Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Menikmati Pantai Taipa di Kota Palu

Pantai Taipa Palu

Pantai Taipa Palu

Masih dalam rangka mengabadikan memori manis di Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, kali ini saya akan menceritakan tentang pantai (lagi). Yap, salah satu pantai yang tentunya cantik di Kota Palu. Memang, Sulawesi Tengah itu memiliki banyak pantai. Ada pantai yang telah dikelola maupun pantai yang masih alami. Tapi tentu saja, baik itu pantai yang sudah dikelola maupun yang belum dikelola, sama-sama indahnya. Pantai Taipa adalah salah satu pantai di pinggiran Kota Palu yang telah dikelola secara professional. Kenapa bisa disebut professional? Ya, karena Pantai Taipa telah dilengkapi dengan fasilitas lengkap, yaitu telah tersedia restoran, penginapan, kolam renang, dan cottage. Semua fasilitas ini dibangun secara rapi dan terawat.

Pantai Taipa Palu
Area kolam renang di Pantai Taipa yang langsung menghadap laut. Sisi kolam untuk orang dewasa.
Pantai Taipa Palu
Sisi kolam renang untuk anak-anak di Pantai Taipa, Kota Palu.
Pantai Taipa Palu
Terlihat deretan cottage di Pantai Taipa, Kota Palu.

Pantai Taipa berjarak kurang lebih 17 KM dari Kota Palu dan dapat ditempuh kira-kira 30 menit. Pantai Taipa memiliki pasir putih di sepanjang pantai dan air laut yang jernih. Begitu dekatnya sehingga bisa menjadi salah satu alternatif liburan bagi warga Kota Palu di akhir pekan yang bisa dijangkau dengan mudah. Pantai ini terletak di Teluk Palu sehingga di kejauhan terlihat Gunung Gawalise yang tentu menambah keindahan pantai ini. Pantai Taipa terletak di teluk Palu, oleh karena itu airnya cukup tenang dengan sedikit ombak-ombak kecil. Namun, di waktu-waktu tertentu terutama di sore hari, angin dan ombak cukup kencang bertiup atau ketika sedang pasang. Tiap ke pantai dan menjumpai air laut sedang pasang jadi teringat potongan lagu ini, “ketika tiba-tiba ombak di laut surut cinta kita berdua tetap pasang, sayang.” Adakah yang familiar dengan lagu itu? 😀

Pantai Taipa Palu
Pemandangan dari salah satu tempat makan yang ada di Pantai Taipa.
Pantai Taipa Palu
Menjelang senja di Pantai Taipa.

Yak, kembali lagi ke Pantai Taipa, banyaknya fasilitas yang tersedia, pengunjung tidak perlu merasa bingung mau ngapain. Bagi yang suka berenang bisa memilih mau berenang di kolam renang air tawar atau sekalian berenang di laut sambil melihat indahnya terumbu karang dan ikan-ikan. Bagi yang ingin bersantai bisa menyewa gazebo yang tersedia atau hanya sekadar duduk-duduk di pinggir pantai. Restoran juga tersedia, sehingga saya ketika berkunjung ke sana tidak perlu repot-repot membawa bekal dari rumah. Ada taman kecil juga yang bisa saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar pantai. Taman ini dilengkapi dengan jembatan di atas kolam yang dicat warna-warni, dan anak-anak bisa diajak memberi makan ikan.

Pantai Taipa Palu
Kolam yang cukup luas di area Pantai Taipa, terdapat jembatan dan di kolam tersebut terdapat ikan-ikan.

Selain melepas penat, saat berkunjung ke Pantai Taipa saya memanfaatkan juga untuk praktikum materi sekolah Bilgi di Al Kindi Online Preschool tentang benda yang bisa melayang dan mengapung di atas laut. Percobaan sederhana untuk anak preschool yaitu meletakkan telur di dalam gelas yang telah diisi air dan dicampur garam. Namun, karena langsung berada di pantai, saya langsung bisa mengambil air laut dan memasukkan telur ke dalam gelas berisi air laut. Hasilnya, telur pun melayang dan si anak pun juga senang. Ternyata belajar pun bisa dilakukan dengan sangat menyenangkan. 🙂

Pantai Taipa Palu
Melakukan praktikum sederhana di Pantai Taipa, Kota Palu.

Jika teman-teman merencanakan untuk menginap, di Pantai Taipa telah tersedia pula penginapan yang bisa disewa dengan harga yang lumayan oke dengan mempertimbangkan lokasi dan fasilitasnya. Per malam sekitar Rp500.000, 00. Namun nampaknya perlu dipastikan kembali apakah harga ini mengalami kenaikan harga atau tidak. Dengan segala fasilitas lengkap yang disebutkan di atas, untuk bisa menikmati keindahan Pantai Taipa para pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar 20 ribu rupiah, termasuk untuk berenang di kolam renang. Sementara untuk parkir kendaraan roda dua akan dikenakan tarif Rp 5.000,00 dan Rp 10.000,00 untuk roda empat. Tidak hanya itu, di Pantai Taipa ini juga sudah ada masjid yang sangat nyaman untuk melaksanakan salat.

Pantai Taipa Palu
Saat ke sana, ombak sedang besar dan laut sedang pasang.

Jika teman-teman sedang singgah di Kota Palu dan ingin menikmati suasana pantai selain Pantai Talise, Pantai Taipa bisa menjadi pilihan yang bisa dicoba. Jika teman-teman ingin menikmati pantai di luar Kota Palu tetapi ingin perjalanan yang singkat dengan view laut yang indah, teman-teman bisa mengunjungi pantai-pantai yang ada di Kota Donggala terutama Pantai Bonebula. ^^

 

Menikmati Indahnya Sunset Khas Pantai Bonebula

Pantai Bonebula Donggala

Pantai Bonebula Donggala

Pulau Sulawesi dan juga wilayah timur Indonesia lainnya memang terkenal dengan keindahan pantainya. Dulu, ketika melihat pantai di Jawa yang menurut saya sudah tampak bagus, menjadi tidak ada apa-apanya ketika sudah melihat pantai dan laut Sulawesi. Kali ini, satu lagi pantai di Sulawesi Tengah yang ingin saya ceritakan. Namanya Pantai Bonebula, tidak jauh dari Kota Palu, kira-kira dua jam perjalanan ke arah Donggala. Memang pantai Bonebula ini terletak di Kota Donggala. Kota Donggala adalah kota kecil, padahal jaman dahulu kala sebelum ada Kota Palu, Donggala merupakan pusat keramaian di Sulawesi Tengah. Bisa dibilang Donggala ini semacam kota tua. Perjalanan dari Palu ke Donggala memiliki pemandangan laut yang indah karena menyusuri garis pantai di sepanjang perjalanan.

Pantai Bonebula Donggala
Senja di Pantai Bonebula, Donggala.

Perjalanan ke pantai ini tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum, karena memang tidak ada. Saya berkendara ke Pantai Bonebula menggunakan kendaraan pribadi. Saat saya ke sana dua tahun lalu, Pantai Bonebula masih sangat alami. Karena itu, jika Teman-Teman tidak membawa bekal dan sudah memasuki waktu makan, saya menyarankan untuk singgah sebentar di Donggala Kota untuk mengisi perut dan istirahat sejenak karena tidak ada rumah makan di sekitar pantai. Hanya ada beberapa penjual cemilan seperti cilok dan somay. Restoran favorit saya di Donggala adalah Rumah Makan Terminal Indah. Restoran ini berada di atas laut, seperti bentuk panggung, dan menu utamanya adalah ikan bakar dan aneka seafood lainnya. Saya akan membahas tentang rumah makan ini di lain kesempatan, hehe… 😀

Setelah makan siang, saya sekalian mampir ke masjid terdekat untuk sekalian salat dzuhur sebelum melanjutkan perjalanan. Tiba di Pantai Bonebula pada pukul 14.30, dan saya rasa ini adalah waktu yang tepat karena kita bisa bermain-main sebentar menikmati keindahan pantai sebelum akhirnya duduk santai menyaksikan matahari terbenan yang indah khas Pulau Sulawesi. Kenapa saya sebut khas, karena beberapa kali saya menikmati senja di Sulawesi Tengah selalu disuguhkan pemandangan yang serupa: langit kemerahan di ufuk barat (terkadang merah kebiruan tergantung cuaca) dan semburat awan yang membuat langit senja tidak terlalu “flat”.

Pantai Bonebula Donggala
Pantai Bonebula berpasir putih.

Seperti layaknya cuaca di kebanyakan daerah di pesisir Sulawesi Tengah, Pantai Bonebula hari itu cukup panas dan cerah tetapi berangin. Pantai ini tidak terlalu ramai. Banyak orang namun tidak membuat suasana terasa sumpek. Masih banyak ruang untuk main air, berenang, lari-larian di pinggir pantai, atau pun menikmati ayunan di bawah pohon pinggir pantai.

Pantai Bonebula Donggala
Ada ayunan di sebuah pohon di Pantai Bonebula, Donggala.

Selepas badan basah dan kotor terkena pasir putih, disediakan kamar bilas untuk mandi dan ganti baju. Sayangnya karena air tawar susah diperoleh, pada waktu itu saya harus membayar lebih untuk air bilas. Satu jerigen kira-kira 10-15 ribu, tergantung ukuran. Barulah setelah badan bersih dan segar, silakan siapkan minuman hangat dan cemilan lalu duduk santai menikmati pantai. Chill and relax. Sore kala itu, saya sempat menikmatinya juga dengan duduk di atas pasir putih Pantai Bonebula sambil membaca buku dan melihat tawa bahagia seorang anak yang sedang menikmati waktu di pantai bersama sang ayah. Indah. 🙂

Selepas matahari terbenan, sebelum pulang kami menyempatkan dulu sholat magrib di tepi pantai. Nuansanya berbeda dibanding biasanya salat di ruangan tertutup di masjid atau ruang salat di rumah. Malam beranjak, sebenarnya saya bisa memilih utnuk sekalian menginap atau pulang. Kalau menginap silakan membawa tenda sendiri, namun ada biaya tambahan untuk ijin menginap kepada pengelola. Kalau memutuskan untuk pulang saya sarankan jangan terlalu malam, karena jalan dari Pantai Bonebula ke jalan utama poros Donggala-Mamuju belum ada penerangan yang memadai dan cukup gelap dan kontur jalannya naik turun ditambah banyak tikungan tajam. Tapi sangat layak untuk dicoba. Worth it.

Pantai Bonebula Donggala

Namun, geliat tumbuh di Pantai Bonebula terlihat. Tahun lalu, 2022, dari akun Instagram Soal Palu mengunggah berita yang membuat saya senang sekaligus bergumam ‘wah, sayang sekali belum bisa ke sana lagi’ karena di sekitar Pantai Bonebula sudah ada penginapan bernama Sunset Rumah 40 dengan view yang langsung menghadap laut. Di dekat Pantai Bonebula ini juga ada Pantai Boneoge yang tak kalah cantik dan Pusat Laut. Saya pun sangat ingin kembali lagi ke sana suatu hari nanti.

Pantai Bonebula Donggala
Sunset Pantai Bonebula, Donggala.

Oh ya, teman-teman juga bisa menikmati senja dari Kota Ampana yang juga tak kalah indah dengan senja khas Sulawesi ^^

Kegiatan yang Bisa Dilakukan di Danau Tambing Poso Sulawesi Tengah

 

Hampir dua tahun tinggal di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kota Palu tentu secara emosional saya merasa ada ikatan yang tidak main-main. Terlebih ini pengalaman pertama kali tinggal di pulau Sulawesi dan hal yang membuat berkesan juga adalah saat saya pindah ke Kota Palu, kota ini masih dalam tahap recovery pasca bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi. Antara mudah dan tidak mudah. Ternyata oh ternyata, Kota Palu menawarkan banyak keindahan setelah benar-benar tinggal di Bumi Kaktus ini.

Suasana perjalanan menuju Danau Tambing

 

Bagaimana tidak, saya menyebut kota ini sebagai kota kombo di mana perbukitan yang berderet-deret dan juga deretan pantai yang indah. Kedua saling berhadapan, kalau couple sih udah saling tatap gitu posisinya. Betapa gampang jadi pemburu sunset di pantai, pun tak kalah mudah menjadi pemburu sunrise di bukit atau pegunungan. Tanpa keluar kota saya sudah mendapatkan paket kombo bahagia itu. Itu di dalam kota ya, bagi saya lebih spesial lagi alam Sulawesi Tengah ini jika mau dan ada kesempatan ke luar Kota Palu.

 

Menuju akhir tahun 2021 menurut foto di galeri smartphone saya 😀 meski belum akhir tahun banget sih, suami mengajak saya dan Bilgi pergi ke Danau Tambing, Poso. Itu destinasi pertama saya di Poso. Jaraknya cukup dekat dari Kota Palu, seingat saya hanya sekitar 2 jam dengan mobil. Kawasan Danau Tambing ini berbatasan dengan Kabupaten Sigi. Jadi kalau dari Kawasan Danau Tambing ke Danau Poso, Poso Kota atau Tentena masih sangat jauh, pun beda rute. Perjalanan ke Danau Tambing melalui Sigi, sedangkan ke Poso Kota atau Danau Poso melewati Kebun Kopi, Parigi Moutong bahkan melewati depan Pondok Pesantren Modern Gontor 6.

 

Pemandangan dari sisi yang lain setelah tracking

 

Danau Tambing dalam Bahasa Pamona yaitu Rano Kalimpaa atau Rano Tambing ini berada di Desa Sedoa, Lore Utara. Danau yang masih bagian dari wilayah Taman Nasional Lore Lindu. Danau yang terletak pada ketinggian sekitar 1.700 meter dari permukaan laut ini  selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai usia. Selain itu, udara di Danau Tambing juga sangat sejuk cenderung dingin. Saat saya berkunjung masih bisa dijumpai berbagai macam jenis burung yang dirawat secara bebas. Pohon-pohon dari berbagai varietas bisa dijumpai bahkan ada yang berukuran sangat besar dengan usia puluhan bahkan ratusan tahun. Bagi saya yang seorang pendatang baru, Danau Tambing tentu menjadi tempat baru yang juga berkesan karena di kawasan sekitar danau memang terawat dan bersih. Saya melihat para pengunjung Danau Tambing ini tertib juga untuk urusan sampah yang mereka bawa. Gimana nggak jatuh cinta kan ya?

 

Gambaran tentang kenyamanan di Danau Tambing ini juga mendukung bagi para pengunjung untuk beraktifitas. Apa itu?

 

Berkemah

 

Di area Danau Tambing ini terdapat area khusus yang disediakan oleh pengelola untuk berkemah. Tidak hanya para muda mudi yang berkemah tetapi juga mereka yang telah berkeluarga juga ada yang berkemah di sana. Tidak hanya berkemah sebagai keluarga kecil bahkan ada yang berkemah dengan keluarga besar. Seru banget! Saat malam juga diijinkan membuat api unggun tetapi harus dengan tanggung jawab. Ketika selesai berkemah ya sisa-sisa kayu atau sampah harus benar-benar bersih. Tak kalah penting, sebelum berkemah di Danau Tambing harus ijin pada pengelola, jumlah anggota yang berkemah, durasi berkemah, jumlah dan jenis kendaraan yang akan menempati lahan parkir, semua harus dilaporkan dengan jelas. Di area berkemah juga sudah disediakan lampu penerangan secukupnya, tetap syahdu kok.

 

Camping di Danau Tambing
Suasana berkemah di Danau Tambing

 

Kalau berkemah, bagaimana dengan mandi, cuci alat makan atau buang air di mana? Tenang! Don’t worry 😀 Di Kawasan Danau Tambing disediakan toilet dengan jumlah yang cukup tanpa harus antri panjang. Kamar mandi yang ada sangat bersih dan jauh dari aroma-aroma tak sedap khas kamar mandi. Urusan toilet, aman. Tak hanya itu, di kawasan ini juga sudah ada musola beserta tempat wudlu yang bersih dan nyaman bagi pengunjung muslim.

 

Tracking

 

Tracking di Danau Tambing

 

Setelah sempat ditutup karena pandemi, Kawasan Danau Tambing dibuka kembali tentu dengan protokol kesehatan yang ketat. Seingat saya, dibuka sekitar 23 Oktober 2021. Selain berkemah, kawasan ini saya juga bisa melakukan trekking bersama anak dan suami. Jalur tracking dibuat oleh pengelola kawasan Danau Tambing.

Salah satu jalur tracking yang telah disediakan oleh pengelola.

 

Jalur tracking ini mengelilingi Danau Tambing sembari bisa kita menikmati pemandangan alam yang benar-benar alami. Jalur tracking ini pun menurut saya juga masih termasuk jalur tracking alami atau ‘liar’. Benar-benar bisa untuk olahraga sekaligus cuci mata.

 

Berburu Foto

 

Alam yang indah tentu tak bisa dilewatkan tanpa mengabadikan momen kan ya? Selain berfoto dengan keluarga, teman, pasangan, atau siapa pun, di kawasan Danau Tambing ini juga bisa dimanfaatkan untuk hunting photo bahkan saat saya di sana, ada juga yang sedang memanfaatkan kunjungannya untuk membuat video pendek tentang Danau Tambing dan ada juga yang sedang membuat film pendek untuk tugas kuliah. Pun termasuk saya, momen di Danau Tambing saya abadikan di blogpost ini, hehehe..

 

 

Selain 3 kegiatan tadi, ada juga yang memancing dan juga berpiknik dengan menggelar tikar lalu menyiapkan kudapan. Aktifitas yang tak kalah membuat iri saat saya ke sana adalah ada salah satu pengunjung yang dengan santainya menghabiskan waktu di sana dengan membaca buku.

 

Yap, apa pun aktifitasnya semoga kita melewatinya dengan orang-orang tersayang. Kalau pun ke Danau Tambing sendirian ya nggak apa-apa lah ya 😀 Yang penting tetap ingat jaga kebersihan.

 

Sampai jumpa di Danau Tambing, Lore Lindu, Poso 

Tak lupa, cerita lain tentang Poso juga bisa dinikmati di sini ya teman-teman… ^^

Menikmati Danau Poso dari Torau Resort

 

Dulu, ketika saya masih duduk di sekolah dasar kelas 5 atau kelas 6, nama Danau Poso seolah sangat familiar. Di buku sekolah akan saya jumpai nama Danau Poso di bagian pengetahuan dasar atau pengetahuan alam. Lalu, saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, nama Danau Poso kian mudah dijumpai, lebih-lebih di sekolah menengah pertama ini ada mata pelajaran Geografi. Apakah teman-teman juga menjumpainya di buku sekolah?

 

Semacam photobooth dengan latar Danau Poso
Semacam photo booth dengan latar Danau Poso

 

Saat itu, Danau Poso yang saya baca di buku pelajaran mengatakan bahwa danau ini terletak di Pulau Sulawesi, tepatnya di Propinsi Sulawesi Tengah. Saat itu bagi saya tentulah itu adalah sebuah tempat yang jauh untuk dijangkau bagi anak usia sekolah yang tinggal di Kota Ngawi, sebuah kota yang berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah. Di peta saja, menjangkau Pulau Sulawesi harus melewati Pulau Kalimantan yang sangat besar. Ketika itu Danau Poso merupakan nama tempat yang ‘wah’ untuk saya.

 

Berpuluh tahun berlalu hingga nama Danau Poso teralihkan dengan mimpi dan ambisi lain 😀 tapi bukan sepenuhnya melupakan juga sih. Hingga akhirnya, Januari 2021 adalah awal Sulawesi Tengah menjadi ‘tempat bermain’ bagi saya karena harus pindah tinggal di Kota Palu. Momen ini menjadi kesempatan bagi saya untuk bermain dan menikmati Sulawesi Tengah, termasuk Kota Poso. Finally, here we go, Poso. Perjalanan dari Kota Palu ke Kota Poso memakan waktu sekitar 6 hingga 7 jam. Itu baru sampai kotanya ya. Jika lanjut hingga Danau Poso maka estimasi perjalanan dari pusat kota adalah 1,5 jam hingga 2 jam. Perjalanan ditempuh jalur darat.

 

Kalau teman-teman sedang berada atau merencanakan traveling di Sulawesi tepatnya di Sulawesi Tengah, Danau Poso adalah tempat yang layak untuk dijadikan tujuan. Danau Poso merupakan danau terbesar ketiga di Indonesia setelah Danau Toba di Sumatra Utara dan Danau Singkarak di Sumatra Barat. Karena menjadi salah satu danau terbesar di Indonesia, danau ini menyuguhkan suasana yang berbeda dibandingkan danau-danau kecil lainnya. Vibe-nya seperti berada di pinggir pantai, padahal sebenarnya adalah danau. Danau Poso terkenal dengan pasirnya yang berwarna kuning keemasan. Gelombang air di danau ini juga mirip dengan gelombang air laut. Jika diperhatikan secara seksama, warna air di Danau Poso cukup unik. Di bagian pinggir danau, air berwarna hijau dan terdapat perbedaan dengan warna air di bagian tengah danau dimana air berwarna biru.

 

 

Berada di ketinggian 657 meter di atas permukaan laut, danau dengan luas seluas 32.000 Ha membentang luas dari utara ke selatan dan mempunyai kedalaman mencapai 510 meter. Jika berangkat dari Kota Poso, Danau ini berjarak 56 km dan dapat ditempuh kurang lebih selama 1,5 jam. Sedangkan dari Kota Palu, Danau Poso dapat dicapai setelah menempuh jarak sekitar 283 km dengan estimasi waktu perjalanan darat sekitar 8 jam.

 

Mengingat jaraknya yang lumayan juga dari Kota Palu, tentu pertanyaan berikutnya adalah dimana tempat menginap yang bagus? Ada banyak tempat penginapan di sekitar Danau Poso. Salah satu penginapan yang menarik untuk menikmati Danau Poso dari dekat adalah Torau Resort. Lokasi penginapan ini tepat berada di tepi Danau Poso. Sayangnya, hanya memiliki sedikit kamar, sekitar 6-7 kamar saja. Kamar yang terbatas, lokasi bagus, fasilitas lengkap, dan dekorasi kamar yang sangat indah, menjadikan Torau Resort sebagai salah satu tujuan utama ketika menginap di sekitar Danau Poso. Pemesanan kamar harus dilakukan jauh-jauh hari. Saya sendiri sering sekali kehabisan kamar, apalagi di musim liburan, harus gercep pokoknya.

 

Alasan Torau Resort Laris Manis

Model di foto tetap suami 😀 | Dari kolam renang seakan tanpa sekat dengan Danau Poso.

 

Kolam Renang Torau Resort

 

Memangnya apa yang bikin Torau Resort laris ya? Salah satunya adalah fasilitas yang lengkap. Selain ada kamar tempat menginap, di Torau Resort juga ada restoran dan kolam renang bagi pengunjung yang ingin berenang tapi takut berenang di danau yang lumayan dalam dan posisi kolam renang ini menghadap langsung ke Danau Poso. Ada juga wahana banana boat untuk pengunjung yang ingin basah-basahan di danau. Selain itu, spot-spot di Torau Resort menurut saya sangat instagramable. Bahkan, disediakan semacam photo booth di pinggir kolam renang.

 

 

Bagi saya, kamar-kamar di Torau Resort memiliki desain yang sangat unik, beraksen rumah kayu dan dibangun di atas danau. Sambil bersantai di depan kamar, anak-anak juga bisa diajak ngasih makan ikan-ikan yang berenang bebas di bawah kamar.

 

Kamar Torau Resort
Penampakan Kamar di Torau Resort

 

Dengan segala fasilitas yang ditawarkan, dari segi harga menurut saya termasuk cukup kompetitif ya.. 😀 Tarifnya di kisaran 600.000 rupiah saat weekend atau musim liburan dan 485.000 untuk weekday. Selain kamar, ada juga paket menginap di tenda ala camping di tepi danau dengan biaya pertenda 400.000 per malam. Sedangkan tiket masuk bagi yang hanya ingin berenang saja cukup membayar 15.000 per orang. Bagaimana menurut teman-teman, mahal kah atau murah? 😀 Mengingat penginapan yang sering sekali sold out nampaknya harga segitu cukup layak untuk dicoba bukan? 🙂 Oh iya, cerita tentang Kota Poso di kesempatan yang lain juga bisa dinikmati di sini 🙂

Sampai jumpa di tepi Danau Poso, teman-teman ^^

Lima Rekomendasi Tempat Menikmati Landscape Kota Palu

Saya masih ingat, ketika saya tiba di Kota Palu pada Januari 2021. Beberapa saat sebelum pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Sis Al Jufri, saya terpana dengan pemandangan di luar jendela pesawat. Kota Palu paket kombo di mana laut dan pegunungan bertemu dalam satu titik. Indah sekali. Sesuatu di luar prasangka saya sebelum saya tiba yang dipenuhi dengan rasa khawatir apakah nanti akan betah tinggal di Kota Palu.

 

Keindahan Kota Palu ini juga terbingkai dalam sebuah lagu berjudul Palu Ngataku dalam Bahasa Kaili yang berarti Palu Tempat Tinggalku. Dalam lagu itu digambarkan sama seperti apa yang lihat, paket kombo.

 

“Ngataku nasugi, Ngataku nagaya, karona ritatangana.”

[Tempat kelahiranku subur, tempat kelahiranku indah, letaknya di tengah-tengah (di antara gunung dan teluk)]

 

Dan, ada hal yang membuat saya girang saat beberapa hari tinggal di Kota Palu adalah saat melewati kantor Walikota Palu ada foto Pasha Ungu pakai baju Korpri…hahaha meski saat saya datang adalah saat-saat akhir jabatannya sebagai Wakil Walikota Kota. Receh sekali yaa…

 

Long story short, setelah melewati beberapa bulan dan diajak explore Kota Palu, justru saya betah dan jatuh hati. Saya nggak perlu jauh-jauh kalau untuk menikmati daily refreshing. Ya, karena Kota Palu ini seperti kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Dalam satu kota, semua itu bisa dinikmati.

 

Nah, ada nih 5 rekomendasi tempat untuk menikmati landscape Kota Palu yang bisa ngena banget di hati.

 

  1. Monumen Nosarara Nosabatutu

 

Monumen Nosarara Nosabatutu diambil dari lantai 2 dekat Gong Perdamaian.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu dikenal pula dengan sebutan Gong Perdamaian Nusantara. Nosarara Nosabatutu dalam Bahasa Kaili (suku asli di Sulawesi Tengah) memiliki arti bersaudara dan bersatu. Sekilas tentang monument ini dibangun karena keprihatinan atas terjadinya konflik di Poso, Sigi, dan wilayah lainnya yang tentu saja meninggalkan duka yang mendalam.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu terletak di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Keberadaannya di atas bukit yang berjarak cukup dekat belakang Mako Polda Sulawesi Tengah. Tempat ini bisa dicapai kurang dari 15 m3nit dari tempat tinggal saya. Karena letaknya di atas bukit maka bisa menikmati keindahan Kota Palu dengan dengan hamparan Teluk Palu dan Gunung Nokilalaki rasa puas. Tidak hanya itu, saat membalik posisi badan 180 derajat maka mata saya pun dimanjakan dengan view pemandangan pegunungan yang hijau. Di area monumen juga dilengkapi dengan taman-taman bunga yang indah.

 

  1. Bukit Indah Doda

 

Bukit Indah Doda atau Bukit Doda terletak di Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi. Oh ya, Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Palu. Menikmati panorama Kota Palu dari sini sungguh tak kalah memanjakan mata, terlebih jika menikmatinya di Villa Bukit Indah Doda. Nah, saya pernah nih bikin cerita jalan-jalan ke Villa Bukit Indah Doda secara detail.

 

  1. Puncak Paralayang Salena

 

Dokumentasi Pribadi oleh Nugie

 

Puncak Paralayang Salena bagi saya adalah salah satu spot yang mampu menyajikan keindahan alam khas pegunungan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Puncak Paralayang Salena ini terletak di sebelah barat Kota Palu, tepatnya di Dusun Salena Kecamatan Ulujadi, masih berada di dalam Kota Palu.

Dokumentasi Pribadi, Karya Nugie.

 

Akses menuju puncak Paralayang Salena sangat bagus, jalan aspal yang mulus, tanpa lubang-lubang dan didominasi dengan warna hijau yang menyejukkan. Saat berada di puncak, kita akan puas menikmati hamparan Teluk Palu dan landscape Kota Palu. Saat saya ke sana tidak ada tiket masuk dan sudah memiliki toilet karena Puncak Salena ini juga digunakan untuk camping. Hal yang terpenting lagi adalah di sini benar-benar bersih.

 

Puncak Salena ini juga dalam tahap pengembangan menjadi Ecotourism of Salena. Selain digunakan untuk festival paralayang juga dimanfaatkan untuk wisata sepeda gunung, motor trail, dan outbound. Camping di sini pun juga perfecto.

 

  1. Puncak Matantimali

 

Talent: Nugie [Dokumentasi Pribadi]

Naahh, tempat keempat ini berada di luar Kota Palu tepatnya di Kecamatan Banawa, Kabupaten Sigi. Matantimali diambil dari nama desa yang berada di Kawasan Gunung Gawalise, karena inilah Matantimali memiliki ketinggian kurang lebih 1.500 mdpl yang secara otomatis mampu menghadirkan panorama Kota Palu yang indah dari ketinggian. Saya juga pernah membaca bahwa Puncak Matantimali ini menjadi salah satu lokasi paralayang terbaik di se-Asia. Selain itu, di sini juga bisa digunakan untuk camping apalagi saat akhir pekan.

 

Pemandangan Kota Palu dari Matantimali Saat Malam. [Dokumentasi Pribadi]

Camping di Matantimali akan memberi kepuasan karena bisa menikmati sunset, sunrise, panorama Kota Palu saat malam dengan kerlip lampu-lampu kota, menikmati suasana Kota Palu saat siang dan juga menikmati alam sekitarnya yang hijau serta udara yang sejuk.

 

  1. Bukit Satu Pohon
Pemandangan sisi Kota Palu dari Bukit Satu Pohon [Dokumentasi Pribadi, Cindi]

Pertama kali dengar dari suami saat akan ke sini, saya tidak percaya kalau bukit ini benar-benar hanya satu pohon. Ternyata oh ternyata, beneran ada satu pohon yang terletak tepat di puncak bukit ini. Panas dong kalau nggak ada pepohonan? Menurut saya nggak terlalu panas, tetap sejuk dan tetap bisa menikmati hamparan hijau perbukitan khas alam pegunungan.

 

Saat saya ke bukit satu pohon ini, saya hanya mampu sampai di tiga perempat saja, tidak sampai puncak berfoto dengan pohon satu-satunya itu. Jalan setapaknya seperti 180 derajat tegak lurus gitu…haha. Namun, meski hanya di tiga perempat saja, dari sini bisa menikmati landscape Kota Palu yang masyaAllah indah sekali. Di bukit yang terletak di Desa Sibedi, Kabupaten Sigi ini juga terdapat fasilitas umum seperti toilet dan musola. Selain itu, juga ada beberapa warung-warung makan yang menyediakan camilan seperti pisang goreng dengan sambal terasi hingga menu berat berupa nasi atau mie serta aneka minuman dingin.

 

Yuhuuu, inilah lima tempat rekomendasi favorit saya untuk menikmati landscape Kota Palu. Jika teman-teman sedang berada di Kota Palu, jangan lupa menikmati Kota Palu dari ketinggian. Vibe-nya itu lho akan sungguh berkesan. ^^

 

 

Halo Tentena, Cerita Mudik ke Kampung Orang

Benar kata Cak Lontong, hal yang paling penting sebelum pulang kampung adalah memastikan punya kampung halaman. Iya benar ya! Hal ini saya sadari saat momen lebaran kemarin. Saya yang merayakan lebaran kali kedua di Kota Palu dan memutuskan tidak mudik, akhirnya ikut merayakan dan merasakan gegap gempita permudikan ini. Nggak mudik ke Jawa bukan berarti harus nangis di pojokan juga ya 😀

Lebaran kali ini, saya, suami, dan Bilgi memutuskan mudik ke Tentena. Anggaplah perjalanan ke Tentena ini adalah pulang ke kampung halaman. Iya kampung halaman orang lain. 😀

 

Pesona Tentena

Menurut hasil pencarian di Google, Tentena berasal dari Bahasa Pamona. Tentena adalah sebuah desa di Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tentena disebut sebagai salah satu kelurahan atau desa tetapi saat berada di Tentena, saya merasa Tentena itu sudah seperti kota. Bukan kota yang identik dengan kemacetan atau keramaian ya, melainkan saya merasa Tentena itu besar seperti kota. Tentena berada di sekitar Danau Poso, danau terdalam nomor tiga di Indonesia yang namanya sering saya jumpai di buku sewaktu saya sekolah dasar. Ternyata Danau Poso dan Tentena ini sungguh cantik. Perjalanan 8 jam dari Kota Palu rasanya terbayar saat sampai Tentena. Oh iya, dari Kota Poso ke Tentena membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam dengan jalan yang berkelok-kelok dan pemandangan yang serba hijau-hijau.

Bagi saya, udara di Tentena itu termasuk kategori sejuk dengan pemandangan alam yang menarik. Ada Danau Poso yang punya beach vibe gitu. Iya danau tapi seperti pantai yang punya gulungan ombak yang tenang. Selain Danau Poso, Tentena juga memiliki deretan pegunungan yang asri, hijau di mana-mana. Ada air terjun Saluopa (baca: Salopa) yang berundak dan bebatuannya itu tidaklah licin saat dipijak dan tentu saja cantik. Saat saya ke Air Terjun Saluopa ini cukup ramai karena musim libur lebaran di mana orang-orang menikmatinya dengan pulang kampung. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya 15.000 dengan rincian dua tiket dewasa dan tiket parkir mobil.

Di Kawasan Air Terjun Saluopa ini fasilitasnya sudah bagus. Kamar mandi tersedia dengan jumlah yang banyak dan sangat bersih. Itu pun tarifnya hanya dua ribu entah BAK, BAB atau mandi. Warung makan juga tersedia dengan pilihan menu beragam dan tidak lupa ada kudapan pisang goreng yang dinikmati dengan sambal atau duo ditambah dengan menikmati kelapa muda Saluopa yang kata para mama penjualnya jika minum kelapa muda Saluopa bikin awet muda. ^^

 

Staycation di Tentena

Lho, katanya mudik, kok staycation? Ya Namanya mudik ke kampung halaman orang lain kan ya, tentu saja saya butuh tempat menginap. Hahaha… Ada dua penginapan yang akan saya rekomendasikan dengan view Danau Poso yang memanjakan mata, yaitu Danau Poso Resort dan Torau Cottage Resort. Kedua penginapan ini memberi view secara langsung pada Danau Poso. Fasilitas keduanya pun memuaskan, memiliki pilihan kamar, dan tenang (review kedua akan tayang di blogpost terpisah ya..).

Jika suatu saat Teman-Teman berkunjung ke Tentena, jangan khawatir soal penginapan. Di Tentena sudah banyak penginapan dengan fasilitas yang bagus. Tinggal pilih aja sesuai keinginan atau sesuai budget travelling kalian. Selain merasakan sensasi staycation dengan view Danau Poso, di Tentena juga ada taman anggrek yang bisa dikunjungi.

Pelajaran dari sebuah cerita perjalanan mudik ke kampung orang lain ini adalah menjaga adab semacam jangan buang sampah sembarangan. Wajib banget sih ini layaknya taat prokes. Selain itu, saat kita berkunjung ke daerah yang mungkin sangat berbeda dengan asal kita, itu bukan momen untuk membandingkan satu sama lain, ngorek kekurangan dan mengunggulkan daerah kita, bukan ya, tapi untuk melihat betapa Indonesia ini kaya, kaya alamnya, kaya budayanya. Serta jangan lupa untuk menikmati perjalanan kita ^^ Ah, nulis ini jadi kangen Tentena.
Yuukk, kapan ke Tentena?