Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Ich, Du und Liebe #1

Mungkin,
ini luh yang tak sengaja lahir hari keterbiasaan
jatuh satu-satu
dalam genggam jemari hari

Mungkin,
keberadaannya seakan anak jiwa
tangisnya akan merambatkan api ke dalam paru-paru kita
hingga kita lebur dalam bara yang sama
tetapi dalam tubuh yang berbeda

Mungkin,
ini pesan dari surga
layaknya getar jemari yang mengantar pesan
ke seluruh sel tubuh
dan kita
luruh dalam tubuh yang terpisah

Mungkin,
ini gerakan dari jantung hati
ketika darah mendesirkan gelombangnya
dan kita beriak tak berdaya

Mungkin,
ini penghias
layaknya tatapan mata yang membuka cakrawala jiwa
lalu kita dapati rumah yang kita cari
tapi dalam kelopak mata yang berbeda

Mungkin,
jika kita kehilangan fungsi
karena tidak kita dapati
aku, kamu atau pun kita
di seberang tatapan mata

Pasti,
jika ini lahir dari rahim Pemilik Cinta Sejati
dan kita menikmati,
dalam bentangan sajadah
dalam untaian ayat-ayat cintaNya,
dalam ketaatan di JalanNya,
dalam manis air mata kasih sayangNya

Sebuah kata halal
di mata dunia dan di mata akhirat
Itulah inginku…

Ngawi, 3 November 2009

Ingin Terus Memiliki Tapi…


Berawal dari obrolan pagi yang hangat tepatnya waktu dluha yang bersahaja dengan enam gelas jeruk hangat. Sabtu (24/10), saya yang telah selesai menghadiri acara salah satu UKM tercinta dan empat orang sahabat yang usai berjismu salim (olahraga) bertemu di tempat favorit kami, Humaniora Mandiri dalam ketidaksengajaan. Saya, Aa’ sundanis tampang punk berhati pink, Uni ranah minang, kucing pontianak, Paijo Asli Jogja dan si manis futsal lover berkumpul dan berbincang hal-hal yang sebenarnya sangat membuang waktu, tapi ada yang menarik perhatian saya ketika Aa’ bertanya kepada saya, ‘Sendirian Ka? Mana Induk Semang?’. ‘Pulang ke Tangerang’, jawab saya. Dari pertanyaan itu mulailah kami berbincang tentang arti sendiri, bersama, memiliki dan pada akhirnya kehilangan dan sesekali dibumbui guyonan. “Itu sudah hukum alam”, kata kucing.

Memiliki sahabat adalah anugerah dan bersahabat bukanlah hal yang mudah karena harus ada rasa pengertian dan saling percaya. Ada banyak hal yang berbeda di sela-sela kemiripan. Ada keterpautan. Saling membutuhkan. Bahkan juga ada pertengkaran. Tetapi lepas dari semua itu adalah adanya kesejiwaan. Kesejiwaan yang tak sekedar cocok dan nyaman tapi kesejiwaan dalam prinsip atau bahkan fundamental.

Ada kebersamaan ada pula kesendirian, kehilangan sementara begitulah kami membahasakannya. Kehilangan bukan berarti kehilangan jasad untuk rentang waktu yang lama tetapi kehilangan untuk sementara waktu karena jarak, karena kita punya kepentingan yang tidak memungkinkan untuk terus membersamai atau mungkin karena ada hal-hal lain yang lebih prinsipil. WaAllahua’lam. Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap suatu saat pasti rasa kehilangan itu akan menyapa. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi agar semua tetap terasa indah, sekalipun datang di waktu yang tidak tepat. Merasai sepi dan sendiri, hal yang kurang disenangi oleh beberapa orang tetapi terkadang kesendirian adalah kado terbaik dan
kehilangan bukan berarti tidak memiliki, hanya saja genggaman itu merenggang tapi masih kita miliki.

Itulah obrolan singkat kami di waktu pagi, tanpa kami sadari tak hanya enam gelas jeruk hangat tetapi makanan yang tersaji di depan kami pun telah berpindah tempat ke perut kami beserta sarapan yang kami pesan. Sebelum bubar dan menuju dunia masing-masing, salah satu dari menutupnya dengan sebuah lagu “dear God –Avenged Sevenfold–“

Dan lebih sempurna lagi dengan doa pengikat hati untuk semua, dimana pun. Semoga dengan doa pengikat hati ini kita tidak akan merasai arti kehilangan.

Doa Rabithah

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami…

Rapatkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakkal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMu
Matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Rapatkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakkal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMu
Matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam

Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…

[Doa Rabitah-Izzatul Islam]

“Terimakasih telah membersamaiku untuk memaknai kata kehilangan”

Ditulis di ‘Kandang Beruang’, Kandang Eksekutif Muda H39
24 Oktober 2009

Posting,
Ngawi Bersemangat, 3 November 2009

Ada Budaya Dalam Tumpukan Sampah

Manusia hidup dalam suatu komunitas yang dapat menghasilkan berbagai budaya. Budaya dapat berwujud materi dan non materi. Salah satu hasil budaya berwujud materi adalah sampah. Sampah adalah salah satu hasil dari budaya itu sendiri. Seringkali sampah hanya dipandang sebelah mata bahkan ada yang menganggapnya barang yang tak berguna. Banyak orang menganggap sampah hanyalah perusak keindahan, pembuat polusi udara dengan baunya yang tidak sedap dan sumber penyakit. Dengan keadaan seperti itu, sampah yang seringkali membuat orang tidak merasa nyaman pada kenyataannya ternyata masih ada orang-orang yang hidup dari sampah, memunguti barang-barang yang masih bisa memberi mereka penghidupan seperti sampah plastik, botol air mineral dan sampah anorganik lainnya.

Sampah-sampah tanpa kita sadari adalah hasil dari budaya kita. Sampah-sampah yang terbuang tanpa kita berpikir ulang bagaimana memberdayakan lagi hasil budaya yang telah terbuang. Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk daur ulang pada sampah-sampah itu yang pada akhirnya bisa kita manfaatkan lagi keberadaannya. Seperti pemanfaatan sampah plastik terutama kemasan-kemasan detergen dan kemasan makanan ringan menjadi tas-tas sederhana, penutup meja, karpet atau layar untuk menjemur padi (ini bisa ditemui di daerah pedesaan dan telah menjadi barang yang biasa digunakan dan dicari keberadaannya). Akhir-akhir ini, banyak kita temui slogan ‘go green’ sebagai wujud peduli pada lingkungan dan beberapa supermarket –terutama wilyah Yogyakarta– telah menggunakan tas-tas belanja yang bisa digunakan berkali-kali pakai. Selain itu, botol-botol mineral pun bisa didaur ulang untuk hiasan-hiasan rumah tangga seperti tudung saji bahkan botol-botol air mineral itu mulai digunakan untuk membuat alat musik tradisional berupa angklung. Tidak hanya plastik, buah duwet (bentuknya bulat kecil, berwarna ungu gelap, bisa ditemukan di ujung Jalan Sosio Humaniora, dekat bunderan dan tumbuh di halaman Fakultas Filsafat) serngkali terbuang bahkan terinjak tak berguna, akan tetapi buah itu bisa digunakan sebagai pewarna batik alami dan hasilnya tidak kalah bagus dengan pewarna kimia.

Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk menjadikan sampah yang berupa hasil budaya menjadi sebuah budaya baru yang lebih bermanfaat dan bernilai seni. Mari kita ciptakan suasana cinta budaya sendiri dengan ‘bahan mentah’ yang kita miliki sekalipun itu adalah sampah.

DIY, 31 Oktober 2009

Kado #2 'Yang terbaik bagimu'

Bertambah usia bukan berarti kita paham segala-galanya. Banyak harap. Banyak doa terpanjat, tanpa tahu apakah aku tahu dan mampu. Kata tersembunyi, entah malu-malu atau memang tak mampu muncul ke permukaan karena engkau -pemilik kata itu- takut semua itu akan menjadi beban untukku.

Bibirmu berucap di tengah canda yang kutangkap, setiap jenjang memiliki dunianya sendiri yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari jenjang pertama. Rambut putih tak menjamin bahwa kita akan paham dan mengerti pada setiap sudut jenjang dimensi dan waktu yang telah terlewati.’

Terbingkai harapan, terbungkus doa dalam sampul terindah. Dan kuramaikan hari ini layaknya engkau meramaikan istana setiap hari. Senyum simpul dalam pandang pertama di awal pagi. Sapa dan cium hangat ketika engkau bergegas pergi hingga malam menjelang saat engkau meringkuk siap untuk sail to your dream….

Ada Band – Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)


Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

*courtesy of LirikLaguIndonesia.net

DIY, 25 Oktober 2009

“Selamat Ulang Tahun…Ayah”

hari ayah, kapan ya?

Setiap pagi – jika berada di kos- setelah jalan-jalan pagi, saya sempatkan untuk menonton kartun SpongeBob. Lupa waktu itulah yang saya dapati karena kemarin (23/7) banyak menu pilihan film kartun, tidak seperti biasa pikir saya. Menonton saya akhiri pukul delapan lewat karena saya janji pada seorang teman untuk mengunjunginya di ma’had. Di ma’had pun kotak hitam seperti di kos saya juga menyala. Saya lupa nama acaranya, yang terekam dalam ingatan saya dalam acara itu didominasi oleh anak-anak. Spesial sekali pikir saya. Saya baru menyadari ketika teman saya nyeletuk “pantas kalau acaranya anak-anak mulu, wong hari ini hari anak nasional”. Ooo…hari anak nasional.

Nuansa penuh dengan nuansa anak. Atmosfir keceriaan dan kegembiraan. Inilah dunia anak. Kenapa suasana seperti ini hanya ada satu tahun sekali? Kenapa anak-anak jaman sekarang harus dewasa lebih cepat meski umur mereka masih dalam zona anak? Kemana dunia anak yang pernah tersuguh ketika saya menikmati masa kanak-kanak saya?

Anak tetaplah anak yang mempunyai jenjang dunia yang seharusnya terpisah dengan orang dewasa. Masa kanak-anak adalah masa perkembangan dan pembentukan pola-pola pikir dan bersihnya imajinasi. Awal lahirnya sebuah peradaban baru di masa yang akan datang.

Semoga hari anak nasional ini memberi semangat baru bagi mereka. Semoga hari anak nasional menjadi sebuah penghargaan terhadap kehadiran mereka di tengah masyarakat layaknya para ibu yang merayakan hari ibu setiap satu tahun sekali sayangnya belum ada hari ayah. Untuk para ayah dan para calon ayah jangan ngiri yaaa….

Kota berhati nyaman, 24 Juli 2009

Ibu..!

Kamis (23/7), pukul 08:29:40 saya menerima pesan singkat dari seorang teman tepatnya Bapak Kepala Suku alias Ketua Generasi saya. Pelan-pelan dan sangat hati-hati saya membaca pesannya karena kata awal yang terangkai adalah “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”, saya lanjutkan membaca pesan di HP saya. Ada perasaan takut saat membacanya dan akhirnya saya dapati bahwa ada teman seperjuangan saya selama 3 tahun tengah diuji Allah dengan kepergian ibunya hari itu juga tepatnya pukul 06.50WIB, di semarang. Saya jadi teringat dengan ibu di rumah dan menelponnya, sekedar basa-basi bertanya kabar walau baru satu hari berpisah. Saya teringat ketika kelas dua, saya bersama teman-teman pergi ta’ziyah ke rumah teman kami. Ketika kami datang jenazah belum diberangkatkan jadi kami pun menyaksikan pemberangkatan dan memberi penghormatan terakhir. Saat itu benar-benar berarti keberadaan seorang ibu bagi saya walaupun sebelumnya ibu sangat berarti dan setelah kejadian itu saya semakin “ngeman” dengan ibu saya. Masih ada harapan dalam benak saya untuk nikmat umur panjang yang barakah agar kawan seperjalanan ayah terus mendampingi saya. Saya jadi teringat ketika ibu bermain angka dalam usianya, berapa sisa waktunya jika jatah usianya 50 tahun, 60 tahun atau 70 tahun. Saat itu saya tidak memberi komentar tetapi dalam hati saya ada kesedihan jika waktu perpisahan itu datang. Semoga Allah memberimu kesempatan lebih untuk bisa menyertaiku, ibu..!

Kali ini ijinkan saya bertutur tentang makhluk bernama ibu dengan mengutip tulisan dari Salim Akhukum Fillah dalam buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” dan “Agar Bidadari Cemburu Padamu”.

Menjadi ibu. Bagi kita adalah mimpi-mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa.Seruak cita itu adalah fitrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan! Ibu..! Mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun memilikinya, memiliki kedudukan ini : surga di telapak kaki. Tak satu pria pun. Demi Allah, tak satu pria pun..!

Ibu..!

Panggilan yang begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam di diri setiap wanita. Selalu dan senantiasa. Ada nuansa cita, imajinasi dan gairah setiap kali kata tiga huruf plus dua titik dan tanda seru itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadiran.

Ibu..!

Ini tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka rasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.

Ibu..!

Panggilan yang meneguhkan status kemanusiaan dan kehormatan. Ibumu disebut tiga kali di depan, baru ayahmu menyusul kemudian. BegitulahRasulullah menegaskan. Ia juga panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang putra pecah.

Ibu..!

Banyak wanita yang kini enggan menjadi kata itu, maka kata itu pun enggan menjadi mereka. Betapa sulit meminta wanita bersedia punya anak, di singapura misalnya. Ketika mereka menolak janji-janji kata itu, kata Ust. Anis Matta dalam Ayah, menganggapnya sebagai gerbang menuju neraka, menganggapnya sebagai pintu penjara, kata itu justru enggan membantu mereka melepakan diri dari jeratan kesendirian, membasuh kulit mereka yang melepuh akibat sengatan matahari. Kata itu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan.

Ibu..!

Mungkin tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugerah, yang keimanan pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakan kepada kita. Persis sebagaimana ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy dan lainnya. Ya, tapi mereka kan ummahatul mukminin, ibu dari semua orang beriman, kata kita. Pada posisi ini, memang. Tetapi mengandung, melahirkan, menyusui, menimang adalah bagian dari saat yang dinanti bersama hakikat kata Ibu..! Itu, yang juga tak dirasai oleh ‘aisyah sekalipun.
Atau terkadang, penantian panjang, kegelisahan, kecemasan dan kata seterusnya jika panggilan itu tak segera hadir adalah ujian lain dari Allah. Alasan kesehatan, kerawanan melahirkan pada usia tertentu, menjadi gurita kecemasan lain yang mencoraki ujian itu. Lalu Allah menjawab di antara doa hambaNya, istri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, istri ‘Imran dengan si suci Maryam dan istri Zakariyya dengan si ‘alim Yahya. Setelah penantian panjang, doa yang mengiba dan rasa yang tersembilu.

Ibu..!

Lepas dari itu, sekali lagi, adalah menakjubkan setiap urusan orang mukmin. Persis kata Rasulullah, menakjubkan! Karena setiap halnya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika disinggahi nikmat, ia bersyukur maka kesyukuran itu baik baginya. Jika ditamui musibah ia bersabar, maka sabar itu lebih baik baginya. Jika syukur dan sabar itu dua ekor tunggangan, kata ‘umar, aku tak peduli harus mengendarai yang mana.

Menjadi ibu hakiki, yang melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiyar paling gigih, doa paling tulus dan tawakkal paling pasrah adalah kemuliaan tanpa berkurang sepeserpun. Tidak sedikit pun. Semuanya mulia.

Ibu..!

Kita akan berjumpa dan meniti kemuliaan-kemuliaan beliau, mungkin di waktu lain. Sekadar agar bidadari cemburu padamu, dengan menjadi kau takkan tersaingi olehnya selama-lamanya. Ya. Ibu, melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya…

Kepada para ibu selamat merayakan indahnya menjadi ibu dan para calon ibu semoga menjadi madrasah agung yang melahirkan generasi penerus pejuang nabi teladan.
Kepada para ibu yang telah mencium aroma surga, semoga Allah mengampuni dan melapangkan, semoga semua amanah telah dilaksanakan dengan baik dan allah menggantikannya dengan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai… Amiin…

Yogyakarta, 24 Juli 2009