Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

aku datang

Aku datang,

membawa serta rindu dalam genggaman

Aku datang,

bersama kasih yang tertuang, mengalir tenang dalam muaranya

Aku datang,

bersama untaian harapan yang masih samar-samar

Aku datang,

menyambut gelayut mimpi kota berhati nyaman

Dari sini,

dari nurani

aku memulai mendatangi mimpi

mengasihi harapanku sendiri

mencetaknya menjadi keping jejak-jejak kaki

Ya itu kaki,

yang tak lain adalah kakiku sendiri

Suatu hari nanti

Makna Hidup dari Ngebut


Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ketika seorang kawan dengan sangat ringan berkata, “naik motor aja”. Ringan sekali ketika tangan tak terkendali memacu pengendali hingga terlihat 80km/jam dan sesekali 90km/jam. Kecepatan yang standar, mungkin. Menikmati mulusnya jalan Jogja-Solo tanpa hambatan. Berempat berkompetisi di jalanan. Berhenti bersama ketika dihadang lampu merah. Menyalip satu per satu kendaraan di depan kami juga bersama-sama. Menyamakan kecepatan agar tak tertinggal. Namun, pada akhirnya satu diantara kami tertinggal karena mengurangi kecepatan dan terpaksa terhadang satu lampu merah ketika semua telah melaju. Yang lainnya terus melaju. Meski pada akhirnya karena satu pesan mampir di inbox kami “wooee, tungguin dong…!!!”, kami memilih menunggu agar bisa terus sejajar di jalanan itu atas nama rasa setia kawan.

Tiba-tiba teringat tentang satu kuliah saat seorang dosen berkata, “Belajar itu jangan menunggu yang lain belajar. Saat yang lain belajar, Anda santai. Saat yang lain santai, Anda juga ikut santai. Kapan Anda maju? Apa Anda bisa memastikan yang lainnya bersedia menunggu Anda? Anggap ini sebuah kompetisi!”

Ya, mungkin seperti itu. Hidup adalah kompetisi. Terus melaju dengan menambah kecepatan -minimal bertahan dengan kecepatan awal- agar terus sejajar atau mengurangi kecepatan lalu akan tertinggal. Ketika bertemu hambatan atau disapa ujian hanya akan ada dua pilihan, statis atau dinamis. Karena hidup adalah sebuah arena mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah kesulitan menjadi kemungkinan-kemungkinan, mengambil resiko dengan sepenuh konsekuensi dan keberanian. Tidak lemah, tidak putus asa, tidak gampang menyerah untuk hidup yang menyejarah.

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)

Ditulis,
Yogyakarta, 15 Juni 2009

Terimakasih:: Iphe, Ni’mah, Dila untuk having fun di jalanan….

Primadona

google_protectAndRun(“ads_core.google_render_ad”, google_handleError, google_render_ad);
Kutahu suatu saat akan kuhapus semuanya
Kriteria emas yang selama ini membelengguku

Kutahu suatu saat kuakan benar-benar hidup
Dengan gaya dan aturan yang sudah teramat kudambakan

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Reff:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Kutahu suatu saat akan ada sebuah era baru
Di mana saatnya kuberbalik dan menertawakan teorimu
Kutahu suatu saat kita akan bertemu lagi
Dan seakan kau tak mengenalku tapi aku sudah tak peduli

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Chorus:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Chorus

Berhenti …

by Sherina Munaf

Ich, Du und Liebe #2

Tidak selalu uang mengambil peran dalam kehidupan karena ada mutiara yang paling berharga yang tak akan tergantikan mesti uang selalu mengambil peran. Itulah kebersamaan…!!!

Ada ketulusan tanpa mengharap imbalan dan hanya dengan kata saya membungkusnya sebagai bingkisan [untuk] ‘besar’.

Terimakasih [untuk] ‘besar’,

Untuk sepasang mata yang selalu bersinar lembut penuh harap dan semangat meski tak setiap hari kulihat

Untuk waktu yang kau luangkan untuk sekedar berkata, “jaga diri baik-baik…”, “hari ini, warnai dunia lagi…”, “try to get your masterpiece!!!”, “make me proud, p**…”

Untuk curhat-curhat dan cerita-ceritamu yang membuatku merasa ‘penting’ dan dipercaya

Untuk mendukung setiap pilihan yang kuambil dan kujalani dalam hidup ini

Untuk selalu ada untukku, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun keadaanmu

Untuk petuah-petuah dan saran yang berharga yang tidak pernah menggurui

Untuk teladan yang menakjubkan dalam tindakan yang tak sekedar kata-kata belaka

Untuk menjadi ‘partner kerja’ untuk menemaniku begadang tiap malam demi “sail my hopes”

Untuk semangat tetap memilih bertahan menghadapiku ketika aku menjelma menjadi perempuan paling menyebalkan sedunia di masa-masa sukarku

Untuk setiap usaha untuk membuatku nyaman menjadi diri sendiri, dicintai dan diterima apa adanya

Untuk cukup meyakinkanku bahwa ketulusan tak hanya ada di negeri dongeng…

Untuk seikat kata-kata indah pelipur hati, peredam emosi…

Terimakasih [untuk] ‘besar’ . . .

Ketika tak ada yang menjagamu
Ketika tak ada yang mendampingimu
Semoga Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya

Never Ending Asia–The Spirit of Java–Kota Bersemangat
06 November 2009

“Bis ans Ende der Zeit”

Bis ans Ende der Zeit
Ich habe Sehnsucht nach Dir
Und wenn Sie den gleichen
Dann Zeig mir deine Liebe
Ich gebe dir alles, was Geld nicht kaufen kann
Und ich bin gleich von Ihnen versprechen Seite

Anatomi Emosi

Medium journey yang cukup menyenangkan sebenarnya tapi tidak untuk saya. Menentang jalanan yang lengang seakan-akan jalanan itu milik saya terasa amat biasa saja. Pukul empat pagi membelah kota ponorogo dan mata saya menyapa aktivitas belakang layar sebelum hiruk pikuk kota membuka suara. Tentang seorang anak yang membantu ibunya menyapu daun-daun yang jatuh di aspalan kota. Tentang penjual yang meramaikan pasar di pagi buta. Tentang rumah-rumah yang masih menutup pintunya. Tentang kehidupan pagi yang amat bersahaja, sedikit mengalihkan fluktuasi emosi saya seharusnya tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Kendaraan terus melaju, sesekali saya mengeluarkan kepala dan tangan saya, ingin jujur pada pagi bahwa emosi saya serba tak pasti. Cuaca hati saya tak seindah pemandangan di depan mata saya. Menarik nafas panjang lalu luh mencuri kesempatan untuk keluar. Minggu luh sedunia untuk saya.

Merasai kehilangan di saat yang tak tepat, itulah yang saya rasakan. Ketika semua file yang tersimpan dalam notebook hilang tanpa bekas layaknya ombak menghapus jejak di pantai. Di saat saya benar-benar membutuhkannya. Bagaimana saya mendapatkannya lagi? Mengusahakan bekerja 2 kali? Mengulang semua tulisan dan semua pekerjaan saya? Atau lebih memilih diam? Kehilangan, sarana yang benar-benar berkesan bagi saya untuk memaknai arti keberadaan semua yang saya miliki. Entah rasa apa yang saya punya sekarang, emosi atau kecewa?

Ucapan semangat terasa tak punya kekuatan lagi untuk membuat saya kembali ke keadaan semula. Mengharapkan kembali semua yang hilang, bukan sesuatu yang berguna justru sangat sia-sia, saya tahu itu. Tetapi sangat sulit bagi saya terutama saat ini.

Saya tahu, ‘bersama kesulitan ada kemudahan’ dan kalimat itu pun diulang 2 kali dalam Al Quran. Saya tahu, janji Allah itu pasti layaknya matahari yang mencintai titah Tuhannya. Benar-benar pasti dan saya pun benar-benar percaya dengan kebenaran janji itu. Tetapi, kenapa Ya Rabbi masih terselip rasa tidak ikhlas dalam diri saya?
Ampuni saya Rabbi atas rasa yang berlebihan dalam diri saya yang membuat saya menyakiti diri saya dan orang yang setia membersamai saya.