Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Pengalaman Work From Café dari Modus Café

Modus Cafe

Modus Cafe

Saat kerja bisa dari mana saja, kerja dari kafe atau work from café adalah salah satu cara menikmati proses menyelesaikan segala macam kerjaan dari kedai sambil ngopi. Selain bisa mendapatkan fokus, work from café juga bisa jadi kesempatan untuk me-time sebelum pulang ke rumah dan menghadapi segala ‘pernak-pernik’ yang ada di dalamnya. 😀

 

Kenalan dengan Modus Café, Yuk!

 

Kali ini, saya mencoba work from café dari salah satu kafe atau kedai kopi yang ada di tengah Kota Ngawi. Modus Café namanya. Pertama kali saya menemukannya saat tidak sengaja berkali-kali lewat di depannya. Kedainya unik. Bangunannya yang dulu saya lihat bagian depan masih terbuka dengan jajaran kursi-kursi jadul ala rumah tempo dulu. Sekarang, Modus Café memiliki wajah baru. Bagian depan menjadi bangunan tertutup, ada dua kursi duduk di teras depan. Jadi sekarang saat berkunjung ke sana bisa memilih area indoor (ber-AC) atau outdoor.

 

Saya lebih suka di area outdoor bagian belakang. Meski di area terbuka tapi nggak panas karena halaman belakang Modus Café ini memiliki banyak pohon rindang. Selain itu juga cantik kalau untuk foto-foto. Istilah kekiniannya instagrammable. Bagian indoor juga tetap nyaman kalau suka yang adem-adem karena ada AC. Jendela kacanya pun juga mendukung untuk tetap bisa menikmati pemandangan di luar kafe.

 

Lokasi, Jam Operasional dan Menu di Modus Café

 

Modus Café berada di Jalan S. Parman, RT/RW: 03/02, Kelurahan Beran, Kecamatan Ngawi, Kota Ngawi. Kafe ini satu deret dengan Puskesmas Ngawi dan sangat mudah ditemukan. Modus Café buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 hingga 23.00 WIB. Seingat saya ini satu-satunya kedai kopi di Ngawi yang buka di jam pagi.

 

Nah, soal menu, di Modus Café ini tentu saja menyediakan aneka pilihan menu kopi dan non kopi. Selain minuman, Modus Café juga menyediakan camilan dan makanan. Menu yang sudah pernah saya coba untuk minumannya adalah coffee latte sugar free dan es teh 😀 Untuk makanannya, saya pernah memesan sandwich. Saya pikir, sandwich di sini semacam toast gitu ya atau ropang dengan rotinya yang dipanggang tetapi Modus Café menyajikan sandwich-nya dengan roti yang tanpa dipanggang. Rasanya? Tetap enak dan porsinya besar menurut saya. Selain sandwich, nasi goreng original dan beef burger Modus Café juga nggak kalah enak. Harus dicoba.

 

Fasilitas di Modus Café

 

Bicara fasilitas di kedai kopi rasanya menjadi hal penting ya. Beberapa fasilitas yang tersedia di Modus Café ini menurut saya bagus dan cukup memuaskan. Di antaranya tersedia toilet, akses wifi 5G yang bisa mendukung tujuan saya ke kedai ini, ada morning happy hours bila memesan sebelum jam makan siang akan ada free donut 😀 Terakhir adalah soal parkir. Menurut saya, area parkir di Modus Café ini terbilang terbatas. Jika berkunjung dengan kendaraan roda dua aka nada tempat parkir yang nyaman di bagian depan atau halaman belakang. Namun, jika berkunjung ke Modus Café dengan berkendara roda empat bisa jadi harus parkir di pinggir jalan sekitar kafe jika belum terisi dengan kendaraan pengunjung lain.

 

Yuhuu, jika sedang di Kota Ngawi, boleh banget mampir ngopi di Modus Café ^^

 

Baca juga: Ke Ngawi? Jalan Lupa ke Ngawioboro.

Pengalaman Pertama Menepi di Seperdua Kopi Kratonan Solo

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Lagi-lagi, saya menemukan tempat baru untuk menepi itu hasil pencarian di Google Maps. Bulan lalu, saat selesai dari sebuah acara yang bertepatan dengan jam makan siang, iseng-iseng buka Google Maps untuk mencari kedai kopi. Random aja sih waktu itu saya cari yang dekat dengan lokasi saya dan bisa saya jangkau dengan jalan kaki. Yap, berasa lagi main ‘temukan aku’ gitu kira-kira ya 😀

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Pilihan saya jatuh pada Seperdua Kopi Kratonan yang jaraknya kurang lebih 400 meter dari tempat saya. Jalan kaki sambil lihat dan baca maps, bagi saya adalah hal menyenangkan. Sampai di lokasi dan melihat tempatnya, senang bukan main. Seperdua Kopi Kratonan ini termasuk adem karena memiliki pepohonan dan tanaman-tanaman hias di bagian luar.

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi memiliki dua outlet di Kota Solo yaitu di daerah Jebres dan Kratonan. Selain di Kota Solo, Seperdua Kopi juga bisa dikunjungi di Kota Kudus, Jawa Tengah yang memiliki empat outlet. Seperdua Kopi Kratonan ini memang letaknya dekat dengan area Kraton Kasunanan dan dekat juga dengan Alun-Alun Kidul Solo. Posisi outlet juga di pinggir jalan raya yang memudahkan sekali untuk ditemukan sekalipun baru pertama kali seperti saya.

Seperdua Kopi Kratonan

Alamat, Jam Operasional dan Menu di Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan berada di Jalan Yos Sudarso No. 233, Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Adapun jam operasionalnya mulai pukul 07.00 hingga 23.00 WIB setiap hari. Sangat menyenangkan ya bagi para morning person ^^

Seperdua Kopi Kratonan

Asiknya lagi, menu di Seperdua Kopi Kratonan ini sangat banyak dan beragam. Mulai dari menu minumannya, tidak hanya kopi saja tetapi aneka menu teh, coklat dan lainnya pun ada. Untuk menu makanannya pun juga sangat bervariasi, mulai makanan camilan hingga makanan inti alias yang ada nasi atau berkarbohidrat.

Seperdua Kopi Kratonan

Saat menepi di Seperdua Kopi Kratonan, saya memesan coffee latte sugar free yang selalu jadi favorit saya dan makan siang saya memesan korean honey chicken. Untuk porsi makan siangnya menurut saya pas, nggak terlalu banyak pun nggak terlalu sedikit. Rasanya juga enak, meski namanya ada honey yang menggambarkan rasa manis tapi rasa korean honey chicken ini seimbang. Bukan menu yang dominan manis atau malah bikin eneg. Semuanya pas dan enak ditambah telurnya itu ya. Nyam nyam!

Seperdua Kopi Kratonan

Fasilitas di Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Bicara fasilitas di sebuah tempat makan tentu menjadi hal yang penting. Di Seperdua Kopi Kratonan pun memiliki fasilitas yang membuat saya sebagai pengunjung merasa nyaman. Di sana tersedia toilet terpisah antara laki-laki dan perempuan. Terpisah area, bukan sekadar terpisah pintu :-D. Ada musola di bagian belakang kedai yang bisa dipakai saat masuk waktu salat bagi pengunjung muslim.

Seperdua Kopi Kratonan

Seperdua Kopi Kratonan

Di Seperdua Kopi Kratonan terdapat dua area yaitu outdoor dan indoor. Untuk outdoor berada di bagian depan, samping dan belakang. Jangan khawatir kepanasan, menurut saya cukup adem meski berada di luar karena ada pepohonan dan tanaman hias. Untuk indoor, ada area ber-AC dan smoking area. Soal pelayanan, di Seperdua Kopi Kratonan melayani makan di tempat dan bawa pulang atau take away. Selain itu juga tersedia melalui pemesanan secara daring. Terakhir adalah parkir. Di kedai ini menurut saya area parkir terbatas karena memang posisinya tepat di pinggir jalan raya. Kendaraan roda dua bisa parkir dengan nyaman dan tenang tapi kendaraan roda empat memang terbatas, parkirnya di pinggir jalan tepat depan outlet.

Seperdua Kopi Kratonan

Cerita menepi di Seperdua Kopi yang nyaman ini mengingatkan saya pada sebuah kedai kopi yang vibe-nya rumah banget. Gimana nggak menyenangkan kan ya?
Menurut Teman-Teman kedai kopi yang menyenangkan itu seperti apa? ^^

 

Baca juga: Menikmati Jantung Kota Solo di Hakui Kopi.

Kenangan Jelajah Baluwarti Bersama Soerakarta Walking Tour

Baluwarti

Baluwarti

Walking Tour bagi saya adalah cara lain menikmati wisata, salah satunya wisata sejarah dengan cara berjalan kaki bersama ‘juru kunci’ atau guide. Selain merasa santai, walking tour juga memberi rasa lebih deka tantara saya dan destinasi yang saya kunjungi. Terutama lagi tidak diburu-buru dan informasi yang didapat juga lebih banyak. Tempat yang dikunjungi rasanya seperti hidden gem atau tempat tersembunyi meski bisa jadi pernah melewatinya.

Baluwarti
Ini area Alun-Alun Kidul, Solo.

Selayang Pandang Tentang Baluwarti

Baluwarti
‘cekungan’ tempat kami berkumpul ini, dulu difungsikan untuk naik dan turun kereta sekaligus tempat parkirnya.

Kali ini, saya ingin membagi kenangan berupa pengalaman walking tour yang saya lakukan di sebuah tempat bersejarah di Kota Solo bersama Soerakarta Walking Tour yang biasa akrab disapa MinSoer X Patjar Merah Solo. Tempat itu bernama Baluwarti. Saya pun baru tahu nama itu ya saat ikut MinSoer jalan-jalan setelah sekian lama dan berkali-kali ke Solo bahkan pernah melewati destinasi yang kami kunjungi saat itu.

Baluwarti

Baluwarti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti dinding tembok, benteng atau pertahanan. Baluwarti sendiri merupakan sebuah kelurahan yang terletak di kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Di kelurahan ini terdapat Keraton Kasunanan Surakarta, sekolah-sekolah Kratonan dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Menurut saya, keluarahan Baluwarti ini istimewa karena berada di dalam lingkungan benteng Keraton Surakarta.

Baluwarti

Dulu, Baluwarti merupakan wilayah yang dihuni oleh keluarga keraton dan kerabat yang biasa disebut abdi dalem. Menurut MinSoer saat walking tour di awal Juli lalu, secara umum rumah-rumah di Kawasan Baluwarti bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Tipe pertama, tipe rumah Jawa lengkap dengan wujud joglo dilengkapi dengan pendapa, dalem ageng ditambah dengan deretan rumah di kanan kiri atau di hadapan bangunan utama. Tipe ini biasanya memiliki halaman yang luas dan dikelilingi tembok yang tinggi. Tipe kedua, tipe rumah Jawa dengan wujud limasan dan tipe ketiga berbentuk kampung atau bangunan yang lebih sederhana.

Baluwarti

Tidak semua tempat di Baluwarti ini menjadi tempat tinggal, ada beberapa tempat yang digunakan untuk mendukung kebutuhan keraton. Misalnya, terdapat rumah penjagaan atau biasa disebut Dragorder atau Dragunder. Ada Masjid Suranata dan tempat kereta raja. Di timur Kori Brajanala Lor terdapat Paseban Kadipaten, rumah penjagaan prajurit dan ada Sekolah Ksatriyan.

Baluwarti
Area Wirengan, tempat tinggal untuk para prajurit sekaligus juru tari.

Baluwarti sebagai Destinasi Eduwisata

Baluwarti
Wirengan.

Kawasan Baluwarti yang terletak di lingkungan keraton Surakarta. Di mana Baluwarti tumbuh dan berkembang dengan sangat menjaga aturan yang berlaku serta masih terus mempertahankan adat istiadat dan memegang teguh budaya yang ada. Semua masih terlihat dan bertahan meski tumbuh di tengah modernisasi.

Baluwarti

Hal ini menurut saya juga bagian dari keunikan dan kekhasan Baluwarti. Kawasan Baluwarti juga telah masuk dalam kawasan cagar budaya yang ada di Kota Solo. Tak hanya itu, Baluwarti juga merupakan peninggalan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sekarang, Kelurahan Baluwarti dijadikan tempat wisata bagi para pengunjung dari dalam atau pun luar kota. Kelurahan Baluwarti merupakan tempat eduwisata yang harus dikunjungi jika ke Kota Solo. Nah, biar makin asik jelajah Baluwarti, Teman-Teman bisa private tour bersama Soerakarta Walking Tour, lho. MinSoer bisa dihubungi via DM akun Instagram Soerakarta Walking Tour.

Baluwarti

Sampai jumpa di Baluwarti yang kaya akan nilai sejarahnya… ^^

_______________

Baca juga: Kampung Seni Kemlayan, Jejak Laku Piwulang di Kota Solo.

Baluwarti

 

Menikmati Lalu Lalang Kendaraan Jalan Slamet Riyadi Solo di Lana, Seduh dan Singgah

Lana Seduh dan Singgah

Lana Seduh dan Singgah

Jalan Slamet Riyadi merupakan jalan utama yang berada di jantung Kota Solo. Karena itu, Jalan Slamet Riyadi selalu ramai lalu lalang beragam jenis kendaraan. Jalan Slamet Riyadi yang terletak di tengah kota, salah satu sisinya terdapat trotoarnya yang luas dan masih banyak pepohonan. Selain itu juga terdapat perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat wisata seperti Taman Sriwedari dan Museum Radya Pustaka yang sudah sangat familiar bukan? Ada juga hotel, stasiun dan tempat-tempat kuliner yang menggoda mata.

 

Lana, Seduh dan Singgah adalah salah satu tempat kuliner yang wajib dikunjungi jika sedang di Kota Solo khususnya jika sedang berada di sekitar Jalan Slamet Riyadi. Pertama kali menemukan namanya di Google Maps saya membayangkan nuansa Lana, Seduh dan Singgah ini seperti memasuki dunia fairy tale gitu karena namanya. Kok bisa? Karena namanya terdengar manis bagi saya.

 

Lokasi Lana, Seduh dan Singgah

 

Lokasi Lana, Seduh dan Singgah berada di Jalan Slamet Riyadi No. 440, Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Kedai cantik ini berdekatan dengan Stasiun Purwosari dan Sala View Hotel, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Lana membuka pintu pukul 09.00 hingga 23.00 WIB setiap hari.

 

Menu Lana, Seduh dan Singgah

 

Beberapa kali singgah di Lana, saya selalu memesan Coffee Latte, sugar free. Saya selalu memesan menu yang sama karena udah terlanjur kepincut aja sih dari awal. Coffee Latte adalah menu pertama yang saya coba saat pertama kali mampir. Bagi saya, racikannya pas, rasa kopinya masih terasa ada pahit dan gurih dari biji kopinya, nggak tenggelam dengan rasa susunya. Hahaha, gimana ya untuk menjelaskan ini 😀

 

Selain Coffee Latte, masih ada banyak pilihan menu kopi atau selain kopi seperti varian  teh atau coklat. Lana juga menyediakan aneka menu makanan utama dan menu-menu camilan untuk menemani apapun pesanan minuman kita. Kalau saya, belum sempat mencicipi makanan karena setiap mampir di Lana dalam keadaan kenyang. 😀

 

Fasilitas di Lana, Seduh dan Singgah

 

Bicara fasilitas di sebuah kedai kopi bagi saya juga hal yang menarik karena ini juga bagian dari magnet dan daya tarik. Lana pun demikian, ada fasilitas yang menarik bagi saya yaitu ada rak yang buku-buku dan bermacam majalah, bahkan majalah Donald pun ada. Bagi saya, buku dan kopi itu perpaduan yang syahdu. Fasilitas yang lain yang tersedia di antara ada toilet yang bersih dan tersedia bermacam mainan seperti Uno dan kawan-kawannya yang bisa dipakai saat berkumpul bersama teman saat di Lana.

 

Bagaimana dengan parkir? Nah, parkir ini menurut saya memang terbatas karena memang Lana berada tepat di Jalan Slamet Riyadi. Jika bawa kendaraan roda dua lebih gampang parkir tepat di depan Lana tetapi jika membawa kendaraan roda empat harus siap effort untuk parkir. Tenang, ada bapak parkir yang siap membantu kok 

 

Spot Favorit di Lana, Seduh dan Singgah

 

Saya memiliki dua spots favorit di Lana, pertama adalah kursi paling depan yang menghadap ke jendela kaca. Di kursi paling depan ini saya bisa menikmati hiruk pikuk Jalan Slamet Riyadi. Menikmati kopi lalu membuang pandang lalu lalang kendaraan sambil bengong atau menikmati kopi, membaca majalah Donald favorit yang ada di Lana lalu menikmati pandangan riuhnya Jalan Slamet Riyadi.

 

Tempat kedua favorit saya adalah ruang tengah, di kursi yang terletak tepat di samping air mancur. Iya, ada air mancur di dalam Lana. Kopi, buku dan suara gemericik air bagi saya perpaduan yang menenangkan. Di ruang ini juga, dinding Lana memiliki desain yang unik, banyak buku yang ditempel sebagai ornament. Unik sekaligus cantik.

 

Teman-teman yang tertarik menikmati romansa Jalan Slamet Riyadi Solo bisa banget menikmatinya dari Lana, Seduh dan Singgah ^^

 

Baca juga: Ke Solo, Wajib Mampir di Titilaras Pasar Gede Solo ^^

Rekomendasi Jajanan Legendaris di Pasar Gede Solo yang Wajib Dicoba

Pasar Gede Solo

Pasar Gede Solo

Pasar Gede adalah salah satu tujuan wisata belanja yang rasanya sayang jika dilewatkan. Berada di jantung Kota Solo membuat Pasar Gede ini mudah ditemukan dan dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Solo. Awal Bulan Juli ini, saya berkesempatan jelajah Pasar Gede bersama teman-teman Patjar Merah dan Titilaras yang dipandu oleh Mas Arkha, pemilik Titilaras. Selain dipandu untuk jajan-jajan, saya bersama teman-teman juga mendapat informasi tentang perjalanan Pasar Gede dari Mas Arkha.

Selayang Pandang Tentang Pasar Gede Solo

Pasar Gede

Pasar Gede Solo dibangun pada masa zaman kolonial Belanda yang awalnya adalah sebuah pasar yang tidak terlalu besar. Bangunan Pasar Gede dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda Bernama Ir. Thomas Karsten. Setelah selesai dibangun pasar ini diberi nama Pasar Gede Hardjanagara. Dari penjelasan Mas Arkha, alasan diberi nama dengan Pasar Gede karena memiliki atap yang besar dan tinggi. Seiring perkembangan jaman, Pasar Gede menjadi sebuah pasar terbesar dan termegah di Solo.

Pasar Gede

Pasar Gede  terdiri atas dua bangunan yaitu sisi timur dan sisi barat yang masing-masing bangunan memiliki dua lantai. Pasar Gede sisi timur dan barat ini dipisahkan jalan raya yang sekarang disebut Jalan Sudirman. Menurut Mas Arkha, ke dua sisi Pasar Gede ini dulu dihubungkan dengan jembatan yang berada di lantai dua masing-masing bangunan tetapi jembatan tersebut dibongkar (saya lupa tahun berapa saat beliau menjelaskan saat kami berkeliling saat itu :-D).

Lokasi Pasar Gede Solo

Pasar Gede Solo terletak di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Lokasi Pasar Gede berada di persimpangan jalan dari Balaikota Surakarta. Termasuk berdekatan dengan Beteng dan Alun-Alun Utara. Menurut saya, letaknya memang strategis.

Rekomendasi Jajan Legendaris di Pasar Gede

 

Sosis Solo

Pasar Gede

Sosis Solo ini bagi saya favorit karena memang beda dengan sosis Solo yang biasa saya temui di luar kota Solo. Biasanya sosis Solo yang saya temui di luar kota Solo itu kulitnya tebal seperti lumpia dengan isiannya daging ayam atau daging sapi. Namun, sosis Solo yang asli di Solo khususnya yang saya beli di Pasar Gede ini, kulitnya tipis dan lembut seperti telur dadar, isiannya sama berupa daging ayam atau sapi dan ukurannya mini. Asli nggak cukup kalau cuma makan satu. 😀 Harganya Rp 3.000,00/biji.

Pasar Gede

Lumpia Rebung

Pasar Gede

Bisa jadi jajanan satu ini sangat familiar dan bisa ditemukan di kota manapun. Tapi lumpia rebung ini memang beda sih, dari rasa olahan rebungnya dan kulitnya yang cenderung lebih lembut menurut saya. Lumpia rebung dan sosis Solo ini bisa dibeli di pintu Pasar Gede sisi utara. Selain sosis Solo dan lumpia rebung, ada juga cakwe, lentho dan kue-kue tradisional lainnya. Bapak yang membuat cakwe di lapak ini memang terkenal, tutur Mas Arkha. Harga lumpia rebung di sini Rp 3.000,00/biji.

Pasar Gede

Cabuk Rambak

Pasar Gede

Rekomendasi kuliner Pasar Gede selanjutnya adalah Cabuk Rambak yang disajikan menggunakan daun pisang dan daun jati. Jajanan ini berisikan ketupat yang diiris tipis, disiram seperti sambal pecel yang menurut saya beda dengan sambal pecel pada umumnya. Ada klenis gurih semacam wijen gitu di sambalnya. Lalu ada tambahan kerupuk rambak atau saya mengenalnya dengan kerupuk nasi hahaha 😀 Perporsi Rp 5.000,00.

Pasar Gede

Es Dawet Telasih

Pasar Gede

Ini rekomen untuk dicoba, jangan sampai nggak pokoknya 😀 Dalam semangkok es ini ada dawet (beras) hijau, bubur sungsum yang menurut saya gurih enak, ketan dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan yang juga gurih plus segar. Kuah santan tapi nggak eneg, rasanya ringan gitu santannya. Es dawet telasih ini seharga Rp 8.000,00/porsi. Ini adalah rekomendasi dari Mas Arkha, sebagai pemandu saya dan teman-teman. Menurut beliau, ini adalah dawet telasih paling senior.

Pasar Gede

Pasar Gede

Brambang Asem

Pasar Gede

Jajanan satu ini bagi saya penuh kenangan banget karena saya tahu makanan ini jaman jadi anak asrama saat sekolah di Solo. Menurut saya, ini jajanan sehat sih karena berupa sayur hijau yaitu daun ubi jalar muda yang direbus kemudian dinikmati dengan sambal yang rasanya asam pedas manis dan bisa dinikmati dengan gembus bacem. Untuk harganya kisaran Rp 5.000,00.

Lopis

Pasar Gede

Jajanan ini juga wajib dicoba kalau ke Pasar Gede. Dijual oleh simbah yang jualannya hadap-hadapan dengan Mba penjual cabuk rambak. Lopis namanya. Dibuat dari beras ketan yang dibungkus mirip lontong lalu disajikan dengan diiris tipis, ditaburi parutan kelapa dan terakhir disiram gula merah cair. Di sini bisa beli Rp 5.000,00 jika satu porsi terlalu banyak.

Pasar Gede Solo

Pala Kependem

Begitu saya menyebutnya, semacam umbi-umbian atau hasil bumi yang tumbuh di dalam tanah. Nah, ini adalah ibu yang menjual aneka umbi-umbian berupa kacang tanah rebus, singkong, ubi, enthik bahkan garut rebus yang terakhir saya makan jaman saya masih kecil pun masih ditemui di sini. Selain umbi-umbian, juga ada pisang rebus. Cocok banget sih ini untuk yang sedang melakukan diet.

Pasar Gede

Tips Agar Misi Jajan-Jajan di Pasar Gede Berhasil dengan Baik

  • Jangan makan malam dan sarapan jika berencana jajan-jajan di Pasar Gede. Begitu yang saya lakukan kemarin saat berencana mengikuti Kembara Rasa Jelajah Pasar Gede bersama Patjar Merah dan Titilaras. Berhasil nggak? Berhasil 😀
  • Bawa uang tunai yang banyak, eh secukupnya sesuai dengan kebutuhan.
  • Sebaiknya bawa totebag dan kotak makan biar bisa sambil menjalankan zero waste.
  • Tetap jaga kebersihan yak arena menurut saya Pasar Gede ini adalah pasar yang bersih, jangan sampai kita sebagai pengunjung tidak bertanggung jawab dengan sampah kita sendiri. Iya kan?

Sampai sini dulu cerita jajan-jajan di Pasar Gede, aka nada lanjutan bagian kedua karena kembara rasa kali ini baru di Pasar Gede sisi timur aja. Sampai jumpa lagi di cerita jajan-jajan Pasar Gede sisi barat, Teman-Teman ^^

 

 

Titilaras, Menarasikan Kehangatan Wajah Pasar Gede Dalam Secangkir ‘Teh’

Titilaras Solo

Titilaras Solo

Minggu, 9 Juli menjadi momen terbaik saya menikmati riuh hiruk pikuk di Pasar Gede, Solo. Ada rasa senang karena menikmati dan keliling Pasar Gede bersama dengan ‘juru kunci’. Sekaligus ada rasa sedih tepatnya menyesal sih ya, kemana aja saya selama ini? Saya pernah menghabiskan masa putih abu-abu di Solo, kali pertama saya merantau untuk sekolah. Selama tiga tahun sekolah itu pun saya belum pernah ke Pasar Gede, yang saya tahu Pasar Nusukan, Pasar Kembang dan Pasar Klewer. 😀

Titilaras Solo 7

Selain menikmati Pasar Gede dengan berkeliling, saya sangat senang karena bisa menikmati Pasar Gede dengan cara yang unik. Saya menikmatinya dalam sebuah cangkir yang dinarasikan dengan romantis melalui aroma dan rasanya. Yap, saya sebut romantis karena prosesnya dalam menghadirkan bahan-bahan sebelum diseduh itu butuh rasa cinta dan sabar yang teramat banyak.

Titilaras Solo

Titilaras, Kedai Kopi dan Teh

Titilaras Solo

Titilaras namanya. Sebuah kedai kopi dan teh yang menurut saya unik, hangat dan homey. Saya sampai ke Titilaras karena event yang diadakan oleh Patjar Merah. Lagi-lagi saya sangat bersyukur bahkan saat saya menuliskan ini, euphoria yang saya rasakan masih ada. Senang sekali bisa tahu ada kedai kopi dan teh yang tidak hanya sekadar menyeduh tetapi juga menghadirkan filosofi di setiap menu seduhannya.

Titilaras Solo
Wajah Pasar Gede

Pada saat itu, saya dan teman-teman pun juga termasuk beruntung bisa menikmati dua menu yang disajikan. Menu pertama, saya menikmati ‘Wajah Pasar Gede’ dalam sebuah cangkir. ‘Teh’ ini unik yang sebenarnya bukan teh yang berasal dari daun teh yang dikeringkan. ‘Wajah Pasar Gede’ yang disajikan oleh Titilaras adalah kombinasi dari tujuh rupa rempah di mana semua prosesnya dilakukan secara manual, begitu tutur Mas Arkha, pemilik Titilaras. Iya, manual, Mas Arkha menjelaskan bahwa semua bahan dipotong manual dengan pisau, dilakukan sendiri oleh beliau. Bahan-bahannya pun juga dipilih dengan sangat teliti bahkan beliau pernah ambil bahan yang sama dari supplier yang berbeda ternyata saat diseduh juga hasilnya berbeda. Sedetail itu, Teman-Teman. 

Titilaras Solo
Wajah Pasar Gede sebelum diseduh.

Saya mencoba mengingat tujuh bahan rempah yang menjadi ‘Wajah Pasar Gede’ tetapi benar, saya lupa tapi rasanya masih ingat. Dalam secangkir ‘teh’ itu ada rasa hangat pahit manis pun ada aroma wanginya. Semua bahan, rasa, dan aromanya mewakili harmonisasi kehidupan di Pasar Gede dari masa ke masa. Termasuk juga seakan mengumpulkan kenangan Pasar Gede dalam perputaran jaman ke dalam seduhan.

Titilaras Solo

Menu kedua juga tak kalah unik, Nawari namanya (semoga telinga saya sehat saat mendengar penjelasan Mas Arkha saat itu hehehe). Menu yang kedua ini disajikan berbeda dari menu pertama ‘Wajah Pasar Gede’. Jika menu pertama disajikan dalam keadaan panas dan dinikmati hangat-hangat, maka menu kedua ini disajikan dalam keadaan dingin. Nawari ini juga terdiri atas tujuh bahan rempah yang lagi-lagi saya tidak mampu mengingatnya. Saya hanya ingat ada bunga rosela dan kapulaga 😀 Nawari memiliki cita rasa manis, asam, hangat, pahit di ujung, rasanya ramai tapi bergilir.

Titilaras Solo

Selain dua menu minuman tadi, Mas Arkha, pemilik Titilaras, menyajikan kue yang tak kalah unik juga. Brondis namanya (lagi-lagi, saya berharap telinga saya fit saat itu hahaha). Enak, kalau boleh jujur ya dan kalau saat itu nggak malu, satu potong Brondis rasanya kurang hahaha. Untuk menikmati Brondis ada aturannya yaitu harus dinikmati dan dirasakan pelan-pelan, bila perlu dihayati juga, begitu pesan Mas Arkha.

Titilaras Solo

Gigitan pertama beneran rasanya enak, gurih manis dan nggak eneg sama sekali. Teksturnya tipe kering bagian luar tapi empuk lembut bagian dalamnya. Makin dirasakan seperti ‘ada yang lain’ tapi entah ap aitu karena saya memang nggak paham dengan baking. Tapi udah terasa bedanya. Saat saya dan Teman-Teman selesai menikmati semua hidangan, Mas Arkha menjelaskan bahwa Brondis tadi dibuat dari ‘Wajah Pasar Gede’. Bisa ya? Ternyata bisa, kreatifitas memang mahal harganya. Jadi ‘Wajah Pasar Gede’ menjelma dalam bentuk seduhan dan kue bernama Brondis.

Ini adalah momen yang sangat berkesan, semua harmoni tempat dan menu seakan selaras. Cantik!

Titilaras Solo

Menu, Lokasi dan Jam Buka Titilaras

Titilaras Solo

Untuk menu, jika Teman-Teman ke Titilaras bisa bertanya dulu kepada Mas Arkha karena di sana seingat saya tidak ada daftar menu. Beberapa menu yang saya tahu ya ‘Wajah Pasar Gede’ dan Nawari yang pernah saya coba. Lalu saya juga ngincar menu Hujan di Mimpi dan Teh Kemuning. Selain itu juga ada menu kopi yang bisa dipesan.

Titilaras Solo

Titilaras berada di sisi barat Pasar Gede lantai dua dan sangat mudah ditemukan. Jadi jangan khawatir akan tersesat. Saya suka dengan posisi duduk di Titilaras. Ada tiga jendela, saat jendela dibuka akan ada meja dan kursi, jadi menikmati seduhan di Titilaras itu semacam berada di rumah sambil ngobrol ngalor-ngidul yang bermanfaat.

Titilaras Solo

Nah, bicara soal jam buka, Titilaras memiliki jam buka yang tidak pasti. Ada 1 hari Titilaras libur menyeduh atau tiba-tiba di hari yang seharusnya menyeduh ternyata libur. Jam menyeduhnya pun juga bukan dalam waktu yang panjang bahkan sebelum jadwal tutup sudah harus selesai menyeduh. Semua informasi Titilaras buka jendela bisa diperoleh dari instastory Titilaras. Pemberitahuan buka tipis-tipis (begitu menyebutnya) juga nggak mendadak kok.

Titilaras Solo

Sepulang dari Titilaras, saya tak hanya pulang dengan hati riang tetapi juga membawa kenangan dan pengetahuan. Ternyata Indonesia ini kaya dengan aneka minuman yang hangat dan kaya manfaat. Hal ini juga mengingatkan saya akan kehangatan salah satu seduhan dari Tanah Minang. ^^

Titilaras Solo

Yuk, kalau di Solo dan berjodoh dengan jam buka tipisnya Titilaras bisa langsung merapat yaaa ^^

Titilaras Solo

Baca juga: Pengalaman Pertama Playbook Dating di Patjar Merah, Solo.