mau curhat “Recall: Personal Taste”.

Hmm, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai suka menonton KDrama, sepertinya sejak 2006. Ada 2 KDrama yang berkesan dalam hidup saya. Masing-masing memiliki cerita dan kenangan. “Princess Hour” yang saya tonton dengan diam-diam kabur dari acara asrama di hari minggu. Kedua, Kdrama ini yang saya tahu dari ibu saya yang juga gemar mengikuti setiap KDrama. Bahkan saya ingat, saat saya pulang dari kantor LPPM untuk mengurus administrasi KKN yang bermasalah, saya tiba di kos dengan menangis, pipi saya basah dan mata yang memerah. Malu? ya, saat itu saya tidak malu lagi menangis dari Balairung hingga kos, tepatnya sampai kamar saya. Saat itu terjadi, ibu saya sedang menonton Kdrama “Playfull Kiss” dan melihat saya yang “hancur” saat itu, ia memeluk dan berkata “Kuatlah, seperti Oh Hani”. Itulah alasan kenapa saya menyukai “Playfull Kiss”. Kuat seperti Oh Hani. Stay cool seperti Baek Seung Jo (yang ini saya gagal :-D) dan berharap saya menjadi nerd. 😀

KDrama yang ketiga yang berkesan adalah ini, “Personal Taste”. Ini saya nonton berdasarkan rekomendasi dari kakak saya karena tidak semua drama atau film saya nonton. Saya cenderung suka mengulang-ulang film yang sama bahkan hingga saya hafal percakapannya. Saya tonton berdua, tapi lebih sering sendiri. Drama ini terdiri dari 16 episode. Saya diminta untuk menontonnya dengan serius, bukan sekedar untuk membuang jenuh atau sekedar hiburan. Bukan. Saya menemukan jauh lebih besar dari sekedar hiburan. Drama ini mengingatkan saya pada banyak hal. Sebelumnya, Kamsahamnida 🙂

Overall, saya menyukainya. Bicara tentang kehidupan pasti tak akan ada habisnya. Kita akan dihadapkan pada bermacam-macam hal bahkan masalah. Tergantung bagaimana kita mengubah sudut pandang dalam melihat karena itu akan mempengaruhi gerak dan setiap keputusan yang akan kita ambil. Ada banyak tokoh dalam drama ini, hanya saya terfokus pada sepasang tokoh “Jeon Jin Ho” dan “Park Gae In”.

“Jeon Jin Ho”

Seorang arsitek yang sedang mempertahankan perusahaannya. Seorang yang cool. Seorang yang memperjuangkan mimpi-mimpinya demi orang-orang di sekitarnya. Seorang yang berani mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya. Di cerita itu, ia berusaha keras membuat original design untuk sebuah proyek yang awalnya ia ingin meniru design seorang professor. Yang tak kalah berkesan, bahkan sangat berkesan bagi saya adalah saat ia berani mengakui perasaannya 🙂

Segala sesuatu, apa pun itu harus diperjuangkan!

“Park Gae In”

Seorang perempuan yang ceria dan bersemangat. Seorang desainer interior. Putri seorang professor terkenal. Mudah memaafkan. Mudah mempercayai orang. Pekerja keras. Polos. Sederhana. Perempuan yang beruntung mendapat perhatian khusus dari si arsitek, menurut saya.

Im just going to choose to trust. Im just going to trust you.

Hmm, sebenarnya drama ini seharusnya ditonton oleh mereka yang sudah menikah :-D. Karena ada beberapa adegan yang memang itu adegan dewasa. Setelah menontonnya memberi banyak dampak. Dampak positif tentunya. Saya bisa belajar ketika kita memutuskan untuk saling mencintai maka kita harus bisa peduli satu sama lain, saling memahami dalam banyak hal, saling menerima, saling melengkapi, saling menjaga, saling memercayai, dan saling, saling, saling yang lain. Saya bisa belajar memahami jenis laki-laki yang memang dia sedikit bicara dan cool. Tipe seperti ini memang lebih banyak mendengar dan menyatakan perasaannya dengan sikap bukan kata-kata manis yang berlimpah. Seorang yang spesial ini tidak akan bisa kita memaksanya untuk banyak bercerita, ia akan bercerita secukupnya, sangat secukupnya. Sikapnya yang menginginkan sesuatu tidak akan secara langsung menyatakan keinginannya tetapi dengan sikap, dengan kode yang memang kita harus peka dan pintar menerjemahkannya. Lalu, apakah saya mengalaminya? Ya 😀

Saat melihat sosok “Jeon Jin Ho”, justru mengingatkan saya pada lelaki langit yang di seberang sana. Lelaki langit yang di suatu kesempatan berkata, “Wujudkan mimpimu. Aku sebagai lelaki berkewajiban untuk mendukung wanitaku.” Di depannya saya biasa saja saat itu. Tapi akhir-akhir ini justru kata-katanya membuat saya cengeng bukan berarti saya down justru membuat saya kuat. Bertahan dan berjuang. Saya egois? Mungkin, justru itu tertepis dengan “Buat aku bangga”, kata-kata sederhana tapi wah untuk saya.

Tiba di episode 16 di mana “Jeon Jin Ho” sakit. Setelah “Park gae In” menemuinya, ia segera sembuh. Ya, tiba di cerita itu saya teringat beberapa hari lalu, lelaki langit saya bilang kalau sedang tidak enak badan. Mungkin kecapekan, tapi lebih mungkin lagi karena rindu. Kata kakak saya yang menemani nonton di episode 16 mengatakan seperti itu. Rindu. Ketika ia bilang tidak enak badan, saya tidak menanyai apakah sebabnya karena rindu. Itu pertanyaan retoris, kita sama-sama tahu jawabannya. Doa yang lebih banyak dan lebih sering saya panjatkan adalah cara saya memeluknya dari jauh.

Saya di sini berharap akan semakin lebih baik, lebih keras lagi berjuang menjemput takdir saya. Semoga langkah kami diridlai. Semoga pundak kami dikuatkan. Semoga rindu kami dipertemukan sesegera mungkin meski nanti akan menuai rindu lagi, lagi, dan lagi. Semoga dengan ‘perjanjian suci’ yang terucap dan disaksikan ribuan malaikat akan membuat kami saling menjaga, membuka banyak pintu kemudahan, pintu kesempatan, pintu keberkahan, dan pintu-pintu kebaikan yang lain. Semoga semua ini mendewasakan. Segala puji bagi-Mu yang telah menakdirkan ia sebagai lelaki langit untuk saya.

Akhirnya, kerinduan ini terucap mengalir. Thanks for your patience. This distance is too difficult but i’ll run in your way, into your arms. Stay over there. Dont go anywhere. I’ll stay by your side.

Ayo kita hidup ‘bebas’ dengan saling mengikat hati 🙂

Bahasa Arab: Identitas(ku)

Take 1

Di ruang tamu pondokan KKN, Nabin. Ceritanya ada dua orang teman yang mengunjungi kami di pondokan. Keduanya berjilbab lebar menyapa saya.

Wiwid: Assalaamu’alaikum Ukhti Nika  *diiringi dengan senyum paling manis

Saya: Wa’alaikumsalam Wiwid. Eh, ada Lulu, juga *nggak kalah mengiringinya dengan senyum termanis 😀

Wiwid: Ukh, lagi ngapain? sibuk banget

Saya: ah, nggak kok.

Lalu keluarlah sahabat saya, sebut saja namanya Erlin. Secara penampilan bukan seorang yang berjilbab besar, tapi dia berjilbab. Cantik dengan style-nya.

Erlin: hai Wiwid, hai Lulu. Hei Niko, kenapa yang dipanggil dengan sebutan ukhti hanya kamu? Memangnya aku nggak masuk kriteria dipanggil ukhti ya?

Saya: hei Ukhti Erlin *sambil buru-buru masuk ambil buku catatan

***

Take 2

Dulu saat aktif-aktifnya ikut kegiatan kampus dan rajin ikut rapat. Biasanya disebut dengan syuro.

Senior: ayo-ayo segera dimulai syuro-nya!

Saya: Kak, si A belum datang.

Senior: Dia kan bukan akhwat.

Padahal teman saya ini adalah perempuan tunggal. Barulah saya mengerti seiring berjalannya waktu.

***

Take 3

Suatu hari saat saya baru saja log-in di salah satu akun media sosial saya, saya mendapati di beranda ada sebuah catatan yang dibuat oleh seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Saya baca catatan itu berharap mendapatkan ilmu. Ohya, semoga sang (calon) ibu dan (calon0 anaknya selalu sehat.

Disana saya melihat banyak komentar yang berdatangan dan dibalas dengan ucapan “jazakillahu khairan katsiron, ammah” atau “jazakumullah atas doanya, ammah, ammi” tetapi ada yang menarik perhatian saya ketika ada seorang teman perempuannya yang berkomentar (entah di kolom komentar yang ke berapa) mengucapkan selamat dan mendoakannya lalu dibalas dengan ucapan “terimakasih, tante I”, begitu jawabnya. Karena mendapati ada yang berbeda maka saya kepo deh pada teman-teman yang mendapat ucapan Ammah atau Ammi dengan yang mendapat ucapan Tante atau Om. Ternyata si pemberi ucapan datang dari ‘kalangan’ yang berbeda. saat itu saya langsung ambil buku catatan.

***

Take 4

Seorang cewek duduk di serambi sebuah Masjid Kampus disapa oleh seorang mbak-mbak berjilbab besar yang pada akhirnya saya tahu disebut sebagai ‘akhwat’.
A: bisakah anaa duduk di samping anti?
C: bisa, silakan.
*sambil sedikit bergeser
A: Jazaa
C: *mlongo, muka bodoh

Sebenarnya kata jazaa, jika biasanya ‘terimakasih’ diucapakan dengan kata jazakumullah/jazakillah/jazakallah, maka otak saya ini masih bisa menerima maksud penutur bahwa ia mengucapakan terimakasih yang diselipkan dalam sebuah doa akan tetapi jika itu hanya diucapkan ‘jazaa’ maka otak saya menerima ucapan itu yang berarti ‘membalas/balasan’. Dalam benak saya ketika ada yang mengucapkan jazaa, saya pun bertanya ‘nih orang bilang ‘membalas’ untuk apa? untuk siapa?’ Lalu, apakah susah menyebutkan dalam bentuk sempurna jazakallah/jazakillah/jazakumullah ahsanal jazaa atau mungkin cukup jazakallah/jazakillah/jazakumullah dan tolong jangan didiskon lagi.

***

lalu masih banyak lagi kejadian-kejadian ajaib yang saya abadikan

***

Saya teringat saat masa-masa awal kuliah tentang kebudayaan yang di sana membahas tujuh unsur kebudayaan. salah satunya adalah bahasa. Bahwa bahasa bersifat dinamis, ‘bergerak’, dan mengikuti perkembangan. Selain itu memang eksistensi bahasa sebagai alat komunikasi yang saling bisa dipahami oleh kedua belah pihak. Bukankah seperti itu?

Tidak hanya berlaku dalam bahasa Indonesia saja, semua bahasa tanpa pengecualian termasuk bahasa Arab. Bahasa seharusnya bisa dimengerti oleh semua kalangan bukan terbatas pada yang datang dari ‘kalangan’ atau ‘komunitas’ kita. Justru yang terjadi sekarang adalah munculnya campur bahasa dalam seni berkomunikasi terutama penggunaan istilah bahasa Arab.

Menurut sebuah thesis yang saya baca tentang terminologi bahasa Arab pada istilah ikhwan dan akhwat memang telah menyempit. Objek penelitiannya adalah dari salah satu partai islam cabang Jogjakarta. Sebuah gelar yang disematkan pada mereka yang datang dari ‘kalangan’ yang sama.

Sapaan Ukhti dan Akhi juga berlaku pada mereka yang satu ‘kalangan’ padahal dalam bahasa Arab semua orang berhak mendapat sebutan Akhi dan Ukhti tanpa memandang dari ‘kalangan’ mana ia datang. Ya, saya sering gerah, telinga merah (untung nggak kelihatan) jika mendapati semua kejadian-kejadian ajaib itu dan saya bertekad untuk anti-mainstream, memperlakukan semua sama. Semua berhak mendapat panggilan Akhi, Ukhti, Ammi, Ammah dst.

Katanya, cinta adalah wujud kata kerja. harus diusahakan. harus diupayakan. Kalau memang mengaku cinta bahasa Arab, ya upayakan untuk mempelajarinya, memahami, dan menelaahnya. Jangan sepotong-potong. Jika memang bahasa arab hanya menjadi identitas sebuah ‘kalangan’ kasihan kan dengan mereka yang ingin disapa dengan istilah-istilah bahasa Arab. Tidak perlu ngarab agar terlihat islami. Kata seorang teman, “Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Islam. Kalau Islam sama dengan Arab, mending saya berbangsa Islam daripada berbangsa Arab.

Ya, bahasa Arab: identitasku, bahasa apa identitasmu? Semoga bisa sama ya ^^