Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Lima Rekomendasi Tempat Menikmati Landscape Kota Palu

Saya masih ingat, ketika saya tiba di Kota Palu pada Januari 2021. Beberapa saat sebelum pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Sis Al Jufri, saya terpana dengan pemandangan di luar jendela pesawat. Kota Palu paket kombo di mana laut dan pegunungan bertemu dalam satu titik. Indah sekali. Sesuatu di luar prasangka saya sebelum saya tiba yang dipenuhi dengan rasa khawatir apakah nanti akan betah tinggal di Kota Palu.

 

Keindahan Kota Palu ini juga terbingkai dalam sebuah lagu berjudul Palu Ngataku dalam Bahasa Kaili yang berarti Palu Tempat Tinggalku. Dalam lagu itu digambarkan sama seperti apa yang lihat, paket kombo.

 

“Ngataku nasugi, Ngataku nagaya, karona ritatangana.”

[Tempat kelahiranku subur, tempat kelahiranku indah, letaknya di tengah-tengah (di antara gunung dan teluk)]

 

Dan, ada hal yang membuat saya girang saat beberapa hari tinggal di Kota Palu adalah saat melewati kantor Walikota Palu ada foto Pasha Ungu pakai baju Korpri…hahaha meski saat saya datang adalah saat-saat akhir jabatannya sebagai Wakil Walikota Kota. Receh sekali yaa…

 

Long story short, setelah melewati beberapa bulan dan diajak explore Kota Palu, justru saya betah dan jatuh hati. Saya nggak perlu jauh-jauh kalau untuk menikmati daily refreshing. Ya, karena Kota Palu ini seperti kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Dalam satu kota, semua itu bisa dinikmati.

 

Nah, ada nih 5 rekomendasi tempat untuk menikmati landscape Kota Palu yang bisa ngena banget di hati.

 

  1. Monumen Nosarara Nosabatutu

 

Monumen Nosarara Nosabatutu diambil dari lantai 2 dekat Gong Perdamaian.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu dikenal pula dengan sebutan Gong Perdamaian Nusantara. Nosarara Nosabatutu dalam Bahasa Kaili (suku asli di Sulawesi Tengah) memiliki arti bersaudara dan bersatu. Sekilas tentang monument ini dibangun karena keprihatinan atas terjadinya konflik di Poso, Sigi, dan wilayah lainnya yang tentu saja meninggalkan duka yang mendalam.

 

Monumen Nosarara Nosabatutu terletak di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Keberadaannya di atas bukit yang berjarak cukup dekat belakang Mako Polda Sulawesi Tengah. Tempat ini bisa dicapai kurang dari 15 m3nit dari tempat tinggal saya. Karena letaknya di atas bukit maka bisa menikmati keindahan Kota Palu dengan dengan hamparan Teluk Palu dan Gunung Nokilalaki rasa puas. Tidak hanya itu, saat membalik posisi badan 180 derajat maka mata saya pun dimanjakan dengan view pemandangan pegunungan yang hijau. Di area monumen juga dilengkapi dengan taman-taman bunga yang indah.

 

  1. Bukit Indah Doda

 

Bukit Indah Doda atau Bukit Doda terletak di Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi. Oh ya, Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Palu. Menikmati panorama Kota Palu dari sini sungguh tak kalah memanjakan mata, terlebih jika menikmatinya di Villa Bukit Indah Doda. Nah, saya pernah nih bikin cerita jalan-jalan ke Villa Bukit Indah Doda secara detail.

 

  1. Puncak Paralayang Salena

 

Dokumentasi Pribadi oleh Nugie

 

Puncak Paralayang Salena bagi saya adalah salah satu spot yang mampu menyajikan keindahan alam khas pegunungan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Puncak Paralayang Salena ini terletak di sebelah barat Kota Palu, tepatnya di Dusun Salena Kecamatan Ulujadi, masih berada di dalam Kota Palu.

Dokumentasi Pribadi, Karya Nugie.

 

Akses menuju puncak Paralayang Salena sangat bagus, jalan aspal yang mulus, tanpa lubang-lubang dan didominasi dengan warna hijau yang menyejukkan. Saat berada di puncak, kita akan puas menikmati hamparan Teluk Palu dan landscape Kota Palu. Saat saya ke sana tidak ada tiket masuk dan sudah memiliki toilet karena Puncak Salena ini juga digunakan untuk camping. Hal yang terpenting lagi adalah di sini benar-benar bersih.

 

Puncak Salena ini juga dalam tahap pengembangan menjadi Ecotourism of Salena. Selain digunakan untuk festival paralayang juga dimanfaatkan untuk wisata sepeda gunung, motor trail, dan outbound. Camping di sini pun juga perfecto.

 

  1. Puncak Matantimali

 

Talent: Nugie [Dokumentasi Pribadi]

Naahh, tempat keempat ini berada di luar Kota Palu tepatnya di Kecamatan Banawa, Kabupaten Sigi. Matantimali diambil dari nama desa yang berada di Kawasan Gunung Gawalise, karena inilah Matantimali memiliki ketinggian kurang lebih 1.500 mdpl yang secara otomatis mampu menghadirkan panorama Kota Palu yang indah dari ketinggian. Saya juga pernah membaca bahwa Puncak Matantimali ini menjadi salah satu lokasi paralayang terbaik di se-Asia. Selain itu, di sini juga bisa digunakan untuk camping apalagi saat akhir pekan.

 

Pemandangan Kota Palu dari Matantimali Saat Malam. [Dokumentasi Pribadi]

Camping di Matantimali akan memberi kepuasan karena bisa menikmati sunset, sunrise, panorama Kota Palu saat malam dengan kerlip lampu-lampu kota, menikmati suasana Kota Palu saat siang dan juga menikmati alam sekitarnya yang hijau serta udara yang sejuk.

 

  1. Bukit Satu Pohon
Pemandangan sisi Kota Palu dari Bukit Satu Pohon [Dokumentasi Pribadi, Cindi]

Pertama kali dengar dari suami saat akan ke sini, saya tidak percaya kalau bukit ini benar-benar hanya satu pohon. Ternyata oh ternyata, beneran ada satu pohon yang terletak tepat di puncak bukit ini. Panas dong kalau nggak ada pepohonan? Menurut saya nggak terlalu panas, tetap sejuk dan tetap bisa menikmati hamparan hijau perbukitan khas alam pegunungan.

 

Saat saya ke bukit satu pohon ini, saya hanya mampu sampai di tiga perempat saja, tidak sampai puncak berfoto dengan pohon satu-satunya itu. Jalan setapaknya seperti 180 derajat tegak lurus gitu…haha. Namun, meski hanya di tiga perempat saja, dari sini bisa menikmati landscape Kota Palu yang masyaAllah indah sekali. Di bukit yang terletak di Desa Sibedi, Kabupaten Sigi ini juga terdapat fasilitas umum seperti toilet dan musola. Selain itu, juga ada beberapa warung-warung makan yang menyediakan camilan seperti pisang goreng dengan sambal terasi hingga menu berat berupa nasi atau mie serta aneka minuman dingin.

 

Yuhuuu, inilah lima tempat rekomendasi favorit saya untuk menikmati landscape Kota Palu. Jika teman-teman sedang berada di Kota Palu, jangan lupa menikmati Kota Palu dari ketinggian. Vibe-nya itu lho akan sungguh berkesan. ^^

 

 

Kerja Dari Mana Saja #2: Kopitaro Manual Brew

 

Katanya, secangkir kopi dapat membuat kita belajar bahwa rasa pahit juga dapat dinikmati. Iya kah? Saya pikir memang iya dan menikmati secangkir hangat atau segelas dingin kopi itu sangatlah menyenangkan.

 

Dokumentasi Pribadi

 

Setelah beberapa bulan vakum dari seri perjalanan Kerja Dari Mana Saja dengan sangat gembira dan riang hati saya umumkan the series is back! Kali ini saya kembali dengan seri cerita perjalanan ini di Kopitaro Manual Brew. Kali pertama mengunjungi kedai ini di Bulan Februari lalu, saya langsung jatuh cinta. Vibe-nya terasa filosofis gitu dan tentu kedai ini memiliki ciri khas dari kedai-kedai yang pernah saya kunjungi di Kota Palu.

 

Dokumentasi Pribadi

 

“Di sini kami masih menyeduh kopi secara manual, Kak”, begitu percakapan saya dengan seorang barista yang pada waktu itu saya tebak adalah pemilik Kopitaro. Bagi saya, cara menyajikan kopi di Kopitaro ini terasa otentik. Masih manual, menyeduh secara manual tanpa mesin. Selagi menunggu pesanan, saya bisa melihat proses pembuatan kopi yang saya pesan sambil sesekali berbincang dengan kakak baristanya. Ada interaksi bukan sekadar menikmati kopi. Ini asik menurut saya. Ya meski tak bisa dipungkiri bahwa proses manual ini memang memakan waktu lebih lama. Bagi saya tak masalah karena sepanjang proses pembuatan pesanan, obrolan hangat antara penikmat kopi dan barista bisa tercipta.

 

Proses Manual Brew

 

Manual Brew yang masih dipertahankan oleh Kopitaro ini akhirnya menjadi identitas. Identitas yang bagi saya sulit lho diciptakan terlebih jadi icon. Salah satu menu yang unik di Kopitaro ini adalah Red Wine. Bukan, bukan wine yang itu 😀 Red Wine ala Kopitaro ini adalah kopi yang ditambah dengan sari mulberry diproses secara manual dan terpenting halal. Saya belum pernah mencobanya sih karena menu favorit saya di sini adalah caramel latte yang saat dinikmati itu saat di ujung ada rasa pahit kopi setelah sebelumnya ada rasa manis dan gurih. Gimana ya? Gitu pokoknya…hahaha

 

Caramel Latte Manual Brew, Favorit!

 

Kedai yang terletak di Jalan Swadaya ini menyediakan buku-buku yang bisa dibaca sambil menikmati kopi jika sendirian. Selain itu, Kopitaro juga menyediakan ruang yang nyaman untuk chit-chat bersama kawan. Tak hanya itu, ruang di kedai ini cukup luas dan bisa memfasilitasi komunitas untuk sebuah pertemuan. Desain ruangnya pun juga instagramable industrial gitu, menurut saya. Karena tempatnya yang nyaman ini, untuk kerja pun mendukung, capek lihat layar, bisa ambil jeda keliling lihat-lihat koleksi buku atau alat-alat perkopian di bar.

 

[Dokumentasi Pribadi]

Saya suka mengambil tempat di bagian belakang karena outdoor. Bisa menikmati angin sepoi-sepoi sambil menikmati caramel latte dan tentu saja, kerja. Kopitaro juga menyediakan varian kopi asli Sulawesi Tengah lhoo, Arabika Gawalise Lewara. Lewara adalah nama sebuah desa di Kabupaten Sigi dan terletak di Pegunungan Gawalise. Tak hanya menyeduh kopi tetapi juga memiliki idealisme untuk mengenalkan kopi asli Sulawesi Tengah. Hal seperti ini bagi pendatang macam saya seperti harta karun untuk belajar dan menambah informasi tentang Sulawesi Tengah dari sebutir kopi.

 

Fasilitas ruang nyaman dan aneka pilihan menu kopi bisa menghadirkan suasana homey. Jika tak terbiasa menikmati kopi, Kopitaro juga menyediakan menu non kopi seperti Green Matcha, Chocolatier Ice, Mawar Merah, dan Sakura Girl. Menu makanan yang tersedia ada aneka mie tapi saya belum pernah pesan makanan sih..hehe. Jadi spesial lagi, Kopitaro ini dekat rumah. 😀

 

Yuuk, mampir ke Kopitaro jika teman-teman sedang di Kota Palu. ^^

 

 

Kopitaro Manual Brew

Titik seduh #ngopisampaipintar: Jalan Swadaya, Lr. Sawerigading 1 no. 18, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Halo Tentena, Cerita Mudik ke Kampung Orang

Benar kata Cak Lontong, hal yang paling penting sebelum pulang kampung adalah memastikan punya kampung halaman. Iya benar ya! Hal ini saya sadari saat momen lebaran kemarin. Saya yang merayakan lebaran kali kedua di Kota Palu dan memutuskan tidak mudik, akhirnya ikut merayakan dan merasakan gegap gempita permudikan ini. Nggak mudik ke Jawa bukan berarti harus nangis di pojokan juga ya 😀

Lebaran kali ini, saya, suami, dan Bilgi memutuskan mudik ke Tentena. Anggaplah perjalanan ke Tentena ini adalah pulang ke kampung halaman. Iya kampung halaman orang lain. 😀

 

Pesona Tentena

Menurut hasil pencarian di Google, Tentena berasal dari Bahasa Pamona. Tentena adalah sebuah desa di Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tentena disebut sebagai salah satu kelurahan atau desa tetapi saat berada di Tentena, saya merasa Tentena itu sudah seperti kota. Bukan kota yang identik dengan kemacetan atau keramaian ya, melainkan saya merasa Tentena itu besar seperti kota. Tentena berada di sekitar Danau Poso, danau terdalam nomor tiga di Indonesia yang namanya sering saya jumpai di buku sewaktu saya sekolah dasar. Ternyata Danau Poso dan Tentena ini sungguh cantik. Perjalanan 8 jam dari Kota Palu rasanya terbayar saat sampai Tentena. Oh iya, dari Kota Poso ke Tentena membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam dengan jalan yang berkelok-kelok dan pemandangan yang serba hijau-hijau.

Bagi saya, udara di Tentena itu termasuk kategori sejuk dengan pemandangan alam yang menarik. Ada Danau Poso yang punya beach vibe gitu. Iya danau tapi seperti pantai yang punya gulungan ombak yang tenang. Selain Danau Poso, Tentena juga memiliki deretan pegunungan yang asri, hijau di mana-mana. Ada air terjun Saluopa (baca: Salopa) yang berundak dan bebatuannya itu tidaklah licin saat dipijak dan tentu saja cantik. Saat saya ke Air Terjun Saluopa ini cukup ramai karena musim libur lebaran di mana orang-orang menikmatinya dengan pulang kampung. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya 15.000 dengan rincian dua tiket dewasa dan tiket parkir mobil.

Di Kawasan Air Terjun Saluopa ini fasilitasnya sudah bagus. Kamar mandi tersedia dengan jumlah yang banyak dan sangat bersih. Itu pun tarifnya hanya dua ribu entah BAK, BAB atau mandi. Warung makan juga tersedia dengan pilihan menu beragam dan tidak lupa ada kudapan pisang goreng yang dinikmati dengan sambal atau duo ditambah dengan menikmati kelapa muda Saluopa yang kata para mama penjualnya jika minum kelapa muda Saluopa bikin awet muda. ^^

 

Staycation di Tentena

Lho, katanya mudik, kok staycation? Ya Namanya mudik ke kampung halaman orang lain kan ya, tentu saja saya butuh tempat menginap. Hahaha… Ada dua penginapan yang akan saya rekomendasikan dengan view Danau Poso yang memanjakan mata, yaitu Danau Poso Resort dan Torau Cottage Resort. Kedua penginapan ini memberi view secara langsung pada Danau Poso. Fasilitas keduanya pun memuaskan, memiliki pilihan kamar, dan tenang (review kedua akan tayang di blogpost terpisah ya..).

Jika suatu saat Teman-Teman berkunjung ke Tentena, jangan khawatir soal penginapan. Di Tentena sudah banyak penginapan dengan fasilitas yang bagus. Tinggal pilih aja sesuai keinginan atau sesuai budget travelling kalian. Selain merasakan sensasi staycation dengan view Danau Poso, di Tentena juga ada taman anggrek yang bisa dikunjungi.

Pelajaran dari sebuah cerita perjalanan mudik ke kampung orang lain ini adalah menjaga adab semacam jangan buang sampah sembarangan. Wajib banget sih ini layaknya taat prokes. Selain itu, saat kita berkunjung ke daerah yang mungkin sangat berbeda dengan asal kita, itu bukan momen untuk membandingkan satu sama lain, ngorek kekurangan dan mengunggulkan daerah kita, bukan ya, tapi untuk melihat betapa Indonesia ini kaya, kaya alamnya, kaya budayanya. Serta jangan lupa untuk menikmati perjalanan kita ^^ Ah, nulis ini jadi kangen Tentena.
Yuukk, kapan ke Tentena?

 

 

Suka Duka Menjalin Hubungan Dengan Alumni STAN

 

Suatu siang, di tengah antrian beli sayur lauk matang, saya nggak sengaja mendengar obrolan dua ibu yang bikin saya senyum tapi agak geli juga. Kurang lebih seperti ini obrolannya seperti ini.

 

A: saya sudah masukkan Titi (tentu nama samaran) kursus biar bisa masuk STAN tapi gagal.

B: eh, sama, saya juga.

A: alhamdulillah masih ketrima di kampus negeri (lalu nyebut salah satu kampus terkenal di Malang) lalu saya pesan ke anak saya “kamu nggak bisa masuk STAN tapi Mama masih punya kesempatan punya mantu alumni STAN, jadi korang jangan macam-macam pacaran dulu”.

B: eh sama juga, Mimi (nama samaran juga) ketrima di kampus negeri (nyebut salah satu kampus negeri di Solo) itu alhamdulillah. Itu ide punya mantu alumni STAN boleh juga, nanti saya juga pesan begitu.

Lalu kedua tertawa bersama-sama.

 

Saya yang mendengarnya di tengah antrian beli sayur itu jadi dapat hiburan. Ya ada senangnya, ada gelinya bahkan ada sedihnya juga. Ini yang terlihat di mata para mama mungkin seperti ini; keren karena lulusan salah satu sekolah kedinasan yang tentu saja orangnya memiliki gen kecerdasan yang terjamin dan yang nggak bisa dipungkiri adalah finansial yang stabil. Iya nggak?

Saya juga akan jujur bahwa yang terlihat dari permukaan memang indah seperti apa yang orang-orang pikirkan. Saya pun nggak memungkiri bahwa yang masuk STAN adalah mereka yang otaknya encer-encer meskipun kalau kalimat itu dilontarkan di depan mahasiswa STAN secara langsung mereka akan menjawab ‘ini tuh keberuntungan aja kok’. Terlebih kata orang ada jaminan masa depan. Kata orang yaa, semoga jadi doa beneran. 🙂

Dua mama yang ngobrol tentang menantu idaman dari salah satu sekolah kedinasan itu bisa jadi belum sampai kepikiran tentang nggak enaknya. Iya kan ya? Siapa sih yang pertama kali akan kepikiran tentang hal nggak enak kalau lihat sesuatu yang indah? Eh, kata ‘duka’ di judul seharusnya saya ganti dengan kata ‘tantangan’ kali ya karena ya kalau sedih bisa dibilang nggak sedih-sedih amat, masih bisa diakali agar tetap enak dijalani.

Perkenalkan, saya adalah salah satu istri dari salah satu alumni STAN yang sekarang berprofesi sebagai auditor di salah satu instansi pengawasan keuangan dan pembangunan. Seperti kata dan penglihatan orang, alhamdulillah secara finansial dianggap mapan dan aman (meskipun akan ada banyak faktor yang memengaruhi rasa cukup yaa). Di sisi lain, tetap ada tantangannya yang sungguh menggemaskan jiwa raga…hahaha

Saya pikir secara umum setiap pasangan juga akan seperti ini. Setiap pasangan hidup yang inginnya selalu dinomorsatukan maka aturan terpenting mendampingi salah satu alumni STAN adalah siap ‘dinomorduakan’. Poligami? Bukan, bukan. Siap dinomorduakan dengan tugas pengabdian ke negara. Siap lihat kenyataan kalau suami udah seperti customer service yang 24 jam menerima telpon atau harus telponan di tengah sesi audit. Siap juga ditinggal dinas luar kota bahkan luar negeri di situasi apa pun termasuk dua hari setelah lahiran ditinggal dinas ke Seoul, saat itu bagi saya ya nggak mudah tapi kan juga nggak bisa saya tantrum biar suami batal berangkat kan?

Situasi lain yang bisa memecah persatuan rumah tangga adalah malam minggu kalau ditinggal nggarap laporan ya jangan baper dan coba-coba ngambek. Kemungkinan besar, doi akan lebih milih nggarap laporan daripada kencan. 😀 Saya, sebagai pasangannya pun juga harus tahu diri. Nah, untuk bisa tahu diri ini juga butuh proses kok. Iya, proses atau perjalanan saling memahami. Nggak bisa egois ‘pilih kerjaan atau aku sebagai pasanganmu?’ Tidak, tidak seperti itu. Menurut saya, hal ini pun juga berlaku nggak hanya yang punya pasangan alumni STAN saja.

Selanjutnya, selama hamil anak pertama, suami saya total menemani saya periksa itu dua kali. Pertama saat dinyatakan beneran hamil dan kedua saat harus mengambil keputusan saya melahirkan normal dengan resiko berat atau sesar untuk meminimalkan resiko kematian ibu dan bayi. Selebihnya ya saya berangkat sendiri. Pernah juga dong baper lihat ibu hamil yang diantar suaminya, saya nggak memungkiri itu. Bisa juga sih waktu itu saya ngambek aja dan bilang ke suami ‘kalau nggak diantar aku batal periksa aja’ tapi bagi saya hal semacam itu bukan sebuah solusi, justru akan menambah masalah lain. Iya kan ya? Perjalanan hamil itu pun membuat saya meluaskan definisi tentang suami siaga tentu versi saya.

Lalu, apa hal menyenangkan bagi saya selama menjalin hubungan dengan salah satu alumni STAN? Salah satunya bisa keliling Indonesia :-D. Meskipun hidup berpindah-pindah tetap ada nggak enaknya. Kalau fokus ke nggak enaknya, nggak akan bisa menikmatinya. Hidup berpindah-pindah memberi saya kesempatan melihat hal-hal unik dan indah tentang Indonesia. Ya kalau niat traveling berangkat dari Jawa ke Sulawesi Tengah, misalnya, pasti butuh biaya yang nggak murah, belum termasuk jika destinasinya butuh tambahan penerbangan perintis. Iya kan ya? Iyain aja deh 😀

Gambaran lainnya, memiliki pasangan alumni STAN yang harus mutasi pindah propinsi adalah melatih saya jadi nggak baperan. Susah sekali ini, beneran, nggak tipu-tipu. Misal ketika musim liburan lihat orang-orang bepergian dengan anak dan pasangan sedangkan saya hanya berdua dengan anak tanpa suami. Ternyata nggak apa-apa, akan ada momen liburan bersama. Atau tentang LDR, saya yang juga pernah menjalani dan ada kemungkinan akan menjalani LDR lagi (mungkin ya) dengan alasan dan pertimbangan yang tentu saja sudah dimusyawarahkan bersama membuat saya bisa lebih berhati-hati melontarkan pertanyaan atau pernyataan pada pasangan lain yang sedang menjalaninya. Apapun alasannya, saya nggak akan mengorek atau lancang membuat pernyataan yang tak nyaman. Menjalaninya saya sudah berat jadi nggak perlu nambah-nambah beban orang lain yang menjalani LDR. Bukan LDR-nya yang dosa, yang dosa adalah lisan atau prasangka kita yang menghakimi keputusan orang lain dan membandingkannya dengan kehidupan kita yang seakan paling ideal dan sempurna.

Uneg-uneg ini murni dari pengalaman pribadi. Saya menyadari setiap pasangan pasti mengalami yang tentu saja dalam wujud yang beragam. Semoga ini bukan bagian dari kesombongan dan tentu saja harapannya masih ada yang bisa diambil sebagai pelajaran. Maafkan jika ada salah-salah ketikan. Semangat saling memberi rasa nyaman pada pasangan halal yaaaa….

 

Trilogi Insiden: Fakta dari Sebuah Fiksi

“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.”

Buku Trilogi Insiden sebenarnya merupakan tiga buah buku yang diterbitkan berbeda dan pada tahun yang berbeda pula, lantas digabungkan menjadi satu oleh Penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2010. Ketiga buku yang digabung dalam Trilogi Insiden ini adalah Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, dan Ketika Jurnalisme dibungkan Sastra Harus Bicara.

Buku pertama, Saksi Mata adalah buku yang berisi kumpulan cerpen, terbit pada tahun 1994. Buku kedua yang berjudul Jazz, Parfum & Insiden merupakan sebuah novel –Seno Gumira Ajidarma (SGA) selaku pengarang menyebutnya dengan Roman Metropolitan– terbit pertama kali pada tahun 1996. Sedang buku ketiga, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara merupakan buku yang berisi kumpulan esai, terbit pertama pada tahun 1997.

Pembungkaman Fakta?

Kesamaan latar belakang merupakan kata yang menurut saya pas untuk menggambarkan kenapa ketiga buku ini digabungkan, walaupun SGA sendiri dalam buku ini menentang korelasi antara karya sastra dengan latar belakang penulisannya.

“Saya termasuk orang yang setuju, kalau karya sastra memang tidak harus dihubung-hubungkan dengan latar belakang pembuatannya. Pengalaman seorang penulis mungkin menarik sebagai gosip, tapi ia tidak perlu menjadi faktor yang ikut menentukan kualitas sebuah tulisan.”

(Trilogi Insiden:317).

Semua berawal ketika majalah Jakarta Jakarta (JJ) –majalah dimana SGA adalah pimpinan dari majalah tersebut dan turut membesarkannya sejak masih berbentuk embrio– nomor 282 yang tanggal terbitnya tercatat 23-29 November 1991. Pada edisi tersebut JJ memuat sebuah laporan bertajuk Dili: Heboh Video. Laporan dalam majalah JJ ini merupakan buntut dari sebuah insiden yang kelak dikenal sebagai Insiden Dili 12 November 1991. Berdasarkan keterangan para saksi mata yang dikumpulkan oleh majalah JJ, juga berdasarkan rekaman video yang sudah menyebar sampai luar negeri, insiden tersebut terlihat sadis dan tidak berperikemanusiaan. Dilakukan oleh kelompok militer tanpa tanda-tanda dan identitas jelas terhadap warga sipil Dili, Timor-Timur (Timor Leste sekarang), yang menurut buku ini tengah melakukan demonstrasi dan upacara tabur bunga di komplek pemakaman Santa Cruz.

Rupanya, isi berita yang jujur seperti dalam pemberitaan majalah JJ disesalkan oleh pihak manajemen penerbitan tempat majalah JJ bernaung terlebih oleh pihak militer karena dianggap telah mendiskreditkan lembaga mereka. Mereka menyebutnya terlalu vulgar, tapi SGA sendiri melakukan pembelaan atas pernyataan yang dianggap vulgar tersebut.

“Menulis berita bukanlah soal estetika, bukan keindahan bahasa, melainkan soal fakta: apa yang sebenarnya terjadi?”

(Trilogi Insiden:362)

Setelah pemberitaan mengenai inseiden Dili di majalah Jakarta Jakarta tersebut, SGA bersama dengan Waskito Trisnoadi selaku Redaktur Pelaksana dan Usep Hermawan selaku Redaktur Dalam Negeri dipanggil oleh pimpinan perusahaan tempat majalah JJ bernaung. Apalagi kalau bukan ‘mempertanyakan’ isi majalah yang baru saja terbit. Di akhir cerita, Waskito dan Usep dipindahkan ke tabloid Citra dengan status demosi, artinya dimutasikan karena kesalahan, sedang SGA tetap berada di JJ, namun non job selama beberapa bulan. Inilah awal mula dari pengkerdilan Jakarta Jakarta yang membuat SGA ‘bersuara’ di ruang lain, tidak lagi di ruang jurnalistik. “Cacing diinjak pun menggeliat, apalagi manusia,” kata SGA. Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, persis seperti kalimat yang tertulis di awal tulisan ini. Ketiga tulisan SGA tersebut terbit ketika Orde Baru masih berkuasa, dan lolos. Padahal isi yang terdapat dalam ketiga buku tersebut sangat jelas menggambarkan insiden Dili –walaupun tanpa menyebut nama dan lokasi kejadian–, cuma bedanya ia hadir dalam ruang fiksi. Siapa sekarang yang akan menyalahkan fiksi?

Trilogi Insiden

Seperti yang tertulis di atas, isi buku ini terdiri dari Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum & Insiden (novel), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

Saksi Mata. Dalam bagian ini, 17 cerpen yang –tentu saja– bernuansa insiden Dili terangkum. Mereka adalah Saksi Mata, Telinga, Manuel, Maria, Salvador, Rosario, Listrik, Pelajaran Sejarah, Misteri Kota Ningi, Klandestin, Darah itu Merah Jenderal, Seruling Kesunyian, Salazar, Junior, Kepala di Pagar Da Silva, dan Sebatang Pohon di Luar Desa. Dari judul-judul kumpulan cerpen itu saja, jelas bahwa cerpen-cerpen ini merupakan representasi dari Insiden Dili 12 November 1991. Terasa ada seberkas fakta yang berusaha bercerita.

Jazz, Parfum & Insiden. SGA mampu meramu laporan-laporan Insiden Dili menjadi sebuah roman yang dibalut sensasi cerita parfum dan filosofi alunan musik jazz. Inti dari novel ini sebenarnya adalah pada bagian insiden yang dikisahkan, berisi laporan-laporan seorang wartawan mengenai sebuah insiden yang terjadi –tentu kita mafhum insiden seperti apa yang dimaksud. Bagian jazz dan parfum hanyalah sebuah pengaburan dari bagian insiden sehingga seolah-olah terpisah dan ketiganya terhubung dengan sosok tokoh bernama aku.

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Bagian ini berisi kumpulan esai. Beberapa menjelaskan tentang proses kreatif dalam menuliskan cerpen yang sebagian besar terangkum dalam Saksi Mata. Bagian lain memuat kisah di belakang layar mengenai proses terbit majalah Jakarta Jakarta edisi 282 sekaligus cerita yang terjadi setelah JJ edisi tersebut terbit, mulai dari tekanan manajemen hingga interogasi dari pihak militer. Sisi lain menggambarkan korelasi antara fiksi, jurnalisme, dan sejarah. Pentingnya menyampaikan kebenaran atas fakta, diceritakan pula dalam bagian ini.

Epilog

Saya setuju dengan pendapat SGA ketika dia mengatakan bahwa jurnalisme adalah pengungkapan fakta. Fakta yang bagian mana? Nah, ini dia! Pengungkapan fakta yang mana adalah kewenangan mutlak dari tim redaksi, terutama dari peliput fakta itu sendiri. Sebuah aksi demonstrasi mahasiswa yang menyebabkan jalanan macet, itu memang fakta, tapi apakah fakta seperti itu cukup layak untuk diungkapkan menjadi berita utama bila dibandingkan misalnya dengan, apa isi demo yang disuarakan mahasiswa? atau apa yang melatarbelakangi demo tersebut menjadi perlu dilakukan oleh mahasiswa? Fakta yang mana yang akan dipilih oleh peliput fakta, itu menjadi hak dia sepenuhnya, tentu nantinya harus sesuai juga dengan kebijakan pemimpin redaksi.
Begitu juga dengan apa yang diungkapkan oleh SGA sebagai sebuah fakta. Bisa jadi Trilogi Insiden hanya selembar fakta yang dia ungkapkan dan bukan kebenaran dari keseluruhan fakta yang seharusnya ada. Ia mengakui sendiri pada buku Trilogi Insiden ini.

“… Saya mungkin tidak sedang membela kemanusiaan, saya hanya bertengkar dengan para pegawai tinggi di perusahaan tempat saya bekerja: bahwa teks yang mereka haramkan saya sebar luaskan. Jangan-jangan ini cuma soal gengsi antarpribadi. Hanya itu….”

(Trilogi Insiden:398)

Kebenaran mungkin akan lebih mendekati ketika pembaca buku ini juga disodori setumpuk penjelasan dari pihak militer yang diduga melakukan penembakan di pekuburan Santa Cruz. Itu pun, saya kira, termasuk fakta yang perlu diketahui. Apa alasan mereka menembak? Atau, Bagaimana situasi yang pihak militer rasakan? Perlu rasanya untuk mendapat penjelasan. Tetapi, rasanya, saya sangat setuju dengan apa yang tertulis dalam cover belakang buku Trilogi Insiden ini, “Seberapa jauh pembantaian orang-orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apa pun dari sebuah lembaga mana pun? Saya ingin mendengar sebuah jawaban.”

 

Nah, ini adalah buku yang saya baca minggu lalu. Teman-teman baca buku apa minggu ini? ^^

Tetiba dan Gegara, Baku Atau Tidak Baku?

Tetiba Gegara

Tetiba Gegara

“Tetiba gua pusing, gegara nonton TV isinya gosip mulu, wicis gak guna juga dalam hidup gua”

Nah, mungkin kita sering menjumpai, kalau saya sih menyebutnya kata-kata “gaul” yang banyak digunakan oleh pegiat media sosial dalam postingan atau komentar-komentarnya. Contohnya seperti kalimat di atas, penggunaan kata “gaul” yang menarik perhatian saya adalah kata “tetiba” dan “gegara”, apalagi ditambahin celetukan keinggris-inggrisan, makin shahih level gaulnya, haha.

Walaupun dua kata tersebut bukan termasuk dalam kata baku, namun tentu kita semua sudah faham maksudnya adalah kependekan dari ”tiba-tiba” dan “gara-gara”. Dalam tulisan kali ini saya akan sedikit menyinggung bagaimana sebenarnya kata tersebut bisa muncul. Hal ini bermula karena masih ada rasa penasaran tentang penggunaan kata tersebut –tetiba dan gegara–.

Pembentukan kata yang dimaksud disebut dengan reduplikasi dwipurwa atau dapat juga dikatakan sebagai reduplikasi parsial. Hal ini dikenal dalam ilmu pembentukan bahasa (morfologi). Proses ini mengulang bagian depan atau suku kata awal dari sebuah kata dasar. Pengulangan ini biasanya diikuti dengan pelemahan vokal pertama. Contohnya, lelaki dari laki-laki dan beberapa dari berapa-berapa. Contoh dari reduplikasi dwipurwa yang mendapat kombinasi akhiran -an, seperti pepohonan, rerumputan, dan bebatuan. Proses ini tidak dapat mencakup semua kata ulang, misalnya tidak ditemukan bentuk rerumahan yang berasal dari kata rumah-rumahan (gegara dan tetiba termasuk yang tidak ditemukan).

Pemakaian bentuk gegara dan tetiba tidak menyalahi kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, hanya saja ia belum masuk dalam kata baku yang tercantum dalam KBBI. Salah satu fungsi pengulangan dwipurwa adalah menciptakan kata baru yang dapat mewakili konsep tertentu. Misalnya, jejaring dari jaring dan tetikus dari tikus. Atau, fungsi lainnya adalah memendekkan bentuk ulang. Misalnya, laki-laki menjadi lelaki atau pohon-pohonan menjadi pepohonan.

Kiranya, berdasarkan teori di atas kata tetiba muncul dari kata tiba-tiba dan gegara muncul dari kata gara-gara yang berfungsi untuk memendekkan bentuk ulang. Bisa jadi, ini adalah fenomena bahasa yang muncul. Bisa jadi, ikut dibakukan semacam kata gawai yang dulu belum dikenal, namun kini masuk ke dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebagai padanan kata asing: gadget.

Sampai saat ini kata-kata yang disebutkan di atas sama levelnya dengan kata-kata sebangsa bokap, nyokap, dan lainnya yang tidak atau belum diakui sebagai kata baku bahasa Indonesia, bedanya kata tetiba dan gegara lebih intelek karena ada teori bahasa yang melatarbelakanginya. Masalah kebakuan kata dalam prosesnya sebagi kata baku yang diakui oleh KBBI memang cukup debatable. Bisa jadi kata yang dianggap aneh saat ini bisa dibakukan dan masuk dalam KBBI atau mungkin akan hilang dengan sendirinya karena pamornya sudah mulai hilang dan pengguna bahasa sudah menemukan ‘mainan’ baru yang bisa digunakan sebagai fashion dalam berbahasa.

Kalau teman-teman mencoba mencari kata gegara dan tetiba di KBBI online akan muncul dua kata tersebut beserta maknanya, namun ditandai dengan “cak”, yang artinya cakapan: menandai kata yang digunakan dalam ragam tidak baku.