Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Kado #1 'hanya lilin'


Tak ada kue tart, hanya lilin merah berdiri di atas gletser kesendirian, kilau apinya menantang, menerangi usia yang baru saja berganti. Usai nafas yang menghukum mati api, lilin tersungkur dan berganti tempat di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu, dalam sekejap usailah sudah.

Sederet angka dan huruf bertuliskan namamu. Mengingatkanku pada hari spesialmu. Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku pada sensasi keabadian akan ingatan. Hanya fotomu yang mampu melakukannya. Rolex, Gucci dan kawan-kawannya tak mampu lakukan itu.

Aku tak mampu melewatkannya denganmu tahun ini. Kau merayakannya seorang diri. Kesendirian adalah kado yang hadir dalam setiap kesempatan, katamu. Jadi ‘Selamat Ulang Tahun’ hanya bisa terucap tanpa hadir bertatap. Hanya dengan perantara namun kau bahagia menerimanya.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu setiap hari. Meski kau bilang “aku sendiri” tapi doa-doa itu mampu jadi penghangat bagimu. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Ada kalanya kesendirian adalah kado ulang tahun yang terbaik.

Bertambah nominal usia dan berkurangnya kesempatan tak menjadi jaminan kita paham segala-galanya. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Akan kuucapkan sekali lagi Selamat Ulang Tahun…
Semoga kita rasakan indah berulang tahun setiap hari….

Ngawi, 21 Juli 2009


ganti baju

Pagi ini, sengaja saya menyelesaikan semua kewajiban itu lebih awal. Lalu saya bergegas ke dag untuk menikmati panorama pagi dari ketinggian. Jalanan yang sepi berubah menjadi sangat ramai dan didominasi oleh para pelajar yang ingin berangkat ke madrasah agung.

Pagi ini, sedikit mengingatkan saya tentang ‘dresscode‘ yang pernah saya kenakan. Kemeja kuning dengan baju luarannya sepanjang lutut berwarna hijau ditambah dasi mungil sebagai hiasannya. Waktu mengajak saya bergegas untuk mengenakan kemeja putih dan rok merah. Cukup lama saya mengenakan ‘putih-merah’ ini, selama 6 tahun. Pergi ke sekolah kadang diantar kadang bersepeda dengan teman-teman. Masa yang indah karena dalam episode ini terakhir kali saya bersepeda ke sekolah. Masa yang menyenangkan. Waktu terus mengantar saya pada episode kehidupan yang baru, ‘putih-biru’ menyambut. Sedikit dewasa pada sesi ini. Belajar ‘mempermainan’ angka dalam rumus-rumus, berkata dengan bahasa asing dan memiliki teman dari penjuru kota yang bersemangat ini. Waktu lagi-lagi tak ingin menunggu dan mengajak saya hijrah ke kota budaya ‘solo the spirit of java’, dunia ‘putih abu-abu’ mengucap welcome atas kedatangan saya. Episode ini mengajak saya ‘belajar’ lebih serius walaupun realita harus memaksa saya untuk jujur mengakui bahwa saya tak serajin dalam angan saya. Ini adalah episode spesial karena jauh dari orangtua dan tinggal di asmadera. Belajar tentang banyak hal, dari segala sesuatu yang ada di bangku sekolah hingga maddah kehidupan yang terkadang harus ditelan mentah-mentah diproses hingga bisa matang berbuah hikmah untuk bekal hidup selanjutnya. 3 tahun cukup sebentar untuk saya, karena di kota budaya persahabatan, cita, cinta, duka, luka dan rindu tergenggam. Waktu seolah musuh yang memaksa saya untuk berpisah dari apa yang sudah saya nikmati dan waktu pun telah memilih tempat pemberhentian selanjutnya yang ‘fullcolor’ di kota never ending asia. Kota yang indah katanya. Memang indah, lebih indah dari kota budaya, lebih lengkap mulai dari etnik hingga makanannya. Tempat pariwisata bahkan musiumnya.

Waktu yang selalu jadi jembatan masa dan berani memberi hal-hal baru, menawarkan banyak pilihan walau tak semua akan jadi realita tetapi waktu telah berjasa karena kita bisa bermimpi. Memiliki bagian terbesar dalam hidup, melahirkan sejarah yang akan menggantung hati-hati para pemiliknya. Katanya, sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia tapi tidak melekat utuh pada realita. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. Sejarah lahir dari rahim waktu. Lagi-lagi waktu memberi keluangan untuk ‘ganti baju’, membuka lembaran baru, menapakinya dengan jejak baru. Sekarang -mungkin- sebuah keberuntungan ketika saya dan Anda bisa ‘ganti baju’ di setiap episode dalam hidup ini. Selamat ‘ganti baju’ tahun ini…..

Ngawi bersemangat, 21 Juli 2009

Untuk ’embun malamku’ yang baru saja ‘ganti baju’
selamat menikmati ‘abu-abuer zone’
in the real excellent school


Putih-Biru2

Dulu impian akan masa depan masih abu-abu tapi kini kita telah punya jalan menuju mimpi. Di bangku ini kita belajar memahami. Di kelas ini kita mencoba menghiasi.

Hmmmm….

bukan awan hanya senyuman


Kau bukan awan yang mampu menaungiku ketika aku kepanasan

Kau bukan awan yang mampu menghadirkan rembulan saat aku kegelapan

Kau bukan awan yang mampu melindungiku saat peluh langit berguguran

Kau bukan awan yang kuasa menaklukkan kehidupan

Karena awan terlalu rapuh,

Dia selalu ada tetapi dia lemah,

Dia mudah pecah,

Dia mudah terbelah

Tak mengharapkanmu menjadi awan

Karena cukup bagiku, kau menjadi senyuman

Tak perlu banyak alasan karena telah kumiliki segalanya jika senyuman telah tergenggam

Tabur bintang kilau senyuman

Karena Senyuman Yang Membuatku Berkecukupan

MEC, 29 Mei 2009

Dimanapun, awan akan terlihat selalu indah–MEC, perpus selasar selatan, perpustakaan, plasa lt 2, C201, G. A210, R. Dosen selasar utara, G. F301, G. F303, Learning Plaza, jembatan budaya–

Inspirasi:
Awan-
“Ayo bergerak! Saat spt ni jgn gunain filosofi awanmu, Ka!”-
“Senyumanmu”__Letto-

Membuat Crepe Manis

Crepes sangat populer di perancis. Bentuknya seperti serabi tetapi lebih ringan dan tipis. Kalau kalian mau, gak perlu menunggu lama-lama untuk mencobanya. Cukup pergi ke dapur dan siapkan bahan-bahannya.

* 3 butir telur
* 40 gram gula
* 250 gram tepung terigu
* 2 sendok teh mentega cair atau minyak
* 500 ml susu
* garam secukupnya

Ikuti langkah-langkah berikut:

Kocoklah telur lalu tambahkan gula, tepung terigu, garam dan mentega atau minyak. Pelan-pelan tambahkan susu dan aduklah adonan sampai benar-benar tercampur. Panaskan penggorengan. Tuangkan adonan ke dalam penggorengan sedikit demi sedikit. Balik atau goyangkan selama memasak sampai berwarna keemasan. Makanlah Crepe dengan isi roti sesuai selera. Lebih nikmat jika dinikmati dengan secangkir coklat panas di musim dingin di negara asal ^_^….
Selamat Mencoba…!!!