Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Review Villa Bukit Indah Doda

Doda adalah sebuah nama desa yang terletak di dataran tinggi, Kecamatan Lore Utara, masuk dalam Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Desa Doda masuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, dengan wisata unggulannya adalah situs megalitikum berupa patung-patung batu dengan ukuran besar.

(Foto Pribadi)

Namun, kali ini saya tidak akan berbicara tentang Desa Doda yang ini. Saya akan bercerita tentang Doda yang lain yaitu Villa Bukit Indah Doda. Doda kali ini tidak terletak di Kabupaten Poso, melainkan masuk dalam kawasan Kabupaten Sigi, tidak jauh dari Kota Palu. Intro-nya gini amat yaaa 😀

Lokasi Villa Bukit Indah Doda kira-kira 15-20 menit dari Kota Palu, tergantung dari mana berangkatnya. Misal, saya berangkat dari Palu Selatan sekitar area Balaikota, saya langsung menuju Jalan Gunung Gawalise, kemudian berbelok menuju arah SMK N 4 Palu (SMK N 4 Palu ini jadi patokannya), kemudian lurus saja, jalan menuju Villa Bukit Indah Doda ini menanjak kira-kira 1 km. Lokasi villa berada di sebelah kiri jalan setelah masjid Al Askar. Karena tidak ada transportasi umum yang bisa digunakan, menurut saya lebih baik menggunakan kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil agar bisa leluasa menikmati waktu di villa ini. Lokasi parkiran cukup luas, jadi tidak perlu khawatir.

Infinity Pool di Villa Bukit Indah Doda saat malam. (Foto milik pribadi).

Café The Hills bisa dibilang sebuah lokasi wisata dengan restoran atau café dengan bisnis utamanya (saat ini). Di sekitar café ada taman kecil yang bisa digunakan untuk bermain anak-anak atau untuk sekadar duduk-duduk, pada malam hari taman ini akan semakin cantik karena dihiasi lampu kecil warna-warni. Selain itu, terdapat pula kolam renang dengan konsep infinity pool, yang artinya, jika kita berfoto dengan angle dan sudut pandang yang pas, akan nampak seakan-akan kolam renang tersebut tidak memiliki ujung. Kemudian sedikit di bawah café terdapat kamar-kamar yang sedang dalam pengembangan, nantinya kamar-kamar ini akan menjadi semacam villa yang dapat disewa.

(Foto milik pribadi)

Itulah sekilas tentang Villa Bukit Indah Doda. Lalu apa spesialnya? Nampaknya sudah umum ada café yang dilengkapi dengan kolam renang dan taman bermain. Keunggulan dari Villa Indah Bukit Doda adalah pada pemandangan atau view-nya yang cantik. Berada pada ketinggian, pemandangan yang ditawarkan adalah Teluk Palu dengan latar belakang pegunungan. Akan lebih indah lagi bila kita datang pada malam hari, kita bisa menikmati lampu-lampu Kota Palu tampak kelap-kelip layaknya bintang-bintang.

Pemandangan cantik ini dipadukan dengan penataan lokasi yang nyaman untuk hang out dengan teman maupun dengan keluarga. Villa Bukit Indah Doda ini baru beroperasi pasca gempa Palu 2018, sehingga tempatnya masih sangat terawat dan nyaman.

(Foto milik pribadi)

Tempat makan di lokasi ini ada dua, yang pertama bernama Upper Hills Ballroom and Dining, yang bisa dipesan untuk kegiatan-kegiatan formal. Kemudian yang kedua dan biasanya menjadi favorit pengunjung adalah The Hills Café, yang berada tepat di samping kolam renang. Saya pertama kali mencoba tempat makan di Café The Hills. Makanan yang ditawarkan cukup beragam, ada berbagai varian nasi goreng, mie, soto, ikan bakar khas Palu, bakso bahkan ada menu andalan khas Palu, Kaledo. Tidak hanya makanan berat, Café The Hills juga menyediakan menu kudapan dan berbagai pilihan menu minuman. Tentu saja dengan harga yang masih terjangkau menurut saya. Menarik lagi, saya bisa memilih untuk makan di lokasi indoor ataupun outdoor. Tentu saja, jika cuaca sedang bagus, saya sangat merekomendasikan untuk memilih tempat duduk outdoor di pinggir kolam renang sambil menikmati pemandangan Kota Palu dari ketinggian.

Kota Palu dari Doda
Pemandangan Kota Palu saat malam dari Bukit Doda. (Foto milik pribadi).

Teman-teman yang ingin berkunjung ke Villa Bukit Indah Doda, mungkin bisa memilih waktu sore hari atau malam hari. Sore hari kita bisa bermain air di pinggir kolam renang atau menikmati sore dengan berenang , kemudian menjelang malam bisa santai dan menghangatkan diri di Café The Hills sambil menikmati gemerlap lampu-lampu Kota Palu dari ketinggian. Dengan segala fasilitas dan view yang ditawarkan serta tiket masuk ke lokasi Rp20.000 per orang, menurut saya sudah sangat memuaskan dan membuat bahagia. Ada yang punya rencana traveling ke Palu? Yuuk, mampir di Villa Bukit Indah Doda. ^^

Semalam di Marina Cottage Kota Ampana

Marina Cottage

Marina Cottage

Tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kota Ampana yang terletak di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah karena cerita suami yang habis dinas dari sana. Iya, ‘hukum alam’ di rumah tangga kami, setelah dinas atau acara dari manapun kalau tempatnya indah akan membawa istri dan anak kembali ke sana. 😀

Marina Cottage Ampana
Foto Pribadi

Ini merupakan kali pertama saya mengunjungi Kota Ampana. Kesan pertama bagi saya tentu saja Kota Ampana  itu sungguh indah. Saat pertama kali suami ke Ampana, ia bercerita bermasalah dengan penginapan karena kali pertama. Ia menganggap hal itu menjadi satu hal yang buta sama sekali. Saya sih jelas nggak akan ‘buta’ alias nggak akan khawatir karena ada suami yang sudah pernah ke Ampana. 😀

Marina Cottage
Foto Pribadi

Setelah suami memberi pilihan untuk browsing sana-sini, terutama dari google maps (karena biasanya ada foto-foto yang diunggah oleh pengunjung), pilihan saya jatuh pada penginapan Marina Cottage yang tentu saja pertama bagi saya dan Bilgi tetapi kali kedua untuk suami. Kalau dilihat di peta, lokasinya persis terletak di tepi pantai. Marina Cottage lokasinya lumayan mudah dijangkau dengan transportasi apa saja. Dari Bandara Tanjung Api, Kota Ampana hanya berjarak 4 km saja, dari Pelabuhan Ampana hanya 3 km jaraknya, dan lokasinya berada di pinggir jalan raya, sehingga mudah dijangkau kalau berlibur ke Kota Ampana menggunakan travel.

Kota Ampana merupakan pintu gerbang bagi para traveler yang berkeinginan mengunjungi Kepulauan Togean. Kepulauan yang terkenal dengan wisata pantai, snorkling, dan diving. Nah, Marina Cottage ini cocok untuk tema-teman yang perlu transit sebentar setelah melalui perjalanan jauh dari Kota Palu, misalnya.

Marina Cottage
Foto Pribadi

Penginapan Marina Cottage, sesuai namanya berkonsep layaknya cottage, yang masing-masing kamar terpisah pada masing-masing pondok dengan konsep rumah panggung, dengan sebagian besar material terbuat dari kayu yang dicat natural. Harga kamar yang ditawarkan bervariasi tergantung fasilitas, luas kamar, dan lokasi. Dari mulai Standard Room seharga 275.000, Superior 330.000, Deluxe 440.000, dan Family Room seharga 605.000.

Namun, fasilitas yang ada di hotel ini cukup minimalis. Selain kamar tidur dengan kipas angin/AC dan kamar mandi di tiap-tiap kamar, hanya ada tempat makan dengan konsep terbuka, dan mushola. Sinyal wifi dan saluran TV pun termasuk agak terbatas. Tapi percayalah, untuk teman-teman yang memang berkunjung ke Kota Ampana untuk liburan, masak sih mau menghabiskan waktu di kamar, browsing atau sekadar nonton TV ketika ada pemandangan luar biasa indah langsung di depan kamar tidur? Rugi banget kalau hanya rebahan di kamar. Serius!

Marina Cottage
Foto Pribadi

Ya, betul sekali. Ada beberapa kamar yang ketika membuka pintu, pemandangan yang tersaji adalah laut tenang, nyaris tanpa ombak, bagaikan kolam renang pribadi yang terbuka 24 jam. Sore hari akan lebih istimewa lagi karena jika langit sedang cerah, akan menyaksikan matahari tenggelam di batas cakrawala laut.

Marina Cottage Ampana
Foto Pribadi

Senja di Marina Cottage
Foto Pribadi (Ini adalah senja di Ampana, tepat di depan Marina Cottage)

Harga kamar sudah termasuk sarapan pagi dengan menu rumahan sederhana khas Ampana: nasi, sayur, ikan bakar atau ikan masak woku, sambal dabu-dabu, buah-buahan, dan kopi/teh. Karena memang masakan rumahan, rasanya tidak aneh-aneh dan nampaknya akan cocok dengan sebagian besar lidah orang Indonesia. Dari semua yang saya ceritakan, sekeliling Marina Cottage ini bersih. Benar-benar bersih.

Jadi untuk teman-teman yang ingin bersantai sejenak dan mencari penginapan dengan view pantai yang indah khas pesona Indonesia Timur, Marina Cottage patut dicoba. Yuk, ramai-ramai ke Kota Ampana, Sulawesi Tengah! ^^

Kerja Dari Mana Saja #1: Ruang Dualapan Creative Space

Cover RDL

Sekitar tahun 2010, jauh sebelum pandemi, saat itu saya kuliah tahun kedua di Jogja, saat  saya memulai ‘karir’ sebagai penulis atau editor lepas. Saya tetap berorganisasi di kampus tapi memang lebih suka kerja lepas sebagai penulis konten. 2010 jadi penulis konten masih belum familiar yaa.. Mengingat di tahun itu wifi masih terbatas, bisa bebas akses internet ya harus di kampus, perpustakaan, warnet atau puskom di UNY, itupun pakai antre. 😀 Dulu yang namanya kerja ya di kantor, di sekolah, di kampus, dan di di di yang lain yang menunjukkan nama instansi. Dulu sering ditanya orangtua, bisa bolak-balik beli buku uang dari mana dan pertanyaan apa selama kuliah nggak makan. Dulu pendapatan hasil nulis konten terbilang nggak banyak sih ya, tapi sebagai mahasiswa yang haus pengalaman dan yang penting bisa beli buku lebih banyak, itu sudah cukup. Dulu prinsipnya adalah yang penting bisa beli buku dulu, masalah makan bisa dipikir belakangan.

Tahun demi tahun berlalu, segala hal beralih menjadi digital. Bekerja sebagai penulis konten lepas juga semakin banyak yang paham dan familiar. Lalu, datanglah pandemi yang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah bekerja dari rumah atau dikenal dengan istilah work from home (WFH). Dulu kerja dari rumah dianggap nggak kerja. Bisa menimbulkan bisik-bisik tetangga, kok bisa hidup tanpa kerja. Setelah memasuki tahun kedua pandemi, kerja menjadi lebih fleksibel. Bisa di mana saja. Ada yang sudah memulai bekerja di kantor, ada yang menghabiskan jam kerja di restoran, di warteg, di rumah, atau pun bisa kerja di kedai kopi dengan syarat ada wifi. Iya kan ya?

Ruang Dualapan (RDL) Creative Space

Pintu masuk Ruang Dualapan Creative Space

Yap, pandemi mengajarkan dan menyadarkan saya bahwa bekerja bisa dari mana saja. Salah satu tempat favorit saya adalah di kedai kopi. Kedai kopi kali ini yang saya coba adalah Ruang Dualapan Creative Space. Terletak di Kota Palu, tepatnya di Jalan Ki Hajar Dewantoro no. 28. Di sini tidak hanya sekadar tempat minum kopi tetapi memang memiliki konsep sebagai coworking space. Ruang Dualapan menyediakan dua area, yaitu indoor dan outdoor. Area indoor pun sangat nyaman menurut saya, ada tiga jendela besar sebagai ventilasi. Posisi jendela menghadap halaman belakang yang asri. Meskipun duduk di dalam ruangan tetap terasa sejuk. Masih bagian indoor, di Ruang Dualapan ini ada buku-buku yang berjajar rapi, suasana ruang bacanya dapat. Buku-buku di sini bisa dibaca di tempat sambil minum kopi atau teh.

Ada satu rak buku ukuran lebih besar di sisi bagian dalam.

Bagian indoor yang saya suka adalah meja panjang yang tepat di depan jendela. Yap, cocok untuk yang datang sendirian. Selain itu juga disediakan meja kursi untuk duduk berkelompok, misal untuk mengerjakan tugas bersama atau meeting. Dari segi pencahayaan juga bagus dan terpenting tempatnya bersih. Lalu, seperti apa bagian outdoor-nya? Nah, bagian outdoor-nya ini cantik, lagi-lagi menurut saya ya… Disediakan beberapa meja kursi yang tetap bisa dipakai untuk bersantai, baca buku sambil menikmati pesanan bahkan asyik juga untuk melamun asal jangan lupa pesan dulu minuman kesukaan teman-teman. 😀

Menu di Ruang Dualapan Creative Space

Satu ini tak boleh ketinggalan yaa…

Di Ruang Dualapan menyediakan aneka macam kopi dan non kopi. Ada Ruang Dualapan Signature, yaitu Araceae (es kopi susu+gula aren), Hazel-Tov (es kopi susu+susu hazelnut), Caramello, Butterscoth, White Poppy, Kopi Susu Kita, dan Si Pandan. Menu selanjutnya adalah sajian minuman dari kopi di antaranya Ice Americano, Mochacinno, Ice Caffe Latte, Extra Shot, Affogato, Hot Americano, dan Hot Caffe Latte. Lalu, gimana dong kalau nggak bisa minum kopi? Tenaaaaang, di Ruang Dualapan ini juga menyediakan aneka minuman non kopi dengan pilihan beragam. Ada Strawberry Cheesecake, Ice Chocolate, Hot Chocolate, Ice/Hot Red Velvet, Ice/Hot Thai Tea, Ice Vanilla, Ice/Hot Taro, Ice Lychee Tea, Ice Lemonade Tea, dan kesukaan saya Ice Matcha. Tidak hanya minuman, di Ruang Dualapan juga menyiapkan menu kudapan, seperti RDL Crispy Burger, French Fries, RDL Platter (kentang, sosis, dan nugget), donat, dan brownies. Cukup lengkap untuk aktifitas selama di Ruang Dualapan. Semua menu di atas bisa dinikmati dari Hari Selasa hingga Hari Minggu, mulai pukul 15.00-22.00 WITA. Catatan penting bahwa setiap Senin Ruang Dualapan tutup.

Fasilitas di Ruang Dualapan Creative Space

Selain menyediakan tempat yang nyaman seperti yang saya ceritakan di atas, di sini juga ada toilet yang bersih dan bagi saya sebagai muslim, ada fasilitas untuk salat yang nyaman, bersih, dan tenang. Area salat ada di lantai atas dengan view pepohonan dan langit. Depan tempat salat, dipasang semacam lonceng tapi terbuat dari bambu. Oh iya, semacam angklung gitu. Saat angin berhembus, angklung gantungnya akan berbunyi dan menurut saya kok syahdu gitu yaa…haha

Selain fasilitas di atas, Ruang Dualapan juga siap ‘menyapa’ teman-teman untuk take-away dengan jasa Grab atau Maxim. Bisa juga langsung pesan via go-food. Nah, lebih menarik lagi, jika teman-teman order via go-food maka bapak atau kakak driver yang ambil pesanan teman-teman akan mendapat satu gelas kopi gratis dari Ruang Dualapan. Asyik kan? 🙂

Overall, sangat menyenangkan bisa mampir dan bekerja dari Ruang Dualapan Creative Space kali ini. Selamat bekerja dari mana saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan ya teman-teman. Tetap sehat dan bahagia. Sampai jumpa di cerita Kerja Dari Mana Saja #2. ^^

Pengalaman Belajar di Oxford School of Rare Jewish Language

Hai, teman-teman yang baik? Bagaimana kabar di pertengahan Januari ini? Apakah masih bertahan dengan serba daring-daring dari rumah? Atau sudah mulai aktifitas tatap muka? Semoga selalu sehat yaaa…

Blogpost kali ini, saya ingin cerita tentang kegiatan belajar saya secara daring di Oxford School of Rare Jewish Language (OSRJL), Universitas Oxford. Iyap, Universitas Oxford. Kampus Maudy Ayunda, nggak salah baca kok. 😀 Kok bisa? Bagaimana?

Jadi gini, sebenarnya semuanya berawal dari iseng. Iya iseng, nggak terencana yang tentu saja tanpa persiapan matang. Sekitar bulan Juni, saat saya jalan-jalan dari web ke web kampus, tibalah saya di web Universitas Oxford. Ada bukaan program short-course selama satu tahun di Oxford School of Rare Jewish Language. Oh iya, itu kebiasaan saya kalau jalan-jalan virtual kalau nggak blog-walking ke blog teman-teman ya main ke web-web kampus daripada scroll media sosial. Seringnya dapat ‘harta karun’ dan bagi saya lebih menyenangkan.

Saat saya ketemu dengan pengumuman short course itu, waktunya udah mepet banget kurang dari dua puluh empat jam dan saya memang tidak berniat untuk tidur lagi saat terbangun pukul 01.00. Yaudah, saya isi form-nya yang seingat saya ada 6-7 lembar, mengarang bebas bikin personal statement, siapkan salinan ijazah S1-S2, dan sertifikat Bahasa Inggris. Submitted dan saya juga nggak terlalu berharap kalau terjaring. Universitas Oxford gitu ya, mimpi saja saya nggak berani…hahaha… Setelah submit pun saya lupa dengan apa yang saya lakukan dini hari itu. Yaudah sih, pikir saya, sudah bisa memenuhi persyaratan saja sudah bahagia.

Hingga akhirnya, di awal bulan September saya menerima email dari OSRJL bahwa saya lolos di du akelas yang saya pilih, yaitu Advanced Baghdadi Judeo Arabic dan Classical Judeo Arabic. Dari namanya Oxford School of Rare Jewish Language (OSRJL), ini adalah sekolah yang mempelajari bahasa-bahasa Yahudi yang sudah langka. Ternyata ada banyaaaaaak sekali, seingat saya ada Bahasa Karaim, Turkish Judeo, Aramaic, dan maaf saya hanya mengingat itu selain du akelas yang saya ikuti.

Suka Dukanya apa?

Saya ingin cerita dari sukanya dulu aja ya…

Pertama, tentu saya bersyukur. Bersyukur dengan keadaan ini yang segala sesuatu terasa fleksibel dan bisa daring dari mana saja. Bersyukur meskipun di rumah masih bisa terus belajar, memiliki lingkungan dan teman diskusi di ruang percakapan. Pun teman-teman satu kelas datang dari belahan dunia, tapi saya jadi satu-satunya siswa dari Asia, dari Indonesia.

Kedua, dari sisi ilmu. Tentu saja diawal membuat saya takjub bahwa ternyata ada rare jewish language dan jumlahnya banyak. Bertemu dengan dosen yang memang menekuni bidang tersebut. Terasa nyaman juga bahwa dalam satu kelas hanya terdiri atas 20 siswa. Jadi lebih fokus dan kami juga lebih saling kenal, antara dosen ke siswa maupun antar siswa.

Ketiga, sistem belajar. Kami memiliki jadwal kelas, di luar itu kami juga akhirnya membentuk group percakapan untuk belajar bersama sesuai dengan waktu yang kami sepakati. Selain itu juga ada materi-materi yang harus dipelajari sendiri dan kami dipersilakan untuk menghubungi dosen jika ada kendala secara personal. Buku-buku yang harus dibaca pun juga lumayan, banyak. 😀 Secara garis besar ada tiga inti ini di bagian suka. Pokoknya bikin saya bahagia. Selain itu, saya juga terpaksa belajar speaking dan listening lagi. Terpaksa tapi bahagia. Ya gitu…hehehe

Geser ke bagian dukanya…hehe

Sejujurnya nggak ada sih. Tapi kalau begini kan nggak asik ya dibaca. Saya pikir bagian duka ini lebih pada waktu di mana waktu London dan wilayah Indonesia Tengah terpaut delapan jam. Saat kelas Classical Judeo Arabic dijadwal pukul 11.30 maka di tempat saya tinggal pukul 19.30. Masih okelah ya, tapiiii beda dengan kelas Advanced Baghdadi Judeo Arabic yang dijadwalkan pukul 15.45 waktu London, khusus kelas ini di tempat saya tinggal pukul 23.45. Kapan lagi kan ya kuliah sampai bisa ganti hari? Iya kan? 😀 Berbeda lagi saat saya belajar Bahasa Turki di Yunus Emre Institute Washington DC yang perbedaan waktunya 12 jam. Jadwal belajar pukul 18.00 waktu WDC, di tempat saya tinggal pukul 06.00 itu adalah waktu fresh se-fresh-fresh-nya jiwa raga. 😀 Sekalipun masuk di daftar duka tapi soal waktu ini bukan hal yang membuat saya menyerah dan membiarkan kesempatan yang datang. Jadi saya jalani dengan penuh syukur, bahagia, dan strategi ‘licik’ agar semua kewajiban dan aktifitas di rumah tetap bisa berjalan dengan baik. Belajar seperti juga bisa dimanfaatkan sebagai me-time juga kan?

Selama pandemi ini, teman-teman ikut kelas belajar apa saja? ^^

 

 

Perjalanan Memasak 2021 Selama di Palu

Sejak menikah 8,5 tahun yang lalu, urusan memasak bukanlah hal yang wajib-wajib amat untuk saya dan suami. Maksudnya, kami cenderung easy-going untuk urusan masak dan makan tapi tetap dengan memperhatikan kualitas apa yang kami makan. Tidak hanya itu, termasuk kehalalan makan pun kami juga berhati-hati. Bagi saya, memasak bukan hal yang gampang sih. Ditambah lagi, tahun-tahun sebelumnya kami lebih banyak menjalani LDR daripada menjalani hidup seatap bersama.

Time flies, some of parts in our life changed. Tahun kelima pernikahan, kami dianugerahi seorang putra, yang akhirnya membuat saya jadi belajar masak meski masih banyak LDR di antara saya dan suami. Ya, semua yang telah memiliki anak pasti paham kalau harus menyiapkan MPASI terbaik untuk buah hati. It has been gorgeous as a mom, I think. Jadilah saya mulai belajar masak, buka-buka aplikasi memasak, lihat youtube, baca buku memasak, tanya sana-sini, dan ikut kelas memasak. Hahai…

Kemudian, kita semua tahu, pandemi datang dan itu menjadikan pelaku LDR macam kami jadi semakin berat menjalani hari-hari. Akhirnya, di 7 Januari 2021, kami memutuskan untuk hidup seatap. Yeayyy! Anak yang sudah bisa bicara dengan lancar, selalu bertanya ayahnya dan berkahir menangis hingga terisak setiap kali meminta video call tetapi ayahnya tidak bisa menerima panggilannya karena alasan pekerjaan. 7 Januari 2021 menjadi awal perjalanan memasak saya di Palu. Jauh dari rumah. Lidah Jawa yang susah beradaptasi dengan rasa-rasa asing membuat mau tidak mau harus memulai karir sebagai koki di dapur pribadi. Saat tepat satu tahun, 7 Januari 2022, saat flashback, saya menyadari ternyata saya bisa masak yang tidak hanya sop lagi-sop lagi-sop lagi atau tumis lagi-tumis lagi-tumis lagi. Soal rasa yaaa masih sering di level ‘layak makan’ tetapi dua laki-laki pelanggan setia selalu menyambutnya dengan bahagia. Semoga bukan terpaksa sih. Hahaha… Hal penting lainnya, saya jadi tahu tentang beragam sayur, misal daun pakis yang ternyata bisa dimasak tumis, daun kelor dimasak bobor dan sayur ini jadi primadona di warung makan di Palu, dan juga daun labu pun bisa dimasak bobor beserta labu kuningnya. Sebelumnya, saya hanya tahu sayur mainstream macam bayam, kangkung, sawi, kubis, bunga kol, brokoli, wortel, dan tauge. Ya yang sering dijumpai di sebagian besar pasar. Ya gitu lah…hehe

Perjalanan memasak selama setahun tinggal di Palu membuat saya belajar banyak hal. Mulai dari menyusun menu, belanja, mengatur anggaran dapur, memilih bahan yang akan dimasak, tahu berbagai tips menyimpan dan memasak hingga saya jadi update soal harga-harga pangan sedang turun, biasa saja atau sedang naik. Sebelumnya mana saya tahu. Hehehe… Ternyata asik juga. Selain itu, hal menyenangkan lain dari memasak ini adalah memasak sambil ‘main-main’ bareng anak di dapur. Katanya, dapur adalah laboratorium paling dekat bagi anak. Anak bisa belajar mengenal aneka bumbu, warna, aneka buah dan sayur, melatih motoriknya dengan aktifitas mencuci piring, memotong sayur, mengupas kulit telur rebus, menghitung jumlah bawang putih dan merah, membantu membersihkan dapur dan mengumpulkannya di tempat sampah bahkan belajar memasak telur ceplok kesukaannya. Jadi, ngasuh iya, bermain dan sama-sama belajar juga iya.

2021, meski lebih banyak memasak sendiri tapi saya dan suami masih memegang prinsip easy-going. Bisa masak, alhamdulillah. Jika tidak, yaudah pesan antar aja atau sesekali kami juga makan di luar meski sebelum melakukannya, anak dalam keadaan sudah makan dari rumah (anak berubah jadi picky eater ketika harus makan di luar). Pencapaian memasak paling keren di tahun 2021 adalah memasak soto, gulai, opor, dan kare. 😀 Receh sekali, tapi untuk saya yang pas-pasan skill masaknya, itu sudah luar biasa. Hahaha…

Dokumen Pribadi

Perjalanan memasak ini juga mengantar saya mengenal tentang food preparation. Awalnya, saya pikir ‘ah untuk apa sih begituan?’ Ternyata food-prep bisa memangkas durasi uprek di dapur. Selain itu, food-prep juga membuat bahan-bahan terjaga lebih baik, nggak mudah layu bahkan busuk. Nilai plus lain dari food-prep ini juga menambah semangat untuk komitmen pada diri sendiri lebih semangat memasak dan bahagia aja gitu lihat bahan-bahan pangan berjajar rapi di lemari es.

Dokumen Pribadi

Hal yang lebih dalam lagi saya sadari dari aktifitas di dapur ini adalah tentang mindfullnes. Kesadaran dalam menerima kegagalan hal kecil semisal rasa dan rupa masakan yang tidak sesuai dengan bayangan atau tak seindah di foto resep. Kesadaran untuk bangkit, artinya bagaimana menjaga mood agar besok tetap semangat untuk uprek lagi. Selain itu, saya juga belajar untuk fleksibel. Masak nggak harus saklek sesuai resep, kalau bahan sesuai resep tidak ada di dapur yaudah selama tidak mengubah rasa atau mencari pengganti yang ada. Bahkan bisa menambah bahan-bahan yang tidak ada di resep yang saya contoh, eh akhirnya rasa tetap enak.

Ya, perjalanan memasak yang bisa dibilang simpel tapi nggak simpel-simpel amat. Selain puas, perjalanan memasak selama 2021 justru mengantar pada hal-hal yang saya yakini lebih sehat daripada sebelumnya. Dapur mengantar banyak hal yang ingin saya pelajari, semoga bisa lebih baik lagi di tahun ini.

Sekian cerita perjalanan memasak saya di tahun 2021, bagaimana perjalanan memasak kalian di 2021 kemarin?

 

Review Buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Hai, apa kabar, teman-teman yang baik? Tahun baru semoga dengan semangat baru melalui 2022 ini yaaa ^^. Lembaran baru kali ini, saya buka dengan postingan review buku yang mana ini ‘tugas’ dari klub baca yang saya ikuti. Harapannya di tahun ini dengan semangat baru juga akan ada postingan-postingan sederhana di blog ini. Review buku pertama ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek dari seorang sastrawan legendaris Indonesia, yaitu Bapak Umar Kayam. Selamat membaca ^^

Info Buku

Penulis            : Umar Kayam

Judul               : Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Penerbit         : PT Pustaka Utama Grafiti

Tahun             : 2012

Jumlah Hal     : 260

 

Di kalangan para penikmat sastra, nama besar Umar Kayam sudah tidak diragukan lagi, bahkan cuplikan karya-karyanya muncul di berbagai buku Bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Umar Kayam adalah seorang realis. Cerita-ceritanya berkisah mengenai tokoh-tokoh yang hidup dan berada dalam situasi yang jelas. Tidak hanya itu, latar belakang ceritanya pun adalah latar sejarah yang nyata. Alurnya bergerak dari awal tertentu dengan akhir yang semestinya, kadang bisa ditemui dengan gaya kilas balik. Umar kayam begitu menghargai nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Hal itu saya rasakan dalam kumpulan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Kumpulan cerpen ini menggambarkan keadaan masyarakat modern di Manhattan, New York, Amerika. Cerpen ini ditulis oleh Umar Kayam saat tinggal di sana. Terasa sekali bahwa setiap cerita begitu nyata. Umar Kayam benar-benar merekam situasi masyarakat modern di sana dengan pengetahuannya. Cerpen ini diawali dengan kisah sepasang manusia yang saling sayang dan saling cinta tetapi tidak bisa meninggalkan keegoisan masing-masing. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri, di mana tokoh wanita yang bernama Jane masih tidak bisa melupakan masa lalunya bersama mantan suami yang bernama Tommy. Tokoh pria bernama Marno yang terus membayangkan desanya di Indonesia. Hubungan mereka yang dianggap tidak benar oleh Marno menimbulkan konflik batin yang akhirnya Marno harus meninggalkan Jane.

Saya merasakan bahwa cerpen ini memiliki nilai sastra yang tinggi di bidang sosial dan budaya. Hal ini dapat dilihat dari sepasang manusia modern yang sibuk dengan dunia masing-masing, nampak egois, dan bebas. Kalimat dalam cerpen yang digunakan Umar Kayam pun memiliki makna tersembunyi dan membuat saya pribadi justru tertarik untuk menuntaskan lembar demi lembar. Suasana yang diceritakan Umar Kayam dalam cerpen ini pun juga terasa nyata.

Dalam cerpen karya Umar Kayamini peristiwa yang terjadi relevan seperti di kehidupan masyarakat. Karena pada cerpenini menjelaskan tentang persamaan dan perbedaan kebudayaan antar wilayah, yaitu budaya Timur (Jawa) dan budaya Barat (Amerika). Di sini terlihat bahwa realisme Umar Kayam adalah realisme orang Jawa yang sangat mengenal kepribadian “Jawa”-nya. Seseorang yang menggunakan nilai-nilai Jawa sebagai sikap hidup karakternya. Umar Kayam menggunakan mitologi Jawa, wayang, sebagai metaphor dalam penceritaannya, seperti ketika Sri Sumarah (dalam cerpen berjudul “Sri Sumarah”) diperbandingkan dengan kunti dan Sembadra atau Mus (dalam “Kimono Biru Buat Istri”) yang merasa dirinya bak Arjuna mencari gamelan Lokananta. Hal ini bagi saya adalah kekuatan dan daya Tarik seorang Umar Kayam.

Secara keseluruhan kumpulan cerpen yang terdiri atas sepuluh cerita ini sangatlah menarik karena mampu menggambarkan isi cerita secara nyata dan memiliki ruh di dalamnya. Cerpen “Seribu kunang-kunang di Manhattan” menyajikan kekosongan jiwa dari manusia metropolis. Mereka ingin kembali kepada impian-impian, tetapi justru pelarian kepada dunia romantis membuat mereka kian terpencil dan sendiri. Selain itu, saya merasa dibawa jalan-jalan ketika membaca kumpulan cerpen ini karena Umar Kayam menggambarkan tempat dalam ceritanya secara rapi dan terasa nyata.