Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Long Time No See

*tarik nafas dalam-dalam daaaaaaaan….

Assalaamu’alaikum 🙂

Ternyata hampir satu tahun yang lalu postingan terakhir di blog ini *nangisdipojokan

Selama 10 bulan ini sebenarnya banyak hal keren yang terjadi, tapi betapa malasnya saya untuk merekamnya di blog ini. Saya menyadari betapa menulis membutuhkan sebuah komitmen yang luar biasa besar untuk terus memelihara keberlangsungannya dan keistiqomahannya. Semoga ke depannya bisa semakin lebih baik dan rutin untuk merekam setiap pelajaran (hidup) dan pengalaman agar bisa semakin bermanfaat.

Bandung Story

Alhamdulillah, Bandung time! 😀

Kupikir, bagi sebagian orang pergi ke Bandung adalah hal mungkin direncanakan dengan (sangat) mudah. Apalagi jika ditempuh dari Jogja. Bagiku, Bandung time kali ini adalah sepaket mimpi yang terkabul secara bersamaan. Tentang bagaimana ‘jalan-jalan’ kali ini terealisasi dan kenapa memilih Bandung sebagai destinasi. Semua tertata, semua indah dan Allah yang mengaturnya sedemikian cantik.

Gerbong Eksekutif dan Kepuasan

Berawal dari adanya ‘sesuatu’ yang harus diselesaikan di Bandung, mau nggak mau memang harus memaksaku memesan tiket perjalanan dan mendapat tempat yang nyaman. Di salah satu kursi di gerbong bisnis untuk berangkat dan satu kursi di gerbong eksekutif untuk pulang. Satu kursi di gerbong eksekutif, bagiku sesuatu banget…hahaha, salah satu mimpi yang sudah lama sekali dalam angan-angan dan taraaaaaa, terwujud dalam perjalanan kali ini dengan rejeki yang tak diduga plus naik kereta yang memuaskan, on time! Terus saja ingat, dulu selalu mengulang-ngulang berkata pada ayah dan ibu “aku ingin naik kereta eksekutif dari aku nabung salary-ku.”

Mengunjungi Braga

10351384_725522324196424_7614818896108057718_n

Keinginan mengunjungi Braga memang sudah lama, sejak menonton film Madre dan Garasi. Braga seperti jantung di Bandung kota. It is fascinating landscape. But, unfortunately, when I am staying here, Braga is not as beautifull as I thought before. Ada perbaikan saluran air yang membuat trotoar terlihat tidak cantik. Never mind, it is not perfect but it makes me happy. I am in Braga right now and spending my time with my life-partner. Mengunjungi Braga adalah mimpi yang terkabul. Kupikir hanya mengunjungi yang sifatnya sebentar saja, tetapi Allah memberi lebih lewat teman-hidupku yang memesan hotel untuk menginap 5 hari 4 malam, di Braga. Berdua! Ditambah dengan kabar bahwa Abangku ini mendapat kesempatan diklat di Bandung selama 6 hari. Ya meskipun nanti aku lebih dulu yang akan meninggalkan Bandung dan Abang. Tapi, Alhamdulillah… 🙂

Mengunjungi Asia Afrika

IMG_3392 (FILEminimizer)

Ini juga bagian dari keinginan jalan-jalan ketika suatu saat di Bandung. Jalan Asia Afika.

IMG_3384 (FILEminimizer)

Museum Konferensi Asia Afrika

IMG_3385 (FILEminimizer)

Gedung Merdeka di kawasan jalan Asia Afrika
Dan mimpi-mimpi lain yang terealisasi dalam satu paket dan satu waktu.  To be continued…

Kalau sudah seperti ini, siapa yang tak percaya pada mimpi? Tetapi mimpi itu sendiri perlu diperjuangkan dengan ikhtiyar maksimal dan doa optimal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu ragukan? 🙂

Braga, 10 November 2014

Satu Jam Untuk Para Juara

10694467_719889551426368_8331579788467396766_o

Actually, it is my mood booster!  🙂

Hari itu, Rabu (29-10-2014) saya memulainya dengan harap-harap cemas semoga hari ini bisa bermanfaat dan benar-benar bisa berbagi senyum ceria. Pola tidur yang berbeda, membuat saya pada hari itu baru tertidur pukul 02.00 demi untuk memastikan semua persiapan sudah dalam keadaan sempurna. Bismillah, it will be ok!

Selama ini, saya memiliki mental block yang parahnya saya yakini kebenaran bahwa saya susah sekali dekat dengan anak-anak dan saya tidak bisa mengajar di depan mereka. Well done, keyakinan itu saya bawa hingga akhirnya, kemarin, runtuhlah mental block yang saya yakini itu. *senyum lega 🙂

Berawal dengan modal nekat dan tekat, saya mendaftar sebagai guru tamu di sebuah agenda yang diadakan oleh Rumah Zakat bertajuk Pekan Berbagi Senyum yang dilaksanakan serempak di 30 kota di Indonesia (25-31 Oktober). Saya ingat bahwa pelamar diutamakan dari latar pendidikan guru atau berprofesi sebagai guru. Lha saya? Saya tidak ada pengalaman sama sekali untuk berhadapan dan berbicara di depan anak-anak. Alhamdulillah, saya mendapat surel dari Rumah Zakat bahwa saya menjadi salah 1 relawan di Pekan Berbagi Senyum dan mendapat tempat di SD Juara Yogyakarta bersama-sama siswa kelas 6. Allah memberi kesempatan dan jalan untuk saya belajar, awalnya, karena selanjutnya saya menemukan “harta karun” kehidupan yang luar biasa tanpa saya duga-duga yang selama ini hanya ada dalam pikiran dan mimpi-mimpi saya.

Rabu, 29 Oktober 2014, pertama kali saya memasuki gerbang SD Juara benar-benar membuat saya iri dengan cara mereka belajar. Para siswa belajar tidak hanya di kelas, ada yang di masjid samping sekolah mereka yang masih jadi satu dengan halaman sekolah dan ada yang di perpustakaan yang berada di lantai 2. Di kelas, mereka melepas alas kaki, sepatu-sepatu berjajar rapi di rak depan kelas mereka. Ketika istirahat, Sekolah Juara ini memanjakan para siswanya dengan lagu-lagu anak dan kemarin yang diputar adalah lagu dari Tasya.

Belajar rasa bermain

Sebelum saya benar-benar menjadi guru, saya disambut dengan sangat ramah oleh para guru dan kepala sekolah SD Juara, Bu Budi. Obrolan perkenalan dan menikmati snack bersama. Akhirnya, datanglah saat-saat berharga ketika saya mendapat kesempatan belajar rasa bermain karena memang bukan belajar yang sampai memandang buku pelajaran, akan tetapi kami bersenang-senang dengan bahasa. Kami hanya bermain, bersenang-senang akan tetapi kami juga belajar.

Anak-anak yang ramah, cukup ramai, akan tetapi sangat menghargai keberadaan “orang baru” dalam kelas mereka. Kami bermain puzzle kata dalam group. Mereka sangat antusias. Dan saya, benar-benar bisa menikmati dan rasa grogi 😀

Juara: kemenangan dan tantangan

Setelah puas bermain di kelas, saya kembali ke ruangan ibu kepala sekolah, ruangan yang sangat sederhana untuk seorang kepala sekolah. Saya, Pak Didik (seingat saya nama beliau karena lupa belum kenalan…hehe) selaku penanggung jawab dari RZ Jogja dan Bu Budi, selaku kepala sekolah Juara,  bertukar perasaan di ruangan itu. Saya ungkapkan, bahwa saya merasa nyaman saat pertama kali memasuki gerbang sekolah ini. saya pun menambahkan, bahwa konsep sekolah seperti ini yang saya inginkan, sekolah yang konsepnya sangatlah berbeda saat saya menempuh pendidikan jaman dulu.

Senyuman, itulah pertama kali tanggapan yang saya dapat. Kenyataannya, jauh dari perkiraan saya tentang sekolah ini. Awalnya, ketika saya lihat anak-anak belajar di masjid saya berpikir itu adalah bagian dari program akan tetapi itu terjadi karena keadaan. Kondisi yang kurang memadai untuk jumlah ruang kelas. Ya, belajar di manapun, tak hanya di kelas tetapi tetap terus belajar, tidak menyerah pada keadaan tetapi benar-benar menjawab tantangan untuk menang.

Latar belakang para siswa pun di luar dugaan saya, bahwa mereka datang dari keluarga yang cukup bahkan kurang dalam hal finansial, akan tetapi prestasi mereka tak kalah dengan mereka yang difasilitasi super wah dalam belajar. Ada dari mereka yang “datang dan pergi” karena alasan finansial keluarga, maksudnya, mereka harus bekerja, turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan dan membantu orangtua mereka. Ada yang mendapat dukungan orang tuanya, ada yang tidak mendapat dukungan orang tua. Ada yang dibebaskan untuk tidak ikut bekerja, hanya fokus untuk belajar dan ada yang tiap pulang sekolah harus bekerja. Ada juga, yang sama sekali tidak diijinkan belajar karena mempengaruhi pendapatan keluarga jika mereka belajar di sekolah dan membantu orangtuanya. Ya itulah tantangan. Karena tak ada kemenangan tanpa tantangan.

Sekolah Juara ini, mencoba untuk “memanusiakan”. Segala sesuatu tidak hanya diukur dari dari potensi akademik akan tetapi ada ruang ketika mereka mengekspresikan prestasi mereka di luar kemampuan kognitif, melalui seni (batik, lukis, tarik suara, dkk) serta ada waktu di mana satu hari untuk mereka yang memiliki jiwa bisnis “entrepeneur day”.

Sampai di sini, betapa saya benar-benar bersyukur mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Bersyukur bahwa saya mendapati kemudahan-kemudahan berupa fasilitas, kesempatan, dan tempat belajar yang nyaman. Bersyukur, bahwa ini pengingat bagi tujuan saya untuk apa saya belajar, mau dibawa kemana biduk keilmuan saya, lalu apa yang akan saya lakukan untuk membersamai mereka menjawab tantangan menuju garis kemenangan?

Satu demi satu, mimpi dan pertanyaan saya terjawab dengan indah, dengan jalan yang indah. Cinta yang dididik dengan jarak ini bukan sesuatu yang mudah tetapi inilah cara Tuhan mendidik saya, mendidik life-partner saya bahwa pernikahan ini bukan sekedar kami berdua akan tetapi bagaimana kami berbagi, bagaimana kami bermanfaat untuk umat, bagaimana menjadi pribadi yang tangguh, mandiri dan kreatif. Semoga ini adalah rasa sakinah yang hadir dalam bentang jarak. You treat me well, very well. Berkarya bukan sekedar bekerja! 🙂

 

 

Sawang Sinawang Dalam Hidup

Sebelum menulis lebih lanjut, saya ucapkan alhamdulillah karena koneksi internet yang membaik 😀

Saya yang dilahirkan dan tumbuh di Jawa (bukan sara ya…) tentu sudah sangat lama mendengar ungkapan “sawang sinawang”. Ya ya, “sawang sinawang” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai “lihat melihat” atau “saling melihat”. Aktifitas melihat yang sering kali melenakan pandangan bahkan mungkin akan timbul rasa-rasa iri, sedih, cemburu bahkan memudarkan rasa syukur. Mungkin lho ya, silakan merenung beberapa saat.
Aktifitas sawang sinawang ini biasanya akan melihat pemandangan-pemandangan yang serba membahagiakan dari kehidupan orang lain, teman atau orang-orang di sekitar kita lalu kita akan membandingkannya dengan keadaan kehidupan yang kita punya. Kita akan sering melihat sisi-sisi bahagia dari orang lain tanpa kita berpikir sedikit panjang tentang proses yang dijalani orang lain hingga hasil yang dicapainya sampai pada pandangan kita begitu membahagiakan. Terasa manusiawi dan wajar.

Sama halnya ketika saya memandang teman-teman saya yang dengan suka cita menyambut malam minggu dengan pacar/suaminya. Menikmati malam, lalu tiba-tiba Jogja berubah menjadi semakin spesial (haha.. :D), menikmati makan malam di angkringan, jalan-jalan di malioboro, atau hanya sekedar duduk santai menikmati secangkir kopi di pinggiran kali code. Bahagia rasanya. Lalu saya akan membandingkan dengan diri saya yang ‘pacaran’ dengan HP itu pun jika HP saya bunyi atau sengaja saya pancing agar berbunyi :D. Saya yang hanya mampu menggandeng buku dan akan nongkrong saja di kamar atau perpustakaan kota. Atau saya akan pergi ke toko buku dan pulang dengan kirim sms “aku mboyong buku lagi”. Contoh lain, saat menghadiri kondangan, semua teman-teman akan datang bersama pacar, tunangan atau suami/istri dan saya sangat bersyukur tidak datang sendirian tetapi ada teman atau barengan. Dalam kondisi seperti itu saya sangat bersyukur meski tak jarang kondangan sendiri. Mungkin ada orang yang kasihan sama saya, tapi saya baik-baik saja. *sambil nahan 😀

Saya pernah seperti itu. Jujur. Pernah. Tetapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya harus iri dengan orang lain? Tanya kenapa? Saya mensyukuri, saya memiliki partner hidup yang luar biasa oke bagi saya. Saya masih bisa mengantongi ijin untuk melanjutkan belajar di bidang yang saya sukai dan melanjutkan menyelesaikan kewajiban saya tahun ini. Saya diberi kesempatan menyelesaikan belajar Bahasa Jerman yang dari tahun 2009 belum kunjung usai, insyaAllah tahun ini selesai. Saya masih diberi kepercayaan untuk belajar Bahasa Belanda dan mendapat fasilitas “private”. Saya diberi kebebasan bekerja di bidang yang saya sukai yang tak jauh-jauh dari bahasa dan menulis sebagai English Content Writer yang tak harus duduk di kantor, cukup setor wajah ke kantor sekali dalam seminggu. Saya masih bisa merasakan pergi berkegiatan tatap muka, reuni, dan sejenisnya dengan teman-teman saya. Saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman komunitas fotografi di nol kilometer. Saya (berusaha) bahagia dan mensyukurinya. Menikmati ritme-ritmenya. Mendalami syahdu merdu alunan yang biasa disebut rindu. (Cieeee…. :D) Karena dengan ini semua setiap sudut kota Jogja benar-benar menyimpan cinta saya termasuk stasiun dan bandara. Menjalani dan memandang semua yang terjadi dalam hidup kita dari ‘kutub’ positif. Itu akan jauh lebih baik 🙂

Karena tidak ada kesulitan yang ‘dititipkan’ pada kita jauh melebihi batas kemampuan kita sebagai hamba-Nya. Tidak, Allah tidak akan memberikan ‘ujian’ di luar kemampuan hamba-Nya. Ketika kita ‘diuji’ pun Allah menguatkan pundak kita dan berjanji dalam firman-Nya “Bersama kesulitan ada kemudahan” yang diulang dua kali. Masihkah kita meragukannya? Kalau saya, saya amat yakin. 🙂

Wajar dan boleh kita memandang bahagia orang lain tetapi jangan samapi membuat kita lalai, merutuk, cemburu, iri, apalagi jika sampai memudarkan rasa syukur. Melihat bahagia orang lain, kesuksesan orang lain sebagai semangat untuk terus berlomba-lomba pada kebaikan itulah yang dianjurkan agar kita tetap ingat pada setiap nikmat yang dianugerahkan pada kita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ^^
#Ntms

Perpustakaan Pusat Kampus, disela-sela terjemahan, lembar-lembar ms. Word, dan A Glossary of Literary Terms.

Rampai Bahasa: (Tak) Ingin Dipanggil Ummi-Abii

Sebelum akhirnya saya memutuskan menulis catatan ini saya benar-benar berpikir apakah perlu menuliskannya. Iya nggak, iya nggak, iya nggak. Akhirnya, saya menyerah pada kegalauan saya, menyerah pada kerancauan di sistem memori kebahasaan saya. Saat memutuskan untuk menuliskannya pun saya mengalami kebingungan bagaimana cara saya berkata. Saya galau, teman-teman 😀

Mungkin, bagi sebagian besar pasangan di belahan bumi ini, “Abi/Ummi” adalah panggilan sayang yang luar biasa hebat. Bahkan kita sendiri tidak akan kesusahan untuk mendapati sapaan tersebut. Bicara tentang sapaan sayang ini adalah pilihan setiap pasangan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Walaupun membuat galau, saya pun tidak ingin naif untuk tidak ingin benar-benar dipanggil “Abi/Ummi”, saya ingin, dan teman hidup saya juga ingin. Tetapi saya membuat aturan khusus untuk panggilan yang spesial ini.

Sapaan Sayang “Abi/Ummi”

Setiap pasangan pasti memiliki sapaan sayang. Apa pun sapaannya, tentunya memiliki nilai sejarah sendiri-sendiri. Sekarang pun saya juga memiliki sapaan sayang yang mungkin berbeda dari yang lain. Prinsipnya, romantis adalah ketidak-romantisan itu sendiri 😀 Banyak cara mengekspresikan rasa cinta pada pasangan. Salah satunya adalah dengan menetapkan sapaan sayang.

Baiklah, begini, awalnya saya selalu rancu memahami sapaan “Abi/Ummi” saat saya mendengar dan saat saya membaca kiriman tulisan status di lini masa. Kerancuan itu muncul ketika, misal, ada seorang ibu yang bilang ‘Ummi kangen kamu, Nak’, ‘Asiiik, Abi libur. Bisa berkumpul bersama di rumah.’ dan banyak contoh yang lainnya. Sisi kebahasaan saya seketika itu akan langsung merujuk pada si kakek atau nenek si anak yang dimaksud. Dalam hati pun saya benar-benar bangga, “Wah, kakek neneknya sebegitu rindu sama si cucu.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika bercakap-cakap langsung lalu ada yang bilang ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” rasanya makin rancu pikiran saya. Saya gagal paham di banyak percakapan. Bahkan perlu beberapa detik untuk memahami apa maksud si penutur. Ini bukan lebay, ini hal serius yang memang perlu diseriusi, menurut saya.

Mungkin akan banyak yang akan menilai saya “ribet banget sih, cuma panggilan.” Ya, mungkin saya ribet tapi saya hanya ingin mengaplikasikan teori yang saya pelajari. Itu saja. saat itu yang membuat saya rancu dan galau tingkat akhir adalah sepengetahuan saya “Abi/Ummi” artinya adalah Ayahku/Ibuku ada lekatan kepemilikan aku yang membuatnya bertambah spesial bukan kata yang general lagi “Ayah/Ibu”. Apalagi kalau sudah mendengar ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” saya akan lebih sangat rancu lagi.

Panggilan sayang “Abi/Ummi” saya pikir tidak melanggar syariat hanya saja bagi saya ini adalah prinsip ilmu. Ilmu bahasa: Bahasa Arab. Salah satu cara menghargai salah satu dari sekian banyak ilmu; bahasa adalah dengan menggunakan secara benar. Prinsip boleh beda. Saya akan memasang toleransi setinggi-tingginya. Tetapi kalau saya pribadi, saya tidak ingin serta merta menggunakan istilah bahasa asing tanpa ada landasan teorinya yang mungkin untuk mengikuti ‘gaya hidup islami’. Jadilah saya memiliki mimpi sepuluh besar. Untuk ini saya menuliskan mimpi saya bahwa kelak ketika saya dan teman hidup saya dipanggil “Abi/Ummi” oleh putra putri kami, mereka sudah tahu dan paham pada ilmu, dasar teorinya dan bagaimana menggunakan secara benar. Semoga terwujud ^^

Tentang Kelegaan Perizinan

image

Pelajaran di akhir pekan yang panjang kali ini adalah tentang kelegaan perizinan. Perasaan saya saat ini adalah rasa sedih, kecewa, insyaAllah masih ada rasa syukur di antara kedua rasa itu.

Life-partner (saya) memberi ruang gerak yang cukup bebas, cukup lega bukan berarti ia melepas dan memberbiakan tulang rusuknya begitu saja. Sosok life-partner si tulang rusuk itu tetap melindunginya seperti yang dilakukan para laki-laki terhadap wanitanya. Ia memutuskan untuk memberi kelegaan dalam hal perizinan untuk tulang rusuknya karena ingin tetap menghadirkan rasa nyaman bagi orang-orang yang dekat dengan tulang rusuknya. Ya, menghadirkan rasa nyaman pasca life-partner menjadikan wanita itu sebagai tulang rusuknya.
Sosok life-partner si tulang rusuk itu mungkin bukan ustadz atau seorang yang sempurna dalam memahami hukum-hukum agamanya. Life-partner si tulang rusuk itu hanya ingin menanamkan pada tulang rusuknya bahwa selama visi/misi/tujuan aktifitasnya diniatkan untuk Allah, Lillahi Ta’ala, maka tidak perlu ada hal yang dirisaukan, digelisahkan, atau dikhawatirkan karena Allah yang akan menjaga tulang rusuknya untuk dirinya. Si tulang rusuk hanya bertugas untuk terus meluruskan niatnya. Dengan begitu, orang-orang yang berhak atas tulang rusuknya dapat terpenuhi dan si tulang rusuknya tetap bisa memenuhi janjinya. Menghadirkan kenyamanan dalam sebuah hubungan yang sudah sah sekalipun tidak hanya ada aku dan kamu, tidak hanya ada kita tetapi juga ada mereka. Mereka yang juga menginginkan kenyamanan atas kehadiran kita, tidak hanya kenyamanan bagi kita saja.

Semua itu pada akhirnya akan bermuara pada diri masing-masing karena tidak ada satu pun keputusan diambil tanpa dasar. Lalu yang kita lakukan sebagai pihak yang merasakan keputusan itu adalah menghormati dan menerima. Sudah itu saja.

Happy weekend 🙂

*backsong: Let it go by Demi Lovato