Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

ODOP: Ini Komitmen Serius!

Setelah flashback di tahun 2015 bisa dikatakan nggak ngeblog, akhirnya saya bertekad dengan membuat target yang saya tulis beberapa waktu lalu di sini. Sambil persiapan ambil ancang-ancang, saya sempat bertanya pada diri sendiri tentang memenuhi target One Day One Post. Keesokan hari setelah posting target-target di tahun 2016, saya mengingkari komitmen dengan banyak pembenaran. *huft

“If there is a will, there is a way.”

Kata-kata itu benar-benar ajaib, terimakasih ya Allah. Ketika saya menyelam (tanpa) minum air di beranda FB, saya menemukan postingan yang dibagikan oleh Bang Syaiha tentang kesempatan bergabung di One Day One Post yang disingkat menjadi ODOP batch 2. Bagai gayung bersambut *ceileeeeeeh, saya langsung memenuhi tiap prosedur sebaik-baiknya agar mendapat kesempatan bergabung dan terimakasih atas kesempatan yang mewah ini.

Bicara tentang menulis atau blogging bagi saya sama halnya bicara cinta *nggakpakecieeeh 😀 Ia berupa kata kerja yang butuh bukti nyata, bukan sekedar dalam kata. Saya hanya ingin membuktikannya, karena menulis adalah keterampilan yang memang harus diasah dan dilatih. Saya pribadi, membuat target ODOP untuk diri sendiri seringnya masih kreatif mengahdirkan banyak alasan, banyak pembenaran. Motivasi terbesar memang dari sendiri, tapi motivasi eksternal tetap dibutuhkan. Keputusan bergabung ODOP bagi saya juga sebuah keputusan yang besar. Ini komitmen, guys! Meski di group tidak ada hukuman, tetapi akan ada rasa gimana-gimana gitu ketika menyaksikan teman-teman seperjuangan lapor sudah post di blog masing-masing. It’s challenge! To be Looser or Winner! No excuse!

Menulis itu menebar kebaikan. Berharap tulisan kita memberi manfaat dan bisa mengisi semangat bagi teman-teman pembaca. Sederhana ya, but writing has many good impacts. It is a big deal to share everything on words.

 

20.000 Kata Yang (Tak) Sia-Sia

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang berlalu-lalang di beranda Facebook  yang dalam artikel tersebut dikatakan bahwa wanita harus mengeluarkan 20.000 kata setiap hari untuk menjaga kestabilan emosi. Saya rasa memang iya sih, ada benarnya juga. Meski bukan pembenaran bagi saya yang nyata-nyata memang cerewet.

Nah, memanfaatkan artikel yang saya baca itu, saya selalu mengadakan ‘presentasi’ di depan Mas Partner, apa pun bisa jadi bahan, bukan ngobrol ya, tapi saya yang ‘presentasi’ kaya salesman yang lagi nawar-nawarin produk dengan semangat membara *agak lebay…haha. Tanggapan Mas Partner? Diam aja. Iya, diam aja! Bagi saya, one of precious moments adalah ketika partner saya itu bicara panjang lebar dengan banyak kata dan kalimat-kalimat. Bicaranya berbobot bikin saya terpesona dan takjub bahwa ternyata bisa bicara buanyaaaaaaaaak.

Seringnya, saya ‘presentasi’ itu justru bikin polusi suara dan meminta saya untuk membuang 20.000 kata tiap hari itu untuk speaking IELTS. Awalnya, hanya saya iyakan dan tetap pada pola lama. Namun, baiklah saya mulai mencoba membuang 20.000 kata untuk latihan speaking IELTS.  Ngomong depan tembok, cermin, TV, buku-buku atau saya rekam dengan HP, diputar, hapus, rekam lagi, dengar lagi, begitu seterusnya hingga 20.000 itu terbuang.

Saya pikir, itu jauh lebih bagus daripada membuang 20.000 kata melalui ghibah, ngomongin yang gak penting, ngoreksi orang lain, kritik sana kritik sini, apalagi untuk ngomel-ngomel. Setelah memiliki pola baru, itu akan tetap saya pertahankan, selain sebagai latihan untuk tes IELTS yang harus dilalui dan diselesaikan (karena harus memperbarui sertifikat) juga bagus untuk melatih kelancaran dalam berbicara atau menaikkan level percaya diri ketika berhadapan dengan orang.

Jadi, buanglah 20.000 ribu katamu pada tempatnya karena tidak hanya sampah yang harus dibuang pada tempatnya dan tetaplah bijaksana sangat membuangnya. ^^

Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

2016 & ‘One’ Projects

Anggaplah bulan Februari ini rasa Januari di mana banyak orang menulis semua target-targetnya di tahun 2016. Bukan ngeles yaaa…*haha. Nah, tahun ini pun saya juga ingin menuliskan apa target saya atau biasanya yang disebut resolusi, karena tahun-tahun sebelumnya saya sangat malas dan (sedikit) menyepelekan mengapa target harus ditulis. Cukup diingat-ingat saja, sok-sokan kalau memori otak penuh dengan keterbatasan.

Target tahun 2016 ini, saya ingin memulainya dengan ‘One’ sebagai awal nama proyek-proyek pribadi atau sesuatu yang ingin saya capai.

One Day One Juz

Sebenarnya saya bergabung dalam komunitas ini sudah sangat lama, bisa dibilang ketika awal-awal group ini mulai diperkenalkan kepada khalayak. Parahnya, hanya bertahan satu saja karena member  group yang jarang konsisten lapor disebabkan banyak alasan hingga akhirnya saya ganti no WA dan ganti HP, totalitas sekali bukan?*hehe

Lalu, saya move on ke One Day One Page bersama teman-teman relawan rumah tahfidz PPPA Daqu Jogja. Takdir group ODOP juga tidak bertahan lama, kenapa? Alasannya tetap alasan klasik. Ya sudah, saya pasrah.

Ikhtiyar saya selanjutnya adalah tetap menjaga kekonsistenan tilawah dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa itu adalah sebuah kebutuhan bukan sekedar kewajiban lapor bahwa sudah selesai tilawah. Keberadaan group tilawah hanyalah sebagai penyemangat di luar diri sendiri. Ditambah doa semoga bisa berada dalam group tilawah yang anggotanya punya semangat luar biasa. Daaaaaaan, pada November 2015, saya ditawari kakak, sebut saja Mbak Lan begitu saya memanggilnya, menawari saya untuk masuk ke groupnya. Tanpa pikir-pikir dan jual mahal, saya iyakan.

Seperti dalam lagunya Opick, berkumpul dengan orang-orang saleh. Cieeeeeee…. Selain masuk group, saya juga membuat tabel ‘Absensi Pribadi’ dengan dua tabel: Mas Partner dan Dek Partner. Tujuannya, sebagai pengingat kebutuhan akan tilawah dan sebagai evaluasi bulanan seperti apa grafik tilawah masing-masing. Agar kebiasaan baik terbentuk, maka juga harus dibiasakan tiap hari dari sekarang. Karena surga bukan sekedar angan, tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Iya kan? Iya kan? 🙂

One Day One Post

Ini bagian dari proyek idealisme. (Masih) terlihat susah, tapi tetap akan diusahakan seserius mungkin. Selama ini alasan yang membuat blog ini sering kosong adalah rasa malas ‘ah, nanti aja.’ lalu tak terasa hari berganti dan ide pun pergi. It is not a big deal! Maka dari itu, saya pun bertekad untuk terus mengatur waktu agar bisa mewujudkan target yang satu ini. Semoga banjir ide daaaaaan nggak malas. Aamiin.

Menulis bersifat mengikat dan menebar manfaat. Ya, daripada gosip sana sini lebih baik nulis aja di blog. Iya kan? Kalau menulis adalah jalan menjemput rejeki ya itu bonus. Tulisan besar lahir dari tulisan-tulisan sederhana, serpihan-serpihan gitu. Menulis bagian dari skill yang butuh dilatih tiap hari. Perlu belajar tanpa henti.

One Week One Review

Nah, proyek yang satu ini sudah lamaaaaa sekali dalam angan. Lagi-lagi alasannya belum sempat *hiks. Semoga bulan ini, di minggu ini meski udah weekend, bisa dimulai dan benar-benar perpampang nyata. Punya blog review buku seperti punya Mbak Ziyy di sini yang udah jadi inspirasi dari dulu kala.

Proyek ini juga berarti bahwa setidaknya, dalam satu minggu harus baca minimal satu buku, ya novel gitu deh. Karena tidak mungkin ada review (punya sendiri) tanpa baca lebih dulu. Iqra! Iqra! Iqra!

One Month One Museum

Tahun lalu, saya punya ide untuk punya blog khusus tentang museum yang saya kunjungi sekaligus sebagai promosi atau ajakan bagi orang-orang khususnya kawula muda agar berminat dan semakin tertarik untuk mengenal dan berkunjung ke museum. Yah setidaknya, agar museum makin ramai pengunjung. Proyek ini saya namai Dolan Museum. Sementara ini masih sekedar foto-foto saja di akun pribadi instagram saya. Rasanya gatel ingin segera menuliskannya di blog, tetapi saya masih memiliki kebingungan dan masih krisis rasa percaya diri. Semoga bisa segera launching blog ‘Dolan Museum’.

One Year One Loving Cup

12654653_949522088463112_2766261436437902179_n

Tahun 2015 kemarin, saya tutup dengan satu piala, meskipun piala dan piagam penghargaannya diserahkan baru tanggal 1 Februari 2016. Desember 2015, keberuntungan dari Allah, nama saya masuk di barisan pemenang (hanya) Juara Harapan 1 Lomba Menulis Karya Tulis Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh KOWANI yang bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Piala, piagam, dan hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Menteri, Yohana Yembise.

Proyek ini saya adakan karena saya ingin menantang diri saya sendiri untuk mengalahkan bisikan-bisikan negatif dan ingin memberi yang terbaik untuk diri saya. Ingin lebih produktif lagi, lagi, dan lagi. Piala yang terkumpul nantinya ingin saya tunjukkan pada anak saya dan semoga bisa menjadi inspirasi sekaligus semangat bagi anak-anak. Hingga di titik ini, hal yang membuat saya semangat belajar dan mengumpulkan pengalaman adalah karena kalimat: kecerdasan seorang anak diturunkan langsung dari ibunya. *maap kalau gak nyambung…haha

Jadilah kalimat itu sebagai penyemangat saya dalam menjemput ilmu (berijazah maupun tak berijazah), menjadi ibu cekatan dan produktif.

 

Yap, itulah empat proyek besar saya (secara umum). Semoga bisa konsisten dan memenuhi komitmen pribadi. Semoga bisa jadi ide yang bermanfaat untuk ditiru dengan senang hati silakan. Semoga bermanfaat ^^

Bijak Menempatkan Jawaban Googling Aja

Ceracauan saya kali ini (setelah tepat satu tahun vakum) terinspirasi dari obrolan salah satu group kesayangan di WA. Saya bahkan sudah lupa tepatnya kapan tercetus “Googling aja” atau “Googling dong!” setiap ada salah satu di antara anggota group yang bertanya dan itu terbawa hingga sekarang. Adakah yang salah dengan jawaban “Googling aja”? Oh, tentu saja tidak, hanya saja sensasi dari jawaban itu yang berbeda dalam penerimaan tiap-tiap individu.

*Koleksi pribadi
*Koleksi pribadi

Oke, kemajuan teknologi sekarang ini benar-baner memberi pengaruh besar dalam kehidupan bagi sebagian besar orang-orang yang memang sudah melek pada teknologi. Banyak perangkat yang bisa dengan mudah terhubung dengan internet di mana pun dan kapan pun kita mau. Setiap tanda tanya dalam pikiran akan bisa ditemukan dalam sekali atau dua kali klik. Bertanya pada Google dengan hanya mengetik keyword  daaaan banyak pilihan yang ada di depan mata seperti memilih menu makan di rumah makan…haha..

Saya juga tidak memungkiri bahwa saya juga ‘aktifis’ apa-apa googling, dikit-dikit googling dari hal yang sangat penting hingga remeh temeh misal menentukan merk pewangi pakaian mana yang paling oke. Menurut saya, review di blog-blog benar-benar membantu. Sebagian besar tanya menemukan jawabnya di Google. Terimakasih Google 🙂

Di sisi lain, ketika ada yang bertanya lalu dijawab dengan “Googling Aja” atau “Googling dong!” akan ada rasa-rasa gemes yang hadir, itu sih pengalaman saya berdasarkan pengalaman, obrolan, curhatan, dan pengamatan saya. Saat seseorang panik, meskipun sudah googling, sudah membaca beberapa referensi tetapi ia bertanya menurut saya, ia sedang mencari jawaban sederhana atas pertanyaan dan penjelasan-penjelasan hasil googling. Ada lagi ketika dalam kondisi minim sambungan internet padahal ia butuh mendesak atas jawaban dari pertanyaan itu, siapa yang tahu kan? Kondisi lainnya, semisal seseorang itu tidak selincah kita yang dengan cepat mencari informasi di internet. Itu hanya gambaran beberapa kondisi selain kondisi kemalasan ya..

Menurut saya, sebagai pemberi task respond seharusnya benar-benar bisa membaca situasi kapan harus ditanggapi serius dengan membantu memberi jawaban atau penjelasan yang mudah dipahami dan kapan seharusnya melontarkan jawaban “Googling aja deh!” Biar sama-sama enak, nggak bikin orang lain gemes, dan setidaknya bisa jadi problem solver meskipun hanya menjawab pertanyaan teman atau siapa pun karena menjadi problem solver  nggak harus menyelesaikan masalah-masalah besar. Menyederhanakan jawaban, mampu menempatkan diri, dan nggak bikin gemes dalam situasi seseorang itu saya pikir juga bagian dari bagaimana menjadi problem solver. Jadi, ini juga bagian note to my self untuk saya dalam menempatkan jawaban “Googling Aja!”.